Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI II

Hari/Tanggal : Rabu, 8 April 2020

Materi Praktikum : Pemeriksaan Osmotic Fragility

Metode : Fotoeletrik

1. Dasar Teori
Uji fragilitas osmotik eritrosit dilakukan untuk mengukur kemampuan eritrosit
menahan terjadinya hemolisis dalam larutan yang hipotonis. Hemolisis sendii artinya
pecahnya membran eritrosit, sehingga Hemoglobin bebas ke dalam medium
sekelilingnya. (Plasma).
Eritrosit akan dilarutkan dalam NaCl dalam konsentrasi hipotonis, sehingga
disebut peningkatan fragilitas ostrotik eritrosit (penurunan resistensi/ daya tahan
eritrosit). Hemolobin keluar dari sel pada masing- masing tabung yang berisi larutan
NaCl yang kadarnya berbeda- beda.
Hemolisis meningkat dapat disebabkan oleh :
a. Fungsi lien yang dahulu aktif, misalnya: hipersplenisire
b. Keadaan eritrosit abnormal yang disebabkan oleh :
1) Congenital (turunan), misalnya: Thalasemia, sikle cell anemia,
ovalocyosis,sphenocytosis herediter.
2) Aquired defect, misalnya : drugs, toxin, chemical substnce, parasit, antigen-
antibody resetion.

2. Tujuan Pemeriksaan
Untuk mengetahui apakah benar ada penurunan daya osmotik atau tindakan dari
eritrosit – eritrosit yang mengalami hemolisis berlebihan

3. Prinsip Pemeriksaan :
Eritrosit bila dimasukkan kedalam larutan isotonik atau NaCl 0,85% air tak
dapat meninggalkan atau tak dapat masuk ke dalam Eritrosit. Tetapi bila dimasukkan
kedalam larutan hipotonik , maka air akan masuk kedalam sel eritrosit sehingga akan
mengembang dan pecah (hemolisis), kemudian jumlah hemolisis diukur dengan
membaca supernatant secara foto elektrik dengan panjang gelombang 546 nm.

4. Alat dan Reagensia :


1) Spuit dan needle 6). Kuvet 11). Waterbath 37°C
2) Tourniquet 7). NaCl 1%
3) Tabung reaksi 8). Aquades
4) Clinipette 20 ul 9). Pipet Ukur 5 ml
5) Spektrofotometer 10). Sentrifuge
5. Cara Kerja :
Metode Fotoelektrik/Fotometri :
1) Sediakan 14 tabung reaksi dan isikan kedalamnya sebagai berikut :
No.Ta Nacl 1% (ml) Aquadest (ml) Konsentrasi NaCl (%)
b
1. 10,0 - 1%
2. 8,5 1,5 0,85 %
3. 7,5 2,5 0,75 %
4. 6,5 3,5 0,65 %
5. 6,0 4,0 0,60 %
6. 5,5 4,5 0,55 %
7. 5,0 5,0 0,50 %
8. 4,5 5,5 0,45 %
9. 4,0 6,0 0,40 %
10. 3,5 6,5 0,35 %
11. 3,0 7,0 0,30 %
12. 2,0 8,0 0,20 %
13. 1,0 9,0 0,10 %
14 - 10,0 0%
2) Masing – masing tabung tambahkan 20 ul darah, campur.
3) Inkubasi pada Waterbath suhu 37°C selama 30 menit.
4) Masing – masing tabung dicampur lagi dan sentrifuge selama 5 menit pada 2000
rpm. Dilihat tabung yang menunjukan tidak hemolisis, permulaan hemolisis, dan
hemolisis sempurna.
5) Pisahkan supernatant dari endapan dan baca optical density (OD) pada
spektrofotometer dengan panjang gelombang 546 nm terhadap supernatant tabung
pertama.
6) Hitung persen (%) hemolisis :
OD Supernatant
% Hemolisis = ×100 %
OD Supernatant Tab
6. Nilai Normal :
% NaCl % Hemolisis
0,30 97 – 100 %
0,40 50 – 90 %
0,45 5 – 45 %
0,55 0%

7. Data Pengamatan :
Fotometri

 Data Hasil Pemeriksaan :

