Anda di halaman 1dari 6

PORTO FOLIO

( Diajukan Ajukan Sebagai Syarat Untuk Memenuhi Nilai Ujian Satuan Pendidikan )

MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA


DI SMK NEGERI 1 SOBANG
TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Penyusun;

Nama : SINTA LESTARI


Nisn : 0026706955
Kelas : XII
Kompetensi keahlian : Teknik Komputer dan Jaringan

PEMERINTAH PROVINSI BANTEN


UPTD CABANG DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAN KABUPATEN LEBAK

SMK NEGERI 1 SOBANG


( Kp. Ciparasi, Desa Ciparasi, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Prov. Banten 42318 )
\KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulisan ini dapat Menyelesaikan Tugas

PORTOPOLIO.  Penulisan Portopolio ini bertujuan untuk memenuhi tugas Mata Pelajaran

Bahasa Indonesia .  Penulis menyadari begitu banyak pihak yang membantu, memberi semangat,

dan dorongan sehingga Portopolio ini dapat terselesaikan.  Pada kesempatan ini penulis

menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada:

1. Drs. Heri Mulyanto Selaku Kepala Sekolah SMKN 1 Sobang

2. Bapak Reja Paisal,S.Pd Selaku Guru Mata Pelajaran

yang telah memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan Portopolio, juga yang telah

memberikan arahan dan bimbingan dengan kesabaran serta ketelitian dalam proses penyusunan

Penulisan Portopolio.  Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah

membantu baik moral, maupun material terhadap penulis.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan mereka, serta melimpahkan pahala.  Harapan

penulis semoga Portopolio ini dapat berguna bagi semua pihak, baik masa kini maupun masa

yang akan datang.  Kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca sangat diharapkan.

