Anda di halaman 1dari 24

Manajemen Stress

Makalah ini disusun untuk memenuhi

tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Kesehatan Jiwa II

Kelompok IV

1. Dian Fazira K (SK117008)


2. Islahiyan Pratiwi (SK117019)
3. Putri Rahmadani (SK117025)
4. Rifda Husna (SK117027)
5. Sri Mulyani (SK117032)
6. Tri Kusumawati (SK117034)

Program Studi Ilmu Keperawatan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal
2020
KATA PENGANTAR

Kami mengucapkan puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah berjudul “Makalah Manajemen Stress” ini dengan baik.
Makalah ini tidak dapat selesai tanpa dukungan moral dan materi yang diberikan
dari berbagai pihak, maka penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Allah SWT. Yang telah meridhoi pembuatan makalah dengan baik.

2. Ns. Livana PH, M.Kep.,Sp.Kep.J dan tim selaku dosen pengampu Ilmu
Keperawatan Kesehatan Jiwa II
3. Orang tua penulis yang telah memberikan dorongan dan motivasi.
4. Teman- teman penulis yang telah memberikan bantuan kepada penulis.
5. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
banyak membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari


sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun dari rekan- rekan
pembaca sangat dibutuhkan demi penyempurnaan makalah ini.

Kendal, 11 Maret 2020

Kelompok 4
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................................i

KATA PENGANTAR.....................................................................................................ii

DAFTAR ISI....................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.....................................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah................................................................................................3
1.3 Tujuan..................................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Manajemen Stress ...............................................................................................


2.1.1 Konsep stress .............................................................................................
2.1.2 Psikologi stress...........................................................................................
2.1.3 Mode penanganan dilihat dari beberapa jurnal ..........................................

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulaan ........................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Stres dialami oleh setiap orang dengan tidak mengenal jenis kelamin,
usia, jabatan, kedudukan, atau status sosial ekonomi. Tanggapan dan
tingkat stres dapat bervariasi pada setiap orang, karena stres merupakan
proses persepsi yang bersifat individual (Riggio, 1990). Stres dapat
memiliki konsekuensi negatif terhadap kesehatan, memengaruhi proses
berpikir dan emosi, mengganggu untuk beradaptasi terhadap lingkungan,
bahkan memengaruhi aktivitas dan pekerjaannya (Handoko, 2008).
Seseorang yang mengalami stres mungkin mengalami kelelahan fisik,
emosional dan mental di lingkungan kerja. Banyak individu menghabiskan
sebagian besar waktunya di tempat kerja dan stres kerja dengan cepat
menjadi isu pelayanan kesehatan nasional. Strategi manajemen stress on
site sangat penting untuk membantu menjaga kesehatan optimum pekerja
di setiap sudut lapangan kerja (Devi Yulianti, 2003).
Pemberian pelayanan kesehatan menjadi prioritas utama bagi banyak
negara, termasuk Indonesia. Peningkatan kebutuhan akan tenaga kerja
yang handal merupakan kebutuhan mendesak yang dialami instansi rumah
sakit, baik swasta maupun pemerintah. Salah satu pelayanan sentral di
rumah sakit adalah bagian Instalasi Perawatan Intensif. Tenaga kesehatan
yang bertugas di dialamnya merupakan tim kesehatan yang terdiri dari
dokter dan perawat yang telah mendapat pelatihan khusus untuk meliputi
Basic Life Support (BLS) dan Advanced Cardiac Life Support (ACLS)
(Depkes, 2006). Perawat di Instalasi Perawatan Intensif berbeda dengan
perawat bagian lain yang mana sebagai salah satu tim kesehatan harus
memiliki pengetahuan dan keahlian khusus, meliputi kemampuan
menangani kondisi pasien yang kritis, bekerja dengan cepat, tepat, teliti,
dan senantiasa cermat dalam mengobservasi dan menilai keadaan umum
pasien yang cenderung fluktuatif. Perawat di Instalasi Perawatan Intensif
juga harus memiliki tingkat keterampilan yang kompleks karena
bertanggung jawab mempertahankan homeostasis pasien untuk melewati
kondisi kristis (Meltzer &Huckabay, 2004).
Kondisi pasien yang kritis, beban kerja yang sangat tinggi, serta
lingkungan Instalasi Perawatan Intensif dapat menjadi sumber stres bagi
perawat tersebut. Stres menurut Hans Selye (1974) adalah respons tubuh
yang sifatnya adaptif pada setiap perlakuan yang menimbulkan perubahan
fisik atau emosi. Stres juga dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan
mengatasi ancaman yang dihadapi oleh mental, fisik, emosional, dan
spiritual manusia yang pada suatu saat dapat mempengaruhi kesehatan
fisik manusia tersebut. Perubahan sosial yang serba cepat dapat
memengaruhi nilai moral, etika dan gaya hidup (Selye, 1974). Tidak
semua orang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang cepat,
yang pada akhirnya akan mengganggu kondisi kesehatan fisik maupun
mental. Peristiwa-peristiwa dari dalam dan di luar tempat kerja dapat
memicu terjadinya stres. Stres kerja yang dialami individu merupakan
hubungan timbal balik antara sesuatu yang berada dalam diri individu
dengan sesuatu yang berada di luar individu tersebut (Atwater, 1983).
Hubungan tersebut juga berlaku pada peristiwa-peristiwa yang
menyebabkan stres kerja pada perawat di Instalasi Perawatan intensif.
Stres yang dialami perawat khususnya perawat Instalasi Perawatan Intensif
dapat memberikan dampak yang negatif terhadap kesehatannya dan pada
akhirnya dapat mempengaruhi kinerja dan mutu asuhan keperawatan. Oleh
karena itu, penanganan dan manajemen yang tepat terhadap stres kerja
perawat sangat dibutuhkan. Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut,
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang tingkat dan daya tahan
stres kerja perawat Instalasi Perawatan Intensif di RS Immanuel Bandung.
B. Rumusan masalah
1. Apa itu konsep dasar stress ?
2. Apa itu psikologis stress ?
3. Bagaimana mode penanganan menurut beberapa jurnal ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep dasar stress
2. Untuk mengetahui prikologis sress
3. Untuk mengetahui mode penanganan menurut beberapa jurnal
BAB II

