Anda di halaman 1dari 15

Ilmu ekonomi makro merupakan bagian dari ilmu ekonomi yang

mengkhususkan mempelajari mekanisme bekerjanya perekonomian


secara keseluruhan; (Putong:2013). Makro ekonomi dapat digunakan
untuk menganalisis cara terbaik untuk mempengaruhi target–target
kebijaksanaan seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, tenaga kerja, dan
keseimbangan neraca pembayaran yang berkesinambungan. Hubungan
yang dipelajari dalam ekonomi makro adalah hubungan kausal antara
variabel-variabel aggregatif (keseluruhan).
Secara umum permasalahan dalam ekonomi makro dapat dibagi menjadi
dua yaitu :
1). Masalah jangka pendek atau disebut juga masalah stabilisasi.  Masalah
ini berhubungan dengan bagaimana menyetir perekonomian nasional dari
waktu ke waktu (bulan, triwulan, tahun ke tahun) agar terhindar dari tiga
penyakit makro utama yaitu : a. Inflasi yang besar dan berkepanjangan b.
Tingkat pengangguran yang tinggi c. Ketimpangan dalam neraca
pembayaran,
2). Masalah jangka panjang atau kadang disebut sebagai masalah
pertumbuhan. Masalah ini berhubungan dengan bagaimana menahodai
perekonomian agar tetap berada pada kondisi keserasian antara
pertumbuhan jumlah penduduk, pertambahan produksi dan tersedianya
dana untuk investasi. Pada dasarnya masalahnya juga berkisar pada
bagaimana menghindari ketiga penyakit makro hanya perspektif
waktunya lebih panjang. (Budiono: 1994)
2.  Tujuan pembangunan ekonomi makro
Kebijakan ekonomi makro yang dilakukan oleh setiap negara secara
bersama-sama dilaksanakan oleh pemerintah dan swasta bertujuan untuk
mengatasi masalah-masalah yang timbul dan mungkin timbul dalam
perekonomian, dimana pemerintah sebagai regulatornya dan swasta
sebagai pelaksananya. Diharapkan dengan kebijakan ekonomi makro ini
tercapai tujuan yang diharapkan yaitu: (1). Tingkat kesempatan kerja
yang tinggi, (2). Produksi nasional yang tinggi, (3). Pertumbuhan ekonomi
yang tinggi (4). Keadaan perekonomian yang stabil (5). Neraca
pembayaran luar negeri yang seimbang dan (6). Distribusi  pendapatan
yang merata. (Putong: 2013).
Tujuan Ekonomi Makro
a. Tingkat kesempatan kerja yang tinggi.
Suatu negara di dunia ini pastilah tidak menginginkan adanyanya
pengangguran di dalam negaranya, karena pengangguran ini mempunyai
dampak yang sangat  buruk bagi sendi kehidupan sosial masyarakat dan
juga beban ekonomi negara yang harus ditanggung oleh negara baik
secara ekonomi maupun politik dan hal ini merupakan amanat dari UUD
1945. Namun kenyataan suatu negara sulit untuk menghindari adanya
pengangguran. Oleh karena itu hal yang dapat dilakukan adalah
mengurangi tingkat penganguran sampai pada tingkat full employment
dimana semua lapangan pekerjaan yang disediakan oleh negara (swasta
dan pemerintah) telah terisi penuh oleh pencari kerja.
b. Produksi nasional yang tinggi
Tinggi rendahnya kapasitas produksi tergantung dari tinggi rrendahnya
investasi, sedangkan investasi dalam negeri tergantung tingkat tabungan
dalam negeri, tingkat tabungan dalam negeri tergantung tingkat bunga
dan pendapatan masyarakat, Dengan demikian untuk meningkatkan
kapasitas produksi dalam negeri maka peningkatan pendapatan
masyarakat perlu di lakukan dengan meningkatkan produktivitas
masyarakt.
c. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi
Tidak ada suatu ukuran standar mengenai bagaimana tinggi pendapatan
suatu naegara yang harus dicapai, akan tetapi berdasarkan perbandingan
pada negara lain tentu saja dapat diketahui apakah pendapatan nasional
suatu negara lebih besar atau lebih kecil dari negara lainnya.
Membandingkan tingkat pendapatan nasional suatu negara dengan
negara lain adalah ukuran relatif. Sedangkan untuk mendapatkan
gambaran absolut adalah dengan membandingkan pendapatan perkapita
suatu negara dengan negara lain.
d. Keadaan perekonomian yang stabil
Kestabilan yang diharapkan dalam perekonomian adalah kestabilan dalam
hal tingkat pendapatan, kesempatan kerja dan terutama kestabilan pada
tingkat harga-harga barang secara umum. Dalam pengertian yang lebih
realistis perekonomian yang stabil bukanlah berarti suatu perekonomian
yang kondisinya selalu mengalami masa-masa booming, akan tetapi suatu
kondisi yang fluktuasi variabel ekonomi terutama harga-harga komoditi
secara umum dan tingkat pendapatan berubah dalam kondisi yang wajar.
e.  Neraca pembayaran yang seimbang
Neraca pembayaran yang seimbang adalah ikhtisar sistematis dari semua
transaksi ekonomi dengan luar negeri selama jangka waktu tertentu
dinyatakan dalam uang. Dalam neraca pembayaran tersebut beberapa hal
penting yang perlu diketahui adalah neraca perdagangan, transaksi
berjalan dan lalu lintas moneter.
f.  Distribusi pendapatan yang merata
Keadilan pembagian rezeki dari hasil pengelola sumber daya baik alam
maupun manusia dari suatu negara adalah di mana pendapatan yang
diperoleh dapat dinikmati secara merata oleh rakyatnya dalam arti
distribusi pembagian pendapatan yang relatif adil. Artinya bahwa
sebagian besar pendapatan negara dinikmati oleh sebagian besar
golongan masyarakat dalam perekonomian tersebut. Dengan meratanya
pembagian pendapatan diharapkan tingkat konsumsi masyarakat juga
relatif lebih baik, pada gilirannya diharapkan akan terjadi kehidupan yang
tidak bertendensi pada keresahan dan kerusuhan sosial. Untuk mengukur
tingkat distribusi ini biasanya digunakan indes Gini atau Gini koefisien.
Ekonomi makro atau makroekonomi adalah studi tentang ekonomi secara keseluruhan.
Makroekonomi menjelaskan perubahan ekonomi yang mempengaruhi banyak masyakarakat,
perusahaan, dan pasar. Ekonomi makro dapat digunakan untuk menganalisis cara terbaik untuk
memengaruhi target-target kebijaksanaan seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, tenaga
kerja dan pencapaian keseimbangan neraca yang berkesinambungan.
Meskipun ekonomi makro merupakan bidang pembelajaran yang luas, ada dua area penelitian
yang menjadi ciri khas disiplin ini: kegiatan untuk mempelajari sebab dan akibat dari fluktuasi
penerimaan negara jangka pendek (siklus bisnis), dan kegiatan untuk mempelajari faktor
penentu dari pertumbuhan ekonomi jangka panjang (peningkatan pendapatan nasional). Model
makroekonomi yang ada dan prediksi-prediksi yang ada jamak digunakan oleh pemerintah dan
korporasi besar untuk membantu pengembangan dan evaluasi kebijakan ekonomi dan strategi
bisnis.

