Anda di halaman 1dari 28

ARTIKEL TENTANG PAJAK PPH, PPN, PBB

PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) ATAS EKSPOR /


IMPOR BARANG KENA PAJAK

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Hukum Pajak


Dosen Pengampu : Ukie Tukinah, SH, MM.

Disusun oleh :

Nama : Arinanda Sekar Palupi


NPM : 1802010088
Kelas : Manajemen C Karyawan

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI SEMARANG
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT atas
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan artikel
yang berjudul “Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Atas Ekspor
/ Impor Barang Kena Pajak”.

Laporan artikel ini penulis susun karena merupakan sebagian tugas


yang telah diberikan dan pada kesempatan ini penulis ucapkan
terimakasih kepada beberapa pihak media dan ibu Ukie Tukinah, SH,
MM selaku dosen mata kuliah hukum pajak yang senantiasa membantu
dan membimbing dalam pembuatan laporan artikel satu ini sehingga
dapat diselesaikan dengan baik.

Laporan ini pula penulis susun untuk memperluas dan menambah


wawasan para pembaca khususnya mahasiswa. Untuk menunjang
pemahaman dan melatih keterampilan mahasiswa, penulis lampirkan
beberapa jurnal dan buku. Dalam pembuatan laporan ini telah disadari
terdapat beberapa kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Untuk
itu, kami mengharapkan kepada semua pembaca agar dapat
menyampaikan saran dan kritik guna penyempurnaan laporan artikel ini.

Semarang, 18 Januari 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................ i


DAFTAR ISI .....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. Latar Belakang.......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
C. Tujuan ...................................................................................................... 2
D. Manfaat .................................................................................................... 3
BAB III PEMBAHASAN .................................................................................. 4
A. Pengertian Pajak ....................................................................................... 4
B. Ciri-Ciri Pajak .......................................................................................... 5
C. Fungsi Pajak ............................................................................................. 5
D. Pengertian Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ............................................... 5
E. Subyek Pajak Pertambahan Nilai (PPN) .................................................... 8
F. Obyek Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ..................................................... 9
G. Tarif Pajak Pertambahan Nilai Menurut UUD ......................................... 10
H. Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ........................................... 10
I. Contoh Kasus ......................................................................................... 10
J. Efektifitas Kebijakan Dalam Mencegah dan Menanggulangi Transfer
Pricing Pada Perusahaan Multinasional ................................................... 14
K. Fasilitas Perpajakan yang Dapat Diberikan kepada Importir untuk
Meningkatkan Penerimaan PPN Impor Barang Kena Pajak ..................... 18
BAB II PENUTUP........................................................................................... 22
A. KESIMPULAN ...................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 24

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam menjalankan roda pemerintahan dan untuk pembangunan nasional
serta kemandirian bangsa untuk mencapai cita-cita luhur berdasarkan
Undang-Undang Dasar 1945 tentunya pemerintah membutuhkan pendanaan
yang menunjang gerak roda pemerintahan dan pembangunan. Pendanaan
sendiri bersumber pembiayaan dari dalam negeri dan luar negeri, namun
pembiayaan dalam negeri lebih diutamakan ketimbang sumber pembiayaan
yang berasal dari luar negeri. Dalam peningkatan sumber pembiayaan dalam
negeri, pajak merupakan solusi untuk alternatif, pajak telah terbukti menjadi
sumber utama dalam APBN Indonesia yang dapat digunakan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pajak pada dasarnya merupakan
peralihan sebagian kekayaan dari masyarakat kepada negara yang
dimungkinkan oleh undang-undang pajak. Peralihan kekayaan tersebut
membuat pajak dipandang dari dua sisi yang berbeda.
Pandangan masyarakat seringkali pajak dianggap sebagai beban. Di sisi
lain bagi pemerintah harus dipungut karena terbukti pajak memberikan
kontribusi yang cukup besar terhadap penerimaan pajak. Dari sekian pajak
yang dibebankan kepada masyarakat, Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
merupakan pajak tidak langsung kareana tidak langsung dibebankan kepada
penanggung pajak. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tercipta karena
digunakannya faktor-faktor produksi pada setiap jalur perusahaan dalam
menghasilkan, menyalurkan dan memperdagangkan barang atau dalam
memberikan jasa. Tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang berlaku atas
penyerahan barang kena pajak maupun jasa kena pajak adalah tarif tunggal
sehingga mudah dalam pelaksanaannya tidak ada penggolongan dengan tarif
yang berbeda. Pengenaan PPN sangat dipengaruhi oleh perkembangan
transaksi bisnis serta pola konsumsi masyarakat yang merupakan objek dari
PPN tersebut.

1
Dalam perkembangannya, pajak terbagi menjadi dua yaitu pajak langsung
dan pajak tidak langsung. Pajak langsung contohnya adalah Pajak
Penghasilan (PPh), sedangkan pajak tidak langsung contohnya adalah Pajak
Pertambahan Nilai (PPN). Pajak Penghasilan (PPh) memegang peranan yang
lebih menonjol dalam meningkatkan penerimaan negara jika dilihat dari sudut
pandang keadilan, namun jika dilihat dari fleksibilitas kecendrungan
peningkatan penerimaan pajak, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) lebih
menonjol dalam meningkatkan penerimaan negara jika dibandingkan dengan
Pajak Penghasilan (PPh). Hal tersebut disebabkan karena tidak semua orang
dapat dikenakan Pajak Penghasilan (PPh).
Pajak Penghasilan (PPh) hanya dapat dikenakan kepada orang pribadi atau
badan yang telah berpenghasilan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak
(PTKP). Tetapi hal tersebut tidak berlaku untuk Pajak Pertambahan Nilai
(PPN), karena Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dapat dilimpahkan kepada
orang lain, sehingga memungkinkan semua orang dapat dikenakan Pajak
Pertambahan Nilai (PPN). Seperti yang sudah kita ketahui bahwa hampir
seluruh barang-barang kebutuhan hidup rakyat Indonesia merupakan hasil
produksi yang terkena PPN, dengan kata lain sebagian besar transaksi di
bidang perdagangan, industri dan jasa yang termasuk dalam golongan Barang
Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak pada prinsipnya terkena PPN. Oleh
karena itu walaupun seseorang belum memiliki NPWP, tetapi secara tidak
langsung orang tersebut tetap terkena PPN yang dipungut oleh Pengusaha
Kena Pajak sebagai pihak yang berhak memungut PPN dan nantinya PPN
tersebut akan disetorkan ke kas Negara.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang di maksud dengan PPN ?
2. Apa saja subyek dan obyek PPN ?
3. Bagaimana perhitungan PPN ?

