Anda di halaman 1dari 20

TUGAS INDIVIDU

HEPATITIS DAN DIARE


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Antropologi Kesehatan

Dosen pengampu : Drs. Nasihin, M. kes

Nama : Farhanah Hidayati

NIM : P27901119070

Kelas : 1B D-III Keperawatan

JURUSAN KEPERAWATAN TANGERANG


PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANTEN

TAHUN 2020
RANGKUMAN
HEPATITIS

A. Pengertian
Hepatitis adalahh suatu proses peradangan difusi pada jaringan
yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap
obat-obatan serta bahan kimia. (sujono hadi, 1999). Istilah Hepatitis dalam
bahasa latin berati peradangan hati.
B. Etiologi
1. Infeksi virus
 Hepatitis A, merupakan jenis hepatitis yang paling ringan
disebabkan infeksi virus hepatiti A ( VHA ). Umumnya tidak
sampai menyebabkan kerusakan jaringan hati seorang yang
terinfeksi VHA 99% dapat pulih sepenuhnya hepatitis A menular
melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh VHA.
 Hepatitis B, merupakan tipe hepatitis yang berbahaya dan menular
melalui kontak darah atau cairan tubuh yang mengandung virus
hepatitis B ( VHB ). Seseorang dapat saja mengidap VHB, tetapi
tidak disertai gejala klinis atau tidak tampak adanya kelainan dan
gangguan kesehatan sekitar 10% kasus hepatitis B akan
berkembang menjadi hepatitis menahun ( kronis ).
 Hepatitis C, menyebabkan peradangan hati yang sangat berat dan
dapat menjadi sirosis. VHC menular melalui darah biasanya karena
trinsfusi atau jarum suntik yang terkontaminasi.
 Hepatitis D, penyebabnya adalah virus hepatitis delta ( VHD ).
VHD merupakan jenis virus yang ukurannya sangat kecil dan
sangat tergantung pada VHB. Hal ini disebabkan VHD
membutuhkan selubung VHB untuk dapat menginfeksi sel-sel hati.
Penularan VHD melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh
yang mengandung VHD.
 Hepatitis E, penyebabnya adalah virus hepatitis E (VHE). Hepatitis
E juga dikenal sebagai hepatitis epidemik non-A dan non-B yang
artinya virus hepatitis tersebut menyerupai virus hepatitis A
maupun hepatitis B. VHE sering bersifat akut dengan kesakitan
singkat tetapi terkadang dapat meyebabkan kegagalan fungsi hati.
Menular melalui makanan dan minuman yang tersemar feses yang
mengandung VHE biasanya didapati di tempat dengan sumber air
yang tercampur kegiatan mandi cuci kakus (MCK)
 Hepatits G, menular melalui kontak darah contohnya melalui
transfusi darah. Hepatitis G umumnya berlangsung kronis tetapi
untuk saat ini tidak memberikan efekk yang serius.
2. Penyakit lain yang mungkin timbul
Hati merupakan organ penting dengan fungsi yang beragam dan
beberapa gangguan metabolisme tubuh dapat menyebabkan komplikasi
pada hati seperti diabetes mellitus, hiperlipidemia (kadar lemak,
termasuk kolestrol, dan trigliserida).
3. Alkohol
Minuman beralkohol dapat menyebabkan kerusan sel hati. Hepatitis
alkohol terjadi akibat komsumsi alkohol yang berlebihan atau dalam
jangka waktu lama. Di dalam tubuh, didalam hati, alkohol dipecah
menjadi zat-zat kimia lain. Sejumlah zat tersebut bersifat racun
sehingga menyebabkan kerusakan sel hati.
4. Obat-obatan atau zat kimia
Sejumlah obat atau zat kimia daoat menyebabkan hepatitis. Obat-
obatan dapat berintraksi dengan sel-sel hati antara lain halotan (obat
bius), isoniasid (antibiotik untuk TBC), metildopa (obat anti
hipertensi), fanitoin dan asam valproat (oabt anti epilepsi), serta
paracetamol (pereda demam).
5. Penyakit autoimun
Hepatitis autoimun terjadi karna adanya gangguan pada sisten
kekebalan (imunitas) yang merupakan kelainan genetik. Pada kasus
autoimun, sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel atau jaringan
tubuh itu sendiri (dalam hal ini adalah hati). Gangguan ini terjadi
karena ada faktor pencetus, yakni kemungkinan suatu virus atau zat
kimia tertentu. Sekitar 30% kasus hepatitis autoimun mempunyai
gangguan autoimun pada organ tubuh lain.
C. Gejala
1. Pada fase awal : mual, muntah, tidak nafsu makan, badan terasa lemah
dan mudah lelah.
2. Hepatitis B memberikan gejala yang lebih serius seperti mudah lelah,
cemas, tidak nafsu makan, mual, muntah, merasa lemas dan dapat
terjadi asites ( penumpukan cairan dalam rongga perut)
3. Jika sudah terjadi komplikasi pada hepatitis kronis, dapat terjadi
perdarahan varises lambung, ganggaun sistem saraf pusat berupak
kejang, serta penueunan kesadarn sampai koma.
4. Hepatitis C memberikan gelaja lemas, ,mual, muntah, hialng nafsu
makan, demam, dan nyeri ulu ati, urine berwarna gelap, feses berwarna
putih, serta kulit, kuku, dan bola mata bagian putih berwarna kuning.
5. Pada pemeriksaan fisik, perut bagian atas kanan membesar karena
terjadi pembesaran hati ataupun terasa adanya tegangan daerah
hati.dan juga terjadi penurunan berat badan ringan sebanyak 2-5 kg.
D. Pemeriksaan Diagnosis
 Pemeriksaan Urine
