Anda di halaman 1dari 38

MASALAH LAYANAN KESEHATAN

PESERTA JKN YANG DISELENGGARAKAN OLEH BPJS


DI PUSKESMAS PAAL MERAH I KOTA JAMBI

Disusun Oleh:
Alya Yomi Sari

G1A219078

Dosen Pembimbing :
dr. Yulinda Fetritura, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


ILMU KESEHATAN MASYARAKAT/KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan tugas Publich Health Report Session (PHRS) mengenai
“Masalah Layanan Kesehatan Peserta JKN/BPJS di Puskesmas Paal Merah I Kota
Jambi”. Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kepaniteraan klinik senior di
bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Jambi.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr.Yulinda Fetritura, M.Kes
selaku Dosen Pembimbing PHRS dan dr. Repelita Witri selaku Kepala Puskesmas
yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing penulis selama
menjalani kepaniteraan klinik senior di bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM)
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi.
Penulis menyadari bahwa laporan tugas Publich Health Report Session
(PHRS) ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang
membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan guna kesempurnaan laporan
ini, sehingga dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membutuhkan.

Jambi, April 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................1
1.1 Latar Belakang............................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan Makalah..........................................................3
1.3.1 Tujuan Umum...................................................................3
1.3.2 Tujuan Khusus..................................................................3
1.4 Manfaat Penulisan Makalah........................................................3
1.4.1 Bagi Puskesmas.................................................................3
1.4.2 Bagi Mahasiswa................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................4
2.1 Defisini .......................................................................................4
2.2 Kelebihan Jaminan Kesehatan Sosial (JKN................................5
2.3 Prinsip Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)...............................6
2.4 Kepersertaan JKN.......................................................................7
2.4.1 Peserta PBI Jaminan Kesehatan........................................7
2.4.2 Peserta Bukan PBI.............................................................7
2.4.3 Hak dan kewajiban Peserta...............................................8
2.4.4 Masa berlaku kepesertaan.................................................8
2.5 Pembiyaan Jaminan Kesehatan Nasional...................................9
2.5.1 Iuran.................................................................................9
2.5.2 Pembayar Iuran................................................................9
2.5.3 Pembayaran Iuran.............................................................9
2.5.4 Cara Pembayaran Fasilitas Kesehatan.....................................10
2.6 Pertanggungjawaban BPJS Kesehatan......................................11
2.7 Pembayaran Kapitasi.................................................................11
2.7.1 Penerapan Kapitasi...........................................................12
2.7.2 Pelaksanaan Pembayaran Kapitasi...................................12

ii
2.7.3 Penilaian Komitmen Pelayanan.......................................13
2.7.4 Penilaian Capaiana KBK.................................................14
2.7.5 Kriteria Penilaian….........................................................15
2.7.6 Penilaian capaian Pembayaran KBK................................15
BAB III HASIL PUSKESMAS..............................................................20
3.1 Profil Puskesmas Paal Merah I Kota Jambi...............................20
3.1.1 Lokasi Geografis Puskesmas............................................20
3.1.2 Demografi Puskesmas.....................................................21
3.1.3 Mata Pencaharian............................................................21
3.2 Ketenagaan Puskesmas.............................................................22
3.2.1 Tenaga Kesehatan............................................................23
3.3 Sarana Kesehatan.......................................................................24
3.4 Hasil Pencapaian Komitmen......................................................25
3.4.1 Indikator Angka Kontak...................................................25
3.4.2 Rasio Rujukan Non Spesialistik......................................25
3.4.3 Rasio Peserta Prolanis Terkendali....................................26
3.5 Analisis masalah pelayanan BPJS..............................................27
BAB IV ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH.....................28
4.1 Analisis Masalah.......................................................................28
4.2 Perumusan Penyebab Masalah..................................................29
4.3 Alternatif Pemecahan Masalah..................................................30
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN...............................................31
5.1 Kesimpulan................................................................................31
5.2 Saran..........................................................................................31
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................32

iii
BAB I
PENDAHULUA
N

1.1 Latar Belakang

Hak tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya
dan keluarganya merupakan hak asasi manusia dan diakui oleh segenap bangsa-
bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Pengakuan itu tercantum dalam Deklarasi
Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Azasi Manusia. Pasal 25 Ayat (1)
Deklarasi menyatakan, setiap orang berhak atas derajat hidup yang memadai
untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya termasuk hak atas
pangan, pakaian, perumahan dan perawatan kesehatan serta pelayanan sosial yang
diperlukan dan berhak atas jaminan pada saat menganggur, menderita sakit, cacat,
menjadi janda/duda, mencapai usia lanjut atau keadaan lainnya yang
mengakibatkan kekurangan nafkah, yang berada di luar kekuasaannya.1
Berdasarkan Deklarasi tersebut, beberapa negara mengambil inisiatif untuk
mengembangkan jaminan sosial, antara lain jaminan kesehatan bagi semua
penduduk (Universal Health Coverage). Salah satu hasil dalam sidang World
Health Assembly (WHA) bahwa perlunya pengembangan sistem pembiayaan
kesehatan yang menjamin tersedianya akses masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan dan memberikan perlindungan kepada mereka terhadap risiko keuangan
dan mengeluarkan resolusi yang menyatakan, pembiayaan kesehatan yang
berkelanjutan melalui Universal Health Coverage melalui mekanisme asuransi
kesehatan sosial. WHA juga menyarankan kepada WHO agar mendorong negara-
negara anggota untuk mengevaluasi pelayanan kesehatan untuk mencapai
Universal Health Coverage. 1
Di Indonesia, falsafah dan dasar negara Pancasila terutama sila ke-5 juga
mengakui hak asasi warga atas kesehatan. Hak ini juga terdapat dalam UUD 45
pasal 28H dan pasal 34, dan diatur dalam UU No. 23/1992 yang kemudian diganti
dengan UU 36/2009 tentang Kesehatan. Dalam UU 36/2009 ditegaskan bahwa
setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber
daya di bidang kesehatan dan memperoleh pelayanan kesehatan yang aman,
bermutu, dan terjangkau. Sebaliknya, setiap orang juga mempunyai kewajiban
turut serta dalam program jaminan kesehatan sosial.1
1
2

Untuk mewujudkan komitmen global dan konstitusi UUD 1945 serta dasar
negara, pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan
masyarakat melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi kesehatan
perorangan yang sebelumnya telah disebutkan pada UUD 45 Pasal 34 ayat 2
bahwa “Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan
memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat
kemanusiaan”. Maka dikeluarkan Undang-Undang No.40 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN). Undang-Undang No. 40/2004 ini mengamanatkan bahwa
jaminan sosial wajib bagi seluruh penduduk termasuk Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) melalui suatu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). 1,2,5
Di Kota Jambi, khusus nya di puskesmas Paal Merah I pada bulan Maret 2020
mempunyai tanggungan kapitasi berjumlah 10.036 orang dengan jumlah prolanis
403 orang yang terdaftar di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Namun
hanya 13 orang prolanis yang rutin datang ke Puskesmas Paal Merah I Kota
Jambi. Sehingga hal tersebut mempengaruhi besarnya persentase kapitasi yang
akan diterima Puskesmas Paal Merah I oleh BPJS. Oleh karena itu, Penulis
tertarik dalam membahas mengenai permasalahan pembiayaan kesehatan peserta
JKN yang diselenggarakan oleh BPJS.1

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang di atas, rumusan masalah yang dibahas
dalam makalah ini sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran permasalahan pembiayaan kesehatan dengan
Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh BPJS?
2. Bagaimana pemenuhan komitmen pelayanan BPJS di FKTP
Puskesmas Paal Merah I pada Bulan Maret 2020?