C. TUJUAN
Menambah pengetahuan di bidang perpajakan khususnya yang berkaitan
dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

2
D. MANFAAT
1. Sebagai sarana untuk menerapkan teori yang telah diperoleh di bangku
kuliah ke dalam praktik yang sesungguhnya dalam suatu instansi atau
perusahaan
2. Sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan penerimaan pajak
terutama dalam pembayaran Pajak Pertambahan Nilai

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pajak
Mardiasmo (2003:10), “Pajak adalah iuran wajib, berupa uang atau
barang, yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma hukum, guna
menutup biaya produksi barang-barang dan jasa-jasa dalam mencapai
kesejahteraan umum”. Menurut Mardiasmo (2003:11), “ Pajak adalah iuran
rakyat pada kas negara berdasarkan Undang-undang (yang dapat dipaksakan)
dengan tidak mendapatkan jasa imbalan, yang langsung dapat ditunjukkan
dan yang digunakan untuk pengeluaran umum”. Menurut Waluyo (2002:4),
“Pajak adalah iuran kepada Negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang
oleh yang wajib membayarnya menurut peraturanperaturan, dengan tidak
mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk, dan yang gunanya
adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubungan
dengan tugas Negara yang menyelenggarakan pemerintah”.
Menurut Helmy (2005:7), “Pajak adalah prestasi pemerintah yang
terutang melalui norma-norma umum dan yang dapat dipaksakan, tanpa
adanya kontra prestasi yang dapat ditunjukkan dalam hal yang individual,
maksudnya adalah membiayai pengeluaran pemerintah”. Pajak adalah
kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan
yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara
bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (Adrian Sutedi, 2013: 5). Dari
definisi tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pajak adalah iuran
wajib rakyar kepada negara yang bertujuan untuk membiayai pengeluaran-
pengeluaran negara dalam rangka meningkatan pembangunan. Jadi kemajuan
negara dapat dilihat dari penerimaan sector pajaknya.

4
B. Ciri-Ciri Pajak
1. Pajak peralihan kekayaan dari orang atau badan ke pemerintah.
2. Pajak dipungut dengan kekuatan Undang-undang serta aturan
pelaksanaannya, sehingga dapat dipaksakan.
3. Pajak digunakan untuk kepentingan umum.
4. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontreprestasi
langsung secara individual kepada pemerintah.
5. Pajak dipungut oleh Negara baik oleh pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah.
6. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang bila
dari pemasukkannya masih terdapat surplus, maka dipergunakan untuk
membiayai investasi publik.

C. Fungsi Pajak
1. Fungsi budgetair, yaitu pajak-pajak disini merupakan suatu alat atau
sumber untuk memasukkan uang sebanyak-banyaknya ke kas Negara
yang pada waktunya akan digunakan untuk membiayai pengeluaran-
pengeluaran rutin apabila setelah itu ada sisa, maka surplus ini dapat
digunakan untuk membiayai investasi pemerintah.
2. Fungsi mengatur, yaitu bahwa pajak-pajak dalam hal ini digunakan
sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang letaknya di luar
bidang keuangan

D. Pengertian Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dapat dikenakan
terhadap penyerahan atau impor barang kena pajak atau jasa kena pajak yang
dilakukan oleh pengusaha kena pajak dan dapat dikenakan berkali-kali setiap
ada Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan dikreditkan Suandy (2003:59). Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) yaitu : “pertambahan nilai adalah harga beli atau
biaya sewa yang harus dikeluarkan untuk mengelola lebih lanjut barang yang
dibeli menjadi barang yang siap untuk jual” Urifa (2009:9). Dengan demikian
pertambahan nilai itu sendiri timbul karena digunakannya faktorfaktor

5
produksi pada setiap jalur perusahaan dalam menghasilkan, menyalurkan dan
memperdagangkan barang atau dalam memberikan pelayanan jasa. Semua
biaya yang berkaitan dengan menghasilkan, menyalurkan dan
memperdagangkan atau dalam memberikan pelayanan jasa merupakan unsur
pertambahan nilai yang menjadi dasar pengenaan Pajak Pertambahan
Nila(PPN). Jadi dapat disimpulkan bahwa Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
adalah pajak yang dikenakan atas pertambahan nilai dari barang kena pajak
atau jasa kena pajak.
Dalam Peraturan Perpajakan No. 18 Tahun 2000 mengenai Pajak
Pertambahan Nilai banyak istilah atau pengertian-pengertian penting yang
perlu diketahui dalam Pajak Pertambahan Nilai (PPN) antara lain :
1. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang
dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya menghasilkan barang,
mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha dagang,
memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar pabean, melakukan usaha
jasa dari luar daerah pabean.
2. Pengusaha Kena Pajak (PKP) adalah orang atau badan dalam bentuk
apapun yang dalam lingkungan pekerjaannya atau perusahaannya
menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang,
melakukan usaha perdagangan atau melakukan usaha jasa yang dikenakan
Pajak Pertambahan Nilai.
3. Badan adalah sekumpulan orang atau modal yang merupakan kesatuan
baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang
meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya,
badan usaha milik Negara atau daerah dengan nama dan dalam bentuk apa
pun, firma kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan,
yayasan, organisasi massa, organisasi social politik, atau organisasi yang
sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap, dan bentuk badan lainnya.
4. Barang Kena Pajak (BKP) adalah barang berwujud yang menurut sifat
atau hukuman dapat berupa barang bergerak maupun barang tidak
bergerak sebagai hasil proses pengolahan (pabrikasi) yang dikenakan
pajak berdasarkan undang-undang.