Konsep Makroekonomi Dasar[sunting | sunting sumber]


Makroekonomi meliputi berbagai konsep dan variabel, tetapi selalu ada tiga topik utama untuk
penelitian makroekonomi.[1] Teori-teori makroekonomi biasanya terhubung dengan fenomena
keluaran, pengangguran dan inflasi. Di luar teori makroekonomi, topik-topik tersebut juga
sangatlah penting untuk semua agen ekonomi termasuk pekerja, konsumen dan produsen.

Pengeluaran dan Pendapatan[sunting | sunting sumber]


Keluaran nasional ialah total nilai seluruh produksi negara pada masa yang sudah ditentukan.
Semua yang diproduksi dan dijual menghasilkan pendapatan. Maka dari itu, keluaran dan
pendapatan biasanya dianggap setara dan dua istilah tersebut sering digunakan berganti-
gantian. Keluaran bisa diukur sebagai jumlah pendapatan, atau, bisa dilihat dari sisi produksi
dan diukur sebagai jumlah nilai barang jadi dan jasa atau bisa juga dari penjumlahan
seluruh nilai tambah di dalam negeri.[2]
Keluaran ekonomi makro biasanya diukur dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atau salah
satu akun nasional. Ekonom yang tertarik dengan kenaikan keluaran jangka panjang akan
mempelajari pertumbuhan ekonomi. Kemajuan teknologi, akumulasi mesin dan modal lainnya,
serta pendidikan yang lebih baik dan modal manusia semuanya akan berujung pada keluaran
ekonomi lebih besar di selama berjalannya waktu. Tetapi, keluaran tidak selalu naik secara
konsisten. Siklus bisnis bisa menyebabkan penurunan keluaran jangka pendek yang
disebut resesi. Ekonom mencari kebijakan ekonomi makro yang bisa mencegah ekonomi anjlok
ke jurang resesi dan akhirnya bisa memacu pertumbuhan jangka panjang dengan lebih cepat.