KONSEP

A. Konsep Dasar Stress


stres diawali dengan adanya ketidakseimbangan antara tuntutan dan
sumber daya yang dimiliki individu, semakin tinggi kesenjangan terjadi
semakin tinggi pula tingkat stress yang dialami individu, dan akan merasa
terancam. Berbagai pendekatan mengenai stress yang telah dikemukakan
oleh para ahli tentang stress.
1. Pengertian Stress
Stress : condition in which the human system responds to changes
in its norma balanced state (Taylor, 1997: 755). Stress merupakan
istilah yang berasal dari bahasa latin ’istingere"yang berarti "keras"
(stricus). lstilah ini mengalami perubahan seiring dengan perkembangan
penelaahan yang berlanjut dari waktu ke waktu dari straise, strest,
stresce, dan stress. Abad ke-17 istilah stress diartikan sebagai
kesukaran, kesusahan, kesulitan, atau penderitaan. Pada abad ke-18
istilah ini digunakan dengan lebih menunjukkan kekuatan, tekanan,
ketegangan, atau usaha yang keras berpusat pada benda dan manusia,
"terutama kekuatan mental manusia". Dari perkembangan istilah stress
ini dirumuskan di antaranya:
a. Mc Nemey dalam Grenberg (1984), menyebutkan stress sebagai
reaksi fisik, mental, dan kimiawi dari tubuh terhadap situasi yang
menakutkan, mengejutkan, membingungkan, membahayakan. dan
merisaukan seseorang.
b. Menurut Hardjana (1994) stress sebagai keadaan atau kondisi
yang tercipta bila transaksi seseorang yang mengalami stress
dan hal yang dianggap mendatangkan stress membuat orang
yang bersangkutan melihat ketidaksepadanan antara keadaan
atau kondisi dan sistem sumber daya biologis, psikoIogis, dan
sosial yang ada padanya.

c. Definisi stress yang diberikan oleh Selye (1982) adalah ”stress


is the nonspecific resultofany demand upon the body be the
mental or somatic," tubuh akan memberikan reaksi tertentu
terhadap berbagai tantangan yang dijumpai dalam hidup kita
berdasarkan adanya perubahan biologi dan kimia dalam tubuh.
d. Menurut Dadang Hawari, istilah stress dan depresi seringkali
tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Setiap permasalahan
kehidupan yang menimpa pada diri seseorang (stressor
psikososial) dapat mengakibatkan gangguan fungsi/faal organ
tubuh. Reaksi tubuh (fisik) ini dinamakan stress; dan manakala
fungsi organ-organ tubuh itu sampai terganggu dinamakan
distress. Sedangkan depresi adalah reaksi kejiwaan seseorang
terhadap stress yang dialaminya. O|eh karena dalam diri
manusia itu antara fisik dan psikis (kejiwaan) itu tidak dapat
dipisahkan satu dengan lainnya (saling mempengaruhi), maka
istilah stress dan depresi dalam buku ini dianggap sebagai suatu
kesatuan. Reaksi kejiwaan lainnya yang erat hubungannya
dengan stress adalah kecemasan (anciety).
e. Kecemasan (anciety) dan depresi (depression) merupakan dua
jenis gangguan kejiwaan yang satu dengan lainnya saling
berkaitan. Seseorang yang mengalami depresi seringkali ada
komponen ansitasnya, demikian pula sebaliknya. Manifestasi
depresi tidak selalu dalam bentuk keluhan-keluhan kejiwaan
(afek disforik), tetapi juga bisa dalam bentuk keluhan-keluhan
fisik (gangguan fungsional organ tubuh). Hal yang terakhir ini
seringkali disebut pula sebagai depresi terselubung, artinya
keluhan-keluhan fisik yang latar belakangnya adalah depresi.
Stress dewasa ini sudah semakin populer,tidak saja di kalangan
umum, namun juga di kalangan medis istilah ini mulai dipakai.
Bahkan ada gejala dari suatu penyakit, cenderung untuk
memakai istilah stress sebagai suatu bentuk diagnosa.
f. Hans Selye, seorang ahli fisilogi dan tokoh di bidang stress yang
tertemuka dari Unversitas Montreal, merumuskan stress sebagai
berikut: stress adalah tanggapan tubuh yang sifatnya non
spesifik terhadap tuntutan atasnya. Manakala tututan terhadap
tubuh itu berlebihan, maka hal ini dinamakan distress.Tubuh
akan berusaha menyeIaraskan rangsangan atau manusia akan
cukup cepat untuk pulih kembali dari pengaruh-pengaruh
pengalaman stress. Manusia mempunyai suplai yang baik dari
energi penyesuaian diri untuk dipakai dan diisi kembali
bilamana perlu.
Maka stress adalah tanggapan/reaksi tubuh terhadap berbagai tuntutan
atau beban atasnya yang bersifat non spesifik. Namun, di samping itu
stress dapatjuga merupakan faktor pencetus, penyebab sekaligus akibat
dari suatu gangguan atau penyakit. Faktor-faktor psikososial cukup
mempunyai arti bagi terjadinya stress pada diri seseorang. Manakala
tuntutan pada diri seseorang itu melampauinya, maka keadaan demikian
disebut distress. Stress dalam kehidupan adalah suatu hal yang tidak
dapat dihindari. Masalahnya adalah bagaimana manusia hidup dengan
stress tanpa harus mengalami distress.

