Anda di halaman 1dari 26

Referat

TATALAKSANA AKNE VULGARIS

Oleh:
Achmad Affaier
04054822022049

Pembimbing:
dr. Susanti Budiamal, Sp.KK(K), FINSDV, FAADV

BAGIAN/ DEPARTEMEN DERMATOLOGI DAN VENEREOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
2020
HALAMAN PENGESAHAN

Judul Referat
TATALAKSANA AKNE VULGARIS

Oleh:
Achmad Affaier
04054822022049

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti ujian
Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen Dermatologi dan Venereologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya/ Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad
Hoesin Palembang periode 24 Februari 2020 – 30 Maret 2020

Palembang, 09 Maret 2020


Pembimbing,

dr. Susanti Budiamal, Sp.KK(K), FINSDV, FAADVS

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur bagi Allah, atas rahmat dan karunia-Nya, akhirnya
referat yang berjudul “Tatalaksana Akne Vulgaris” ini dapat diselesaikan dengan
baik. Referat ini ditujukan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian
kepaniteraan klinik senior di bagian Ilmu Dermatolgi dan Venereologi RSUP dr.
Mohammad Hoesin Palembang.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dr. Susanti Budiamal,
Sp.KK(K), FINSDV, FAADV selaku pembimbing dalam referat ini yang telah
memberikan bimbingan dalam penyusunan referat ini.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih memiliki banyak kekurangan,
untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan penulis demi
kebaikan di masa yang akan datang. Akhirnya, kepada Allah penulis memohon
semoga buah karya sederhana ini ikhlas karena-Nya, pernuh berkah, dan berguna
bagi diri penulis. Serta semoga Allah melimpahkan manfaat pada setiap orang
yang membacanya.

Palembang, 09 Maret 2020

Penulis

iii
TATALAKSANA AKNE VULGARIS
Achmad Affaier, S.Ked
Pembimbing: Prof. dr. Soenarto K, Sp.KK(K), FINSDV, FAADV
Bagian/ Departemen Dermatologi dan Venereologi
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/ RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang

PENDAHULUAN
Akne adalah penyakit berupa peradangan kronis folikel pilosebasea ditandai
dengan lesi polimorfik berupa komedo, papul, pustul, nodul, serta kista di tempat
predileksi. Akne vulgaris merupakan akne yang biasanya terjadi pada masa remaja
akibat berbagai faktor pencetus. Akne dihubungkan dengan berbagai faktor
penyebab sebagai pencetus, misalnya genetik, ras, stres, dietasi, kosmetik, obat-
obatan, tekanan fisik, dan kebiasaan merokok. Akne biasanya muncul pada wajah,
leher, dada atas, punggung atas, bahu, dan lengan atas. Akne biasanya muncul
saat pubertas dan sering menjadi tanda awal dari peningkatan produksi hormon
seks.1,2
Akne terjadi pada hampir 80-100% populasi dengan kejadian terbanyak
pada usia 16-19 tahun pada pria dan 14-17 tahun pada wanita. Akne merupakan
kasus ketiga terbanyak yang membuat pasien datang berobat ke RSUP dan RSUD
di Indonesia. Terdapat empat mekanisme yang diyakini sebagai patogenesis dari
akne vulgaris, yaitu hiperproliferasi folikel pilosebasea, peningkatan produksi
sebum, proses inflamasi, dan kolonisasi mikroflora kulit terutama
Propionibacterium acnes.1,3
Lehmann membagi derajat akne menjadi ringan, sedang, dan berat. Akne
dikatakan ringan apabila ditemukan komedo <20 atau lesi inflamasi <15, atau
total lesi <30. Akne derajat sedang apabila terdapat komedo 20-100, atau lesi
inflamasi 15-50, atau kista <5, atau lesi total 30-125. Akne berat apabila terdapat
komedo >100, atau lesi inflamasi >50, atau kista >5, atau total lesi >125.4
Akne vulgaris tidak menyebabkan kematian, akan tetapi akne vulgaris dapat
menimbulkan jaringan parut yang luas dan hiperpigmentasi pasca akne serta
mempengaruhi emosi penderitanya terutama pada remaja. Pengobatan akne
vulgaris berbeda-beda untuk tiap derajat keparahan, pada referat ini akan dibahas
tentang penatalaksanaan akne vulgaris.5

