Anda di halaman 1dari 31

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN PENYAKIT MENULAR

PADA KASUS DHF

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK I
1. ADE SAPUANDI 5. LILIS SURYANI
2. FARIDAH 6. M. ZUBAIDI AKROM
3. IZHAR YULVIANSYAH 7. NURHALIMAH
4. L. HIRSAN AZHARI 8. SARWAN HADI

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN JENJANG DIPLOMA III
MATARAM
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit
menular yang dapat menimbulkan kejadian luar biasa/wabah. Nyamuk
penularnya (Aedes Aegypti) yang tersebar luas sehingga penularannya dapat
terjadi di semua tempat.
Bila pada kasus anak dengan DHF ini lambat penanganannya, maka akan
dapat terjadi komplikasi seperti efusi pleura karena adanya kebocoran
lambung akibat meningkatnya permeabilitas membrane, perdarahan pada
lambung karena anak mengalami mual dan muntah serta kurangnya nafsu
makan, terjadi pembesaran pada hati, limpa dan kelenjar getah bening karena
bocornya plasma yang mengandung cairan, dan dapat terjadi syok
hipovolemik karena adanya peningkatan nilai hematokrit.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Memberikan gambaran kepada masyarakat tentang penyakit DHF serta
agar dapat diaplikasikan asuhan keperawatan pada anak yang terinfeksi
DHF.
2. Tujuan Khusus
Diharapkan dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan
DHF, kelompok akan dapat :
a. Memberikan gambaran tentang pengkajian asuhan keperawatan pada
anak usia prasekolah tentang penyakit DHF
b. Memberikan gambaran tentang diagnose keperawatan yang akan
muncul jika seorang anak terinveksi virus dengue.
c. Memberikan gambaran tentang intervensi keperawatan pada anak
dengan DHF
d. Memberikan gambaran tentang implementasi keperawatan pada anak
dengan DHF
e. Memberikan gambaran tentang evaluasi keperawatan pada anak
dengan DHF
f. Memberikan gambaran tentang dokumentasi keperawatan pada anak
dengan DHF setelah melakukan pengevaluasian dari semua tindakan.
C. Manfaat
Meningkatkan pengetahuan dan memperoleh pengalaman dalam melakukan
asuhan keperawatan pada keluarga secara langsung.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. KONSEP DASAR TEORI
A. DEFINISI
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang
disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan
masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty
(Nursalam, dkk. 2008).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat
pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan
nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang
tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan
nyamuk aedes aegypty (betina) (Hidayatalimulaziz. 2006).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah suatu penyakit akut yang
disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypty
(Suriadi. 2010).
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh
virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam
tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat
pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan
nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam.

B. ETIOLOGI
Virus dengue sejenis arbovirus yang di tularkan melalui gigitan
nyamuk aedes aegypti. Nyamuk aedes aegypti berbentuk batang, stabil
pada suhu 37 0C. Adapun ciri-ciri nyamuk penyebar demam berdarah
adalah :
1. Badan kecil,warna hitam dengan bintik-bintik putih
2. Hidup didalam dan sekitar rumah
3. Menggigit dan menghisap darah pada waktu siang hari
4. Senang hinggap pada pakaian yang bergantung didalam kamar
5. Bersarang dan bertelur digenangan air jernih didalam dan sekitar
rumah seperti bak mandi, tempayan vas bunga.

C. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala yang biasa terjadi pada pasien DHF adalah:
1. Demam tinggi selama 5 – 7 hari
2. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan
3. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie.
4. Nyeri otot
5. Sakit kepala.
6. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan
darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi
cepat dan lemah).

D. KLASIFIKASI
1. Derajat I :
Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji
turniket positi, trombositopeni dan hemokonsentrasi.
2. Derajat II :
Derajat I di sertai perdarahan spontan di kulitdan atau perdarahan
lain.
3. Derajat III :
Kegagalan sirkulasi : nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin
lembab, gelisah.
4. Derajat IV :
Renjatan berat, denyut nadi dan tekanan darah tidak dapat di ukur.

E. PATOFISIOLOGI
Virus dengue masuk pertama kali ke dalam tubuh manusia melalui
gigitan nyamuk, terinfeksi oleh virus dengue untuk pertama kalinya atau
mendapat infeksi berulang virus dengue lainnya. Saat virus masuk
kedalam peredaran darah melalui gigitan nyamuk, terjadi infeksi virus
dengue yang akan merangsang endotoxin,selanjutnya merangsang zat
pyrogen dan endogen, mengakibatkan interleukin 1, menggeser set point
dari titik normal, sehingga terjadi menggigil, demam, dan terjadi
hipertermia mendadak. Dari hipertermi akan meningkatkan stress,
merangsang keluarnya histamine, menyebabkan peningkatan HCI,
mengiritasi lambung, terjadi mual dan penurunan nafsu makan, masukan
yang tidak adekuat sehingga menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi
yaitu kurang dari kebutuhan tubuh.

