Anda di halaman 1dari 9

POPY RAHAYU INAKU (2118008)

MATA KULIAH: KEPERAWATAN MENJELANG AJAL

TUGAS !!!

1. Patifisiologi Proses Kematian


a. Kematian Sel
b. Kematian Somatik
Jawab :
1. Kematian Sel
Pada kerusakan yang terjadi terus menerus, maka kerusakan tersebut menjadi
irreversible dan akhirnya sel tidak memiliki kemampuan untuk memeperbaiki
kerusakan sehinga menyebabkan sel mati . ada dua macam kematian sel, yang
dibedakan dari morfologi yang dibedakan dari morfologi, mekanisme dan perubahan
fisiologi dan penyakit yaitu Apoptosis dan Nekrosis.
a. Apoptosis
 Apoptosis adalah kematian sel yang terprogram (programmed cell death),
adalah suatukomponen yang normal terjadi dalam perkembangan sel untuk
menjaga keseimbangan padaorganisme multiseluler. Sel-sel yang mati adalah
sebagai respons dari beragam stimulus danselama apoptosis kematian sel-sel
tersebut terjadi secara terkontrol dalam suatu regulasi yangteratur.
Informasi genetik pemicu apoptosis aktif setelah sel menjalani masa hidup
tertentu,menyebabkan perubahan secara morfologis termasuk perubahan pada inti
sel. Kemudian sel akanterfragmentasi menjadi badan apoptosis, selanjutnya
fragmen tersebut diabsorpsi sehingga selyang mati menghilang.
Atau dalam artian yang lain adalah merupakan kematian sel yang
terprogram,melalui proses kerusakan kromatin pada nukleus / inti sel, sel menyus
ut dengan pembentukan badan apoptosom (apoptotic body) dan sel mengepak diri
nya sendiri untuk dimakan makrofag.
Apoptosis terjadi setiap hari dalam tubuh kita. Sel dalam tubuh ada yang
berproliferasi (lahir)dan ada yang mati. Untuk terjadi apoptosis ada berbagai
macam stimulus. Stimulusnya sangatregulated fashion (sangat terkontrol bukan
sesuatu yang asal lalu mati). Apoptosis dibedakandengan necrosis karena necrosis
menginduksi inflamasi yang dapat menimbulkan masalahkesehatan yang serius.
Proses dimana sel memegang peranan dalam kematiannya sendiri.Informasi
genetik pemicu apoptosis aktif setelah sel menjalani masa hidup
tertentu,menyebabkan perubahan secara morfologis termasuk perubahan pada inti
sel. Kemudian sel akanterfragmentasi menjadi badan apoptosis, selanjutnya
fragmen tersebut diabsorpsi sehingga selyang mati menghilang.
 Etiologi kematian sel itu sendiri disebabkan oleh growth factor atau DNA
sel atau protein yang dihancurkan dengan maksud perbaikan.
 Memiliki karakteristik sel dimana inti sel mengalami pemadatan dan tidak
terjadi kerusakan membran sel.
 Apoptosis memerlukan sintesis aktif RNA dan protein dan merupakan
suatu proses yang memerlukan energi
 Secara morfologis, proses ini ditandai oleh pemadatan kromatin di
sepanjang membran inti
b. Nekrosis
 Stimulus yang terlalu berat dan berlangsung lama serta melebihi kapasitas
adaptif selakan menyebabkan kematian sel dimana sel tidak mampu lagi
mengkompensasi
tuntutan perubahan. Sekelompok sel yang mengalami kematian dapat dikenali den
gan adanya enzim-enzim lisis yang melarutkan berbagai unsur sel serta timbulnya
peradangan. Leukosit akanmembantu mencerna sel-sel yang mati dan selanjutnya
mulai terjadi perubahan-perubahan secaramorfologis.
Kematian sekelompok sel atau jaringan pada lokasi tertentu dalam tubuh
disebutnekrosis. Nekrosis biasanya disebabkan karena stimulus yang bersifat
patologis. Selain karenastimulus patologis, kematian sel juga dapat terjadi melalui
mekanisme kematian sel yang sudahterprogram dimana setelah mencapai masa
hidup tertentu maka sel akan mati. Mekanisme inidisebut apoptosis, sel akan
menghancurkan dirinya sendiri (bunuh diri/suicide), tetapi apoptosisdapat juga
dipicu oleh keadaan iskemia.
Dalam artian lainnya Nekrosis merupakan kematian sel sebagai akibat dari
adanyakerusakan sel akut atau trauma (mis: kekurangan oksigen, perubahan suhu
yang ekstrem, dan cedera mekanis), dimana kematian sel tersebut terjadi secara
tidak terkontrol yang dapatmenyebabkan rusaknya sel, adanya respon peradangan
dan sangat berpotensi menyebabkanmasalah kesehatan yang serius.
 Etiologi kematian sel ini akibat terjadinya kerusakan membran, sehingga
lisosom mengeluarkan enzim ke sitoplasma dan menghancurkan sel, isi sel
keluar dikarenakan kerusakan membran plasma dan mengakibatkan reaksi
inflamatori.
 Nekrosis secara umum terjadi pada kematian sel yang diakibatkan oleh:
- Ischemia - Keracunan
- Infeksi - Trauma
Perbedaan apoptosis dan nekrosis menurut Sarjadi (1999) sebagai berikut:

2. Kematian Somatik
a. Definisi Mati
Agar suatu kehidupan seseorang dapat berlangsung, terdapat tiga sistem yang
mempengaruhinya. Ketiga sistem utama tersebut antara lain sistem persarafan,
sistem kardiovaskuler dan sistem pernapasan. Ketiga sistem itu
sangat mempengaruhi satu sama lainnya, ketika terjadi gangguan pada satu
sistem, maka sistem-sistem yang lainnya juga akan ikut berpengaruh (Idries,
1997). 
Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang mati, yaitu mati somatis
(mati klinis), mati suri, mati seluler, mati serebral dan mati otak (mati batang
otak).
Mati somatik (mati klinis) ialah suatu keadaan dimana oleh karena sesuatu
sebab terjadi gangguan pada ketiga sistem utama tersebut yang bersifat menetap
(Idries, 1997). 
Pada kejadian mati somatis ini secara klinis tidak ditemukan adanya refleks,
elektro ensefalografi (EEG) mendatar, nadi tidak teraba, denyut jantung tidak
terdengar, tidak ada gerak pernapasan dan suara napas tidak terdengar saat
auskultasi.
Mati suri (apparent death) ialah suatu keadaan yang mirip dengan kematian
somatis, akan tetapi gangguan yang terdapat pada ketiga sistem bersifat
sementara. Kasus seperti ini sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur,
tersengat aliran listrik dan tenggelam (Idries, 1997).
Mati seluler (mati molekuler) ialah suatu kematian organ atau jaringan tubuh
yang timbul beberapa saat setelah kematian somatis. Daya tahan hidup masing-
masing organ atau jaringan berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler
pada tiap organ tidak bersamaan (Budiyanto, 1997).
Mati serebral ialah suatu kematian akibat kerusakan kedua hemisfer otak yang
irreversible kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya
yaitu sistem pernapasan dan kardiovaskuler masih berfungsi dengan bantuan alat
(Budiyanto, 1997).
Mati otak (mati batang otak) ialah kematian dimana bila telah terjadi
kerusakan seluruh seluruh seluruh isi neuronal intrakranial yang irreversible,
termasuk batang otak dan serebelum. Dengan diketahuinya mati otak (mati batang
otak) maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan
hidup lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan (Budiyanto, 1997).
a. Mati Somatis
Mati somatis adalah keadaan dimana fungsi ketiga organ vital (sistem
saraf pusat, sistem kardiovaskuler dan sistem pernafasan) berhenti secara
menetap (ireversibel) yang pada klinisnya didapatkan:
1. Sistem saraf
 Refleks-refleks fisiologis dan patologis
 Tonus otot → sehingga terkesan tubuh saat diangkat berat
( relaksasi primer ).
2.Sistem pernafasan
 Tak tampak gerakan dada.
  Tak teraba udara keluar masuk hidung.
 Bulu / serat halus yang ditaruh di depan hidung tidak bergerak.
 Tak terdengar suara aliran udara di depan hidung, di trakea, di
dada.
3. Sistem kardivaskuler

 ECG mendatar .
 Nadi tidak teraba.
 Iktus kordis negative.
 Denyut jantung tidak terdengar. 

