Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN SEHAT JIWA

A. Pengertian Sehat Jiwa


Kesehatan jiwa bagi manusia berarti terwujudnya keharmonisan fungsi jiwa dan
sanggup menghadapi problem, merasa bahagia dan mampu diri. Orang yang sehat
jiwa berarti mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang
lain, masyarakat, dan lingkungan. Manusia terdiri dari bio, psiko, social, dan spiritual
yang saling berinteraksi satu dengan yang lain dan saling mempengaruhi.
Sehat (health) adalah konsep yang tidak mudah diartikan sekalipun dapat kita rasakan
dan diamati keadaannya. Orang ‘gemuk’ dianggap sehat dan orang yang mempunyai
keluhan dianggap tidak sehat. Faktor subjektifitas dan kultural mempengaruhi
pemahaman dan pengertian orang terhadap konsep sehat. World Health Organization
(WHO) merumuskan sehat dalam arti kata yang luas, yaitu keadaan yang sempurna
baik fisik, mental maupun social, tidak hanya terbebas dari penyakit atau
kelemahan/cacat.
Kesehatan fisik telah lama menjadi perhatian manusia, tetapi jangan dilupakan bahwa
manusia adalah mahluk yang holistic, terdiri tidak hanya fisik tapi juga mental dan
social yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan antara kesehatan fisik dengan mental
dapat dibuktikan oleh Hall dan Goldberg tahun 1984 (Notosoedirjo, 2005), bahwa
pasien yang sakit secara fisik menunjukkan adanya gangguan mental seperti depresi,
kecemasan, sindroma otak organic, dan lain-lain. Terdapat tiga kemungkinan
hubungan antara sakit secara fisik dan mental, pertama orang yang mengalami sakit
mental karena sakit fisiknya. Karena kondisi fisik tidak sehat, sehingga tertekan dan
menimbulkan gangguan mental. Kedua, sakit fisik yang diderita itu sebenarnya gejala
dari adanya gangguan mental. Ketiga, antara gangguan mental dan fisik saling
menopang, artinya orang menderita secara fisik menimbulkan gangguan secara
mental, dan gangguan mental turut memperparah sakit fisiknya.

B. Kriteria Sehat Jiwa


Ada berbagai pendapat tentang jiwa yang sehat, yaitu karena tidak sakit, tidak jatuh
sakit akibat stressor, sesuai dengan kapasitasnya dan selaras dengan lingkungan, dan
mampu tumbuh berkembang secara positif (Notosoedirjo dan Latipun, 2005).
1. Sehat jiwa karena tidak mengalami gangguan jiwa
Kalangan klinisi klasik menekankan bahwa orang yang sehat jiwa adalah orang yang
tahan terhadap sakit jiwa, dan terbebas dari gangguan jiwa. Orang yang mengalami
neurosa atau psikosa dianggap tidak sehat jiwa. Vaillant, 1976 dalam Notosoedirjo,
2005 menyatakan bahwa sehat jiwa itu “ as the presence of successful adjustment or
the absence of psychopatology (dysfunction in psychological, emotional, behavioral,
and social spheres)”.Pengertian diatas bersifat dikotomis, bahwa orang itu dalam
keadaan sehat jika tidak ada sedikitpun gangguan psikis, dan sakit jika ada gangguan.
Dengan kata lain, sehat dan sakit itu bersifat nominal.
2. Sehat jiwa jika tidak sakit akibat adanya stressor
Clausen memberi batasan yang berbeda dengan klinisi klasik. Orang yang sehat jiwa
adalah orang yang dapat menahan diri untuk tidak jatuh akibat stressor. Meskipun
mengalami tekanan, orang tetap sehat. Pengertian ini menekankan pada kemampuan
individual merespon lingkungannya. Setiap orang mempunyai kerentanan
(susceptibility) yang berbeda terhadap stressor karena factor genetic, proses belajar,
dan budaya. Selain itu terdapat perbedaan intensitas stressor yang diterima seseorang,
sehingga sangat sulit menilai apakah dia tahan terhadap stressor atau tidak.
3. Sehat jiwa jika sejalan dengan kapasitasnya dan selaras dengan lingkungan
Michael dan Kirk Patrick memandang bahwa individu yang sehat jiwa jika terbebas
dari gejala psikiatris dan berfungsi optimal dalam lingkungan sosialnya. Seseorang
yang sehat jiwanya jika sesuai dengan kapsitas diri sendiri, dan dapat hidup selaras
dengan lingkungannya.
4. Sehat jiwa karena tumbuh dan berkembang secara positif
Frank LK mengemukakan pengertian kesehatan jiwa lebih komprehensif. Orang yang
L sehat jiwa mampu tumbuh, berkembang dan matang dalam hidupnya, menerima
tanggungjawab, menemukan penyesuaian dalam berpartisipasi memelihara aturan
social dan tindakan dalam budayanya.

