Anda di halaman 1dari 40

MAKALAH K3 KEPERAWATAN

“ROOT CASE ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK”

Diusun Oleh :

Kelompok 3

1. Ahmad Saifudin ( Sk117002)


2. Azidatun Nasihah (SK117006)
3. Fika Rizkiatul. M ( Sk117012)
4. Putri Rahma Dani ( Sk117025)
5. Solikhatun ( Sk117031)
6. Ana Yesika Endang. L ( Sk118006)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

2019/2020
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji kehadirat Allah SWT, pencipta alam semesta, tidak
lupa sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad saw.
karena atas rahmat dan karunia Allah tugas ini dapat kami selesaikan. Tidak lupa
kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing, dan teman–teman semua
yang telah berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.

Tugas ini dibuat untuk memenuhi tugas akademik terstruktur keperawatan


Anak Program Studi S1 Keperawatan dan untuk memudahkan mahasiswa dalam
memahami makalah ini.

Demikianlah makalah ini kami susun. Dengan harapan dapat bermanfaat bagi
siapa saja yang membacanya. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu, semua krtik dan saran senantiasa kami harapkan
untuk kesempurnaan makalah ini agar menjadi lebih baik.

Kendal 28 maret 2020

kelompok 3
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................................i

DAFTAR ISI...............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1

A. Latar belakang.............................................................................................1
B. Tujuan penulisan ........................................................................................2
Tujuan umum .......................................................................................2
Tujuan khusus ......................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................3

A. Definisi tunanetra ......................................................................................3


B. Klasifikasi tunanetra...................................................................................4
C. Etologi tunanetra.........................................................................................5
D. Karaktristik anak tunanetra.........................................................................8
E. Dampak tunanetra.......................................................................................8
F. Pemeriksaan penunjang tunanetra...............................................................9

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA TUNANETRA ...........................13

A. Pengkajian.................................................................................................13
B. Diagnosa...................................................................................................14
C. Intervensi...................................................................................................14
D. Evaluasi ....................................................................................................16

BAB IV PENUTUP...................................................................................................17

A. Kesimpulan ..............................................................................................17
B. Saran ........................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................18
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Sensori adalah stimulus atatu rangsangan yang datang dari dalam


maupun luar tubuh. Stimulus tersebut masuk kedalam tubuh melaui organ
sensori (panca indera). Stimulus yang sempurna memungkinkan seseorang
untuk belajar berfungsi secara sehat dan berkembang dengan normal.
Gangguan penglihatan adalah kondisi yang ditandai dengan penurunan
tajam penglihatan ataupun menurunnya luas lapangan pandang, yang dapat
mengakibatkan kebutaan.

WHO memperkirakan terdapat 45 juta penderita kebutaan di dunia, di


mana sepertigannya berada di Asi Tenggara. Diperkirakan 12 orang
menjadi buta tiap menit di dunia, dan 4 orang diantaranya berasal dari
Asia Tenggara, sedangkan di Indonesia diperkirakan setiap menit ada satu
orang menjadi buta. Sebagian besar orang buta (tunanetra) di Indonesia
berada di daerah miskin dengan kondisi sosial ekonomi lemah. Survey
kesehatan indera penglihatan dan pendengaran tahun, menunjukkan angka
kebutaan di Indonesia mencapai 1,5%. Penyebab utama kebutaan adalah
katarak (0,78%), glaucoma (0,20%), kelainan refraksi (0,14%), dan
penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan lanjut usia (0,38%).

Sejak 1984, Upaya Kesehatan Mata atau pencegahan kebutaan


(UKM/PK) sudah diintegrasikan kedalam kegiatan pokok Puskesmas.
Sedangkan program Penanggulangan Kebutaan Katarak Paripurna (PKKP)
dimulai sejak 1987 baik melalui Rumah Sakit(RS) maupun Balai
Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM). Namun demikian, hasil survei
tahun 1993-1996 menunjukkan bahwa angka kebutaan meningkat dari
1,2% (1982) menjadi 1,5% (1993-1996), padahal 90% kebutaan dapat
ditanggulangi (dicegah atau diobati). Disamping itu masalah kebutaan,
gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi dengan prevalensi sebesar
22,1% juga menjadi masalah serius. Sementara 10% dari 66 juta anak usia
(5-19 tahun) menderita kelainan refraksi. Sampai saat ini angka pemakaian
kacamata koreksi masih rendah yaitu 12,5% dari prevalensi.
B. Tujuan

1. Untuk mengetahui definisi tuna netra.

2. Untuk mengetahui klasifikasi tuna netra.

3. Untuk mengetahui etiologi tuna netra.

4. Untuk mengetahui patofisiologi tuna netra.

5. Untuk mengetahui manifestasi klinis tuna netra

6. Untuk mengetahui komplikasi tuna netra .

7. Untuk mengetahui pemeriksaan medis tuna netra.

8. Untuk mengetahui penatalaksanaan tuna netra.

9. Untuk mengetahui asuhan keperawatan tuna netra.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi

Tunanetra adalah kondisi yang ditandai dengan penurunan tajam


penglihatan ataupun menurunnya luas lapangan pandang, yang dapat
mengakibatkan kebutaan (Quigley dan Broman, 2006).

Tunanetra adalah Seseorang yang terhambat mobilitas gerak yang


disebabkan oleh hilang/berkurangnya fungsi penglihatan sebagai akibat
dari kelahiran, kecelakaan maupun penyakit (Marjuki, 2009).

Menurut kamus besar bahasa Indonesia pengertian tunanetra ialah


tidak dapat melihat, buta. Sedangkan menurut Direktorat Pembinaan
Sekolah Luar Biasa yang dimaksud dengan tunanetra adalah seseorang
yang memiliki hambatan dalam penglihatan atau tidak berfungsinya indera
penglihatan. Karena adanya hambatan dalam penglihatan serta tidak
berfungsinya penglihatan (Heward & Orlansky, 1988 cit Akbar 2011).
Anak yang mengalami gangguan penglihatan dapat didefinisikan sebagai
anak yang rusak penglihatannya yang walaupun dibantu dengan perbaikan,
masih mempunyai pengaruh yang merugikan bagi anak yang yang
bersangkutan (Scholl, 1986:p.29). Pengertian ini mencakup anak yang
masih memiliki sisa penglihatan dan yang buta.
B. Klasifikasi
Klasifikasi yang dialami oleh anak tunanetra, antara lain : Menurut
Lowenfeld, (1955:p.219), klasifikasi anak tunanetra yang didasarkan pada
waktu terjadinya ketunanetraan, yaitu :

1. Tunanetra sebelum dan sejak lahir; yakni mereka yang sama sekali
tidak memiliki pengalaman penglihatan.

2. Tunanetra setelah lahir atau pada usia kecil; mereka telah memiliki
kesan-kesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat dan mudah
terlupakan.