6
5. Jasa adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan atau
perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang atau fasilitas atau
kemudahan atau hak tersedia untuk dipakai termasuk jasa yang dilakukan
untuk menghasilkan barang karena pesanan atau permintaan dengan
bahan dan atas petunjuk dari pemesan.
6. Jasa Kena Pajak (JKP) adalah semua kegiatan usaha dan pemberian
pelayanan berdasarkan suatu peringkatan atau perbuatan hukum yang
menyebabkan suatu barang, fasilitas atau hak tersedia untuk dipakai, yang
dikenakan Pajak Pertambahan Nilai.
7. Penyerahan Jasa Kena Pajak adalah setiap kegiatan pemberian Jasa Kena
Pajak sebagaimana dimaksud pada huruf d, termasuk Jasa Kena Pajak
yang digunakan untuk kepentingan sendiri atau Jasa kena Pajak yang
diberikan secara cuma-cuma oleh Pengusaha Kena Pajak.
8. Daerah pabean adalah wilayah negara RI yang didalamnya berlaku
peraturan perundangundangan Pabean.
9. Masa Pajak adalah jangka waktu yang lamanya sama dengan satu bulan
takwin kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.
10. Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun takwim kecuali bila
Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun
takwim. Jika Wajib Pajak menggunakan tahun buku tidak sama dengan
tahun takwim maka tahun pajak adalah tahun dimana lebih dari enam
bulan ada di dalamnya.
11. Bagian Tahun Pajak adalah bagian dari jangka waktu 1 (satu) tahun pajak.
12. Pajak yang Terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat,
dalam Masa Pajak, dalam Tahun Pajak ada dalam Bagian Tahun Pajak
menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
13. Faktur Pajak adalah bukti pemungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha
Kena Pajak (PKP) atau Direktoral Jendral Bea Cukai pada saat
penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) atau impor Barang Kena Pajak
(BKP).
14. Pajak Masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dibayar oleh
Pengusaha Kena Pajak (PKP) pada waktu pembelian Barang Kena Pajak

7
(BKP) penerimaan Jasa Kena Pajak (JKP) atau impor Barang Kena Pajak
(BKP).
15. Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dipungut
oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) pada waktu penyerahan Barang Kena
Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP).
16. Kredit Pajak untuk Pajak Pertambahan Nilai adalah pajak masukan yang
dapat dikreditkan setelah dikurangi dengan pajak yang telah
dikompensasikan, yang dikurangkan dari pajak yang terutang.

E. Subyek Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


Subyek pajak adalah mereka yang menjadi penanggung jawab atas
hutang pajak yang bertanggung jawab atas penyetoran pajak ke kas Negara
berdasarkan Undangundang No. 18 Tahun 2000 adalah :
1. Pengusaha yang menurut Undang-undang harus dikukuhkan menjadi
Pengusaha Kena Pajak (PKP) pengusaha atau wajib pajak yang otomatis
adalah:
a) Pabrikan atau produsen termasuk pengusaha real estate/ industrial
estate atau developer atau pengusaha yang menghasilkan barang
kena pajak.
b) Pengusaha yang mengimpor barang kena pajak.
c) Pengusaha yang mempunyai hubungan istimewa dengan pabrikan
atau importer.
d) Agen utama dan penyaluran utama dari pabrikan atau importer.
e) Pemegang hak patent dan merk dagang dari barang kena pajak.
f) Pemborong atau kontraktor atau subkontraktor bangunan dan harta
tetap lainnya
g) Pengusaha yang tidak termasuk ruang lingkup pengenaan pajak akan
tetapi menyatakan memilih untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha
Kena Pajak (PKP) ialah :
1) Eksportir
2) Pedagang yang menjual Barang Kena Pajak (BKP).

8
F. Obyek Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Menurut Helmy (2005:63) Obyek Pajak Pertambahan Nilai dikenakan
sebagai berikut :
1. Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam daerah pabean yang dilakukan
pengusaha.
Penyerahan barang yang dikenekan pajak harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut :
1. Barang berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak
2. Barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak
tidak berwujud
3. Penyerahan dilakukan di dalam daerah pabean, dan
4. Penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau kegiatan.

a. Impor Barang Bena Pajak.


b. Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam daerah pabean yang dilakukan
oleh Pengusaha Penyerahan Jasa yang terutang pajak harus memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut :
1) Jasa yang diserahkan merupakan Jasa Kena Pajak
2) Penyerahan dilakukan didalam daerah pabean, dan
3) Penyerahan dilakukan dalam kegiata usaha atau pekerjaannya.
c. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar daerah pabean
di dalam daerah pabean.
d. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar daerah pabean di dalam daerah
pabean.
e. Ekspor Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak.
f. Kegiatan membangun sendiri yang tidak dilakukan dalam kegiatan usaha
atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan.
g. Panyerahan aktiva oleh Pengusaha Kena Pajak yang menurut tujuan
semula aktiva tersebut tidak untuk diperjual belikan, sepanjang Pajak
Pertambahan Nilai yang dibayar pada saat perolehannya dapat
dikreditkan.

9
G. Tarif Pajak Pertambahan Nilai menurut UUD
Tarif Pajak Pertambahan Nilai menurut ketentuan Undang-undang RI Tahun
2000 pasal 7 adalah :
1. Tarif Pajak Pertambahan Nilai adalah 10%.
2. Tarif Pajak Pertambahan Nilai atas ekspor barang kena pajak adalah 0%
(nol persen).
3. Dengan peraturan pemerintah tarif pajak dapat diubah serendah-
rendahnya 5% (lima persen) dan setinggi-tingginya 15%.
4. Pajak Pertambahan Nilai untuk pabrikan yaitu 10% untuk perhitungan
pajak keluarannya.

H. Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai


Besarnya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dapat dihitung dengan selisih
antara pajak yang telah dipungut pada saat penjualan atau penyerahan suatu
barang atau jasa kena pajak. Penerimaan jasa kena pajak atau import barang
kena pajak (pajak masukan). Apabila dalam suatu masa pajak, pajak keluaran
lebih besar dari pada pajak masukkan, maka selisihnya merupakan Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) yang harus dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak.
Apabila dalam suatu masa pajak, pajak masukkan yang dapat dikreditkan
lebih besar dari pajak keluaran, maka selisihnya merupakan kelebihan pajak
yang dapat dikompensasikan pada masa pajak berikutnya.

