Anda di halaman 1dari 31

LAMPIRAN: Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan

Nomor : PER.17/MEN/2005
Tentang Rencana Startegis (RENSTRA)
Departeman Kelautan dan Perikanan Tahun
2005 – 2009

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Arah pembangunan yang tepat pada periode 5 Tahun Kabinet Indonesia


Bersatu adalah pemulihan kembali perekonomian nasional melalui upaya
terobosan dengan merevitalisasi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang
ada dan menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berbasis
pada keunggulan komparatif bangsa.

Di antara resources based industries tersebut, sektor kelautan dan


perikanan merupakan salah satu keunggulan komparatif yang berpotensi
menjadi keunggulan kompetitif untuk menggerakkan perekonomian nasional,
sehingga sudah saatnya sektor tersebut dikembangkan.

Pentingnya membangun sektor kelautan dan perikanan makin terasa


berdasarkan suksesnya beberapa negara dalam pembangunan sektor tersebut,
seperti Islandia, Norwegia, Thailand, dan Korea Selatan. Berdasarkan
pengalaman pembangunan kelautan dan perikanan di beberapa negara tersebut,
bangsa Indonesia sepatutnya optimis bahwa sektor kelautan dan perikanan
dapat berperan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat dan pertumbuhan
ekonomi. Hal ini mengingat sumber daya kelautan dan perikanan Indonesia
bernilai sekitar US$82 miliar. Keberadaan sumber daya kelautan dan perikanan
yang demikian besarnya adalah merupakan peluang bagi sumber pertumbuhan
ekonomi nasional dan wahana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun demikian, permasalahan dan kendala yang dihadapinya juga


cukup besar dan tidak mudah untuk diatasi. Permasalahan utama yang dihadapi
antara lain adalah pencemaran laut dan pembuangan limbah secara ilegal oleh
negara lain, pencurian ikan, gejala penangkapan berlebih (over fishing),
degradasi habitat pesisir (mangrove, terumbu karang, padang lamun, estuaria,
dll), konflik penggunaan ruang dan sumber daya, belum tersedianya teknologi
kelautan dan perikanan secara memadai, terbatasnya sumber permodalan yang
dapat digunakan untuk investasi, dan kemiskinan yang masih melilit sebagian
besar penduduk di wilayah pesisir, khususnya pembudidaya ikan kecil dan
nelayan kecil.

1
Permasalahan tersebut muncul antara lain sebagai akibat dari paradigma
pembangunan masa Orde Baru yang lebih berorientasi ke darat (terresterial)
yang menyebabkan pengalokasian segenap sumber daya pembangunan lebih
diprioritaskan pada sektor-sektor daratan.

Melihat kondisi yang demikian, kekayaan sumber daya kelautan dan


perikanan yang besar itu belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk
memecahkan problem krisis ekonomi, ketertinggalan serta kemiskinan nelayan
dan pembudidaya ikan serta rakyat Indonesia pada umumnya.

Apabila peluang dan prospek yang terbuka dapat dimanfaatkan dengan


sebaik-baiknya, dan permasalahan yang masih dihadapi dapat diatasi secara
bertahap, maka bukan suatu pilihan yang salah jika sektor kelautan dan
perikanan dijadikan andalan pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan.
Untuk mendayagunakan potensi sumber daya kelautan dan perikanan serta
menggerakkan seluruh potensi bangsa diperlukan kesungguhan dalam
pembangunan kelautan dan perikanan serta dukungan politik, ekonomi dan
sosial untuk menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai prime mover
pembangunan ekonomi nasional.

Berkaitan dengan hal itu, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP)


sebagai suatu organisasi dalam melaksanakan kegiatan perlu merumuskan
strategi pembangunan yang tepat yakni pro-poor, pro-job dan pro-growth, agar
tujuan organisasi sebagaimana yang diharapkan dapat tercapai. Disamping itu,
perlu disusun kebijakan dan strategi yang pro bussiness. Ada beberapa aspek
yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun strategi
pembangunan kelautan dan perikanan yang merupakan bagian dari proses
Perencanaan Strategis, yakni modal dasar (yang antara lain meliputi potensi
sumberdaya alam, SDM, IPTEK, dan peraturan perundangan), tantangan dan
masalah yang masih dihadapi hingga saat ini, instrumental input, dan lingkungan
strategis (baik global maupun regional). Semua aspek tersebut selain sebagai
dasar pertimbangan untuk menetapkan strategi, juga untuk menetapkan visi,
dan misi serta kebijakan operasional pembangunan kelautan dan perikanan.

B. Tujuan

Penyusunan Rencana Strategis (RENSTRA) Departemen Kelautan dan


Perikanan Tahun 2005-2009 ini dimaksudkan sebagai acuan dalam
merencanakan dan merumuskan rencana program dan kegiatan pembangunan
kelautan dan perikanan yang akan dilaksanakan Departemen Kelautan dan
Perikanan pada periode 2005–2009. Tujuannya adalah untuk mewujudkan
kondisi yang diinginkan yaitu turut mendorong tercapainya sasaran
pembangunan kelautan dan perikanan yang ditetapkan dalam jangka waktu 5
Tahun ke depan, sekaligus mengantisipasi dinamika dan perkembangan situasi
dan kondisi dalam negeri, lingkungan strategis, dan kecenderungan global yang
berubah dengan cepat.

2
BAB II
KONDISI SAAT INI

A. Keragaan Pembangunan Kelautan dan Perikanan

Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai salah satu institusi


pemerintah bertanggung jawab terhadap pengelolaan dan pengembangan
sektor kelautan dan perikanan. Sejak dibentuknya Departemen Kelautan dan
Perikanan menjelang akhir Tahun 1999 pada masa pemerintahan Presiden
KH.Abudurrahman Wahid, hingga saat ini telah memasuki usia 5 (lima) Tahun.
Pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri yang efektif mulai
bulan Juli 2001, peranan Departemen Kelautan dan Perikanan menjadi semakin
penting sebagai salah satu komponen untuk mewujudkan program normalisasi
kehidupan ekonomi, dan memperkuat dasar bagi kehidupan perekonomian
rakyat, yang merupakan salah satu program kerja Kabinet Gotong Royong pada
periode tersebut.

Arah kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan dalam periode


Tahun 2000-2004 masih mengacu kepada Garis-Garis Besar Haluan Negara
Tahun 1999, Undang-Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program
Pembangunan Nasional (PROPENAS) 2000-2004, Rencana Strategis (RENSTRA)
Departemen Kelautan dan Perikanan Tahun 2001-2004, serta Program Kerja
Kabinet Gotong Royong.

Pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan didasarkan pada


konsepsi pembangunan berkelanjutan yang didukung oleh pengembangan
industri berbasis keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia
dalam mencapai daya saing yang tinggi.

Dalam konteks manajemen suatu organisasi seperti Departemen Kelautan


dan Perikanan, pencapaian hasil (kinerja) terutama dalam periode 2000-2004
diukur dari indikator proses (process indicators) dan indikator luaran (output
indicators). Indikator proses mencakup adanya konsistensi kebijakan dan
program dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Indikator luaran
yang merupakan hasil dari implementasi kebijakan dan program. Indikator
luaran pembangunan kelautan dan perikanan dalam periode Tahun 2000-2004
antara lain sebagai berikut:

1. Lingkungan
Ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil yang sangat berpengaruh
pada tingkat produktivitas sumber daya kelautan dan perikanan, meliputi
ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, padang lamun dan
estuaria, serta ekosistem budidaya laut.

3
Secara umum kondisi ekosistem laut, pesisir dan pulau-pulau kecil
telah mengalami degradasi fisik dengan laju degradasi yang mengancam
keberlanjutan dan kelestarian sumber daya.

Saat ini, kondisi ekosistem terumbu karang dapat digambarkan


sebagai berikut:

a. Luas terumbu karang di perairan Indonesia mencapai lebih dari 60.000


km2. Wilayah Indonesia merupakan lokasi bagi sekitar 1/8 dari terumbu
karang dunia dan merupakan wilayah yang kaya dengan keanekaragaman
biota perairan.
b. Terdapat 300 jenis karang sebagai habitat dari 200 jenis ikan, mollusca,
crustacea, sponge, algae, lamun dan biota lainnya.
c. Kondisi terumbu karang saat ini mencapai kerusakan rata-rata 40%
(sumber: P3O-LIPI) dengan rincian: rusak berat 40,14%, rusak sedang
29,22%, dan baik 6,41-24,23%. Di Indonesia Barat kondisi memuaskan
tinggal 3,93%, di Indonesia Tengah tinggal 7,09%, sedangkan di
Indonesia Timur kondisi memuaskan tinggal 9,80%.
d. Penyebab kerusakan terumbu karang antara lain adalah (i) kegiatan
manusia: penangkapan dengan alat yang merusak dan eksploitasi
berlebih, pencemaran dan sedimentasi, perencanaan kurang tepat,
dampak pembangunan di darat dan (ii) faktor alam: Elnino, La-Nina,
topan, gempa dan banjir
e. Wilayah yang mengalami degradasi oleh pencemaran tinggi antara lain
adalah di Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Sumatera
Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Lampung dan Sulawesi
Selatan.