3. Tunanetra pada usia sekolah atau pada masa remaja; mereka telah
memiliki kesan-kesan visual dan meninggalkan pengaruh yang
mendalam terhadap proses perkembangan pribadi.
4. Tunanetra pada usia dewasa; pada umumnya mereka yang dengan
segala kesadaran mampu melakukan latihan-latihan penyesuaian diri.
5. Tunanetra dalam usia lanjut; sebagian besar sudah sulit mengikuti
latihan-latihan penyesuaian diri.

6. Tunanetra akibat bawaan (partial sight bawaan

Klasifikasi anak tunanetra berdasarkan kemampuan daya penglihatan,


yaitu:

a. Tunanetra ringan (defective vision/low vision); yakni mereka yang


memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat
mengikuti program-program pendidikan dan mampu melakukan
pekerjaan/kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan.

b. Tunanetra setengah berat (partially sighted); yakni mereka yang


kehilangan sebagian daya penglihatan, hanya dengan menggunakan
kaca pembesar mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu
membaca tulisan yang bercetak tebal.

c. Tunanetra berat (totally blind); yakni mereka yang sama sekali tidak
dapat melihat.

Menurut WHO, klasifikasi didasarkan pada pemeriksaan klinis,


yaitu :
a. Tunanetra yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200
dan atau memiliki bidang penglihatan kurang dari 20 derajat.

b. Tunanetra yang masih memiliki ketajaman penglihatan antara 20/70


sampai dengan 20/200 yang dapat lebih baik melalui perbaikan.
Menurut Hathaway, klasifikasi didasarkan dari segi pendidikan,
yaitu :
a. Anak yang memiliki ketajaman penglihatan 20/70 atau kurang setelah
memperoleh pelayanan medik.

b. Anak yang mempunyai penyimpangan penglihatan dari yang normal


dan menurut ahli mata dapat bermanfaat dengan menyediakan atau
memberikan fasilitas pendidikan yang khusus.

Menurut Howard dan Orlansky, klasifikasi didasarkan pada


kelainan-kelainan yang terjadi pada mata, kelainan ini disebabkan karena
adanya kesalahan pembiasan pada mata. Hal ini terjadi bila cahaya tidak
terfokus sehingga tidak jatuh pada retina. Peristiwa ini dapat diperbaiki
dengan memberikan lensa atau lensa kontak. Kelainan-kelainan itu, antara
lain :

a. Myopia; adalah penglihatan jarak dekat, bayangan tidak terfokus dan


jatuh di belakang retina. Penglihatan akan menjadi jelas kalau objek
didekatkan. Untuk membantu proses penglihatan pada penderita
Myopia digunakan kacamata koreksi dengan lensa negatif.
b. Hyperopia; adalah penglihatan jarak jauh, bayangan tidak terfokus dan
jatuh di depan retina. Penglihatan akan menjadi jelas jika objek
dijauhkan. Untuk membantu proses penglihatan pada penderita
Hyperopia digunakan kacamata koreksi dengan lensa positif.

c. Astigmatisme; adalah penyimpangan atau penglihatan kabur yang


disebabkan karena ketidakberesan pada kornea mata atau pada
permukaan lain pada bola mata sehingga bayangan benda baik pada
jarak dekat maupun jauh tidak terfokus jatuh pada retina. Untuk
membantu proses penglihatan pada penderita astigmatisme digunakan
kacamata koreksi dengan lensa silindris.

C. Etiologi

Faktor yang menyebabkan terjadinya ketunanetraan antara lain:

1. Pre-natal

Faktor penyebab ketunanetraan pada masa pre-natal sangat erat


hubungannya dengan masalah keturunan dan pertumbuhan seorang
anak dalam kandungan, antara lain:

a. Keturunan

Ketunanetraan yang disebabkan oleh faktor keturunan


terjadi dari hasil perkawinan bersaudara, sesama tunanetra atau
mempunyai orang tua yang tunanetra. Ketunanetraan akibat faktor
keturunan antara lain Retinitis Pigmentosa, penyakit pada retina
yang umumnya merupakan keturunan. Penyakit ini sedikit demi
sedikit menyebabkan mundur atau memburuknya retina. Gejala
pertama biasanya sukar melihat di malam hari, diikuti dengan
hilangnya penglihatan periferal, dan sedikit saja penglihatan pusat
yang tertinggal.

b. Pertumbuhan seorang anak dalam kandungan


Ketunanetraan yang disebabkan karena proses pertumbuhan
dalam kandungan dapat disebabkan oleh:
1) Gangguan waktu ibu hamil.
2) Penyakit menahun seperti TBC, sehingga merusak sel-sel darah
tertentu selama pertumbuhan janin dalam kandungan.
3) Infeksi atau luka yang dialami oleh ibu hamil akibat terkena
rubella atau cacar air, dapat menyebabkan kerusakan pada
mata, telinga, jantung dan sistem susunan saraf pusat pada
janin yang sedang berkembang.
4) Infeksi karena penyakit kotor, toxoplasmosis, trachoma dan
tumor. Tumor dapat terjadi pada otak yang berhubungan
dengan indera penglihatan atau pada bola mata itu sendiri.

5) Kurangnya vitamin tertentu, dapat menyebabkan gangguan


pada mata sehingga hilangnya fungsi penglihatan.

2. Post-natal
Penyebab ketunanetraan yang terjadi pada masa post-natal dapat
terjadi sejak atau setelah bayi lahir antara lain:
a. Kerusakan pada mata atau saraf mata pada waktu persalinan, akibat
benturan alat-alat atau benda keras.
b. Pada waktu persalinan, ibu mengalami penyakit gonorrhoe,
sehingga baksil gonorrhoe menular pada bayi, yang pada ahkirnya
setelah bayi lahir mengalami sakit dan berakibat hilangnya daya
penglihatan.
c. Mengalami penyakit mata yang menyebabkan ketunanetraan,
misalnya:
1) Xeropthalmia; yakni penyakit mata karena kekurangan vitamin
A.
2) Trachoma; yaitu penyakit mata karena virus chilimidezoon
trachomanis.
3) Catarac; yaitu penyakit mata yang menyerang bola mata
sehingga lensa mata menjadi keruh, akibatnya terlihat dari luar
mata menjadi putih.
4) Glaucoma; yaitu penyakit mata karena bertambahnya cairan
dalam bola mata, sehingga tekanan pada bola mata meningkat.
5) Diabetik Retinopathy; adalah gangguan pada retina yang
disebabkan karena diabetis. Retina penuh dengan pembuluh-
pembuluh darah dan dapat dipengaruhi oleh kerusakan sistem
sirkulasi hingga merusak penglihatan.
6) Macular Degeneration; adalah kondisi umum yang agak baik,
dimana daerah tengah dari retina secara berangsur memburuk.
Anak dengan retina degenerasi masih memiliki penglihatan
perifer akan tetapi kehilangan kemampuan untuk melihat secara
jelas objek-objek di bagian tengah bidang penglihatan.
7) Retinopathy of prematurity; biasanya anak yang mengalami ini
karena lahirnya terlalu prematur. Pada saat lahir masih
memiliki potensi penglihatan yang normal. Bayi yang
dilahirkan prematur biasanya ditempatkan pada inkubator yang
berisi oksigen dengan kadar tinggi, sehingga pada saat bayi
dikeluarkan dari inkubator terjadi perubahan kadar oksigen
yang dapat menyebabkan pertumbuhan pembuluh darah
menjadi tidak normal dan meninggalkan semacam bekas luka
pada jaringan mata. Peristiwa ini sering menimbulkan
kerusakan pada selaput jala (retina) dan tunanetra total.