Seseorang yang sehat mental menurut WHO mempunyai ciri sebagai berikut:
1. Menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan
2. Memperoleh kepuasan dari usahanya
3. Merasa lebih puas memberi daripada menerima
4. Saling tolong menolong dan saling memuaskan
5. Menerima kekecewaan untuk pelajaran yang akan datang
6. Mengarahkan rasa bermusuhan pada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif
7. Mempunyai kasih sayang.

Kriteria Sehat Jiwa menurut M. Jahoda:


1. Sikap positif terhadap diri
Menerima diri apa adanya, sadar diri, obyektif, dan merasa berarti.
2. Tumbuh, kembang dan aktualisasi
Berfungsi optimal dan adaptif
3. Integrasi
Keseimbangan antara ekspresi dan represi, ego yang kuat (Stress dan koping) dan
mampu menyeimbangkan konflik dan dorongan.
4. Otonomi
Tergantung dan mandiri seimbang, tanggung jawab terhadap diri sendiri,
menghargai otonomi oranglain, persepsi reality, mau berubah sesuai dengan
pengetahuan baru, empati dan menghargai sikap dan perasaan oranglain.
5. Environment Mastery
Mampu untuk sukses, adaptif terhadap lingkungan, dan dapat mengatasi kesepian,
agresi dan frustasi.

Abraham Maslow mengkriteriakan seseorang yang sehat jiwa memiliki persepsi yang
akurat terhadap realitas, serta menerima diri sendiri, oranglain, dan lingkungan.
Bersikap spontan, sederhana dan wajar (Rasmun, 2001). Manifestasi jiwa yang sehat
menurut Maslow dan Mittlement, 1963; Notosoedirjo, 2005, jika seseorang mampu
self-actualization sebagai puncak kebutuhan dari teori hierarki kebutuhan. Secara
lengkap criteria sehat jiwa menurut Maslow sebagai berikut:
1. Adequate feeling of security
Rasa aman yang memadai dalam hubungannya dengan pekerjaan, social, dan
keluarganya.
2. Adequate self-evaluation
Kemampuan menilai diri sendiri yang cukup mencakup harga diri yang memadai,
memiliki perasaan berguna, yaitu perasaan yang tidak diganggu rasa bersalah
berlebihan, dan mampu mengenal beberapa hal secara social dan personal dapat
diterima oleh masyarakat.
3. Adequate spontanity and emotionality
Memiliki spontanitas dan perasaan yang cukup dengan orang lain dengan
membentuk ikatan emosional secara kuat, seperti persahabatan dan cinta,
kemampuan memberi ekspresi yang cukup pada ketidaksukaan tanpa kehilangan
control, kemampuan memahami dan membagi rasa kepada oranglain, kemampuan
menyenangi diri sendiri dan tertawa.
4. Efficient contact with reality
Mempunyai kontak yang efisien dengan realitas yang mencakup tiga aspek yaitu
dunia fisik, social, dan internal atau diri sendiri. Hal ini ditandai dengan tiadanya
fantasi yang berlebihan, mempunyai pandangan yang realities dan luas terhadap
dunia, disertai kemampuan menghadapi kesulitan hidup sehari-hari, dan
kemampuan untuk berubah jika situasi eksternal tidak dapat dimodifikasi.
5. Adequate bodily desire and ability to gratify them
Keinginan jasmani yang cukup dan kemampuan untuk memuaskan, yang ditandai
dengan sikap yang sehat terhadap fungsi jasmani, kemampuan memperoleh
kenikmatan kebahagiaan dari dunia fisik seperti makan, tidur, pulih kembali dari
kelelahan. Kehidupan seksual yang wajar tanpa rasa takut dan konflik,
kemampuan bekerja, dan tidak adanya kebutuhan yang berlebihan.
6. Adequate self-knowledge
Mempunyai pengetahuan diri yang cukup tentag motif, keinginan, tujuan, ambisi,
hambatan, kompensasi, pembelaan, perasaan rendah diri, dan sebagainya.
Penilaian diri yang realities terhadap kelebihan dan kekurangan diri.
7. Integration and concistency of personality
Memiliki kepribadian yang utuh dan konsisten seperti cukup baik perkembangan,
kepandaian berminat dalam beberapa aktifitas, memiliki moral dan kata hati yang
tidak terlalu berbeda dengan kelompok, mampu berkonsentrasi, dan tidak adanya
konflik-konflik besar dalam kepribadiannya.
8. Adequate life goal
Memiliki tujuan hidup yang sesuai dan dapat dicapai, mempunyai usaha yang
cukup dan tekun mencapai tujuan, serta tujuan itu bersifat baik untuk diri sendiri
dan masyarakat.
9. Ability to learn from experience
Kemampuan untuk belajar dari pengalaman yang berkaitan tidak hanya dengan
pengetahuan dan ketrampilan saja, tetapi juga elastisitas dan kemauan untuk
menerima segala sesuatu yang menyenangkan maupun menyakitkan.
10. Ability to satisfaction the requirements of the group
Kemampuan memuaskan tuntutan dari kelompok dengan cara individu tidak
terlalu menyerupai anggota kelompok lain yang dianggap lebih penting,
terinformasi dan menerima cara yang berlaku dalam kelompok, berkemauan dan
dapat menghambat dorongan yang dilarang oleh kelompok, dapat menunjukkan
usaha yang mendasar yang diharapkan oleh kelompok, seperti ambisi, ketepatan,
persahabatan, rasa tanggungjawab, kesetiaan dan sebagainya.
11. Adequate emancipation from the group or culture
Mempunyai emansipasi yang memadai dari kelompok atau budaya, seperti
menganggap sesuatu itu baik dan yang lain jelek, bergantung dari pandangan
kelompok, tidak ada kebutuhan untuk membujuk, mendorong, atau menyetujui
kelompok, dan memiliki toleransi terhadap perbedaan budaya.
Keadaan sehat atau sakit jiwa dapat dinilai dari keefektifan fungsi perilaku, yaitu:
1. Bagaimana prestasi kerja yang ditampilkan, baik prosesnya maupun hasil.
2. Bagaimana hubungan interpersonal di lingkungan individu berada.
3. Bagaimana individu menggunakan waktu senggangnya. Individu yang sehat jiwa
dapat menggunakan waktunya untuk hal-hal yang produktif dan positif bagi
dirinya dan lingkungannya.