Pengangguran[sunting | sunting sumber]
Artikel utama: Pengangguran
Sebuah diagram menggunakan data dari AS menunjukkan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan
pengangguran yang diekspresikan oleh Hukum Okun. Hubungan ini mendemostrasikan pengangguran
siklikal. Pertumbuhan ekonomi berujung pada rasio pengangguran yang lebih rendah.

Jumlah pengangguran di sebuah ekonomi diukur dengan angka pengangguran, yaitu persentase
pekerja-pekerja tanpa pekerjaan yang ada di dalam angkatan kerja. Angkatan kerja hanya
memasukan pekerja yang aktif mencari kerja. Orang-orang pensiunan, mengejar pendidikan
atau yang tidak mendapat dukungan mencari kerja karena ketiadaan prospek kerja, tidaklah
termasuk di dalam angkatan kerja.
Pengangguran sendiri bisa dibagi menjadi beberapa tipe yang semuanya berkaitan dengan
sebab-sebab yang berbeda pula. Pengangguran klasikal terjadi ketika gaji karyawan terlalu
tinggi sehingga pengusaha tidak berani memperkerjakan karyawan lebih dari yang sudah ada.
Gaji bisa menjadi terlalu tinggi karena peraturan upah minimum atau adanya aktivitas serikat
pekerja. Sama halnya dengan pengangguran klasikal, pengangguran friksional terjadi apabila
ada lowongan pekerjaan untuk pekerja tetapi waktu untuk mencarinya menyebabkan adanya
periode di mana si pekerja tersebut menjadi pengangguran.[3]
Pengangguran struktural meliputi beberapa jenis penyebab pengangguran termasuk
ketidakcocokan antara kemampuan pekerja dan kemampuan yang dicari oleh pekerjaan yang
ada.[4] Pengangguran besar-besaran bisa terjadi ketika sebuah ekonomi mengalami masa
transisi industri dan kemampuan para pekerja menjadi tak terpakai. Pengangguran struktural itu
juga cukup mirip dengan pengangguran friksional karena dua-duanya berkutat pada
permasalahan ketidakcocokan kemampuan pekerja dengan lowongan pekerjaan, tetapi
pengangguran struktural berbeda karena meliputi juga kebutuhan untuk menambah kemampuan
diri, tidak hanya proses pencarian jangka pendek.[5]
Walaupun ada beberapa jenis pengangguran yang selalu ada saja mau bagaimanapun kedaaan
ekonomi pada saat itu, pengangguran siklikan terjadi ketika pertumbuhan ekonomi menjadi
stagnan. Hukum Okun menunjukan hubungan empiris antara pengangguran dan pertumbuhan
ekonomi.[6] Versi asli dari Hukum Okun menyatakan bahwa 3% kenaikan keluaran ekonomi akan
mengakibatkan 1% penurunan angka pengangguran.[7]

Inflasi dan Deflasi[sunting | sunting sumber]

moving-average periodik selama sepuluh tahun tentang perubahan tingkat harga dan pertumbuhan
penawaran uang (menggunakan ukuran M2, penawaran dari kurs keras dan uang dipegang untuk
sebagian besar jenis rekening bank) di Amerika dari tahun 1875 ke 2011. Dari sisi jangka panjang, kedua
seri ini menunjukkan hubungan yang erat.

Kenaikan harga umum disebuah ekonomi disebut dengan inflasi. Ketika harga menurun, maka
terjadi deflasi. Ekonom mengukur perubahan harga ini menggunakan indeks harga. Inflasi bisa
terjadi ketika suhu ekonomi menjadi terlalu panas dan tumbuh terlalu cepat. Mirip dengan ini,
ekonomi yang merosot bisa mengakibatkan deflasi.
Bank Sentral yang mengatur ketersediaan uang suatu negara, selalu mencoba menghindari
adanya perubahan tingkat harga menggunakan kebijakan moneter. Dengan menaikan tingkat
suku bunga atau menurunkan ketersediaan uang di dalam sebuah ekonomi akan menurunkan
inflasi. Inflasi bisa mengakibatkan bertambahnya ketidakpastian dan konsekuensi negatif
lainnya. Deflasi bisa menurunkan keluaran ekonomi. Bank sentral akan mengusahakan stabilnya
harga untuk melindungi ekonomi dari akibat negatif atas fluktuasi harga.
Perubahan di tingkat harga bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor. Teori kuantitas
uang menyatakan bahwa pergerakan tingkat harga itu berhubungan langsung
dengan penawaran uang. Fluktuasi jangka pendek bisa juga berhubungan dengan faktor
moneter, tetapi perubahan pada permintaan agregat dan penawaran agregat bisa juga
mempengaruhi tingkat harga. Contohnya, penurunan di permintaan karena adanya resesi bisa
mengakibatkan indeks harga yang rendah dan deflasi. Syok penawaran negatif, seperti krisis
minyak, akan menurunkan penawaran agregat dan menyebabkan inflasi.