d. Kerusakan mata yang disebabkan terjadinya kecelakaan, seperti


masuknya benda keras atau tajam, cairan kimia yang berbahaya,
kecelakaan dari kendaraan, dll.

D. Karaktristik anak tunanetra

1. Fisik (Physical)
Keadaan fisik anak tunanetra tidak berbeda dengan anak sebaya
lainnya. Perbedaan nyata diantara mereka hanya terdapat pada organ
penglihatannya. Gejala tunanetra yang dapat diamati dari segi fisik
diantaranya :
a. Mata juling
b. Sering berkedip
c. Menyipitkan mata
d. (kelopak) mata merah
e. Mata infeksi
f. Gerakan mata tak beraturan dan cepat
g. Mata selalu berair (mengeluarkan air mata)

h. Pembengkakan pada kulit tempat tumbuh bulu mata.

2. Perilaku
Ada beberapa gejala tingkah laku yang tampak sebagai petunjuk
dalam mengenal anak yang mengalami gangguan penglihatan secara
dini :
a. Menggosok mata secara berlebihan.
b. Menutup atau melindungi mata sebelah, memiringkan kepala atau
mencondongkan kepala ke depan.
c. Sukar membaca atau dalam mengerjakan pekerjaan lain yang
sangat memerlukan penggunaan mata.
d. Berkedip lebih banyak daripada biasanya atau lekas marah apabila
mengerjakan suatu pekerjaan.
e. Membawa bukunya ke dekat mata.
f. Tidak dapat melihat benda-benda yang agak jauh.
g. Menyipitkan mata atau mengkerutkan dahi.
h. Tidak tertarik perhatiannya pada objek penglihatan atau pada
tugas-tugas yang memerlukan penglihatan seperti melihat gambar
atau membaca.
i. Janggal dalam bermain yang memerlukan kerjasama tangan dan
mata.

j. Menghindar dari tugas-tugas yang memerlukan penglihatan atau


memerlukan penglihatan jarak jauh

Penjelasan lainnya berdasarkan adanya beberapa keluhan seperti :


a. Mata gatal, panas atau merasa ingin menggaruk karena gatal.
b. Banyak mengeluh tentang ketidakmampuan dalam melihat.
c. Merasa pusing atau sakit kepala.

d. Kabur atau penglihatan ganda.

3. Psikis
Secara psikis anak tunanetra dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Mental/intelektual

Intelektual atau kecerdasan anak tunanetra umumnya tidak


berbeda jauh dengan anak normal/awas. Kecenderungan IQ anak
tunanetra ada pada batas atas sampai batas bawah, jadi ada anak
yang sangat pintar, cukup pintar dan ada yang kurang pintar.
Intelegensi mereka lengkap yakni memiliki kemampuan dedikasi,
analogi, asosiasi dan sebagainya. Mereka juga punya emosi negatif
dan positif, seperti sedih, gembira, punya rasa benci, kecewa,
gelisah, bahagia dan sebagainya.

b. Sosial
Hubungan sosial yang pertama terjadi dengan anak adalah
hubungan dengan ibu, ayah, dan anggota keluarga lain yang ada di
lingkungan keluarga. Kadang kala ada orang tua dan anggota
keluarga yang tidak siap menerima kehadiran anak tunanetra,
sehingga muncul ketegangan, gelisah di antara keluarga. Akibat
dari keterbatasan rangsangan visual untuk menerima perlakuan
orang lain terhadap dirinya.

Tunanetra mengalami hambatan dalam perkembangan


kepribadian dengan timbulnya beberapa masalah antara lain:
1) Curiga terhadap orang lain
2) Perasaan mudah tersinggung

3) Ketergantungan yang berlebihan

4. Akademis
Karakteristik Anak Tunanetra dalam Aspek Akademis Tilman &
Osborn (1969) menemukan beberapa perbedaan antara anak tunanetra
dan anak awas.
a. Anak tunanetra menyimpan pengalaman-pengalaman khusus
seperti halnya anak awas, namun pengalaman-pengalaman tersebut
kurang terintegrasikan.
b. Anak tunanetra mendapatkan angka yang hampir sama dengan
anak awas, dalam hal berhitung, informasi, dan kosakata, tetapi
kurang baik dalam hal pemahaman (comprehention) dan persaman.

c. Kosa kata anak tunanetra cenderung merupakan kata-kata yang


definitif.

5. Low Vision
Beberapa ciri yang tampak pada anak low vision antara lain:
a. Menulis dan membaca dengan jarak yang sangat dekat.
b. Hanya dapat membaca huruf yang berukuran besar.
c. Mata tampak lain; terlihat putih di tengah mata (katarak) atau
kornea (bagian bening di depan mata) terlihat berkabut.
d. Terlihat tidak menatap lurus ke depan.
e. Memicingkan mata atau mengerutkan kening terutama di cahaya
terang atau saat mencoba melihat sesuatu.
f. Lebih sulit melihat pada malam hari daripada siang hari.

g. Pernah menjalani operasi mata dan atau memakai kacamata yang


sangat tebal tetapi masih tidak dapat melihat dengan jelas.