Sobang, Maret 2020

Penulis
Cara pembuatan
1. Sebagai gula merah
Bunga (mayang) atau (Bunga Kelapa) yang belum mekar diikat kuat (kadang-kadang dipres
dengan dua batang kayu) pada bagian pangkalnya sehingga proses pemekaran bunga menjadi
terhambat. Sari makanan yang seharusnya dipakai untuk pemekaran bunga menumpuk menjadi
cairan gula. Mayang membengkak. Setelah proses pembengkakan berhenti, batang mayang
diiris-iris untuk mengeluarkan cairan gula secara bertahap. Cairan biasanya ditampung
dengan timba yang terbuat dari daun pohon palma tersebut. Cairan yang ditampung diambil
secara bertahap, biasanya 2-3 kali. Cairan ini kemudian dipanaskan dengan api sampai kental.
Setelah benar-benar kental, cairan dituangkan ke mangkok-mangkok yang terbuat dari daun
palma dan siap dipasarkan. Gula merah sebagian besar dipakai sebagai bahan baku kecap manis.
2. Sebagai gula aren
Bunga jantan pohon enau yang dikumpulkan terlebih dahulu dalam sebuah bumbung bambu.
Untuk mencegah nira mengalami peragian dan nira yang telah mengalami fermentasi tidak bisa
dibuat gula, maka ke dalam bumbung bambu tersebut ditambahkan laru atau kawao yang
berfungsi sebagai pengawet alami.
Setelah jumlahnya cukup, nira direbus di atas tungku dalam sebuah wajan besar. Kayu terbaik
untuk memasak gula aren berasal dari kayu aren yang sudah tua. Karena kalori ini lebih tinggi
dari kayu bakar biasa maka proses memasaknya juga lebih cepat. Sekalipun demikian, api tidak
juga boleh terlalu besar sampai masuk ke dalam wajan dan menjilat serta membakar gula yang
sedang dimasak. Kalau ini terjadi gula akan hangus, rasanya akan pahit dan warnanya menjadi
hitam.
Gula aren sudah terbentuk bila nira menjadi pekat, berat ketika diaduk dan kalau diciduk dari
wajan dan dituangkan kembali adukan akan putus-putus. Dan kalau tuangkan ke dalam air
dingin, cairan pekat ini akan membentuk benang yang tidak putus-putus.Kalau sudah begitu,
adonan diangkat dari tungku dan dicetak.
3. Sebagai gula semut
Bahan dasar untuk membuat gula semut adalah nira dari pohon Kelapa atau pohon aren (enau).
Karena kedua pohon ini masuk jenis tumbuhan palmae maka dalam bahasa asing, secara umum
gula semut hanya disebut sebagai Palm Sugar atau Palm Zuiker
A. Proses
Pengolahan gula semut dapat dilakukan dari nira aren atau dari gula merah cetak. Prosesnya
adalah sebagai berikut:
1. Pengendapan Kapur
Kapur yang dipakai sebagai pengawet saat penampungan nira harus diendapkan, sedapat
mungkin seluruh kapur diendapkan karena makin tinggi konsentrasi kapur tersisa, makin pahit
rasa gula yang dihasilkan, berarti mutu makin rendah.
2. Penyaringan dan pembersihan nira
Setelah semua kapur diendapkan nira yang diperoleh disaring untuk menghilangkan benda-benda
asing yang tidak dikehendaki seperti dedaunan, ranting-ranting, dan serangga
3. Pemasakan
Untuk mendapatkan gula semut yang bermutu baik, nira yang diperoleh harus segera dimasak.
Selama pemanasan biasanya akan timbul buih yang mengandung kotoran-kotoran halus. Buih
dan kotoran-kotoran ini perlu dibersihkan, sebab akan mempengaruhi mutu gula. Buih
dihilangkan dengan penyaringan dengan tapisan yang lubang saringannya halus. Pembentukan
dan peluapan buih dapat dicegah secara fisik dengan pengadukan atau pengaturan suhu. Buih
terbentuk karena panas yang berlebihan. Penggunaan alat vakum mencegah terjadinya
kehilangan karena buih. Pengadukan mencegah terpusatnya panas suatu bagian atau meratakan
panas.
Larutan terus diaduk agar masaknya merata dan dijaga agar bagian bawahnya tidak gosong.
Lama kelamaan gelembung-gelembung yang terjadi makin jarang dan ini menunjukkan larutan
sudah mulai tua. Pemasakan dihentikan bila nira yang kental itu sudah meletup-letup, atau bila
diteteskan berputar-putar di dalam air membentuk benang-benang gula yang terasa keras. Wajan
kemudian diturunkan dari tungku, dan nira yang kental tersebut tetap terus diaduk sambil sedikit
demi sedikit diambil dengan pengaduk untuk dioles-oleskan /digosok-gosokkan pada pinggiran
wajan.
4. Proses pengkristalan
Proses tambahan yang penting pada pengolahan gula semut adalah pengkristalan dan
pembentukan serbuk. Setelah nira kental, pemanasan dihentikan. Nira kental diaduk perlahan-
lahan dengan arah yang tetap (searah). Pada saat pengadukan dilakukan semakin lama semakin
cepat untuk meratakan perkembangan pembentukan Kristal dan mencegah terjadinya gumpalan-
gumpalan serbuk. Pengadukan mempengaruhi tingkat kehalusan dan keseragaman bentuk
serbuk.
5. Pengayakan
Setelah proses kristalisasi dan pembentukan serbuk selesai, gula semut tersebut diayak untuk
memperoleh ukuran yang seragam. Gula semut yang tidak lolos ayakan dihaluskan dan diayak
lagi. Serbuk-serbut tersebut dikemas dalam bahan-bahan pengemas yang kedap air seperti
misalnya plastik polipropilene (PP)[1]
Kandungan gula merah
Dalam setiap 100 gram bahwa gula merah mengandung:[2]

 kalsium: 90 mg

 zat besi: 4 mg

 sisanya karoten

 Vitamin A, B12, C, E

 Float
 Garam mineral

 Protein kasar.