Kelainan pertama yang terlihat yaitu adanya bilirubin dalam
urin bahkan dapat terlihat sebelum ikterus timbul. Juga
bilirubinuria timbul sebelum kenaikan bilirubin dalam serum dan
kemudian menghilang dalam urin, walaupun bilirubin serum masih
positif.
 Pemeriksaan Tinja
Pada waktu permulaan timbulnya ikterus, warna tinja
sangat pucat. Analisis tinja menunjukkan kembali normal, berarti
ada proses ke arah penyembuhan.
 Pemeriksaan Darah
Perlu diamati serum bilirubin, SGOT, SGPT, dan asam
empedu, seminggu sekali selama diawat di RS. Pada masa
preikterik hanya ditemukan kenaikan dari bilirubin terkonjugasi
(bilirubin direk), walaupun bilirubin total masih dalam batas
normal.
E. Penanggulanan sesuai program pemerintah
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 53 tahun 2015
tentang penanggulanan Hepatitis virus, antara lain :
a. Promosi kesehatan
Peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap hepatitis virus,
menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap orang terjangkit
hepatitis, peningkatan pengetahuan masyarakat dalam pencegahan
hepatitis virus.
b. Perlindungan khusus
Dilakukan dengan penggunaan kondom , penggunaan alat pelindung
diri dan mencegah penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi.
c. Pemberian imunisasi
Pemberinan imunisasi bermaksud untuk mencegah sesorang
terjangkit virus hepatitis dengan cara memberikan vaksin hepatitis,
dan diberikan segera ketika bayi lahir.
d. Survailans hepatitis virus
Dilaksanakan berbasis vaktor resiko dan berbasis kejadian dengan
melakukan analisis terhadap data yang di kumpulkan melalui
penemuan penderita secara aktif dan pasif.
e. Pengendalian faktor resiko
Dilakukan dengan cara pengikatan perilaku hidup bersih dan sehat,
peningkatan kualitas lingkungan skrining darah donor, skrining
organ untuk transplantasi, penggunaan alat medis yang berpotensi
terkontaminasi virus hepatitis.
f. Deteksi dini
Dilakukan pada fasilitas pelayanan kesehatan atau dilakukan secara
khusus dilapangan secara aktif dan dilakukan uji sebagai konfirmasi
pada laboratorium terakreditasi susai ketentuan aturan perundang
undangan.
F. Komplikasi
1. Gagal Hati
Gagal hati adalah salah satu komplikasi yang berisiko tinggi
dialami oleh pengidap hepatitis. Seseorang yang mengidap hepatitis
A rentan terhadap risiko gagal hati akibat mengalami penurunan
fungsi di organ hati secara drastis.
2. Sirosis Hati
Sirosis hati ditandai dengan terbentuknya jaringan parut di organ
hati. Ini terjadi ketika sel-sel organ hati yang sehat dan normal
mengalami luka atau terkena inflamasi secara berkelanjutan. Akibat
nya, jaringan parut pun akan muncul. Jaringan parut adalah jaringan
yang dihasilkan dari peradangan dan luka dalam sel hati.
3. Infeksi Lanjutan
Komplikasi lain yang disebabkan oleh hepatitis adalah timbulnya
dua infeksi virus pada saat yang bersamaan. Hepatitis mampu
membuat sistem kekebalan pengidapnya lebih sulit menyerang virus
lain. HIV adalah virus umum yang rentan menyerang pengidap
hepatitis. Karena itu, orang yang telah mengidap hepatitis wajib
mengambil tindakan pencegahan terhadap infeksi HIV.
4. Kanker Hati
Kanker hati lebih berpotensi menyerang pengidap hepatitis B
dan hepatitis C. Kedua jenis hepatitis tersebut yang sudah mencapai
tahap kronis dapat berkembang menjadi kanker hati jika tidak
ditangani dengan tepat. Gejala awal kanker hati biasanya ditandai
dengan menurunnya berat badan, sakit perut, mual disertai muntah,
dan sakit kuning.
5. Kolestasis
Kolestasis bukan sebuah komplikasi yang harus dikhawatirkan,
karena penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya. Meski begitu,
pengobatan tetap harus dilakukan. Bahaya yang dapat ditimbulkan
oleh kolestasis adalah penumpukan cairan empedu pada organ hati.
6. Glomerulonefritis
Glomerulonefritis adalah kelainan ginjal yang disebabkan oleh
peradangan yang sering berkaitan dengan respons imun. Ini paling
sering terlihat pada orang-orang yang mendapat infeksi hepatitis B
kronis dan hepatitis C.
7. Cryoglobulinemia
Cryoglobulinemia adalah penyakit tidak biasa yang disebabkan
oleh sekelompok jenis protein abnormal yang menghalangi pembuluh
darah kecil. Ini sering dialami oleh individu yang mengidap infeksi
hepatitis B kronis dan hepatitis C.
8. Ensefalopati hati
Kehilangan fungsi hati yang parah, seperti gagal hati dapat
menyebabkan peradangan pada otak (ensefalopati). Seseorang yang
mengidap ensefalopati dapat mengalami masalah mental, seperti
kebingungan, dan dapat menyebabkan koma.
9. Porfiria
Porfiria adalah sekelompok penyakit yang disebabkan oleh
masalah pemrosesan bahan kimia penting dalam tubuh yang disebut
porfirin. Satu jenis yang disebut porphyria cutanea tara bisa
menyebabkan lepuh pada tangan dan wajah yang merupakan
komplikasi dari infeksi hepatitis C kronis.
RANGKUMAN
DIARE