E. Dampak tunanetra
Penglihatan merupakan salah satu saluran informasi yang sangat
penting bagi manusia selain pendengaran, pengecap, pembau, dan
perabaan. Pengalaman manusia kira-kira 80 persen dibentuk berdasarkan
informasi dari penglihatan. Di bandingkan dengan indera yang lain indera
penglihatan mempunyai jangkauan yang lebih luas. Pada saat seseorang
melihat sebuah mobil maka ada banyak informasi yang sekaligus
diperoleh seperti misalnya warna mobil, ukuran mobil, bentuk mobel, dan
lain-lain termasuk detail bagian-bagiannya. Informasi semacam itu tidak
mudah diperoleh dengan indera selain penglihatan. Kehilangan indera
penglihatan berarti kehilangan saluran informasi visual. Sebagai akibatnya
menyandang kelainan penglihatan akan kekuarangan atau kehilangan
informasi yang bersifat visual. Seseorang yang kehilangan atau mengalami
kelainan penglihatan, sebagai kompensasi, harus berupaya untuk
meningkatkan indera lain yang masih berfungsi. Seberapa jauh dampak
kehilangan atau kelainan penglihatan terhadap kemampuan seseorang
tergantung pada banyak faktor misalnya kapan (sebelum atau sesudah
lahir, masa balita atau sesudah lima tahun) terjadinya kelainan, berat
ringannya kelainan, jenis kelainan dan lain-lain. Seseorang yang
kehilangan penglihatan sebelum lahir sering sampai usia lima tahun
pengalaman visualnya sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.
Sedangkan yang kehilangan penglihatan setelah usia lima tahun atau lebih
dewasa biasanya masih memiliki pengalaman visual yang lebih baik tetapi
memiliki dampak yang lebih buruk terhadap penerimaan diri.

1. Dampak terhadap Kognisi

Kognisi adalamh persepsi individu tentang orang lain dan obyek-


obyek yang diorganisasikannya secara selektif. Respon individu
terhadap orang dan obyek tergantung pada bagaimana orang dan obyek
tersebut tampak dalam dunia kognitifnya ,dan citra atau “peta” dunia
setiap orang itu bersifat individual. Setiap orang mempunyai citra
dunianya masing-masing karena citra tersebut merupakan produk yang
ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan fisik dan sosisalnya, struktur
fisiologisnya, keinginan dan tujuannya, dan pengalaman-pengalaman
masa lalunya. Dari keempat faktor yang menentukan kognisi individu
tunanetra menyandang kelainan dalam struktur fisiologisnya, dan
mereka harus menggantikan fungsi indera penglihatan dengan indera-
indera lainnya untuk mempersepsi lingkungannya. Banyak di antara
mereka tidak pernah mempunyai pengalaman visual, sehingga
konsepsi mereka tentang dunia ini mungkin berbeda dari konsepsi
orang normal pada umumnya.

2. Dampak terhadap Keterampilan Sosial


Orang tua memainkan peranan yang penting dalam perkembangan
sosial anak. Perlakuan orang tua terhadap anaknya yang tunanetra
sangat ditentukan oleh sikapnya terhadap ketunanetraan itu, dan emosi
merupakan satu komponen dari sikap di samping dua komponen
lainnya yaitu kognisi dan kecenderungan tindakan. Ketunanetraan
yang terjadi pada seorang anak selalu menimbulkan masalah
emosional pada orang tuanya. Ayah dan ibunya akan merasa kecewa,
sedih, malu dan berbagai bentuk emosi lainnya. Mereka mungkin akan
merasa bersalah atau saling menyalahkan, mungkin akan diliputi oleh
rasa marah yang dapat meledak dalam berbagai cara, dan dalam kasus
yang ekstrem bahkan dapat mengakibatkan perceraian. Persoalan
seperti ini terjadi pada banyak keluarga yang mempunyai anak cacat.
Pada umumnya orang tua akan mengalami masa duka akibat
kehilangan anaknya yang “normal” itu dalam tiga tahap; tahap
penolakan, tahap penyesalan, dan akhirnya tahap penerimaan,
meskipun untuk orang tua tertentu penerimaan itu mungkin akan
tercapai setelah bertahun-tahun. Proses “dukacita” ini merupakan
proses yang umum terjadi pada orang tua anak penyandang semua
jenis kecacatan. Sikap orang tua tersebut akan berpengaruh terhadap
hubungan di antara mereka (ayah dan ibu) dan hubungan mereka
dengan anak itu, dan hubungan tersebut pada gilirannya akan
mempengaruhi perkembangan emosi dan sosial anak.

3. Dampak terhadap Bahasa

Pada umumnya para ahli yakin bahwa kehilangan penglihatan tidak


berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan memahami dan
menggunakan bahasa, dan secara umum mereka berkesimpulan bahwa
tidak terdapat defisiensi dalam bahasa anak tunanetra. Mereka
mengacu pada banyak studi yang menunjukkan bahwa siswa-siswa
tunanetra tidak berbeda dari siswa-siswa yang normal dalam hasil tes
intelegensi verbal. Mereka juga mengemukakan bahwa berbagai studi
yang membandingkan anak-anak tunanetra dan normal tidak
menemukan perbedaan dalam aspek-aspek utama perkembangan
bahasa. Karena persepsi auditif lebih berperan daripada persepsi visual
sebagai media belajar bahasa, maka tidaklah mengherankan bila
berbagai studi telah menemukan bahwa anak tunanetra relatif tidak
terhambat dalam fungsi bahasanya. Banyak anak tunanetra bahkan
lebih termotivasi daripada anak normal untuk menggunakan bahasa
karena bahasa merupakan saluran utama komunikasinya dengan orang
lain. Secara konseptual sama bagi anak tunanetra maupun anak normal,
karena makna kata-kata dipelajarinya melalui konteksnya dan
penggunaannya di dalam bahasa. Sebagaimana halnya dengan semua
anak, anak tunanetra belajar kata-kata yang didengarnya meskipun
kata-kata itu tidak terkait dengan pengalaman nyata dan tak ada makna
baginya. Kalaupun anak tunanetra mengalami hambatan dalam
perkembangan bahasanya, hal itu bukan semata-mata akibat langsung
dari ketunanetraannya melainkan terkait dengan cara orang lain
memperlakukannya. Ketunanetraan tidak menghambat pemrosesan
informasi ataupun pemahaman kaidah-kaidah bahasa.

4. Dampak terhadap Orientasi dan Mobilitas

Mungkin kemampuan yang paling terpengaruh oleh ketunanetraan


untuk berhasil dalam penyesuaian social individu tunanetra adalamh
kemampuan mobilitas yaitu keterampilan untuk bergerak secara
leluasa di dalam lingkungannya. Ketrampilan mobilitas ini sangat
terkait dengan kemampuan orientasi, yaitu kemampuan untuk
memahami hubungan lokasi antara satu obyek dengan obyek lainnya di
dalam lingkungan. Untuk membentuk mobilitas itu, alat bantu yang
umum dipergunakan oleh orang tuna netra di Indonesia adalamh
tongkat, sedangkan di banyak negara barat penggunaan anjing
penuntun (guide dog) juga populer. Dan penggunaan alat elektronik
untuk membantu orientasi dan mobilitas individu tunanetra masih terus
dikembangkan. Agar anak tuna netra memiliki rasa percaya diri untuk
bergerak secara leluasa di dalam lingkungannya dalam bersosialisasi,
mereka harus memperoleh latihan orientasi dan mobilitas. Program
latihan orientasi dan mobilitas tersebut harus mencakup sejumlah
komponen, termasuk kebugaran fisik, koordinasi motor, postur,
keleluasaan gerak, dan latihan untuk mengembangkan fungsi indera –
indera yang masih berfungsi.