3. Berapakah persentase kapitasi yang diterima Puskesmas Paal Merah I


yang diberikan oleh pihak BPJS pada Bulan Maret 2020?
3

1.3 Tujuan Penulisan Makalah


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui permasalahan dalam peserta Jaminan Kesehatan
Nasional melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di
Puskesmas Paal Merah I kota Jambi.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui permasalahan dalam peserta Jaminan Kesehatan
Nasional melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di
Puskesmas Paal Merah I Kota Jambi.
2. Mencari alternatif solusi dalam peserta Jaminan Kesehatan Nasional
melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di puskesmas Paal
Merah 1 kota Jambi.

1.4 Manfaat Penulisan Makalah


1.4.1 Bagi Puskesmas
Puskesmas Paal Merah I dapat melakukan identifikasi dan analisis
masalah, mencari penyebab dan latar belakang serta hambatan masalah
penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di wilayah
kerjanya.
1.4.2 Bagi Mahasiswa Kepaniteraan Klinik Senior
Menambah wawasan mahasiswa dan sebagai salah satu syarat
pelaksanaan kepaniteraan klinik senior di bagian Ilmu Kesehatan
Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas
Jambi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defisini
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah badan hukum yang
dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial. BPJS terdiri dari
BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan adalah badan
hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan.1

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan


Sosial Nasional (SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme
asuransi kesehatan sosial yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan Undang-
Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN dengan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap
orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah yang
pelaksanaannya melalui BPJS Kesehatan.1
Dengan demikian, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikembangkan
di Indonesia merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).
Sistem Jaminan Sosial Nasional ini diselenggarakan melalui mekanisme
Asuransi Kesehatan Sosial yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan
Undang-Undang No.40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.
Tujuannya adalah agar semua penduduk Indonesia terlindungi dalam sistem
asuransi, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan
masyarakat yang layak.1,2

2.2 Kelebihan Jaminan Kesehatan Sosial (JKN)


Asuransi kesehatan mengurangi risiko masyarakat menanggung biaya
kesehatan dari kantong sendiri out of pocket, dalam jumlah yang sulit diprediksi
dan kadang-kadang memerlukan biaya yang sangat besar. Untuk itu diperlukan
suatu jaminan dalam bentuk asuransi kesehatan karena peserta membayar premi
dengan besaran tetap. Dengan demikian pembiayaan kesehatan ditanggung
bersama secara gotong royong oleh keseluruhan peserta, sehingga tidak
memberatkan secara orang per orang.

4
5

Tetapi asuransi kesehatan saja tidak cukup. Diperlukan Asuransi Kesehatan


Sosial atau JKN. Dikarenakan beberapa sebab yang pertama dikarenakan premi
asuransi komersial relatif tinggi sehingga tidak terjangkau bagi sebagian besar
masyarakat. Kedua, manfaat yang ditawarkan umumnya terbatas.1
Sebaliknya, asuransi kesehatan sosial memberikan beberapa keuntungan
sebagai berikut. Pertama, memberikan manfaat yang komprehensif dengan premi
terjangkau. Kedua, asuransi kesehatan sosial menerapkan prinsip kendali biaya
dan mutu. Itu berarti peserta bisa mendapatkan pelayanan bermutu memadai
dengan biaya yang wajar dan terkendali, bukan “terserah dokter” atau terserah
“rumah sakit”. Ketiga, asuransi kesehatan sosial menjamin sustainabilitas
(kepastian pembiayaan pelayanan kesehatan yang berkelanjutan). Keempat,
asuransi kesehatan sosial memiliki portabilitas, sehingga dapat digunakan di
seluruh wilayah Indonesia. Oleh sebab itu, untuk melindungi seluruh warga,
kepesertaan asuransi kesehatan sosial/ JKN bersifat wajib.1

Tabel 2.1 Kelebihan Sistem Asuransi Sosial di bandingkan dengan asuransi


komersial
Asuransi Sosial Asuransi Komersial
Kepesertaan bersifat wajib
Kepesertaan bersifat sukarela
(untuk semua penduduk)
Non Profit Profit
Manfaat sesuai dengan premi
Manfaat komprehensif
yang dibayarkan.

2.3 Prinsip Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)


Jaminan Kesehatan Nasional mengacu pada prinsip-prinsip Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN) sebagai berikut:
1. Prinsip kegotongroyongan
Gotong royong sesungguhnya sudah menjadi salah satu prinsip dalam
hidup bermasyarakat dan juga merupakan salah satu akar dalam
kebudayaan kita. Dalam SJSN, prinsip gotong royong berarti peserta
yang mampu membantu peserta yang kurang mampu, peserta yang sehat
membantu yang sakit atau yang berisiko tinggi, dan peserta yang sehat
6

membantu yang sakit. Hal ini terwujud karena kepesertaan SJSN bersifat
wajib untuk seluruh penduduk, tanpa pandang bulu. Dengan demikian,
melalui prinsip gotong royong jaminan sosial dapat menumbuhkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.1
2. Prinsip nirlaba
Pengelolaan dana amanat oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS) adalah nirlaba bukan untuk mencari laba (for profit oriented).
Sebaliknya, tujuan utama adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya
kepentingan peserta. Dana yang dikumpulkan dari masyarakat adalah
dana amanat, sehingga hasil pengembangannya, akan di manfaatkan
sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta.1
3. Prinsip keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, efisiensi, dan
efektivitas.
Prinsip prinsip manajemen ini mendasari seluruh kegiatan
pengelolaan dana yang berasal dari iuran peserta dan hasil
pengembangannya.1
4. Prinsip portabilitas
Prinsip portabilitas jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan
jaminan yang berkelanjutan kepada peserta sekalipun mereka berpindah
pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.1
5. Prinsip kepesertaan bersifat wajib
Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta
sehingga dapat terlindungi. Meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi
seluruh rakyat, penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan
ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan penyelenggaraan
program. Tahapan pertama dimulai dari pekerja di sektor formal,
bersamaan dengan itu sektor informal dapat menjadi peserta secara
mandiri, sehingga pada akhirnya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
dapat mencakup seluruh rakyat.1
7

6. Prinsip dana amanat


Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan dana titipan
kepada badan-badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam
rangka mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta.1
7. Prinsip hasil pengelolaan
Dana Jaminan Sosial dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan
program dan untuk sebesar-besar kepentingan peserta.1

2.4 Kepersertaan
Peserta tersebut meliputi: Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN dan bukan
PBI JKN dengan rincian sebagai berikut:

2.4.1 Peserta PBI Jaminan Kesehatan


Peserta PBI meliputi orang yang tergolong fakir miskin dan orang tidak
mampu. Kriteria Fakir Miskin dan orang tidak mampu ditetapkan oleh
menteri di bidang sosial setelah berkoordinasi dengan menteri dan /atau
pimpinan lembaga terkait.1,2

2.4.2 Peserta Bukan PBI


Peserta bukan PBI adalah Peserta yang tidak tergolong fakir miskin dan
orang tidak mampu yang terdiri atas:
1. Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya
Termasuk Pegawai Negeri Sipil, Anggota TNI, Anggota Polri,
Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri, Pegawai Swasta.1
2. Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya
Termasuk Pekerja di luar hubungan kerja atau Pekerja mandiri dan
Pekerja yang bukan penerima Upah. Pekerja sebagaimana dimaksud
termasuk warga negara asing yang bekerja di Indonesia paling
singkat 6 (enam) bulan.1
8

3. Bukan Pekerja dan anggota keluarganya


Terdiri atas Investor, Pemberi Kerja, Penerima Pensiun, Veteran,
Perintis Kemerdekaan dan bukan Pekerja yang tidak termasuk
investor atau perintis kemerdekaan yang mampu membayar Iuran.1
4. Penerima pensiun
Terdiri atas (a) Pegawai Negeri Sipil yang berhenti dengan hak
pensiun; (b) Anggota TNI dan Anggota Polri yang berhenti dengan
hak pensiun, (c) Pejabat Negara yang berhenti dengan hak pensiun,
(d) Janda, duda, atau (e) anak yatim piatu dari penerima pensiun
sebagaimana dimaksud pada huruf a sampai dengan huruf d yang
mendapat hak pensiun.1

2.4.5 Hak dan kewajiban Peserta


Setiap Peserta yang telah terdaftar pada BPJS Kesehatan berhak
mendapatkan a) identitas Peserta dan b) manfaat pelayanan kesehatan di
Fasilitas Kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. 1
Setiap Peserta yang telah terdaftar pada BPJS Kesehatan berkewajiban
untuk: a. membayar iuran dan b. melaporkan data kepesertaannya kepada
BPJS Kesehatan dengan menunjukkan identitas Peserta pada saat pindah
domisili dan atau pindah kerja.1

2.4.6 Masa berlaku kepesertaan


1. Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional berlaku selama yang
bersangkutan membayar Iuran sesuai dengan kelompok peserta.
2. Status kepesertaan akan hilang bila Peserta tidak membayar Iuran
atau meninggal dunia.
3. Ketentuan lebih lanjut terhadap hal tersebut diatas, akan diatur oleh
Peraturan BPJS.
9

2.5 Pembiyaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)


2.5.1 Iuran
Iuran Jaminan Kesehatan adalah sejumlah uang yang dibayarkan secara
teratur oleh Peserta, Pemberi Kerja, dan/atau Pemerintah untuk program
Jaminan Kesehatan (pasal 16, Perpres No. 12/2013 tentang Jaminan
Kesehatan).1

2.5.2 Pembayar Iuran


1. Bagi Peserta PBI, iuran dibayar oleh Pemerintah.
2. Bagi Peserta Pekerja Penerima Upah, Iurannya dibayar oleh Pemberi
Kerja dan Pekerja.
3. Bagi Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta Bukan Pekerja
iuran dibayar oleh Peserta yang bersangkutan.
4. Besarnya Iuran Jaminan Kesehatan Nasional ditetapkan melalui
Peraturan Presiden dan ditinjau ulang secara berkala sesuai dengan
perkembangan sosial, ekonomi, dan kebutuhan dasar hidup yang layak.

2.5.3 Pembayaran Iuran


Setiap Peserta wajib membayar iuran yang besarnya ditetapkan
berdasarkan persentase dari upah (untuk pekerja penerima upah) atau suatu
jumlah nominal tertentu (bukan penerima upah dan PBI).1
Setiap Pemberi Kerja wajib memungut iuran dari pekerjanya,
menambahkan iuran peserta yang menjadi tanggung jawabnya, dan
membayarkan iuran tersebut setiap bulan kepada BPJS Kesehatan secara
berkala (paling lambat tanggal 10 setiap bulan). Apabila tanggal 10 (sepuluh)
jatuh pada hari libur, maka iuran dibayarkan pada hari kerja berikutnya.
Keterlambatan pembayaran iuran JKN dikenakan denda administratif sebesar
2% (dua persen) perbulan dari total iuran yang tertunggak dan dibayar oleh
Pemberi Kerja.1
Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta bukan Pekerja wajib
membayar iuran JKN pada setiap bulan yang dibayarkan paling lambat
10

tanggal 10 (sepuluh) setiap bulan kepada BPJS Kesehatan. Pembayaran iuran


JKN dapat dilakukan diawal.1
BPJS Kesehatan menghitung kelebihan atau kekurangan iuran JKN
sesuai dengan Gaji atau Upah Peserta. Dalam hal terjadi kelebihan atau
kekurangan pembayaran iuran, BPJS Kesehatan memberitahukan secara
tertulis kepada Pemberi Kerja dan/atau Peserta paling lambat 14 (empat
belas) hari kerja sejak diterimanya iuran. Kelebihan atau kekurangan
pembayaran iuran diperhitungkan dengan pembayaran Iuran bulan
berikutnya. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembayaran iuran
diatur dengan Peraturan BPJS Kesehatan.1

2.5.4 Cara Pembayaran Fasilitas Kesehatan


BPJS Kesehatan akan membayar kepada Fasilitas Kesehatan tingkat
pertama dengan Kapitasi. Untuk Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat
lanjutan, BPJS Kesehatan membayar dengan sistem paket INA CBG’s.1
Mengingat kondisi geografis Indonesia, tidak semua Fasilitas Kesehatan
dapat dijangkau dengan mudah. Maka, jika di suatu daerah tidak
memungkinkan pembayaran berdasarkan Kapitasi, BPJS Kesehatan diberi
wewenang untuk melakukan pembayaran dengan mekanisme lain yang
lebih berhasil guna.1
Semua Fasilitas Kesehatan meskipun tidak menjalin kerja sama dengan
BPJS Kesehatan wajib melayani pasien dalam keadaan gawat darurat,
setelah keadaan gawat daruratnya teratasi dan pasien dapat dipindahkan,
maka fasilitas kesehatan tersebut wajib merujuk ke fasilitas kesehatan yang
bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. BPJS Kesehatan akan membayar
kepada fasilitas kesehatan yang tidak menjalin kerjasama setelah
memberikan pelayanan gawat darurat setara dengan tarif yang berlaku di
wilayah tersebut.1
11