A. Pengertian
Diare merupakan suatu penyakit yang di tandai dengan perubahan
bentuk dan konsistensi tinja yang lembek sampai mencair dan
bertambahnya frekuensi buang air besar yang dari biasa, yaitu 3 kali atau
lebih dalam sehari yang mungkin dapat disertai dengan muntah dan tinja
berdarah. Penyakit ini paling sering dijumpai pada anak balita, terutama
pada 3 tahun pertama kehidupan, dimana seorang anak bisa mengalami 1-3
episode diare berat (WHO, 2011).
B. Etiologi
Diare dapat disebabkan oleh berbagai infeksi atau proses peradangan
pada usus yang secara langsung mempengaruhi sekresi enterosit dan
fungsi absorbsi akibat peningkatan kadar cyclic Adenosine Mono
Phosphate (AMP) yaitu vibrio cholere, toksin heat-labile dari Escherichia
choli, tumor penghasil fase aktif intestinal peptide. Penyebab lain diare
juga disebabkan karena bakteri parasit dan virus, keracunan makanan, efek
obat-batan dan sebagainya (Ngastiyah, 2005). Penyebab diare dapat dibagi
dalam beberapa faktor yaitu:
 Infeksi enteral, yaitu infeksi saluran pencernaan makanan yang
merupakan penyebab utama diare pada anak.
 Infeksi bakteri, seperti virbio, E.coli, salmonella, Shigella,
Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dan sebagainya.
 Infeksi virus, seperti Enterovirus (virus ECHO, Coxsackie,
Poliomyelitis) Adeno virus,Rotavirus, Astrovirus, dan sebagainya.
 Infeksi parasit, seperti Cacing (Ascaris, Trichuris,
Oxyuris,Strongyloides), Protozoa (Entamoeba histolityca, Giardia
Lamblia, Trichomonas hominis), Jamur (Candida albicans).
 Infeksi parenteral, adalah infeksi diluar alat pencernaaan seperti :
Otitis Media Akut (OMA), tonsillitis atau tonsilofaringitis,
bronkopneumonia, ensefalitis, dan sebagainya. Keadaan ini
terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun.
C. Gejala
 Feses lembek dan cair.
 Nyeri dan kram perut.
 Mual dan muntah.
 Nyeri kepala.
 Kehilangan nafsu makan.
 Haus terus-menerus.
 Darah pada feses.
D. Pemeriksaan Diagnosis
Menurut Padila (2013) pemeriksaan diagnostik diare :
1. Pemeriksaan tinja
Diperiksa dalam hal volume, warna dan konsistensinya
serta diteliti adanya mukus darah dan leukosit. Pada umumnya
leukosit tidak dapat ditemukan jika diare berhubungan dengan
penyakit usus halus. Tetapi ditemukan pada penderita salmonella,
E. Coli, Enterovirus dan Shigelosis.
2. Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan analis gas darah, elektrolit, ureuum, kreatinin dan
berat jenis plasma. Penurunan pH darah disebabkan karena terjadi
penurunan bikarbonat sehingga frekuensi nafas agak cepat.
Elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium, dan fosfor.
E. Penanggulangan sesuai Program Pemerintah
 Rajin mencuci tangan, terutama sebelum dan setelah makan,
setelah menyentuh daging yang belum dimasak, sehabis dari
toilet, atau setelah bersin dan batuk. Bersihkan tangan dengan
sabun, dan bilas dengan air bersih.
 Mengonsumsi makanan yang sudah dimasak. Hindari memakan
buah-buahan atau sayuran mentah yang tidak dipotong sendiri.
 Minum air matang.
F. Komplikasi
a. Dehidrasi
Dehidrasi meliputi dehidrasi ringan, sedang dan berat.
Dehidrasi ringan terdapat tanda atau lebih dari keadaan umumnya
baik, mata terlihat normal, rasa hausnya normal, minum biasa dan
turgor kulit kembali cepat. Dehidrasi sedang keadaan umumnya
terlihat gelisah dan rewel, mata terlihat cekung, haus dan merasa
ingin minum banyak dan turgor kulitnya kembali lambat.
Sedangkan dehidrasi berat keadaan umumnya terlihat lesu, lunglai
atau tidak sadar, mata terlihat cekung, dan turgor kulitnya kembali
sangat lambat > 2 detik. (Depkes RI, 2008).
b. Hipernatremia
Hipernatremia biasanya terjadi pada diare yang disertai
muntah, menurut penelitian jurmalis, Sayoeti, dan Dewi tahun
(2008) , menemukan bahwa 10,3% anak yang menderita diare akut
dengan dehidrasi berat mengalami hipernatremia.
c. Hiponatremia
Hiponatremia terjadi pada anak yang hanya minum air
putih saja atau hanya mengandung sedikit garam, ini sering terjadi
pada anak yang mengalami infeksi shigella dan malnutrisi berat
dengan edema (Sayoeti & Dewi tahun 2008).
d. Hipokalemia
Hipokalemia terjadi karena kurangnya kalium (K) selama
rehidrasi yang menyebakan terjadinya hipokalemia ditandai dengan
kelemahan otot, peristaltik usus berkurang, gangguan fungsi ginjal,
dan aritmia (Ngastiyah, 2005 dalam penelitian Andri 2015).
e. Demam
Demam sering ditemui pada kasus diare. Biasanya demam
timbul jika penyebab diare berinvansi ke dalam sel epitel usus
(Grace & Jerald, 2010).
LAPORAN STUDI KASUS HEPATITIS
(Faktor – faktor yang Berhubungan dengan Tinglat Kekebalan Hepatitis B (anti-
HBs) Pada Anak Umur 1-14 Tahun dari Data Hasil Riskesdas 2007)

