Anda di halaman 1dari 13

JURNAL AKADEMI FARMASI PRAYOGA, 3(1), 2018

Jurnal Akademi Farmasi Prayoga


ISSN-Online : 2548-141X
Diterbitkan Oleh Akademi Farmasi Prayoga Padang
http:// jurnal.akfarprayoga.ac.id

FORMULASI OBAT KUMUR EKSTRAK ETANOL BAWANG DAYAK


(Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb) dan UJI EFEKTIVITAS ANTI JAMUR
TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans
Noni Rahayu Putri, Ria Afrianti dan Zulfa Desinta
Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis Padang
rahayu.noni87@gmail.com

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian tentang formulasi obat kumur ekstrak etanol bawang dayak dan uji
aktivitas antijamur terhadap jamur Candida albicans. Ekstrak etanol bawang dayak
mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder, dimana yang berperan sebagai antijamur
adalah alkaloid, flavonoid dan fenolik. Obat kumur ekstrak etanol bawang dayak dibuat
menjadi empat formula yaitu F0 (basis), F1 (ekstrak etanol bawang dayak 2,5%), F2 (ekstrak
etanol bawang dayak 5%) dan F3 (ekstrak etanol bawang dayak 10%). Evaluasi obat kumur
meliputi pemeriksaan organoleptis, pH, stabilitas dan viskositas. Uji aktivitas antijamur
sediaan obat kumur dilakukan dengan metode difusi agar dan dianalisis menggunakan
ANOVA satu arah. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sifat fisik sediaan obat kumur
memberikan hasil yang baik dan memenuhi syarat sediaan obat kumur. Hasil uji aktivitas
antijamur sediaan obat kumur memberikan diameter rata – rata daya hambat sebesar F0
(11,75 mm), F1 (17,62 mm), F2 (21,8 3 mm) dan F3 (22,33 mm).
Kata Kunci: Obat kumur, Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb, difusi agar, Candida albicans

PENDAHULUAN

Penyakit gigi dan mulut merupakan salah menyebabkan rendahnya kesadaran


satu masalah kesehatan yang banyak masyarakat terhadap kesehatan gigi dan
dikeluhkan oleh masyarakat, karena dapat mulut, sehingga tidak pernah memeriksa
mengganggu aktivitas sehari-hari. Penyakit gigi secara rutin ke dokter (Valentine dkk.,
ini dapat menyerang dari anak-anak hingga 2015).
orang dewasa. Minimnya pengetahuan serta Secara normal, rongga mulut merupakan
terbatasnya sumber informasi tempat yang baik bagi banyak spesies baik
JURNAL AKADEMI FARMASI PRAYOGA, 3(1), 2018

bakteri, jamur, maupun virus (Gunardi dan Obat kumur adalah sediaan berupa larutan,
Wimardhani, 2009). Flora normal yang umumnya larutan pekat yang harus
terdapat pada rongga mulut kita terdiri atas diencerkan dahulu sebelum digunakan,
Streptococcus viridans, Streptococcus dimaksudkan untuk digunakan sebagai
mutans, Staphylococcus sp, Lactobacillus pencegahan atau pengobatan infeksi
sp dan Candida albicans. Meskipun tenggorokan (Departemen Kesehatan
terdapat di dalam rongga mulut sebagai Republik Indonesia, 1978). Obat kumur
flora normal, tetapi dalam kondisi tertentu, bisa digunakan sebagai agen terapetik dan
bakteri-bakteri tersebut dapat menjadi juga kosmetik. Obat kumur dapat
patogen karena faktor predisposisi yaitu digunakan untuk mengatasi plak, gingivitis,
kebersihan rongga mulut (Jawetz et al., karies gigi dan stomatitis. Obat kumur
2005). sebagai kosmetik ditujukan untuk
Infeksi rongga mulut dapat juga disebabkan mengurangi bau mulut dengan
oleh jamur yang disebut sebagai menambahkan bahan antimikrobial atau
kandidiasis. Lebih dari 50% atau sekitar penambahan rasa ke dalam formulanya
80% infeksi jamur berada di rongga mulut, (Justicia dkk., 2017).
sebagian jamur ini juga ditemukan di Salah satu bahan alami yang dapat
bagian tubuh lainnya. Kandidiasis dalam digunakan sebagai antimikroba adalah
rongga mulut biasanya disebabkan oleh umbi bawang dayak. Sejauh ini
Candida albicans (Suryaningsih dkk., pengelolaan umbi bawang dayak ke dalam
2008). bentuk sediaan jadi masih sedikit, padahal
Salah satu cara untuk mengatasi masalah tanaman ini memiliki potensi yang besar
pada rongga mulut yang berupa karies gigi untuk pengembangan sediaan obat yang
dan kandidiasis adalah dengan mengandung antibakteri dan antifungal.
menggunakan obat kumur. Pada beberapa Secara empiris tanaman ini telah digunakan
kasus, terutama kasus penyakit gigi dan oleh masyarakat Dayak sebagai obat
gusi, penggunaan obat kumur sangat jerawat dan bisul dengan cara
diperlukan. Menggosok gigi saja kurang mengoleskannya pada jerawat atau bisul
efektif untuk mengurangi akumulasi plak setelah sebelumnya ditumbuk dan
penyebab gangguan pada gigi dan gusi. dihaluskan (Syamsul dkk., 2015). Selain
Berkumur dengan obat kumur dapat itu, bawang dayak juga telah digunakan
menghilangkan mikroba di sela – sela gigi dalam pengobatan berbagai jenis peyakit
yang tidak terjangkau oleh sikat gigi seperti diabetes mellitus, jantung koroner,
(Rasmah dkk., 2016). hipertensi, hepatitis, tuberculosis, bronkitis,
Formulasi Obat Kumur Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eleutherine Bulbosa (Mill.) Urb)
Dan Uji Efektivitas Anti Jamur Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans Rahayu N