Sedangkan untuk ekosistem mangrove, kondisi saat ini dapat


digambarkan sebagai berikut:

a. Mangrove merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan di wilayah


pesisir dan laut karena memiliki fungsi proteksi, ekologi, dan ekonomi.
Disamping itu, wilayah mangrove merupakan daerah asuhan (nursery
ground), pemijahan (spawning ground), dan tempat mencari makan
(feeding ground), serta shelter berbagai jenis biota. Potensi lain adalah
sebagai tempat ekowisata.
b. Pada periode 1982-1993, terjadi penurunan luasan mangrove dari 5,21
juta menjadi 2,5 juta ha dan terjadi hampir merata di seluruh wilayah
pesisir.
c. Konversi lahan mangrove menjadi lahan usaha tambak secara besar-
besaran terjadi di provinsi Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan,
Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Timur (delta Mahakam). Demikian

4
pula konversi lahan mangrove menajdi lahan industri terjadi di DKI
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.
d. Terjadinya konflik penggunaan ruang dengan pertanian, permukiman,
pertambangan, perhubungan laut dan pariwisata menyebabkan sebagian
wilayah mangrove tidak dapat dipertahankan.

Untuk ekosistem padang lamun (seagrass), yang merupakan sumber


produktivitas primer pendukung kehidupan biota laut, kondisi saat ini dapat
digambarkan sebagai berikut:

a. Padang lamun merupakan ekosistem penyangga pantai terhadap abrasi


dan erosi, serta sebagai perangkap sedimen dan penstabil dasar laut. Di
Indonesia ditemukan 12 jenis dominan yang termasuk ke dalam 7 marga
dan 2 suku, juga terdapat jenis lamun dalam skala besar dan menutupi
dasar perairan yang luas membentuk suatu padang lamun (seagrass
bed).
b. Penyebaran ekosistem padang lamun di Indonesia mencakup wilayah
perairan Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa
Tengga dan Papua.

2. Sosial
a. Meluasnya Pemerataan

Orientasi pembangunan kelautan dan perikanan 4 (empat) Tahun


terakhir mampu memperluas pemerataan pembangunan dan hasil-
hasilnya melalui distribusi dan alokasi anggaran ke kabupaten/kota untuk
membiayai berbagai kegiatan berbasis masyarakat.

Pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan khususnya di


daerah telah menunjukkan peningkatan dalam pemerataan dan perluasan
cakupan area pembangunan. Pembangunan telah dilaksanakan di
kabupaten/ kota di wilayah pesisir dan kabupaten/kota pedalaman yang
potensial untuk budidaya air tawar, serta secara bertahap di pulau-pulau
kecil.

Cakupan program pemberdayaan ekonomi masyarakat nelayan,


pembudidaya ikan, dan masyarakat pesisir meningkat dari Tahun ke
Tahun mencakup jumlah kabupaten/kota.

Pembangunan kelautan dan perikanan yang berbasis masyarakat


tersebut dilaksanakan di kabupaten/kota melalui :
1) Peningkatan kegiatan ekonomi produktif yang terkait langsung dengan
kehidupan nelayan, pembudidaya ikan dan masyarakat pesisir lainnya,
serta pulau-pulau kecil yang masih miskin, melalui program
pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.

5
2) Pengembangan usaha perikanan tangkap skala kecil.
3) Pengembangan intensifikasi pembudidayaan udang, kerapu, rumput
laut, dan nila.
4) Pemberdayaan perempuan dan generasi muda.
5) Pemberdayaan masyarakat di pulau-pulau kecil dan di wilayah
perbatasan.

b. Meningkatnya Kepedulian Masyarakat

Langkah-langkah sistematis dan terarah dalam pembangunan


kelautan dan perikanan yang ditempuh telah mendorong partisipasi
masyarakat dan menunjukkan peningkatan kepedulian masyarakat luas
(masyarakat nelayan, pembudidaya ikan, dan masyarakat pesisir lainnya,
LSM, perguruan tinggi, media massa, kelompok masyarakat lainnya)
terhadap sektor kelautan dan perikanan.

Kepedulian ini dapat dilihat dari meningkatnya partisipasi masyarakat


dalam berbagai kegiatan departemen serta sumbangan pemikiran untuk
pengembangan sektor kelautan dan perikanan di berbagai media massa
dan kepedulian dalam proses pembangunan secara keseluruhan.

3. Ekonomi

a. Meningkatnya Pertumbuhan

Pembangunan kelautan dan perikanan sejak berdirinya Departemen


Kelautan dan Perikanan sampai Tahun 2003 telah melakukan berbagai
kebijakan dan program yang dilaksanakan mendorong terjadinya
keberlanjutan pertumbuhan pada berbagai bidang sebagai berikut:

Kenaikan
Tahun 2000 Tahun 2004
2000-2004

PDB Perikanan Rp. 30,94 triliun Rp. 55,26 triliun 15,66% per thn
Produksi Hasil 5,1 juta ton 6,8 juta ton 7,42 % per thn
Perikanan
Ekspor Hasil US$ 1,6 miliar US$ 2,1 miliar 7,16% per thn
Perikanan
Konsumsi Ikan 21,57 kg/kapita 23,18 kg/kapita 1,83% per thn
Kesempatan Kerja :
Jumlah nelayan 3,1 juta orang 3,4 juta orang 2,59% per thn
Jumlah pembudidaya ikan 2,1 juta orang 2,4 juta orang 2,97% per thn

Disamping itu, terjadi peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak


(PNBP) dari Rp. 11,7 miliar pada Tahun 2000 menjadi Rp. 615,73 miliar
pada Tahun 2004.
6
Dalam kurun waktu yang sama, juga telah terjadi peningkatan
pendapatan nelayan, pembudidaya ikan dan masyarakat pesisir lainnya
penerima Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP)
dari Rp. 392.569,00 pada Tahun 2000 menjadi Rp. 742.700,00 pada
Tahun 2003.

b. Berkembangnya Sistem Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan


Perikanan

Dalam periode Tahun 2000-2004, telah dikembangkan sistem


pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan, antara lain meliputi:
1) Sistem perijinan usaha
2) Sistem pemberdayaan nelayan, pembudidaya ikan dan masyarakat
pesisir lainnya
3) Sistem penyaluran bahan bakar untuk nelayan
4) Sistem pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan dan
perikanan
5) Sistem karantina ikan nasional
6) Program legislasi nasional
7) Pengembangan riset dan teknologi
8) Dukungan permodalan
9) Penertiban penambangan pasir laut ilegal
10) Pengembangan sarana dan prasarana kelautan dan perikanan
11) Sistem pengelolaan sumber daya laut dan pesisir terpadu

B. Potensi dan Peluang Pengembangan

Sumber daya pesisir dan lautan yang dimiliki oleh Indonesia sangat
beragam baik jenis maupun potensinya. Potensi sumber daya tersebut ada yang
dapat diperbaharui (renewable resources) seperti sumber daya perikanan
(perikanan tangkap dan budidaya), mangrove, terumbu karang, padang lamun,
energi gelombang, pasang surut, angin dan OTEC (Ocean Thermal Energy
Conversion); dan energi yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable
resources) seperti sumber daya minyak dan gas bumi dan berbagai jenis
mineral. Selain dua jenis sumber daya tersebut, juga terdapat berbagai macam
jasa lingkungan kelautan yang dapat dikembangkan untuk pembangunan
kelautan seperti pariwisata bahari, industri maritim, jasa angkutan, dan
sebagainya. Pada bagian berikut secara singkat dipaparkan gambaran potensi
sumber daya tersebut, khususnya sumber daya yang dapat diperbaharui, yang
mencakup perikanan tangkap dan jasa lingkungan laut, budidaya, baik budidaya
laut, air payau, kolam air tawar dan karamba penangkapan di perairan umum,
terumbu karang, serta sedikit paparan tentang potensi sumber daya yang non
renewable.

7
1. Potensi Pembangunan Kelautan dan Perikanan

Laut Indonesia memiliki luas lebih kurang 5,8 juta km2 dengan garis
pantai sepanjang 81.000 km, dengan potensi sumber daya, terutama sumber
daya perikanan laut yang cukup besar, baik dari segi kuantitas maupun
diversitas.

Potensi lestari sumber daya ikan laut Indonesia diperkirakan sebesar


6,4 juta ton per Tahun yang tersebar di perairan wilayah Indonesia dan
perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), yang terbagi dalam
sembilan wilayah perairan utama Indonesia, yakni Wilayah Pengelolaan
Perikanan (WPP).

Dari seluruh potensi sumber daya ikan tersebut, jumlah tangkapan


yang diperbolehkan (JTB) sebesar 5,12 juta ton per Tahun atau sekitar 80
persen dari potensi lestari, dan baru dimanfaatkan sebesar 4,5 juta ton pada
Tahun 2004 atau baru 87,89% dari JTB. Sedangkan dari sisi diversivitas,
dari sekitar 28.400 jenis ikan yang ada di dunia, yang ditemukan di perairan
Indonesia lebih dari 25.000 jenis.