2. Model Stress Berdasarkan Stimulus


Model stimulus berdasarkan pada analogi sederhana dengan hukum
elastisitas. Hooke menjelaskan hukum elastisitas untuk menguraikan
bagaimana beban dapat menimbulkan kerusakan. Jika strain yang
dihasilkan oleh stress yang diberikan berada Dada batas elastisitas dari
material tersebut akan kembali ke kondisi semula, tetapi jika strain yang
dihasilkan melampaui batas elastisitasnya maka kerusakan akan terjadi.
Pendekatan model stimulus ini mengangap stress sebagai ciri-ciri
dari stimulus lingkungan yang dalam beberapa hal dianggap
mengganggu atau merusak, model yang digunakan pada dasarnya
adalah stressor eksternal akan menimbulkan reaksi stress atau strain
dalam diri individu. Pendekatan ini menepatkan stress sebagai sesuatu
yang dipelajari dan menekankan pada stimulus apa yang merupakan
diagnosa stress. Hal ini memandang stress tanpa suatu tuntutan yang
beralasan, pasti mendatangkan stress tanpa memandang bagaimana
sumber daya individu.
Pendekatan model stimulus ini mengangap stress sebagai ciri-ciri
dari stimulus lingkungan yang dalam beberapa hal dianggap
mengganggu atau merusak, model yang digunakan pada dasarnya
adalah stressor eksternal akan menimbulkan reaksi stress atau strain
dalam diri individu. Pendekatan ini menepatkan stress sebagai sesuatu
yang dipelajari dan menekankan pada stimulus apa yang merupakan
diagnosa stress. Hal ini memandang stress tanpa suatu tuntutan yang
beralasan, pasti mendatangkan stress tanpa memandang bagaimana
sumber daya individu.
3. Model stress berdasarkan respon
Model ini mengidenfisikasi stress sebagai respon individu terhadap
stressor yang diterima. Selye (1982) menjelaskan stress sebagai respon
non spesifik yang timbul terhadap tuntutan lingkungan, respon umum
ini disebut sebagai General Adaptation Syndrome (GAS) dan dibagi
dalam tiga fase yaitu: fase sinyal, fase perlawanan, dan fase keletihan.
Reaksi alarm merupakan respon siaga (fight or flight). Pada fase ini
terjadi peningkatan cortical hormone, emosi, dan ketegangan.
Fase perlawanan ( resistance) terjadi bila respon adaptif tidak
mengurangi persepsi terhadap ancaman, reaksi ini ditandai oleh
hormone cortical yang tetap tinggi. Usaha fisilogis untuk mengatasi
stres mencapai kapasitas penuh, dan perlawanan melalui mekanisme
pertahanan diri dan strategi mengatasi stress. Sedangkan reaksi
kelelahan yaitu perlawanan terhadap stress yang berkepanjangan mulai
menurun, fungsi otak tergantung oleh perubahan metabolisme, sistem
kekebaIan tubuh menjadi kurang efisien dan penyakit yang serius mulai
timbul pada saat kondisi menurun.

4. Model stress berdasarkan transaksional .


Pendekatan ini mengacu pada interaksi yang timbul antara manusia
dan lingkungannya. Antarvariabel lingkungan dan individu terhadap
proses penilaian kognitif (cognitive appraisal)yang menjadi
mediatornya. Studi yang berlandaskan pada pendekatan ini
menyimpulkan bahwa kita tidak akan dapat memprediksikan
penampilan seseorang hanya dengan mengenali stimulus, individu
bervariasi dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya yaitu
dengan melakukan koping terhadap berbagai tuntutan.
Tiga tahap dalam mengukur potensial yang mengandung stress
yaitu pengukuran suatu situasi pontesial mengandung stres: (1)
Pengukuran primer; menggali Dersepsi individu terhadap masalah saat
ia menilai tantangan atau tuntutan yang menimpanya; (2) Pengukuran
sekunder; mengkaji kemampuan seseorang atau sumber-sumber tersedia
diarahkan untuk mengatasi masalah; (3) Pengukuran tersier, berfokus
pada perkiraan keefektifan perilaku koping dalam mengurangi dan
menghadapi ancaman.