sinusitis, radang rektum, asam urat, antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk
rematik, nefrolithiasis, infeksi saluran memformulasi obat kumur ekstrak etanol
kemih, radang prostat, gondok, maag, perut bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.)
kembung, ambeien, obesitas, nyeri haid, Urb) dalam kandidiasis serta melihat
kesehatan kulit dan gangguan seksual (Luh, aktivitas antijamur terhadap Candida
2013) albicans sebagai jamur penyebab
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh kandidiasis pada rongga mulut.
Morabandza dkk (2016) telah dilakukan METODE PENELITIAN
pengujian aktivitas antijamur ekstrak Alat dan Bahan
bawang dayak dengan pelarut air dan Alat
etanol, serta membandingkan daya hambat botol gelap, seperangkat alat rotary
keduanya dengan konsentrasi ekstrak yang evaporator, homogenizer, timbangan
sama yaitu 30%, 15%, 7,5%, dan 3,75% analitik, kaca arloji, cawan penguap, botol
terhadap pertumbuhan jamur Candida semprot, krus, corong, beaker glass, gelas
albicans. Hasil penelitian tersebut ukur, kertas perkamen, lemari pendingin,
menunjukkan bahwa ekstrak bawang dayak kertas saring, tabung reaksi, rak tabung
dengan pelarut etanol memberikan daya reaksi, pipet tetes, batang pengaduk, oven,
hambat terhadap pertumbuhan jamur furnace, desikator, pinset, spatel, pH meter,
Candida albicans yang lebih besar viskometer ostwald, cawan petri,
dibandingkan dengan ekstrak bawang erlenmeyer, penjepit, inkubator, LAF
dayak dengan pelarut air. Hal ini dapat (Laminar Air Flow), autoklaf, lampu
dilihat dari diameter daya hambat spritus, jarum ose, kapas steril, koran
pertumbuhan jamur ekstrak etanol bawang bekas, kain kasa steril.
dayak pada konsentrasi 30%, 15%, 7,5% Bahan
dan 3,75% adalah sebesar 26,76 mm, 20,70 Ekstrak etanol bawang dayak, etanol 70%,
mm, 13,30 mm dan 3,75 mm. Sedangkan tween 80, gliserin, menthol, Na. Sakarin,
pada ekstrak dengan pelarut air didapatkan Na. Benzoat, minyak permen dan aquadest,
diameter daya hambat pertumbuhan jamur Jamur Candida albicans, media Sabouraud
sebesar 17,53 mm, 13,16 mm, 9,03 mm dan Dextrose Agar (SDA), Dimethyl Sulfoxide
5,33 mm (Morabandza dkk., 2016). (DMSO), larutan Mc. Farland 0,5%, larutan
Berdasarkan uraian di atas, ekstrak etanol NaCl fisiologis.
bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Pengambilan Jamur
Urb) memungkinkan untuk dapat Jamur Candida albicans diperoleh dari
digunakan sebagai antibakteri dan Laboratorium Mikrobiologi Fakultas

22 Jurnal Akademi Farmasi Prayoga, Vol 3 No 1, 2018


Formulasi Obat Kumur Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eleutherine Bulbosa (Mill.) Urb)
Dan Uji Efektivitas Anti Jamur Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans Rahayu N