1. Metode penelitian
Bahan berupa sampel diperoleh dari data Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2007 yakni pengumpulan data yang dilakukan oleh Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes yaitu sebuah survei yang
dilakukan secara cross sectional. Secara keseluruhan berdasarkan blok sensus
dalam Susenas 2007 blok sensus yang terpilih berjumlah 17.357. Pada
Riskesdas 2007 berhasil mengunjungi 17.150 blok sensus dari 440 kabupaten
atau kota.19 Populasi adalah data titeranti-HBs dari individu yang terpilih
pada daerah perkotaan pada Riskesdas 2007 dan data kesmasnya yang
dilakukan pada 33 provinsi di Indonesia. Kriteria inklusi adalah data titer anti-
HBs pada anak umur 1-14 tahun yang bisa dihubungkan dengan data
kesehataan masyarakat. Faktor risiko yang dianalisis adalah data titer anti-HBs
pada anak umur 1-14 tahun dengan data kesmasnya yang terdiri dari umur,
jenis kelamin, imunisasi, makanan tambahan, KIA dan suplemen gizi. Analisa
data dilakukan menggunakan stata versi 00.9 dengan melakukan test chisquare
untuk memperoleh karakteristik dari masing masing variabel dan mencari
hubungan antara data titer antibodi Hepatitis B (anti-HBs) dengan data
kesmasnya. Apabila hasil analisa bermakna nilai p < 0,05, dilanjutkan ke
analisa multivariat untuk mendapatkan variabel yang paling berpengaruh
terhadap titer anti-HBs. Ethical Clearance (persetujuan responden untuk
mengikuti penelitian Riskesdas) mengikuti Ethical Clearance dari Riskesdas
2007.

