Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PEMBAHASAN

A. Pengertian Energi Alternatif

Energi alternatif adalah istilah yang merujuk kepada semua energi yang dapat
digunakan yang bertujuan untuk menggantikan bahan bakar konvensional tanpa
akibat yang tidak diharapkan dari hal tersebut. Umumnya, istilah ini digunakan
untuk mengurangi penggunaan bahan bakar hidrokarbon yang mengakibatkan
kerusakan lingkungan akibat emisi karbon dioksida yang tinggi, yang
berkontribusi besar terhadap pemanasan global berdasarkan Intergovernmental
Panel on Climate Change. Selama beberapa tahun, apa yang sebenarnya dimaksud
sebagai energi alternatif telah berubah akibat banyaknya pilihan energi yang bisa
dipilih yang tujuan yang berbeda dalam penggunaannya.

Istilah "alternatif" merujuk kepada suatu teknologi selain teknologi yang


digunakan pada bahan bakar fosil untuk menghasilkan energi. Teknologi alternatif
yang digunakan untuk menghasilkan energi dengan mengatasi masalah dan tidak
menghasilkan masalah seperti penggunaan bahan bakar fosil
Oxford Dictionary mendefinisikan energi alternatif sebagai energi yang digunakan
bertujuan untuk menghentikan penggunaan sumber daya alam atau pengrusakan
lingkungan.
Ada banyak kontroversi tentang istilah ini dan bahkan saat ini definisi
sumber energi alternatif sering dihubungkan dengan dua pendapat yang berbeda.
Misalnya energi nuklir dianggap oleh beberapa pihak sebagai sumber energi
alternatif sementara pihak lainnya mengatakan bahwa hanya sumber-sumber energi
terbarukan yang nyata-nyata merupakan sumber energi alternatif. Situasi yang sama
terjadi pada tenaga air karena beberapa pihak berpikir bahwa tenaga air merupakan
sumber energi tradisional yang sama dengan bahan bakar fosil.
Untuk keluar dari kontroversi, sedapat mungkin kita menyebutkan kata energi
alternatif untuk sumber energi alternatif yang paling umum yaitu energi surya, energi
angin dan energi panas bumi. Sumber energi alternatif lain termasuk diantaranya
adalah biomassa dan hidrogen.
Energi memanglah suatu hal yang sangatlah dibutuhkan dalam kehidupan ini.
Rasanya tanpa adanya energi akan sangat sulit sekali bagi manusia untuk
hidup, dalam dunia keseharian semuanya kita lakukan menggunakan energi.
Contohnya saja kendaraan yang setiap hari kita gunakan, sadarkah anda bahwa
kendaraan tersebut juga membutuhkan energi untuk bisa bergerak? Persoalan akan
energi semakin hari semakin memburuk, seiring dengan menipisnya persediaan
energi bahan bakar minyak maka manusia dituntut agar berfikir lebih keras
memikirkan pengganti dari bahan bakar minyak.
Mungkin anda mengira bahwa Bahan Bakar Minyak (BBM) yang saat ini kita
gunakan bukanlah jenis energi alternatif. Padahal BBM merupakan jenis energi
alternatif. Dahulu manusia menggunakan minyak ikan paus sebagai Bahan Bakar
Minyak, bayangkan setiap harinya terdapat ikan-ikan paus mati untuk diambil
minyaknya guna sebagai bahan bakar. Seiring dengan berkembangnya waktu
akhirnya manusia mampu menemukan energi alternatif minyak ikan paus, yakni
minyak dari fosil. Akhirnya minyak ikan paus digantikan dengan minyak fosil.
Akhir-akhir ini minyak dari fosil mulai menipis, dan akhirnya ditemukan lagi
energi alternatif lain contohnya saja energi matahari.