Kedokteran Universitas Andalas (ANDA) Sebanyak 1 kg sampel segar umbi bawang


Padang. dayak dibersihkan dari pengotor dan dicuci
Pengambilan Sampel dengan air lalu di rajang, kemudian sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian dimaserasi dengan etanol 96% selama 3
ini adalah umbi bawang dayak (Eleutherine hari sambil sesekali di aduk. Setelah 3 hari
bulbosa (Mill). Urb) yang diambil di perendaman, disaring dengan kertas saring
Alahan Panjang, Kecamatan Lembah untuk mendapat maseratnya, ampasnya
Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatra Barat. dimaserasi lagi sampai bening. Gabungkan
Cara Kerja maserat lalu maseratnya diuapkan dengan
Pembuatan Ekstrak Umbi Bawang rotary evaporator hingga didapatkan
Dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb) ekstrak kental (Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, 2011)
Formulasi Obat Kumur Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.)
Urb)
Tabel 1. Formula obat kumur ekstrak etanol bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb)

Formula
No. Bahan
F0 F1 F2 F3
1. Ekstrak etanol bawang dayak (%) 0 2,5 5 10
2. Tween 80 (%) 5 5 5 5
3. Gliserin (%) 2,5 2,5 2,5 2,5
4. Menthol (%) 0,1 0,1 0,1 0,1
5. Na. Sakarin (%) 0,2 0,2 0,2 0,2
6. Na-benzoat (%) 0,4 0,4 0,4 0,4
7. Etanol 70% (mL) 0,15 0,15 0,15 0,15
8. Minyak Permen (mL) 0,05 0,05 0,05 0,05
9. Aquadest ad (mL) 100 100 100 100

Pembuatan Obat Kumur Ekstrak Etanol


dihomogenkan, kemudian gliserin
Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa
ditambahkan dan dihomogenkan (M1), Na.
(Mill.) Urb)
Sakarin, Na. Benzoat dilarutkan dengan
Ekstrak etanol bawang dayak ditambahkan
aquadest 10 ml hingga larut (M2). M2
tween 80 yang telah dilarutkan dengan
ditambahkan M1 lalu dihomogenkan,
aquadest dengan perbandingan 1:5 lalu
ditambahkan larutan mentol dalam etanol

23 Jurnal Akademi Farmasi Prayoga, Vol 3 No 1, 2018


Formulasi Obat Kumur Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eleutherine Bulbosa (Mill.) Urb)
Dan Uji Efektivitas Anti Jamur Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans Rahayu N

70% (3 tetes) lalu dihomogenkan (M3). t : Waktu yang dibutuhkan cairan


Kemudian di ad kan dengan aquadest melewati pipa kapiler (s)
sampai 100 mL kemudian dihomogenkan t : Waktu yang dibutuhkan air
dengan homogenizer. Selanjutnya melewati pipa kapiler (s)
tambahkan minyak permen sebanyak 1 c. Pemeriksaan pH
tetes. Pemeriksaan dilakukan menggunakan pH
Evaluasi Sediaan Obat Kumur meter. Pemeriksaan dilakukan setiap
a. Evaluasi Organoleptis (Depkes RI, minggu selama 6 minggu (Departemen
1995) Kesehatan Republik Indonesia, 1995).
Evaluasi sediaan obat kumur dilakukan d. Uji Stabilitas
dengan mengamati dari segi rasa, bentuk, Sediaan obat awal yang telah dibuat,
warna, aroma dan kejernihan. Pemeriksaan dilakukan evaluasi lebih dulu. Kemudian
ini dilakukan pada suhu kamar (15 – 30oC) disimpan pada suhu 4oC selama 24 jam lalu
setiap minggu selama 6 minggu. dikeluarkan dan ditempatkan pada suhu
b. Evaluasi Viskositas (Depkes RI, 40oC selama 24 jam waktu selama
1995) penyimpanan dua suhu tersebut dianggap
Pengukuran viskositas sediaan dilakukan satu siklus. Percobaan ini diulang sebanyak
dengan menggunakan viskometer ostwald. 6 siklus dan dievaluasi sediaannya pada
Sediaan diukur sebanyak 5 mL. Alat awal dan akhir test siklus Cycling Test
ditegakkan menggunakan statif, lalu sampel (Hyunh-BA, Kim, 2008).
dituangkan kedalam alat, selanjutnya Pengujian Aktivitas Antijamur Ekstrak
dihisap menggunakan bulp pada pipa b Etanol Bawang Dayak (Eleutherine
sampai tanda batas, biarkan sampel bulbosa (Mill.) Urb) dan Sediaan Obat
mengalir dari tanda n ke m dan dihitung Kumur
waktunya menggunakan stopwatch. a. Pembuatan Media SDA (Saboraud
Besarnya viskositas dapat dihitung dengan Dextrosa Agar)
menggunakan rumus berikut: Media yang digunakan adalah Saboraud
η ρ ∙ t Dextrose Agar (SDA) sebanyak 6,5 g.
=
η ρ ∙ t
Media tersebut dilarutkan ke dalam 100 mL
Keterangan :
aquadest (65 gram SDA dalam 1000 mL
η : Viskositas sampel (cps)
aquadest). Kemudian dipanaskan di atas hot
η : Viskositas air (cps)
plates sampai media tersebut matang dan
ρ : Massa jenis sampel (g/mL) homogen kemudian disterilkan terlebih
ρ : Massa jenis air (g/mL) dahulu dalam autoklaf pada suhu 121 ˚C