2. Hasil Penelitian
Jumlah total sampel serum pada Riskesdas 2007 untuk semua umur
adalah 34.133 sampel, jumlah data titer anti-HBs pada umur 1-14 tahun
setelah melalui proses cleaning data sebanyak 1.618 sampel. Analisis data
dilakukan melalui beberapa tahap antara lain bivariat dan multivariat,
hasilnya dapat terlihat pada Tabel 1. Dari Tabel 1 terlihat persentase tertinggi
pada anak berumur 1-4 tahun (40,9%). Persentase titer anti-HBs pada laki-
laki lebih tinggi. Pada Tabel 2 hasil analisa bivariat ada empat variabel yang
mempunyai nilai kemaknaan p < 0,25 yaitu variabel umur, makanan
tambahan, yang mempunyai buku KIA dan suplemen gizi. Pada analisa
bivariat, keempat variabel tersebut dapat menjadi kandidat untuk analisis
lebih lanjut yakni analisis multivariat untuk menentukan variabel yang paling
berpengaruh terhadap titer anti-HBs. Variabel-variabel tersebut untuk
menjadi model dalam analisis multivariat karena nilai p < 0,25. Selanjutnya
terlihat pada Tabel 3. Hasil dari analisis multivariat ternyata variabel yang
signifikan adalah variabel yang hasil nilai p < 0,005 yaitu variabel umur
mempunyai nilai p = 0,001 artinya secara statistik umur 1-4 tahun
mempunyai kemaknaan pvalue< ptabel (p ≤ 0,005).
3. Pembahasan
Variabel faktor risiko yang diteliti yaitu umur, jenis kelamin, imunisasi,
makanan tambahan, KIA dan suplemen gizi. Dari keenam faktor risiko
tersebut, menunjukkan bahwa variabel umur mempunyai hubungan yang
sangat bermakna dengan p=0,001 dan efek terlindungi sebesar 91%, ini
membuktikan bahwa umur mempunyai prioritas dalam penanganan yang
terkait dengan virus Hepatis B (HBV) karena dengan nilai pvaleu< ptabel
merupakan hasil bahwa faktor umur harus diutamakan dalam keterkaitannya
dengan infeksi virus Hepatitis B. Ditemukan pada kelompok umur 1-4 tahun
terdapat 40,9% protektif. Pada kelompok umur 5-10 tahun ditemukan
protektif anti-HBs sebesar 32,7%. Angka ini menurun apabila dibandingkan
dengan pada kelompok umur 1-4 tahun. Kelompok 11-14 tahun sebesar
21,1% anak protektif, angka ini lebih menurun lagi jika dibandingkan pada
kelompok umur 1-4 tahun dan 5-10 tahun, ini membuktikan bahwa dari
penurunan proporsi yang ada dalam kelompok umur di atas menunjukkan
bahwa titer anti-HBs menurun pada anak yang lebih tua atau menurun seiring
dengan bertambahnya umur, penelitian ini sama dengan hasil penelitian Lydia
dkk yang dilakukan di Padang.
4. Analisis Telaah
Dari penelitian ini dapat ditelaah bahwa faktor yang berhubungan secara
bermakna dengan tingkat titer antibodi Hepatitis B pada anak umur 1-14
tahun adalah variabel umur yang juga berhubungan dengan aspek sosial
budaya. Umur anak yang lebih besar atau lebih tua mempunyai tingkat
kekebalan terhadap penyakit Hepatitis B semakin menurun, ini bisa dilihat
dari titer anti-HBs pada kelompok umur 1-4 tahun jumlah anak yang protektif
292 dari 714 (40,9%) selanjutnya menurun pada kelompok 5-10 tahun
ditemukan protektif sebesar 32,7% dan menurun lagi pada kelompok umur
11-14 tahun dengan jumlah protektif sebesar 21,1%. Titer anti-HBs akan
menurun atau menghilang (non-protektif) yang selanjutnya perlu dilakukan
imunisasi ulang (booster). Selanjutnya titer anti-HBs menurun pada anak
umur 6 tahun.
LAPORAN STUDI KASUS DIARE

(Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diare di Tambak Sari, Surabaya.)