Konsentrasi NaCl (%) Pengamatan Absorbansi


1% Tidak Hemolisis -
0,85% Tidak Hemolisis -
0,75% Tidak Hemolisis -
0,65% Tidak Hemolisis -
0,60% Tidak Hemolisis -
0,55% Tidak Hemolisis -
0,50% Tidak Hemolisis -
0,45% Tidak Hemolisis -
0,40% Tidak Hemolisis -
0,35% Tidak Hemolisis -
0,30% Permulaan Hemolisis 0,171
0,20% Hemolisis Sebagian -
0,10% Hemolisis Sempurna -
0% Hemolisis Sempurna 0,328

 Rumus :

Absorbansi awal hemolisis


× 100 %
Absorbansi tb.14

0,171
= ×100 % = 52,13 %
0,328
 Pengamatan Setelah Inkubasi
Pengamatan Hasil Hemolisa

Hasil Pengamatan Hemolisis :

8. Perhitungan :
 Rumus :

Absorbansi awal hemolisis


× 100 %
Absorbansi tb.14

0,171
= ×100 % = 52,13 %
0,328

9. Pembahasan :
Uji ini biasanya dilakukan pada sampel darah segar kurang dari 3 jam dan
sampel darah 24 jam yang diinkubasi pada suhu 37oC. Sampel darah yang digunakan
berupa darah heparin atau darah “defibrinated”. Tidak ada pembatasan asupan
makanan atau minuman.
Pada pengujian ini dibuat larutan NaCl dengan konsentrasi yang berbeda.
Penilaian hasil dengan metode fotokolorimetri (menggunakan alat fotometer atau
spektrofotometer).
Pada percobaan yang dilakukan, tabung 1- 14 terdapat endapan namun warna
cairan yang berbeda. Pada tabung 1 - 10 warna cairan jernih, sedang tabung no. 11 –
14 warna cairan merah.
Nilai normal % hemolisis untuk konsentrasi NaCl 0,30 % ,yaitu 97 – 100 %, hal
ini menunjukan atau membuktikan bahwa konsentrasi yang diperoleh lebih rendah
dari nilai normal (penurunan fragilitas osmotik).
Faktor utama yang mempengaruhi pemeriksaan osmotik fragility adalah bentuk
eritrosit dan permukaan eritrosit.
1. Peningkatan fragilitas osmotik ditemukan pada penderita anemia hemolitik
2. Penurunan fragilitas osmotik ditemukan pada penderita hati sickle, dan
thalasemia.

Faktor yang mempengaruhi temuan laboratorium, yaitu :


1. pH , Plasma, suhu, konsentrasi glukosa, dan saturasi oksigen pada darah
2. Eritrosit yang berumur lama cenderung memiliki fragilitas osmotik yang tinggi.
3. Sampel darah yang diambil lebih dari 1 jam dapat menunjukan peningkatan
fragilitas osmotik

10. Kesimpulan :
1. Didapatkan 52,13 % Hemolisis dalam NaCl 0,30 % yang menunjukkan hasil tidak
normal dengan konsentrasi yang diperoleh lebih rendah dari nilai normal untuk
Konsentrasi % Hemolisis dalam NaCl 0,30 % yakni, 97 – 100 %.
Sumber :
Video : https://www.youtube.com/watch?v=b_RTgQ7-CXc
https://dokumen.tips/documents/laporan-fragilitas-eritrosit-55c2a5df7be04.html

LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI II

Hari/Tanggal : Rabu, 8 April 2020

Materi Praktikum : Pemeriksaan Osmotic Fragility

Metode : Visual
1. Dasar Teori
Uji fragilitas osmotik eritrosit dilakukan untuk mengukur kemampuan eritrosit
menahan terjadinya hemolisis dalam larutan yang hipotonis. Hemolisis sendii artinya
pecahnya membran eritrosit, sehingga Hemoglobin bebas ke dalam medium
sekelilingnya. (Plasma).
Eritrosit akan dilarutkan dalam NaCl dalam konsentrasi hipotonis, sehingga
disebut peningkatan fragilitas ostrotik eritrosit (penurunan resistensi/ daya tahan
eritrosit). Hemolobin keluar dari sel pada masing- masing tabung yang berisi larutan
NaCl yang kadarnya berbeda- beda.
Hemolisis meningkat dapat disebabkan oleh :
a. Fungsi lien yang dahulu aktif, misalnya: hipersplenisire
b. Keadaan eritrosit abnormal yang disebabkan oleh :
1) Congenital (turunan), misalnya: Thalasemia, sikle cell anemia,
ovalocyosis,sphenocytosis herediter.
2) Aquired defect, misalnya : drugs, toxin, chemical substnce, parasit, antigen-
antibody resetion.