24 Jurnal Akademi Farmasi Prayoga, Vol 3 No 1, 2018


Formulasi Obat Kumur Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eleutherine Bulbosa (Mill.) Urb)
Dan Uji Efektivitas Anti Jamur Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans Rahayu N

selama 15 menit tekanan 15 lbs dan biarkan ˚C selama 72 jam. Lalu diamati
dingin sampai suhu 45 - 50˚C (Pangalinan pertumbuhan jamur dan diukur diameter
dkk., 2011). daya hambat jamur yang ditandai dengan
b. Pembuatan Suspensi Mikroba Uji adanya daerah bening disekeliling kertas
Pembuatan suspensi jamur Candida cakram. Pengujian dilakukan terhadap
albicans dilakukan dengan cara mengambil ekstrak etanol bawang dayak 2,5%, 5%,
100 µL larutan induk Candida albicans dan dan 10%. Sebagai kontrol negatifnya
dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang digunakan DMSO.
berisi 900 µL NaCl fisiologis steril d. Pengujian Aktivitas Antijamur Obat
-1
sehingga diperoleh pengenceran 10 . Kumur Ekstrak Etanol Bawang
Kemudian, dari pengenceran 10-1 diambil Dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.)
100 µL larutan dimasukkan ke tabung Urb)
reaksi yang berisi 900 µL NaCl fisiologis Sebanyak 20 mL media SDA dimasukkan
steril sehingga diperoleh pengenceran 10-2. ke dalam cawan petri kemudian
Demikian seterusnya sehingga diperoleh ditambahkan 1 mL suspensi jamur pada
pengenceran sampai 10-4. Suspensi pengenceran 10-4 lalu dihomogenkan dan
Candida albicans yang digunakan sebagai dibiarkan memadat. Lalu kertas cakram
dasar pengujian specimen pada penelitian steril dimasukkan kedalam cawan petri.
ini adalah pengenceran 10-4 (Atmaja, 2007). Setelah itu diambil 10 µL dan diteteskan di
c. Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol atas kertas cakram, lalu diinkubasi pada
Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa suhu 37˚C selama 72 jam. Lalu diamati
(Mill.) Urb) pertumbuhan jamur dan diukur diameter
Sebanyak 20 mL media SDA dimasukkan daya hambat jamur yang ditandai adanya
dalam cawan petri kemudian ditambahkan daerah bening di sekeliling kertas cakram.
1 mL suspensi jamur, pada pengenceran Pengujian dilakukan terhadap basis sediaan
10-4 dihomogenkan dan dibiarkan obat kumur (F0), sediaan obat kumur
memadat. Lalu kertas cakram steril ekstrak etanol bawang dayak dengan
dimasukkan kedalam cawan petri. Lalu konsentrasi 2,5% (F1), 5% (F2) dan 10%
ditimbang ekstrak etanol bawang dayak (F3).
pada konsentrasi 2,5%, 5% dan 10%. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kemudian dilarutkan kedalam DMSO Ekstrak kental etanol bawang dayak
masing-masing 1 mL hingga larut. Setelah dilakukan evaluasi untuk melihat mutu dari
itu ambil 10 µL, lalu diteteskan di atas ekstrak. Dari hasil evaluasi tersebut
kertas cakram, lalu diinkubasi pada suhu 37 diperoleh nilai rendemen sebesar 5,084%.

25 Jurnal Akademi Farmasi Prayoga, Vol 3 No 1, 2018


Formulasi Obat Kumur Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eleutherine Bulbosa (Mill.) Urb)
Dan Uji Efektivitas Anti Jamur Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans Rahayu N

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan spesifik Indonesia, 2000). Penetapan susut