C. Cara Meningkatkan Kesehatan Jiwa


1. Asertif
Jujur, mengatakan apa adanya tanpa menyinggung perasaan orang lain.
2. Solitude
Introspeksi diri, merenung untuk berpikir dan mengoreksi diri.
3. Kesehatan fisik umum
Menjaga kesehatan fisik dengan olahraga, nutrisi yang sehat dan periksa
kesehatan rutin.
4. Mekanisme Koping
Melatih mekanisme koping yang positif (adaptif/konstruktif) dan berusaha
menghilangkan mekanisme koping yang negative (maladaptive/destruktif).

D. Sasaran dalam Kesehatan Jiwa


Masyarakat adalah sasaran utama dalam kesehatan jiwa. Dilihat dari aspek
kesehatannya, sasaran kelompok masyarakat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Masyarakat Umum
Masyarakat sehat dan tidak dalam keadaan resiko sakit. Kelompok ini berada
dalam berbagai variasi demografis seperti usia, jenis kelamin, ras, status social
dan ekonomi.
2. Masyarakat dalam kelompok Resiko
Masyarakat yang berada dalam situasi dan lingkungan yang kemungkinan
mengalami gangguan relative tinggi. Kelompok ini dapat dibedakan atas
lingkungan ekologis, status demografi, dan factor psikologis.
3. Masyarakat yang mengalami Gangguan
Kelompok masyarakat yang sedang terganggu jiwanya yang berada dalam
keluarga, masyarakat, kelompok, dan rumah sakit.
4. Masyarakat yang mengalami kecacatan
Kelompok yang mengalami hendaya dan kecacatan agar dapat berfungsi optimal
dan normal di masyarakat.

E. Ruang Lingkup Kesehatan Jiwa


Kesehatan jiwa mempunyai ruang lingkup memelihara dan promosi kesehatan jiwa
individu dan masyarakat, serta prevensi dan perawatan terhadap penyakit dan
kerusakan jiwa. Secara garis besar ruang lingkup kesehatan jiwa sebagai berikut.
1. Promosi kesehatan jiwa
Usaha-usaha untuk meningkatkan kesehatan jiwa. Usaha ini karena kesehatan jiwa
bersifat kualitatif dan kontinum yang bias ditingkatkan sampai batas optimal.
2. Prevensi primer
Usaha kesehatan jiwa untuk mencegah timbulnya gangguan jiwa. Usaha ini
sebagai proteksi terhadap kesehatan jiwa agar gangguan dan sakit mental tidak
terjadi.
3. Prevensi sekunder
Usaha kesehatan jiwa menemukan kasus dini (early case detection) dan
penyembuhan secara tepat (prompt treatment) gangguan jiwa. Usaha ini dilakukan
untuk mengurangi durasi gangguan dan mencegah jangan sampai terjadi cacat
pada seseorang sakit jiwa.
4. Prevensi tersier
Usaha rehabilitasi yang dapat dilakukan terhadap orang yang mengalami
gangguan jiwa. Usaha ini untuk mencegah disabilitas atau ketidakmampuan,
jangan sampai mengalami kecacatan yang menetap.