2.6 Pertanggungjawaban BPJS Kesehatan


BPJS Kesehatan wajib membayar Fasilitas Kesehatan atas pelayanan yang
diberikan kepada Peserta paling lambat 15 (lima belas) hari sejak dokumen klaim
diterima lengkap. Besaran pembayaran kepada Fasilitas Kesehatan ditentukan
berdasarkan kesepakatan antara BPJS Kesehatan dan asosiasi Fasilitas Kesehatan
di wilayah tersebut dengan mengacu pada standar tarif yang ditetapkan oleh
Menteri Kesehatan. Dalam hal tidak ada kesepakatan atas besaran pembayaran,
Menteri Kesehatan memutuskan besaran pembayaran atas program JKN yang
diberikan. Asosiasi Fasilitas Kesehatan ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.1
Dalam JKN, peserta dapat meminta manfaat tambahan berupa manfaat yang
bersifat non medis berupa akomodasi. Misalnya, Peserta yang menginginkan kelas
perawatan yang lebih tinggi daripada haknya, dapat meningkatkan haknya dengan
mengikuti asuransi kesehatan tambahan, atau membayar sendiri selisih antara
biaya yang dijamin oleh BPJS Kesehatan dan biaya yang harus dibayar akibat
peningkatan kelas perawatan, yang disebut dengan iur biaya (additional charge).
Ketentuan tersebut tidak berlaku bagi peserta PBI.1
Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugasnya, BPJS
Kesehatan wajib menyampaikan pertanggungjawaban dalam bentuk laporan
pengelolaan program dan laporan keuangan tahunan (periode 1 Juli sampai
dengan 31 Desember). Laporan yang telah diaudit oleh akuntan publik dikirimkan
kepada Presiden dengan tembusan kepada DJSN paling lambat tanggal 30 Juni
tahun berikutnya. Laporan tersebut dipublikasikan dalam bentuk ringkasan
eksekutif melalui media massa elektronik dan melalui paling sedikit 2 (dua) media
massa cetak yang memiliki peredaran luas secara nasional, paling lambat tanggal
31 Juli tahun berikutnya.1

2.7 Pembayaran Kapitasi Berbasis Kinerja


Berdasarkan Peraturan Bersama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Kesehatan Nomor 7 tahun 2019 tentang petunjuk pembayaran kapitasi berbasis
kinerja di FKTP merupakan bagian dari pengembangan sistem kendali mutu
pelayanan yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
12

penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Penyeseuaian kapitasi berbasis KBK di


FKTP dilakukan setelah terjadi memenuhhi kriteria sebagai berikut:3
1. Telah bekerjasama dengan BPJS Kesehatan minimal 1 tahun, dan/atau
2. Minimal peserta terdaftar minimal 5000 peserta
Penerapan kerjasama antara BPJS dan FKTP diberlakukan setelah adanya
kesepakatan Bersama antara BPJS kesehatan dan Asosiasi Fasilitas Kesehatan
Pertama di tingkat Provinsi.

2.7.1 Penerapan Kapitasi Berbasis Kinerja


Dikecualikan bagi:3
1. FKTP yang ditetapkan sebagai FKTP kawasan terpencil dan sangat
terpencil, dan
2. FKTP di wilayah yang sulit mendapatkan akses jaringan komunikasi data,
akan tetapi tidak termasuk daerah terpencil dan sangat terpencil yang
ditetapkan atas kesepakatan BPJS Kesehatan dan Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.

2.7.2 Pelaksanaan Pembayaran Kapitasi


Pelaksanaan pembayaran kapitasi berbasis kinerja dinilai berdasarkan
pencapaian indikator yang meliputi:
1. Angka Kontak (AK)
Angka kontak merupakan indikator untuk mengetahui tingkat
aksesabilitas dan pemanfaatan pelayanan primer di FKTP oleh peserta
berdasarkan jumlah peserta JKN (per nomor identitas peserta) yang
mendapatkan pelayanan kesehatan di FKTP per bulan baik di dalam
gedung maupun di luar gedung tanpa memperhitungkan frekuensi
kedatangan peserta dalam satu bulan.3
2. Rasio Rujukan Rawat Jalan Non Spesialistik (RRNS)
Rasio Rujukan Rawat Jalan Non Spesialistik merupakan indikator
untuk mengetahui kualitas pelayanan di FKTP sehingga sistem rujukan
terselenggara sesuai indikasi medis dan kompetensi FKTP.3
13

3. Rasio Peserta Prolanis Terkendali (RPPT)


Rasio Peserta Prolanis Terkendali (RPPT) merupakan indikator
untuk mengetahui optimalisasi penatalaksanaan prolanis oleh FKTP dalam
menjaga kadar gula darah puasa bagi pasien Diabetes Mellitus tipe 2 (DM)
atau tekanan darah bagi pasien Hipertensi Essensial (HT).3

Khusus bagi puskesmas, terdapat indikator tambahan dalam pemenuhan


komitmen pelayanan untuk mengetahui penyelenggaraan kegiatan promotif
preventif di Puskesmas dengan fokus pada kegiatan kandungan rumah yang
dilakukan dalam bentuk pendekatan keluarga untuk mencapai program Indonesia
Sehat pada semua keluarga di wilayah kerja Puskesmas tanpa melihat peserta JKN
atau bukan peserta JKN. Melalui pendekatan keluarga, yaitu mengunjungi setiap
keluarga di wilayah kerja.3
Pelaksanaan kegiatan terkait indikator tambahan berupa kunjungan rumah
diatur melalui petunjuk teknis program sehat dengan pendekatan keluarga yang
ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Penilaian terhadap pembayaran kapitasi
berbasis pemenuhan komitmen pelayanan dilakukan setiap bulan.3

2.7.3 Penilaian Komitmen Pelayanan


1. Angka Kontak (AK)
Angka kontak merupakan indikator untuk mengetahui tingkat aksebilitas
dan pemanfaatan pelayanan primer di FKTP oleh peserta serta upaya
FKTP terhadap kesehatan peserta pada setiap 1000 (seribu) peserta
terdaftar di FKTP yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.3

Jumlah peserta yang melakukan kontak


AK = Jumlah peserta terdaftar di FKTP x 1000

2. Rasio Rujukan Rawat Jalan Non Spesialistik (RRNS)


RRNS adalah perbandingan jumlah peserta yang dirujuk dengan kasus non
spesialistik dengan jumlah seluruh peserta yang dirujuk oleh FKTP dikali
100 (seratus).3
14

Jumlah rujukan kasus non spesialistik


RRNS = Jumlah rujukan FKTP x 100%
3. Rasio Peserta Prolanis Terkendali (RPPT)
RPPB adalah perbandingan jumlah peserta prolanis terkendali dengan
jumlah peserta prolanis terdaftar di FKTP dikali 100 (seratus).3

Rasio prolanis DM terkendali+Hipertensi esensial terkendali


RPPT = 2

Jumlah peserta DM terkendali


RPPT DMJumlah
= peserta terdaftar di FKTP dengan diagnosis x 100%
DM

Jumlah peserta HT terkendali


RPPT HT =
Jumlah peserta terdaftar di FKTP dengan diagnosis x 100%
HT

2.7.4 Penilaian Capaian KBK


Penilaian capaian Pembayaran KBK dilakukan atas perhitungan
antara bobot indikator kinerja dikalikan dengan rating dan' kriteria
penilaian capaian kinerja. Besaran pembayaran kapitasi per FKTP
berdasarkan penjumlahan nilai capaian Pembayaran KBK per masing-
masing indikator, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Indikator angka kontak adalah sebesar 40% (empat puluh persen)
b. Indikator Rasio Rujukan Rawat Jalan Kasus Non Spesialistik
adalah sebesar 50% (lima puluh persen)
c. Indikator Rasio Peserta Prolanis Terkendali adalah sebesar 10%
(sepuluh persen)