1. Metode penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik. Penelitian
tersebut hanya melihat ataupun mengamati tanpa memberikan perlakuan atau
treatment. Berdasarkan waktunya, penelitian ini termasuk dalam rancangan
studi cross sectional karena semua kegiatan dilakukan dalam satu waktu
(sesaat). Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari hingga Februari 2018.
Populasi penelitian ini didasarkan dari seluruh Kartu Keluarga (KK) RW VI
Kelurahan Rangkah Buntu yang diwakili satu orang per KK sehingga
populasi dalam penelitian ini berjumlah 447 orang Pengambilan sampel
dilakukan dengan metode simple random sampling dengan perhitungan
menggunakan rumus Slovin dan didapat 211 responden yang ditetapkan
menjadi sampel.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi
langsung menggunakan form observasi dan lembar kuesioner. Peneliti hanya
melakukan observasi yang memperhatikan faktor faktor yang berhubungan
dengan kejadian diare dalam 3 bulan terakhir. Faktor – faktor tersebut adalah
predisposing factor yang meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan,
pendapatan, pengetahuan, sikap, tindakan dan kebiasaan. Faktor kedua adalah
enabling factor yang meliputi ketersediaan sarana air bersih dan keadaan
tempat sampah. Penelitian ini menggunakan dua jenis sumber data, yaitu data
primer dan data sekunder.
2. Hasil dan Pembahasan
RW VI Kelurahan Rangkah memiliki luas wilayah sebesar 4 Hektar.
Wilayahnya terbagi menjadi 7 RT (Rukun Tetangga). Jumlah KK yang ada di
RW VI adalah sebanyak 447 KK dengan rincian per RT yaitu 58 KK (RT II),
57 KK (RT III), 81 KK (RT IV), 105 KK (RT V), 102 KK (RT VI) dan 44
KK (RT VII).
Responden penelitian adalah warga RW VI, dengan persentase 12% laki-
laki dan 88% perempuan. Usia dibagi menjadi 4 kategori yaitu 12-17 tahun,
18-40 tahun, 41-65 tahun, dan >66 tahun. Pendidikan dibagi menjadi 3
kategori yaitu rendah (SD/SMP), menengah (SMA/SMK) dan tinggi (D3/S1).
Pendapatan menjadi 5 kategori seperti dalam tabel 1. Observasi lingkungan
dilakukan di 211 rumah dan mengambil satu orang dari tiap rumah untuk
dilakukan wawancara mengenai pola kebiasaan atau perilaku sehari-hari
terkait kejadian diare.
Faktor-faktor yang memiliki hubungan terhadap penyakit diare di
Kelurahan Rangkah Buntu, Surabaya dianalisa menggunakan analisis bivariat
Chi-Square Test dan Fisher Exact Test. Hasil penelitian dari hasil analisis
bivariat didapatkan hasil bahwa jenis kelamin tidak berhubungan dengan
penyakit diare dalam 3 bulan terakhir. Artinya jenis kelamin tidak
berpengaruh pada kejadian diare di Kelurahan Rangkah Buntu, Surabaya.
Variabel usia tidak baru hubungan dengan kejadian diare dalam waktu 3
bulan terakhir. Artinya usia tidak berpengaruh pada kejadian diare di
Kelurahan Rangkah Buntu, Surabaya. Variabel tingkat pendidikan tidak
berhubungan dengan kejadian diare dalam 3 bulan terakhir. Artinya tingkat
pendidikan tidak berpengaruh pada kejadian diare di Kelurahan Rangkah
Buntu, Surabaya. Variabel tingkat pendapatan tidak berhubungan dengan
kejadian diare dalam 3 bulan terakhir. Artinya tingkat pendapatan tidak
berpengaruh pada kejadian diare di Kelurahan Rangkah Buntu, Surabaya.
Variabel pengetahuan tidak berhubungan dengan kejadian diare dalam 3
bulan terakhir. Artinya pengetahuan tidak berpengaruh pada kejadian diare di
Kelurahan Rangkah Buntu, Surabaya.
Ada hubungan antara membersihkan lingkungan dan kejadian diare dalam
3 bulan terakhir. Artinya membersihkan lingkungan memiliki pengaruh
padakejadian diare di Kelurahan Rangkah Buntu, Surabaya. Selain itu, ada
hubungan antara segera membuat oralit dan kejadian diare dalam 3 bulan
terakhir. Artinya segera membuat oralit berpengaruh pada kejadian diare di
Kelurahan Rangkah Buntu, Surabaya.
Ada hubungan antara membersihkan tangan dengan sabun sebelum makan
dan kejadian diare dalam 3 bulan terakhir. Artinya membersihkan tangan
dengan sabun sebelum makan berpengaruh pada kejadian diare di Kelurahan
Rangkah Buntu, Surabaya.
Tidak ada hubungan antara membersihkan tangan dengan sabun setelah
BAB dan kejadian diare dalam 3 bulan terakhir. Artinya membersihkan
tangan dengan sabun setelah BAB tidak berpengaruh pada kejadian diare di
Kelurahan Rangkah Buntu, Surabaya. Ketersediaan sarana air bersih tidak
berhubungan dengan penyakit diare dalam 3 bulan terakhir. Artinya sarana air
bersih tidak berpengaruh pada kejadian diare di Kelurahan Rangkah Buntu,
Surabaya.
Tidak ada hubungan antara keadaan tempat sampah dan kejadian diare
dalam 3 bulan terakhir. Artinya keadaan tempat sampah tidak berpengaruh
pada kejadian diare di Kelurahan Rangkah Buntu, Surabaya.