2. Tujuan Pemeriksaan
Untuk mengetahui apakah benar ada penurunan daya osmotik atau tindakan dari
eritrosit – eritrosit yang mengalami hemolisis berlebihan.

3. Prinsip Pemeriksaan :
Eritrosit bila dimasukkan kedalam larutan isotonik atau NaCl 0,85% air tak
dapat meninggalkan atau tak dapat masuk ke dalam Eritrosit. Tetapi bila dimasukkan
kedalam larutan hipotonik , maka air akan masuk kedalam sel eritrosit sehingga akan
mengembang dan pecah (hemolisis), diamati secara visual.

4. Alat dan Reagensia :


1) Spuit dan needle 6). Aquadest 11). Waterbath 37°C
2) Tourniquet 7). NaCl 0,9 %
3) Tabung reaksi 8). Kapas Alkohol 70 %
4) Clinipette 20 ul 9). Pipet Ukur 5 ml
5) Spektrofotometer 10). Sentrifuge
5. Cara Kerja :
Metode Visual
1) Sediakan 14 tabung reaksi dan isikan kedalamnya sebagai berikut :

No.Tabung Nacl 0,9 % (ml) Aquadest (ml) Konsentrasi NaCl (%)


1. 1,2 ml 0,6 ml 0,60 %
2. 1,1 ml 0,7 ml 0,55 %
3. 1,0 ml 0,8 ml 0,50 %
4. 0,9 ml 0,9 ml 0,45 %
5. 0,8 ml 1,0 ml 0,40 %
6. 0,7 ml 1,1 ml 0,35 %
7. 0,6 ml 1,2 ml 0,30 %
8. 0,5 ml 1,3 ml 0,25 %
9. 0,4 ml 1,4 ml 0,20 %
10. 0,3 ml 1,5 ml 0,15 %

2) Masing – masing tabung tambahkan 1 tetes darah, campur baik – baik.


3) Biarkan selama 15 – 20 menit
4) Putar pada sentriguge pada 2000 rpm selama 5 menit.
5) Periksa hasilnya secara visual dimana terjadi permulaan hemolisis dan hemolisis
sempurna.

Interpretasi Hasil :
1. Tidak Hemolisis = Eritrosit mengendap didasar tabung, cairan atas
jernih. Sebagian eritrosit mengendap didasar, sebagian
lisis.
2. Permulaan Hemolisis = Cairan atas kuning kecoklatan
3. Hemolisis Sebagian = Cairan merah keruh, ada endapan eritrosit didasar
tabung.
4. Hemolisis Sempurna = Cairan Merah jernih, tidak ada endapan eritrosit

6. Nilai Normal :
 Permulaan Hemolisis Konsentrasi NaCl 0,42 ± 0,02 %
 Hemolisis Sempurna Konsentrasi NaCl 0,32 ± 0,02 %
7. Data Pengamatan :
Visual
 Data Hasil Pemeriksaan :

Konsentrasi NaCl (%) Pengamatan


0,60 % Tidak Hemolisis
0,55 % Tidak Hemolisis
0,50 % Tidak Hemolisis
0,45 % Permulaan Hemolisis
0,40 % Hemolisis Sebagian
0,35 % Hemolisis Sebagian
0,30 % Hemolisis Sempurna
0,25 % Hemolisis Sempurna
0,20 % Hemolisis Sempurna
0,15 % Hemolisis Sempurna
 Hasil Pengamatan :

8. Pembahasan :
Pada percobaan yang dilakukan, tabung 1- 10 terdapat endapan namun warna
cairan yang berbeda. Pada tabung 1-3 warna cairan jernih, sedang tabung no. 4 – 10
warna cairan merah.
Kisaran permulaan hemolisis yang normal adalah dari NaCl 0,40 % - 0,44 %.
Namun pada pengamatan permulaan hemolisis yang terjadi berada pada NaCl 0,45 %
berarti terdapat peningkatan fragilitas.
Kisaran nilai normal hemolisis sempurna adalah dari NaCl 0,30 – 0,34 %
didapatkan hasil pada hemolisis sempurna yang terjadi berada pada NaCl 0,30 % yang
berarti masih dalam kisaran normal.
Faktor utama yang mempengaruhi pemeriksaan osmotik fragility adalah bentuk
eritrosit dan permukaan eritrosit.
a. Peningkatan fragilitas osmotik ditemukan pada penderita anemia hemolitik
b. Penurunan fragilitas osmotik ditemukan pada penderita hati sickle, dan
thalasemia.
Faktor yang mempengaruhi temuan laboratorium, yaitu :
1. pH , Plasma, suhu, konsentrasi glukosa, dan saturasi oksigen pada darah
2. Eritrosit yang berumur lama cenderung memiliki fragilitas osmotik yang tinggi.
3. Sampel darah yang diambil lebih dari 1 jam dapat menunjukan peningkatan
fragilitas osmotik