untuk identitas ekstrak artinya senyawa pengeringan diperoleh hasil sebesar 8,26%.
yang menjadi petunjuk spesifik dengan Susut pengeringan merupakan parameter
metode tertentu. Pemeriksaan tersebut adanya zat selain air yang bertujuan untuk
meliputi pemeriksaan organoleptis yaitu memberikan batasan maksimal (rentang)
pemeriksaan bentuk (berbentuk cairan besarnya senyawa yang hilang pada proses
kental), pemeriksaan bau (berbau khas), pengeringan (Departemen Kesehatan
pemeriksaan warna (berwarna merah Republik Indonesia, 2000).
kecoklatan) dan pemeriksaan rasa (berasa Pengujian fitokimia memberikan hasil
pahit), hasil pemeriksaan organoleptis bahwa ekstrak etanol bawang dayak positif
ekstrak etanol bawang dayak yang didapat mengandung senyawa alkaloid, flavonoid,
dalam penelitian ini sama dengan hasil steroid, fenolik, saponin. Senyawa fenolik
pemeriksaan organoleptis yang ditunjukkan berperan sebagai agen antijamur karena
pada penelitian terdahulu (Siska, 2017). senyawa ini dapat mendenaturasi protein
Selain organoleptis, pemeriksaan kelarutan yaitu dengan cara merusak struktur tersier
dan pH juga dilakukan terhadap ekstrak protein. Denaturasi pada protein enzim
kental etanol bawang dayak. Dari hasil dapat menyebabkan enzim tidak dapat
pengujian tersebut diperoleh kelarutan bekerja sehingga mengganggu metabolisme
didalam air 1 : 50,2 mL (agak sukar larut) dan proses penyerapan nutrisi oleh jamur.
hal ini sesuai dengan hasil kelarutan dalam Tanin yang juga merupakan golongan
air yang ditunjukkan pada penelitian fenolik mampu merusak dinding sel jamur
sebelumnya yang dilakukan oleh Rani dan yang terdiri dari lipid dan asam amino.
Nair (2015) diperoleh bahwa kelarutannya Kerusakan membran sel dapat
didalam air adalah sebesar 1,2%. Kelarutan menyebabkan peningkatan permeabilitas
didalam etanol 96% adalah 1 : 17,9 mL sel sehingga mengakibatkan kerusakan sel
(mudah larut). Pada pemeriksaan pH jamur (Nuryanti dkk., 2016).
ekstrak diperoleh pH 5,57 menunjukkan Evaluasi obat kumur meliputi pemeriksaan
bahwa nilai pH ekstrak bersifat asam. Hasil organoleptis, pH, stabilitas, viskositas dan
penetapan kadar abu diperoleh 2,99%. uji kesukaan panelis. Hasil evaluasi
Pemeriksaan kadar abu bertujuan untuk menunjukkan bahwa sifat fisik sediaan obat
memberikan gambaran kandungan mineral kumur memberikan hasil yang baik dan
internal dan eksternal yang berasal dari memenuhi syarat sediaan obat kumur.
proses awal sampai terbentuknya ekstrak Pemeriksaan organoleptis sediaan obat
(Departemen Kesehatan Republik kumur ekstrak etanol bawang dayak

26 Jurnal Akademi Farmasi Prayoga, Vol 3 No 1, 2018


Formulasi Obat Kumur Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eleutherine Bulbosa (Mill.) Urb)
Dan Uji Efektivitas Anti Jamur Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans Rahayu N

dilakukan selama 6 minggu, bertujuan (1002 µ Pa.s atau sekitar ± 1 cps).


untuk melihat perubahan tampilan fisik Viskositas suatu formula sangat
suatu sediaan. Pemeriksaan organoleptis mempengaruhi terhadap tingkat kekentalan
meliputi bentuk, warna, bau dan rasa produk tersebut saat digunakan berkumur
diperoleh hasil F0 berbentuk larutan, tidak didalam mulut. Semakin dekat tingkat
berwarna, bau khas minyak permen, rasa viskositas suatu produk formula dengan
manis menyegarkan, F1 berbentuk larutan, tingkat viskositas air, maka semakin mudah
warna merah hati, bau khas minyak dan nyaman produk tersebut digunakan
permen, rasa manis menyegarkan khas untuk berkumur (Lukas, 2012).
mentol, F2 berbentuk larutan, warna coklat Pemeriksaan stabilitas obat kumur
kemerahan, bau khas minyak permen, rasa dilakukan untuk melihat kestabilan obat
manis menyegarkan khas mentol, F3 kumur selama waktu penyimpanan.
berbentuk larutan, warna coklat kemerahan Pemeriksaan stabilitas obat kumur
pekat, bau khas minyak permen, rasa manis dilakukan pada suhu tinggi (40±4oC)
agak pahit menyegarkan. Terdapat selama 6 minggu. Hasil pemeriksaan
perbedaan pada F3 dimana konsentrasi menunjukkan bahwa basis obat kumur dan
ekstrak etanol bawang dayak lebih besar obat kumur ekstrak etanol bawang dayak
sehingga warna sediaan lebih gelap dan pada konsentrasi 2,5%, 5% dan 10% tidak
rasanya agak pahit dibandingkan F2 dan mengalami pemisahan dan tidak terjadi
F1. Dari hasil evaluasi organoleptis yang pula perubahan fisik dari minggu pertama
meliputi pemeriksaan bentuk, bau, warna hingga minggu ke-6. Ini menunjukkan
dan rasa, selama 6 minggu tidak terjadi bahwa sediaan obat kumur stabil dengan
perubahan selama penyimpanan. Hal ini berbagai keadaan suhu.
mengindikasikan bahwa sediaan obat Evaluasi pH sediaan obat kumur dilakukan
kumur stabil selama penyimpanan secara selama 6 minggu. Hasil pemeriksaan pH
fisika. obat kumur ekstrak etanol bawang dayak
Pemeriksaan viskositas sediaan obat kumur serta pembanding diperoleh nilai pH
ekstrak bawang dayak dilakukan dengan berkisar antara 5,59 - 5,95, dimana nilai
menggunakan viskometer ostwald. Hasil rata – rata pH dari F0= 5,95±0,04,
analisis viskositas menunjukkan bahwa F1= 5,92±0,02, F2= 5,81±0,014,
nilai viskositas formula obat kumur ekstrak F3= 5,69±0,017, P = 5,59± 0,012. Hasil uji
etanol bawang dayak ini memiliki rentang menunjukkan pH berubah – ubah setiap
antara 1,1910 cps – 1,6374 cps dimana minggu, namun masih memenuhi rentang
rentang ini mendekati viskositas air murni pH fisiologis mulut. Perubahan nilai pH