F. Prinsip dalam Kesehatan Jiwa


Prinsip kesehatan jiwa dalam upaya memelihara dan meningkatkan kesehatan jiwa,
serta mencegah terjadinya gangguan jiwa meliputi:
1. Prinsip yang didasarkan atas sifat manusia, seperti:
1) Kesehatan dan penyesuaian jiwa tidak terlepas dari kesehatan fisik dan
integritas organisme. Untuk memelihara kesehatan jiwa dan penyesuaian yang
baik, perilaku manusia harus sesuai dengan sifat manusia sebagai pribadi yang
yang bermoral, intelektual, religius, emosional dan social.
2) Kesehatan dan penyesuaian jiwa memerlukan integrasi dan pengendalian diri
yang meliputi pemikiran, imajinasi, hasrat, emosi dan perilaku.
3) Dalam pencapaian pemeliharaan kesehatan dan penyesuaian jiwa, diperlukan
perluasan pengetahuan tentang diri sendiri.
4) Kesehatan jiwa memerlukan konsep diri yang sehat yang meliputi penerimaan
diri dan usaha yang realistis terhadap status atau harga dirinya sendiri.
5) Pemahaman diri dan penerimaan diri harus ditingkatkan untuk mencapai
kesehatan dan penyesuaian jiwa.
6) Stabilitas jiwa dan penyesuaian yang baik memerlukan pengembangan terus
menerus dalam diri seseorang mengenai kebijakan moral yang tinggi meliputi
hukum, kebijaksanaan, ketabahan, keteguhan hati, penolakan diri, kerendahan
hati, dan moral.
7) Mencapai dan memelihara kesehatan jiwa tergantung pada penanaman dan
perkembangan kebiasaan yang baik.
8) Stabilitas dan penyesuaian jiwa menuntut kemampuan adaptasi, kapasitas
untuk mengubah situasi dan kepribadian.
9) Kesehatan jiwa memerlukan perjuangan yang continue untuk kematangan
dalam pemikiran, keputusan, emosionalitas, dan periaku.
10) Kesehatan jiwa memerlukan belajar mengatasi secara efektif dan sehat
terhadap konflik mental dan kegagalan serta ketegangan yang dihadapi.
2. Prinsip yang didasarkan atas hubungan manusia dengan lingkungannya, seperti:
1) Kesehatan dan penyesuaian jiwa tergantung pada hubungan interpersonal yang
sehat, khususnya kehidupan dalam keluarga.
2) Penyesuaian yang baik dan kedamaian pikiran tergantung pada kecukupan dan
kepuasan kerja.
3) Kesehatan dan penyesuaian jiwa memerlukan sikap yang realistic yaitu
menerima realitas tanpa distorsi dan objektif.
3. Prinsip yang didasarkan atas hubungan manusia dengan Tuhan, seperti:
1) Stabilitas jiwa memerlukan pengembangan kesadaran realitas terbesar dari
dirinya yang menjadi tempat bergantung pada setiap tindakan yang
fundamental.
2) Kesehatan jiwa dan ketenangan hati memerlukan hubungan yang konstan
antara manusia dan Tuhannya.