F. Pemeriksaan penunjang

1. Tonometri (dengan schiøtz pneumatic atau tonometer aplanasi)


mengukur tekanan intraokuler dan memberikan nilai dasar untuk
perujukan. Rentang tekanan intraokuler normal berkisar dari 8 sampai
21mmHg. Akan tetapi, pasien yang IOPnya menurun dari rentang
normal dapat mengalami tanda dan gejala glaucoma dan pasien yang
mempunyai tekanan tinggi mungkin tidak menunjukkan efek klinis.
2. Pemeriksaan slit lamp memperlihatkan efek glaucoma pada stuktur
mata anterior, meliputi kornea, iris dan lensa.
3. Gonioskopi menentukan sudut ruang anterior mata
4. Oftalmoskopi mempermudah visualisasi fundus.
5. Perimetrik atau pemeriksaan lapang pandang menentukan keluasaan
kehilangan penglihatan perifer
6. Fotografi fundus memantau dan mencatat perubahan pada discus
optikus.
7. Pemeriksaan ketajaman penglihatan memastikan derajat kehilangan
penglihatan.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN.Z
DENGAN KEBUTUHAN KHUSUS : TUNANETRA

A. Pengkajian
Tanggalpengkajian : 28 Maret 2020
Jam : 07.00 WIB
1. Identitas

No. RM : 23518
Nama : An. Z
Alamat : Kendal
Tempat / tanggal Lahir : Kendal, 24 Fbruari 2014
Usia : 6 tahun
Nama Ayah / Ibu : Tn.F/Ny.S
Pekerjaan Ayah : Supir
Pekerjaan Ibu : Ibu rumah tangga
Pendidikan Ayah : SMP
Pendidikan Ibu : SMP
Agama : Islam
Suku Bangsa    : Jawa

2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Keluhan utama masalah kesehatan yang dialami oleh An.Z adalah
Gangguan penglihatan.
b. Riwayat kesehatan: ibu An.Z mengatakan bahwa ankanya
mengalami gangguan penglihatan yaitu mata kelopak matanya
menutup.
c. Keadaan umum: kemampuan kemandirian An.Z sangat bergantung
pada ibunya, contohnya saat mengenakan pakaian, mandi,toileting.
Tetapi bisa makan sendiri tanpa disuapi.
d. Riwayat sosial: An. Z yang tinggal dengan kedua ortuanya dan
kakak perempuannya. Saat kesekolah di antar jemput oleh ibunya.
Sejak kecil selalu di bantu ibunya untuk melakukan aktifitas sehari
hari, saat ini klien mampu mengganti pakaian sendiri, dan mandiri
terhadap kebutuhan eliminasi. Kebutuhan makan disediakan oleh
ibunya, klien mampu makan dan minum sendiri.
e. Kemampuan kemandirian: Ketersedian baju ganti oleh orang tuanya,
klien masih dibantu memakai baju . Klien masih minta bantuan
untuk mengenali tempat eliminasi yang ada di samping kelas. klien
mampu makan sendiri.
f. Pada pemeriksaan berfocus pada mata: tampak kedua bola mata
kecil, kelopak mata atas tidak bisa di buka hanya ada kernyitan,
kedua kornea mata tampak keputihan, tidak bisa mengidentifikasi
objek di depan matanya.
g. Genogram

Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Tinggal 1 rumah
: Keturunan
: Pernikahan
: Klien

An. Z adalah anak kedua dari dua orang bersaudara, An.Z tinggal
bersama kedua orang tuannya yaitu ayah dan ibunya beserta kakak
Perempuanya. Ibu An. Z mengatakan bahwa didalam keluarganya
tidak ada riwayat Tunanetra yang seperti dialami An.Z saat ini.
h. Kebutuhan dasar
1) Pola Makan
Ibu An.Z mengatakan bahwa pola makan An. Z baik, sehari
makan 3x , dengan frekuensi 1 piring.
2) Pola Tidur
An.Z tidak memiliki kebiasaan bercerita sebelum tidur. ibu klien
mengatakan jika sebelum tidur malam hari An. Z minum susu.
Tidur An.Z dirasa cukup baik tidak ada masalah dan tidak ada
gangguan apapun saat klien tertidur. Dalam sehari klien tidur
selama ±9– 10 jam.
3) Mandi
An.Z mandi 2x dalam sehari. Setiap ibu klien memandikan,
klien selalu diberikan sabun, shampo, dan menyikat gigi
4) Aktivitas Bermain
Ibu An.Z mengatakan dalam kesehariannya An.Z adalah anak
yang cukup aktif dan kooperatif, karena sudah dilatih sejak
kecil untuk berbaur dan bersosialisasi dengan teman temanya.
Namun terkadang An.Z sering tejatuh saat bermain karena
kurang jelasnya pandangan terhadap obek yang An .Z lalui,
namun ibu atau teman temannya yg melihat sering membantunya
atau menemaninya saat bermain diluar rumah. Ketika dirumah
ibu An.Z sering mengajaknya bermain untuk melatih dan
mengenali tempat serta benda benda yg dia pegang.
5) Eliminasi
Ibu An. Z mengatakan kebiasaan BAK dalam keseharian An. Z
4-6x dalam sehari. Konsistensi urine berwarna kuning, dengan
bau yang khas, kira-kira ± 100cc/hari. Untuk BAB klien dalam
sehari 1-2x/sehari dengan konsistensi lembek warna kuning
kecoklatan dengan bau yang khas. dan ibu An.Z juga
mengatakan tidak ada masalah dan gangguan saat BAB.
i. Keadaan kesehatan saat ini
1) Diagnosa medis : Tunanetra
2) Status nutrisi
Makan An. Z baik ,sehari 3x dengan frekuensi 1 piring habis.
3) Status cairan
Baik warna dan Konsistensi urin normal bau khas.

B. Pemeriksaan Fisik
No Pemeriksaan Hasil
a. Tanda-tanda vital
Nadi 120x/menit
Suhu 36oC
RR 42x/menit
Berat Badan 28 kg
Panjang Badan 95 cm
b. Kepala-leher
Kepala Bentuk kepala bulat, tidak ada edema, tidak ada
nyeri tekan, kaput (-)
Ubun-ubun Ubun-ubun lunak, ubun-ubun besar (+), ubun-
ubun kecil (-)

Mata Kelopak mata tidak membuka, bola mata kecil.