Model ekonomi makro[sunting | sunting sumber]


Permintaan agregat-Penawaran agregat[sunting | sunting sumber]
Model AD-AS telah menjadi model panduan standar untuk menjelaskan ekonomi makro.[8] Model
ini menunjukkan indeks harga dan indeks keluaran aktual di titik temu pada permintaan
agregat dan penawaran agregat. Kurva permintaan agregat yang melandai ke bawah
menandakan bahwa banyak keluaran yang diminta pada tingkat harga yang lebih rendah.[9]
Kurva melandai ke bawah ialah hasil yang terjadi karena tiga efek: Efek Pigou, yang menyatakan
bahwa ketika harga asli jatuh, kemakmuran asli naik, sehingga mengakibatkan naiknya
permintaan barang oleh konsumen; Efek Keynes, yang menyatakan bahwa ketika harga turun
maka permintaan uang akan turun dan akan mengakibatkan turunnya suku bunga, pinjaman
investasi dan konsumsi akan naik; dan efek ekspor bersih, yang menyatakan bahwa ketika harga
naik, barang domestik menjadi lebih mahal apabila dilihat dari sisi komparatif dengan konsumen
asing dan akibat dari itu, ekspor menurun. [9]

IS-LM[sunting | sunting sumber]
Model IS-LM memunculkan titik ekuilibrium tentang suku bunga dan pengeluaran diberikan oleh
ekulibrium di dalam pasar barang dan uang. [10] Pasar barang diwakilkan oleh ekuilibrium antara
investasi dan tabungan (IS), dan pasar uang diwakilkan oleh penawaran uang dan preferensi
likuiditas. [11] Kurva IS termasuk oleh titik-titik di mana investasi, berdasarkan suku bunga, setara
dengan tabungan, berdasarkan keluaran. [12]
Kurva IS melandai ke bawah karena keluaran dan suku bunga memiliki hubungan berbanding
terbalik di pasar barang: Apabila keluaran meningkat maka akan lebih banyak uang yang
ditabung, yang artinya suku bunga haruslah diturunkan untuk mendorong investasi yang cukup
sehingga sepantaran dengan tabungan.[12] Kurva LM melandai ke atas karena suku bunga dan
keluaran memiliki relasi positif di pasar uang. Dengan meningkatknya keluaran, permintaan
untuk uang akan naik, dan suku bunga akan turut naik.[13]
Dalam contoh grafik IS/LM ini, kurva IS bergerak ke kanan, menyebabkan suku bunga meningkat (i) dan
ekspansi dari ekonomi "asli" (GDP asli, atau Y).

Model IS/LM seringkali digunakan untuk mendemonstrasikan efek dari kebijakan moneter dan
fiskal. [10]Buku teks seringkali menggunakan model IS/LM, tetapi model ini tidak menunjukkan
kompleksitas dari model-model ekonomi-makro modern.[10] Meskipun begitu, model-model
modern ini masih tetap memiliki relasi yang mirip dengan IS/LM.[10]

Pendekatan Analitik[sunting | sunting sumber]


Pembedaan tradisional adalah antara dua pendekatan berbeda ke ekonomi: ekonomi
Keynesian, memusatkan pada permintaan; dan ekonomi sisi-penyediaan (atau neo-klasik) yang
memusatkan pada persediaan. Keduanya tidak bisa berjalan sendiri, namun ini hanya
permasalahan penekanan.

Permasalahan dalam Ekonomi Makro[sunting | sunting sumber]


1. kemiskinanan dan pemerataan
2. krisis nilai tukar
3. hutang luar negeri
4. perbankan, kredit macet
5. inflasi
6. pertumbuhan ekonomi
7. pengangguran
ONTOLOGI, EPISTIMOLOGI DAN
AKSIOLOGI DALAM PENGETAHUAN
FILSAFAT
28/11/2012 AFID BURHANUDDIN 9 KOMENTAR

Filsafat  adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa mencari kebenaran.