F. PATWAY

Infeksi virus dengue

Hipertermia

Hepatomegali

Permeabilitas Vaskular 

Kebocoran Kelemahan Anoreksia,


Plasma Mual-
muntah

Intoleransi
Trombositopeni Gangguan
aktivitas
kubutuhan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh
Resiko tinggi
Perdarahan

Syok
hipovolemik
MRS

Hospitalisasi Family, Center, Problem

Perpisahan Lingkungan Kurang Situasi krisis


Baru Informasi

Tindakan
Invasif Cemas
Cemas Cemas
Gangguan
Peran…

Nyeri dan
Injuri

G. KOMPLIKASI
Komplikasi dapat terjadi apabila kebocoran plasma dari
intravaskuler ke ekstravaskuler yang terus maka akan mengalami syok
hipovolemia dan bisa terjadi DSS (Dengue Syock Sindrom), jika
keadaan tersebut tidak teratasi maka akan menyebabkan anoreksia
jaringan, asidosis metabolic dan berakhir dengan kematian, perdarahan
terjadi karena trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan
menurunnya factor koagulasi (protombin, factor V. VII, IX, X dan
frinogen) pendarahan hebat dapat terjadi terutama pada traktus
grastrointestinal.

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Darah lengkap : hemokonsentrasi (hematokrit meningkat 20 % atau
lebih), trombositopenia (100.000/mm3 atau kurang)
2. Serologi : uji HI (hemoagutination inhibition test).
3. Rontgen thoraks : effusi pleura
I. PENATALAKSANAAN
1. Medis
Demam berdarah dengue, penatalaksanaannya hanya bersifat
simptomatis dan suportif.
a. Pemberian cairan yang cukup
Cairan di berikan untuk mengurangi rasa haus dan dehidrasi
akibat demam tinggi, anoreksia, dan muntah. Penderita perlu di
beri minum sebanyak mungkin (1-2 liter dalam 24 jam).
b. Antipiretik
Seperti golongan asetaminofen (parasetamol), jangan berikan
golongan salisilat karena dapat menyebabkan bertambahan
perdarahan.
c. Antikonvulsan
Bila penderita kejang dapat di berikan :
1) Diazepam
2) Fenobarbital
d. Pemberian cairan melalui infus, di lakukan jika pasien
mengalami kesulitan minum dan nilai hematokrit cenderung
meningkat.
2. Keperawatan
a. Pengawasan tanda – tanda Vital secara kontinue tiap jam
1) Pemeriksaan Hb, Ht, Trombocyt tiap 4 Jam
2) Observasi intik output
3) Pada pasien DHF derajat I : Pasien diistirahatkan, observasi
tanda vital tiap 3   jam , periksa Hb, Ht, Thrombosit tiap 4
jam beri minum 1 ½ liter – 2 liter per hari, beri kompres
4) Pada pasien DHF derajat II : pengawasan tanda vital,
pemeriksaan Hb, Ht, Thrombocyt, perhatikan gejala seperti
nadi lemah, kecil dan cepat, tekanan darah menurun, anuria
dan sakit perut, beri infus.
5) Pada pasien DHF derajat III : Infus guyur, posisi semi
fowler, beri o2 pengawasan tanda – tanda vital tiap 15 menit,
pasang cateter, obsrvasi productie urin tiap jam, periksa Hb,
Ht dan thrombocyt.
b. Resiko Perdarahan
1) Obsevasi perdarahan : Pteckie, Epistaksis, Hematomesis dan
melena
2) Catat banyak, warna dari perdarahan
3) Pasang NGT pada pasien dengan perdarahan tractus Gastro
Intestinal
c. Peningkatan suhu tubuh
1) Observasi / Ukur suhu tubuh secara periodic
2) Beri minum banyak
3) Berikan kompres

II. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
1. Identitas
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Biasanya klien mengeluh demam
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai
mengigil dan saat demam kesadaran kompos menthis. Turunya
panas terjadi antara hari ke -3 dan ke-7 dan anak smakin lemah.
Kadang-kadang disertai keluhan batuk, pilek, mual, muntah,
anareksia, diare/konstipati, sakit keepala, nyeri otot dan
persedian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola mata terasa pegal,
serta adanya manipestasi pendarahan pada kulit, gusi, (grade III,
IV) melena atau hemastemesis.
c. Kondisi Lingkungan
Sering terjadi didaerah yang padat penduduknya dan lingkungan
yang kurang bersih (seperti air yang mengenang dan gantungan
baju dikamar).
3. Pengkajian Bio-Psiko-Sosial-Spiritual (Gordon)
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : Keletihan, kelemahan, malaise umum
Tanda : Takikardi, Kelemahan otot dan penurunan kekuatan.
b. Sirkulasi
Tanda : Tekanan darah normal atau sedikit menurun. Denyut
perifer kuat dan cepat (fase demam) Kulit hangat, diuresis
(diaphoresis) karena vasodilatasi. Pucat dan lembab (vaso-
kontriksi), hipovolemia,penurunan aliran darah.
c. Eliminasi
Gejela : Diare atau konstipasi; penurunan haluaran urine
Tanda : Distensi abdomen
d. Makanan dan cairan
Gejala : Anoreksia mual dan muntah
Tanda : Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan, dan
Penurunan masa otot. Penurunan haluaran urine, kosentrasi
urine.
e. Neuro sensori
Gejala : Sakit kepala, pusing dan pingsan.
Tanda : Gelisah, ketakutan, kacau mental, disorientas deliriu atau
koma.
f. Pernafasan
Gejala : Sesak
Tanda : Dispnea
g. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Masalah kesehatan kronis, misalnya hati, ginjal,
keracunan alkohol, riwayat splenektomi, baru saja menjalani
operasi/ prosedur invasif, luka traumatik.
4. Pengkajian Tumbuh Kembang
a. Perkembangan psikoseksual
Menurut Fase laten (6-12 tahun) :
Selama periode laten, anak menggunakan energi fisik dan
psikologis yang merupakan media untuk mengeksplorasi
pengetahuan dan pengalamannya melalui aktifitas fisik maupun
sosialnya. Pada fase laten, anak perempuan lebih menyukai
teman dengan jenis kelamin perempuan, dan anak laki-laki
dengan anak laki-laki.dalam hal ini, orang tua harus bijaksana
dalam merespons, yaitu menjawabnya dengan jujur dan hangat.
Oleh karena itu, apabila anak tidak pernah bertanya tentang seks,
sebaliknya orang tua waspada. Peran ibu dan ayah sngat penting
dalam melakukan pendekatan dengan anak, pelajari apa yang
sebenarnya sedang di pikirkan anak berkaitan dengan seks.
b. Perkembangan psikososial (erikson)
Menurut Industri versus inferiority (6 – 12 tahun):
Anak akan belajar untuk bekerja sama dan bersaing dengan
anak lainnya melalui kegiatan yang di lakukan baik dalam
kegiatan akademik maupun dalam pergaulan melalui permainan
yang di lakukannya bersama. Otonomi mulai berkembang pada
anak  mulai fase ini, terutama awal usia 6 tahun dengan
dukungan keluarga dekat. Terjadinya perubahan fisik, emosi dan
sosial pada anak berpengaruh terhadap gambaran terhadap
tubuhnya. Kemampuan anak untuk berinteraksi sosial lebih luas
denagnteman di lingkungannya dapat memfasilitasi
perkembngan perasaan sukses tersebut.
c. Perkembangan kognitif (piaget)
Concrete operation (7 – 11 tahun):
Pada usia ini, pemikiran meningkat atau bertambah logis dan
konkeren. Ada anak mampu mengklasifikasi benda dan perintah
dan menyelesaikan masalah.secara konkrit dan sistematis dan
bedasarkan dengan apa yang mereka terima dari lingkungananya.
Formal operation ( 11- 15 tahun):
Tahapan ini di tunjukan dengan karakteristik kemampuan
beradaptasi dengan lingkungannya dan kemampuan untuk
fleksibel terhadap lingkungannya.Anak remaja dapat berfikir
dengan pola yang abstrak menggunakan tanda atau simbol dan
menggambarkan kesimpulan.

5. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum : Sangat Lemah
b. Kesadaran : Mengalami penurunan
c. Vital Sign : TD : < 120/80 mmHg (Hipotensi)
S : > 37,5 oC (Hipertermia)
N : > 120 x/menit (Takikardi)
RR : > 20 x/menit (Dispnea)
d. Head to Toe
Head to Toe Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi
Kepala Kulit kepala Nyeri tekan dan - -
dan rambut Massa (+/-)
bersih
Mata Seklera tidak Nyeri tekan dan - -
ikterik, Massa (+)
konjungtiva
anemis
Hidung Septum utuh, Nyeri tekan dan - -
bersih, sesak Massa (+/-)
atau (+/-)
Mulut Gusi Nyeri tekan dan - -
berdarah (+/-) Massa (+/-)
Telinga Bersih (+/-) Nyeri tekan dan - -
Massa (+/-)
Leher Tampak Nyeri tekan dan - -
pembesaran Massa (+/-)
(+/-)
Thorax Penggunuan Nyeri tekan dan Redup Vesikular
otot bantu Massa (+/-)
nafas (+/-),
Dispnea
Abdomen Abses (+/-) Nyeri tekan ulu Timpani Bising usus
hati dan otot lebih dari
12x
Ekstremitas Lemah (+/-) Kekuatan otot - -
menurun
Genetalia - - - -
Kulit Ptekie, pucat Turgor kulit - -
menurun (+/-)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
(Modifikasi NANDA-Doengoes)
1. Hipertemia berhubungan dengan proses penyakit (virus dalam
darah/viremia).
2. Gangguan pemenuhan kubutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan anoreksia.
3. Resiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengan
trombositopenia.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.
5. Resiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan kurangnya
volume cairan tubuh akibat perdarahan.
6. Nyeri dan injuri berhubungan dengan tindakan invasif
7. Kurang pengetahuan tenang proses penyakit, diet, perawatan, dan
obat-obatan pasien berhubungan dengan kurangnya informasi.
8. Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kondisi
anak dan lingkungan baru bagi anak
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
NANDA NOC NIC
Hipertermia NOC NIC :
Thermoregulation Fever treatment
Definisi : suhu tubuh Kriteria Hasil : 1. Monitor suhu sesering
naik diatas rentang a. Suhu tubuh dalam mungkin
normal rentang normal 2. Monitor IWL
b. Nadi dan RR 3. Monitor warna dan
Batasan Karakteristik: dalam rentang suhu kulit
1. Kenaikan suhu tubuh normal 4. Monitor tekanan darah,
diatas rentang normal c. Tidak ada nadi dan RR
2. Serangan atau perubahan warna 5. Monitor penurunan
konvulsi (kejang) kulit dan tidak ada tingkat kesadaran
3. Kulit kemerahan pusing, merasa 6. Monitor WBC, Hb,
4. Pertambahan RR nyaman dan Hct
5. Takikardi 7. Monitor intake dan
6. Saat disentuh tangan output
terasa hangat 8. Berikan anti piretik
9. Berikan pengobatan
Faktor faktor yang untuk mengatasi
berhubungan : penyebab demam
1. Penyakit/ trauma 10. Selimuti pasien
2. Peningkatan 11. Lakukan tapid sponge
metabolisme 12. Berikan cairan
3. Aktivitas yang intravena
berlebih 13. Kompres pasien pada
4. Pengaruh lipat paha dan aksila
medikasi/anastesi 14. Tingkatkan sirkulasi
5. Ketidakmampuan/pe udara
nurunan kemampuan 15. Berikan pengobatan
untuk berkeringat untuk mencegah
6. Terpapar terjadinya menggigil
dilingkungan panas
7. Dehidrasi
8. Pakaian yang tidak Temperature regulation
tepat 1. Monitor suhu minimal
tiap 2 jam
2. Rencanakan
monitoring suhu secara
kontinyu
3. Monitor TD, nadi, dan
RR
4. Monitor warna dan
suhu kulit
5. Monitor tanda-tanda
hipertermi dan
hipotermi
6. Tingkatkan intake
cairan dan nutrisi
7. Selimuti pasien untuk
mencegah hilangnya
kehangatan tubuh
8. Ajarkan pada pasien
cara mencegah
keletihan akibat panas
9. Diskusikan tentang
pentingnya pengaturan
suhu dan kemungkinan
efek negatif dari
kedinginan
10. Beritahukan tentang
indikasi terjadinya
keletihan dan
penanganan emergency
yang diperlukan
11. Ajarkan indikasi dari
hipotermi dan
penanganan yang
diperlukan
12. Berikan anti piretik
jika perlu

