Anda di halaman 1dari 23

10 Maret 2020

TUGAS KELOMPOK OBGYN

PERDARAHAN ANTEPARTUM

Kelompok 7:

Melinda Anastasya Irene Bella 20160811014006


Emanuel A Baga 20160811014005

Dosen Pengampu :

dr. Josef William Wattimury, Sp.OG

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2020
10 Maret 2020

ANTENATAL BLEEDING

Antenatal Bleeding atau perdarahan antepartum adalah perdarahan jalan lahir setelah
kehamilan 28 minggu. Karena perdarahan antepartum terjadi pada kehamilan di atas 28
minggu maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trisemeter ketiga. Walaupun
perdarahannya sering dikatakan terjadi pada trimester ketiga, akan tetapi tidak jarang juga
terjadi sebelum kehamilan 28 minggu karena sejak itu segmen bawah uterus telah terbentuk
dan mulaimelebar serta menipis. Dengan bertambah tuanya kehamilan, segmen bawah uterus
akan lebih melebar lagi, dan serviks mulai membuka.Apabila plasenta tumbuh pada segmen
bawah uterus, pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks tidak dapat diikuti
oleh plasentayang melekat di situ tanpa terlepasnya sebagian plasenta dari dindinguterus.
Pada saat itu mulailah terjadi perdarahan (Wiknjosastro, 2005).
Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber  pada kelainan plasenta.
Hal ini disebabkan perdarahan yang bersumber  pada kelainan plasenta biasanya lebih
banyak, sehingga dapat mengganggu sirkulasi O2 dan CO2 serta nutrisi dari ibu kepada janin.
Sedangkan perdarahan yang tidak bersumber pada kelainan plasenta seperti kelainan serviks
biasanya relatif tidak berbahaya. Oleh karena itu, pada setiap perdarahan antepartum
pertama-tama harus selalu dipikirkan bahwa hal itu bersumber pada kelainan plasenta
(Wiknjosastro, 2005) 
Perdarahan antepartum diklasifikasikan menjadi :
1) Plasenta Previa
Plasenta terletak atau menutupi atau sangat dekat dengan os interna.
2) Solusio Plasenta
Lepasnya plasenta dengan implantasi normal sebelum waktunya pada kehamilan yang
berusia di atas 28 minggu
3) Abortus
Berakhirnya suatu kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau usia
kehamilan kurang dari 20 minggu atau janin belum mampu untuk hidup diluar
kandungan
10 Maret 2020

PLASENTA PREVIA

Definisi
Plasenta previa adalah plasenta terletak atau menutupi atau sangat dekat dengan os
interna. Keadaan lain yang disebut vasa previa adalah keadaan dengan pembuluh-
pembuluh janin berjalan melewati selaput ketuban dan terdapat di os interna. Kondisi ini
merupakan penyebab perdarahan antepartum yang jarang dan memiliki angka kematian
janin yang tinggi. (F. Gary Cunningham, 2005).
Plasenta previa adalah implantasi plasenta di sekitar osteum uteri internum yang
dapat berakibat perdarahan pada kehamilan di atas 22 minggu (Manuaba dkk., 2007).
Plasenta previa adalah plasenta yang implantasi atau letaknya tidak normal,
tumbuh pada segmen bawah rahim, pada zona dilatasi, sehingga menghubungkan atau
menutupi seluruh atau sebagian dari ostium uteri internum. Plasenta yang normal
terletak atau berimplantasi lebih dari 2 cm dari ostium uteri internum. Plasenta previa
pada kehamilan prematur lebih bermasalah karena persalinan terpaksa, perdarahan hebat,
proses persalinan, ataupun oleh karena prematuritas itu sendiri. Perdarahan akibat
plasenta previa akan fatal bagi ibu jika tidak ada persiapan darah atau komponen darah
dengan segera (Wardana GA, Karkata MK. ,2007)
Berdasarkan letaknya, plasenta previa dapat di klasifikasikan sebagai berikut: (57)
1. Plasenta previa totalis : seluruh pembukaan jalan lahir tertutup plasenta (plasenta
yang menutupi seluruh ostium uteri intemum.)
2. Plasenta previa lateralis/parsialis : sebagian pembukaan jalan lahir tertutup (plasenta
plasenta yang menutupi sebagian ostium uteri intemum).
3. Plasenta previa marginalis : pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan
(plasenta yang tepinya berada pada pinggir ostium uteri internum).
4. Plasenta letak rendah : plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus,
tapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir.
10 Maret 2020

Klasifikasi plasenta previa berdasarkan beratnya dan juga penatalaksanaan yang tepat,
yaitu grade I sampai grade IV. Grade I dan II termasuk kriteria minor dan masih
memungkinkan persalinan pervaginam. Sementara itu Grade III dan IV termasuk kriteria
major yang tidak memungkinkan untuk persalinan pervaginam sehingga dibutuhkan
tindakan operasi. Pembagian plasenta previa berdasarkan grade ini adalah sebagai berikut
(Hamilton-Fairley D. 2004):
Grade Deskriksi
Plasenta berada pada segmen bawah rahim tetapi tepi terbawah
I
tidak mencapai ostium uteri internum.
Minor
Tepi terbawah dari plasenta letak rendah mencapai ostium uteri
II
internum tetapi tidak menutupinya.
III Plasenta menutupi ostium uteri internum tetapi asimteris.
Mayor
IV Plasenta menutupi ostium uteri internum secara simetris.