I. Contoh Kasus
PPN dikenakan atas pertambahan nilai yang terjadi karena kegiatan-
kegiatan tertentu sebagimana yang tercantum pada Undang-Undang Nomor
42 Tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak
Penjualan Atas Barang Mewah (UU PPN) Pasal 4, Pasal 16 C, dan Pasal 16
D.
Ada empat sektor industri di Indonesia yang ditengarai rawan melakukan
penghindaran pajak lewat transfer pricing. Keempat sektor itu adalah
pertambangan, perkebunan, elektronik dan otomotif. Kasus Toyota hanya

10
salah satu dari sekian kasus yang ditangani. Toyota pada tahun 2005 itu,
petugas pajak menemukan sejumlah kejanggalan. Pada tahun 2004 misalnya,
laba bruto Toyota menurun lebih dari 30 persen, dari Rp 1,5 triliun (2003)
menjadi Rp 950 miliar. Selain itu, rasio gross margin atau perimbangan antara
laba kotor dengan tingkat penjualan juga menurun. Dari sebelumnya 14,59
persen (2003) menjadi hanya 6,58 persen setahun kemudian. Ternyata yang
memicu penurunan pendapatan perusahaan multinasional ini adalah pada
tahun itu, Toyota melakukan restrukturisasi mendasar. Sebelumnya, semua
lini bisnis produksi dan distribusi mereka dilakukan di bawah satu bendera PT
Toyota Astra Motor. Pemilik sahamnya ada dua, yaitu PT Astra International
Tbk (51 persen) dan Toyota Motor Corporation Jepang (49 persen).
Pada pertengahan tahun 2003, Astra menjual sebagian besar sahamnya
dari Toyota Astra Motor kepada Toyota Motor Corporation Jepang.
Alasannya, Astra punya utang jatuh tempo yang tak bisa ditangguhkan lagi.
Alhasil, Toyota Jepang kini menguasai 95 persen saham Toyota Astra Motor.
Nama perusahaan berubah menjadi Toyota Motor Manufacturing Indonesia
(TMMIN). Untuk menjalankan fungsi distribusi di pasar domestik, Astra dan
Toyota Motor Corporation Jepang kemudian mendirikan perusahaan agen
tunggal pemegang merek dengan nama lama, yaitu Toyota Astra Motor
(TAM). Pada perusahaan ini, Astra menjadi pemegang saham mayoritas
dengan menguasai 51 persen saham. Sisanya milik Toyota Motor Corporation
Jepang. Setelah restrukturisasi itulah, laba gabungan kedua perusahaan
Toyota menurun. Menurunnya keuntungan Toyota membuat setoran pajaknya
pada pemerintah juga berkurang. Sebelumnya, perusahaan ini bisa membayar
pajak sampai setengah triliun rupiah.
Pada tahun 2004, pasca-restrukturisasi, dua perusahaan Toyota (TMMIN
dan TAM) hanya membayar pajak Rp 168 miliar. Yang janggal, meski laba
turun, omzet produksi dan penjualan mereka pada tahun itu justru naik 40
persen. Pemeriksa pajak menemukan jawabannya ketika memeriksa struktur
harga penjualan dan biaya Toyota dengan lebih seksama. Di sinilah jejak
transfer pricing perseroan ini mulai tercium. Toyota diduga ‘memainkan’
harga transaksi dengan pihak terafiliasi dan menambah beban biaya lewat

11
pembayaran royalti secara tidak wajar. Ribuan mobil produksi Toyota Motor
Manufacturing Indonesia diekspor ke luar negeri dari pelabuhan Tanjung
Priok, Jakarta Utara yang tidak banyak diketahui orang, nilai ekspor itu di
bawah biaya penjualan. Modus ini diduga merupakan strategi transfer pricing.
Di sinilah masalahnya.
Merujuk pada dokumen persidangan sengketa pajak ini, ada sejumlah
temuan yang mengindikasikan bahwa Toyota Indonesia menjual mobil-mobil
produksi mereka ke Singapura dengan harga tidak wajar. Misalnya, pada
dokumen laporan pajak Toyota pada tahun 2007. Sepanjang tahun itu, Toyota
Motor Manufacturing di Indonesia tercatat mengekspor 17.181 unit Fortuner
ke Singapura. Dari pemeriksaan atas laporan keuangan Toyota sendiri,
petugas pajak menemukan bahwa harga pokok penjualan atau cost of goods
sold (COGS) Fortuner itu adalah Rp 161 juta per unit. Anehnya, dokumen
internal Toyota menunjukkan bahwa semua Fortuner itu dijual 3,49 persen
lebih murah dibandingkan nilai tersebut. Artinya, Toyota Indonesia
menanggung kerugian dari penjualan mobil-mobil itu ke Singapura.
Temuan yang sama juga terlacak pada penjualan mobil Innova diesel dan
Innova bensin, yang masing-masing dijual lebih murah 1,73 persen dan 5,14
persen dari ongkos produksinya per unit. Pada ekspor Rush dan Terios,
Toyota Motor Manufacturing memang meraup untung, tapi tipis sekali yakni
hanya 1,15 persen dan 2,69 persen dari ongkos produksi per unit. Temuan ini
jadi menyolok karena Toyota Manufacturing menjual produk-produk serupa
kepada pembeli lokal di Indonesia dengan harga berbeda. Ketika dijual di
dalam negeri, mobil yang persis sama dilepas ke pasar dengan nilai
keuntungan bruto sebesar 3,43 - 7,67 persen. Tapi temuan itu saja belum
cukup untuk menyimpulkan Toyota melakukan penghindaran pajak. Untuk
itu, petugas pajak harus memeriksa nilai kewajaran dari semua transaksi
Toyota Manufacturing ke Singapura. Caranya adalah Sesuai aturan
penanganan transaksi hubungan istimewa yang diterbitkan Direktorat
Jenderal Pajak, otoritas pajak berhak menentukan kewajaran harga penjualan
suatu perusahaan dengan cara membandingkan harga itu dengan transaksi
perusahaan sejenis di luar negeri.