B. ENERGI BARU DAN TERBARUKAN


Ada perbedaan definisi antara energi baru dan energi terbarukan. Energi baru
adalah sumber energi yang belum ada sebelumnya, kemudian ditemukan. Sementara
energi terbarukan secara sederhana didefinisikan sebagai sumber energi yang
ketersediaannya dapat terus menerus diperbaharui (tidak akan habis).
Konsep energi terbarukan mulai dikenal pada tahun 1970-an, sebagai upaya untuk
mengurangi penggunaan energi berbahan bakar fosil. Definisi paling umum adalah
sumber energi yang dapat dengan cepat dipulihkan kembali secara alami, dan
prosesnya berkelanjutan. Dengan definisi ini, maka bahan fosil tidak termasuk di
dalamnya.
Energi Terbarukan adalah energi yang pada umumnya merupakan sumber
daya non fosil yang dapat diperbaharui dan apabila dikelola dengan baik maka
sumber dayanya tidak akan habis. Jenis energi terbarukan meliputi Panasbumi,
Mikrohidro, Tenaga Surya, Tenaga Gelombang, Tenaga Angin, dan Biomasa. Dari
definisinya, semua energi terbarukan sudah pasti juga merupakan energi
berkelanjutan, karena senantiasa tersedia di alam dalam waktu yang relatif sangat
panjang sehingga tidak perlu khawatir atau antisipasi akan kehabisan sumbernya.
Para pengusung energi non-nuklir tidak memasukkan tenaga nuklir sebagai bagian
energi berkelanjutan karena persediaan uranium-235 di alam ada batasnya,
katakanlah ratusan tahun. Tetapi, para penggiat nuklir berargumentasi bahwa nuklir
termasuk energi berkelanjutan jika digunakan sebagai bahan bakar di reaktor
pembiak cepat (FBR: Fast Breeder Reactor) karena cadangan bahan bakar nuklir bisa
"beranak" ratusan hingga ribuan kali lipat.
Energi terbarukan memiliki keuntungan tidak menghasilkan karbon dioksida,
dan merupakan salah satu komponen penting dalam setiap strategi untuk mengurangi
risiko perubahan iklim. Sementara biomassa tidak menghasilkan CO saat dibakar, ia
hanya melepaskan jumlah yang sama seperti mengambil di saat tumbuh, dan begitu
juga karbon-netral selama masa pohon atau tanaman lain. Ini kontras dengan bahan
bakar fosil, yang melepaskan karbon yang mungkin telah diperbaiki ratusan juta
tahun yang lalu ketika suasana dan iklim bumi yang sangat berbeda dari hari ini. Ini
bukan untuk mengatakan bahwa energi terbarukan tanpa dampak lingkungan, karena
setiap sumber memiliki beberapa dampak yang mungkin termasuk emisi polutan
udara atau air lainnya, dampak visual, kerusakan satwa liar dan ekosistem atau
kebisingan, beberapa di antaranya akan dibahas di bawah. Dampak tersebut namun
umumnya lokal dan berumur pendek, dan harus dibandingkan dengan masalah
pembangkit listrik konvensional, sering dalam lingkup internasional dan tahan lama.

1. Potensi-potensi energi baru terbarukan di Indonesia


Indonesia mempunyai berbagai potensi energi baru terbarukan yang dapat
dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Energi tersebut antara lain:
a. Energi Panas Bumi
Sebagai daerah vulkanik, wilayah Indonesia sebagian besar kaya akan sumber energi
panas bumi. Jalur gunung berapi membentang di Indonesia dari ujung Pulau Sumatera
sepanjang Pulau Jawa, Bali, NTT, NTB menuju Kepulauan Banda, Halmahera, dan
Pulau Sulawesi. Panjang jalur itu lebih dari 7.500 km dengan lebar berkisar 50-200
km dengan jumlah gunung api baik yang aktif maupun yang sudah tidak aktif
berjumlah 150 buah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di sepanjang jalur
itu, terdapat 217 daerah prospek panas bumi. Potensi energi panas bumi total adalah
19.658 MW dengan rincian di Pulau Jawa 8.100 MW, Pulau Sumatera 4.885 MW,
dan sisanya tersebar di Pulau Sulawesi dan kepulauan lainnya.
Sumber panas bumi yang sudah dimanfaatkan saat ini adalah 803 MW. Biasanya data
energi panas bumi dapat dikelompokkan ke dalam data energi cadangan dan energi
sumber. Biaya investasi ada dua macam. Pertama biaya eksplorasi dan
pengembangansebesar 500-1.000 dollar AS/kW: 1. Kedua, biaya pembangkit sebesar
1.500 dollar/kW (kapasitas 15 MW), 1.200 dollar/kW (kapasitas 30 MW), dan 910
dollar/kW (kapasitas 55 MW). 2. Untuk biaya energi dari panas bumi adalah 3-5
sen/kWh.