Di samping itu terdapat potensi pengembangan untuk:


a. perikanan tangkap di perairan umum seluas 54 juta ha dengan potensi
produksi 0,9 juta ton/tahun;
b. budidaya laut terdiri dari budidaya ikan (antara lain kakap, kerapu, dan
gobia), budidaya moluska (kerang-kerangan, mutiara, dan teripang), dan
budidaya rumput laut;
c. budidaya air payau (tambak) yang potensi lahan pengembangannya
mencapai sekitar 913.000 ha;
d. budidaya air tawar terdiri dari perairan umum (danau, waduk, sungai, dan
rawa), kolam air tawar, dan mina padi di sawah; serta
e. bioteknologi kelautan untuk pengembangan industri bioteknologi kelautan
seperti industri bahan baku untuk makanan, industri bahan pakan alami,
benih ikan dan udang, industri bahan pangan.

Peluang pengembangan usaha perikanan dan kelautan Indonesia


masih memiliki prospek yang baik. Potensi ekonomi sumber daya kelautan
dan perikanan yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong pemulihan
ekonomi diperkirakan sebesar US$ 82 miliar per tahun, dengan rincian:
a. potensi perikanan tangkap sebesar US$ 15,1 miliar per tahun;
b. potensi budidaya laut sebesar US$ 46,7 miliar per tahun;
c. potensi peraian umum sebesar US$ 1,1 miliar per tahun;
d. potensi budidaya tambak sebesar US$ 10 miliar per tahun;
e. potensi budidaya air tawar sebesar US$ 5,2 miliar per tahun; dan
f. potensi bioteknologi kelautan sebesar US$ 4 miliar per tahun.

Potensi dan peluang pengembangan sektor kelautan dan perikanan


meliputi:
a. perikanan tangkap;
b. perikanan budidaya;
8
c. industri pengolahan hasil perikanan;
d. industri bioteknologi kelautan dan perikanan;
e. pengembangan pulau-pulau kecil;
f. pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam;
g. deep sea water;
h. industri garam rakyat;
i. pengelolaan pasir laut;
j. industri penunjang;
k. pengembangan kawasan industri perikanan terpadu; dan
l. keanekaragaman hayati laut.

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumber daya kelautan


dan perikanan dan menjadikan sektor ini sebagai prime mover pembangunan
ekonomi nasional, diperlukan upaya percepatan dan terobosan dalam
pembangunan kelautan dan perikanan yang didukung dengan kebijakan
politik dan ekonomi serta iklim sosial yang kondusif. Dalam kaitan ini,
koordinasi dan dukungan lintas sektor serta stakeholder lainnya menjadi
salah satu prasyarat yang sangat penting.

Disamping adanya potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang


besar, terdapat pula:

a. potensi kelembagaan, seperti peranan Komisi Tuna, Komisi Udang,


Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN), Gabungan Pengusaha Perikanan
Indonesia (Gappindo), Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI),
Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin), LSM bidang kelautan dan perikanan,
dll., yang ke depan perlu terus disinergikan.

b. potensi sarana prasarana yang telah dimiliki, seperti layanan unit


karantina ikan, balai pengembangan, balai riset, balai/loka budidaya,
sekolah perikanan, dll.

c. potensi daerah yang telah menyusun Renstrada (Rencana Strategis


Daerah) dibidang kelautan dan perikanan.

2. Pasar Ekspor

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dunia, permintaan


terhadap produk-produk kelautan dan perikanan di pasar dunia diperkirakan
akan terus mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor,
yakni:

a. Meningkatnya kesadaran manusia terhadap produk perikanan sebagai


makanan yang sehat untuk dikonsumsi karena mengandung nilai gizi
yang tinggi, rendah kolesterol dan mengandung asam lemak tak jenuh,
omega 3 yang dapat meningkatkan kecerdasan.

9
b. Dampak consumption mass dari globalisasi yang menuntut produk
pangan yang dapat diterima secara internasional (food become more
international), tanpa memperhatikan umur, kewarganegaraan dan agama.
Komoditas ikan merupakan jenis produk pangan yang memenuhi syarat
tersebut.
c. Semakin berkembangnya industri farmasi, kosmetika dan makanan serta
minuman yang sebagian besar bahan produksinya berasal dari biota
perairan.

Secara umum perdagangan hasil perikanan dunia terus mengalami


peningkatan rata-rata sebesar 8,50% sepanjang Tahun 1990-an dengan nilai
sekitar US$ 10,37 miliar. Laju pertumbuhan produksi dunia masih didominasi
oleh perikanan tangkap, sekitar 80%, namun menunjukan pertumbuhan
yang mendatar, yakni 1,7% per tahun. Hal ini membuka peluang bagi
peningkatan produksi perikanan budidaya, khususnya budidaya laut.

Negara-negara tujuan ekspor dunia, khususnya Indonesia masih


didominasi Jepang (25%), Singapura (13%), USA (11%), Hongkong (7%),
RRC (4%), dan Thailand (4%).

3. Pasar Dalam Negeri

Produk perikanan di pasar dalam negeri (domestik) berguna untuk


menyediakan kebutuhan pangan berupa protein hewani dimana sekitar 60-
65% kebutuhan protein hewani bersumber dari produk perikanan. Di
samping itu, produk perikanan di dalam negeri berfungsi pula sebagai bahan
baku industri pengolahan tepung ikan, kosmetika, obat-obatan, probiotik dan
bioaktif.

Pasar domestik memiliki potensi yang besar untuk menyerap hasil


perikanan nasional. Hal ini dapat diperkirakan dengan jumlah penduduk
Indonesia yang mencapai sekitar 217 juta pada Tahun 2004. Bila tingkat
konsumsi ikan penduduk Indonesia per kapita pada Tahun 2004 mencapai
23,18 kg/kapita, maka jumlah produk perikanan yang diserap di pasar
nasional mencapai 5,3 juta ton pada tahun tersebut. Jumlah tersebut masih
berasal dari kebutuhan pangan saja, belum termasuk kebutuhan bahan baku
industri.

C. Permasalahan Yang Dihadapi

Walaupun berbagai hasil telah dicapai dalam periode Tahun 2000-2004,


namun masih terdapat permasalahan yang dihadap yaitu:

10
1. Masalah internal bidang kelautan dan perikanan:
a. Sebagian besar masih merupakan nelayan tradisional dan struktur
armada perikanan didominasi skala kecil;
b. Ketimpangan pemanfaatan stok ikan antar wilayah maupun antar spesies;
c. Terjadinya praktek illegal fishing;
d. Pengembangan perikanan budidaya belum optimal;
e. Belum optimalnya pemanfaatan pulau-pulau kecil;
f. Kerusakan ekosistem pesisir dan laut di beberapa kawasan;
g. Belum optimalnya pengelolaan konservasi laut dan perairan umum;
h. Belum optimalnya pengelolaan potensi kelautan non konvensional.

2. Masalah eksternal yang mempengaruhi kelautan dan perikanan:


a. Rendahnya kesadaran bangsa tentang arti penting dan nilai strategis
sumber daya kelautan dan perikanan bagi pembangunan ekonomi
nasional (kemakmuran bangsa), sehingga perhatian, pengetahuan
(wawasan) dan penguasaan serta penerapan IPTEK kelautan dan
perikanan juga menjadi rendah;
b. Belum adanya dukungan permodalan yang memadai;
c. Kebijakan moneter, fiskal dan investasi belum kondusif;
d. Tata ruang dan pengendalian pencemaran belum kondusif;
e. Keamanan dan kepastian hukum dalam berusaha;
f. Penegakan hukum (Law Enforcement) masih lemah.

Namun demikian, permasalahan tersebut di atas terus menerus


diupayakan pemecahannya bersama-sama dengan instansi sektor terkait lain
dan para stakeholders.

D. Lingkungan Strategis

1. Faktor Lingkungan Strategis

a. Faktor Lingkungan Internasional

Memasuki abad ke-21, Indonesia dihadapkan pada tantangan


internasional sehubungan dengan mulai diterapkannya pasar bebas, mulai
dari AFTA (pasar bebas ASEAN) hingga APEC (pasar bebas Asia Pasifik).
Seiring dengan itu, terjadi berbagai perkembangan lingkungan strategis
internasional, antara lain:
(1) proses globalisasi;
(2) regionalisasi blok perdagangan;

11
(3) isu politik perdagangan yang menciptakan non-tariff barier;
(4) isu tarifikasi dan tariff escalation bagi produk agroindustri; dan
(5) perkembangan kelembagaan perdagangan internasional.

Esensi dari pengaruh lingkungan strategis internasional adalah


terbukanya peluang pasar untuk ekspor dan sekaligus tantangan untuk
bersaing baik di dalam negeri maupun di pasar internasional. Dengan
demikian strategi untuk menghadapi peluang dan tantangan tersebut
adalah meningkatkan keunggulan berdaya saing.

Keunggulan bersaing yang dimiliki suatu negara dalam era


perdagangan bebas tidak dapat hanya mengandalkan keunggulan potensi
sumber daya saja sebagai keunggulan komparatif. Menguatnya globalisasi
ekonomi dunia (produksi dan konsumsi) yang menyertai liberalisasi
perdagangan, memungkinkan negara lain memanfaatkan melimpahnya
sumber daya melalui perusahaan global, aliansi strategis dan perusahaan
multinasional. Dengan demikian peran keunggulan sumber daya
(keunggulan komparatif) suatu negara akan semakin kabur, meskipun
demikian keunggulan komparatif ini dapat memberikan kontribusi pada
keunggulan bersaing.