Epidemiologi
Angka kejadian plasenta previa sekitar 1 dari 200 persalinan. Insiden pada multipara
berkisar 1 dari 20 proses kelahiran. Di RS Parkland didapatkan prevalensi plasenta previa
0,5%. Clark dkk (1985) melaporkan prevalensi plasenta previa 0,3%. Nielson dkk (1989)
dengan penelitian prospektif menemukan 0,33% plasenta previa dari 25.000 wanita yang
bersalin, di Indonesia berkisar 2-7% [1]. Prevalensi plasenta previa di negara maju berkisar
antara 0,26 - 2,00 % dari seluruh jumlah kehamilan. Sedangkan di Indonesia dilaporkan oleh
beberapa peneliti berkisar antara 2,4 - 3,56 % dari seluruh kehamilan. Angka kejadian
plasenta previa relative tetap dalam tiga yaitu rata-rata 0,36-0,37 %, tetapi pada dekade
selanjutnya angka kejadian meningkat menjadi 0,48 %, mungkin disebabkan karena
meningkatnya faktor risiko terjadinya plasenta previa seperti umur ibu hamil semakin tua,
kelahiran secara bedah sesar, paritas yang tinggi serta meningkatnya jumlah abortus yang
terjadi,terutama abortus provokatus.
10 Maret 2020

Di Amerika Serikat plasenta previa ditemukan kira-kira 5 dari 1000 persalinan dan
mempunyai tingkat kematian 0.03%. Data terbaru merekam dari 1989-1997 plasenta previa
tercatat didapat pada 2,8 kelahiran dari 1000 kelahiran hidup. Di Indonesia, RSCM Jakarta
mencatat plasenta previa terjadi pada kira-kira 1 diantara 200 persalinan. Antara tahun 1071-
1975 terjadi 37 kasus plasenta previa diantara 4781 persalinan yang terdaftar atau kira-kira 1
dari 125 persalinan.
Menurut Kloosterman (1973), frekuensi plasenta previa pada primigravida yang
berumur lebih dari 35 tahun kira-kira 10 kali lebih sering dibandingkan dengan pramigravida
yang berumur kurang dari 25 tahun, pada grande multipara yang berumur lebih dari 35 tahun
kira-kira 4 kali lebih sering dibandingkan dengan grande multipara yang berumur kurang dari
25 tahun (Wiknjosastro, 2005).

Patofisiologi
FaktorPendukung

Multiparitas, Usia ibu saat Kelainan pada rahim Riwayat kehamilan Merokok
gemeli kehamilan (atrofi, cacat) (Caesar)
Implantasi abnormal

Implantasi embrio (embryonic 10 Maret 2020


plate) pada bagian bawah
(kauda) uterus

Isthmus uteri tertarik


(melebar)menjadi dinding cavum
uteri (SBR/ Segmen Bawah Rahim )

Servik
Desidua lepas Laserasi membuka dan
dari plasenta mendatar

Perdarahan
Dinding rahim Cemas
tipis Hipovolemi
a
anemia
Mudah diinvasi oleh Kekurangan
pertumbuhan trofoblas volume
Perubahan perfusi cairan
jaringan
Plasenta akan melekat
lebih kuat hipoksia Resiko
cedera
Plasenta berkembang
menutupi ostium interna
Bayi lahir dengan
BB rendah/
kematian (gawat
Lahir tidak dapat janin)
normal (lahir sesar)

Faktor Resiko
Etiologi plasenta previa sampai saat ini belum diketahui secara pasti, namun ada
beberapa teori dan faktor risiko yang berhubungan dengan plasenta previa, diantaranya:
1) Ovum yang dibuahi tertanam sangat rendah di dalam rahim, menyebabkan plasenta
terbentuk dekat dengan atau di atas pembukaan serviks.
2) Lapisan rahim (endometrium) memiliki kelainan seperti fibroid atau jaringan parut
(dari previa sebelumnya, sayatan, bagian bedah caesar atau aborsi).
10 Maret 2020

3) Hipoplasia endometrium : bila kawin dan hamil pada umur muda.


4) Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil
konsepsi.
5) Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium.
6) Plasenta terbentuk secara tidak normal.
7) Kejadian plasenta previa tiga kali lebih sering pada wanita multipara daripada
primipara. Pada multipara, plasenta previa disebabkan vaskularisasi yang berkurang
dan perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan masa lampau. Aliran darah ke
plasenta tidak cukup dan memperluas permukaannnya sehingga menutupi pembukaan
jalan lahir. (Sumapraja dan Rachimhadi, 2005)
8) Ibu merokok atau menggunakan kokain.
William dkk menemukan risiko relatif kejadian plasenta previa meningkat 2-4 kali
pada wanita yang merokok. Hal tersebut terjadi karena karbondioksida yang terhisap
mampu menyebabkan hipertrofi (pembesaran) dari plasenta serta menyebabkan
peradangan dan berkurangnya vaskularisasi (pendarahan) plasenta sehingga
mempengaruhi perkembangan dari plasenta.
9) Ibu dengan usia lebih tua.
Risiko plasenta previa berkembang 3 kali lebih besar pada perempuan di atas usia 35
tahun dibandingkan pada wanita di bawah usia 20 tahun (Sheiner, 2001). Hasil
penelitian Wardana (2007) menyatakan usia wanita produktif yang aman untuk
kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun. Diduga risiko plasenta previa
meningkat dengan bertambahnya usia ibu, terutama setelah usia 35 tahun. Plasenta
previa merupakan salah satu penyebab serius perdarahan pada periode trimester ke
III. Hal ini biasanya terjadi pada wanita dengan usia lebih dari 35 tahun (Varney,
2006). Plasenta previa dapat terjadi pada umur diatas 35 tahun karena endometrium
yang kurang subur dapat meningkatkan kejadian plasenta previa (Manuaba, 2008).
Hasil penelitian Wardana (2007) menyatakan peningkatan umur ibu merupakan faktor
risiko plasenta previa, karena sklerosis pembuluh darah arteli kecil dan arteriole
miometrium menyebabkan aliran darah ke endometrium tidak merata sehingga
plasenta tumbuh lebih lebar dengan luas permukaan yang lebih besar, untuk
mendapatkan aliran darah yang adekuat.
10) Operasi Caesar
Melahirkan dengan operasi caesar mengakibatkan parut di dalam rahim. Kejadian
meningkat pada wanita yang sudah melakukan 2 kali atau lebih operasi sesar.
10 Maret 2020