Hidung Tidak ada polip ataupun benda asing,


keadaannya cukup bersih, secret tidak ada
Mulut Mukosa normal, keadaan cukup bersih, tonsil
warna pink, gusi warna pink, gigi klien belum
tumbuh, reflek menghisap (+)
Tenggorokan Reflek menelan (+), tidak ada infeksi, tidak ada
nyeri, dan tidak ada edema.
Vena jugularis Tidak ada pembesaran vena jugularis
Kelenjar Limfe Tidak ada pembesaran kelenjar limfe
c. Thorax/paru-paru RR= 40x/menit, Retraksi dinding dada (-),
penggunaan otot-otot pernaasan (-), tidak ada
edema, tidak ada nyeri tekan, suara paru
vesikuler reguler, ronchi (-), whezing (-)
d. Jantung Perifer :
CRT <2detik (+), sianosis bibir (+)
Jantung :
Tidak ada edema, tidak ada nyeri dada, tidak ada
nyeri tekan, suara jantung S1 & S2 reguler,
HR=120x/menit
e. Abdomen Tidak ada edema, tidak ada nyeri tekan, bentuk
abdomen normal, suara bising usus 5x/menit
f. Genitalia & anus Penis menonjol (+), keadaan genitalia cukup
bersih, tidak ada edema, Anus (+), tidak ada
hemoroid
g. Ekstermitas Kekuatan otot (+), pergerakan cukup aktif, tidak
ada edema, kesadaaran composmentis PCS =
15 ,tonus otot normal

1. Pengkajian fungsi motorik

Pengkajian Hasil yang ditemukan

a) Amati anak terhadap : Fungsi sistem neuromuskularnya


abnormalitas yang nyata tidak bermasalah tetapi fungsi psikis
yang mempengaruhi fungsi tidak mendukung shg menjadi
motorik. hambatan dalam perkembangan
motorik.
b) Uji terhadap keterampilan Orang tua memainkan peranan yang
sosial pada anak yang penting dalam perkembangan sosial
mempengaruhi hubungan : anak. Perlakuan orang tua terhadap
sosial dalam lingkungan anaknya yang tunanetra sangat baik
sekitar. sikapnya.

c) Amati anak dalam


Dalam berbahasa, anak tidak terlalu
kemampuan berbahasa.
kesulitan. Dikarenakan orangtua
termasuk ibunya sering melatihnya
untuk berbahasa yang jelas supaya
: apa yang dia maksud dan yg
dimaksud orang lain itu dia juga akan
mengerti dan paham. Serta
membiasakan si anak .

C. Analisa Data

N Data Masalah Etiologi


o
1. DS: Kurangnya defisiensi
informasi pengetahuan (domain
- Ibu klien
5, k
mengatakan kurang elas 4, kode 00126)
mengetahui alat
bantu tunanetra.
- Ibu klien
mengatakan belum
pernah
memengetahui
informasi tentang
alat bantu seperti
tongkat dan alat
lainnya
DO:
- Klien tampak sering
salah pegangan
- Klien tampak
kebingungan
menentukan arah
bermain
2. DS: Mekanisme Resiko cidera
- Ibu klien perlindungan (domain 11, kelas 2,
mengatakan anaknya diri kode 00035)
sering terjatuh saat aktivitas yang
bermain. kurang aman
- Ibu klien mengatakn
terkadang anaknya
jatuh menimbulkan
luka lecet pada kaki
dan tangan
DO:
- Klien tampak tergesah-
gesah berjalan
- Klien tampak sesekali
jatuh saat berjalan
- Klien tampak kesusahan
menentukan arah karena
harus berjalan.
3. DS : ibu pasien mengatakan Gangguan Resiko jatuh ( domain
anaknya kalu jalan sering lapang 11 , kelas 2 , kode
tidak seimbang pandang 00155 )
Do : pasien tampak berjalan
dengan berpegangan
dinding / tembok
D. Diagnosa Keperawatan
1. Defisiensi pengetahuan b/d cara menggunakan tongkat petunjuk
arah. (domain 5, kelas 4, kode 00126 )
2. Resiko cidera b/d keterbatasan lapang pandang. (domain 11, 2,
00035 )
3. Resiko jatuh ( domain 11 , kelas 2 , kode 00155 ) b/d gangguan
lapang pandang
E. Prioritas Diagnose Keperawatan
1. Resiko cidera berhubungan dengan keterbatasan lapang pandang
(domain 11,kelas 2, kode 00035)
2. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan cara menggunakan
tongkat petunjuk arah.(domain 5,kelas 4,kode 00126)
3. Resiko jatuh ( domain 11 , kelas 2 , kode 00155 ) b/d gangguan lapang
pandang
F. Rencana Keperwatan