Faktor-faktor yang menjadi tulang punggung kemampuan daya


saing adalah:
(1) inovasi teknologi dalam sistem produksi, sehingga biaya produksi
menjadi efisien;
(2) inovasi teknologi dalam penanganan pasca panen, sehingga sesuai
dengan tuntutan konsumen, baik dalam bentuk (form) maupun
dalam selera (taste);
(3) inovasi manajemen dalam sistem agribisnis, sehingga mampu
mengakumulasi efisiensi yang dicerminkan dalam keunggulan
bersaing;
(4) sistem pendukung yang akomodatif, berupa pembangunan
infrastruktur, perbankan dan kebijakan pemerintah; dan
(5) Sumber Daya Manusia yang berkualitas.

Globalisasi perekonomian dunia yang semakin kompleks dan


kompetitif tersebut menuntut tingkat efisiensi yang tinggi. Pergerakan ke
arah tingkat efisiensi ini menuntut penggunaan teknologi tinggi yang
semakin intensif yang harus tetap memperhatikan asas-asas kelestarian
lingkungan, serta kemampuan manajerial dan profesionalisme yang
semakin meningkat pula. Dampak lain dari kondisi tersebut adalah
persaingan yang ketat dalam kualitas produk termasuk produk dan jasa
dari sektor kelautan dan perikanan.

12
Terdapat dua aspek globalisasi yang terkait dengan sektor kelautan
dan perikanan, yaitu:

(1) Aspek ekologi, terdapat berbagai kaidah internasional dalam


pengelolaan sumber daya perikanan (fisheries management),
seperti:

(a) Code of Conduct for Responsible Fisheries yang dikeluarkan FAO


(1995). Aturan ini menuntut adanya praktek pemanfaatan
sumber daya perikanan secara berkelanjutan, dimana setiap
negara dituntut untuk memenuhi kaidah-kaidah tersebut.
Kaidah-kaidah tersebut selanjutnya dijabarkan di tingkat
regional melalui organisasi/komisi-komisi regional (Regional
Fisheries Management Organizations-RFMOs) seperti IOTC
(Indian Ocean Tuna Comission) yang mengatur penangkapan
tuna di perairan India, CCSBT, dll.

(b) Committee on Fisheries FAO telah menyepakati tentang


International Plan of Action on Illegal, Unreported and
Unregulated (IUU) Fishing yang mengatur mengenai: praktek
ilegal seperti pencurian ikan, praktek perikanan yang tidak
dilaporkan atau laporannya salah, atau laporannya di bawah
standar, dan praktek perikanan yang tidak diatur sehingga
mengancam kelestarian stok ikan global.

(2) Aspek ekonomi, liberalisasi perdagangan merupakan ciri utama


globalisasi. Konsekuensinya adalah ketatnya persaingan produk-
produk perikanan pada masa datang. Oleh karenanya produk-produk
perikanan akan sangat ditentukan oleh berbagai kriteria, seperti:
(a) produk tersedia secara teratur dan berkesinambungan,
(b) produk harus memiliki kualitas yang baik dan seragam, dan
(c) produk dapat disediakan secara masal.

Selain itu, produk-produk perikanan harus dapat pula mengantisipasi


dan mensiasati segenap isu perdagangan internasional, termasuk: isu
kualitas (ISO 9000), isu lingkungan (ISO 14000), isu property right, isu
responsible fisheries, precauteonary approach, isu hak asasi manusia
(HAM), dan isu ketenagakerjaan. Akan halnya ISO 14000, mensyaratkan
bahwa produk sektor perikanan harus dihasilkan dari suatu proses produksi
yang berwawasan lingkungan, yaitu:
(1) proses produksi tidak merusak tatanan, fungsi dan proses ekologis;
dan
(2) proses produksi tidak membahayakan pelaku produksi dan kesehatan
atau jiwa konsumen.

13
Selain itu, telah disepakati pula beberapa standar internasional,
misalnya mengenai SPS (Sanitary and Phytosabitary) yang bersifat
multidimensi. Kriteria kualitas SPS mencakup keamanan pangan (Food
Safety Attributes), kandungan gizi (Nutrition Attributes). Oleh karena itu
standarisasi produk dan proses perlu segera dikembangkan.

Pengaruh globalisasi yang lainnya, terutama di bidang pembinaan


sumber daya manusia kelautan yang harus berstandar training,
Certification and Watchkeeping for Fishing Vessel Personnels (STCW-F
95). STCW-F 95 merupakan peraturan internasional dari IMO yang
mengatur standar pelatihan, sertifikasi dan jaga laut khusus untuk
personil kapal penangkap ikan, sehingga Indonesia perlu melakukan
upaya-upaya dalam rangka menuju pencapaian standar sumber daya
manusia kelautan internasional.

b. Perkembangan Isu Domestik

Kewenangan pelaksanaan pembangunan nasional termasuk


pengimplementasian pembangunan berkelanjutan serta penciptaan
keunggulan bersaing, sebagian besar telah dilimpahkan kepada
Pemerintah Daerah, melalui instrumen Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33
Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Daerah.

Penyelenggaraan Otonomi Daerah merupakan jawaban dari


kebutuhan untuk lebih menekankan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta
masyarakat, pemerataan dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan
keanekaragaman daerah dalam pengelolaan kehidupan berbangsa dan
bernegara. Mengacu hal-hal tersebut, dan seiring dengan perkembangan
yang terjadi, baik di dalam maupun di luar negeri, Otonomi Daerah
memberikan kewenangan yang luas, nyata, dan bertanggung jawab
kepada daerah secara proporsional, yang diwujudkan dengan pengaturan
dan pembagian wewenang serta perimbangan keuangan pusat dan
daerah, yang dilaksanakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah


telah menempatkan pemerintah daerah sebagai pelayan utama dalam
rangka membangun kesejahteraan masyarakat, yang berkeadilan,
demokratis, aspiratif, serta memiliki keunggulan bersaing. Untuk itu,
Pemerintah Daerah diberi kewenangan yang cukup luas, yakni
kewenangan seluruh bidang pemerintahan kecuali kewenangan dalam
bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter, dan
fiskal, agama serta kewenangan bidang lain. Untuk menjalankan
kewenangan di atas, Pemerintah Daerah dalam menjalankan tugas
desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan
pembiayaan, sarana dan prasarana serta sumber daya manusia sesuai
dengan kewenangan yang diserahkan tersebut.
14
Begitu juga kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan kepada
Gubernur dalam rangka dekonsentrasi harus disertai dengan pembiayaan
sesuai dengan kewenangan yang dilimpahkan. Dengan demikian arah dari
pembangunan daerah merupakan resultante dari perkembangan
paradigma pembangunan berkelanjutan, perkembangan arah global,
kecenderungan integrasi ekonomi dan perubahan isu domestik.

Arah pembangunan daerah adalah menjadikan pemerintah daerah


sebagai pelayan utama untuk mensejahterakan masyarakat dengan
mengakomodasikan arah perkembangan paradigma pembangunan
berkelanjutan, keunggulan bersaing dan isu demokratisasi, berkeadilan
dan aspiratif dan partisipasi masyarakat.

Dalam implementasinya, Otonomi Daerah membawa sejumlah


implikasi terhadap aktivitas pemanfaatan sumber daya perikanan, yaitu:
(1) sudah seharusnya daerah mengetahui potensi perikanan serta batas-
batas wilayahnya sebagai dasar untuk meregulasi pengelolaan
sumber daya, seperti penentuan jenis dan tipe kegiatan perikanan
yang sesuai di daerahnya.
(2) daerah dituntut bertanggung jawab atas kelestarian sumber daya
perikanan dan kelautan di daerahnya itu.
(3) semakin terbuka peluang bagi masyarakat lokal, utamanya nelayan
untuk terlibat dalam proses pengelolaan sumber daya.

2. Strategi Pembangunan Untuk Abad 21

Pembangunan ekonomi pada abad 21 menempatkan masyarakat


sebagai subyek yang memiliki kapasitas untuk bersaing dan
mengakomodasikan tuntutan pasar global. Upaya yang dapat dilakukan
adalah pemberdayaan masyarakat menuju pada kemandirian sedangkan
pemerintah hanya bersifat fasilitator.

Tiga hal pokok yang akan dilakukan tentang arah pembangunan


ekonomi ke depan, yaitu:
a. membangun perekonomian yang berkeunggulan kompetitif (competitive
advantage) berdasarkan keunggulan komparatif (comparative
advantage),
b. menggambarkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada
mekanisme pasar yang berkeadilan,
c. mempercepat pembangunan ekonomi daerah yang efektif dan kuat
dengan memberdayakan pelaku dan potensi ekonomi daerah.

