Anda di halaman 1dari 2

Kepada Yth.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Bapak Nadiem Anwar Makarim

Di tempat

Assalamualaikum wr.wb

Sebelumnya saya mohon maaf bila surat ini mengganggu kesibukan Bapak. Sengaja saya tulis surat
ini tidak lain untuk turut urun rembug dalam memperbaiki kondisi bangsa yang semakin tak jelas arahnya.
Tak berlebihan bila dikatakan “Carut marutnya kondisi bangsa akibat buruknya sistem pendidikan kita”.
Betapa tidak, para pemimpin / petinggi negeri kita ini adalah produk / hasil dari pendidikan. Bila sistem
pendidikannya buruk maka produk / hasilnya akan buruk.

Saya sering mendengar istilah “Ganti menteri, ganti aturan, ganti kebijakan, ganti kurikulum”. Ada
indikasi pergantian sistem, pergantian aturan, pergantian kurikulum tidak semata-mata untuk memperbaiki
kehidupan bangsa, melainkan sebagai ajang proyek dan proyek. Bila kita menyimak orasi para petinggi
kita, seolah mencerdaskan kehidupan bangsa, kenyataanya pembodohan bangsa. Contoh kecil, dalam UU
Kepegawaian disebutkan “ASN yang mendekati masa pensiun tidak diberlakukan pemberkasan”. Namun
kenyataannya seluruh ASN khususnya guru 1 tahun sebelumnya harus pemberkasan yang banyak sekali.
Demikian juga bila akan keluar uang sertifikasi pemberkasan bertubi-tubi.

Kembali pada perbaikan kondisi bangsa. Bila pemerintah serius hendak memperbaiki kondisi
kehidupan bangsa, maka yang pertama harus diperbaiki adalah sektor pendidikan (Kementerian
Pendidikan) memperbaiki sektor pendidikan bukan berarti mengganti kurikulum, melainkan
menghilangkan pola kepalsuan dan kebohongan. Artinya sistem pendidikan kita harus proporsional (sesuai
dengan kondisi dan kemampuan) baik daerah, kecerdasan maupun anggaran.

Berkenaan dengan hal tersebut saya mengajukan beberapa usulan yang antara lain :

1. Kurikulum
Kurikulum harus disesuaikan dengan kemampuan atau kecerdasan siswa. Siswa dikelompokkan sesuai
dengan tingkat kecerdasannya yakni : Cerdas, sedang, dan lambat.
Adapun pembuatan / penyusunan kurikulum diserahkan kepada satuan pendidikan. Sementara
pemerintah hanya memberikan draf atau garis besarnya saja. Perlu saya tambahkan di sini jumlah mata
pelajaranpun harus dirampingkan.
2. Klasifikasi kecerdasan
Siswa dikelompokan sesuai dengan kecerdasannya dengan ketentuan sebagai berikut :
Kelompok cerdas
SD – SMP – SMA – Perguruan Tinggi – Kerja
Kelompok sedang
SD – SMP – SMK – Kerja
Kelompok lambat
SD – SK (Sekolah Kejuruan) – Kerja
Dengan klasifikasi seperti ini, semua merasa mendapat layanan pendidikan, semua merasa
tersalurkan minat dan bakatnya. Dan dengan pola ini niscaya akan meringankan semua pinak. Bahkan
tidak ada lagi indikasi kepalsuan dan kebohongan.
3. Mergerisasi
Selama ini para pejabat pendidikan hanya sebatas orasi belum ada kenyataan. Masih banyak SD yang
jumlah muridnya dibawah 100 namun belum juga di merger. Untuk efesiensi anggaran dan lain-lain
sebaiknya setiap desa cukup satu SD. Dengan konsekuensi siswa dikelompokan sesuai kecerdasan
atau kemampuannya.
4. Sistem Evaluasi
Untuk mengurangi / menghindari bentuk-bentuk korupsi dan kolusi, mohon pemerintah menghapus
sistem UTS (Ulangan Tengah Semester) yang ada hanya US/UAS (Ulangan Semester/Ulangan Akhir
Semester). Itupun pembuatan / penggandaan soal diserahkan kewenangannya kepada guru (selama ini
selalu pihak dinas). Justru yang dirasa kurang adalah pengembangan minat dan bakat. Hal ini agar
guru diberdayakan dan disejahterakan. Masih sekitar evaluasi, sebaiknya pemerintah mengembalikan
pola penilaian dalam buku rapor seperti dulu yakni pakai angka (praktis dan ekonomis). Pola yang
sekarang terindikasi pemborosan dan tidak praktis.
5. Sistem Sertifikasi (Tunjangan Profesi)
Sebaiknya pemerintah mengubah pola konvensasi anggaran tunjangan profesi bagi PNS/ASN. Yang
semula secara terpisah dengan gaji bulanan, ke depan disatukan dengan gaji bulanan. Sebab selama ini
terjadi kecemburuan.
6. Sistem Keprofesian
Akhir-akhir ini pemerintah sedang disibukkan dengan P3K dan K2 agar tidak terjadi lagi sebaiknya
pemerintah secepatnya merintis sekolah ikatan dinas untuk guru. Seperti AKMIL, IPDN, STAN dll.
7. Masa Kerja / Pensiun
Sebaiknya pemerintah mengkaji ulang batas usia masa kerja. Silakan adakan survei etos kerja dan
kesehatan, maka akan ditemui guru yang usianya baru lima puluhan sudah terkena stroke, diabet
stadium 4, bahkan sampai gangguan jiwapun ada. Untuk hal tersebut, selayaknya pemerintah merevisi
UU batas usia kerja (pensiun) yang semula 60 tahun menjadi 55 tahun.
Barangkali itu yang dapat saya sumbangkan untuk pemerintah, untuk negara. Besar harapan saya
pemerintah dapat merealisasikan. Saya sadar, tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini
mohon maaf bila ada kesalahan.
Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Cirebon, 11 April 2020

Hormat Saya

AYOS WIRAYUDA

Tembusan :
Presiden Republik Indonesia