Manifestasi Klinis
 Perdarahan tanpa nyeri
 Pasien mungkin berdarah sewaktu tidur dan sama sekali tidak terbangun. Baru waktu
ia bangun, ia merasa bahwa kainnya basah. Biasanya perdarahan karena plasenta
previa baru timbul setelah bulan ketujuh dan perdarahan sebelum bulan ketujuh
memberi gambaran yang tidak berbeda dari abortus (Martaadisoebrata, 2005).
 Perdarahan pada plasenta previa disebabkan pergerakan antara plasenta dan dinding
rahim. Setelah bulan ke-4 terjadi regangan pada dinding rahim karena isi rahim lebih
cepat tumbuhnya dari rahim sendiri. Akibatnya ismus uteri tertarik menjadi bagian
dinding korpus uteri yang disebut segmen bawah rahim (Martaadisoebrata, 2005).
 Perdarahan berulang.
perdarahan bersifat berulang-ulang karena setelah terjadi pergeseran antara plasenta dan
dinding rahim, regangan dinding rahim dan tarikan pada serviks berkurang. Namun,
dengan majunya kehamilan regangan bertambah lagi dan menimbulkan perdarahan baru
(Martaadisoebrata, 2005).
 Warna perdarahan merah segar.
 Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah.
 Timbulnya perlahan-lahan.
 Waktu terjadinya saat hamil.
 His biasanya tidak ada.
 Rasa tidak tegang (biasa) saat palpasi.
 Denyut jantung janin ada.
 Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina.
 Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul.
 Presentasi mungkin abnormal.
Jadi Kejadian yang paling khas pada plasenta previa adalah pendarahan tanpa nyeri
biasanya baru terlihat setelah trimester kedua atau sesudahnya. Namun demikian, banyak
peristiwa abortus mungkin terjadi akaibat lokasi abnormal plasenta yang sedang tumbuh.
Penyebab pendarahan perlu ditegaskan kembali. Kalau plasenta terletak pada ostium
internum, pembentukan segmen bawah uterus dan dilatasi ostium internum tanpa bias
dielakkan akan mengakibatkan robekan pada tempat pelekantan plasenta yang diikuti oleh
10 Maret 2020

pendarahan dari pembuluh- pembuluh darah uterus. Pendarahan tersebut diperberat lagi
dengan ketidakmampuan serabut- serabut otot miometrium segmen bawah uterus untuk
mengadakan kontaksi dan retraksi agar bias menekan bembuluh darah yang rupture
sebagaimana terjadi secara normal ketika terjadi pelepasan plasenta dari dalam uterus yang
kosong pada kala tiga persalinan.

Akibat pelekatan yang abnormal seperti terlihat pada plasenta akreta, atau akibat
daerah pelekatan yang sangat luas, maka proses perlekatan plasenta kadangkala terhalang
dan kemudian dapat terjadi pendarahan yang banyak setelah bayi dilahirkan. Pendarahan
dari tempat implantasi plasenta dalam segmen bahwa uterus dapat berlanjut setelah
plasentah dilahirkan, mengingat segmen bahwa uterus lebih cendrung memiliki kemampuan
kontraksi yang jelek dibandingkan korpus uteri. Sebagai akibatnya, pembuluh darah
memintas segmen bahwa kurang mendapat kompresi. Pendarahan dapat terjadi pula akibat
laserasi pada bagian bahwa uterus dan serviks yang rapuh, khususnya pada usaha untuk
mengeluarkan plasenta yang melekat itu secara manual.

Pemeriksaan Diagnostik
 USG (Ultrasonografi)
Dapat mengungkapkan posisi rendah berbaring placnta tapi apakah placenta melapisi
cervik tidak biasa diungkapkan
 Sinar X
Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-bagian tubuh
janin.
 Pemeriksaan laboratorium
Hemoglobin dan hematokrit menurun. Faktor pembekuan pada umumnya di dalam
batas normal.
 Pengkajian vaginal
Pengkajian ini akan mendiagnosa placenta previa tapi seharusnya ditunda jika
memungkinkan hingga kelangsungan hidup tercapai (lebih baik sesudah 34 minggu).
Pemeriksaan ini disebut pula prosedur susunan ganda (double setup procedure). Double
setup adalah pemeriksaan steril pada vagina yang dilakukan di ruang operasi dengan
kesiapan staf dan alat untuk efek kelahiran secara cesar.
 Isotop Scanning Atau lokasi penempatan placenta.
 Amniocentesis
10 Maret 2020

Jika 35 – 36 minggu kehamilan tercapai, panduan ultrasound pada amniocentesis untuk


menaksir kematangan paru-paru (rasio lecithin / spingomyelin [LS] atau kehadiran
phosphatidygliserol) yang dijamin. Kelahiran segera dengan operasi direkomendasikan
jika paru-paru fetal sudah mature.