Filsafat juga disebut sebagai induk dari ilmu pengetahaun, banyak ilmu
pengetahuan yang terlahir dari filsafat. Imanuel Kant mendefinisikan
filsafat sebagai pengetahuan yang menjadi pokok pangkal segala
pengetahuan yang di dalamnya tercakup empat persoalan yakni apa yang
dapat diketahui? (jawabnya metafisika), apa yang seharusnya di ketahui?
(jawabnya etika), sampai dimana harapan kita? (jawabnya agama) apa itu
manusia? (jawabnya antropologi). (Ahmad Tafsir, 2001 : 11). Disisi lain,
filsafat membahas segala sesuatu yang ada bahkan yang mungkin ada
baik bersifat abstrak maupun riil meliputi Tuhan, manusia dan alam
semesta. Sehingga untuk paham betul semua masalah filsafat sangatlah
sulit tanpa adanya pemetaan-pemetaan dan mungkin kita hanya bisa
menguasai sebagian dari luasnya ruang lingkup filsafat.

Sedangkan, pengetahuan adalah persepsi subyek (manusia terhadap


obyek (riil dan gaib) atau fakta. Dan ilmu pengetahuan itu sendiri adalah
kumpulan pengetahuan yang benar disusun dengan sistem dan metode
untuk mencapai tujuan yang berlaku niversal dapat diuji/diverifikasi
kebenaranya.Ilmu pengetahuan tidak hanya satu, melaikan banyak
(plural) bersifat terbuka berkaitan dalam memecahkan masalah. Jadi,
Pengetahuan filsafat mempelajari esensi atau hakikat ilmu pengetahuan
tertentu secara rasional.
Dalam hal ini berkaitan sekali dengan cabang – cabang ilmu filsafat.
Cabang – cabang ilmu filsafat  di antaranya Ontologi, Epistimologi, dan
Aksiologi. Ontologi adalah cabang ilmu yang membahas hakikat segala
sesuatu yang ada. Epistimologi adalah cabang ilmu menjelaskan tentang
bagaimana mencari pengetahuan dan seperti apa pengetahuan tersebut.
Aksiologi membahas tentang untuk apa ilmu itu digunakan.

ONTOLOGI

Ontologi berasal dari bahasa Yunani  yaitu  Ontos  berarti yang berada
(being) dan Logos berarti pikiran (logic). Jadi, Ontologi berarti ilmu yang
membahas tentang hakiket sesuatu yang ada/berada atau dengan kata
lain  artinya ilmu yang mempelajari tentang “yang ada” atau dapat
dikatakan berwujud dan berdasarkan pada logika.  Sedangkan,  menurut
istilah adalah ilmu yang membahas sesuatu yang telah ada, baik secara
jasmani maupun secara rohani. Disis lain, ontologi filsafat adalah cabang
filsafat yang membahas tentang prinsip yang paling dasar atau paling
dalam dari sesuatu yang ada.

Objek kajian Ontologi disebut “ Ada” maksudnya berupa benda  yang


terdiri dari alam , manusia individu, umum, terbatas  dan tidak terbatas
(jiwa). Di dalam ontologi juga terdapat  aliran yaitu  aliran monoisme yaitu
segala sesuatu yang ada berasal dari satu sumber (1 hakekat).

Dalam aspek Ontologi diperlukan landasan-landasan dari sebuah


pernyataan – pernyataan dalam sebuah  ilmu. Landasan-landasan itu
biasanya kita sebut dengan Metafisika. Metafisika merupakan cabang dari
filsafat yang menyelidiki gerakan atau perubahan yang berkaitan dengan
yang ada (being).

Dalam hal ini, aspek Ontologi menguak beberapa hal, diantaranya:

1. Obyek apa yang telah ditelaah ilmu?


2. Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut?
3. Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia
(seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?
4. Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang
berupa ilmu?
Aspek ontologi ilmu pengetahuan tertentu hendaknya diuraikan/ditelaah
secara :

1. Metodis            : menggunakan cara ilmiah.


2. Sistematis         :saling berkaitan satu sama lain secara teratur  dalam
satu keseluruhan.
3. Koheren           : Unsur – unsur harus bertautan tidak boleh
mengandung uraian yang bertentangan.