b. Energi Air
Indonesia memiliki potensi besar untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga air.
Itu disebabkan kondisi topografi Indonesia bergunung dan berbukit serta dialiri oleh
banyak sungai dan daerahdaerah tertentu mempunyai danau/waduk yang cukup
potensial sebagai sumber energiair. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) adalah
salah satu teknologi yang sudah terbukti (proven), tidak merusak lingkungan,
menunjang diversifikasi energi dengan memanfaatkan energi terbarukan, menunjang
program pengurangan pemanfaatan BBM, dan sebagian besar memakai kandungan
lokal. Besar potensi energi air di Indonesia adalah 74.976 MW, sebanyak 70.776
MW ada di luar Jawa, yang sudah termanfaatkan adalah sebesar 3.105,76 MW
sebagian besar berada di Pulau Jawa. Pembangunan setiap jenis pembangkit listrik
didasarkan pada kelayakan teknis dan ekonomis dari pusat listrik serta hasil studi
analisis mengenai dampak lingkungan. Sebagai pertimbangan adalah tersedianya
sumber energi tertentu, adanya kebutuhan (permintaan) energi listrik, biaya
pembangkitan rendah, serta karakteristik spesifik dari setiap jenis pembangkit untuk
pendukung beban dasar (base load) atau beban puncak (peak load) Selain PLTA,
energi mikrohidro (PLTMH) yang mempunyai kapasitas 200- 5.000 kW potensinya
adalah 458,75 MW, sangat layak dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga
listrik di daerah pedesaan di pedalaman yang terpencil ataupun pedesaan di pulau-
pulau kecil dengan daerah aliran sungai yang sempit. Biaya investasi untuk
pengembangan pembangkit listrik mikrohidro relatif lebih murah dibandingkan
dengan biaya investasi PLTA. Hal ini disebabkan adanya penyederhanaan standar
konstruksi yang disesuaikan dengan kondisi pedesaan. Biaya investasi PLTMH
adalah lebih kurang 2.000 dollar/kW, sedangkan biaya energi dengan kapasitas
pembangkit 20 kW (rata rata yang dipakai di desa) adalah Rp 194/ kWh.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk pengembangan mikrohidro adalah dengan
mengintegrasikan program pengembangan PLTMH dengan kegiatan ekonomi
masyarakat, memaksimalkan potensi saluran irigasi untuk PLTMH, mendorong
industri mikrohidro dalamnegeri, dan mengembangkan berbagai pola kemitraan dan
pendanaan yang efektif.
c. Biodiesel
Akhir tahun 2004 luas total perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah mencapai 5,3
juta hektare (ha) dengan produksi minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) sebesar
11 juta ton. Perkembangan perkebunan sawit ini masih terus berlanjut dan
diperkirakan dalam lima tahun mendatang Indonesia akan menjadi produsen CPO
terbesar di dunia dengan total produksi sebesar 15 juta ton per tahun.
Salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan di Indonesia
adalah biodiesel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, terutama untuk
mesin diesel. Dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah
saatnya apabila Indonesia mulai mengembangkanbiodiesel, baik untuk konsumsi
dalam negeri maupun untuk ekspor. Harga biodiesel murni sangat bergantung pada
harga CPO yang selalu berfluktuasi. Untuk skala besar, pada harga CPO US$ 400 per
ton, harga biodiesel diperkirakan mencapai sekitar US$ 560 per ton, sehingga harga
B-10 (campuran 10 persen biodiesel dan 90 persen solar) menjadi Rp 2.400 per liter,
suatu harga yang tidak terlalu tinggi untuk bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Dengan kebutuhan solar Indonesia sekitar 23 juta ton per tahun (7,2 juta ton di
antaranya diimpor), penggunaan B-10 akanmemerlukan 2,3 juta ton biodiesel, atau
setara dengan 2,415 juta ton CPO yang dapat dihasilkan dari sekitar 700.000 ha kebun
kelapa sawit, dan dapat menghidupim sekitar 350.000 keluarga petani kelapa sawit,
dengan asumsi kepemilikan lahan seluas 2 ha per keluarga. Banyak keuntungan dari
pemakaian biodiesel. Jenis bahan bakar ini tidak mengandung sulfur dan senyawa
benzeneyang karsinogenik, sehingga biodiesel merupakan bahan bakar yang lebih
bersih dan lebih mudah ditangani dibandingkan dengan solar. Perbedaan antara
biodiesel dan solar terutama pada komposisinya. Biodiesel terdiri dari metil ester
asam lemak nabati, sedangkan solar adalah hidrokarbon. Pada dasarnya tidak perlu
ada modifikasi mesin diesel apabila bahan bakarnya menggunakan biodiesel.
Biodiesel bahkan mempunyai efek pembersihan terhadap tangki bahan bakar, injektor
dan slang. Biodiesel tidak menambah efek rumah kaca seperti halnya solar, karena
karbon yang dihasilkan masih dalam siklus karbon. Energi yang dihasilkan oleh
biodiesel serupa dengan solar, sehingga engine torque dan tenaga kuda yang
dihasilkan juga serupa. Selain itu biodiesel menghasilkan tingkat pelumasan mesin
yang lebih tinggi dibandingkan dengan solar.