Penatalaksanaan
Semua penderita perdarahan antenatal tidak boleh dilakukan pemeriksaan dalam
kecuali kemungkinan plasenta previa telah disingkirkan atau diagnosa solusio plasenta
telah ditegakkan. Penatalaksanaan plasenta previa yang tercantum dalam Standar
Pelayanan Medik (2008), dibedakan menjadi perawatan konservatif dan perawatan aktif.
a. Perawatan Konservatif
Dilakukan pada bayi prematur dengan TBJ <2500 gram atau umur kehamilan <37
minggu dengan syarat denyut jantung janin baik dan perdarahan sedikit atau berhenti.
Cara perawatan:
o Observasi ketat di kamar bersalin selama 24 jam.
o Keadaan umum ibu diperbaiki, bila anemia berikan transfusi PRC (Packed Red
Cell) sampai Hb 10-11 gr%.
o Berikan kortikosteroid untuk maturitas paru janin (kemungkinan perawatan
konservatif gagal) dengan injeksi Betametason/Deksametason 12 mg tiap 12 jam
bila usia kehamilan <35 minggu atau TBJ < 2000 gram.
o Bila perdarahan telah berhenti, penderita dipindahkan ke ruang perawatan dan
tirah baring selama 2 hari, bila tidak ada perdarahan dapat mobilisasi.
o Observasi perdarahan, denyut jantung janin dan tekanan darah setiap 6 jam.
o Bila perdarahan berulang dilakukan penanganan aktif.
o Pemeriksaan USG, Hb, dan Hematokrit.
Bila selama tiga hari tidak terjadi perdarahan setelah melakukan pengawasan
konserpatif maka lakukan mobilisasi bertahap. Pasien dipulangkan bila tetap tidak
ada perdarahan. Bila timbul perdarahan segera bawa ke rumah sakit dan tidak
boleh melakukan senggama.
o Bila perdarahan ulang tidak terjadi setelah dilakukan mobilisasi penderita
dipulangkan dengan nasihat:
- Istirahat
- Dilarang koitus
10 Maret 2020

- Segera masuk Rumah Sakit bila terjadi perdarahan lagi


- Kontrol tiap minggu
b. Perawatan Aktif
Segera dilakukan terminasi kehamilan. Jika perdarahan aktif (perdarahan >500 cc
dalam 30 menit) dan diagnosa sudah ditegakkan segera dilakukan seksio sesarea
dengan memperhatikan keadaan umum ibu. Perawatan aktif dilakukan apabila:
o Perdarahan aktif.
o Perkiraan berat bayi > 2000 gram.
o Gawat janin.
o Anemia dengan Hb < 6 g%, janin hidup, perkiraan berat bayi > 2000 gram.
10 Maret 2020

SOLUSIO PLASENTA

Definisi
 Solutio Plasenta adalah lepasnya plasenta dengan implantasi normal sebelum
waktunya pada kehamilan yang berusia di atas 28 minggu. (Arif Mansjoer, 2001).
 Solutio Plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri
sebelum janin lahir. (Hanifa Wiknyosastro, 1992 ).
 Solutio Plasenta adalah suatu keadaan dalam kehamilan viable, dimana plasenta yang
tempat implantasinya normal (pada fundus atau korpus uteri) terkelupas atau terlepas
sebelum kala III. (Chrisdiono. M. Achadiat, 2003)
 Solutio Plasenta adalah pelepasan sebagian atau seluruh plasenta yang normal
implantasinya antara minggu 22 dan lahirnya anak. (Obstetri dan Ginekologi, FKU
Padjadjaran Bandung, 1984)
 Solusio plasenta adalah Lepasnya sebagian atau seluruh plasenta yang normal
implantasinya di atas 22 minggu dan sebelum lahirnya anak. (Sastra Winata
Sulaiman, 2003).

Epidemiologi
Insiden solusio plasenta bervariasi antara 0,2-2,4 % dari seluruh kehamilan. Literatur
lain menyebutkan insidennya 1 dalam 77-89 persalinan, dan bentuk solusio plasenta berat 1
dalam 500-750 persalinan (11). Slava dalam penelitiannya melaporkan insidensi solusio
10 Maret 2020