1
ETIOPATOGENESIS
Terdapat empat patogenesis (Gambar 1.) yang paling berpengaruh
terhadap munculnya akne vulgaris, yaitu:
1. Peningkatan produksi sebum
Kulit, dan terutama kelenjar sebasea merupakan tempat pembentukan
hormon androgen aktif. Hormon androgen memengaruhi produksi sebum
melalui proliferasi dan diferensiasi sel sebosit. Ekskresi sebum berada di
bawah kontrol hormon androgen. Hormon androgen berperan dalam
perubahan sel sebosit demikian pula sel keratinosit folikular. Sel sebosit
berdiferensiasi dengan mencerna hormon androgen menggunakan enzim 5-
α reduktase, 3-β hidroksisteroid dehidrogenase, dan 7-β hidroksisteroid
dehidrogenase. Proses diferensiasi sel sebosit dipicu hormon androgen yang
akan berikatan dengan reseptor pada inti sel sebosit yang selanjutnya akan
memicu proses transkripsi gen dan diferensiasi sel sebosit. Setelah
berdiferensiasi, sel sebosit ruptur dan melepaskan sebum ke dalam duktus
pilosebasea. Peningkatan produksi sebum dikaitkan dengan respon yang
berbeda unit folikel pilosebasea terhadap hormon androgen, atau adanya
peningkatan androgen sirkulasi, atau keduanya. Pasien akne vulgaris akan
memproduksi sebum lebih banyak dari individu normal, namun
komposisinya tidak berbeda dari orang normal kecuali terdapat penurunan
asam linoeat yang bermakna. Jumlah sebum yang diproduksi sangat
berhubungan dengan keparahan akne vulgaris.1,2,3

2. Hiperkornifikasi duktus pilosebasea


Pada keadaan normal, sel keratinosit folikular akan dilepaskan satu
persatu ke dalam lumen dan kemudian diekskresi. Pada akne terjadi
hiperproliferasi sel keratinosit, dan sel tidak dilepaskan secara tunggal
sebagaimana keadaan normal. Hiperproliferasi dari epidermis folikel
menyebabkan terbentuknya lesi primer pada akne, yaitu mikrokomedo.
Epitel folikel rambut bagian atas, infundibulum, menjadi hiperkeratosis
dengan peningkatan kohesi dari keratinosit. Sel-sel yang berlebih dan daya
lekat antar sel tersebut menyebabkan tersumbatnya ostium folikel.
Sumbatan ini kemudian menyebabkan terkumpulnya keratin, sebum, dan
bakteri lalu menumpuk di folikel. Tumpukan ini menyebabkan dilatasi
folikel rambut bagian atas, dan menghasilkan rnikrokomedo. Stimulus
hiperproliferasi dari keratinosit dan meningkatnya adhesi masih belum
diketahui. Tetapi beberapa faktor telah diduga sebagai stimulusnya seperti
stimulasi dari androgen, berkurangnya asam linoleat, dan peningkatan
aktivitas IL-1α. Pada akhirnya secara klinis terdapat lesi non inflamasi
seperti komedo atau lesi inflamasi bila P. acnes berproliferasi dan
menghasilkan mediator-mediator inflamasi.1,6

Papul
Mikrokomedo Komedo inflamatorik/pustul Nodul
 Hiperketatosis  Akumulasi dari  Ekspansi lanjut  Ruptur dinding
infundibulum tumpukan dari unit folikel folikel
 Kohesif komeosit dan  Proliferasi P.  Inflamasi
komeosit sebum acnes perifolikular
 Sekresi sebum  Dilatasi ostium  Inflamasi yang jelas
folikel perifolikular  Skar

Gambar 1. Patogenesis akne6

3. Kolonisasi microflora kulit terutama Propiniobacterium acnes


Propionibacterium acnes merupakan mikroorganisme utama yang
ditemukan di daerah infrainfundibulum, dapat mencapai permukaan kulit
dengan mengikuti aliran sebum. P. acnes juga memegang peran aktif dalam
proses inflamasi pada akne vulgaris dengan menghasilkan faktor kemotaktik
dan enzim lipase yang akan mengubah trigliserida menjadi asam lemak
bebas. P. acnes merupakan bakteri Gram positif anaerob yang ditemukan di
folikel pilosebasea. P. acnes merupakan mikroorganisme utama yang
ditemukan di daerah infra infundibulum dan P. acnes dapat mencapai
permukaan kulit dengan mengikuti aliran sebum. P. acnes akan meningkat
jumlahnya seiring dengan meningatnya jumlah trigliserida dalam sebum
yang merupakan nutrisi bagi P. acnes. Remaja dengan akne memiliki
konsentrasi P. acnes yang lebih tinggi dibanding remaja yang tidak
memiliki akne. Akan tetapi, tidak ada korelasi antara jumlah P. acnes
terhadap derajat keparahan dari akne.1,6,7

4. Proses inflamasi
Proses inflamasi yang diperantarai sistem imun dapat melibatkan
limfosit CD4 dan makrofag, yang menstimulasi vaskularisasi pilosebaseus
dan memicu hiperkeratinisasi folikular. Propiniobacterium acnes juga
diduga berperan penting dalam menimbulkan inflamasi pada akne vulgaris
dengan menghasilkan faktor kemotaktik dan enzim lipase yang akan
mengubah trigliserida menjadi asam lemak bebas, serta dapat menstimulasi
aktivasi jalur klasik dan alternatif komplemen.1,8