d. Biomassa/Biogas
Biomassa merupakan sumber energi primer yang sangat potensial di Indonesia, yang
dihasilkan dari kekayaan alamnya berupa vegetasi hutan tropika. Biomassa bisa
diubah menjadi listrik ataupanas dengan proses teknologi yang sudah mapan. Selain
biomassa seperti kayu, dari kegiatan industri pengolahan hutan, pertanian dan
perkebunan, limbah biomassa yang sangat besarjumlahnyapada saat ini juga belum
dimanfaatkan dengan baik. Munisipal solid waste (MSW) di kota-kotabesar
merupakan limbah kota yang utamanya adalah berupa biomassa, menjadi masalah
yang serius karena mengganggu lingkungan adalah potensi energi yang bisa
dimanfaatkan dengan baik.Limbah biomassa padat dari sektor kehutanan, pertanian,
dan perkebunan adalah limbah pertama yang paling berpotensi dibandingkan
misalnya limbah limbah padi, jagung, ubi kayu, kelapa, kelapa sawit dan tebu.
Besarnya potensi limbah biomassa padat di seluruh Indonesia adalah 49.807,43 MW.
Dengan pemutakhiran teknologi budidaya tanaman, dimungkinkan pengembangan
hutan energi untuk pengadaan biomasa sesuai dengan kebutuhan dalam jumlah yang
banyak dan berkelanjutan. Selain limbah biomassa padat, energi biogas bisa
dihasilkan dari limbah kotoran hewan, misalnya kotoran sapi, kerbau, kuda, dan babi
juga dijumpai di seluruh provinsi Indonesia dengan kuantitas yang berbeda-beda.
Pemanfaatan energi biomassa dan biogas di seluruh Indonesia sekitar 167,7 MW yang
berasal dari limbah tebu dan biogas sebesar 9,26 MW yang dihasilkan dari proses
gasifikasi. Biaya investasi biomassa adalah berkisar 900 dollar/kW sampai 1.400
dollar/kW dan biayaenerginya adalah Rp 75/kW-Rp 250/kW.
Upaya yang dilakukan untuk mengembangkan biomasa adalah mendorong
pemanfaatan limbah industri pertanian dan kehutanan sebagai sumber energi secara
terintegrasi dengan industrinya, mengintegrasikan pengembangan biomassa dengan
kegiatan ekonomi masyarakat, mendorong pabrikasi teknologi konversi energi
biomassa dan usaha penunjang, dan meningkatkan penelitian dan pengembangan
pemanfaatan limbah termasuk sampah kota untuk energi.