plasenta di dunia adalah 1% dari seluruh kehamilan. Di sini terlihat bahwa tidak ada angka
pasti untuk insiden solusio plasenta, karena adanya perbedaan kriteria menegakkan
diagnosisnya.
Penelitian Cunningham di Parkland Memorial Hospital melaporkan 1 kasus dalam
500 persalinan. Tetapi sejalan dengan penurunan frekuensi ibu dengan paritas tinggi, terjadi
pula penurunan kasus solusio plasenta menjadi 1 dalam 750 persalinan. Menurut hasil
penelitian yang dilakukan Deering didapatkan 0,12% dari semua kejadian solusio plasenta di
Amerika Serikat menjadi sebab kematian bayi. Penelitian retrospektif yang dilakukan oleh
Ducloy di Swedia melaporkan dalam 894.619 kelahiran didapatkan 0,5% terjadi solusio
plasenta.
Menurut data yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto
Mangunkusumo (RSUPNCM) Jakarta didapat angka 2% atau 1 dalam 50 persalinan. Antara
tahun 1968-1971 solusio plasenta terjadi pada kira-kira 2,1% dari seluruh persalinan, yang
terdiri dari 14% solusio plasenta sedang dan 86% solusio plasenta berat. Solusio plasenta
ringan jarang didiagnosis, mungkin karena penderita terlambat datang ke rumah sakit atau
tanda-tanda dan gejalanya terlalu ringan sehingga tidak menarik perhatian penderita maupun
dokternya. Sedangkan penelitian yang dilakukan Suryani di RSUD. DR. M. Djamil Padang
dalam periode 2002-2004 dilaporkan terjadi 19 kasus solusio plasenta dalam 4867 persalinan
(0,39%) atau 1 dalam 256 persalinan.

Patofisiologi
Solusio plasenta dimulai dengan terjadinya perdarahan ke dalam desidua basalis dan
terbentuknya hematom subkhorionik yang dapat berasal dari pembuluh darah miometrium
atau plasenta, dengan berkembangnya hematom subkhorionik terjadi penekanan dan
perluasan pelepasan plasenta dari dinding uterus.
Apabila perdarahan sedikit, hematom yang kecil hanya akan sedikit mendesak
jaringan plasenta dan peredaran darah utero-plasenter belum terganggu, serta gejala dan
tandanya pun belum jelas. Kejadian baru diketahui setelah plasenta lahir, yang pada
pemeriksaan plasenta didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan
darah lama yang berwarna kehitaman. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus-
menerus/tidak terkontrol karena otot uterus yang meregang oleh kehamilan tidak mampu
berkontraksi untuk membantu dalam menghentikan perdarahan yang terjadi. Akibatnya
hematom subkhorionik akan menjadi bertambah besar, kemudian akan medesak plasenta
10 Maret 2020

sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta akan terlepas dari implantasinya di dinding
uterus. Sebagian darah akan masuk ke bawah selaput ketuban, dapat juga keluar melalui
vagina, darah juga dapat menembus masuk ke dalam kantong amnion, atau mengadakan
ekstravasasi di antara otot-otot miometrium. Apabila ekstravasasinya berlangsung hebat akan
terjadi suatu kondisi uterus yang biasanya disebut dengan istilah Uterus Couvelaire, dimana
pada kondisi ini dapat dilihat secara makroskopis seluruh permukaan uterus terdapat bercak-
bercak berwarna biru atau ungu. Uterus pada kondisi seperti ini (Uterus Couvelaire) akan
terasa sangat tegang, nyeri dan juga akan mengganggu kontraktilitas (kemampuan
berkontraksi) uterus yang sangat diperlukan pada saat setelah bayi dilahirkan sebagai
akibatnya akan terjadi perdarahan post partum yang hebat.
Akibat kerusakan miometrium dan bekuan retroplasenter adalah pelepasan
tromboplastin yang banyak ke dalam peredaran darah ibu, sehingga berakibat pembekuan
intravaskuler dimana-mana yang akan menghabiskan sebagian besar persediaan fibrinogen.
Akibatnya ibu jatuh pada keadaan hipofibrinogenemia. Pada keadaan hipofibrinogenemia ini
terjadi gangguan pembekuan darah yang tidak hanya di uterus, tetapi juga pada alat-alat
tubuh lainnya.
(Manjoer Ariff dkk,Kapita selekta kedokteran edisi II, jilid I penerbit Media Aesculapius
FKUI 2001 hal.279).
Pathway:
Trauma

Perdarahan ke dalam desidualbasalis

Terbelah & meninggal lapisan tipis pada miometrium

Terbentuk hematoma desidual

Penghancuran plasenta

Ruptur pembuluh arteri spinalis desidua

Hematoma retroplasenta

Pelepasan plasenta lebih banyak
10 Maret 2020


Uterus tidak mampu berkontraksi optimal

Darah mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban

Syok hipovolemik

Faktor Resiko
Kausa primer solusio plasenta belum diketahui tetapi terdapat beberapa kondisi
terkait, sebagai berikut:
                                                                                       Ris Relatif
Faktor Risiko                                                                      (%)
 
Bertambahnya usia dan paritas                                            NA
Preeklamsia                                                                      2.1-4.0
Hipertensi kronik                                                             1.8-3.0
Ketuban pecah dini                                                          2.4-3.0
Merokok                                                                          1.4-1.9
Trombofilia                                                                         NA
Pemakaian kokain                                                               NA
Riwayat solusio                                                                10-25
Leiomioma uterus                                                               NA
NA = tidak tersedia
Dikutip dari Cunningham dan Hollier (1997); data risiko dari
Ananth dkk. (1999a, 1999b) dan Kramer dkk. (1997).