27 Jurnal Akademi Farmasi Prayoga, Vol 3 No 1, 2018


Formulasi Obat Kumur Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eleutherine Bulbosa (Mill.) Urb)
Dan Uji Efektivitas Anti Jamur Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans Rahayu N

tiap minggu mungkin disebabkan oleh menghambat pertumbuhan jamur dan


faktor lingkungan seperti suhu, termasuk kedalam kategori sedang, hal ini
penyimpanan dan sensitivitas dari alat pH disebabkan karena didalam F0 terdapat
meter. Nilai pH obat kumur yang Natrium benzoat yang berfungsi sebagai
dihasilkan harus berada pada rentang pH bahan pengawet yang dapat menghambat
rongga mulut yang berkisar antara 5,5 – 7,9 pertumbuhan mikroba selama masa
(Barman dan Umesh, 2015) sehingga pada penyimpanan. Berdasarkan tabel klasifikasi
saat sediaan dikonsumsi tidak respon hambatan berdasarkan Clinical And
menimbulkan iritasi pada mukosa mulut. Laboratory Standart Institute (CLSI)

Pengujian aktivitas antijamur ekstrak etanol (Cockerill et al., 2012).

bawang dayak dilakukan dengan Bila dibandingkan hasil uji aktivitas

menggunakan metode cakram. Dalam hal antijamur antara ekstrak dan sediaan obat

ini, DMSO dipakai sebagai kontrol negatif kumur yang mengandung ekstrak

yang tidak akan memberikan daya hambat didapatkan hasil diameter daya hambat

serta tidak mengganggu hasil pengamatan. sediaan obat kumur lebih tinggi

Adanya area bening yang memberikan dibandingkan diameter daya hambat

diameter daya hambat menunjukkan bahwa ekstrak etanol bawang dayak. Hal ini di

ekstrak etanol bawang dayak mampu sebabkan karena pada sediaan obat kumur

menghambat pertumbuhan jamur Candida terdapat penambahan zat tambahan berupa

albicans. natrium benzoat yang memiliki aktivitas

Pengujian aktivitas antijamur dari sediaan sebagai antimikroba. Penambahan natrium

obat kumur ekstrak etanol bawang dayak benzoat ini dilakukan untuk menjaga

dilakukan menggunakan metoda difusi sediaan dari kontaminasi mikroba selama

dengan meletakkan lembaran kertas cakram penyimpanan.

steril dengan diameter 5 mm lalu ditetesi Menurut Mycek et al (2001), suatu

dengan 10 µL sediaan obat kumur di atas antimikroba bersifat bakteriostatik dan

media SDA yang telah memadat setelah fungistatik, Jika suatu senyawa antimikroba

dituangkan suspesi jamur. Hasilnya mampu menghambat pertumbuhan mikroba

diperoleh diameter daya hambat rata – rata dengan pemberian secara terus-menerus

pada F1= 17,62 mm termasuk kedalam dan jika penambahan senyawa dihentikan

kategori sedang sedangkan F2 = 21,83 mm atau habis maka pertumbuhan mikroba

dan F3 = 22,33 mm termasuk kedalam akan meningkat. Sedangkan suatu

kategori kuat. Diameter daya hambat rata – antimikroba bersifat bakterisidal/ fungisidal

rata F0 = 11,75 mm yang mana dapat jika suatu senyawa antimikroba mampu

28 Jurnal Akademi Farmasi Prayoga, Vol 3 No 1, 2018


Formulasi Obat Kumur Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eleutherine Bulbosa (Mill.) Urb)
Dan Uji Efektivitas Anti Jamur Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans Rahayu N

membunuh dan menghentikan aktivitas Gambar. 2) Hal ini menunjukkan bahwa


fisiologis dari mikroba uji meskipun jamur Candida albicans masih dapat
pemberian senyawa antimikroba tumbuh pada daerah zona hambat tersebut,
dihentikan. yang berarti senyawa antimikroba pada
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap ekstrak etanol bawang dayak bersifat
jamur Candida albicans, terlihat fungistatik, yaitu menghambat
tumbuhnya beberapa koloni jamur Candida pertumbuhan jamur namun tidak
albicans pada media SDA meskipun sudah mematikannya.
diberikan senyawa uji (Gambar. 1 dan