Target indikator kinerja adalah nilai dari perhitungan pencapaian


indikator Pembayaran KBK dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Target indikator angka kontak adalah paling sedikit 150%o (seratus
lima puluh permil)
15

2. Target indikator Rasio Rujukan Rawat Jalan Kasus Non Spesialistik


adalah paling banyak 2% (dua persen)
3. Target indikator Rasio Pesena Prolanis Terkendali adalah paling
sedikit 5% (lima persen)

2.7.5 Kriteria penilaian


Kriteia penilaian Pembayaran KBK dibagi dalam 4 kriteria rating
berdasarkan target indikator kinerja, dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Kriteria penilaian angka kontak:
(1) Kriteria rating 1 apabila capaian angka kontak <140%o
(2) Kriteria rating 2 apabila capaian angka kontak >140%o-145%o
(3)Kriteria rating 3 apabila capaian angka kontak >145%o-<150%o
(4) Kritetia rating 4 apabila capaian angka kontak >150%o

2.Kriteria penilaian Rasio Rujukan Rawat Jalan Kasus Non


Spesialistik:
(1)Kriteria rating 1 apabila capaian RRNS >3%
(2) Kriteria rating 2 apabila capaian RRNS >2,5% -3%
(3) Kriteria rating 3 apabila capaian RRNS >2% -2,5%
(4) Kriteria rating 4 apabila capaian RRNS < 2%

3. Kriteria penilaian Rasio Peserta Prolanis Terkendali:


(l) Kriteria rating 1 apabila capaian RPPT <3%
(2) Kriteria rating 2 apabila capaian RPPT 3%- <4%
(3) Kriteria rating 3 apabila capaian RPPT 4% -<5%
(4) Kriteria rating 4 apabila capaian RPPT > 5%

2.7.6 Penilaian capaian Pembayaran KBK


Penilaian capaian Pembayaran KBK dilakukan atas perhitungan
antara bobot indikator kinerja dikalikan dengan rating dari kriteria
penilaian capaian kinerja. Besaran pembayaran kapitasi per FKTP
berdasarkan penjumlahan nilai capaian Pembayaran KBK per masing-
masing indikator, dengan ketentuan sebagai berikut:
16

l. FKTP Puskesmas
a) Apabila total nilai capaian Pembayaran KBK 4 (empat), maka
FKTP menerima pembayaran kapitasi sebesar 100% (seratus
persen) dari norma kapitasi yang ditetapkan
b) Apabila total nilai capaian Pembayaran KBK 3-<4, maka FKTP
menerima pembayaran kapitasi sebesar 95% (sembilan puluh
lima persen) dari norma kapitasi yang ditetapkan.
c) Apabila total nilai capaian Pembayaran KBK 2-<3, maka FKTP
menerima pembayaran kapitasi sebesar 90% (sembilan puluh
persen) dari norma kapitasi yang ditetapkan.
d) Apabila total nilai capaian Pembayaran KBK l-<2, maka FKTP
menerima pembayaran kapitasi sebesar 85% (delapan puluh
lima persen) dari norma kapitasi yang ditetapkan.

2. FKTP Klinik Pratama/RS D Pratama


a) Apabila total nilai capaian Pembayaran KBK 4 (empat), maka
FKTP menerima pembayaran kapitasi sebesar 100% (seratus
persen) dari norma kapitasi yang ditetapkan.
b) Apabila total nilai capaian Pembayaran KBK 3-<4, maka FKTP
menerima pembayaran kapitasi sebesar 97% (sembilan puluh
tujuh persen) dari norma kapitasi yang ditetapkan.
c) Apabila total nilai capaian Pembayaran KBK 2-<3, maka FKTP
menerima pembayaran kapitasi sebesar 96% (sembilan puluh
enam persen) dari norma kapitasi yang ditetapkan.
d) Apabila total nilai capaian Pcmbayaran KBK l-<2, maka FKTP
menerima pembayaran kapitasi sebesar 95% (sembilan puluh
lima persen) dari norma kapitasi yang ditetapkan.
17

Tabel 2.3 Penerapan Pembayaran Kapitasi Berbasis Kinerja

Indikator Kriteria Penilaian Nilai


Bobot Target
No Kerja Capaian
Rating Deskripsi
a b c d e f=bxd
4 ≥150%o 1.6
Angka 3 > 140-<150%o 1.2
1 40% ≥150%
Kontak 2 >140-145%o 0.8
1 ≤140%o 0.4
Rasio 4 ≤ 2% 2
Rujukan 3 >2-2.5% 1.5
2 50% ≤ 2%
Non 2 >2.5-3% 1
Spesialistik 1 >3% 0.5
Rasio 4 ≥ 5% 0.4
Peserta 3 <5-4% 0.3
3 10% ≥ 5%
Prolanis 2 <2-3% 0.2
Terkendali 1 <3% 0.1

Tabel 2.4 Perbandingan KBKP dan KBK


No. Ketentuan PerBer KBK Per BPJS 7/2019
Pembayaran Kapitasi Berbasis Kapitasi Berbasis
1 Nama Program
Komitmen Pelayanan Kinerja
Diberlakuakan pada : Diberlakukan pada
l. Seluruh Puskesmas seluruh FKTP yang
2. Klinik Oratama/RS D kerjasama kecuali FKTP
Pratama/ Praktik Manidir di wilayah sulit akses
FKTP yang Dokter dengan kriteria jaringan komunikasi
2 Diberlakukan minimal kerjssama 1 tahun dan data yang ditetapkan
KBK peserta terdaftar minimal atas kesepakatan BPJS
5.000 Kecuali : Kesehatan dan Dinkes
1. FKTP kawasan terpencil Kab/Kota yang
dan sangat terpencil dievaluasi paling lama
2. FKTP wilayah sulit akses setiap 3 bulan sekali
18

jaringan komunikasi data


Penyesuaian dilakukan
pada FKTP yang
1. Pusskesmas
meaksanakan KBK
FKTP yang 2. Klinik Pratama/ RSUD
( kecuali Praktik Mandiri
diberlakukan Pratama/ Praktik mandiri
3 Dokter), dengan kriteria:
penyesuaian dokter dengan kriteria
1. Telah
kapitasi minimal kerjasama 1 tahun
bekerjasama
dan peserta terdaftar minimal
minimal 1 tahun
5000
2. Jumlah peserta
terdaftat minimal 5000
Penilaian dan
1. Penilaian setiap bulan
penyesuaian kapitalisasi
Waktu penilaian 2. Penyesuaian kapitasi
dilakukan setiap bulan
4 dan penyesuaian dilakukan pada bulan ke 4
berdasarkan hasil
kapitasi berdasarkan hasil rata-rata
capaian target bulan
capaian 3 bulan
selanjutnya
Penilaian capaian
berdasarkan perhitungan
dan oleh sistem aplikasi
BPJS Kesehatan
Mekanisme Penilaian dilakukan oleh Tim
5 1. Tim penilaian
Penilaian Penilai setiap bulan
menjadi tim monev KC
2. Saat ini FKTP bisa
melihat capaian KBK
melalui aplikasi Pcare
Tim Monev terditi dari:
1. Tim Monev
Tim Monev terdiri dari:
Ketentuan Tingkat Kantor
1. Tim Monev
6 Monitoring Cabang
Tingkat Provinsi
Evaluasi Tim Monev Tingkat
2. Tim Monev Tingkat Pusat
Provinsi
2. Tim Monev Tingkat
Pusat
7 Keterlibatan 1. Dinkes Kab/Kota & 1. Dinkes Kab/Kota &
18