Penyebab primer solusio plasenta belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa
faktor yang menjadi predisposisi :
1. Faktor kardiorenovaskuler
Glomerulonefritis kronik, hipertensi essensial, sindroma preeklamsia dan eklamsia.
Pada penelitian di Parkland, ditemukan bahwa terdapat hipertensi pada separuh kasus
10 Maret 2020

solusio plasenta berat, dan separuh dari wanita yang hipertensi tersebut mempunyai
penyakit hipertensi kronik, sisanya hipertensi yang disebabkan oleh kehamilan. Dapat
terlihat solusio plasenta cenderung berhubungan dengan adanya hipertensi pada ibu
2. Faktor trauma
Trauma yang dapat terjadi antara lain:
 Dekompresi uterus pada hidroamnion dan gemeli.
 Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas,
versi luar atau tindakan pertolongan persalinan.
 Trauma langsung, seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain.
3. Faktor paritas ibu
Lebih banyak dijumpai pada multipara dari pada primipara. Holmer mencatat bahwa
dari 83 kasus solusio plasenta yang diteliti dijumpai 45 kasus terjadi pada wanita
multipara dan 18 pada primipara. Pengalaman di RSUPNCM menunjukkan
peningkatan kejadian solusio plasenta pada ibu-ibu dengan paritas tinggi. Hal ini dapat
diterangkan karena makin tinggi paritas ibu makin kurang baik keadaan endometrium.
4. Faktor usia ibu
Dalam penelitian Prawirohardjo di RSUPNCM dilaporkan bahwa terjadinya
peningkatan kejadian solusio plasenta sejalan dengan meningkatnya umur ibu. Hal ini
dapat diterangkan karena makin tua umur ibu, makin tinggi frekuensi hipertensi
menahun.
5. Leiomioma uteri (uterine leiomyoma) yang hamil dapat menyebabkan solusio plasenta
apabila plasenta berimplantasi di atas bagian yang mengandung leiomioma.
6. Faktor pengunaan kokain
Penggunaan kokain mengakibatkan peninggian tekanan darah dan peningkatan
pelepasan katekolamin, yang mana bertanggung jawab atas terjadinya vasospasme
pembuluh darah uterus dan dapat berakibat terlepasnyaplasenta . Namun, hipotesis ini
belum terbukti secara definitif. Angka kejadian solusio plasenta pada ibu-ibu
penggunan kokain dilaporkan berkisar antara 13-35%.
7. Faktor kebiasaan merokok
Ibu yang perokok juga merupakan penyebab peningkatan kasus solusio plasenta
sampai dengan 25% pada ibu yang merokok ≤ 1 (satu) bungkus per hari. Ini dapat
diterangkan pada ibu yang perokok plasenta menjadi tipis, diameter lebih luas dan
beberapa abnormalitas pada mikrosirkulasinya. Deering dalam penelitiannya
10 Maret 2020

melaporkan bahwa resiko terjadinya solusio plasenta meningkat 40% untuk setiap
tahun ibu merokok sampai terjadinya kehamilan.
8. Riwayat solusio plasenta sebelumnya
Hal yang sangat penting dan menentukan prognosis ibu dengan riwayat solusio
plasenta adalah bahwa resiko berulangnya kejadian ini pada kehamilan berikutnya
jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ibu hamil lainnya yang tidak memiliki riwayat
solusio plasenta sebelumnya.
9. Pengaruh lain, seperti anemia, malnutrisi/defisiensi gizi, tekanan uterus pada vena cava
inferior dikarenakan pembesaran ukuran uterus oleh adanya kehamilan, dan lain-lain.

Manifestasi Klinis
Gejala – gejala umum yang serng terjadi pada solusio plasenta antara lain :
1. Perdarahan yang disertai nyeri, juga di luar his.
2. Anemi dan syok, sering tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar.
3. Rahim keras seperti papan dan nyeri pegang karena isi rahim bertambah dengan
dengan darah yang berkumpul di belakang plasenta hingga rahim teregang (uterus en
bois).
4. Palpasi sukar karena rahim keras.
5. Fundus uteri makin lama makin naik.
6. bunyi jantung biasanya tidak ada.
7. Pada toucher teraba ketuban yang tegang terus menerus (karena isi rahim bertambah).
8. Sering adanya proteinuri karena disertai preeklampsi.
Sedangkan berdasarkan klasifikasinya, gejala klinis solusio plasenta terbagi menjadi :

 Solusio Plasenta Ringan


Rupture sinus marginalis atau terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak
berdarah banyak, sama sekali tidak mempengaruhi keadaan ibu dan janinnya. Apabila
terjadi perdarahan per vagina, warnanya akan kehitaman dengan jumlah yang sedikit.
Perut mungkin terasa agak sakit, atau agak tegang. Walaupun demikian bagian-bagian
janin masih mudah teraba. Uterus yang agak tegang ini harus diawasi terus menerus
apakah akan menjadi lebih tegang lagi karena perdarahan yang terus menerus. Salah satu
tanda yang menimbulkan kecurigaan akan kemungkinan solusio plasenta ringan ialah
perdarahan per vagina yang berwarna kehitaman.
 Solusio plasenta sedang
10 Maret 2020

Plasenta terlepas lebih dari seperempatnya, tetapi belum sampai dua pertiga luas
permukaannya. Tanda dan gejalanya dapat timbul perlahan-lahan seperti solusio plasenta
ringan, atau mendadak dengan gejala sakit perut terus-menerus, yang tidak lama
kemudian disusul dengan perdarahan per vagina. Walaupun perdarahan per vagina
tampak sedikit, seluruh perdarahannya mungkin telah mencapai 1000ml. ibu jatuh dalam
keadaan syok, demikian juga keadaan janinnya yang gawat. Dinding uterus teraba tegang
dan nyeri tekan sehingga bagian-baian janin sulit diraba. Apabila janin dalam keadaan
hidup bunyi jantung sulit didengar dengan stetoskop biasa harus dengan stetoskop
ultrasonic.
 Solusio plasenta berat
Plasenta telah terlepas lebih dari dua pertiga permukaannya. Terjadi sangat tiba-
tiba, biasanya ibu telah jatuh kedalam syok, dan janinnya telah meninggal. Uterusnya
sangat tegang seperti papandan sangat nyeri. (Bambang Karsono,2002)