No Diagnose keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi


1. Resiko cidera b/d Setelah dilakukan tindakan NIC : pencegahan jatuh ( 6490 )
keterbatasan lapang keperawatan selama 6 jam diharapkan 1. Identifikasi pasien yang mungkin
pandang(domain11, kelas pasien dalam kondisi aman dengan meningkatkan potensi jatuhpada lingkungan
2,kode 00035) skala otcome : tertentu
NOC : keparahan cidera fisik 2. Sediakan matras tempat tidur dengan
( 1913 ) pinggiran yang lurus
1. Berat 3. Ajarkan pasien bagaimana jika jatuh untuk
2. Cukup berat meminimalkan resiko cedera
3. Sedang 4. Kolaborasikan dengan pasien dan keluarga
4. Ringan untuk memilih implementasi
5. Tidak ada
Kriteria hasil :
1. Lecet pada kulit
dipertahankanpada skala 2
ditingkatakan pada skala 5
2. Memar dipertahankan pada
skala 2 ditingkatkan ke skala 5
3. Gangguan imobilitas di
pertahankan pada skala 2
ditingkatka ke skala 4
2 Defisiensi pengetahuan b/d Setelah dilakukan tindaakan NIC : manajemen lingkungan : keselamatan ( 6486 )
cara menggunakan tongkat keperawatan selama 2 jam diharpaka 1. Identifikasi kebutuhan keamanan pasien
petunjuk arah.(domain keluarga memiliki pengetahuan yang berdasarkan fungsi fisik
5,kelas 4,kode 00126) baik dengan skala outcome : 2. Identifikasi lingkungan yang membahayakan
NOC : Pengetahuan Pencegahan Jatuh pasien
( 1828 ) 3. Edukasi individu dan kelompok yang
1. Tidak ada pengetahuan beresiko tinggi terhadap bahaya lingkungan
2. Pengetahuan terbatas 4. Kolaborasikan dengan lembaga lain untuk
3. Pengetahuan sedang meninggatkan keselamatan pasien
4. Pengetahuan banyak
5. Pengetahuan sangat banyak
Kriteria hasil :
1. Latihan untuk mengurangi
resiko jatuh dipertahankan pada
skala 2 ditingkatkan ke skala 4
2. Menjaga stategi permukaan
agar tetap aman di pertahankan
pada skala 2 ditingkatkan ke
skala 4
3. Menggunakan alat bantu yang
benar di pertahankan pada
skala 3 di tingkatkan ke skala 5
3 Resiko jatuh ( domain 11 , Setelah dilakukan tindakan NIC : Pencegahan jatuh (6490)
kelas 2 , kode 00155 ) b/d keperawatan selama 4 jam diharapkan 1. identifikasi perilaku dan faktor yang
gangguan lapang pandang masalah resiko jatuh dapat teratasi mempengaruhi resiko jatuh
dengan skala outcome 2. sediakan pengawasan ketat atau alat
NOC : Kontrol resiko (1902) pengikat misal kursi bayi dengan sabuk
1. Tidak pernah pengaman saat meletakkan bayi dipermukaan
menunjukan yang tinggi
2. Jarang menunjukan 3. Libatkan keluarga dalam upaya
3. Kadang – kadang pencegahan resiko jatuh
menunjukan 4. ajarkan anggota keluarga mengenai
4. Sering menunjukan faktor resiko yang berkontribusi terhadap
5. Secara konsisten adanya kejadian jatuh dan bagaimana keluarga
menunjukan bisa menurunkan resiko ini
Kriteria Hasil : 5. berkolaborasi dengan anggota tim
1. Memodifikasi gaya hidup kesehatan lain untuk meminimalkan efek
untuk mengurangi resiko samping dari pengobatan yang berkontribusi
dipertahankan pada 3 pada kejadian jatuh
ditingkatkan ke 4
2. Mengenali perubahan status
kesehatan dipertahankan pada 3
ditingkatkan ke 4
3. Memonitor faktor resiko
individu dipertahankan pada 3
ditingkatkan ke 4
4. Menyesuaikan strategi kontrol
resiko dipertahankan pada
skala 1 ditingkatkan ke skala 3
Implementasi Keperawatan

Hari/Tangga Diagnose
l keperawatan Implementasi Evaluasi Paraf
& jam
Sabtu Resiko cidera 1. mengidentifikasi pasien S : pasien mengatkan belum
28/03/2020 berhubungan yang mungkin dapat berjalan dengan seimbang
dengan meningkatkan potensi O : pasien tampak mau jatuh saat
08. 30 WIB keterbatasan jatuhpada lingkungan berjalan tanpa berpegangan
lapang pandang tertentu A : masalah belum teratasi
(domain 11, 2. menyediakan matras P : Lanjutkan Intervensi
kelas 2,kode tempat tidur dengan 1. identifikas
00035 pinggiran yang lurus i pasien yang mungkin
3. mengajarkan pasien meningkatkan potensi
bagaimana jika jatuh jatuhpada lingkungan
untuk meminimalkan tertentu
resiko cedera 2. ajarkan
4. mengolaborasikan pasien bagaimana jika
dengan pasien dan jatuh untuk meminimalkan
keluarga untuk memilih resiko cedera
implementasi

10.30 WIB Defisiensi 2. mengidentifikasi S : ibu pasien mengatakan sudah


pengetahuan b/d kebutuhan keamanan paham apa yang diarahkan oleh
cara pasien berdasarkan perawat
menggunakan fungsi fisik O : ibu pasien sudah tampak
tongkat petunjuk 3. mengidentifikasi mengerti apa yang perawat
arah.(domain lingkungan yang arahkan
5,kelas 4,kode membahayakan pasien A : masalah teratasi
00126) 4. memberikan edukasi P : hentikan intervensi
individu dan kelompok
yang beresiko tinggi
terhadap bahaya
lingkungan
5. mengkolaborasikan
dengan lembaga lain
untuk meninggatkan
keselamatan pasien
13,00 WIB Resiko jatuh 1. mengidentifikasi perilaku S : ibu pasien mengatakan bahwa
( domain 11 , dan faktor yang anaknya sudah sedikit bisa
kelas 2 , kode mempengaruhi resiko melakukan kegiatan dengan hati-
00155 ) b/d jatuh hati
gangguan lapang 2. menyediakan pengawasan O : pasien sudah tampak bisa
pandang ketat atau alat pengikat mengenali dan beradaptasi
misal kursi bayi dengan dengan lingkunganya
sabuk pengaman saat A : masalah teratasi sebagian
meletakkan bayi P : lanjutkan intervensi
dipermukaan yang tinggi 1. ajarkan anggota
3. melibatkan keluarga keluarga
dalam upaya pencegahan mengenai faktor
resiko jatuh resiko yang
4. megajarkan anggota berkontribusi
keluarga mengenai faktor terhadap adanya
resiko yang berkontribusi kejadian jatuh dan
terhadap adanya kejadian bagaimana
jatuh dan bagaimana keluarga bisa
keluarga bisa menurunkan menurunkan
resiko ini resiko ini
5. mengkolaborasi dengan
anggota tim kesehatan lain
untuk meminimalkan efek
samping dari pengobatan
yang berkontribusi pada
kejadian jatuh
Minggu / Resiko cidera 1. mengidentifikasi pasien S : Ibu pasien mengatakan
29 maret berhubungan yang mungkin anaknya sudah dapat melakukan
2020 dengan meningkatkan potensi kegiatan dengan meminimalkan
08. 25 WIB keterbatasan jatuhpada lingkungan resiko cidera dengan berjalan
lapang pandang tertentu berpegangan alat bantu yang ada
(domain 11, 2. mengajarkan pasien di dinding
kelas 2,kode bagaimana jika jatuh O : pasien sudaah tampak
00035 untuk meminimalkan berjalan dengan berpegangan alat
resiko cedera bantu
3. mengolaborasikan A : maslah sudah teratasi
dengan pasien dan P : hentikan intervensi
keluarga untuk memilih
implementasi
10.50 WIB Resiko jatuh 1. mengidentifikasi perilaku S : -
( domain 11 , dan faktor yang O : pasien sudah tampak
kelas 2 , kode mempengaruhi resiko jatuh beradaptasi engan lingkungan
00155 ) b/d 2. melibatkan keluarga dalam dengan baik terbukti saat pasien
gangguan lapang upaya pencegahan resiko berjalan ke kamar mandi tidak di
pandang jatuh bantu dengan anggota
3. megajarkan anggota keluarganya
keluarga mengenai faktor A : maslaha teratasi
resiko yang berkontribusi P : Hentikan intervensi
terhadap adanya kejadian
jatuh dan bagaimana
keluarga bisa menurunkan
resiko ini
4. mengkolaborasi dengan
anggota tim kesehatan lain
untuk meminimalkan efek
samping dari pengobatan
yang berkontribusi pada
kejadian jatuh
Root Cause Analysis (RCA) Kejang Demam Pada An. B