pemangku TKMKB KC menjadi Tim Asosiasi menjadi tim


kepentingan Penilai Monev
2. Dinkes Prov. TKMKB 2. Dinkes Prov.
Prov& Asosiasi menjadi TKMKB Prov&
Tim Monev Provinsi Asosiasi menjadi Tim
3. Kemenkes dan Asosiasi Monev Provinsi
Tk Pusat menjadi Tim 3. Kemenkes dan
Monev pusat Asosiasi Tk Pusat
menjadi Tim Monev
pusat
1. Angka Kontak (≥ 150%o) 1. Angka Kontak
2. Rasio Rujukan (≥ 150%o)
Indikator dan Non Spesialistik 2. Rasio Rujukan Non
8 target penilaian (<5%) Spesialistik (≤ 2%)
kinerja FKTP 3. Rasio Prolanis 3. Rasio Prolanis
Rutin Berkunjung Terkendali (≥5%)
(≥50%)
4. Rasio Kunjungan Rumah
(100%/tahun)
1. Penilaian capaian
merupakan bobot
1. Puskesmas dan Klinik indikator dikalikan
Pratama dengan rating dari
a. 3 aman = 100% kriteria penilaian
b. 2 aman = 95% capaian kinerja
Penyesuaian c. 1 aman = 92.5% 2. Puskesmas
kapitasi d. Tidak ada = 90% a. Nilai 4= 100%
9
berdasarkan 2. Praktik Mandiri Dokter dan b. Nilai 3-<4 = 95%
capaian RS D Pratama Hasil c. Nilai 2-<3 = 90%
pencapaian menjadi target d. Nilai 1-<2 = 85%
indikator dalam proses 3. Klinik Pratama dan
kredensialing dan RS kelas D Pratama
perpanjangan kontrak a. Nilai 4= 100%
b. Nilai 3-<4 = 97%
c. Nilai 2-<3 = 96%
19

d. Nilai 1-<2 = 95%


4. Praktik Mandiri
Dokter
Menjadi pertimbangan
dalam proses
rekrendensialing dan
pelaksanaan PKS

Tabel 2.5 Penyesuain Kapitasi dengan Nilai Capaian Kinerja

% Pembayaran Kapitasi

Nilai Capaian Klinik Pratama/RS D


Puskesmas
Pratama
4 100% 100%
3-<4 95% 97%
2-<3 90% 96%
1-<2 85% 95%
BAB III
HASIL PUSKESMAS

3.1 Profil Puskesmas Paal Merah I Kota Jambi


Puskesmas Paal Merah I Kota Jambi adalah Puskesmas non perawatan
puskesmas induk berdiri pada tahun 1994 dan direhap total tahun 2011 dan
bangunan baru lantai II dengan luas bangunan ± 582 m2 dengan jumlah
ruangan lantai I berjumlah 8 ruangan dan lantai II berjumlah 8 ruangan.
Adapun ruangan tersebut sebagai berikut:5
1. Lantai 1: Ruang Karcis/Loket, Ruang Poli Umum, ruang MTBS, Ruang Poli
Usila, Ruang KIA- KB, Laboratorium, Ruang Apotik dan Ruang
Tunggu, ruang TB/HIV, IGD, Rumah Ramah Anak (tumbang, gizi,
imunisasi).4

2. Lantai 2: Ruang Poli Gigi, Ruang BLUD dan Bendaharawan, Ruang Tata
Usaha, Ruang Kepala Puskesmas, Ruang Kesling, Ruang IMS
(VCT), Ruang Pustaka, Ruang Aula, Ruang Promkes, ruang
makan, ruang solat, dan Ruang Tunggu.4

3.1.3 Lokasi Geografis Puskesmas Paal Merah I Kota Jambi


Luas wilayah kerja Puskesmas Paal Merah tahun 2018 adalah ± 5,1 Km 2
terdisi dari dataran rendah yang dilalui sungai-sungai kecil dengan ketinggian ±
10 M diatas permukaan laut. Puskesmas Paal Merah I terletak di kecamatan
Paal Merah dengan batas wilayah sebagai berikut:4
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Lingkar Selatan
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Tambak Sari
3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Pasir Putih
4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Thehok

20
21

3.1.5 Demografi Puskesmas Paal Merah I Kota Jambi


Data demografis meliputi data yang menggambarkan jumlah penduduk di
Wilayah Kerja Puskesmas Paal Merah I tahun 2019. sebagaimana pada tabel
berikut:4

Tabel 3.1 Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Paal Merah I Tahun
2019
No Desa/Kelurahan Jumlah KK Jumlah Penduduk

1. Paal Merah 3.496 13.985


Jumlah 3.496 13.985

3.1.3 Mata Pencaharian


Mata pencaharian penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Paal Merah I
dapat diuraikan sebagai berikut:5
1. Usia Sekolah : 3.993 Jiwa
2. Petani : 2.775 Jiwa
3. Nelayan :0 Jiwa
4. Pengusaha/Wiraswasta : 447 Jiwa
5. Buruh Bangunan + Tukang : 381 Jiwa
6. Pedagang : 3.110 Jiwa
7. Pengangkutan / Jasa-jasa / Sopir : 871 Jiwa
8. Pengangguran : 735 Jiwa
9. Pensiunan : 878 Jiwa
10.Pegawai Negeri (Sipil/ABRI) : 795 Jiwa

Jumlah : 13.985 Jiwa


22

3.2 Ketenagaan Puskesmas


Ketenagaan Puskesmas Paal Merah I dapat dilihat pada tabel 3.2 sebagai
berikut:5
Tabel 3.2 Distribusi Pegawai pada Puskesmas Paal Merah I
Tenaga Kesehatan Jumlah Kontrak TKS
Dokter Umum 3 0 0
Dokter Gigi 1 0 0
Sarjana Kesehatan Masyarakat 2 0 0
Sarjana Farmasi 2 0 0
Sarjana Keperawatan 1 0 2
D3 Keperawatan Umum 3 0 2
D3 Keperawatan Gigi 2 0 0
D3 Kebidanan 7 0 3
D3 Kesling 2 0 0
D3 Analisis Kimia 3 0 0
D3 Gizi 1 0 0
D1 Keperawatan 1 0 0
SMA non Kesehatan 1 0 1
Juru Parkir 0 0 1
Penjaga Keamanan 0 1 0
Tenaga Kebersihan 0 1 0
Jumlah 29 2 9
23

3.2.1 Tenaga Kesehatan


Keadaan tenaga kesehatan berdasarkan tingkatan pendidikan terakhir di
Puskesmas Paal Merah I Pada Tahun 2019 dapat dilihat pada tabel 3.3 dibawah
ini.4
Tabel 3.3 Keadaan Tenaga Kesehatan Berdasarkan Tingkatan Pendidikan
Terakhir
No Jenis Kegiatan Jumlah