Dalam konteks pola pembangunan tersebut terdapat tiga fase yang


dilalui dalam mentransformasi keunggulan komparatif menjadi keunggulan
bersaing, yaitu:

15
a. fase pembangunan yang digerakkan oleh kelimpahan sumber daya alam
(resource driven),

Fase ini adalah identik dengan pembangunan berbasis sumber daya


kelautan dan perikanan yang bercirikan peningkatan produksi melalui
intensifikasi, sub sistem hulu-hilir belum berkembang dan produk akhir
didominasi produk primer atau produk yang bersifat natural resources
based and unskill labour intensive. Karenanya pembangunan pada fase ini
merupakan perekonomian yang berbasis pada sumber daya kelautan dan
perikanan.
b. fase pembangunan yang digerakkan oleh investasi (investment driven)

Pembangunan sistem usaha kelautan dan perikanan adalah digerakkan


oleh investasi yang berimbang dari hulu sampai hilir dan sub sistem
penunjangnya. Produk akhir fase ini bersifat olahan atau bersifat capital
and skill labour intensive. Dan perekonomian pada fase kedua ini
merupakan perekonomian berbasis industri.
c. fase ketiga adalah pembangunan yang digerakkan oleh inovasi (inovation
driven)

Sistem usaha kelautan dan perikanan yang digerakkan oleh innovation


driven, dicirikan oleh menonjolnya kegiatan riset dan pengembangan.
Pada sub sistem hilir digerakkan oleh inovasi-inovasi dalam teknologi
proses, teknologi produk, teknologi kemasan. Produk akhir dari sistem
usaha kelautan dan perikanan akan didominasi oleh produk-produk yang
bersifat technology intensive and knowledge based. Perekonomian pada
fase merupakan perekonomian berbasis teknologi.

Keberlanjutan dari sistem usaha kelautan dan perikanan merupakan


upaya untuk senantiasa mengimplementasikan dimensi keberlanjutan, antara
lain memelihara kelestarian sistem penunjang kehidupan,
mengakomodasikan aspek keadilan dan pemerataan, pemberdayaan
kelembagaan (empowering), dan mengakomodasikan prinsip efisiensi dan
keadilan alokasi sumber daya alam pada seluruh fase pembangunan.

Dengan demikian arah jangka panjang dari pembangunan kelautan


dan perikanan adalah diarahkan untuk mentransformasikan dari fase
pertama ke fase ketiga dengan tetap mengintegrasikan prinsip-prinsip
keberlanjutan dan melibatkan masyarakat, sehingga memiliki daya saing
tinggi pada pasar global.

16
BAB III
KONDISI YANG DIINGINKAN

Rencana Strategis Pembangunan Departemen Kelautan dan Perikanan


dihasilkan melalui penyerasian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) Tahun 2004-2009, Visi, Misi Departemen Kelautan dan Perikanan dan
Renstra sebelumnya. Program disusun berdasarkan usulan dari unit kerja, yang
selanjutnya disusun berdasarkan bidang kewenangan, sesuai dengan tugas pokok
dan fungsi. Setiap unit kerja dituntut kinerjanya sesuai dengan format AKIP-LAKIP,
untuk dipertanggungjawabkan kepada publik. Indikator makro merupakan
pengerucutan dan interaksi berbagai kinerja unit kerja, sehingga indikator makro
adalah pencapaian sasaran strategis.

A. Lingkungan

Dalam periode lima Tahun ke depan, kondisi lingkungan yang diinginkan


sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan adalah sebagai berikut:
1. Terwujudnya masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil yang mampu
mengelola sumber daya di wilayahnya secara bertanggung-jawab
2. Terwujudnya lingkungan pesisir dan laut yang bersih dan sehat sehingga
dapat menjamin produktivitas sumber daya perikanan serta keanekaragaman
hayati laut.
3. Sumber daya kelautan non-konvensional yang dapat memberikan manfaat
dan dapat diperhitungkan sebagai kontribusi dalam pembangunan ekonomi
nasional.
4. Terwujudnya ketertiban dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan
perikanan melalui upaya (a) pembentukan kelembagaan pengawasan yang
mandiri, (b) pemenuhan sarana dan prasarana pengawasan dan tenaga
pengawas, (c) pengembangan teknologi pengawasan, (d) peningkatan
partisipasi dan peran masyarakat dalam pengawasan, (e) penaatan dan
penegakan hukum.

B. Sosial

Jangkauan program pengentasan kemiskinan dalam lima Tahun kedepan,


ditargetkan sebesar 18% dari populasi masyarakat pesisir, dengan tahapan
sebagai berikut:

17
SASARAN JANGKAUAN PROGRAM PEMBERDAYAAN, 2005-2009

Uraian 2005 2006 2007 2008 2009 Kenaikan

(%/thn)

Jangkauan Program 7,5 10,00 14,00 16,00 18,00 25,03


Pengentasan
Kemiskinan
(% populasi masyarakat
pesisir)

C. Ekonomi

Indikator makro untuk pembangunan kelautan dan perikanan yang akan


dicapai oleh Departemen Kelautan dan Perikanan pada periode Tahun 2005-
2009 adalah sebagai berikut:

INDIKATOR MAKRO PEMBANGUNAN KELAUTAN DAN PERIKANAN, 2005-2009

No. Uraian 2005 2006 2007 2008 2009 Kenaikan


(%/thn)

1. Produksi Perikanan 7.218.010 7.727.730 8.297.480 8.979.060 9.708.840 7,69


(ton) :

 Perikanan Tangkap 4.970.010 5.101.930 5.209.480 5.331.560 5.438.840 2,28

 Perikanan Budidaya 2.248.000 2.625.800 3.088.000 3.647.500 4.270.000 17,40

2. Ekspor Hasil 3.000.000 3.200.000 3.800.000 4.500.000 5.000.000 13,74


Perikanan

(US 1.000)

3. Konsumsi Ikan 25,00 26,00 29,00 31,60 32,29 6,67

(kg/kapita/Tahun)

4. Penyediaan 6.937.760 7.735.030 8.446.960 9.276.510 10.238.720 10,22


kesempatan kerja
kumulatif (orang)

 Perikanan Tangkap 3.561.860 3.741.900 3.746.510 3.750.170 3.754.370 1,35

 Perikanan Budidaya 3.375.900 3.993.130 4.700.450 5.526.340 6.484.350 17,73

5 Kontribusi terhadap 2,50 3,10 3,80 4,40 5,10 19,57


PDB Nasional (%)

(tidak termasuk
pengolahan)

18
BAB IV
TUGAS POKOK DAN FUNGSI

Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai suatu organisasi pemerintah


yang bertanggung jawab melaksanakan sebagian tugas pemerintahan di bidang
kelautan dan perikanan diharapkan mampu turut mewujudkan visi dan misi
pembangunan nasional sebagaimana digariskan dalam RPJMN 2004-2009. Arah
kebijakan RPJMN 2004-2009 yang terkait dengan kegiatan pembangunan kelautan
dan perikanan sebagaimana diuraikan diatas, merupakan acuan dasar dalam
menyusun Rencana Strategis (RENSTRA) Departemen Kelautan dan Perikanan.

RENSTRA adalah suatu proses yang berorientasi pada hasil yang ingin
dicapai selama kurun waktu 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) Tahun dengan
memperhitungkan potensi, peluang, dan permasalahan yang ada atau mungkin
timbul. Penyusunan renstra ini diikuti dengan penyusunan Rencana Kerja
Kementerian/Lembaga (Renja-KL) yang merupakan rencana tindak yang akan
dilaksanakan setiap Tahun selama lima Tahun berlangsungnya program
pembangunan. Berkaitan dengan hal itu, untuk melaksanakan program-program
pembangunan kelautan dan perikanan yang tertuang dalam RENSTRA, Departemen
Kelautan dan Perikanan mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagaimana diatur
dalam Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,
Susunan Organisasi, dan tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia,
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun
2005.

Tugas pokok Departemen Kelautan dan Perikanan adalah membantu


Presiden dalam menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang
kelautan dan perikanan. Adapun fungsinya adalah melakukan:
1. Perumusan kebijakan nasional, kebijakan pelaksanaan, dan kebijakan teknis di
bidang kelautan dan perikanan;
2. Pelaksanaan urusan pemerintahan sesuai dengan bidang tugasnya;
3. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggungjawabnya;
4. Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya;
5. Penyampaian laporan hasil evaluasi, saran, dan pertimbangan di bidang tugas
dan fungsinya kepada Presiden.

Dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi tersebut, susunan


organisasi Departemen Kelautan dan Perikanan sebagaimana diatur dalam
Peraturan Presiden No. 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I
Kementerian Negara Republik Indonesia, adalah sebagai berikut:

1. Sekretariat Jenderal
Melaksanakan koordinasi pelaksanaan tugas serta pembinaan dan pemberian
dukungan administrasi Departemen.

19
2. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap
Merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang
perikanan tangkap.

3. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya


Merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang
perikanan budidaya.

4. Direktorat Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya


Kelautan dan Perikanan
Merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang
pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan dan perikanan.

5. Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil


Merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang
eksplorasi dan tata pemanfaatan kelautan, pesisir, dan pulau-pulau kecil.

6. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan


Merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang
pengolahan dan pemasaran hasil perikanan.