Gambar 1. Aktivitas antijamur ekstrak etanol bawang dayak terhadap jamur Candida
albicans.

Tabel 3. Hasil Pemeriksaan Aktivitas Antijamur Ekstrak Etanol Bawang Dayak

Diameter daya hambat (mm)


Pengulangan
C1 C2 C3 C0
1. 12,75 14 15,25 -
2. 13 14,07 16 -
3. 12,8 14 17 -
Jumlah 38,55 42,07 48,25 -
Rata – rata ± SD 12,85±0,13 14,02±0,04 16,08±0,87 -

29 Jurnal Akademi Farmasi Prayoga, Vol 3 No 1, 2018


Formulasi Obat Kumur Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eleutherine Bulbosa (Mill.) Urb)
Dan Uji Efektivitas Anti Jamur Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans Rahayu N

Gambar 2. Aktivitas antijamur formula sediaan obat kumur ekstrak etanol bawang dayak
terhadap jamur Candida albicans.
Keterangan :
F0 : Formula basis obat kumur
F1 : Formula obat kumur ekstrak etanol bawang dayak 2,5%
F2 : Formula obat kumur ekstrak etanol bawang dayak 5%
F3 : Formula obat kumur ekstrak etanol bawang dayak 10%

Tabel 4. Hasil Pemeriksaan Aktivitas Antijamur Obat Kumur Ekstrak Etanol Bawang Dayak

Diameter daya hambat (mm)


Pengulangan
F0 F1 F2 F3
1. 12 19 20,5 23
2. 11,75 16,25 23,25 21,75
3. 11,5 17,62 21,75 22,25
Jumlah 35,25 52,87 65,5 67
Rata – rata ± SD 11,75±0,25 17,62±1,37 21,83±1,37 22,33±0,62

KESIMPULAN 2. Berdasarkan hasil uji aktivitas


1. Ekstrak etanol bawang dayak 2,5% antijamur terhadap Candida albicans,
(F1), ekstrak bawang dayak 5% (F2) F3 memberikan daya hambat paling
serta ekstrak etanol bawang dayak 10% besar, yaitu 22,33 mm yang
(F3) dapat diformulasikan dalam dikategorikan kedalam respon
bentuk sediaan obat kumur dengan hambatan pertumbuhan mikroba
hasil evaluasi sediaan yang memenuhi golongan kuat.
persyaratan sebagai obat kumur yang
baik.

30 Jurnal Akademi Farmasi Prayoga, Vol 3 No 1, 2018


Formulasi Obat Kumur Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eleutherine Bulbosa (Mill.) Urb)
Dan Uji Efektivitas Anti Jamur Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans Rahayu N