G. Teori Perkembangan Psikososial Ericson


Ericson mengemukakan teori perkembangan psikososial manusia dari lahir sampai
lanjut usia menjadi 8 (delapan) masa perkembangan dengan berbagai tugas
perkembangan yang harus diselesaikan.
1. Masa Bayi (0 – 18 bulan) : Trust vs mistrust
Pada saat neonatus (0-4 minggu), hubungan ibu dan bayi bersifat unik karena
ketergantungan kebutuhan yang sangat tinggi terhadap kasih sayang, kehangatan,
kebersihan, makan minum dan perlindungan dari ibu. Bukan hanya pemenuhan
kebutuhan tetapi juga menafsirkan kebutuhan. Rasa keterikatan emosional
dipengaruhi oleh kondisi kesehatan neonatus dan orang tua terutama ibu, kemampuan
sensorimotorik dan respon, harapan social budaya, harapan orang tua, ekonomi dan
kesediaan orang tua untuk memenuhi kebutuhan dan isyarat oleh neonatus.
Perkembangan kognitif masih berupa sensorimotor (gerakan menghisap dan
memegang sesuatu).
Interaksi yang erat antara ibu dan bayi dapat menimbulkan rasa aman pada anak. Rasa
aman ini menumbuhkan rasa kepercayaan sebagai dasar hubungan dengan dunia luar.
Tugas perkembangan pada masa ini adalah menumbuhkan rasa percaya dan aman
pada anak. Apabila tugas perkembangan ini tidak terpenuhi, timbul masalah
psikososial dikemudian hari berupa rasa tidak aman dan tidak percaya dengan dunia
luar. Masalah ini dapat memunculkan sikap menarik diri dan bermusuhan.
Untuk mencegah kegagalan anak mencapai tugasnya pada fase ini, orangtua
hendaknya memenuhi kebutuhan bayi secara konsisten dan adekuat. Meningkatkan
kualitas hubungan ibu dan bayi dengan memberikan stimulus yang baik, seperti
menimang bayi dengan hangat dan lembut, mengajaknya bicara sambil tersenyum,
bersenandung, dan yang terpenting segera mencari penyebab bayi menangis.
2. Masa Anak Awal/Todler (1,5 bln – 3 tahun) : Autonom vs Shame and Doubt
Anak mulai belajar menegakkan kemandirian, namun belum dapat berpikir secara
diskriminatif sehingga perlu bimbingan dengan tepat. Meskipun anak diharapkan
melatih kemandirian, namun orangtua perlu melindunginya dari pengalaman yang
dapat menimbulkan rasa ragu dan malu. Bila tugas kemandirian berhasil, anak akan
bangga dan tumbuh rasa percaya diri. Anak akan mampu bekerjasama dan
mengekspresikan dirinya. Bila tugas pada fase ini gagal, akan membuat anak
kehilangan kepercayaan diri, harga diri, mudah bingung, penuh ketegangan dan
ketergantungan.
Untuk menghindari kegagalan pada fase ini, lingkungan harus memfasilitasi kegiatan
anak. Biarkan anak belajar memakai bajunya dengan bantuan seminim mungkin. Beri
kebebasan beraktifitas selama kegiatan itu aman. Hindari kata-kata yang menghambat
kreatifitas, seperti kata JANGAN dan TIDAK BOLEH.
3. Masa Pra Sekolah (3 – 6 tahun) : Initiative vs quilt
Pada masa ini anak belajar bermain dengan teman sebaya dan orang yang lebih tua.
Anak memiliki inisiatif untuk melakukan sesuatu bersama dengan kreatifitas anak.
Anak belajar dengan perasaannya dan mengontrol tingkah laku. Kegagalan pada fase
ini membuat anak menjadi tidak kreatif, bermusuhan, dan tidak percaya dengan
lingkungan.
Untuk mencegah kegagalan pada fase pra sekolah ini, hendaknya anak difasilitasi
untuk memberi kepuasan, misalnya dengan permainan yang dapat meningkatkan
kreatifitas anak. Beri contoh model peran yang positif dan bantu anak
mengembangkan imajinasinya serta usahakan jangan menakut-nakuti dengan
ancaman-ancaman.
4. Masa Sekolah (6 – 12 tahun) : Industry vs Inferiority
Anak mulai masuk sekolah dasar dan belajar kemampuan yang dihargai masyarakat,
termasuk kemampuan membagi tanggung jawab serta menyesuaikan diri dengan
orang lain. Jika usaha anak berhasil, akan membentuk perasaan berkompetisi dan
sadar akan kemampuannya. Apabila anak gagal dalam menyelesaikan tugas ini, maka
akan merasa rendah diri, merasa tidak mempunyai kemampuan, dan menarik diri dari
lingkungan serta teman sebaya.
Untuk membantu anak mencapai tugasnya, Bantu mengembangkan rasa
tanggungjawab dengan menyiapkan mental untuk berkompetisi dengan memberik
rasa percaya diri, terlindung, dan aman.
5. Masa Remaja (12 – 18 tahun) : Identity vs Identity Confusion
Pertumbuhan fisik pada remaja amat pesat dan akhirnya akan memasuki masa
dewasa. Anak berada dalam masa mencari identitas diri yang sering diwarnai dengan
timbulnya konflik. Seringkali remaja bereksperimen dengan berbagai macam peran
untuk mencari mana yang paling cocok bagi dirinya. Namun eksperimen ini seringkali
menjerumuskan remaja kedalam hal yang negative. Disinilah pentingnya peran nilai
dan norma yang pernah didapat pada masa anak-anak. Tugas pada masa remaja
adalah pembentukan identitas ego. Apabila gagal akan menimbulkan kebingungan
akan peran diri yang membentuk kelainan tingkah laku antisocial.Untuk mencegah
terjadinya penyimpangan, remaja perlu dibantu menghadapi perubahan fisik dan
gambaran diri dalam mendukung kemandirian remaja.
6. Masa Dewasa Muda (18 – 25 tahun) : Intimacy and Solidarity vs Isolation
Pada masa ini kesempatan inidivu untuk membaur dengan kehidupan masyarakat.
Kebutuhan identitas diri terpenuhi dalam hubungan interpersonal dengan pasanyan
atau teman sebaya. Belajar menetapkan hubungan denga nrekan dan mengungkapkan
hubungan social yang memuaskan merupakan tugas pada fase ini yang terlihat dari
perilaku menghargai oranglain, konsekuen dan bersahabat. Kegagalan akan membuat
individu tidak bersahabat, selalu berprasangka dan mengisolasi diri dari lingkungan.
7. Masa Dewasa (26 – 65 tahun) : Generativy vs Self Absorbtion
Tugas pada fase ini adalah menjadi manusia yang kreatif dan produktif. Perasaan puas
akan timbul dengan melihat keberhasilan asuhan yang diberikan pada anak yang
menjadi dewasa, dan melihat sumbangannya pada masyarakat berguna. Perasaan
putus asa dapat timbul dari kesadaran bahwa belum berhasil mencapai apa yang
ditetapkan pada masa muda. Kegagalan ini dapat dilihat dari perilaku mengagungkan
diri sendiri, mengundurkan diri, dan konsep diri yang miskin.
8. Masa Dewasa Tua/Lansia (Lebih dari 65 tahun) : Ego Integrity vs Disperate
Individu telah mencapai kematangan. Bila dalam perkembangan sebelumnya
mengalami hal-hal positip, maka ia akan mencapai integritas ego dan dalam
menghadapi kehidupan selanjutnya akan bersemangat dan optimis. Tugas pada masa
ini adalah menerima masa tua dan siap terhadap kehilangan. Kegagalan pada masa ini
dipengaruhi oleh pengalaman negative sebelumnya, sehingga tidak bersemangat dan
tidak siap menghadapi masa tua dan kehilangan.
Untuk mengisi masa tua dengan meningkatkan ibadah, sosialisasi, dan hubungan
keluarga.