12
Aturan ini merujuk pada Transfer Pricing Guideline yang disusun
Organization for Economic Cooperation and Development (OECD).
Dokumen pemeriksaan di pengadilan pajak yang diperoleh, menunjukkan
bahwa petugas pajak kemudian menggunakan lima perusahaan otomotif yang
dianggap memiliki karakteristik serupa sebagai pembanding untuk Toyota.
Kelima perusahaan itu adalah Hindustan Motors (India), Yulon Motor
(Taiwan), Force Motor Limited (India), Shenyang Jinbei, dan Dongan Heibao
(Cina). Dari penelaahan atas transaksi afiliasi kelima perusahaan itu,
pemeriksa menetapkan bahwa kisaran keuntungan bruto yang dapat dinilai
wajar untuk perusahaan otomotif yang melakukan ekspor adalah 3,22 - 13,58
persen. Berdasarkan hal tersebut, pemeriksa pajak lalu mengkoreksi harga
pada transaksi Toyota Motor Manufacturing Indonesia kepada Toyota Motor
Asia Pacific di Singapura. Hasilnya fantastis, yaitu omzet penjualan Toyota
Motor Manufacturing pada tahun 2007 jadi melonjak hampir setengah triliun
dari laporan awal perusahaan itu. Nilainya sekarang menjadi Rp 27,5 triliun.
Petugas pajak kemudian memeriksa laporan keuangan Toyota
Manufacturing pada tahun 2008. Modus ekspor dengan nilai tidak wajar juga
berulang pada tahun itu. Koreksi serupa dilakukan dan nilai omzet Toyota
tahun itu melonjak 1,7 triliun menjadi Rp 34,5 triliun. Dengan kombinasi
‘permainan’ harga dalam transaksi terafiliasi dan pembayaran royalti yang
dinilai tidak wajar, Toyota Motor Manufacturing Indonesia melaporkan
penghasilan kena pajak sebesar Rp 426,9 miliar (tahun 2007) dan Rp 60,6
miliar (tahun 2008). Karena merasa sudah membayar lebih dari nilai itu, lima
tahun lalu Toyota menuntut negara mengembalikan kelebihan pajak sebesar
Rp 412 miliar. Direktorat Jenderal Pajak tidak terima. Mereka bersikukuh
kalau penghasilan Toyota yang harus dikenai pajak adalah Rp 975 miliar
(tahun 2007) dan Rp 2,45 triliun (tahun 2008). Oleh karena itu, pemerintah
meminta Toyota membayar kekurangan pajaknya senilai Rp 1,22 triliun.
Perbedaan penghitungan inilah yang kemudian menjadi sengketa di
pengadilan pajak. Yang mencurigakan, sejak diadili pada tahun 2007 sampai
sekarang, kasus ini tak kunjung diputus (Anonim, 2016). Hal inilah yang akan
dibahas lebih dalam pada artikel ini.

13
J. Efektifitas Kebijakan Dalam Mencegah dan Menanggulangi Transfer
Pricing Pada Perusahaan Multinasional
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebagai penyumbang penerimaan pajak
terbesar dikenakan hanya terhadap pertambahan nilainya saja dan dipungut
beberapa kali pada berbagai mata rantai jalur perusahaan. Pertambahan nilai
itu sendiri timbul karena digunakan faktor-faktor produksi pada setiap jalur
perusahaan dalam menyiapkan, menghasilan, menyalurkan, dan
memperdagangkan barang atau pemberian pelayanan jasa kepada para
konsumen. Semua biaya untuk mendapatan dan mempertahankan laba
termasuk bunga modal, sewa, tanah, upah kerja, dan laba perusahaan
merupakan unsur pertambahan nilai yang menjadi dasar pengenaan Pajak
Pertambahan Nilai (Mulyo Agung, 2009: 12).
Sesuai dengan legal karaternya sebagai pajak objektif maka PPN tidak
membedakan tingkat kemampuan konsumennya. Konsumen yang memiliki
kemampuan tinggi dengan konsumen yang memiliki kemampuan rendah
diperlakukan sama. Dengan demikian, PPN mengandung unsur regresif, yaitu
semakin tinggi kemampuan konsumen semakin ringan beban pajak yang
dipikul, semakin rendah kemampuan konsumen semakin berat beban pajak
yang dipikul. Sehingga dalam upaya mencapai keseimbangan pembebanan
pajak dan dalam upaya mengendalikan pola konsumsi yang tidak produktif
dari masyarakat, maka atas penyerahan atau atas impor barang-barang
berwujud yang tergolong mewah, selain dikenakan PPN juga dikenakan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Sebagaimana tercantum dalam
Pasal 5 UndangUndang Nomor 18 Tahun 2000 yang antara lain menegaskan
bahwa atas konsumsi barang kena pajak yang tergolong mewah selain
dikenakan PPN juga dikenakan PPnBM sebagai upaya nyata untuk mencapai
keseimbangan pembebanan pajak antara konsumen yang berpenghasilan
rendah dengan konsumen yang berpenghasilan tinggi. PPnBM tidak dapat
dienakan tersendiri tanpa adanya PPN dan dipungut satu kali pada sumbernya
yaitu pada tingkat pabrikan, atau pada waktu barang impor (yuniarwati, 2000:
20).