e. Energi Samudra/Laut
Di Indonesia, potensi energi samudra/ laut sangat besar karena Indonesia adalah
negara kepulauan yang terdiri dari 17.000 pulau dan garis pantai sepanjang 81.000
km, terdiri dari laut dalam , laut dangkal. dan sekitar 9.000 pulau-pulau kecil yang
tidak terjangkau arus listrik Nasional, dan penduduknya hidup dari hasil laut. Dengan
perkiraan potensi semacam itu, seluruh pantai di Indonesia dapat menghasilkan lebih
dari 2 ~ 3 Terra Watt Ekwivalensi listrik, diasumsikan 1% daripanjang pantai
Indonesia (~ 800 km) dapat memasok minimal ~16 GWatt atau sama dengan pasokan
seluruh listrik di Indonesia tahun 2005. Energi samudra ada empat macam, yaitu
energi panas laut, energi pasang surut, energi gelombang, energi arus laut. Prinsip
kerja masing-masing :
1. Energi panas laut yaitu dengan menggunakan beda temperatur antara
temperatur di permukaan laut dan temperatur di dasar laut.
2. Energi pasang surut dengan menggunakan beda ketinggian antara laut pasang
terbesar dan laut surut terkecil.
3. Energi gelombang adalah dengan menggunakan besar ketinggian gelombang
dan panjang gelombang.
4. Energi arus laut prinsip kerjanya persis sama dengan turbin angin. Dengan
menggunakan turbin akan dihasilkan energi listrik.
Potensi energi panas laut di Indonesia bisa menghasilkan daya sekitar 240.000 MW,
tetapi secara teknologi, pembangkit listrik tenaga laut belum dikembangkan dan
dikuasai sedangkan untuk energi pasang surut dan energi gelombang masih sulit
diprediksi karena masih banyak ragam penelitian yang belum bisa didata secara rinci.
Keempat energi samudra di atas di Indonesia masih belum terimplementasikan karena
masih banyak faktor sehingga sampai saat ini masih taraf wacana dan penelitian
penelitian. Biaya investasi belum bisa diketahui di Indonesia tetapi berdasarkan uji
coba di beberapa negara industri maju adalah berkisar 9 sen/kWh hingga 15 sen/kWh.

f. Angin
Secara umum Indonesia masuk kategori negara tanpa angin, mengingat bahwa
kecepatan angin minimum rata-rata yang secara ekonomis dapat dikembangkan
sebagai penyedia jasa energi adalah 4m/ dt. Kendatipun demikian ada beberapa
wilayah dimana sumber energi angin kemungkinan besar layak dikembangkan.
Wilayah tersebut antara lain Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat
(NTB), Sulawesi Selatan dan Tenggara, Pantai Utara dan Selatan Jawa dan Karimun
Jawa.
Upaya untuk mengembangkan energi angin mencakup pengembangan energi angin
untuk listrik dan non listrik (pemompaan air untuk irigasi dan air bersih),
pengembangkan teknologi energi angin yang sederhana untuk skala kecil (10 kW) dan
skala menengah (50 - 100 kW) dan mendorong pabrikan memproduksi SKEA skala
kecil dan menengah secara massal.

g. Surya
Berdasarkan data penyinaran matahari yang dihimpun dari 18 lokasi di Indonesia
menunjukan bahwa radiasi surya di Indonesia dapat diklasifikasikan berturutturut
untuk kawasan barat dan timur
Indonesia dengan distribusi penyinaran :
• Kawasan barat Indonesia (KBI) = 4.5 kWh/m2.hari, variasi bulanan sekitar 10%
• Kawasan timur Indonesia (KTI) = 5.1 kWh/m2.hari, variasi bulanan sekitar 9%
• Rata-rata Indonesia = 4.8 kWh/m2.hari, variasi bulanan sekitar 9%.
Hal ini mengisyaratkan bahwa radiasi surya tersedia hampir merata sepanjang tahun,
dan kawasan timur Indonesia memiliki penyinaran yang lebih baik.
Energi surya dapat dimanfaatkan melalui dua macam teknologi yaitu energi surya
termal dan surya fotovoltaik.
1. Surya Fotovoltaik
Energi surya atau lebih dikenal sebagai solar cell atau photovoltaic cell, merupakan
sebuah divais semikonduktor yang memiliki permukaan yang luas dan terdiri dari
rangkaian dioda tipe p dan n,yang mampu merubah langsung energi surya menjadi
energi listrik.
2. Surya Termal
Sebagian besar dan secara komersial, pemanfaatan energi surya termal banyak
digunakan untuk penyediaan air panas rumah tangga, khususnya rumahtangga
perkotaan. Jumlah pemanas air tenaga surya (PATS) diperkirakan berjumlah 150.000
unit dengan total luasan kolektorsebesar 400,000 m2. Secara non-komersial dan
tradisional, energi surya termal banyak digunakan untuk keperluan pengeringan
berbagai komoditas pertanian, perikanan, perkebunan, industrikecil, dan keperluan
rumah tangga. Secarakomersial, energi surya mempunyai potensiekonomi untuk
penyediaan panas proses suhu rendah (s/d 90 oC) menggunakansistem energi surya
termik (SEST) bagikeperluan pengolahan pasca panenkomoditas tersebut dengan
lebih efektif dan efisien.
Pengembangan energi surya mencakup pemanfaatan PLTS di perdesaan dan
perkotaan, mendorong komersialisasi PLTS dengan memaksimalkan keterlibatan
swasta, mengembangkan industri PLTS dalam negeri, dan mendorong terciptanya
sistem dan pola pendanaan yang efisien dengan melibatkan dunia perbankan.