Vital sign Monitoring

1. Monitor TD, nadi,


suhu, dan RR
2. Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
3. Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau
berdiri
4. Auskultasi TD pada
kedua lengan dan
bandingkan
5. Monitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan
setelah aktivitas
6. Monitor kualitas dari
nadi
7. Monitor frekuensi dan
irama pernapasan
8. Monitor suara paru
9. Monitor pola
pernapasan abnormal
10. Monitor suhu, warna,
dan kelembaban kulit
11. Monitor sianosis
perifer
12. Monitor adanya
cushing triad (tekanan
nadi yang melebar,
bradikardi,
peningkatan sistolik)
13. Identifikasi penyebab
dari perubahan vital
sign

Ketidakseimbangan NOC : NIC :


nutrisi kurang dari Nutritional Status : Nutrition Management
kebutuhan tubuh food and Fluid Intake 1. Kaji adanya alergi
Kriteria Hasil : makanan
Definisi : Intake nutrisi a. Adanya 2. Kolaborasi dengan ahli
tidak cukup untuk peningkatan berat gizi untuk menentukan
keperluan metabolisme badan sesuai jumlah kalori dan
tubuh. dengan tujuan nutrisi yang
b. Berat badan ideal dibutuhkan pasien.
Batasan karakteristik : sesuai dengan 3. Anjurkan pasien untuk
1. Berat badan 20 % tinggi badan meningkatkan intake
atau lebih di bawah c. Mampu Fe
ideal mengidentifikasi 4. Anjurkan pasien untuk
2. Dilaporkan adanya kebutuhan nutrisi meningkatkan protein
intake makanan d. Tidak ada tanda dan vitamin C
yang kurang dari tanda malnutrisi 5. Berikan substansi gula
RDA (Recomended e. Tidak terjadi 6. Yakinkan diet yang
Daily Allowance) penurunan berat dimakan mengandung
3. Membran mukosa badan yang berarti tinggi serat untuk
dan konjungtiva mencegah konstipasi
pucat 7. Berikan makanan yang
4. Kelemahan otot terpilih (sudah
yang digunakan dikonsultasikan dengan
untuk ahli gizi)
menelan/mengunyah 8. Ajarkan pasien
5. Luka, inflamasi bagaimana membuat
pada rongga mulut catatan makanan
6. Mudah merasa harian.
kenyang, sesaat 9. Monitor jumlah nutrisi
setelah mengunyah dan kandungan kalori
makanan 10. Berikan informasi
7. Dilaporkan atau tentang kebutuhan
fakta adanya nutrisi
kekurangan 11. Kaji kemampuan
makanan pasien untuk
8. Dilaporkan adanya mendapatkan nutrisi
perubahan sensasi yang dibutuhkan
rasa
9. Perasaan Nutrition Monitoring
ketidakmampuan 1. BB pasien dalam batas
untuk mengunyah normal
makanan 2. Monitor adanya
10. Miskonsepsi penurunan berat badan
11. Kehilangan BB 3. Monitor tipe dan
dengan makanan jumlah aktivitas yang
cukup biasa dilakukan
12. Keengganan untuk 4. Monitor interaksi anak
makan atau orangtua selama
13. Kram pada abdomen makan
14. Tonus otot jelek 5. Monitor lingkungan
15. Nyeri abdominal selama makan
dengan atau tanpa 6. Jadwalkan pengobatan 
patologi dan tindakan tidak
16. Kurang berminat selama jam makan
terhadap makanan 7. Monitor kulit kering
17. Pembuluh darah dan perubahan
kapiler mulai rapuh pigmentasi
18. Diare dan atau 8. Monitor turgor kulit
steatorrhea 9. Monitor kekeringan,
19. Kehilangan rambut rambut kusam, dan
yang cukup banyak mudah patah
(rontok) 10. Monitor mual dan
20. Suara usus muntah
hiperaktif 11. Monitor kadar
21. Kurangnya albumin, total protein,
informasi, Hb, dan kadar Ht
misinformasi 12. Monitor makanan
kesukaan
Faktor-faktor yang 13. Monitor pertumbuhan
berhubungan : dan perkembangan
Ketidakmampuan 14. Monitor pucat,
pemasukan atau kemerahan, dan
mencerna makanan atau kekeringan jaringan
mengabsorpsi zat-zat gizi konjungtiva
berhubungan dengan 15. Monitor kalori dan
faktor biologis, intake nuntrisi
psikologis atau ekonomi. 16. Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik
papila lidah dan cavitas
oral.
17. Catat jika lidah
berwarna magenta,
scarlet
3.     Resiko tinggi terjadinya Intervensi: Rasional:
perdarahan berhubungan 1. Monitor tanda- 1. Penurunan jumlah
dengan trombositopenia. tanda perdarahan trombosit merupakan
dan trombosit yang tanda-tanda adanya
Tujuan : disertai dengan perforasi pembuluh
Perdarahan tidak terjadi. tanda-tanda klinis. darah yang pada tahap
Kriteria Hasil: 2. Anjurkan klien tertentu dapat
a. Tanda-tanda vital untuk banyak menimbulkan tanda-
normal. istirahat. tanda klinis berupa
b. Jumlah trombosit 3. Berikan penyelasan perdarahan (petekie,
klien meningkat. pada keluerga epistaksis, dan melena).
c. Tidak terjadi untuk segera 2. Aktivitas yang tidak
epitaksis, melena, melaporkan jika terkontrol dapat
dan hemotemesis ada tanda-tanda menyebabkan
perdarahan. terjadinya perdarahan.
4. Antisipasi 3. Mendapatkan