7. Inspektorat Jenderal
Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas di lingkungan
Departemen.

8. Badan Riset Kelautan dan Perikanan


Melaksanakan riset di bidang kelautan dan perikanan

9. Staf Ahli
Memberikan telaahan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan mengenai
masalah tertentu sesuai bidang keahliannya, yang tidak menjadi bidang tugas
Sekretariat jenderal, Direktorat Jenderal, Badan, dan Inspektorat Jenderal.

20
BAB – V
KEBIJAKAN DAN PROGRAM

A. Visi dan Misi Pembangunan Kelautan dan Perikanan

Dalam pembangunan kelautan dan perikanan, keseimbangan antara


pemanfaatan dan kelestarian sumber daya menjadi pertimbangan utama dan
harus diupayakan secara konsisten. Kekayaan sumber daya kelautan dan
perikanan tidak saja dimanfaatkan untuk masyarakat saat ini, tetapi juga untuk
generasi yang akan datang.

Oleh karena itu, visi pembangunan kelautan dan perikanan adalah:


”PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN YANG
LESTARI DAN BERTANGGUNGJAWAB BAGI KESATUAN DAN
KESEJAHTERAAN ANAK BANGSA”.

Masyarakat nelayan, pembudidaya ikan, serta masyarakat kelautan dan


perikanan lainnya merupakan pelaku utama pembangunan kelautan dan
perikanan. Oleh karena itu masyarakat adalah subyek dan sekaligus obyek
pembangunan yang berkelanjutan, yang diarahkan pada keharmonisan antara
kesejahteraan/pemerataan (equity), pertumbuhan (growth), dan berkelanjutan
daya dukung lingkungan (environmental sustainability).

Untuk itu, misi pembangunan kelautan dan perikanan adalah:


1. Meningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan, pembudidaya ikan dan
pelaku usaha kelautan dan perikanan lainnya.
2. Meningkatan peran sektor kelautan dan perikanan sebagai sumber
pertumbuhan ekonomi.
3. Memelihara daya dukung dan meningkatkan kualitas lingkungan sumber daya
kelautan dan perikanan.
4. Meningkatkan kecerdasan dan kesehatan bangsa melalui peningkatan
konsumsi ikan.
5. Meningkatkan peran laut sebagai pemersatu bangsa dan memperkuat
budaya bahari bangsa.

B. Tujuan dan Sasaran

Tujuan pembangunan kelautan dan perikanan dalam kerangka pembangunan


jangka menengah adalah:
1. Terwujudnya kesejahteraan bangsa Indonesia melalui peningkatkan
pendapatan nelayan, pembudidaya ikan, serta pelaku usaha kelautan dan
perikanan lainnya.

21
2. Meningkatnya peran sektor kelautan dan perikanan dalam perekonomian
nasional.
3. Terwujudnya kondisi lingkungan sumber daya kelautan dan perikanan yang
berkualitas dan terciptanya kelestarian daya dukung.
4. Meningkatnya konsumsi ikan masyakarat.
5. Meningkatnya peran laut sebagai pemersatu bangsa dan menguatnya
budidaya bahari bangsa.

Sasaran pembangunan kelautan dan perikanan adalah :

1. Meningkatnya usaha dan kualitas sumberdaya manusia kelompok sasaran


program
2. Meningkatnya kontribusi sektor kelautan dan perikanan dalam perekonomian
nasional
3. Menurunnya tingkat kerusakan dan tingkat pelanggaran pemanfaatan
sumberdaya kelautan dan perikanan.
4. Meningkatnya tingkat konsumsi ikan masyarakat.
5. Terciptanya kesadaran masyarakat bahwa laut sebagai pemersatu bangsa
dan peningkatan budaya bahari pada masyarakat.

Penjabaran dari sasaran yang hendak dicapai dalam pembangunan kelautan


dan perikanan terwujud dari indikator makro pada tahun 2009, yaitu:

1) Meningkatnya pendapatan rata-rata kelompok sasaran program menjadi


sebesar Rp 1,5 juta per bulan;
2) Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan 75.000 orang dalam 5 tahun
dan 7.500 orang aparatur;
3) Kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 5,1 %;
4) Produksi perikanan sebesar 9,7 juta ton;
5) Nilai ekspor hasil perikanan sebesar US$ 5,0 miliar;
6) Konsumsi ikan sebesar 32,3 kg/kapita /tahun;
7) Penyediaan kesempatan kerja kumulatif sebanyak 10,2 juta jiwa:
a. Perikanan Tangkap : 3,7 juta orang;
b. Perikanan Budidaya : 6,5 juta orang;
8) Jangkauan program pengentasan kemisikinan sebesar 18% dari populasi
masyarakat pesisir (21 juta orang).

22
C. Dasar Kebijakan

Sebagai bagian integral dari pembangunan nasional, dasar kebijakan


pembangunan kelautan dan perikanan adalah:

1. Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional
2. Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
3. Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009

Berdasarkan visi, misi dan strategi pembangunan nasional dalam Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Nasional (R-PJMN) Tahun 2004-2009, rencana
strategis pembangunan kelautan dan perikanan disusun mengacu kepada
agenda pembangunan nasional Kabinet Indonesia Bersatu yakni:

Agenda ke-1 : Mewujudkan Indonesia Yang Aman dan Damai,


Agenda ke-2 : Mewujudkan Indonesia Yang Adil dan Demokratis,
Agenda ke-3 : Mewujudkan Indonesia Yang Lebih Sejahtera.

Pelaksanaan ketiga agenda pembangunan nasional tersebut di atas


didasarkan pada 3 pilar strategi pembangunan, yakni pro-poor, pro-job dan pro-
growth yang dijabarkan lebih lanjut dalam suatu rumusan strategi pembangunan
yang tepat.

Dalam hal ini, Departemen Kelautan dan Perikanan terkait dengan


Agenda ke-1 dan Agenda ke-3, yang selanjutnya dirumuskan dalam kebijakan
dan berbagai program pembangunan kelautan tahun 2005-2009.

D. Strategi dan Kebijakan

Dalam melaksanakan agenda pembangunan nasional dan mewujudkan


tercapainya tujuan serta sasaran pembangunan kelautan dan perikanan, strategi
pembangunan yang ditempuh adalah:

1. Pembangunan kelautan dan perikanan dilaksanakan dengan transparansi dan


akuntabilitas tinggi dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang bersih
dan berwibawa atau good governance dan clean government, yang tercermin
dalam berbagai bentuk pelayanan publik dan pelaksanaan program, untuk
mencapai sasaran strategis jangka menengah.

2. Potensi kelautan dan perikanan diperuntukkan bagi sebesar-besarnya


kesejahteraan rakyat, yang direfleksikan ke dalam berbagai regulasi yang
berpihak kepada bangsa sendiri dan diarahkan untuk dapat mengentaskan
kemiskinan (pro-poor), menyerap tenaga kerja (pro-job) dan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi (pro-growth).

23
3. Pembangunan kelautan dan perikanan dilaksanakan dengan memperhatikan
prinsip-prinsip keadilan dan pemerataan antar wilayah, mengurangi
ketertinggalan dan kesenjangan serta prioritas pengembangan pulau-pulau
kecil terluar sebagai bagian penting kedaulatan NKRI.

Kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan dalam rangka mengelola


dan memanfaatkan sumberdaya kelautan dan perikanan, meliputi:

1. Mengembangkan kapasitas skala usaha nelayan, pembudidaya ikan dan


pelaku usaha kelautan dan perikanan lainnya.
2. Mengembangkan perikanan budidaya yang berdaya saing dan berwawasan
lingkungan.
3. Memperkuat dan mengembangkan usaha perikanan tangkap nasional secara
efisien, lestari, dan berbasis kerakyatan.
4. Mengembangkan dan memperkokoh industri penanganan dan pengolahan
serta pemasaran hasil.
5. Membangun pulau-pulau kecil secara berkelanjutan dan berbasis masyarakat.
6. Meningkatkan rehabilitasi dan konservasi sumber daya kelautan dan
perikanan, beserta ekosistemnya.
7. Memperkuat pengawasan dan pengendalian pemanfaatan sumber daya
kelautan dan perikanan.
8. Meningkatkan upaya penanggulangan illegal fishing
9. Mengembangkan pendidikan, pelatihan dan penyuluhan.
10. Memperkokoh riset dan iptek kelautan dan perikanan.

E. Program

Untuk mencapai sasaran sesuai dengan strategi dan kebijakan yang telah
dirumuskan maka program-program pembanguan kelautan dan perikanan tahun
2005-2009 secara garis besar sebagai berikut:

1. Program Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Pelaku Usaha


Kelautan dan Perikanan Lainnya
Tujuan program adalah meningkatkan pendapatan nelayan, pembudidaya
ikan, dan pelaku usaha kelautan dan perikanan lainnya. Sasaran program
adalah meningkatnya usaha dan kualitas sumber daya manusia kelompok
sasaran program.
Program ini juga meliputi penyediaan kredit untuk usaha skala kecil, mikro
dan menengah, peningkatan kemampuan usaha kecil mulai dari produksi,
pengolahan sampai pemasaran, penyediaan bantuan langsung sarana dan
prasarana dasar dan penjaminan distibusi BBM serta subsidi harga sesuai
kebijakan nasional. Pemberdayaan masayarakat kecil termasuk

24
pemberdayaan perempuan yang merupakan bagain dari upaya pengentasan
kemiskinan.