C. Kendala pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia


Laju kebutuhan energi dalam negeri terus tumbuh seiring pertumbuhan
ekonomi. Sumber pemenuhan kebutuhan itu masih didominasi oleh energi fosil.
Padahal, pemerintah telah memasang target agar seperempat dari energi yang
digunakan bersifat baru terbarukan.Penggunaan energi terbarukan di Indonesia masih
tergolong rendah, karena dirasa belum kompetitif dibandingkan dengan energi
konvensional. Harga listrik yang dibangkitkan PLTS,PLTB,PLTMH dan PLT energi
baru terbarukan lainnya masih lebih tinggi daripada yang dibangkitkan dengan BBM.
Sumber energi baru terbarukan seperti energi surya,energi angin, dan biomassa besar
tetapi pemanfaatannya masih terbatas, karena harganya yang belum kompetitif
terhadap energi konvensional. Sayangnya, sebagian besar teknologi energi masih
belum berkembang dan belum dikuasai sehingga ketergantungan terhadap luar negeri
sangat besar.
Padahal jika kita tahu bahwa pemanfaatan sumber daya energi terbarukan sebagai
bahan baku produksi energi listrik mempunyai kelebihan antara lain;

1. Relatif mudah didapat,


2. Dapat diperoleh dengan gratis, berarti biaya operasional sangat rendah,
3. Tidak mengenal problem limbah,
4. Proses produksinya tidak menyebabkan kenaikan temperatur bumi, dan
tidakterpengaruh kenaikkan harga bahan bakar (jarass,1980).

Akan tetapi bukan berarti pengembangan pemanfaatan sumber daya energi


terbarukan ini terbebas dari segala kendala. Khususnya di Indonesia ada beberapa
kendala yang menghambat pengembangan energi terbarukan bagi produksi energi
listrik, seperti:

1. Harga jual energi fosil, misal; minyak bumi, solar dan batubara, di Indonesia
masih sangat rendah.
2. Rekayasa dan teknologi pembuatan sebagian besar komponen utamanya belum
dapat dilaksanakan di Indonesia, jadi masih harus mengimport dari luar negeri.
3. Biaya investasi pembangunan yang tinggi menimbulkan masalah finansial pada
penyediaan modal awal.
4. Belum tersedianya data potensi sumber daya yang lengkap, karena masih
terbatasnya studi dan penelitian yang dilakukan.
5. Secara ekonomis belum dapat bersaing dengan pemakaian energi fosil.
6. Kontinuitas penyediaan energi listrik rendah, karena sumber daya energinya
sangat bergantung pada kondisi alam yang perubahannya tidak tentu.
7. Kebijakan yang mampu mendorong transfer teknologi dalam membantu
menciptakan keamanan pasokan energi di dalam negeri belum kondusif.

Potensi sumber daya energi terbarukan, seperti; matahari, angin dan air, ini secara
prinsip memang dapat diperbarui, karena selalu tersedia di alam. Namun pada
kenyataannya potensi yang dapat dimanfaatkan adalah terbatas. Tidak di setiap daerah
dan setiap waktu; matahari bersinar cerah air jatuh dari ketinggan dan mengailr deras
serta angin bertiup dengan kencang. Di sebabkan oleh keterbatasan-keterbatasan
tersebut, nilai sumber daya energi sampai saat ini belum dapat begitu menggantikan
kedudukan sumber daya energi fosil sebagai bahan baku produksi energi listrik. Oleh
sebab itu energi terbarukan ini lebih tepat disebut sebagai energi aditif, yaitu sumber
daya energi tambahan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan energi listrik, serta
menghambat atau mengurangi peranan sumber daya energi fosil.