Penilaian klinis yang dilakukan pada mati somatic pun meliputi pemeriksaan ketiga organ
fungsional yaitu:

1. Pemeriksaan Kardiovaskuler:
a. Palpasi
 Nadi pergelangan tangan tidak teraba
 Nadi leher tidak teraba
 Nadi pergelangan kaki tidak teraba
 Ictus cordis tidak teraba
b. Visualisasi
 EKG datar
c. Observasi
 Tidak tampak ictus cordis
 Kulit pucat
 Warna kuku pucat

Untuk menentukan jantung masih berfungsi atau tidak perlu dilakukan pemeriksaan sebagai
berikut:

a. Auskultasi
Auskultasi dilakukan di daerah prekardial selama 10 menit terus – menerus.
b. Tes Magnus
Yaitu dengan mengikat jari tangan sedemikian rupa sehingga hanya aliran darah vena
saja yang berhenti. Bila terjadi bendungan berwarna sianotik berarti masih ada sirkulasi.
c. Tes Icard
Yaitu dengan cara menyuntikkan larutan dari campuran 1 gr zat flouresein dan 1 gr
Natrium bikarbonat di dalam 8 ml air secara subkutan. Bila terjadi perubahan warna
kuning kehijauan berarti masih ada sirkulasi darah.
d. Incisi arteria radialis
Bila terpaksa dapat dilakukan pengirisan pada arteria radialis. Bila keluar darah secara
pulsatif berarti masih ada sirkulasi darah.

2. Pemeriksaan Pernafasan
a.  Observasi
 Tidak ada gerakan dada
 Jika di dada atau perut mayat ditaruh baskom / gelas berisi air maka tidak
ditemukan adanya getaran air akibat adanya gerakan dada (test wislow)
 Jika di depan hidung diberi serabut kapas tidak tampak adanya gerakan
serabut kapas tersebut (tes bulu kapas)
 Jika di depan hidung diberi kaca, tidak tampak adanya uap air yang keluar
dari lubang hidung (tes cermin)
b. Palpasi
 Tangan ditaruh dada / tunggung tidak terasa ada gerakan udara masuk
 Tidak teraba ada gerakan dada
c. Auskultasi
 Tidak terdengar suara udara keluar masuk saluran pernafasan (dapat
didengarkan dari suara nafas di leher, dada). Tes ini perlu dilakuakan
secara hati-hati dan lama. Kalau perlu dilakukan auskultasi pada daerah
laring.
3. Pemeriksaan Sistem Saraf
 Reflek-reflek negative (baik yang fisiologis maupun patologis) seperti :
reflek patella, reflek tendo Achilles, reflek chadok, reflek babinski, dll.
 Elektroensefalografi mendatar
 Reflek pupil / cahaya negative, reflek kornea
 Reflek rangsangan sakit.
2. Two Roads to death (dua jalan menuju kematian)
1. Tingkat kesadaran menurun
Sebagian besar pasien melintasi “Jalan biasa menuju kematian”. Bergantung pada
penyakit pasien, lintasan ini dapat terjadi berjam-jam atau selama berhari-hari. Adalah
penting untuk menggambarkan perubahan-perubahan ini dan kursus waktu yang mungkin,
tetapi tak terduga, untuk keluarga. Pasien yang sekarat mengalami peningkatan rasa
kantuk, tidur paling banyak jika sepanjang waktu, dan akhirnya menjadi tidak sehat. Tidak
adanya reflex bulu mata pada pemeriksaan fisik menunjukkan tingkat koma yang setara
dengan anestesi penuh.
2. Komunikasi dengan pasien yang tidak sadar
Keluarga akan sering menemukan ketidakmampuan untuk berkomunikasi dengan orang
yang mereka cintai. Jam-jam terakhir kehidupan mungkin adalah saat ketika mereka paling
ingin berkomunikasi dengan orang yang mereka cintai. Seperti yang diamati oleh banyak
dokter, tingkat kesulitan keluarga tampaknya berbanding terbalik dengan sejauh mana
perencanaan dan persiapan sebelumnya terjadi. Waktu yang dihabiskan untuk
mempersiapkan keluarga kemungkinan akan sangan bermanfaat.