Cunningham dan Gasong masing-masing dalam bukunya mengklasifikasikan


solusio plasenta menurut tingkat gejala klinisnya, yaitu:
1. Ringan : perdarahan kurang 100-200 cc, uterus tidak tegang, belum ada tanda renjatan,
janin hidup, pelepasan plasenta kurang 1/6 bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma
lebih 150 mg%.
2. Sedang : Perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda pre renjatan, gawat janin
atau janin telah mati, pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian permukaan, kadar fibrinogen
plasma 120-150 mg%.
3. Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan, janin mati,
pelepasan plasenta dapat terjadi lebih 2/3 bagian atau keseluruhan.

Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Arif Manjoer (2001), pemeriksaan diagnostic yang dibutuhkan untuk
menegakkan diagnose solusio plasenta adalah:
 Pemeriksaan laboratorium darah: Hemoglobin, Hematokrit, Trombosit, waktu
protrombin, waktu pembekuan, waktu tromboplastin parsial, kadar fibrinogen dan
elektrolit plasma.
 KTG untuk menilai kesejahteraan janin
 USG untuk menilai letak plasenta,usia gestasi,dan keadaan janin
10 Maret 2020

Dapat mengungkapkan posisi rendah berbaring placnta tapi apakah placenta melapisi
cervik tidak biasa diungkapkan
 Sinar X
Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-bagian
tubuh janin.
 Pengkajian vaginal
Pengkajian ini akan mendiagnosa placenta previa tapi seharusnya ditunda jika
memungkinkan hingga kelangsungan hidup tercapai (lebih baik sesudah 34 minggu).
Pemeriksaan ini disebut pula prosedur susunan ganda (double setup procedure).
Double setup adalah pemeriksaan steril pada vagina yang dilakukan di ruang operasi
dengan kesiapan staf dan alat untuk efek kelahiran secara cesar.
 Isotop Scanning Atau lokasi penempatan placenta.
 Amniocentesis
Jika 35 – 36 minggu kehamilan tercapai, panduan ultrasound pada amniocentesis
untuk menaksir kematangan paru-paru (rasio lecithin / spingomyelin [LS] atau
kehadiran phosphatidygliserol) yang dijamin. Kelahiran segera dengan operasi
direkomendasikan jika paru-paru fetal sudah mature.

Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis
1. Terapi konservatif (ekspetatif)
Prinsipnya kita hanya menunggu sampai perdarahan berhenti dan pertus berlangsung
spontan.Menurut cara ini perdarahan akan berhneti sendiri jika tekanan intara uterin bertamba
lama bertamba tinggi sehingga menekan pembuluh dara arteri yang robek sambil menunggu
atau mengawasi kita berikan:
a)      Suntikan morfin subkutan
b)      Stimulasi dengan kardiotonika seperti :coramine, cardisol, pentasol
c)      Transfusi darah

2. Terapi aktif
Prinsip kita mencoba melakukan tindakan dengan maskud agar anak segera di
lahirkan dan perdarahan berhenti misalnya dengan operatif dan obstetric.Langka-langka:
10 Maret 2020

a)     Amniotomi (pemecahan ketuban) dan pemberian oksitosin kemudian awasi serta


pimpin partus spontan.
b)     Accouchementforce,pelebaran dan peregangan serfiks di ikuti denganpemasangan
cunam wilet gausz atau fersibrakston-hicks.
c)     Bila pembukaan sudah lengkap atau hampir lengkap,dean kepala sudah turun sampai
hodge III-IV,maka bila hjanin hidu lakukan ekstrasi fakum atau forest tetapi bila janin
meninggal lakukanlah embriotomi.
d)     Seksiosesarea biasanya di lakukan pada keadaan:
 Solusioplasenta dengan anak hidup,pembukaan kecil.
 Solusioplasenta dengan toksemia berat,perdarahan agak banyak,tetapi pembukaan
masih kecil.
 Solusioplasenta dengan panggul sempit atau letak lintang
 Histerektomi dapat dilakukan bila terjadi afibrinogenemia atau hipofibrinogenemia
dan kalo persediaan darah atau fibrinogen tidak atau tidak cukup.selain itu juga ada
coufilair uterus dengan kontraksi uterus yang tidak baik
 Ligasi arteri hipogastrika bila perdarahan tidak terkontrol tetapi fungsi reproduksi
ingin di pertahan kan
 Pada hipofibrinogenemia,berikan darah segar beberapa kantong plasma darah dan
fibrinogen 4-6 gram.