Optimalisasi energi baru terbarukan di Indonesia

Optimalisasi sumber energi dilakukan untuk meningkatkan kapasitas produksi, serta


melakukan optimasi pembangkit untuk mempertahankan efisiensi dan instrumentasi
pembangkit agar tetap handal sehingga produksi tetap dapat dipertahankan. Beberapa
hal yang perlu dilakukan untuk dapat mengoptimalkan sumber energi baru terbarukan
di Indonesia adalah
1. Melakukan riset
Riset merupakan salah satu cara untuk mengoptimalkan sumber energi yang belum
termanfaatkan dengan optimal. Melalui riset akan didapatkan hasil serta penemuan-
penemuan terbaru bagaimana memanfaatkan EBT yang belum termanfaatkan, belum
tergali serta belum dikembangkan.Riset di bidang energi baru terbarukanperlu
diarahkan untuk meningkatkan kemampuan nasional di bidang penguasaan Iptek.
Khususnya dalam rangka pengembangan industri yang berkaitan dengan jasa dan
teknologi energi terbarukan dan konservasi energi yang dilakukan melalui kerja sama
dengan lembaga atau industri penelitian dan pengembangan unggulan. Selain
programnya juga perlu dianggarkan dengan baik biaya untuk penelitian dan
pengembangan yang diambil dari pengurangan subsidi, maupun anggaran khusus
yang dapat mengurangi kerugian social ekonomi karena permasalahan pemborosan
pemakaian energi. Anggaran pemerintah untuk energi alternatif di dari tahun ketahun
diberikan prioritas kenaikan untuk mempercepat penyelesaian permasalahan energi.
2. Pembangunan infrastrukturenergi.
Infrastruktur energi meliputi infrastruktur konversi energi (pembangkit listrik, kilang
minyak, kilang gas) serta infrastruktur transmisi dan distribusi energi (pipa gas,
jaringan transmisi dan distribusi listrik, dstnya). Ketersediaan infrastruktur energi di
Indonesia serta pengembangan infrastruktur energi yang harus dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan energi dan memanfaatkan ketersediaan sumber energi,
khususnya domestik.
Pembangunan infrastruktur energi diarahkan untuk diversifikasi energi, baik yang
terbarukan maupun yang tidak terbarukan. Sehingga dicapai optimasi penyediaan
energi regional dan nasional untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dan
dapat mendukung pembangunan berkelanjutan. Pembangunan infrastruktur tersebut
dilakukan dengan cara:
a.Memfasilitasi pengembangan pembangunan infrastruktur energi yang mencakup
fasilitas prosesing seperti kilang minyak, pembangkit tenaga listrik, berikutnya
fasilitas transmisi dan distribusi pipa gas dan BBM dan fasilitas depot untuk
penyimpanan.
b.Memfasilitasi peningkatan investasi bidang infrastruktur energi.
c.Memfasilitasi peningkatan pemanfaatan energi alternatif non-BBM termasuk energi
baru terbarukan seperti panas bumi, surya, mikrohidro, angin, dan biomassa sebagai
bagian dari kebijakan bauran energi, efisiensi dan diversifikasi serta mengurangi
beban subsidi pemerintah.
3. Perlu adanya perbaikan kebijaksanaan dalam harga
Biaya produksi dan pengembangan EBT masih tergolong mahal karena harus
mengunakan teknologi yang modern.Hal ini menyebabkan harga dari EBT masih
tergolong mahal.Pemerintah sebaiknya mengurangi subsidi terhadap bahan bakar
minyak dan memperbesar subsidi untuk energi terbarukan karena selama harga BBM
lebih rendah dari harga energi terbarukan maka pengembangan energi terbarukan
tidak kompetitif. Dengan adanya pengurangan subsidi untuk BBM dengan dialihkan
ke pengembangan EBT akan menjadikan harga BBM dan EBT menjadi kompetitif.
Masyarakat akan mempunyai banyak pilihan dalam menggunakan energi.
4. Pengembangan instrumen kebijaksanaan dibidang fiskal yang berkaitan
dengan energi.
Pengembangkan instrument kebijakan fiskal diperlukan untuk mendorong
perkembangan EBT oleh para perusahaan.adanya berbagai insentif secara adil dan
konsisten. Insentif yang diperlukan, diantaranya adalah:
a. pemberian insentif pajak berupa penangguhan, keringanan dan pembebasan
pajak pertambahan nilai, serta pembebasan pajak bea masuk kepada perusahaan yang
bergerak dibidang energi terbarukan dan konservasi energi