1. Rasional           : Harus berdasarkan pada kaidah berfikir yang benar (logis)


2. Komprehensif  : Melihat obyek tidak hanya dari satu sisi/sudut pandang,
melainkan secara multidimensional atau secara keseluruhan.
3. Radikal            : Diuraikan sampai akar persoalan, atau esensinya.
4. Universal          : Muatan kebenaranya sampai tingkat umum  yang berlaku
dimana saja.
Hakikat dari Ontologi  Ilmu Pengetahuan

1. Ilmu berasal dari riset (penelitian)


2. Tidak ada konsep wahyu
3. Adanya konsep pengetahuan empiris
4. Pengetahuan rasional, bukan keyakinan
5. Pengetahuan metodologis
6. Pengetahuan observatif
7. Menghargai asas verifikasi (pembuktian)
8. Menghargai asas skeptisisme yang redikal.
Jadi, Ontologi pengetahuan filsafat adalah ilmu yang mempelajari suatu
yang ada atau berwujud berdasarkan logika sehigga dapat diterima oleh
banyak orang yang bersifat rasional dapat difikirkan dan sudah terbukti
keabsahaanya.

EPISTIMOLOGI

Secara etimologi, epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat


dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme
berarti pengetahuan atau kebenaran dan logos berarti pikiran, kata atau
teori. Dengan demikian epistimologi dapat diartikan sebagai pengetahuan
sistematik mengenahi pengetahuan. Epistimologi dapat juga diartikan
sebagai teori pengetahuan yang benar (teori of knowledges). Epistimologi
adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber,
metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan.

Istilah epistimologi dipakai pertama kali oleh J. F. Feriere untuk


membedakannya dengan cabang filsafat lain yaitu ontologi (metafisika
umum). Filsafat pengetahuan (Epistimologi) merupakan salah satu cabang
filsafat yang mempersoalkan masalah hakikat pengetahuan. Epistomogi
merupakan bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya
pengetahuan, sumber pengetahuan asal mula pengetahuan, batas –
batas, sifat sifat dan kesahihan pengetahuan. Objeck material
epistimologi adalah pengetahuan . Objek formal epistemologi adalah
hakekat pengetahuan.

1. Logika Material adalah usaha untuk menetapkan kebenaran dari suatu


pemikiran di tinjau dari segi isinya. Lawannya adalah logika formal
(menyelidiki bentuk pemikiran yang masuk akal). Apabila logika formal
bersangkutan dengan bentuk-bentuk pemikiran, maka logika material
bersangkutan dengan isi pemikiran. Dengan kata lain, apabila logika formal
yang biasanya disebut istilah’logika’berusaha untuk menyelidiki dan
menetapkan bentuk pemikiran yang masuk akal, maka logika material
berusaha untuk menetapkan kebenaran dari suatu pemikiran ditinjau dari segi
isinya. Maka dapat disimpulkan bahwa logika formal bersangkutan dengan
masalah kebenaran formal sering disebut keabsahan (jalan) pemikiran.
Sedangkan logika material bersangkutan dengan kebenaran materiil yang
sering juga disebut sebagai kebenaran autentik atau otentisitas isi pemikiran.
2. Kriteriologia  berasal dari kata kriterium yang berarti ukuran. Ukuran yang
dimaksud adalah ukuran untuk menetapkan benar tidaknya suatu pikiran atau
pengetahuan tertentu. Dengan demikian kriteriologia merupakan suatu
cabang filsafat yang berusaha untuk menetapkan benar tidaknya suatu
pikiran atau pengetahuan berdasarkan ukuran tentang kebenaran.
3. Kritika Pengetahuan adalah pengetahuan yang berdasarkan tinjauan
secara mendalam, berusaha menentukan benar tidaknya suatu pikiran atau
pengetahuan manusia.
4. Gnoseologia (gnosis = keilahian, logos = ilmu pengetahuan) adalah ilmu
pengetahuan atau cabang filsafat yang berusaha untuk memperoleh
pengetahuan mengenai hakikat pengetahuan, khususnya mengenahi
pengetahuan yang bersifat keilahian.
5. Filsafat pengetahuan menjelaskan tentang ilmu pengetahuan kefilsafatan
yang secara khusus akan memperoleh pengetahuan tentang hakikat
pengetahuan. J.A.Niels Mulder menjelaskan bahwa epistimologi adalah cabang
filsafat yang mempelajari tentang watak, batas-batas dan berlakunya dari
ilmu pengetahuan.  Abbas Hamami Mintarejo berpendapat bahwa
epistemologi adlah bagian filsafat atau cabang filsafat yang membicarakan
tentang terjadinya pengetahuan dan mengadakan penilaian atau pembenaran
dari pengetahuan yang telah terjadi itu.
Epistimologi adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya
pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas,
sifat, metode dan kesahihan pengetahuan. Jadi, objek material
epistimologi adalah pengetahuan, sedangkan objek formalnya adalah
hakikat pengetahuan itu.