Tindakan lainnya :
1. Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi .
2. Sebelum dirujuk , anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri ,
tidak melakukan senggama , menghindari eningkatan tekanan rongga perut .
3. Pasang infus cairan Nacl fisiologi . Bila tidak memungkinkan, berikan cairan peroral .
4. Pantau tekanan darah & frekuensi nadi tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya
hipotensi / syk akibat perdarahan . pantau pula BJJ & pergerakan janin .
5. Bila terdapat renjatan , segera lakukan resusitasi cairan dan tranfusi darah , bila tidak
teratasi , upayakan penyelamatan optimal dan bila teratsi perhatikan keadaan janin .
6. Setelah renjatan diatasi pertimbangkan seksio sesarea bila janin masih hidup atau
persalinan pervaginam diperkirakan akan berlangsung lama . bila renjatan tidak dapat
diatasi , upayakan tindakan penyelamatan optimal .
10 Maret 2020

7. Setelah syok teratasi dan janin mati , lihat pembukaan . bila lebih dari 6 cm pecahkan
ketuban lalu infus oksitosin . bila kurang dari 6 cm lakukan seksio sesarea .
8. Bila tidak terdapat renjatan dan usia gestasi kurang dari 37 minggu / taksiran berat
janin kurang dari 2.500 gr . penganganan berdasarkan berat / ringannya penyakit yaitu
:
a)      Solusi plasenta ringan .
 Ekspektatif , bila ada perbaikan ( perdarahan berhenti , kontraksi uterus tidak
ada , janin hidup ) dengan tirah baring atasi anemia , USG & KTG serial ,
lalu tunggu persalinan spontan .
 Aktif , bila ada perburukan ( perdarahan berlangsung terus , uterus
berkontraksi , dapat mengancam ibu / janin ) usahakan partus pervaginam
dengan amnintomi / infus oksitosin bila memungkinan . jika terus perdarahan
skor pelvik kurang dari 5 / ersalinan masih lama , lakukan seksi sesarea
b)      Solusio plasenta sedang / berat .
 Resusitasi cairan .
 Atasi anemia dengan pemberian tranfusi darah .
Partus pervaginam bila diperkirakan dapat berkurang dalam 6 jam perabdominam bila
tidak dapat renjatan , usia gestasi 37 minggu / lebih / taksiran berat janin 2.500 gr / lebih ,
pikirkan partus perabdominam bila persalinan pervaginam diperkirakan berlangsung lama
10 Maret 2020

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.
Mansjoer, A. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media Aesculapius : Jakarta.
Nanda Internasional. Tanpa Tahun. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2009-2011 (M.
Ester, Ed.). Alih Bahasa Made Sumarwati, Dwi Widiarti & Estu Tiar. 2011. Jakarta:Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Prawirohardjo,Sarwono .2002.Ultrasonografi dalam Obstetri, Ilmu kebidanan. Jakarta:Yayasan Bina
Pustaka
Nanda Internasional. Tanpa Tahun. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2009-2011 (M.
Ester, Ed.). Alih Bahasa Made Sumarwati, Dwi Widiarti & Estu Tiar. 2011. Jakarta:Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Prawirohardjo,Sarwono .2002.Ultrasonografi dalam Obstetri, Ilmu kebidanan. Jakarta:Yayasan Bina
Pustaka.
Karsono, Bambang . 2002. ILMU KEBIDANAN. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Wiknjosastro,Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Edisi ketiga. Yayasan Bina Pustak Sarwono
Prawiroharjo. Jakarta.
Cunningham, F. Gary; Gant, Norman F; Leveno Md. 2001. Williams Obstetrics. 21st Ed. McGraw-
Hill Professional

Hamilton-Fairley D. 2004.Lecture Notes: Obstetrics and Gynaecology, 2nd ed. Massachusetts:


Blackwell Publishing.

Kumboyo DA, et al. 2008. Standar Pelayanan Medik Ilmu Obstetri Dan Ginekologi . Disertasi tidak
diterbitkan. Mataram: Fakultas Kedokteran Universitas Mataram.

Wardana GA, Karkata MK. 2007. Faktor Resiko Plasenta Previa. Jakarta: Cermin Dunia Kedokteran.
10 Maret 2020

Manuaba, Ida Bagus Gde. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC

Hanafiah, T.M 2004. Plasenta Previa, on line, (http://www. Library.usu.ac.id/download/fk/obstetri-


tmhanafiah2.pdf, diakses tanggal 14 September 2012).

Miller, 2009. Placenta Previa. Online, (http://www.obfocus.com/high-risk/placentaprevia.htm, diakses


tanggal 14 September 2012).

Ohio State University, 2003. Placenta Previa. Online


http://medicalcenter.osu.edu/PatientEd/Materials/PDFDocs/women-in/pregnancy/placent.pdf,
diakses tanggal 14 September 2012)

Cunningham FG, dkk,. 2001. Obstetrical haemorrhage. Wiliam obstetrics 21 th edition. Lange
USA: Prentice Hall International Inc Appleton.

Arif Mansjoer. 2001. Kapita Selekta edisi 3 jilid 1. Bandung: Media Aeskulapius.

Manuaba, Chandarnita, dkk,. 2008. Gawat-darurat obstetri-ginekologi & obstetri-ginekologi sosial


untuk profesi bidan. Jakarta: EGC.

Prawirohardjo S, Hanifa W. 2002. Kebidanan Dalam Masa Lampau, Kini dan Kelak. Dalam: Ilmu
Kebidanan, edisi III. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Akhyar I, Yayan. 2007. Karakteristik Kasus Solusio Plasenta di Bagian Obstetri dan Ginekologi
RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Peride 1 Januari 2002 - 31 Desember 2006. Fakultas
Kedokteran – Universitas Riau.