terjadinya penanganan segera
perdarahan dengan mungkin.
menggunakan sikat 4. Mencegah terjadinya
gigi lunak, pendarahan.
memberikan 
tekanan pada area
tubuh setiap kali
selesai
pengambilan darah.
Intoleransi aktivitas b/d NOC : NIC :
curah jantung yang a. Energy Energy Management
rendah, ketidakmampuan conservation 1. Observasi adanya
memenuhi metabolisme b. Self Care : ADLs pembatasan klien
otot rangka, kongesti Kriteria Hasil : dalam melakukan
pulmonal yang a. Berpartisipasi aktivitas
menimbulkan hipoksinia, dalam aktivitas 2. Dorong anal untuk
dyspneu dan status fisik tanpa disertai mengungkapkan
nutrisi yang buruk peningkatan perasaan terhadap
selama sakit tekanan darah, keterbatasan
nadi dan RR 3. Kaji adanya factor
Intoleransi aktivitas b/d b. Mampu yang menyebabkan
melakukan kelelahan
fatigue (kelelahan yang
aktivitas sehari 4. Monitor nutrisi  dan
dirasakan oleh pasien) hari (ADLs) sumber energi
secara mandiri tangadekuat
Definisi :
5. Monitor pasien akan
Ketidakcukupan energu
adanya kelelahan fisik
secara fisiologis maupun
dan emosi secara
psikologis untuk
berlebihan
meneruskan atau
6. Monitor respon
menyelesaikan aktifitas
kardivaskuler  terhadap
yang diminta atau
aktivitas
aktifitas sehari hari.
7. Monitor pola tidur dan
lamanya tidur/istirahat
Batasan karakteristik : pasien
a. Melaporkan secara
verbal adanya Activity Therapy
kelelahan atau 1. Kolaborasikan dengan
kelemahan. Tenaga Rehabilitasi
b. Respon abnormal Medik
dari tekanan darah dalammerencanakan
atau nadi terhadap progran terapi yang
aktifitas tepat.
c. Perubahan ekg yang 2. Bantu klien untuk
menunjukkan aritmia mengidentifikasi
atau iskemia aktivitas yang mampu
d. Adanya dyspneu atau dilakukan
ketidaknyamanan 3. Bantu untuk memilih
saat beraktivitas. aktivitas konsisten
yangsesuai dengan
Faktor factor yang kemampuan fisik,
psikologi dan social
berhubungan :
4. Bantu untuk
a. Tirah Baring atau mengidentifikasi dan
imobilisasi mendapatkan sumber
b. Kelemahan yang diperlukan untuk
menyeluruh aktivitas yang
c. Ketidakseimbangan diinginkan
antara suplei oksigen 5. Bantu untuk
dengan kebutuhan mendpatkan alat
d. Gaya hidup yang bantuan aktivitas
dipertahankan. seperti kursi roda, krek
6. Bantu untu
mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
7. Bantu klien untuk
membuat jadwal
latihan diwaktu luang
8. Bantu pasien/keluarga
untuk mengidentifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas
9. Sediakan penguatan
positif bagi yang aktif
beraktivitas
10. Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan
11. Monitor respon fisik,
emoi, social dan
spiritual
Resiko tinggi syok Intervensi: Rasional:
hipovolemik berhibungan Mandiri: Mandiri:
dengan kurangnya 1. Monitor keadaan 1. Untuk mengetahui jika
volume cairan tubuh umum kilen. terjadi tanda-tanda
akibat perdarahan. 2. Observasi tanda- syok.
Tujuan : tanda vital tiap 2-4 2. Untuk memastikan
Tidak terjadi syok jam. tidak terjadi per syok.
hipovolemik. 3. Monitor tanda- 3. Perdarahan yang cepat
Kriteria Hasil : tanda perdarahan. diketahui dapat segera
a. Tanda-tanda vital 4. Anjurkan teratasi.
dalam batas normal. keluarga/klien 4. Untuk membantu tim
b. Keadaan umum baik, untuk segera perawat untuk segara
Syok hipovolemik melapor jika ada menentukan tindakan
tidak terjadi. tanda-tanda yang tepat.
perdarahan. 5. Untuk membantu
5. Segera puasakan mengistirahatkan
jika terjadi saluran pencernaan
perdarahan saluran untuk sementara
pencernaan. selama perdarahan
6. Perhatikan keluhan berasal dari saluran
klien seperti cerna.
pusing, lemah, 6. mengetahui seberapa
ekstremitas dingin, jauh pengaruh
sesak nafas. perdarahan.
Kolaborasi: Kolaborasi:
1. Berikan therapi 1. Untuk mengetahui
cairan intra vena kehilangan cairan
jika terjadi tubuh yang hebat yaitu
perdarahan. untuk mengatasi syok 
2. Cek Hb, Ht, hipovolemik.
Trombosit (sito) 2. Untuk mengetahui
3. Berikan trasfusi tingkat kebocoran
sesuai instruksi pembuluh darah yang
dokter. dialami klien, dan
untuk acuan melakukan
tindakan lebih lanjut.
3. Untuk menganti
volume darah serta
komponen yang hilang.
Nyeri NOC : NIC :
a. Pain Level,
Definisi : b. Pain control, Pain Management
Sensori yang tidak c. Comfort level
menyenangkan dan Kriteria Hasil : 1. Lakukan pengkajian
pengalaman emosional 1. Mampu nyeri secara
yang muncul secara mengontrol nyeri komprehensif termasuk
aktual atau potensial (tahu penyebab lokasi, karakteristik,
kerusakan jaringan atau nyeri, mampu durasi, frekuensi,