H. Pencapaian Tugas Perkembangan Berdasarkan Usia


1. Usia 0-18 bulan
Kemampuan Ya Tidak
No
Kemampuan Klien
1 Menangis keras atau tangannya mencengkram saat dipisahkan
dengan ibunya
2 Mendengarkan musik atau bernyanyi dengan senang
3 Menolak saat digendong oleh orang yang tidak dikenalnya
4 Saat menangis mudah dibujuk untuk diam atau
digendong/dipeluk/dibuai
5 Menangis saat lapar, haus, dingin/basah, gerah, sakit
6 Mencari suara ibu atau orang lain yang memanggil namanya
7 Saat diajak bicara oleh orang asing menyembunyikan atau
memalingkan wajah dan tidak langsung menangis
8 Saat diajak bermain memperlihatkan wajah senang/gembira
9 Saat diberikan mainan meraih mainan atau mendorong dan
membanting
Kemampuan keluarga
1 Segera mengendong atau memeluk saat bayi menangis
(memberi rasa aman dan nyaman)
2 Segera menyusui atau memberi makanan saat bayi haus/lapar
3 Segera mengganti popok/celana yang basah
4 Menjaga keamanan saat bayi tidur atau bermain
5 Sebera membawa bayi ke puskesmas/rumah sakit/pelayanan
kesehatan bila sakit
6 Selalu mengajak bicara saat merawat bayi
7 Bermain dengan bayi (bersuara, menggunakan mainan/benda
berwarna atau berbunyi)
8 Keluarga bersabar bila bayinya rewel
9 Tidak melampiaskan kekesalan atau kemarahan pada bayi
10 Keluarga segera mendiskusikan keadaan bayi bila mengalami
masalah kesehatan
Diagnosa Keperawatan :
 Normal : Kesiapan Peningkatan Perkembangan Rasa Percaya
 Penyimpangan : Risiko Ketidaksiapan Perkembangan Rasa Percaya

2. Usia 18 bulan – 3 tahun

N Kemampuan Ya Tidak
o
Kemampuan Klien
1 Mengenal dan menyebut namanya
2 Bertindak sendiri dan tidak mau diperintah
3 Mau berpisah dengan orang tua dalam waktu singkat/
sebentar
4 Sering bertanya tentang hal/benda yang asing bagi dirinya
5 Sering menggunakan kata jangan/tidak/nggak
6 Berinteraksi dengan orang lain tanpa diperintah
7 Mampu mengungkapkan rasa suka dan tidak suka
8 Mulai bermain dan berkomunikasi dengan anak lain di luar
keluarga
9 Meniru kegiatan keagamaan yang dilakukan keluarga
Kemampuan keluarga
1 Menyebutkan cara menstimulasi perkembangan anak
2 Menentukan cara untuk menstimulasi perkembangan anak
3 Memberikan mainan yang sesuai dengan usia anak
4 Tidak menggunakan kata perintah saat berbicara tetapi
memberikan alternatif untuk memilih
5 Membuat aturan perilaku yang baik (makan, mandi, tidur
bermain)
6 Memuji keberhasilan yang dicapai anak
7 Memberi kesempatan anak untuk bermain permainan yang
bertujuan menggali rasa ingin tahu
8 Segera membawa baita ke puskesmas/rumah sakit/pelayanan
kesehatan bila sakit
Diagnosa Keperawatan :
 Normal : Kesiapan Peningkatan Perkembangan Kemandirian
 Penyimpangan : Risiko Ketidaksiapan Perkembangan Kemandirian

3. Usia 3 – 6 tahun

N Kemampuan Ya Tidak
o
Kemampuan Klien
1 Anak aktif bertanya segala sesuatu
2 Mengkhayal dan kreatif mencoba hal-hal baru
3 Mampu mengidentifikasi jenis kelamin
4 Mengenal 4 warna utama
5 Anak mudah berpisah dengan orang tua
6 Anak bermain dengan teman sebaya
7 Belajar melakukan perilaku orang tua, ikut dalam kegiatan
keagamaan
8 Aktif bermain menggunakan peralatan yang ada dalam rumah,
alat masak dipukul meniru suara musik, kursi disusun menjadi
kereta
9 Mampu mengungkapkan maksud dengan rangkaian kalimat
yang panjang
10 Anak berinisiatif melakukan kegiatan secara mandiri, mandi,
berpakaian, memakai sepatu, membereskan mainannya sendiri,
dan membantu adiknya
11 Anak BAK/BAB di toilet
12 Anak menerima kehadiran adiknya dan tidak terjadi sibling
rivalry berkepanjangan
Kemampuan keluarga
1 Memberi kesempatan anak untuk mempelajari keterampilan
baru
2 Menjadi contoh bagi anak dalam hal cara berinteraksi sosial
dengan orang lain dan lingkungan
3 Menggunakan bahasa dan kalimat positif bila melarang
4 Membantu anak dalam mempelajari hal-hal baru
5 Memberi pjian yang konstruktif pada keberhasilan anak
6 Mendiskusikan pertumbuhan dan perkembangan anak dengan
angota keluarga
7 Memikirkan pendidikan awal yang baik bagi anak
8 Keluarga tidak bertengkar di depan anak
9 Keluarga bersikap bijak mengatasi sibing rivalry dengan
melibatkan anak untuk ikut merawat adik barunya, membantu
dalam acara memandikan adik, memakaikan bedak badan adik,
baju adik
Diagnosa Keperawatan :
 Normal : Kesiapan Peningkatan Perkembangan rasa inisiatif
 Penyimpangan : Risiko Ketidaksiapan Perkembangan rasa inisiatif