3. Tanda-tanda Kematian
A. Tanda-tanda Menjelang Kematian
Tanda-tanda kematian secara alami mungkin muncul berupa perubahan secara fisik
dalam beberapa hari atau beberapa jam menjelang kematian. Hal ini dialami terutama oleh
penderita penyakit kronis atau lanjut usia. Tanda-tanda mendekati kematian tersebut di
antaranya:
 Lelah dan Mengantuk
Perubahan metabolisme membuat penderita tampak lebih tidak bertenaga, lemas,
dan mengantuk. Dia akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk tidur, dan bisa
jadi tidak sadarkan diri dalam tidurnya.
 Tidak ingin Makan atau Minum
Penderita cenderung menolak makan atau minum dan terlihat kesulitan dalam
mengonsumsi makanan, minuman, serta obat melalui mulut. Menjelang kematian,
tubuh tidak mampu lagi memproses makanan dengan baik. Jika penderita tidak
mampu menelan air, oleskan air di bibirnya.
 Perubahan Nafas
Penderita dapat mengalami perubahan pola napas, yaitu napas cepat yang berubah
menjadi lebih dalam dan tidak teratur. Bisa jadi terdapat jeda beberapa waktu di
selatarikannapas. Selain itu, tubuh secara alami memproduksi dahak di dalam
sistem pernapasan. 
Dahak ini secara alami akan terbuang melalui batuk. Namun jika tubuh sudah
tidak banyak bergerak dan mendekati kematian, dahak akan menumpuk dan
menimbulkan bunyi saat bernapas.
 Halusinasi dan kebingungan
Halusinasi adalah ketika seseorang melihat atau mendengar sesuatu yang
sebenarnya tidak nyata. Selain itu, mungkin juga terjadi linglung sehingga
penderita tidak mengenali di mana dia berada, jam berapa, atau sedang berada
bersama siapa. Disorientasi ini dapat membuat penderita resah dan susah tidur.
Kedua hal ini dapat terjadi karena perubahan keseimbangan zat kimia dalam otak
dan efek samping obat-obatan. Di saat lain, kondisi ini dapat membuat penderita
merasa frustrasi, dan meminta untuk dipindahkan dari tempat tidurnya.
 Tangan dan Kaki Dingin
Perubahan sirkulasi tubuh dapat menyebabkan kaki dan tangan penderita
terasa dingin. Kekurangan oksigen dalam darah dapat menyebabkan kulit berubah
warna menjadi kebiruan atau sianosis. Kaos kaki dan selimut mungkin dapat
menghilangkan rasa dingin.
 Tidak dapat mengintrol BAB dan BAK
Kehilangan kemampuan untuk mengontrol BAB dan BAK karena tidak
berfungsinya otot-otot panggul. Selain itu, melambatnya kerja ginjal dan
menurunnya konsumsi cairan membuat volume urine menjadi berkurang
atau urine berwarna gelap. Anda bisa meminta perawat menempatkan kateter
atau popok dewasa untuk menjaga pasien tetap bersih.

B. Tanda-tanda Kematian Secara Medis


Seseorang dinyatakan meninggal ketika:
 Tidak ada aktivitas batang otak. Tanda-tandanya pupil mata melebar dan tidak
bereaksi terhadap cahaya, mata tidak mengedip ketika kornea mata dirangsang,
tidak terdapat refleks muntah ketika tenggorokan dirangsang.
 Organ vital tidak berfungsi.
 Pernapasan terhenti.
 Tidak ada aktivitas listrik jantung atau jantung tidak berdenyut.
 Tidak ada repon terhadap rangsangan nyeri, misalnya ketika dicubit.
 Tubuh kaku, yang mulai terlihat sejak 3 jam setelah kematian.Suhu tubuh turun,
setidaknya 8 jam setelah kematian.

4. Peran perawat
Adalah sedapat mungkin berupaya agar keinginan klien terpenuhi.
1. Menerima kondisi klien
2. Berhati-hati dalam memberikan penilaian, mengenali kemarahan dan emosi yang tak
terkendali
3. Membiarkan klien mengungkapkan marahnya
4. Menjaga agar tidak terjadi kemarahan deskrutif dan melibatkan keluarga
5. Berusaha menghormati dan memahami klien
6. Memeberikan kesempatan memeperlunak suara dan mengurangi permintaan yang
penuh kemarahan