menggambarkan adanya menggunakan kualitas dan faktor
kerusakan (Asosiasi tehnik presipitasi
Studi Nyeri nonfarmakologi 2. Observasi reaksi
Internasional): serangan untuk mengurangi nonverbal dari
mendadak atau pelan nyeri, mencari ketidaknyamanan
intensitasnya dari ringan bantuan) 3. Gunakan teknik
sampai berat yang dapat 2. Melaporkan komunikasi terapeutik
diantisipasi dengan akhir bahwa nyeri untuk mengetahui
yang dapat diprediksi dan berkurang dengan pengalaman nyeri
dengan durasi kurang menggunakan pasien
dari 6 bulan. manajemen nyeri 4. Kaji kultur yang
3. Mampu mengenali mempengaruhi respon
Batasan karakteristik : nyeri (skala, nyeri
1. Laporan secara intensitas, 5. Evaluasi pengalaman
verbal atau non frekuensi dan nyeri masa lampau
verbal tanda nyeri) 6. Evaluasi bersama
2. Fakta dari observasi 4. Menyatakan rasa pasien dan tim
3. Posisi antalgic untuk nyaman setelah kesehatan lain tentang
menghindari nyeri nyeri berkurang ketidakefektifan
4. Gerakan melindungi 5. Tanda vital dalam kontrol nyeri masa
5. Tingkah laku berhati- rentang normal lampau
hati 7. Bantu pasien dan
6. Muka topeng keluarga untuk
7. Gangguan tidur (mata mencari dan
sayu, tampak capek, menemukan dukungan
sulit atau gerakan 8. Kontrol lingkungan
kacau, menyeringai) yang dapat
8. Terfokus pada diri mempengaruhi nyeri
sendiri seperti suhu ruangan,
9. Fokus menyempit pencahayaan dan
(penurunan persepsi kebisingan
waktu, kerusakan 9. Kurangi faktor
proses berpikir, presipitasi nyeri
penurunan interaksi 10. Pilih dan lakukan
dengan orang dan penanganan nyeri
lingkungan) (farmakologi, non
10. Tingkah laku farmakologi dan inter
distraksi, contoh : personal)
jalan-jalan, menemui 11. Kaji tipe dan sumber
orang lain dan/atau nyeri untuk
aktivitas, aktivitas menentukan intervensi
berulang-ulang) 12. Ajarkan tentang teknik
11. Respon autonom non farmakologi
(seperti diaphoresis, 13. Berikan analgetik
perubahan tekanan untuk mengurangi
darah, perubahan nyeri
nafas, nadi dan 14. Evaluasi keefektifan
dilatasi pupil) kontrol nyeri
12. Perubahan autonomic 15. Tingkatkan istirahat
dalam tonus otot 16. Kolaborasikan dengan
(mungkin dalam dokter jika ada keluhan
rentang dari lemah ke dan tindakan nyeri
kaku) tidak berhasil
13. Tingkah laku 17. Monitor penerimaan
ekspresif (contoh : pasien tentang
gelisah, merintih, manajemen nyeri
menangis, waspada,
iritabel, nafas Analgesic
panjang/berkeluh Administration
kesah) 1. Tentukan lokasi,
14. Perubahan dalam karakteristik, kualitas,
nafsu makan dan dan derajat nyeri
minum sebelum pemberian
obat
Faktor yang berhubungan 2. Cek instruksi dokter
: Agen injuri (biologi, tentang jenis obat,
kimia, fisik, psikologis) dosis, dan frekuensi
3. Cek riwayat alergi
4. Pilih analgesik yang
diperlukan atau
kombinasi dari
analgesik ketika
pemberian lebih dari
satu
5. Tentukan pilihan
analgesik tergantung
tipe dan beratnya nyeri
6. Tentukan analgesik
pilihan, rute
pemberian, dan dosis
optimal
7. Pilih rute pemberian
secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri
secara teratur
8. Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali
9. Berikan analgesik tepat
waktu terutama saat
nyeri hebat
10. Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan
gejala (efek samping)
Kurang Pengetahuan NOC : NIC :
a. Kowlwdge : Teaching : Disease
Definisi : disease process Process
Tidak adanya atau b. Kowledge : health 1. Berikan penilaian
kurangnya informasi Behavior tentang tingkat
kognitif sehubungan Kriteria Hasil : pengetahuan pasien
dengan topic spesifik. a. Pasien dan tentang proses
keluarga penyakit yang spesifik
Batasan karakteristik: menyatakan 2. Jelaskan patofisiologi
memverbalisasikan pemahaman dari penyakit dan
adanya masalah, tentang penyakit, bagaimana hal ini
ketidakakuratan kondisi, prognosis berhubungan dengan
mengikuti instruksi, dan program anatomi dan fisiologi,
perilaku tidak sesuai. pengobatan dengan cara yang
b. Pasien dan tepat.
keluarga mampu 3. Gambarkan tanda dan
Faktor yang melaksanakan gejala yang biasa
berhubungan: prosedur yang muncul pada penyakit,
keterbatasan kognitif, dijelaskan secara dengan cara yang tepat
interpretasi terhadap benar 4. Gambarkan proses
informasi yang salah, c. Pasien dan penyakit, dengan cara
kurangnya keinginan keluarga mampu yang tepat
untuk mencari informasi, menjelaskan 5. Identifikasi
tidak mengetahui kembali apa yang kemungkinan
sumber-sumber dijelaskan penyebab, dengna cara
informasi. perawat/tim yang tepat
kesehatan lainnya 6. Sediakan informasi