Aspek estimologi merupakan aspek yang membahas tentang


pengetahuan filsafat. Aspek ini membahas bagaimana cara kita mencari
pengetahuan dan seperti apa pengetahuan tersebut. Dalam aspek
epistemologi ini terdapat beberapa logika, yaitu: analogi, silogisme,
premis mayor, dan premis minor.

1. Analogi dalam ilmu bahasa adalah persaaman antar bentuk yang menjadi
dasar terjadinya bentuk – bentuk yang lain.
2. Silogisme adalah penarikan kesimpilan konklusi secara deduktif tidak
langsung, yang konklusinya ditarik dari premis yang di sediakan sekaligus.
3. Premis mayor bersifat umum yang berisi tentang pengetahuan,
kebenaran, dan kepastian.
4. Premis Minor bersifat spesifik yang berisi sebuah struktur berpikir dan dalil
– dalilnya.
Dalam epistimologi dikenal dengan 2 aliran, yaitu:

1. Rasionalisme      : Pentingnya akal yang menentukan hasil/keputusan.


2. Empirisme          : Realita kebenaran terletak pada benda kongrit yang
dapat diindra karena ilmu atau pengalam impiris.
AKSIOLOGI

Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu: axios yang


berarti nilai. Sedangkan logos berarti teori/ ilmu. Aksiologi merupakan
cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia
menggunakan ilmunya. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Jujun
S.suriasumantri mengartikan aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan
dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Menurut John
Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilali merujuk pada pemikiran atau
suatu sistem seperti politik, sosial dan agama. Sedangkan nilai itu sendiri
adalah sesuatu yang berharga yang diidamkan oleh setiap insan.

Aksioloagi adalah ilmu yang membecirakan tentang tujuan ilmu


pengetahuan itu sendiri. Jadi, aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari
hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya
ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa
memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya
dan dijalan yang baik pula karena akhir-akhir ini banyak sekali yang
mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan dijalan yang
tidak benar.

Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu


tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus
disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat,
sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat
dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya
malah menimbulkan bencana. Dalam aksiologi ada dua penilaian yang
umum digunakan yaitu:

1. Etika
Etika adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis
masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada perilkau, norma dan
adat istiadat manusia. Etika merupakan salah satu cabang filsafat tertua.
Setidaknya ia telah menjadi pembahasan menarik sejak masa sokrates
dan para kaum shopis.disitu dipersoalkan mengenai masalah kebaikan,
keutamaan, keadilan dan sebagainya. Etika sendiri dalam buku etika
dasar yang ditulis oleh Franz Magnis Suzeno diartikan sebagai pemikiran
kritis, sistematis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-
pandangan moral ini sebagaimana telah dijelaskan diatas adalah norma
adat, wejangan dan adatistiadat manusia. Berbeda dengan norma itu
sendiri etika tidak menghasilkan suatu kebaikan atau perintah dan
larangan, melainkan sebuah pemikiran yang kritis dan mendasar. Tujuan
dari etika adalah agar manusia mengetahui dan mampu
mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan.

Di dalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku manusia menjadi sentral
persoalan. Maksudnya adalah tingkah laku yang penuh dengan
tanggungjawab, baik tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat,
alam maupun terhadap Tuhan sebagai sang pencipta. Dalam
perkembangan sejarah etika ada 4 teori etika sebagai sistem filsafat
moral yaitu hedonism, eudemonisme, utiliterisme dan deontologi.
Hedoisme adalah pandangan moral yang menyamakan baik menurut
pandangan moral dengan kesenangan. Eudemonisme menegaskan setiap
kegiatan manusia mengejar tujuan. Dan adapun tujuan dari amnesia itu
sendiri adalah kebahagiaan.

Selanjutnya utilitarisme yang berpendapat bahwa tujuan hukum adalah


memajukan kepentingan para warga negara dan bukan memaksakan
perintah-perintah illahi atau melindungi apa yang disebut hak-hak kodrati.
Selanjutnya deontologi adalah pemikiran tentang moral yang diciptakan
oleh Immanuel Kant. Menurut Kant, yang bisa disebut baik secara terbatas
atau dengan syarat. Misalnya kekayaan manusia apabila digunakan
dengan baik oleh kehendak manusia.

1. Estetika
Estetika merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang
nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa didalam diri segala
sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis
dalam satu kesatuan hubungan yang utuh menyeluruh. Maksudnya
adalah suatu objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras serta
berpola baik melainkan harus juga mempunyai kepribadian.