14
Pengenaan PPN dilaksanaan berdasarkan sistem faktur sehingga atas
penayerahan barang dan/atau penyerahan jasa wajib dibuat Faktur Pajak
sebagai bukti transaksi penyerahan barang dan/atau penyerahan jasa yang
terutang pajak. Perkembangan ekonomi yang terjadi pada saat ini,
memberikan suatu pengaruh yang besar bagi pola bisnis dan sikap para
pelaku bisnis. Investasi yang semakin aktif dilakukan oleh para investor,
terlebih-lebih oleh para investor asing yang telah mengakibatkan terjadinya
transaksi-transaksi yang bersifat internasional (cross border transaction).
Awalnya transfer pricing dikenal dalam akuntansi manajemen sebagai
kebijakan harga yang diterapkan atas penyerahan barang atau jasa antar divisi
atau departemen di dalam suatu perusahaan dengan tujuan untuk mengukur
kinerja dari masingmasing divisi atau departemen tersebut. Seiring dengan
perkembangan zaman, perusahaan multinasional yang biasanya menerapkan
desentralisasi operasi dengan cara membagi perusahaannya atas pusatpusat
pertanggungjawaban baik itu pusat biaya maupun pusat penghasilan, telah
memanfaatkan transfer pricing sebagai alat untuk menghindari atau
menggelapkan pajak dengan cara meminimalkan beban pajak yang harus
ditanggung perusahaan.
Dalam kasus ini, Toyota melakukan penghindaran pajak atau transfer
pricing. Untuk itu, petugas pajak harus memeriksa nilai kewajaran dari semua
transaksi Toyota Manufacturing ke Singapura. Caranya adalah Sesuai aturan
penanganan transaksi hubungan istimewa yang diterbitkan Direktorat
Jenderal Pajak, otoritas pajak berhak menentukan kewajaran harga penjualan
suatu perusahaan dengan cara membandingkan harga itu dengan traksaksi
perusahaan sejenis di luar negeri. Aturan ini merujuk pada Transfer Pricing
Guideline yang disusun Organization for Economic Cooperation and
Development (OECD). Melalui praktik transfer pricing, upaya meminimalkan
beban pajak dilakukan dengan cara mengalihkan penghasilan serta biaya
suatu perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa dari suatu negara
kepada perusahaan di negara lain yang tarif pajaknya berbeda. Masalah
pengalokasian penghasilan dan biaya perusahaan multinasional ini harus
diatur dengan baik dan jelas oleh masing-masing negara yang terlibat dalam

15
transaksi internasional. Pengaturan yang baik dan jelas diharapkan dapat
mencegah dan mendeteksi tindakantindakan manipulasi pajak melalui transfer
pricing yang sering dilakukan perusahaan multinasional untuk melakukan
penghindaran atau penggelapan pajak. Penelitian dilakukan untuk
mengevaluasi kebijakan-kebijakan atau peraturan-peraturan perpajakan
mengenai pencegahan dan penanggulangan praktek transfer pricing yang
menyebabkan penghindaran atau penggelapan pajak di Indonesia (Indah
Dewi Nurhayati, 2013: 32).
Untuk mencegah penghindaran pajak yang telah dilakuan oleh Toyota
Manufacturing karena penentuan harga tidak wajar (non arm’s length price),
maka dengan adanya Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-43/PJ/2010
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-
32/PJ/2011 tanggal 11 Nopember 2011. Peraturan ini membahas penerapan
prinsip kewajaran dan kelaziman usaha (arm’s length principle) terkait
transaksi antara Wajib Pajak dengan pihak yang memiliki hubungan
istimewa. Dalam PER-32/PJ/2011 Wajib Pajak diharuskan untuk
menggunakan nilai pasar wajar dalam bertransaksi dengan pihak yang
mempunyai hubungan istimewa (related parties). Penentuan harga transaksi
wajar (arm’s length price) bisa melalui metode perbandingan harga antara
pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa, resale price dan metode
lainnya. Syarat utama analisis ini adalah ketersediaan data pembanding
eksternal dan internal. Apabila Wajib Pajak tidak bisa menunjukkan bukti
pendukung kewajaran harga transaksi, maka Ditjen Pajak akan menetapkan
harga transaksi yang wajar antara pihak-pihak yang terafiliasi.
Pada Pasal 2 Peraturan Dirjen Pajak ini, dinyatakan terdapat dua pihak
yang harus tunduk pada ketentuan tersebut. Pertama, pedoman transfer
pricing ini berlaku untuk penentuan transfer pricing atas transaksi yang
dilakukan Wajib Pajak Dalam Negeri atau Bentuk Usaha Tetap di Indonesia
dengan Wajib Pajak Luar Negeri di luar Indonesia. Ini sebenarnya yang
dimaksud dengan Cross Border Transfer Pricing. Hal inilah sebenarnya yang
menjadi alasan utama mengapa perlu ada pedoman transfer pricing.
Perbedaan pedoman transfer pricing PER43/PJ/2010 dengan PER-32/PJ/2011

16
adalah bahwa pada PER-43/PJ/2010 tidak membedakan transaksi antara
pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa, apakah Cross Border
Transfer Pricing atau Transfer Pricing di dalam negeri. Dengan demikian,
sifat dari perubahan yang dilakukan PER-32/PJ/2011 adalah mempersempit
ruang lingkup kondisi yang harus tunduk pada pedoman transfer pricing.
Kedua, dalam Pasal 2 ayat 2 dijelaskan bahwa pedoman transfer pricing ini
bisa diterapkan untuk transaksi antara Wajib Pajak yang berhubungan
istimewa di Indonesia yang dapat memanfaatkan perbedaan tarif karena
perlakuan pengenaan pajak penghasilan final atau tidak final pada sektor
usaha tertentu, perlakuan pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah dan
transaksi yang dilakukan dengan Wajib Pajak Kontraktor Kontrak Kerja
Sama Migas. Untuk mengatur dan memberikan kepastian dalam rangka
melaksanakan ketentuan Pasal 18 ayat (3a) Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1983 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU Nomor 36
Tahun 2008 terutama dalam hal mengatur tentang kesepakatan transfer
pricing, maka Direktur Jenderal Pajak menetapkan Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor PER-69/PJ/2010 tanggal 31 Desember 2010 tentang
Kesepakatan Transfers Pricing (Advance Pricing Agreement/ APA).
Walaupun penerapan APA memberikan manfaat yang banyak, Wajib
Pajak dan Ditjen Pajak juga perlu mempertimbangkan potensi kerugian yang
mungkin saja timbul dalam pelaksanaannya. Potensi kerugian tersebut
diantaranya (Indah Dewi Nurhayati, 2013: 36) :
1. Pengorbanan waktu dan biaya yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan
APA. Program APA tidak dapat diterapkan kepada semua Wajib Pajak
multinasional karena proses negosiasi yang cukup menyita waktu dan
biaya.
2. Wajib Pajak harus mengungkapkan informasi yang mungkin merupakan
rahasia perusahaan kepada otoritas pajak. Pada tahap pengajuan APA,
Ditjen
3. Pajak membutuhkan berbagai informasi yang berhubungan dengan
transaksi yang akan dilakukan. Informasi tersebut umumnya bersifat
rahasia bagi perusahaan, yang cenderung ditutup-tutupi oleh Wajib Pajak,

17
karena dikhawatirkan data tersebut dapat digunakan oleh Ditjen Pajak
dalam rangka pemeriksaan.