1. Medis 4

1. Dokter Umum 3

2. Dokter Gigi 1

2. S1 Kesehatan 7

1. Sarjana Keperawatan 3

2. SKM 2

3. Sarjana Farmasi 2

4. D4 Kebidanan 0

5. Sarjana Ekonomi 0

3. D3 Kesehatan 23

1. D3 Keperawatan Umum 5

2. D3 Keperawatan Gigi 2

3. D3 Kebidanan 10

4. D3 Kesling 2
24

5. D3 Analisis Kimia 3

6. D3 Gizi 1

3. D1 Kesehatan 1

1. Keperawatan 1

4. SLTA Sederajat 2

1. SMA Non Kesehatan 2

5 Juru Parkir 1

6 Penjaga Keamanan 1

7 Tenaga Kebersihan 1

JUMLAH 40

3.3 Sarana Kesehatan


Sarana kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Paal Merah I sampai 31
Desember 2019 adalah sebanyak sarana kesehatan, dengan rincian sebagai
berikut:4

Tabel 3.4 Sarana Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Paal Merah I Tahun
2019
Sarana Kesehatan Jumlah
Puskesmas 1
Puskesmas Pembantu 1
Posyandu Usila 3
Posyandu 8
Jumlah 13
25

3.4 Hasil Pencapaian Komitmen Pelayanan Kesehatan Puskesmas Paal


Merah I Maret 2020

Tabel 3.5 Jumlah pelayanan BPJS Puskesmas Paal Merah I bulan Maret 2020
No. Kategori peserta Jumlah
1. Peserta terdaftar di FKTP 10.036 orang
2. Peserta melakukan kontak 799 orang
3. Peserta rujukan 130 orang
4. Peserta rujukan non spesialistik 0
5. Peserta Prolanis terkendali 13 orang

3.4.1 Indikator Angka Kontak


Indikator Angka Kontak (AK) dihitung dengan formulasi perhitungan
jumlah Peserta terdaftar yang melakukan kontak dengan FKTP dibandingkan
dengan total jumlah peserta terdaftar di FKTP dikali 1000 (seribu) dengan hasil
perhitungan dalam per mil.3
Jumlah peserta BPJS yang terdaftar di FKTP Puskesmas Paal Merah I
terhitung pada bulan Maret 2020 adalah sebanyak 10.036 dan jumlah peserta
terdaftar yang melakukan kontak di FKTP Puskesmas Paal Merah I pada bulan
Maret adalah sebanyak 799 orang.4

AK = Jumlah Peserta terdaftar yang melakukan kontak x 1.000


Jumlah Peserta terdaftar di FKTP

= 799 x 1.000 = 79,61 per mil


10.036

3.4.2 Rasio Rujukan Non Spesialistik


Indikator Rasio Rujukan Rawat Jalan Kasus Non Spesialistik (RRNS)
dihitung dihitung berdasarkan jumlah Peserta yang dirujuk dengan diagnosa
26

yang termasuk dalam level kompetensi FKTP sesuai dengan Panduan Praktik
Klinis dibandingkan dengan jumlah seluruh Peserta yang dirujuk oleh FKTP
dikali 100 (seratus) dengan hasil perhitungan dalam persen.3
Jumlah peserta BPJS yang dirujuk ke pelayanan kesehatan lain di FKTP
puskesmas Paal Merah I pada bulan Maret 2020 adalah sebanyak 130 orang
dan jumlah peserta rujukan kasus non spesialistik di FKTP puskesmas Paal
Merah I pada bulan Maret 2020 tidak ada.4

RRNS = Jumlah rujukan kasus non spesialistik x 100


Jumlah rujukan FKTP
= 0 x 100 = 0%
130

3.4.3 Rasio Peserta Prolanis Terkendali


Indikator Rasio Peserta Prolanis Rutin Berkunjung ke FKTP dihitung
dihitung berdasarkan jumlah Peserta Prolanis yang rutin berkunjung ke FKTP
dibandingkan dengan jumlah Peserta Prolanis terdaftar di FKTP dikali 100
(seratus) dengan hasil perhitungan dalam persen.3
Target pemenuhan Rasio Peserta Prolanis Rutin Berkunjung ke FKTP oleh
FKTP sesuai dengan kesepakatan antara BPJS Kesehatan dengan Jumlah
peserta BPJS prolanis yang terdaftar di FKTP puskesmas Paal Merah I pada
bulan Maret 2020 adalah sebanyak 50 jiwa dan jumlah peserta prolanis yang
rutin berkunjung di FKTP puskesmas Paal Merah I pada bulan Maret 2020
adalah sebanyak 13 orang.4
Jumlah peserta DM terkendali x 100
RPPT DM =
Jumlah peserta terdaftar di FKTP dengan diagnosis
DM
7
= x 100 = 14%
50

Jumlah peserta HT terkendali


RPPT HT =
Jumlah peserta terdaftar di FKTP dengan diagnosis x 100
HT
27

6
=
353 x 100 = 1,7%

Rasio prolanis DM terkendali+Hipertensi esensial terkendali


RPPT = 2

14+1,7
= = 7,85%
2

3.5 Analisis masalah pelayanan BPJS di FKTP Puskesmas Paal Merah I


Permasalahan pelayanan jaminan kesehatan di puskesmas Paal Merah I
diketahui berdasarkan wawancara dengan petugas puskesmas dan berdasarkan
data hasil pencapaian didapatkan permasalahannya yaitu kurangnya jumlah
peserta terdaftar BPJS yang rutin ataupun angka kontak berkunjung ke FKTP
Puskesmas Paal Merah I pada bulan Maret 2020.
BAB IV
ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH

4.1 Analisis Masalah


Berdasarkan hasil yang tergambar pada bab sebelumnya, Hasil Pencapaian
Komitmen Pelayanan Kesehatan Puskesmas Paal Merah I bulan Maret 2020
dapat dikategorikan berdasarkan indikator, sebagai berikut :

Tabel 4.1 Target Pemenuhan Komitmen Pelayanan BPJS di FKTP


No Nama Indikator Deskripsi Rating Nilai Capaian

1. Angka kontak (AK) 79,61 per mil 1 0,4


2. Rasio rujukan kasus non 0% 4 2
spesialistik (RRNS)
3. Rasio peserta prolanis 7,85% 4 0,4
terkendali (RPPT)

Berdasarkan tabel diatas pemenuhan komitmen pelayanan BPJS di FKTP


Puskesmas Paal Merah 1 pada bulan Maret 2020 sesuai dengan indikator
menunjukkan bahwa, angka kontak memiliki nilai deskripsi sebesar 79,61 per
mil (≤140 per mil), sehingga nilai capaiannya adalah 0,4. Rasio rujukan rawat
jalan non spesialistik memiliki nilai deskripsi 0%, sehingga nilai capaiannya
adalah 2 dan rasio peserta prolanis terkendali memiliki nilai deskripsi 7,85%
sehingga nilai capaiannya adalah 0,4. Dikarenakan nilai capaian total sebesar
2,8, maka pembiayaan besarnya kapitasi yang akan diterima oleh Puskesmas
Paal Merah I sebesar 90%.
Berdasarkan data diatas permasalahan pelayanan jaminan kesehatan di
puskesmas Paal Merah I adalah kurangnya jumlah peserta BPJS yang rutin
kontak/berkunjung ke FKTP Puskesmas Paal Merah I pada bulan Maret 2020.