B. Psikologi stress
Menurut Selye (1982) stress merupakan tanggapan non spesifik
terhadap setiap tuntutan yang diberikan pada suatu organisme dan
digambarkan sebagai GAS. Konsep ini menunjukkan reaksi stress dalam
tiga fase, yaitu fase sinyal (alarm), fase perlawanan (resistance), dan fase
keletihan (exhaustion). Ilustrasi dari ketiga fase tersebut dapat dilihat pada
gambar di bawah ini.
Tahap sinyal adalah mobilisasi awal dimana badan menemui
tantangan yang diberikan oleh penyebab stress. Ketika penyebab stress
ditemukan, otak mengirimkan suatu pesan biokimia kepada semua sistem
tubuh. Pernafasan meningkat, tekanan darah naik, anak mata membesar,
ketegangan otot naik, dan seterusnya. Jika penyebab stress terus aktif,GAS
beralih ke tahap perlawanan.Tanda-tanda masuknya tahap perlawanan
termasuk keletihan, ketakutan, dan ketegangan.
Pribadi yang mengalami tahap tersebut selanjutnya melawan
penyebab stress. Sementara perlawanan terhadap suatu penyebab stress
khusus mungkin tinggi selama tahap ini, perlawanan terhadap stress
Iainnya mungkin rendah; seseorang hanya memiliki sumber energi
terbatas, konsentransi dan kemampuan untuk menahan penyebab-
penyebab stress. lndividu-individu sering lebih mudah sakit selama
periode stress ketimbang pada waktu Iainnya. Tahap terakhir GAS adalah
keletihan. Perlawanan pada penyebab stress yang sama dalam jangka
panjang dan terus menerus mungkin akhirnya menaikkan penggunaan
energi penyesuaian yang bisa dipakai, dan sistem menyerang penyebab
stress menjadi Ietih.
Menurut Fortuna (1984) seperti halnya dengan gangguan Flsik, respon
terhadap ancaman juga mempunyai risiko terhadap emosi dan kognitif
(Abraham dan Shaley, 1997), orang mengalami stress akan menunjukkan
penurunan konsentrasi, perhatian, dan kemunduran memori. Keadaan ini
akan menyebabkan kesalahan dalam memecahkan masalah dan penurunan
kemampuan dalam merencanakan tindakan. Dampak Iain mengakibatkan
semakin banyak tuntutan pada orang yang mengalami stress, kondisi ini
menyebabkan ketindakmampuan menjalin hubungan dengan orang Iain,
dalam menghadapi stress individu Iebih sensitif dan cepat marah. Mereka
juga sulit untuk rileks, merasa tidak berdaya, depresi, dan cenderung
hipokondria.
Pengaruh pada kognitif dan emosi ini mendorong terjadinya
perubahan perilaku pada orang yang mengalami stress berkepanjangan.
Perubahan ini meliputi penurunan minat dan aktivitas, penurunan energi,
tidak masuk atau terlambat kerja, cenderung mengekpresikan pandangan
sinis pada orang lain atau rekan kerja serta melemahkan tanggungjawab.
Fase keletihan terjadi bila fungsi fisik dan psikologis seseorang telah
sangat lemah sebagai akibat kerusakan selama fase perlawanan. Bila reaksi
ini berlanjut tanpa adanya pemulihan, akan memacu terjadinya penyakit
karena ketidakmampuan dalam mengatasi tuntutan lingkungan yang
dirasakan. Fase keletihan ini merupakan tahap kepayahan dimana
seseorang dapat dikatakan telah mempunyai masalah kesehatan yang
serius.
1. Penyebab Stress dan Stressor Psikososial
Firman Allah dalam al-Qur’an: ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan
kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,jiwa, dan
buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang
sabar.” (QS. 2:155)
”Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir, apabila
ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan
ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat, yang mereka
itu tetap mengerjakan sholat.” (QS. 70:19-23)
Stressor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang
menyebabkan Derubahan dalam kehidupan seseorang (anak, remaja, atau
dewasa), sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi atau
menanggulangi stressor yang timbul. Namun, tidak semua mampu
mengadakan adaptasi dan mampu menanggulanginya, sehingga timbulah
keluhan-keluhan kejiwaan, antara Iain depresi. Pada umumnya jenis
stressor psikososial dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Perkawinan
Berbagai permasalahan perkawinan merupakan sumber stress
yang dialami seseorang; misalnya pertengkaran, perpisahan
(separation), perceraian, kematian salah satu pasangan, ketidaksetiaan,
dan lain sebagainya. Stressor perkawinan ini dapat menyebabkan
seseorang jatuh dalam depresi dan kecemasan.
b. Problem Orangtua
permasalahan yang dihadapi orangtua, misalnya tidak punya anak,
kebanyakan anak, kenakalan anak, anak sakit; hubungan yang tidak
baik dengan mertua, ipar, besan, dan lain sebagainya. Permasalahan
tersebut di atas merupakan sumber stress yang pada gilirannya
seseorang dapat jatuh dalam depresi dan  kecemasan.