2. Program Pengelolaan dan Pengembangan Sumberdaya Kelautan dan


Perikanan
Tujuan program adalah meningkatkan kontribusi sektor kelautan dan
perikanan dalam perekonomian nasional. Sasaran program adalah
meningkatnya kontribusi sektor kelautan dan perikanan dalam perekonomian
nasional.
Program ini juga mencakup Revitalisasi Perikanan, yang merupakan bagian
dari Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK) yang telah
dicanangkan Presiden R.I pada tanggal 11 Juni 2005. Upaya yang ditempuh
adalah merevitalisasi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang ada
berupa berbagai kegiatan usaha di bidang penangkapan ikan dan budidaya
perikanan, serta mengoptimalkan operasional unit usaha pengolahan ikan
dalam negeri. Disamping itu, juga menciptakan sumber-sumber pertumbuhan
ekonomi baru berupa pemanfaatan peluang usaha perikanan yang masih
memiliki prospek yang baik. Kebijakan Revitalisasi Perikanan pada dasarnya
mengembangkan daerah yang memiliki potensi besar, yang pada tahap awal
akan difokuskan pada pengembangan 3 komoditas ekonomis penting, yakni
tuna, udang, dan rumput laut. Pengembangan ketiga komoditas di atas
merupakan fokus tahap awal Revitalisasi Perikanan. Disamping itu, akan
dilakukan pula pengembangan komoditas ekonomis penting lainnya sesuai
dengan potensi dan karakteristik setiap daerah/lokasi pengembangan.
Disamping itu, program mencakup pula pengembangan industri perikanan
terpadu yang meliputi:
1. Pengembangan industri perikanan tuna terpadu, termasuk inisiasi dan
pengembangan awal budidaya tuna untuk menghasilkan tuna segar.
2. Pengembangan industri tambak udang terpadu, termasuk pembangunan
broodstock, balai benih, revitalisasi backyard hatchery, pabrik pakan, dan
pos kesehatan ikan.
3. Pengembangan pabrik industri rumput laut terpadu dan massal di daerah
produsen di seluruh Indonesia, serta pabrik pengolahan bahan kering
menjadi semi-refined products di pusat-pusat industri. Untuk mendukung
kontinuitas bahan baku, akan dibangun kebun bibit rumput laut.

Dalam rangka pengembangan prasarana pelabuhan sebagai basis


pengembangan industri perikanan terpadu, khususnya di daerah perbatasan
sebagai penangkal dan pencegah IUU fishing, transhipment dari kapal ikan ke
kapal angkut secara illegal, Departemen Kelautan dan Perikanan saat ini sedang
merencanakan pembangunan pelabuhan perikanan pada sentra-sentra
penangkapan di titik-titik lingkar luar wilayah Indonesia (Outer Ring Fishing
Port).

25
Disamping itu, akan dilakukan pula pembangunan prasarana budidaya yang
diarahkan untuk dapat meningkatkan produktivitas secara signifikan, dengan
membuka lahan baru dan rehabilitasi lahan tambak yang rusak akibat bencana
alam, meliputi jaringan irigasi tambak udang, dan mendorong swasta untuk
mengembangkan industri benih, industri pakan dan obat-obatan.
Dalam rangka peningkatan partisipasi Indonesia dalam perikanan regional,
secara bertahap Indonesia akan meningkatkan status keanggotaan dalam
organisasi perikanan regional, antara lain sebagai anggota (contracting party)
dari Indian Ocean Tuna Commission (IOTC) dan cooperating party dari
Commission for Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT). Keanggotaan
ini akan membuka akses Indonesia sebagai pemanfaat sumberdaya ikan
(utamanya tuna) di perairan internasional (high seas), terutama Samudera
Hindia. Keanggotaan juga akan memberi peluang Indonesia memiliki kuota
penangkapan serta menghindarkan Indonesia dari kemungkinan embargo
produk tuna dan tuduhan kapal Indonesia melakukan praktek IUU fishing.

3. Program Konservasi dan Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan


Tujuan program adalah mewujudkan kondisi lingkungan sumber daya kelautan
dan perikanan yang berkualitas. Sasaran program adalah menurunnya tingkat
kerusakan dan tingkat pelanggaran pemanfaatan sumber daya kelautan dan
perikanan.
Program ini juga ditujukan untuk mencegah dan menanggulangi berbagai
bentuk pelanggaran pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan, yakni
Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing, Illegal sea-sand mining, dan
pemanfaatan benda muatan kapal tenggelam (BMKT) di laut, serta kejahatan
pelanggaran dan pelanggaran hukum dalam pemanfaatan dan pengelolaan
sumber daya kelautan dan perikanan.
Disamping itu, bertujuan untuk melindungi sumber daya alam dari kerusakan
dan mengelola kawasan sumber konservasi yang sudah ada untuk menjamin
kualitas ekosistem agar fungsinya sebagai penyangga sistem kehidupan dapat
terjaga dengan baik. Program tersebut termasuk rehabilitasi lingkungan laut dan
pesisir dilaksanakan secara nasional maupun kerjasama dengan luar negeri.

Kegiatan pokok yang akan mengisi berbagai program pembangunan sebagaimana


tersebut di atas dilaksanakan berdasarkan tugas dan kewenangan unit kerja eselon
I sebagai penanggungjawab.

26
MATRIKS RENSTRA – KL
DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN
TAHUN 2005-2009

A. Misi ke-1: Meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan, pembudidaya ikan, dan


pelaku usahakelautan dan perikanan lainnya

Indikator Penanggung
Tujuan Sasaran Strategi Kebijakan Program Kegiatan Pokok Pendukung
Sasaran jawab

Meningkatkan Meningkatnya • Pendapatan • Memberdaya- • Mengembang- Program • Pemberdayaan • Ditjen KP3K • Ditjen PT
pendapatan kemampuan rata-rata kan sosial kan kapasitas Pemberdayaan masyarakat kelautan • Ditjen PB
nelayan, usaha dan kelompok ekonomi dan skala usaha Nelayan, dan perikanan • Ditjen P2HP
pembudidaya kualitas SDM sasaran budaya nelayan, Pembudidaya
ikan, dan kelompok program masyarakat pembudidaya Ikan, dan Pelaku • Peningkatan usaha • Ditjen PT • BRKP
pelaku usaha sasaran sebesar Rp. kelautan dan ikan dan Usaha Kelautan perikanan skala kecil • Ditjen PB
kelautan dan program 1,5 perikanan masyarakat dan Perikanan
perikanan juta/bulan kelautan dan Lainnya • Peningkatan mutu, nilai • Ditjen P2HP • Ditjen PT
lainnya pada Tahun • Meningkatkan perikanan tambah, dan • Ditjen PB
2009 kualitas SDM lainnya. pengembangan produk
nelayan, hasil perikanan
• Jumlah SDM pembudidaya • Mengembang-
yang ikan, dan kan pendidikan, • Peningkatan akses
mengikuti masyarakat pelatihan dan permodalan dan
diklat kelautan dan penyuluhan investasi
sebanyak perikanan
75.000 lainnya, • Peningkatan partisipasi • Ditjen PPSDKP • Ditjen PT
orang dan termasuk SDM masyarakat dalam
7.500 orang aparatur pengawasan
aparatur
dalam 5 • Memperpendek • Diseminasi dan • BRKP
Tahun rantai tata asimilasi hasil riset dan
niaga dari pengembangan iptek
produsen ke kelautan dan perikanan
konsumen
• Penyelenggaraan diklat • Setjen
perikanan (Pusbangtur
dan Pusbang
• Pengembangan SDM KP)
penyuluhan budidaya
dan pemasaran produk
perikanan