28
29

4.2 Perumusan Penyebab Masalah

Pa er
Ku lua

s ie g i
ra rg
ke

n ke
p
ng a

T i FK n
Permasalahan pelayanan jaminan kesehatan di puskesmas Paal Merah I

M
ny

da T

an
a

km P
du

us
au

ia
ku
adalah kurangnya jumlah peserta BPJS yang rutin/berkunjung ke FKTP

ng
a
Ku sial
M

Puskesmas Paal Merah I pada bulan Maret 2020.


ra isa
Ad ura

so
in

ng si
m ns

at
as

ny
in i r

a
ist um

be

as
r a it

rk

yr
si

ur

ak

pe
an

at

ng n m

Re ua ra
g

et as

nd n/ ka
Pe

ah ya

ah
Bo tan
ta a n i a

ni
rif g tif

ny esad
sa
ng
Ku va

a
n
ka
r

k
be
r

Ku sial

Sa
ar
r

ra isa
Pr

t
so

ra
a
ng si
os

na
Pu

ny
es

sk
/m

a
es
et

m
Ba na
od

as

Pi
ny kti

n
eL

no

ja

da
ak f

uh
in

h
gk

pe

FK
un

se

TP
ga

rta
n

ya
ng

Fa aks
sil im
m

ita al
sk
ur
an
g
Ku kun
ra g a
du

ng n

Social
ny ke

distancing
a

Ku sert uykaan
ra
ng
lu

pe elak
ar

ny
m
ga

a
ju
a ngk

m
te o

la
rd nt

h
aft ak
ar

Berdasarkan diagram fishbone diatas didapatkan kurangnya angka kontak


Puskesmas Paal Merah I pada bulan Maret 2020 dapat terjadi dari berbagai faktor
yaitu faktor manusia(kader puskesmas) berupa kurangnya sosialisasi mengenai
pentingnya kunjungan rutin ke FKTP, dari masyarakat berupa kurangnya
dukungan keluarga, rendahnya kesadaran masyarakat/pasien, sedangkan
berdasarkan faktor proses berupa pengurusan administrasi asuransi yang rumit,
adanya peningkatan tarif asuransi dan kurang variatif dalam pelayanan yang
diberikan sehingga pasien merasa bosan dengan kegiatan yang dijalani oleh
Puskesmas. Kemudian dari faktor lingkungan yaitu adanya pandemi covid-19
yang mengharuskan masyarakat untuk (social distancing) tidak saling berkumpul
berkumpul dan berkunjung terlebih dahulu.
30

4.3 Alternatif Pemecahan Masalah


Kurangnya Jumlah prolanis yang rutin berkunjung ke FKTP Puskesmas
Paal Merah I pada bulan Maret 2020 dapat diatasi dengan meningkatkan
sosialisasi oleh petugas kesehatan di Puskesmas Paal Merah I mengenai
pentingnya kunjungan kontrol rutin bagi setiap individu masyarakat, baik itu
pada kelompok masyrakat yang berpeluang besar akan mengalami kesakitan,
ataupun pada masyarakat yang tidak terlalu berpeluang mengalami kesakitan.
Selain sosialisasi, membuat rencana kegiatan lain dan inovasi dalam rangka
mengedukasi masyarakat untuk menanamkan kesadaran pentingnya rutinitas
mengontrol kesehatan tubuh secara berkala, sehingga masyarakat nantinya
semakin paham dan rajin untuk menjaga kesehatannya dengan selalu kontrol
rutin ke Puskesmas. Peningkatan mutu dan pelayanan petugas Puskesmas dalam
melayani pasien yang berkunjung ke FKTP pun dapat ditingkatkan lebih baik
lagi, dengan harapan dapat meningkatkan minat dan kenyamanan serta kepuasan
pasien dalam berkunjung ke FKTP Puskesmas Paal Merah I.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Pemenuhan komitmen pelayanan BPJS di FKTP Puskesmas Paal Merah I
pada bulan Maret 2020 berdasarkan indikator Kapitasi Berbasis Kinerja
menunjukkan bahwa angka kontak memiliki nilai capaian 0,4, Rasio
Rujukan Non Spesialistik memiliki nilai capaian 2 dan Rasio Peserta
Prolanis Terkendali memiliki nilai capaian 0,4.
2. Pembiayaan kapitasi yang diterima oleh Puskesmas Paal Merah I yaitu
sebesar 90%. Dikarenakan total nilai capaian ketiga indikator adalah 2,8.
3. Masalah JKN/BPJS di puskesmas Paal Merah I yaitu kurangnya jumlah
pasien yang terdaftar sebagai peserta JKN/BPJS yang kontak/berkunjung
ke FKTP Puskesmas Paal Merah I pada bulan Maret 2020
4. Solusi Permasalahan JKN/BPJS di puskesmas Paal Merah I mengenai
kurangnya jumlah pasien yang kontak/berkunjung ke FKTP dapat diatasi
dengan meningkatkan sosialisasi pada setiap kelompok masyarakat baik
itu yang berpeluang mengalami kesakitan ataupun tidak, peningkatan mutu
dan pelayanan petugas Puskesmas dalam melayani pasien yang
berkunjung ke FKTP pun dapat ditingkatkan lebih baik lagi, dengan
harapan dapat meningkatkan minat dan kenyamanan serta kepuasan pasien
dalam berkunjung ke FKTP Puskesmas Paal Merah I.

5.2 Saran

Diharapkan kepada Puskesmas Paal Merah I agar dapat meningkatkan kinerjanya


terutama dalam hal sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kunjungan rutin
guna menjaga tubuh yang selalu optimal dan sehat. Puskesmas bisa juga merancang agenda
yang menarik dan inovatif dimana bisa dengan menarik peserta yang terdaftar untuk bisa
kontak dan ikut berbagai kegiatan yang dilakukan Puskesmas di wilayah kerjanya sembari
meningkatkan pelayanan yang diberikan pada pasien yang berkunjung. Dengan langkah
alternatif seperti ini diharapkan dapat menambah jumlah peserta yang kontak dan
berkunjung ke Puskesmas Paal Merah I.

31
DAFTAR PUSTAKA

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Pegangan Sosialisasi


Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam dalam sistem jaminan social
nasional. Tim penyusun bahan sosialisasi dan advokasi JKN
2. Undang-Undang RI Nomor 40 tahun 2004. Sistem Jaminan Nasional Sosial.
3. Peraturan BPJS Kesehatan Nomor7 Tahun 2019 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Sistem Pembayaran Kapitasi Berbasis Kinerja.
4. Puskesmas Paal Merah I. Laporan Tahunan EKP dan PKP. 2019. Hal 3-11
5. Rusady MA. Kebijakan pelayanan dan pembayaran dalam program JKN. BPJS. Jakarta.
2016

32