Agar APA dapat berjalan sebagaimana mestinya maka dalam


pelaksanaannya masing-masing pihak yaitu Wajib Pajak dan Ditjen Pajak
harus melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Adapun tanggung
jawab Wajib Pajak dalam pelaksanaan APA adalah konsisten dengan tujuan
awal diselenggarakannya APA, memberikan buktibukti dan informasi yang
dapat dipercaya, dan melaksanakan ketentuan-ketentuan yang dimuat dalam
perjanjian APA.

K. Fasilitas Perpajakan yang Dapat Diberikan kepada Importir untuk


Meningkatkan Penerimaan PPN Impor Barang Kena Pajak
Fasilitas yang kemungkinan dapat dinikmati oleh pengusaha kena pajak
yang mengimpor Barang Kena Pajak adalah:
1. Pajak terutang yang tidak dipungut
2. Dibebaskan dari pengenaan PPN

Fasilitas tersebut diberikan kepada pengusaha yang berkenaan antara lain


dengan maksud untuk mendorong pertumbuhan bidang usaha yang
bersangkutan, untuk membantu likuiditas perusahaan atau untuk menunjang
program pemerintah yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Perlakuan
atas pajak masukan yang berkaitan dengan kedua fasilitas tersebut adalah :

1. Pajak masukan atas perolehan BKP / JKP untuk menghasilkan


penyerahan yang mendapat fasilitas PPN yang terutang tidak dipungut
yang dapat dikreditkan.
2. Pajak masukan atas perolehan BKP / JKP untuk menghasilkan
penyerahan yang mendapat fasilitas dibebaskan dari PPN yang tidak dapat
dikreditkan.

Fasilitas yang dibebaskan dari pengenaan PPN / PPnBM (Diyah Ika Sari,
2010: 63) :

18
1. Impor BKP tertentu yang dibebaskan PPN :
a) Senjata, amunisi, alat angkutan, kendaraan lapis baja, kendaraan
angkutan khusus, dan bahan lain yang iperlukan dalam pembuatan
senjata / amunisi untuk keperluan TNI / POLRI yang belum dibuat
dalam negeri.
b) Vaksin polio dalam rangka pelaksanaan program PIN.
c) Buku pelajaran, kitab suci, dan buku agama.
d) Kapal laut, kapal angkutan sungai, danau, dan lain-lain serta alat
keselamatan pelayaran manusia yang digunakan oleh perusahaan
pelayaran niaga atau penangkapan ikan.
e) Pesawat udara dan suku cadangnya untuk perbaikan yang digunakan
oleh perusahaan angkutan niaga nasional.
f) Kereta api dan suku cadangnya yang digunakan oleh perusahaan PT
Kereta Api nasional.
g) Peralatan yang digunakan untuk menyediakan data base dan photo
udara wilayah RI.
2. Fasilitas PPN atas impor BKP di kawasan berikat diberikan atas transaksi:
a) Impor barang modal / peralatan pabrik / peralatan perkantoran yang
semata-mata dipakai oleh PKB.
b) Impor barang modal dan peralatan pabrik yang berhubungan langsung
dengan kegiatan produksi PKB yang semata-mata dipakai oleh PKB.
c) Impor barang/bahan yang akan diolah di PKB.
d) Penyerahan BKP dari kawasan berikat kepada pihak yang
memperoleh fasilitas pembebasan / penangguhan bea masuk, cukai,
dan pajak dalam rangka impor.
3. Fasilitas PPN bagi pengusaha EPTE (Entrepot Produksi Tujuan Ekspor)
PKP EPTE diberikan fasilitas PPN yang terutang tidak dipungut /
penangguhan / diperlakukan sama dengan ekspor, yaitu atas transaksi:
a) Impor barang modal dan peralatan pabrikan yang berhubungan
langsung dengan kegiatan produksi serta impor barang atau bahan
untuk diolah lebih lanjut oleh PKP EPTE.

19
4. KMK No. 47 / KMK. 01 / 1981 jo KMK No. 548 / KMK. 04 / 1994 yang
intinya mengatur bahwa PPN tidak dipungut atas pemasukan BKP / JKP
ke kawasan berikat Pulau Batam, baik impor maupun panyerahan dari
dalam wilayah RI.
Tata cara pemberian fasilitas PPN tidak dipungut : Fasilitas PPN tidak
dipungut atas penyerahan BKP / JKP kepada PKP di kawasan berikat
Pulau Batam atau impor BKP oleh PKP di kawasan berikat Pulau Batam
diberikan apabila PKP di kawasan tersebut menunjukkan Surat
Keterangan PPN tidak dipungut yang diterbitkan oleh KPP Batam. Faktur
Pajak atau dokumen PIB dan SSP PPN Impor atau SSP PPN atas
pemanfaatan BKP tidak berwujud / JKP dari luar daerah pabean tetap
harus dibuat dengan dibubuhi cap “PPN tidak dipungut eks PPN Nomor
39 Tahun 1998”.
5. PPN tidak dipungut atas impor BKP tertentu :
Dalam KMK No. 132 / KMK.04 / 1999 jo SE-05 / PJ.52 / 1999 diatur
tentang pemberian fasilitas PPN tidak dipungut atas kegiatan impor
barang-barang tertentu.
6. PPN yang dibebaskan atas BKP tertentu yang bersifat strategis :
Pada tanggal 2 April 2001 telat dikeluarkan KMK No. KMK- 155 /
KMK.04 / 2001 yang merupakan aturan pelaksanaan dari PP No. 12
Tahun 2001 tentang impor dan penyerahan BKP tertentu yang bersifat
strategis yang dibebaskan dari pengenaan PPN. Peraturan tersebut berlaku
sejak tanggal 1 Januari 2001.
Pemberian fasilitas perpajakan berupa pembebasan dari pengeluaran
PPN yang diutamakan untuk impor dan atau penyerahan BKP serta
penyerahan JKP untuk :
a) Mendukung pertahanan nasional.
b) Mencerdaskan kehidupan bangsa.
c) Mensejahterakan kehidupan bangsa.
d) Meningkatkan kesehatan masyarakat.
e) Mempertahankan pembangunan nasional.