DAFTAR PUSTAKA Efektivitas Anti Bakteri terhadap


Streptococcus mutans. Skripsi
Atmaja, H. K. 2007. Efek Antijamur Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia:
Minyak Atsiri Jahe Merah (Zingiber Padang.
officinale) terhadap Candida
albicans. Indonesian Journal of
Dentistry: 71-176.
Huynh – Ba, Kim. 2008. Handbook Of
Stability Testing In Pharmaceutical
Barman, I.,G, Umesh Chandra P. 2015.
Development : Regulation,
Effects of Habitual Arecanut and
Methodologies, And Best Practice.
Tobacco Chewing on Resting
Spinger Science Business Media:
Salivary Flow Rate and pH. Int. J.
New York.
Oral Health Med Res; 2(1): 13-18.
Jawetz, Ernest., Melnick, Joseph.,
Adelberg, Edward A., Brooks, Geo.
F.,Butel, Janet S., dan Ornston, L.
Nicholas. 2005. Mikrobiologi
Cockerill, F.R., Matthew A. W., Jeff. A., Kedokteran. EGC: Jakarta.
Michael. N.D., George. M. E.,
Marryy. J. F. 2012. Performance Justicia, A. K., Ferdinan, A., dan Maya, M.
Standards for Antimicrobial Disk 2017. Formulasi Mouthwash Minyak
Susceptibility Test. Approved Atsiri Daun Kemangi
Standard-Eleventh Edition. CLSI (Ocimumsanctum L.) dan Kayu
document M02-A11. Wayne. PA. Manis ( Cinnamomum zeylanicum)
Clinical and Laboratory Standards dengan Menggunakan Tween 80
Institute. sebagai Surfaktan. Jurnal Ilmiah Ibnu
Sina, 2(1): 134–146.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
1978. Formularium Nasional. Luh, Ni Indrawati dan Razimin. 2013.
Direktorat Jendral Pengawasan Obat Bawang Dayak Si Umbi Ajaib
dan Makanan: Jakarta. Penakluk Aneka Penyakit. Agromedia
Pustaka: Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Lukas, A. 2012. Formulasi Obat Kumur
1995. Farmakope Indonesia. Edisi Gambir dengan Tambahan
IV. Direktorat Jendral Pengawasan Peppermint dan Minyak Cengkeh.
Obat dan Makanan: Jakarta. Jurnal Dinamika Penelitian Industri,
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 23(2): 67–76.
2000. Parameter Standar Umum Morabandza, C.J., Okiemy-Alkiemy, M.
Ekstrak Etanol Tumbuhan Obat G., Okiemy, E., Andzi-Barhe, T.,
Cetakan 1. Direktorat Jendral Ongoka, P. R. 2016. Total phenols,
Pengawasan Obat dan Makanan: total flavonoids content; antioxidant
Jakarta. and antifungal activities of ethanolic
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. and aqueous extracts of Eleutherine
2011. Farmakope Herbal Indonesia. bulbosa (Iridaceae). World Journal of
Edisi I: Jakarta. Pharmaceutical Sciences, 4(12): 252-
255.
Geraria. 2017. Formulasi Edible Film Mycek, M. J. 2001. Farmakologi: Ulasan
Minyak Atsiri Kulit Buah Jeruk Purut Bergambar Edisi 2. Widya Medika:
(Citrus hystrix DC.) dan Uji Jakarta.

31 Jurnal Akademi Farmasi Prayoga, Vol 3 No 1, 2018


Formulasi Obat Kumur Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eleutherine Bulbosa (Mill.) Urb)
Dan Uji Efektivitas Anti Jamur Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans Rahayu N

(Eleutherine americana) dalam


Nuryanti, S.,Wahyuni, S., dan Jura, M. R. Sediaan Krim Anti Acne. Traditional
2016. Uji Daya Hambat Ekstrak Medicine Journal, 20(3): 149–157.
Bawang Hutan ( Eleutherine
palmifolia ( L .) merr ) dari Valentine, H. M., Nasution, H.,
Mantantimali terhadap Pertumbuhan Sastypratiwi, H. 2015. Perancangan
Jamur Candida. Jurnal Akademika Sistem Pakar Diagnosis Awal
Kimia, 5(2): 98–102. Penyakit Gigi dan Mulut
Menggunakan Metode Dempster
Pangalinan, F. R., Kojong, N., Yamlean, P. Shafer. Portal Garuda Journal: 1–7.
V. Y. 2011. Uji Aktivitas Antijamur
Ekstrak Etanol Kulit Batang
Rambutan (Nephelium lappaceum L.)
terhadap Jamur Candida albicans
secara In Vitro. Unsrat Manado.

Rani, V. S., Nair, Bindu. R. 2015.


Pharmacognostic And
Physicochemical Evaluation of Bulbs
of Eleutherine bulbosa (Miller)
Urban, A Medical Plant. Journal of
Pharmacognosy and Phytochemistry,
4(3): 273-277.

Rasmah., Dwyana, Z., Tambaru, E., Rante,


H. 2016. Uji Aktivitas Sediaan Obat
Kumur Ekstrak Daun Miana Coleus
scutellarioides (L) Benth terhadap
Pertumbuhan Jamur Candida
albicans. Jurnal Penelitian Fakultas
Farmasi Universitas Hassanuddin.

Siska, Deby. 2017. Pengaruh Pemberian


Ekstrak Etanol Bawang Dayak
(Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb)
terhadap Kadar Malondialdehid
(Mda) Mencit Putih Jantan
Hiperglikemia. Skripsi Sekolah
Tinggi Farmasi Indonesia: Padang.
Suryaningsih, A., Chumaeroh, S., dan
Benyamin, B. 2008. Uji Efektifitas
Ekstrak Anggur Merah (Vitis
vinivera) terhadap Pertumbuhan
Candida albicans secara In Vitro.
Medali Jurnal Media Dental
Intelektual, 2(1): 5-8.
Syamsul, E. S., Wijaya, H., dan Bramantyo,
A. N., 2015. Formulasi Ekstrak
Etanol Umbi Bawang Tiwai

32 Jurnal Akademi Farmasi Prayoga, Vol 3 No 1, 2018