Sebenarnya keindahan bukanlah merupakan suatu kulaitas objek,


melainkan sesuatu yang senantiasa bersangkutan dengan perasaan.
Misalnya kita bangun pagi, matahari memancarkan sinarnya kita merasa
sehat dan secara umum kita merasakn kenikmatan. Meskipun
sesungguhnya pagi itu sendiri tidak indah tetapi kita mengalaminya
dengan perasaan nikmat. Dalam hal ini orang cenderung mengalihkan
perasaan tadi menjadi sifat objek itu, artinya memandang keindahan
sebagai sifat objek yang kita serap. Padahal sebenarnya tetap merupakan
perasaan.

Aksiologi berkenaan dengan nilai guna ilmu, baik itu ilmu umum maupun
ilmu agama, tak dapat dibantak lagi bahwa kedua ilmu itu sangat
bermanfaat bagi seluruh umat manusia, dengan ilmu seseorang dapat
mengubah wajah dunia. Berkaitan dengan hal ini, menurut Francis Bacon
seperti yang dikutip oleh Jujun S. suriasumantri yaitu bahwa
“pengetahuan adalah kekuasaan” apakah kekuasaan itu merupakan
berkat atau justru  malapetaka bagi umat manusia. Memang kalaupun
terjadi malapetaka yang disebabkan oleh ilmu, bahwa kita tidak bissa
mengatakan bahwa itu merupakan kesalahan ilmu, karena itu sendiri ilmu
merupakan alat bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidupnya,
lagipula ilmu memiliki sifat netral, ilmu tidak mengenal baik ataupun
buruk melainkan tergantung pada pemilik dalam menggunakannya. Nilai
kegunaan ilmu untuk mengetahui kegunaan filsafat ilmu atau untuk apa
filsafat ilmu itu digunakan, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat
sebagai tiga hal yaitu:

1. Filsafat sebagai kumpulan teori digunakan memahami mereaksi dunia


pemikiran.
Jika seseorang hendak ikut membentuk dunia atau ikut mendukung suatu
ide yang membentuk suatu dunia, atau hendak menentang suatu sistem
kebudayaan atau sistem ekonomi atau sistem politik, maka sebaiknya
mempelajari teori-teori filsafatnya. Inilah kegunaan mempelajari teori-
teori filsafat ilmu.

1. Filsafat sebagai pandangan hidup.


Filsafat dalam posisi yang kedua ini semua teori ajarannya diterima
kebenarannya dan dilaksanakan dalam kehidupan. Filsafat ilmu sebagai
pandangan hidup gunanya ialah untuk petunjuk dalam menjalani
kehidupan.

1. Filsafat sebagi metodologi dalam memecahkan masalah


Dalam hidup ini kita menghadapi banyak masalah. Bila ada batu di depan
pintu, setiap keluar dari pintu itu kaki kita tersandung, maka batu itu
masalah. Kehidupan akan dijalani lebih enak bila masalah-masalah itu
dapat diselesaikan. Ada banyak cara menyelesaikan masalah, mulai dari
cara yang sederhana sampai yang paling rumit. Bila cara yang diguna
amat sederhana maka biasanya masalah tidak terselessaikan secara
tuntas. Penyelesaian secara detail itu biasanya dapat mengungkap semua
masalah yang berkembang dalam kehidupan manusia.

Nilai itu bersifat objektif tapi kadang-kadang bersifat subjektif. Dikatakan


objektif jika nilai-nilai tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang
menilai. Tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya, bukan pada
subjek yang melakuakn penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada
kebenaran pada pendapat individu melainkan pada objektivitas fakta.
Sebaliknya, nilai menjadi subjektif, apabila subjek berperan dalam
member penilaian, kesadaran manusia menjadi tolak ukur penialian.
Dengan demikian nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai
pandangan yang dimiliki akal budi manusia seperti perasaan yang akan
mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.

Bagaimana dengan objektifitas ilmu? Sudah menjadi ketentuan umum dan


diterima oleh berbagai kalangan bahwa ilmu harus bersifat objektif. Salah
satu faktor yang membedakan anatara pernyataan ilmiah dengan
anggapan umum ialah terletak pada objektivitasnya. Seorang ilmuwan
harus melihat realitas empiris dengan mengesampingkan kesadaran yang
bersifat ideologis, agama dan budaya. Seorang ilmuan haruslah bebas
dalam mennetukan topic penelitiannya, bebas melakukan eksperimen-
eksperimen. Ketika seorang ilmuan bekerja dia hanya tertuju kepada
proses kerja ilmiah dan tujuannya agar penelitiannya berhasil dengan 
baik. Nilai objektif hanya menjadi tujuan utamanya, dia tidak mau terkait
pada nilai subjektif