c. Hubungan Interpersonal (Antarpribadi) Gangguan ini dapat berupa


hubungan dengan kawan dekat yang mengalami konflik, konflik
dengan kekasih, antara atasan dan bawahan, dan lain sebagainya.
Konflik hubungan interpersonal ini dapat merupakan sumber stress
bagi sese~ orang, dan yang bersangkutan dapat mengalami depresi
dan kecemasan karenanya.
d. Pekerjaan
Masalah pekerjaan merupakan sumber stress kedua setelah mesalah
perkawinan. Banyak orang menderita depresi dan kecemasan karena
masalah pekerjaan ini, misalnya pekerjaan terlalu banyak, pekerjaan
tidak cocok, mutasi,jabatan, kenaikan pangkat, pensiun, kehilangan
pekerjaan (PHK), dan lain sebagainya.
e. Lingkungan Hidup
Kondisi lingkungan yang buruk besar pengaruhnya bagi kesehatan
seseorang, misalnya soal perumahan, pindah tempat tinggal,
penggusuran, hidup dalam lingkungan yang rawan (kriminalitas) dan
lain sebagainya. Rasa tercekam dan tidak merasa aman ini amat
mengganggu ketenangan dan ketenteraman hidup, sehingga tidak
jarang orang jatuh ke dalam depresi dan kecemasan.
f. Keuangan
Masalah keuangan (kondisi sosiaI-ekonomi) yang tidak sehat,
misalnya pendapatan jauh Iebih rendah dari pengeluaran, terlibat
utang, kebangkrutan usaha, soal warisan, dan lain sebagainya.
Problem keuangan amat berpengaruh pada kesehatan jiwa seseorang
dan seringkali masalah keuangan ini merupakan faktor yang membuat
seseorang jatuh dalam depresi dan kecemasan.
g. Hukum
Keterlibatan seseorang dalam masalah hukum dapat merupakan
sumber stress pula, misalnya tuntutan hukum, pengadilan, penjara, dan
Iain sebagainya. Stress di bidang hukum ini dapat menyebabkan
seseorang jatuh dalam depresi dan kecemasan.