9. Kesimpulan :
1. Berdasarkan hasil praktikum, didapatkan hasil permulaan hemolisis yang tidak
normal yaitu pada tabung 4 dengan konsentrasi 0,45 %. Nilai normal untuk
permulaan hemolisis adalah 0,40 – 0,44 %.
2. Didapatkan hasil hemolisis sempurna yang normal yaitu pada tabung 7 dengan
konsentrasi 0,30 %. Nilai normal untuk hemolisis sempurna adalah 0,28 – 0,32
%.

Sumber :

https://dokumen.tips/documents/laporan-fragilitas-eritrosit-55c2a5df7be04.html

https://dokumen.tips/documents/laporan-praktikum-biokimia-kedoktera1.html

LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI II

Hari/Tanggal : Rabu, 8 April 2020

Materi Praktikum : Hitung Trombosit

Metode : langsung dan tidak langsung

1. Dasar Teori
Trombosit adalah fragmen sel yang berasal dari megakariosit. Trombosit
bukanlah suatu sel utuh tetapi fragmen/potongan kecil sel (bergaris tengah sekitar 2-4
mikrometer) yang terlepas dari tepi luar suatu sel besar (bergaris tengah sekitar 60
mikrometer) di sumsum tulang yang dikenal sebagai megakariosit. Megakariosit
berasal dari sel bakal yang belum berdiferensiasi yang sama dengan yang
menghasilkan turunan eritrosit dan leukosit. Trombosit pada dasarnya adalah suatu
vesikel yang mengandung sebagian dari sitoplasma megakariosit terbungkus oleh
membran plasma.
Dalam setiap mililiter darah pada keadaan normal terdapat sekitar 250.000
trombosit (kisarannya sekitar 150.000-350.000/mm3). Trombosit tetap berfungsi
selama sekitar 10 hari untuk kemudian disingkirkan dari sirkulasi oleh makrofag
jaringan, terutama makrofag yang terdapat di limpa dan hati, dan diganti oleh
trombosit baru yang dieluarkan dari sumsum tulang.
Hitung jumlah trombosit merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium pada
trombosit. Namun trombosit sukar di hitung karena mudah sekali pecah dan sulit
dibedakan dengan kotoran kecil. Trombosit dapat di hitung dengan beberapa cara
yaitu cara langsung dengan larutan Rees Ecker atau amonium oksalat 1%, dan cara
tidak langsung menggunakan metode Fonio, dan cara automatik. Jumlah trombosit
dalam keadaan normal adalah 150.000-450.000 per ul darah

2. Tujuan Pemeriksaan
Untuk mengetahui dan menentukan jumlah sel trombosit dalam darah
seseorang.

3. Prinsip Pemeriksaan :
1. Cara langsung
Prinsip : Darah diencerkan dengan suatu larutan zat warna tertentu ( van
Herwerden/ReesEcker/Ammonium Oxalat 1%) akan membentuk sel – sel
trombosit, sedangkan sel – sel yang lisis (kecuali Rees Ecker tetap ada
eritrosit) dan dihitung selnya dalam kamar hitung dibawah mikroskop.
2. Cara tidak langsung
Prinsip : Darah diencerkan dengan MgSO4 14 % akan mencegah sel –
sel trombosit menggumpal, dibuat hapusan darah ,diwarnai, dan diperiksa
dibawah mikroskop.