Sedangkan fasilitas tidak dikenakan PPN untuk:

20
a) Mendorong ekspor
b) Meningkatkan daya saing barang di pasar internasional
c) Mengembangkan wilayah atau daerah tertentu agar dapat menjadi
sentra-sentra kegiatan ekonomi
d) Mendorong pertumbuhan ekonomi
e) Meningkatkan kerja sama dengan negara-negara lain.

21
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Praktik transfer pricing sering digunakan oleh banyak perusahaan sebagai


alat untuk menghindari atau menggelapkan pajak dengan cara meminimalkan
beban pajak yang harus dibayar oleh perusahaan. Dalam kasus tersebut diatas,
Toyota Manufacturing diduga ‘memainkan’ harga transaksi dengan pihak
terafiliasi dan menambah beban biaya lewat pembayaran royalti secara tidak
wajar. Ribuan mobil produksi Toyota Motor Manufacturing Indonesia
diekspor ke luar negeri dengan nilai ekspor dibawah biaya penjualan. Modus
ini diduga merupakan strategi transfer pricing. Transaksi yang terjadi antar
perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa biasanya sering memakai
harga yang tidak wajar, yang tidak sama dengan harga yang terjadi dalam
transaksi antar pihak yang independen. Tujuan diadakannya Advance Pricing
Agreement (APA) adalah untuk mengurangi terjadinya praktik
penyalahgunaan transfer pricing oleh perusahaan multinasional. PER-
32/PJ/2011 tidak membedakan transaksi antara pihak-pihak yang memiliki
hubungan istimewa, baik Cross Border Transfer Pricing atau Transfer Pricing
di dalam negeri. Sifat dari perubahan yang dilakukan PER-32/ PJ/2011 adalah
mempersempit ruang lingkup kondisi yang harus tunduk pada pedoman
transfer pricing. Fasilitas yang kemungkinan dapat dinikmati oleh pengusaha
kena pajak yang mengimpor Barang Kena Pajak adalah pajak terutang yang
tidak dipungut dan dibebaskan dari pengenaan PPN. Fasilitas tersebut
diberikan kepada pengusaha yang berkenaan antara lain dengan maksud
untuk mendorong pertumbuhan bidang usaha yang bersangkutan, untuk
membantu likuiditas perusahaan atau untuk menunjang program pemerintah
yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Pemberian fasilitas perpajakan
berupa pembebasan dari pengeluaran PPN yang diutamakan untuk impor dan
atau penyerahan BKP serta penyerahan JKP adalah untuk mendukung

22
pertahanan nasional, mencerdaskan kehidupan bangsa, mensejahterakan
kehidupan bangsa, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan
mempertahankan pembangunan nasional. Sedangkan fasilitas tidak dikenakan
PPN adalah untuk mendorong ekspor, meningkatkan daya saing barang di
pasar internasional, mengembangkan wilayah atau daerah tertentu agar dapat
menjadi sentrasentra kegiatan ekonomi, mendorong pertumbuhan ekonomi,
dan meningkatkan kerja sama dengan negara-negara lain.

23
DAFTAR PUSTAKA

Adrian Sutedi. 2013. Hukum Pajak, ctk. Kedua. Jakarta: Sinar Grafika.

Anonim, Prahara Pajak Raja Otomotif, https:// investigasi.tempo.co/toyota/.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.


Jakarta: Rineka Cipta.

Arwa. 2009. Evaluasi Atas Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai Pada Perusahaan
Rokok Roky Internasional Kalen Kedungpring Lamongan. Skripsi UNISDA
Lamongan, Tidak Dipublikasikan.

Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan,


http://www.pajak.go.id/content/seri-ppn-danppnbm-cara-menghitung-ppn-
dan-ppnbm.

Diyah Ika Sari. 2010. “Evaluasi Penerimaan Negara Dari Pemungutan Ppn Atas
Impor Barang Kena Pajak Di Kantor Pengawasan Dan Pelayanan Bea Dan
Cukai Tipe Madya Pabean Surakarta”. Tugas Akhir, Program Studi Diploma
III Perpajakan. Surakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.

Fitriandi, Primandita, Birowo, Tejo, Aryanto, Yuda. 2006. Komplikasi Undang-


Undang Perpajakan Terlengkap. Edisi kedua. Jakarta: Salemba Empat.

Helmy, Alfian. 2005. diktat Hukum Perpajakan.

Helmy, Alfian. 2005. diktat Perpajakan.

Hidayah, Nurul. dkk. 2008. Ilmu Pengetahuan Sosial. Lamongan: UD Rismah


Cendekia.

Indah Dewi Nurhayati. 2013. “Evaluasi Atas Perlakuan Perpajakan Terhadap


Transaksi Transfer Pricing Pada Perusahaan Multinasional Di Indonesia”.
artikel pada Jurnal Manajemen dan Akuntansi. edisi No 1. Vol 1, April 2013.

Mardiasmo. 2003. Perpajakan. Edisi revisi tahun 2002. Yogyakarta: Andi.

24
Mulyo Agung. 2009. Perpajakan Indonesia Seri PPN, PPnBM, dan PPh Badan,
Teori dan Aplikasi. Edisi Kedua. Bogor: Mitra Wacana Media.

Suandy, Erly. 2006. Perpajakan. Edisi kedua. Jakarta: Salemba Empat.

Suandy, Erly. 2003. Hukum Pajak. Jakarta: Salemba Empat.

Waluyo. Ilyas, Wirawan (2002), Perpajakan Indonesia. Jakarta, Salemba Empat.

Yuniarwati. 2000. “Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa”. Jurnal


Perpajakan. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara.

25