h. Perkembangan
Yang dimaksud di sini adalah masalah perkembangan baik fusik
maupun mental seseorang, misalnya masa remaja, masa dewasa,
menopause, usia lanjut, dan lain sebagainya. Kondisi setiap perubahan
fase-fase tersebut di atas, untuk sebagian individu dapat menyebabkan
depresi dan kecemasan; terutama pada mereka yang mengalami
menopause atau usia Ianjut.
i. Penyakit fisik atau cidera
Sumber stress yang dapat menimbulkan depresi dan kecemasan di sini
antara lain: penyakit, kecelakaan, operasi/pembedahan, aborsi, dan
lain sebagainyaDalam hal penyakit yang banyak menimbulkan depresi
dan kecemasan adalah penyakit kronis, jantung, kanker, dan
sebagainya.
j. Faktor keluarga
Yang dimaksud di sini adalah faktor stress yang dialami oleh anak dan
remaja yang disebabkan karena kondisi keluarga yang tidak baik
(yaitu sikap orangtua), misalnya:
1) Hubungan kedua orangtua yang dingin, atau penuh ketegangan,
atau  acuh tak acuh.
2) Kedua orangtua jarang di rumah dan tidak ada waktu untuk
bersama dengan anak-anak.
3) Komunikasi antara orangtua dan anak yang tidak baik.
4) Kedua orangtua berpisah atau bercerai.
5) Salah satu orang tua menderita gangguan jiwa/kepribadian.
6) Orangtua dalam pendidikan anak kurang sabar, pemarah,
keras,dan otoriter, dan Iain sebagainya.
Kebanyakan pekerjaan dengan waktu yang sangat sempit ditambah
Iagi dengan tuntutan harus serba cepat dan tepat membuat orang hidup
dalam keadaan ketegangan (stress). Suatu penelitian di kalangan karyawan
Amerika yang tergolong white collar employees, menyebutkan bahwa
44% dari mereka termasuk yang dibebani pekerjaan yang terlampau berat
(over load). Mereka menunjukkan berbagai kelainan yang dapat
dikelompokkan dalam impairment of behavior atau emotional
disturbances. Dalam pada itu para pemimpin perusahaan dikejutkan oleh
besarnya ongkos yang dikeluarkan untuk biaya pengobatan/perawatan dan
kehilangan jam kerja. Dalam suatu penelitian nasional yang dilakukan,
dikemukakan bahwa kerugian dari sektor ini saja diperkirakan meliputi
jumlah antara 50 hingga 75 miliyar dollar setahunnya. Hal ini berarti Iebih
dari 750 dollar Amerika untuk setiap rata-rata karyawan Amerika.
Pengangguran membawa pengaruh bagi kesehatan jiwa. Sumber stress
terpenting bukanlah hakikat kehilangan pekerjaan itu sendiri, tetapi Iebih
bersifat perubahan-perubahan domestik dan psikologis yang berjalan
secara perlahanperlahan. Hal ini lambat Iaun membahayakan kesehatan
individu yang bersangkutan. Dalam salah satu penelitiannya M. Harvey
Brenner dari Universitas John Hopkins, mengemukakan bahwa untuk tiap
1% kenaikan pengangguran di Amerika Serikat tercatat:
a. 1,9% kenaikan kematian akibat penyakitjantung dan pembuluh darah.
b. 4,1% kenaikan kematian akibat bunuh diri.
c. 4,3% kenaikan perawatan bagi pasien baru Iaki-Iaki di rumah sakit
jiwa.
d. 2,3% kenaikan perawatan bagi pasien baru wanita di rumah sakit jiwa.
Suatu penelitian yang dilakukan oleh Thomas Holmes dari Universitas
Washington terhadap para eksekutif (mereka yang bergerak di bidang
usaha dan politik), menunjukkan bahwa 80% dari responden mengalami
stress, depresi, kecemasan. dan penyakit gawat lainnya. Perubahan-
perubahan serba cepat di bidang perdagangan, sosial, politik, dan lain-lain,
membuat para eksekutif sering terkena tekanan (stress). Dengan menjadi
berlipatgandanya tuntutan, baik dalam kehidupan perorangan/perkawinan
maupun perusahaan, maka dalam upaya melayani seseorang yang
melampaui batas kemampuan fisik dan mentalnya.Tantangan-tantangan
yang pernah dihadapinya merupakan pendorong dan motivasi, kini
mengancam ketepatgunaannya selaku pimpinan dan pengambil keputusan,
semata-mata karena jumlahnya yang banyak. Oleh karena itu tidaklah
mengherankan kalau 80% dari mereka terkena stress, kecemasan dan
depresi dengan berbagai komplikasi di bidang penyakit Fisik lainnya.
Dalam salah satu penelitian lainnya menyebutkan bahwa kini di Amerika
Serikat terdapat enam penyebab kematian utama yang erat hubungannnya
dengan stress dan kecemasan, yaitu:
a. Penyakit jantung koroner
b. Kanker
c. Paru-paru
d. Kecelakaan
e. Pengerasan hati
f. Bunuh diri
(Catatan: Harold Jogge, dari Pusat Pengendalian Penyakit Amerika
Serikat,  menyatakan bahwa kini (1995) AIDS merupakan pembunuh
nomor satu, bukan lagi penyakit jantung koroner). Holmes memberikan
gambaran tentang perubahan-perubahan baik yang menyenangkan atau
yang menyusahkan dalam kehidupan seseorang dengan menggunakan
angka-angka yang terkenal dengan istilah skala Holmes. Di samping itu,
ahli jiwa Lyle H. Miller dan Alma Dell Smith dari Universitas Boston,