pada pasien tentang
kondisi, dengan cara
yang tepat
7. Hindari harapan yang
kosong
8. Sediakan bagi keluarga
informasi tentang
kemajuan pasien
dengan cara yang tepat
9. Diskusikan perubahan
gaya hidup yang
mungkin diperlukan
untuk mencegah
komplikasi di masa
yang akan datang dan
atau proses
pengontrolan penyakit
10. Diskusikan pilihan
terapi atau penanganan
11. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second
opinion dengan cara
yang tepat atau
diindikasikan
12. Eksplorasi
kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan
cara yang tepat
13. Rujuk pasien pada
grup atau agensi di
komunitas lokal,
dengan cara yang tepat
14. Instruksikan pasien
mengenai tanda dan
gejala untuk
melaporkan pada
pemberi perawatan
kesehatan, dengan cara
yang tepat
Cemas berhubungan NOC : NIC :
dengan kurang a. Anxiety control Anxiety Reduction
pengetahuan dan b. Coping (penurunan kecemasan)
hospitalisasi Kriteria Hasil : 1. Gunakan pendekatan
Definisi : Perasaan 1. Klien mampu yang menenangkan
gelisah yang tak jelas mengidentifikasi 2. Nyatakan dengan
dari ketidaknyamanan dan jelas harapan
atau ketakutan yang mengungkapkan terhadap pelaku
disertai respon autonom gejala cemas pasien
(sumner tidak spesifik 2. Mengidentifikasi, 3. Jelaskan semua
atau tidak diketahui oleh mengungkapkan prosedur dan apa
individu); perasaan dan menunjukkan yang dirasakan
keprihatinan disebabkan tehnik untuk selama prosedur
dari antisipasi terhadap mengontol cemas 4. Temani pasien untuk
bahaya. Sinyal ini 3. Vital sign dalam memberikan
merupakan peringatan batas normal keamanan dan
adanya ancaman yang 4. Postur tubuh, mengurangi takut
akan datang dan ekspresi wajah, 5. Berikan informasi
memungkinkan individu bahasa tubuh dan faktual mengenai
untuk mengambil tingkat aktivitas diagnosis, tindakan
langkah untuk menunjukkan prognosis
menyetujui terhadap berkurangnya 6. Dorong keluarga
tindakan kecemasan untuk menemani
Ditandai dengan: anak
a. Gelisah 7. Lakukan back / neck
b. Insomnia rub
c. Resah 8. Dengarkan dengan
d. Ketakutan penuh perhatian
e. Sedih 9. Identifikasi tingkat
f. Fokus pada diri kecemasan
g. Kekhawatiran 10. Bantu pasien
h. Cemas mengenal situasi
yang menimbulkan
kecemasan
11. Dorong pasien untuk
mengungkapkan
perasaan, ketakutan,
persepsi
12. Instruksikan pasien
menggunakan teknik
relaksasi
13. Barikan obat untuk
mengurangi
kecemasan
Cemas berhubungan NOC : NIC :
  Anxiety control Anxiety Reduction
dengan kurang
  Coping (penurunan kecemasan)
pengetahuan dan Kriteria Hasil :          Gunakan pendekatan
  Klien mampu yang menenangkan
hospitalisasi
mengidentifikasi dan          Nyatakan dengan jelas
Definisi : Perasaan mengungkapkan harapan terhadap pelaku
gelisah yang tak jelas gejala cemas pasien
dari ketidaknyamanan           
Mengidentifikasi, Jelaskan semua
atau ketakutan yang mengungkapkan dan prosedur dan apa yang
disertai respon autonom menunjukkan tehnik dirasakan selama prosedur
(sumner tidak spesifik untuk mengontol         Temani pasien untuk
atau tidak diketahui oleh cemas memberikan keamanan
individu);   Vital sign dalam batas dan mengurangi takut
perasaan
keprihatinan disebabkan normal          Berikan informasi
dari antisipasi terhadap   Postur tubuh, ekspresi faktual mengenai
bahaya. Sinyal ini wajah, bahasa tubuh diagnosis, tindakan
merupakan peringatan dan tingkat aktivitas prognosis
adanya ancaman yang menunjukkan          Dorong keluarga
akan datang dan berkurangnya untuk menemani anak
memungkinkan individu kecemasan          Lakukan back / neck
untuk mengambil rub
langkah untuk          Dengarkan dengan
menyetujui terhadap penuh perhatian
tindakan          Identifikasi tingkat
kecemasan
Ditandai dengan:          Bantu pasien
1. Gelisah mengenal situasi yang
2. Insomnia menimbulkan kecemasan
3. Resah          Dorong pasien untuk
4. Ketakutan mengungkapkan perasaan,
5. Sedih ketakutan, persepsi
6. Fokus pada diri          Instruksikan pasien
7. Kekhawatiran menggunakan teknik
8. Cemas relaksasi
         Barikan obat untuk
mengurangi kecemasan
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pada pengkajian yang penulis lakukan didapatkan data yang
menunjukkan gejala DHF, adanya demam tinggi, badan lemas, mukosa bibir
kering disertai sedikit minum dan tidak nafsu makan. Terjadi penurunan berat
badan hingga 2 kg. Klien di diagnose medis DHF akibat terinfeksi virus
dengue melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.
DAFTAR PUSTAKA