• Pengembangan diklat • Setjen dan


bertaraf internasional Itjen
sebagai
• Penyediaan tenaga pendukung
teknis

• Penyelenggaraan diklat
aparatur

27
B. Misi ke-2 : Meningkatkan peran sektor kelautan dan perikanan sebagai sumber
pertumbuhan ekonomi

Indikator Penanggung
Tujuan Sasaran Strategi Kebijakan Program Kegiatan Pokok Pendukung
Sasaran jawab
Meningkatkan Meningkatnya • Kontribusi Mengembang • Mengembangkan Program • Pengembangan • Ditjen PB • Ditjen KP3K
kontribusi kontribusi PDB sebesar kan usaha perikanan budidaya Pengelolaan kawasan budidaya laut, • BRKP
sektor sektor 5,1% pada kelautan dan yang berdaya saing dan Pengem- air payau, dan air
kelautan dan kelautan dan Tahun 2009 perikanan dan berwawasan banganan tawar
perikanan perikanan yang berdaya lingkungan Sumber da ya
• Pengemb. sistem
dalam dalam • Produksi saing Kelautan dan
perbenihan, produksi,
perekonomi- perekono- perikanan • Memperkuat dan Perikanan
usaha, pengelolaan
an nasional mian nasional sebesar 9,7 mengembangkan
kesehatan ikan dan
juta ton usaha perikanan
lingkungan
pada Tahun tangkap nasional
Meningkatnya 2009 secara efisien, • Pengembangan • Ditjen PT • BRKP
produktivitas lestari dan berbasis pelabuhan perikanan
• Nilai ekspor kerakyatan dan kapal perikanan
hasil • Pengendalian dan
perikanan • Mengembangkan peningkatan pelayanan
sebesar US$ dan memperkokoh perizinan usaha
5 miliar industri
pada Tahun penanganan dan • Peningkatan akses • Ditjen P2HP • Ditjen KP3K
2009 pengolahan serta pasar • Ditjen PT
pemasaran hasil • Peningkatan promosi • Ditjen PB
• Penyerapan produksi perikanan
tenaga kerja • Membangun pulau- dalam dan luar negeri
kumulatif pulau kecil secara
sebanyak berkelanjutan dan • Revitalisasi industri
10,2 juta berbasis pengolahan hasil
orang pada masyarakat perikanan
Tahun 2009 • Pengawasan sumber • Ditjen P2SDKP • Ditjen PT
• Memperkokoh riset daya kelautan dan
dan iptek kelautan perikanan
dan perikanan
• Penaatan dan
penegakan hukum
• Peningkatan kemitraan • Ditjen KP3K • Ditjen P2HP
dalam pengelolaan • Ditjen PT
sumber daya laut, • Ditjen PB
pesisir, dan pulau- • BRKP
pulau kecil;
• Pendayagunaan pulau-
pulau kecil dan fasilitasi
pengelolaan wilayah
pesisir terpadu
• Ditjen KP3K
• Riset dan pengemb. • BRKP
• Ditjen PT
iptek tepat guna
• Ditjen PB
• Peningkatan kapasitas • Ditjen P2HP
sumber daya riset
kelautan dan perikanan
• Penguatan • Setjen (Puskari,
kelembagaan dan tata Pusdatin)
laksana kelembagaan;
• Pengemb. sistem
karantina ikan
• Pengembangan sistem
karantina ikan
• Pengembangan sistem
informasi dan data
statistik
• Pengembangan kerja
sama regional dan
internasional
• Pengawasan fungsional • Itjen
terhadap kebijakan
program, pencegahan
penyimpangan dan
penegakan disiplin
aparatur
• Pembinaan dan
bimbingan pelaksanaan
pembangunan mulai
dari perencanaan
• Bimbingan dan • Setjen dan
asistensi penyuluhan Itjen
LAKIP sebagai
pendukung

28
C. Misi ke-3 :Memelihara daya dukung dan meningkatkan kualitas lingkungan sumber daya
kelautan dan perikanan

Indikator Penanggung
Tujuan Sasaran Strategi Kebijakan Program Kegiatan Pokok Pendukung
Sasaran Jawab
Mewujudkan Menurunnya • Penurunan Memelihara • Meningkatkan Program • Pengelolaan dan • Ditjen KP3K • BRKP
kondisi tingkat tingkat keberlanjutan rehabilitasi dan Konservasi pengembangan
lingkungan kerusakan pelanggaran sumber daya dan konservasi dan konservasi laut, dan
sumber daya ekosistem sebesar 5 % ekosistem laut, sumber daya Pengawasan rehabilitasi habitat
kelautan dan dan tingkat per Tahun pesisir dan pulau- kelautan dan Sumber daya ekosistem yang rusak
perikanan pelanggaran pulau kecil dan perikanan Kelautan dan seperti terumbu
yang pemanfaatan • Peningkatan perairan tawar beserta Perikanan karang, hutan
berkualitas sumber daya kualitas ekosistemnya mangrove, padang
kelautan dan ekosistem lamun, dan estuaria
perikanan pesisir, laut • Memperkuat
dan pulau- pengawasan • Penataan ruang laut,
pulau kecil dan pesisir dan pulau-pulau
berkelan- pengendalian kecil
jutan dalam
pemanfaatan • Pemeliharaan dan
• Pengem- sumber daya peningkatan
bangan kelautan dan pengelolaan ekosistem
kawasan perikanan laut, pesisir dan pulau-
konservasi pulau kecil
laut seluas • Meningkatkan
9 juta ha upaya penang- • Peningkatan
gulangan illegal keselamatan, mitigasi
• Penurunan fishing bencana alam laut, dan
kawasan prakiraan iklim laut
yang
terdegradasi • Penamaan pulau-pulau
dan spesies/ kecil
genetik
yang punah • Percepatan
penyelesaian
• Peningkatan kesepakatan dan batas
pentaatan wilayah laut dengan
terhadap negara tetangga
peraturan
perundang- • Rehabilitasi sumber • Ditjen PB • Ditjen KP3K
undangan daya kawasan
tata ruang budidaya
laut dan
pulau-pulau • Peningkatan tata • Ditjen PT • BRKP
kecil pemanfaatan sumber
daya kelautan dan
perikanan

• Peningkatan tata • Ditjen P2SDKP • Ditjen PT


pemanfaatan sumber
daya kelautan dan
perikanan

• Pengawasan dan • BRKP


pengelolaan ekosistem
dan jasa kelautan

• Riset dan
pengembangan iptek
bagi pengelolaan
sumber daya dan
ekosistem kelautan dan
perikanan secara
berkelanjutan

• Pengembangan riset • Setjen dan


ekologi laut Itjen
sebagai
pendukung

29
D. Misi ke-4 :Meningkatkan kecerdasan dan kesehatan bangsa melalui peningkatan konsumsi
ikan

Indikator Penanggung
Tujuan Sasaran Strategi Kebijakan Program Kegiatan Pokok Pendukung
Sasaran Jawab
Meningkatnya Meningkatnya • Tingkat Mengembangkan Mengembangkan Program • Peningkatan mutu hasil • Ditjen P2HP • Setjen
konsumsi tingkat konsumsi usaha kelautan dan Pengelolaan perikanan • Ditjen PT
ikan konsumsi ikan dan perikanan memperkokoh dan • Ditjen PB
ikan meningkat yang berdaya industri Pengemba- • Peningkatan distribusi • Ditjen KP3K
masyarakat 6,67% per saing penanganan dan ngan dan pemasaran hasil
tahun pengolahan serta Sumberdaya perikanan
pemasaran hasil Kelautan dan
• Nilai Perikanan • Kampanye gemar
konsumsi makan ikan
ikan
masyarakat • Sosialisasi
Indonesia
mencapai
32,29
kg/kapita
pada tahun
2009

• Masyarakat
sadar dan
mengerti
pentingnya
nilai gizi
protein ikan

E. Misi ke-5 :Meningkatkan peran laut sebagai pemersatu bangsa dan memperkuat budaya
bahari bangsa

Indikator Penanggung
Tujuan Sasaran Strategi Kebijakan Program Kegiatan Pokok Pendukung
Sasaran Jawab
Meningkatnya Terciptanya • Peningkatan Meningkatkan Mengembangkan Program • Penyusunan kebijakan • Setjen • DMI
peran laut kesadaran kesadaran kualitas SDM pendidikan, Pengelolaan kelautan yang • Ditjen KP3K
sebagai masyarakat bangsa nelayan, pelatihan dan dan didukung oleh seluruh • Ditjen PT
pemersatu bahwa laut akan arti pembudidaya penyuluhan Pengemba- stakeholders kelautan • BRKP
bangsa dan sebagai penting laut ikan, dan ngan dan perikanan
menguatnya pemersatu dan masyarakat Sumberdaya
budaya bangsa dan kawasan kelautan dan Kelautan dan • Membangun wawasan
bahari peningkatan pesisir perikanan lainnya Perikanan kelautan/maritim bagi
bangsa budaya termasuk SDM generasi muda
bahari pada • Peningkatan aparatur
masyarakat pengelolaan • Peningkatan peran
yang generasi muda di
bertang- bidang kelqutan dan
gung jawab perikanan
dan
berkelanju- • Sosialisasi
tan

30
BAB VI
PENUTUP

Rencana Strategis (RENSTRA) Pembangunan Kelautan dan Perikanan 2005-


2009 merupakan suatu dokumen yang disusun oleh Departemen Kelautan dan
Perikanan, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang No.25 Tahun 2004
tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. RENSTRA yang mengacu
pada Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 ini merupakan acuan bagi
penyusunan Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja KL) serta Rencana Kerja
dan Anggaran-Kementerian/Lembaga (RKA-KL) setiap Tahunnya. RENSTRA ini juga
merupakan acuan perencanaan, baik ditingkat pusat maupun daerah.

Disadari bahwa keberhasilan pelaksanaan pembangunan kelautan dan


perikanan tidak hanya ditentukan dengan adanya dokumen RENSTRA, melainkan
dukungan dari sektor terkait lainnya dan masyarakat luas serta tuntutan kerja keras
dari seluruh jajaran Departemen Kelautan dan Perikanan, sehingga harapan untuk
mensejahterakan nelayan, pembudidaya ikan, dan masyarakat pesisir lainnya
melalui pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan dapat
terwujud.

MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Ttd

FREDDY NUMBERI

Disalin sesuai dengan aslinya


Kepala Biro Hukum dan Organisasi

Ttd

Narmoko Prasmadji

31

Beri Nilai