telah maembuat serangkaian daftar aktivitas sehari-hari yang dapat dinilai
dengan angka. Jumlah angka tertentu menunjukkan tingkat kekebalan
seseorang terhadap stress.
2. Tahapan stress
Firman Allah SWT dalam Surat Al-Fajr: ”Hai jiwa yang tenang.
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam Jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke
dalam surga-Ku.” (QS. 89:27-30)
Gangguan stress biasanya timbul secara lamban, tidak jelas kapan
mulainya dan seringkah‘ kita tidak menyadari. Namun meskipun demikian
dari pengalaman praktik psikiatri, para ahli mencoba membagi stress
tersebut dalam enam tahapan. Setiap tahap memperlihatkan sejumlah
gejala-gejala yang dirasakan oleh yang bersangkutan, hal mana berguna
bagi seseorang dalam rangka mengenali gejala stress sebelum
memeriksakannya ke dokter. Petunjuk-petunjuk tahapan stress tersebut
dikemukakan oleh Robert J. Van Amberg (psikiater) sebagai berikut:
a. Stress tingkat 1
Tahapan ini merupakan tingkat stress yang paling ringan, dan
biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut:
1) Semangat besar.
2) Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya.
3) Energi dan gugup berlebihan, kemampuan menyelesaikan
pekerjaan lebih dari biasanya.
Tahapan ini biasanya menyenangkan dan orang lalu bertambah
semangat tapi tanpa disadari bahwa sebenarnya cadangan
energinya sedang menipis.
b. Stress tingkat II
Dalam tahapan ini dampak stress yang menyenangkan mulai
menghilang dan timbul keluhan-keluhan dikarenakan cadangan
energi tidak Iagi cukup sepanjang hari. Keluhan-keluhan yang
sering dikemukakan sebagai berikut:
1) Merasa Ietih sewaktu bangun pagi.
2) Merasa lelah sesudah makan siang.
3) Merasa lelah menjelang sore hari.
4) Terkadang gangguan dalam sistem pencernaan (gangguan
usus, perut  kembung), kadang-kadang pula jantung
berdebar-debar. Perasaan tegang pada otot-otot punggung
dan tengkuk (belakang Ieher).
5) Perasaan tidak bisa santai.
c. Stress tingkat III
Pada tahapan ini keluhan keletihan semakin nampak disertai
dengan gejala-gejala:
1) Gangguan usus lebih terasa (sakit perut, mulas, sering ingin
ke belakang).
2) Otot-otot terasa Iebih tegang.
3) Perasaan tegang yang semakin meningkat.
4) Gangguan tidur (sukar tidur, sering terbangun malam dan
sukar tidur kembali, atau bangun terlalu pagi).
5) Badan terasa oyong, rasa-rasa mau pingsan (tidak sampai
jatuh pingsan).
Pada tahapan ini penderita sudah harus berkonsultasi pada dokter,
kecuali kalau beban stress atau tuntutan-tuntutan dikurangi, dan
tubuh mendapat kesempatan untuk beristirahat atau relaksasi, guna
memulihkan suplai energi.
d. Stress tingkat IV
Tahapan ini sudah menunjukkan keadaan yang lebih buruk yang
ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1) Untuk bisa bertahan sepanjang hari terasa sangat sulit.
2) Kegiatan-kegiatan yang semula menyenangkan kini terasa
sulit.
3) Kehilangan kemampuan untuk menanggapi situasi,
pergaulan sosial, dan
4) Kegiatan-kegiatan rutin lainnya terasa berat.
5) Tidur semakin sukar, mimpi-mimpi menegangkan, dan
seringkali terbangun dini hari.
6) Perasaan negativistik.
7) Kemampuan berkonsentrasi menurun tajam.
8) Perasaan takut yang tidak dapat dijelaskan, tidak mengerti
mengapa.
e. Stress tingkat V
Tahapan ini merupakan keadaan yang lebih mendalam dari tahapan
IV di atas, yaitu:
1) Keletihan yang mendalam (physical and psychological
exhaustion).
2) Untuk pekerjaan-pekerjaan yang sederhana saja terasa
kurang mampu
3) Gangguan sistem pencernaan (sakit maag dan usus) Iebih
sering, sukar buang air besar atau sebaliknya feses cair dan
sering ke belakang.
4) Perasaan takut yang semakin menjadi, mirip panik.
f. Stress tingkat VI
Tahapan ini merupakan tahapan puncak yang merupakan keadaan
gawat darurat. Tidak jarang penderita dalam tahapan ini dibawa ke
ICCU. GejaIa-gejala pada tahapan ini cukup mengerikan.
1) Debar jantung terasa amat keras, hal ini disebabkan zat
adrenalin yang  dikeluarkan, karena stress tersebut cukup
tinggi dalam peredaran darah.
2) Nafas sesak, megap-megap.
3) Badan gemetar, tubuh dingin, keringat bercucuran.
4) Tenaga untuk hal-hal yang ringan sekalipun tidak kuasa
Iagi, pingsan atau collaps.
Bilamana diperhatikan, maka dalam tahapan stress di atas,
menunjukkan manifestasi di bidang fusik dan psikis. Di bidang
fisik berupa kelelahan, sedangkan di bidang psikis berupa
kecemasan dan depresi. Hal ini dikarenakan penyediaan energi
fisik maupun mental yang mengalami defisit terus-menerus. Sering
buang air kecil dan sukar tidur merupakan pertanda dari depresi.