4. Usia 6 - 12 tahun

N Kemampuan Ya Tidak
o
Kemampuan Klien
1 Mampu BAK/BAB di toilet dan tidak mengompol
2 Mempunyai teman tetap untuk bermain
3 Menyukai dan ikut berperan dalam kegiatan kelompok
4 Berteman dengan sesama jenis
5 Berkompetisi dengan teman atau saudara sebaya
6 Memiliki hubungan yang baik dengan orang tua
7 Mampu menyelesaikan tugas dari sekolah
8 Mampu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga secara
sederhana
9 Mulai mengerti nilai mata uang dan satuannya
10 Memiliki hobby: naik sepeda, membaca buku, majalah, cerita
anak
11 Tidak ada bekas tanda-tanda luka penganiayaan fisik dan
seksual
Kemampuan keluarga
1 Memfasilitasi anak mengikuti aktivitas kelompok
2 Membimbing anak dalam pencapaian tugas perkembangan
sesuai kemampuannya
3 Membimbing anak dalam cara berinteraksi dengan orang lain
4 Membimbing anak dalam kegiatan rumah: menonton TV,
membaca buku cerita, waktu belajar yang disiplin
5 Melibatkan dan membimbing anak dalam kegiatan keluarga:
berkebun, memasak, membersihkan rumah, rekreasi bersama
6 Keluarga tidak mencubit, memukul atau mencela/memaki anak
bila anak rewel
7 Tidak mempekerjakan anak secara paksa untuk mencari
nafkah keluarga
8 Memberikan pendidikan yang baik
Diagnosa Keperawatan :
 Normal : Kesiapan Peningkatan Perkembangan Usia Sekolah (Industri)
 Penyimpangan : Resiko Ketidaksiapan Peningkatan Perkembangan Usia
Sekolah

5. Usia 12 - 18 tahun

N Kemampuan Ya Tidak
o
Kemampuan Klien
1 Menilai diri sendiri secara obyektif, kelebihan dan
kekurangan
2 Bergaul dengan teman sejenis dan lain jenis
3 Memiliki sahabat untuk teman curhat
4 Mengikuti kegiatan di uar aktivitas rutin (ekstra sekolah, olah
raga, seni, pramuka, pengajian)
5 Bertanggung jawab terhadap aktivitas yang dilakukan
6 Memiliki keinginan dan cita-cita masa depan
7 Mampu menentukan suatu keputusan meski tanpa pesetujuan
orang tua
8 Tidak menggunakan narkoba, merokok atau terlibat
perkeahian dalam pergaulan
9 Tidak melakukan tindakan asusila atau seks komersial/
pribadi
10 Tidak menuntut orang tua secara paksa untuk memenuhi
keinginan remaja yang negatif, misal kendaraan, senajat api
11 Berperilaku santun, menghormati orang tua dan guru,
bersikap baik dengan teman
12 Memiliki prestasi atau sumber kebanggaan sebagai wujud
aktualisasi diri yang positif
Kemampuan keluarga
1 Memfasilitasi remaja untuk mengikuti kegiatan yang positif
dan bermanfaat
2 Tidak membatasi atau mengekang remaja dalam pencarian
identitas diri dengan alasan yang tidak rasional
3 Menjadi role model dalam cara berinteraksi sosial dengan
orang lain
4 Menciptakan suasana rumah yang nyaman remaja untuk
pengembangan bakat dan kepribadian remaja
5 Membimbing remaja secara bijak bila remaja terlibat
narkoba, merokok dan perkelahian
6 Menjalin hubungan yang harmonis dengan remaja
7 Menyediakan waktu yang cukup untuk diskusi dengan
remaja, mendengarkan keluhan, harapan dan cita-citanya
8 Tidak menjadikan remaja sebagai orang yang sangat yunior
dan tidak memiliki kemampuan apapun
Diagnosa Keperawatan :
 Normal : Kesiapan Peningkatan Perkembangan Pembentukan identitas
diri
 Penyimpangan : Resiko Ketidaksiapan Perkembangan Pembentukan Identitas
Diri