4. Alat dan Reagensia :


A. Cara langsung :
Bahan Pemeriksaan : Darah vena dengan Antikoagulan EDTA/ darah kapiler.
1. Haemocytometer :
 Bilik hitung improve neubauer
 Pipet eritrosit dari Thoma
 Kaca Penutup
2. Kapas/kertas tissue
3. Kertas saring
4. Cawan petri
5. Larutan Van Herwerden :
 Ureum 5,25 ml
 NaCl Fisiologi 1,0 ml
6. Larutan Rees Ecker :
 Natrium Sitrat 3,8 gr
 Briliant Cresyl Blue 0,1 gr
 Formalin 40 % 2 ml
 Aquadest Add 100 ml
7. Larutan Ammonium Oxalat 1 %
 Ammonium Oxalat 1 gr
 Aquadest 100 ml

B. Cara Tidak Langsung :


Bahan Pemeriksaan : Darah Kapiler
1. Blood Lancet/Autoclick
2. Objek Glass
3. Kapas
4. Gelas Arloji
5. Pipet tetes
6. Larutan MgSO4 14 %
7. Oil Imersi/Anisol
8. Zat warna Wright/Giemsa/ Rowanowsky
9. Buffer pH 6,8 atau 7,2

5. Cara Kerja :
1) Metode Langsung :
A. Teknik Kerja I (cara pipet Thoma)
1. Isap darah sampai tanda 0,5 tepat dengan pipet eritrosit
2. Isap larutan Rees Ecker tanda 101 tepat
3. Kocok selama 15 – 20 detik
4. Sebelum mengisi kamar hitung pipet eritrosit dikocok selama 3 menit
5. Buang cairan kira – kira 3 – 4 tetes, tetesan berikutnya diisikan ke bilik hitung
6. Isi kamar hitung dengan menempelkan ujung pipet di tepi kaca penutup biarkan
kamar hitung terisi perlahan – lahan dengan gaya kapilatitetnya
7. Biarkan 5 – 10 menit dalam cawan petri yang telah diberi alas kertas saring
basah untuk memberi kesempatan trombosit untuk mengendap
8. Hitung semua trombosit yang terdapat dalam 80 kotak kecil atau 40 kotak kecil
9. Trombosit tampak :
 Bulat – Bulat kecil tak berwarna, sel leukosit dan eritrosit lisis pada
larutan Herwerden
 Bulat – Bulat kecil tak berwarna, sel leukosit dan eritrosit lisis pada
larutan Ammonium Oxalat 1%
 Berwarna biru dengan latar belakang eritrosit yang berwarna biru juga
pada larutan Rees Ecker

B. Teknik Kerja II ( cara pengenceran dalam tabung) :


1. Dimasukkan larutan pengencer 2000 ul dalam tabung reaksi yang bersih
dengan menggunkan klinipette.
2. Buang cairannya 10 ul dengan Clinipette
3. Darah dikocok dahulu lalu diambil 10 ul dengan clinipette
4. Bagian luar dari yellow tips dibersihkan dengan tissue kering, lalu dicampur
dengan larutan Rees Ecker dengan memasukkan ujung yellow tip kedalam
dasar tabung.
5. Bilas beberapa kali agar tercampur.
6. Kocok tabung 4 – 5 kali dan diamkan selama 2 – 3 menit.
7. Sebelum mengisi kamar hitung tabung dikocok beberapa kali.
8. Isi kamar hitung dengan menempelkan ujung pipet di tepi kaca penutup
biarkan kamar hitung terisi perlahan – lahan dengan gaya kapilatitetnya.
9. Biarkan 5 – 10 menit dalam cawan petri yang telah diberi alas kertas saring
basah untuk memberi kesempatan trombosit untuk mengendap.
10. Hitung semua trombosit yang terdapat dalam 80 kotak kecil atau 40 kotak
kecil.
11. Trombosit tampak :
 Bulat – Bulat kecil tak berwarna, sel leukosit dan eritrosit lisis pada
larutan Herwerden
 Bulat – Bulat kecil tak berwarna, sel leukosit dan eritrosit lisis pada
larutan Ammonium Oxalat 1%
 Berwarna biru dengan latar belakang eritrosit yang berwarna biru juga
pada larutan Rees Ecker

2) Metode Tidak langsung


Cara Kerja :
1. Hitung dulu jumlah Eritrosit per mm3 darah dengan menggunakan bilik
hitung.
2. Untuk menghitung trombosit, ujung jari dibersihkan dengan alkohol 70 % dan
biarkan kering
3. Bubuhkan 1 tetes besar MgSO4 14 % pada ujung jari tadi
4. Melalui tetes MgSO4 14 % ini jari ditusuk dengan lancet dan darah dibiarkan
keluar smpai darah yang keluar kira – kira bagian jumlah MgSO4 dan dibuat
hapusan darah.
5. Keringkan dan difiksasi dengan metanol selama 2 menit
6. Dan dicat dengan cat Wright/Giemsa/Rowanowsky
7. Periksa dibawah mikroskop dengan objektif 100 x menggunakan oil imersi
8. Hitung jumlah trombosit yang ditemukan dalam 1000 eritrosit.