A. Langkah Root Cause Analisis (RCA)


Adapun langkah-langkah Root Cause Analisis (RCA), sebagai berikut:
1. Insiden yang akan dianalisis : Resiko cidera pada An.Z
2. Tim investigator : perawat (kelompok 3)
3. Pengumpulan data
a. Observasi : Terlihat ketika An.z berada di sekitar mainannya
dan ada ibu bapak dan kakaknya.
b. Dokumentasi : ketika An. Z sedang bermain dan memutari
sekaliling ruangan
c. Interview
1) Berapa kali an.z terjatuh dalam sehari ?
Jawaban : tidak tentu, tergantung kondisinya
2) Sudah berapa tahun mengalami tunanetra ?
Jawaban : sejak an.z umur 1 tahun
3) Sudahkah keluarga memeriksakan kondisi mata An.Z ?
Jawaban : sudah. Sejak umur 1 tahun itu kami membawanya
periksa kedokter dan jika mungkin menunjukkan hal yang
tidak seperti biasanya saja kami bawa kedokter, jika baik baik
saja ya kita tidak kedokter.
4) Kondisi apa yg sering terjadi pada mata An.Z?
Jawab : terkadang matanya sedikit berair. Terkadang an.z
suka marah marah dan emosi sendiri karena penglihatannya
semakin kabur. Namun tetap hal yang wajar marahnya, tidak
yang sampai melukai diri sendiri atau orang lain.
4. Kronologi kejadian
a. Kronologi kejadian
Ketika umur 1 tahun. An.z sedang menyusu ibunya, dan ibunya
melihat mata pada sang anak seperti ada hal yang berbeda pada
bola mata anaknya. Dan hari hari berikutnya pun anaknya
cenderung diam saat diberi mainan dan tangnya untuk meraihpun
tidak sesuai dengan apa yg ingin dia ambil. Saat merangkakpun
sering menabrak barang yg ada di depannya dan menimbulkan
cidera walau hanya sedikit namun orangtuanya khawatir akan
terjadi cidrea yg berkelanjutan. Lalu ibu dan ayahnya
memeriksakannya ke pelayanan kesehatan untuk mengetahui
kelainan apa yg terjadi pada anaknya.
b. Timeline
Pertolongan pertama An. Z ketika terjadi perubahan pada
penglihatanya orang tua memeriksakan ke pelayanan kesehatan.
c. Tabular timeline
Pada hari Sabtu, 28 Maret2011 An.Z
d. Time person grids
 Sebelum kejadian : An.Z sedang bermain
dengan ibunya di ruang tamu rumahnya
 Selama kejadian : selama An. Z jatuh, ibunya
langsung menolongnya untuk bangkit kembali dan mengusap
bagian yag jatuh sambil berkata (hati hati ya nak kalau
bermain)
 Sesudah kejadian : perawat melakukan
pendekatan dan mengajak An. Z berkenalan dan mengajak
bermain bersama, dan tampaknya An.Z Sedikit malu
dikarenakan kami orang baru. Namun dari sikap yang terlihat
an.z begitu periang dan senang dengan kedatangan kami.

B. Identifikasi Masalah (Care Management Problem / CMP)


Masalah yang muncul pada An.Z yaitu dengan adanya gangguan
penglihatan, dan diharapkan orantua dapat memberikan alat bantu bermain
dan berjalan seperti pegangan untuk mengurangi resiko terjatuh dan
menimbulkan cidera.

C. Analisis Informasi
Tools untuk identifikasi proximate dan underlying cause.
1. Why (why-why chart)
a) Mengapa An. Zsering jatuh saat bermain?
Jawab : An. Zmengalami kekaburan pandang lapang.
b) Mengapaibu An. Zlangsung Menolongnya saat dia terjatuh?
Jawab :karenaibu An. Ztidakmau anaknya menangis dan takut
berjalan seta mengalami cidera.
2. Analisis perubahan / change analysis
Sebelum mengetahui apa yang terjadi pada anaknya. Ibu an.z tidak
tahu apa yang harus dilakukan, namun kemudian di bawa kepelayanan
kesehatan dan mendapatkan edukasi, sekarang ibu an.z sedikit paham
dan mengerti apa yg harus dilakukan dan diberikan untuk anakanya.
3. Analisis hambatan / barrier analysis
Ibu An. Z tidak mengetahui cara aman agar anaknya lebih sedikit
beresiko jatuh saat jalan dan tidak beresiko cidera.
4. Fish bone
Masalah kasus terjadi karenaibu An. Z tidak tahu cara penanganan
yang benar agar tidak terjadi cidera dan resiko jatuh oleh karena itu
perawat memberikan pengetahuan mengenai pemakaian kacamata
atau alat pelindung saat berjalan.
BAB IV

PENUTUP
A. Keimpulan

Tunanetra adalah kondisi yang ditandai dengan penurunan tajam


penglihatan ataupun menurunnya luas lapangan pandang, yang dapat
mengakibatkan kebutaan

Tunanetra adalah Seseorang yang terhambat mobilitas gerak yang


disebabkan oleh hilang/berkurangnya fungsi penglihatan sebagai akibat
dari kelahiran, kecelakaan maupun penyakit..

B. Saran

1. Bagi petugas kesehata atau instansi kesehatan agar lebih meningkatkan


pelayanan kesehatan terutama pada tunanetra untuk pencapaian
kualitas keperawatan secara optimal dan sebaiknya proses keperawatan
selalu dilaksanakan secara berkesinambungan.

2. Bagi klien dan keluarga, Perawatan tidak kalah pentingnya dengan


pengobatan karena bagaimanapun teraturnya pengobatan tanpa
perawatan yang sempurna maka penyembuhan yang diharapkan tidak
tercapai, oleh sebab itu perlu adanya penjelasan pada klien dan
keluarga mengenai manfaat serta pentingnya kesehatan.

3. Bagi mahasiswa keperawatan, diharapkan mampu memahami dan


menerapkan asuhan keperawatan yang benar pada klien dengan
tunanetra.
DAFTAR PUSTAKA
1. Delphie, Bandi. 2006. Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus.
Bandung : PT Refika Aditama
2. Efendi, Mohammad. (2006). Pengantar psikopedagogik anak berkelainan.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
3. Nursing Intervensions Classification (NIC). (6th ed). (2013). St. Louis
Missouri: Mosby Elsevier Inc.
4. Nursing Outcomes Classification (NOC). (5th ed). (2013). St. Louis
Missouri: Mosby Elsevier Inc.
5. NANDA. (2018). Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2018 –
2020. Jakarta : EGC