6. Usia 18 – 25 tahun

N Kemampuan Ya Tidak
o
Kemampuan Klien
1 Mempunyai konsep diri dan pedoman hidup yang realistis
2 Mengerti arah dan tujuan hidup yang diinginkan
3 Merasa mampu untuk mandiri, bertanggung jawab secara
ekonomi dan sosial
4 Memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan orang lain
5 Mempunyai hubungan dekat dengan pacar atau sahabat
6 Memiliki kehidupan sosial yang berarti
7 Mempunyai komitmen yang jelas dalam bekerja dan
berinteraksi
8 Mampu mengendalikan emosi secara konstruktif dan
bertanggung jawab
9 Membentuk keluarga baru
10 Menyukai dirinya, mampu mengatasi stress dalam
kehidupannya
11 Tidak menjadi pelaku tindak kriminal atau terlibat dalam
masalah narkoba
Kemampuan keluarga
1 Membantu individu memilih nilai dan pedoman hidup yang
positif
2 Membimbing individu menentukan pilihan pekerjaan sesuai
bakat dan kemampuan
3 Membimbing individu menentukan pasangan hidup
4 Membimbing individu mengambil keputusan penting dalam
hidup, menikah dan punya anak
5 Membimbing individu untuk mandiri dengan kehidupannya
sendiri
6 Memfasilitasi individu menentukan tujuan hidup
7 Segera menghubungi pusat layanan kesehatan bila menjumpai
masalah dengan kesehatannya
8 Membimbing secara bijak bila terlibat tindak kriminal atau
masalah narkoba
Diagnosa Keperawatan :
 Normal : Kesiapan Peningkatan Perkembangan Usia Dewasa
(Produktif)
 Penyimpangan : Resiko Ketidaksiapan Peningkatan Perkembangan Usia
Dewasa (Produktif)

7. Usia 25 – 65 tahun

N Kemampuan Ya Tidak
o
Kemampuan Klien
1 Penerimaan perubahan diri dan proses penuaan
2 Menghargai diri sendiri, menikmati hidup dan mandiri
3 Memiliki pekerjaan sebagai profesi yang disukainya
4 Merasa nyaman dan menikmati hasil dari profesi
pekerjaannya
5 Menyesuaikan diri dengan perubahan peran dalam
kehidupannya
6 Berinteraksi baik dengan pasangan hidup, berbagi aktivitas
dan tanggung jawab rumah tangga
7 Membimbing, menyiapkan dan membina generasi di bawah
usianya
8 Memperhatikan kebutuhan orang lain
9 Mengembangkan minat dan hobby
10 Menilai pencapaian tujan hidup
11 Menyesuaikan diri dengan orang tua dan orang yang sudah
lansia
12 Memiliki koping yang konstruktif bila mengalami stress
Kemampuan keluarga
1 Memfasilitasi perubahan peran dalam keluarga
2 Membantu individu mencapai tujuan jangka panjang
3 Menjadi role model dan sebagai teman diskusi bagi individu
4 Mendukung individu dalam pengambilan keputusan bersama
keluarga
5 Menyadari pentingnya pusat layanan kesehatan sebagai
tempat rujukan bagi masalah kesehatan yang dialami
Diagnosa Keperawatan :
 Normal : Kesiapan Peningkatan Perkembangan Usia Dewasa Tengah
 Penyimpangan : Resiko Ketidaksiapan Peningkatan Perkembangan Usia
Dewasa Tengah

8. Usia lebih dari 65 tahun

N Kemampuan Ya Tidak
o
Kemampuan Klien
1 Berpartisipasi dalam kegiatan sosial di lingkungan (arisan,
rapat
2 Berpartisipasi dalam kegiatan kelompok (pengkajian, senam
lansia, Posyandu lansia)
3 Menceritakan keberhasilan atau prestasi di masa lalu
4 Merasa dicintai dan berarti dalam keluarga
5 Mempunyai sistem nilai dan pandangan agama
6 Melaksanakan kegiatan ibadah rutin sesuai keyakinan dan
agama
7 Menyiapkan diri ditinggalkan anak yang telah mandiri
8 Menerima dan menyesuaikan diri dengan kematian pasangan
(suami/isteri)
9 Menyiapkan diri menghadapi kematian
Kemampuan keluarga
1 Memfasilitasi lansia dalam kegiatan sosial
2 Memfasilitasi lansia dalam kegiatan kelompok
3 Memfasilitasi lansia dalam kegiatan agama
4 Mendiskusikan dengan lansia keberhasilan dan prestasi masa
lalu
5 Memenuhi kebutuhan atau merawat lansia saat sakit
6 Memenuhi kebutuhan cinta dan kasih sayang lansia
7 Memperlakukan lansia sebagai orang yang berarti dalam
keluarga
8 Memfasilitasi lansia menemukan dan menjalankan hobi yang
disukainya
9 Tidak mempekerjakan lansia secara paksa sebagai pencari
nafkah utama dalam keluarga
10 Tetap menjadikan lansia sebagai nara sumber dalam diskusi
atau rapat keluarga
Diagnosa Keperawatan :
 Normal : Kesiapan Peningkatan Perkembangan Usia Lansia
 Penyimpangan : Resiko Ketidaksiapan Perkembangan Usia Lansia