b. penghargaan kepada pelaku usaha yang berprestasi dalam menerapkan prinsip
konservasi energi dan pemanfaatan energi terbarukan;
c. penghapusan pajak barang mewah terhadap peralatan energi terbarukan dan
konservasi energi;
d. memberikan dana pinjaman bebas bunga untuk bagian rekayasa teknik pada
investasi pengembangan energi terbarukan dan konservasi energi.
5. Menerapkan Prinsip-Prinsip Good Governance dan Transparansi.
Salah satu faktor yang mempengaruhi pengembangan dan pengelolaan EBT adalah
tata kelola pemerintahan. Pemerintah yang bersih dan baik akan mendorong
pengembangan optimalisasi EBT. Salah satu cara untuk membangun pemerintahan
yang bersih dan baik adalah dengan menerapkan prinsip good governance. Penerapan
prinsip-prinsip good governance dilakukan dengan menerapkantransparansi
mekanisme open access pada infrastruktur energi dan deregulasi di tingkat makro dan
mikro (corporate). Penetapan kelembagaan yang bertanggungjawab dalam pengaturan
standarisasi danspesifikasi produk-produk EBT . pemerintah juga perlu membenahi
berbagai regulasi terkait dengan peraturan perundang-undangan yang tidak efektif dan
tumpang tindih.
6. Mendorong Investasi Swasta bagi Pengembangan Energi,
Investasi dari pihak swasta akan sangat mendukung pengembangan energi di
Indonesia karena biaya produksi dan pengembangan energi baru terbarukan masih
relative tinggi sehingga kurang menarik bagi investor. Investasi dari pihak swasta
dapat berbentuk pembangunan perusahaan yang mengelola energi, penggunaan
teknologi yang canggih dan modern serta pembangunan infrastruktur.Kegiatan yang
dapat dilakukan untuk mendorong investasi swasta adalah dengan menerapkan
insentif ekonomi, baik dalam bentuk fiskal maupun non fiskal, khususnya
untukpasokan energi bagi kebutuhan domestik, pengembangan energi baru terbarukan
danpeningkatan efisiensi energi.Memberikan insentif ekonomi bagi investasi baru
untuk pengembangan infrastruktur energi.Insentif tersebut dapat berupa pemotongan
pajak.
7. Meningkatkan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Pembangunan
Energi yang Berkelanjutan.
Dilakukan dengan menyelenggarakan sosialisasi energi alternatif secara kontinyu
kepada masyarakat serta meningkatan kesadaran masyarakat dalam efisiensi dan
hemat energi.Melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang penggunaan lampu
hemat energi agar dapat merubah mindset masyarakat dalam penggunaaan energi
8. Peningkatan Kegiatan Eksplorasi
Kegiatan eksplorasi ini dilakukan untuk mencari sumber-sumber energi baru
terbarukan yang masih belum ditemukan. Penemuan ladang energi baru akan
menjadikan cadangan energi meningkat dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan energi di Indonesia. Peningkatan kegiatan eksplorasi dapat dilakukan
dengan memberikan insentif ekonomi untuk meningkatkan investasi bagi kegiatan
eksplorasi serta eksplorasi pencarian potensi-potensi baru.

Dengan adanya optimalisasi potensi sumber energi baru terbarukan di Indonesia,


peluang bagi pencapaian kemandirian di sektor energi dan peningkatan pendapatan
nasional Indonesia pun semakin terbuka.Jadi, peningkatan kesejahteraan bangsa
Indonesia menjadi kenyataan.Hal ini tentu menjadi harapan kita semua.
DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 2012.Pengembangan Energi Baru Terbarukan(Ebt) Guna Penghematan


Bahan Baku Fosil Dalam Rangka Ketahanan Energi Nasional. Jurnal Kajian
Lemhannas RI edisi 14 desember 2012.

Bintang, Ananda.2014. Saling dorong kembangkan EBT. Fokus utama edisi 20


desember-20 Januari 2014.
Blue print pengelolaaan energi nasional 2005-2025.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2012). Statistik Energi Terbaru
Kementerian Energi dan Sumber Daya Minernal. (2012). Handbook of Energy and
Economics and Statistics of Indonesia.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Minernal. (2013). Indonesia Economic Energy
Outlook 2013.
Kementrian energi dan Sumber Daya Mineral .(2013). Kerangka Kebijakan Energi
Terbarukan.
Undang-undang republik Indonesia No. 30 tahun 2007 tentang energi