C. Mode penanganan dilihat dari beberapa jurnal


1. Jurnal PENGARUH TEKNIK MANAJEMEN STRESS TERHADAP
PENURUNAN TINGKAT STRESS PADA LANSIA DI PANTI
SOSIAL TRESNA WERDHA PUSPAKARMA MATARAM
menyampaikan bahwa melakukan teknik manajemen stres selama 3
kali dalam seminggu memiliki pengaruh terhadap penurunan tingkat
stres pada lansia yang tinggal di Panti Sosial. Dengan diberikan teknik
manajemen stres selama 3 kali dalam seminggu terbukti dapat
menurunkan tingkat stres pada lansia.
2. Jurnal PENGARUH RELIGIUSITAS TERHADAP MANAJEMEN
STRES PADA SISWA KELAS XII SMA NEGERI 1 KASIHAN
menyampaikam manajemen stress siswa kelas XII di SMA Negeri 1
Kasihan berada pada kategorisasi tingkat tinggi yaitu total keseluruhan
responden yang berjumlah 75 siswa, sebanyak 63 siswa (84%)
memiliki manajemen stres yang tinggi dan sebanyak 12 siswa (16%)
memiliki manajemen stres yang sedang. Sementara siswa dengan
manajemen stresnya rendah tidak ada (0%).
3. Jurnal PENGARUH MANAJEMEN STRES TERHADAP
PENURUNAN TINGKAT STRES PADA NARAPIDANA DI LPW
MALANG menyampaikan manajemen stres tidak memiliki pengaruh
yang signifikan untuk menurunkan tingkat stres narapidana wanita di
Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Malang. Namun
manajemen stres tetap memberikan sumbangan untuk menurunkan
stres narapidana, meskipun sumbangan itu sedikit. Ini tampak pada
skor posttest subjek yang mengalami penurunan dari tinggi ke sedang
dan tinggi ke rendah sekali. Dari penemuan ini, dapat disimpulkan
bahwa tidak selalu suatu metode efektif di suatu tempat akan menjadi
efektif di tempat lain. Namun, manajemen stres tetap dapat
dimanfaatkan oleh trainer dalam rangka memberikan proses bantuan
kepada narapidana yang mengalami stres untuk menurunkan tingkat
stresnya. Hal itu tentunya tetap akan memiliki arti bagi narapidana
yang menjalani masa hukuman di lapas.
4. Jurnal MANAJEMEN STRESS DENGAN TEKNIK RELAKSASI
UNTUK MENGURANGI STRESS PADA PENDERITA 
PSORIASIS menyampaikan bahwa penerapan manajemen stress
dengan teknik relaksasi dapat mengurangi stress penderita psoriasis
sehingga dapat meminimalisir kekambuhan atau perburukan kondisi
penyakitnya. Hal ini dikarenakan teknik relaksasi dapat membantu
mencegah atau meminimalkan gejala fisik akibat stress ketika tubuh
bekerja berlebihan dan menyelesaikan masalah seharihari. Sehingga
penderita psoriasis dapat mengelola stressnya dengan baik. Dapat
tetap tenang,  rileks,  dan terkendali adalah bagian penting dari
kemampuan mengubah situasi yang membuat stress dengan cara yang
positif. Tidak ada modifikasi sikap atau tingkah laku yang dapat
secara total menggantikan relaksasi sebagai alat yang efektif untuk
mengurangi stress.
5. Jurnal HUBUNGAN SPIRITUALITAS DENGAN STRES LANSIA
DI PUSKESMAS PAKJO PALEMBANG menyampaikan bahwa
semakin tinggi tingkat spiritualitas maka tingkat stress lansia akan
semakin rendah. Oleh karena itu, edukasi dan pendampingn pasien
lansia dengan mendorong dalam meningkatkan kegiatan ibadah;
membaca, mempelajari, dan merenungkan kitab suci; serta
meningkatkan interaksi sosial dengan orang lain dalam kegiatan dan
aktivitas keagamaan dapat menjadi strategi dalam intervensi
keperawatan yang diberikan perawat sehingga asuhan yang diberikan
lebih holistik
Dari berbagai jurnal yang kami temukan maka dapat diketahui bahwa
ada berbagai macam cara penanganan stress yang bisa di lakukan
untuk penanganan stress.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
stres diawali dengan adanya ketidakseimbangan antara tuntutan dan
sumber daya yang dimiliki individu, semakin tinggi kesenjangan terjadi
semakin tinggi pula tingkat stress yang dialami individu, dan akan merasa
terancam. Berbagai pendekatan mengenai stress yang telah dikemukakan
oleh para ahli tentang stress.
Kondisi pasien yang kritis, beban kerja yang sangat tinggi, serta
lingkungan Instalasi Perawatan Intensif dapat menjadi sumber stres bagi
perawat tersebut. Stres menurut Hans Selye (1974) adalah respons tubuh
yang sifatnya adaptif pada setiap perlakuan yang menimbulkan perubahan
fisik atau emosi. Stres juga dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan
mengatasi ancaman yang dihadapi oleh mental, fisik, emosional, dan
spiritual manusia yang pada suatu saat dapat mempengaruhi kesehatan
fisik manusia tersebut.
Daftar Pustaka

Amir An-Nazar.2001.Ilmu Jiwa dalam Tasawwuf. Jakarta : Widya Medika


Jamaludin Ancok dan Fuad Nashori Suroso.2001. Psikologi Islami, Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
Keliat, Budi Anna dkk.2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 2.
Jakarta : EGC.
Atkinson, Rita L & Richard C. Atkinson.1999. Pengantar Psikologi. Jilid 2.
Jakarta : Erlangga.
Iyus, Yosep.2010. Keperawatan Jiwa. Bandung: Rafika Adibta
Santosa, Eka Made, M Ikhsan & Ida Bagus Yoga Pratama.2016. Pengaruh Teknik
Manajemen Stress Terhadap Penurunan Tingkat Stress Pada Lansia
Dipanti Sosial Tresna Werdha Puspakarma Mataram.Vol 2
Saputra, Sangaji Dwi.2016. Pengaruh Religiusitas Terhadap Managemen Stress
Pada Siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Kasihan.
Segaraayu, Rizky Dianita.2013. Pengaruh Managemen Stres Terhadap
Penurunan Tingkat Stres pada Narapidana di LPW Malang.
Saptarini , Suryaning.2010.Manajemen Stress Dengan Teknik Relaksasi Untuk
Mengurangi Stress Pada Penderita Psoriasis.
Koerniawan, Dheni, Uci Candrawulan.2018. Hubungan Spiritualitas Dengan
Stress Lansia Dipuskesmaspakjo Palembang. Vol 3