6. Nilai Normal :
 Laki – laki dan Perempuan : 200.000 – 400.000 /mm3 darah
7. Data Pengamatan :
1. Cara langsung : PDP : 200 kali; TKP : 10 kali; KKS : 400
1. Kotak atas kiri :5
2. Kotak atas kanan :4
3. Kotak Bawah Kanan : 5
4. Kotak Bawah Kiri :4
5. Kotak Tengah :6
Jumlah trombosit 80 kotak kecil : 24 biji

2. Cara Tidak Langsung :


n Nama sel I II III IV V VI VII VII IX X Jumlah
o I
1 Eritrosit 92 10 103 97 104 96 98 102 109 91 1000
8
2 Trombosit 5 4 5 4 6 5 6 4 5 4 48

Jumlah Eritrosit Bilik hitung = 2.870.000/mm3 darah

8. Perhitungan :
1. Cara Langsung :
PDP × TKP × KKS ×Trombosit
KKH
200× 10× 400 ×24
¿ =240.000/mm 3 darah
80

2. Cara Tidak Langsung :


Jlh Eritrosit per mm 3 darah × JlhTrombosit didapat
=.... sel /mm3 darah
1000 eritrosit
5.870.000 × 48
¿ =281.760/mm 3 darah
1000
9. Pembahasan :
Hitung trombosit dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Metode
secara langsung dengan menggunakan kamar hitung yaitu dengan mikroskop fase
kontras dan mikroskop cahaya (Rees-Ecker) maupun secara otomatis. Metode yang
dianjurkan adalah penghitungan dengan mikroskop fase kontras dan otomatis. Metode
otomatis akhir-akhir ini banyak dilakukan karena bisa mengurangi subyektifitas
pemeriksaan dan penampilan diagnostik alat ini cukup baik.
Hitung trombosit secara tidak langsung yaitu dengan menghitung jumlah
trombosit pada sediaan apus darah yang telah diwarnai. Cara ini cukup sederhana,
mudah dikerjakan, murah dan praktis. Keunggulan cara ini adalah dalam
mengungkapkan ukuran dan morfologi trombosit, tetapi kekurangannya adalah bahwa
perlekatan ke kaca obyek atau distribusi yang tidak merata di dalam apusan dapat
menyebabkan perbedaan yang mencolok dalam perhitungan konsentrasi trombosit.
Sebagai petunjuk praktis adalah bahwa hitung trombosit adekuat apabila apusan
mengandung satu trombosit per duapuluh eritrosit, atau dua sampai tiga trombosit per
lapang pandang besar (minyak imersi). Pemeriksaan apusan harus selalu dilakukan
apabila hitung trombosit rendah karena penggumpalan trombosit dapat menyebabkan
hitung trombosit rendah palsu.
Berdasarkan praktikum yang dilakukan didapatkan hasil metode langsung
dengan hasil kadar trombosit 240.000/mm3 dan dengan metode tidak langsung
didapatkan kadar trombosit sebanyak 281.760 / mm3 darah. Kadar trombosit yang
didapatkan tersebut menunjukkan bahwa trombosit dalam keadaan normal karena
masih dalam kadar normal 200.000 – 400.000 /mm3 darah.

10. Kesimpulan :
1. Didapatkan Kadar Trombosit dengan metode langsung sebanyak 240.000 /mm3
darah yang menunjukkan bahwa kadar trombosit normal
2. Didapatkan Kadar Trombosit dengan metode Tidak langsung sebanyak
280.760/mm3 darah yang menunjukkan bahwa kadar trombosit normal.
Sumber :
Video : https://www.youtube.com/watch?v=yj00H33V5FM
https://www.academia.edu/16852356/Laporan_Patologi_Klinik_Hitung_Trombosit
https://livrosdeamor.com.br/documents/hitung-trombosit-5cb15ee53f24b#

Anda mungkin juga menyukai