Agustiani, Nurlinda. 2008. Karya Tulis Ilmiah DHF. Samarinda


Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC. Jakarta
Herdman, T. Heather. 2009. Diagnosa Keperawatan Nanda Internasional. EGC.
Jakarta
M. Nurs, Nursalam. 2005. Asuhan Keperawatan pada bayi dan anak. Salemba
Medika. Jakarta
NANDA NOC-NIC, 2013, Buku Saku Keperawatan, Jakarta: EGC
Perry, Potter. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. EGC. Jakarta
Suriadi, Yuliani, Rita. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak edisi 2. Sagung
Seto. Jakarta
SOAL KASUS DHF:

Seorang anak usia 12 th dibawa oleh orang tuanya ke Puskesmas Aik


Bukak –Loteng dengan keluhan demam sejak 4 hari yang lalu, disertai mual
muntah, anorexia, gusi berdarah, nyeri otot dan sakit kepala.
Ibu klien mengatakan sebelumya pernah digigit nyamuk tiap malam. Pemeriksaan
fisik ditemukan RR : >20 x/mnt, Nadi : >130 x/mnt, Suhu: >37,5 ‘C, TD :
<120/80 Mmhg dan Uji Tournequet (+)

1. Apakah diagnosa medis yang tepat berdasarkan kasus diatas?


A. DHF
B. Tb Paru
C. Thypoid
D. Hepatitis
E. Gastroenteritis

2. Apakah tindakan yg dilakukan oleh perawat untuk mengurangi demam anak?


A. Berikan kompres dingin dan kolaborasi dlm pemberian analgetik/ antiperitik
dg dokter
B. Kaji tanda-tanda vital
C. Anjurkan makan sedikit tapi sering
D. Kaji tanda tanda kekurangan cairan
E. Ciptakan lingkungan yang nyaman

3. Apakah rasionalisai dari tindakan kompres dingin dan kolaborasi dlm


pemberian analgetik / antiperitik.
A. Mengurangi penyebaran infeksi
B. Dapat membina hubungan saling percaya
C. Meningkatkan kenyamanan anak
D. Dapat menurunkan panas anak
4. Apakah diagnosa keperawatan yang tepat pada kasus diatas?
A. Nyeri
B. Kekurangan volume cairan
C. Hipertermi
D. Resiko infeksi

5. Apakah observasi yang paling spesifik untuk mengetahui DHF?


A. Observasi tekanan darah
B. Observasi suhu anak
C. Observasi respirate / pernafasan anak
D. Uji tournequit (+)