Predisposing Factor

 Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil kuesioner didapatkan responden perempuan
yaitu sebanyak 185 warga (88%) dan sebanyak 50 warga perempuan
(24%) terkena diare dalam 3 bulan terakhir. Perhitungan statistik pada
penelitian ini menggunakan SPSS. Hasil penelitian pada 211 responden
warga RW VI tentang hubungan jenis kelamin dengan terjadinya diare
diperoleh nilai expected count memenuhi syarat untuk uji chi-square,
sehingga didapatkan hasil p-value = 0,689 dengan α=0,05 (p > α). Hal ini
dapat dikatakan bahwa jenis kelamin tidak berhubungan dengan penyakit
diare dalam 3 bulan terakhir.
 Usia
Pada penelitian ini usia responden dikategorikan menjadi empat
kelompok yaitu 12–17 tahun, 18–40 tahun, 41–65 tahun, dan > 66 tahun.
Tabel 2 menunjukkan bahwa mayoritas penduduk warga RW VI,
Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari yang terkena diare adalah
responden dengan kategori usia 1840 tahun sebanyak 20 responden
(10%). Perhitungan statistik pada penelitian ini menggunakan SPSS.
Hasil penelitian pada 211 responden warga RW VI tentang hubungan
usia dengan terjadinya diare diperoleh nilai expected count memenuhi
syarat untuk uji chi-square, sehingga didapatkan hasil p-value = 0,099.
Hal ini menunjukkan bahwa usia tidak memiliki hubungan dengan diare
dalam 3 bulan terakhir.
 Pendidikan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden RW VI, Kelurahan
Rangkah, Kecamatan Tambaksari yang terkena diare adalah mayoritas
warga dengan berpendidikan tinggi. Perhitungan statistik pada penelitian
ini menggunakan SPSS. Hasil penelitian pada 211 responden warga RW
VI tentang hubungan usia dengan terjadinya diare diperoleh nilai
expected count memenuhi syarat untuk uji chi-square, sehingga
didapatkan hasil p-value = 0,517. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat
pendidikan responden tidak memiliki hubungan dengan kejadian diare
dalam 3 bulan terakhir.
 Pengetahuan
Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki
pengetahuan yang baik tentang diare dalam 3 bulan terakhir. Sebanyak
27 responden didapatkan hasil p-value 0,081 (p > α), sehingga tidak ada
hubungan antara pengetahuan dan kejadian diare dalam 3 bulan terakhir.
Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya yang telah dibuat
oleh Afl ia, 2015 yang menunjukkan tingkat pengetahuan responden
memiliki hubungan dengan penyakit diare pada anak bawah lima tahun
yang mendapatkan hasil signifi kansi 0,025 dengan α=0,05 (p < α).
 Sikap
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden RW VI,
Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari yang terkena diare adalah
warga dengan sikap membersihkan lingkungan yang baik sebanyak 33
responden (16%). Perhitungan statistik pada penelitian ini menggunakan
SPSS. Hasil penelitian pada 211 responden warga RW VI tentang
hubungan antara membersihkan lingkungan responden dengan kejadian
diare diperoleh nilai expected count memenuhi syarat untuk uji chi-
square, sehingga didapatkan hasil p = 0,001. Hal ini dapat diartikan
bahwa ada hubungan antara membersihkan lingkungan responden dengan
kejadian diare dalam 3 bulan terakhir.
 Membuat dan Mengonsumsi Oralit Ketika Diare
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan responden RW
VI, Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari yang terkena diare
adalah mayoritas warga sengan sikap mengkonsumsi oralit yang kurang
baik yaitu sebanyak 55 responden (26%).
Perhitungan statistik pada penelitian ini menggunakan SPSS. Hasil
penelitian pada 211 responden warga RW VI tentang hubungan
membersihkan lingkungan dengan terjadinya diare diperoleh nilai
expected count memenuhi syarat untuk uji chi-square sehingga
didapatkan hasil p-value = 0,001. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat
hubungan antar mengonsumsi oralit responden dengan kejadian diare
dalam 3 bulan terakhir.
 Perilaku Mencuci Tangan Menggunakan Sabun
Hasil penelitian terhadap responden didapatkan bahwa kesadaran
perilaku untuk melakukan cuci tangan pakai sabun sebelum makan masih
tergolong rendah. Hal ini dibuktikan dengan sebanyak 77% responden
tidak mencuci tangannya dengan sabun sebelum makan. Perilaku
masyarakat yang tidak melakukan cuci tangan pakai sabun dapat memicu
timbulnya diare.

Enabling Factor

 Sarana Air Bersih


Sumber air bersih yang digunakan oleh responden mayoritas
bersumber dari sumur dan sebagian berasal dari air PDAM. Hasil
menunjukkan terdapat 8 responden (4%) yang terkena diare dikarenakan
memiliki sarana air bersih yang tidak memenuhi syarat. Perhitungan
statistik pada penelitian ini menggunakan SPSS. Hasil penelitian pada
211 responden warga RW VI tentang sarana air bersih dengan terjadinya
diare, diperoleh nilai expected count memenuhi persyaratan untuk
dilakukan uji chi-square dengan p-value = 0,732. Hal ini menunjukkan
bahwa tidak terdapat hubungan antara sarana air bersih dengan terjadinya
diare dalam 3 bulan terakhir.
 Keadaan Tempat Sampah
Hasil penelitian menunjukkan terdapat 37 responden (18%) yang
terkena diare dikarenakan memiliki tempat sampah namun tidak
memenuhi syarat. Perhitungan statistik pada penelitian ini menggunakan
SPSS. Hasil penelitian pada 211 responden warga RW VI tentang kondisi
tempat sampah dengan terjadinya diare diperoleh nilai expected count
layak untuk dilakukan chi-square dan diperoleh p-value = 0,284. Hal ini
menunjukkan bahwa antara kondisi tempat sampah tidak memiliki
hubungan dengan terjadinya penyakit diare dalam 3 bulan terakhir.
3. Analisis Telaah
Analisis telaah dari hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa
tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin, usia, pendidikan,
pendapatan, perilaku CTPS setelah buang air besar, sarana air bersih serta
kondisi tempat sampah dengan penyakit diare selama 3 bulan terakhir di
wilayah RW. VI Kelurahan Rangkah Buntu, Kota Surabaya. Terdapat
hubungan yang signifikan dalam aspek sosial budaya antara membersihkan
lingkungan, membuat dan mengonsumsi oralit, dan perilaku mencuci
tangan menggunakan sabun sebelum makan dengan penyakit diare selama
3 bulan terakhir di wilayah RW. VI Kelurahan Rangkah Buntu, Kota
Surabaya.
REFERENSI

 Sari, Wening dkk. 2008. Care yorself Hepatitis. Jawa barat : Penebar plus
 Wahyudi, Heri. 2017. Hepatitis. Makalah. Dalam : Seminar hepatitis di FK
UNUD. Agustus 2017.
 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 53 tahun 2015
tentang Penaggulanan Hepatitis Virus.
 Universitas Muhamadiyyah Yogyakarta. Diare. Hal. 8
 Pracoyo, Noer endah dkk. 2016. Faktor – faktor yang Berhubungan
dengan Tinglat Kekebalan Hepatitis B (anti-HBs) Pada Anak Umur 1-14
Tahun dari Data Hasil Riskesdas 2007.
 Prawati, Debby Daviani dan Dani Nasirul Haqi. 2019. Faktor yang
Mempengaruhi Kejadian Diare di Tambak Sari, Kota Surabaya. Jurnal
Penelitian. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
Surabaya.
 https://www.halodoc.com/6-dampak-fatal-dari-komplikasi-hepatitis
 https://www.alodokter.com/hepatitis
 https://www.halodoc.com/kesehatan/diare