MANIFESTASI KLINIS
Akne vulgaris merupakan penyakit inflamasi kronik dari folikel
pilosebasea yang ditandai dengan adanya komedo, papul, pustul, nodul, dan
jaringan parut. Akne vulgaris mempunyai tempat predileksi di wajah dan leher
(99%), punggung (60%), dada (15%) serta bahu dan lengan atas. Kadang-kadang
pasien mengeluh gatal dan nyeri. Kulit pada akne vulgaris cenerung lebih
berminyak atau sebore, tetapi tidak semua orang dengan sebore disertai akne
vulgaris. Gambaran klinis dari akne vulgaris ringan (Gambar 2.) berupa komedo
(<20 buah) dengan atau tanpa papul atau pustul (<15 buah) dan jumlah seluruh
lesi tidak lebih dari 30 buah. Nodul maupun kista tidak dijumpai pada akne
vulgaris ringan. Akne derajat sedang (Gambar 3.) apabila terdapat komedo 20-
100, atau lesi inflamasi 15-50, atau kista kurang dari 5, atau lesi total 30-125.
Akne berat (Gambar 4.) apabila terdapat komedo >100, atau lesi inflamasi >50,
atau kista >5, atau total lesi >125. Klasifikasi akne vulgaris dapat dilihat pada
Tabel 1.1,9,10
Komedo merupakan lesi primer dari akne. Komedo terbuka terlihat seperti
bercak atau sedikit peninggian dengan keratin hitam di tengah lesi tersebut.
Komedo tertutup biasanya papul kekuningan kisaran 1 mm yang memerlukan
peregangan kulit agar dapat terlihat. Makrokomedo, lesi yang jarang, dapat
mencapai ukuran 3-4 mm. Papul dan pustul berukuran 1-5 mm dan disebabkan
oleh adanya inflamasi, jadi akan terlihat eritema dan edema. Lesi ini dapat
membesar, menjadi lebih nodular, dan menyatu menjadi plak beberapa sentimeter
yang berindurasi atau fluktuatif dan mengeluarkan nanah serosanguinousa atau
kekuningan.1,3

Tabel 1. Klasifikasi Akne Vulgaris1


Derajat Komedo Pustul Kista Total
Ringan <20 <15 0 <30
Sedang 20-100 15-50 <5 30-125
Berat >100 >50 >5 >125
Gambar 2. Akne Vulgaris Ringan6 Gambar 3. Akne Vulgaris Sedang6

Gambar 4. Akne Vulgaris Berat6

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis adanya lesi polimorfik
komedo, papul, pustul, nodus, dan kista pada daerah predileksi. Bila lesi sudah
membaik, akan timbul sisa lesi berupa hiperpigmentasi paska akne dan parut
paska akne. Adanya komedo menjadi tanda khas dari akne sejati meskipun ada
penyakit lain yang mirip komedo sebagai gejalanya misalnya steatoma, namun
besar dan jenis sebelumnya berbeda. Pada ekstrasi komedo dengan sendok Unna
(ekstraktor komedo) akan keluar sebum dengan konsistensi lunak sampai keras
yang kadang ujungnya berwarna hitam karena berisi melanin.1,7
Pemeriksaan laboratoris bukan merupakan standar bagi penegakkan
diagnosis namun diperlukan bagi penelitian-penelitian etiopatogenesis akne.
Demikian pula pemeriksaan histopatologis yang gambarannya tidak khas untuk
akne. Ada banyak penelitian yang menghubungkan akne dengan peningkatan
hormon androgen baik pada remaja maupun dewasa. Akan tetapi pada
kebanyakan pasien dengan akne, kadar androgen serum biasanya dalam batas
normal.1,6
Kuman yang disangka berperan dalam etiopatogenesis yaitu
Propionibacterium acnes dapat ditemukan dalam duktus infrainfundibulum
pilosebasea dengan pemeriksaan mikrobiologis anaerob. Dalam pemeriksaan
mikrobiologis kadang ditemukan mikroba lain misalnya Pityrosporum ovale,
Pityrosporum orbiculare, Micrococci dan kadang kutu Demodex folliculorum
sebagai penyebab akne yang sukar sembuh. Pemeriksaan lain, misalnya
dermatoskopi, belum dikembangkan menjadi pemeriksaan standar bagi akne
meskipun dipikirkan untuk dipakai sebab caranya mudah dan murah.1,6

Berikut bagan alur untuk pasien akne:

Pasien datang dengan


keluhan akne

Diagnosis Tidak
Apakah presentasi klinis Diagnosis alternatif
sesuai akne

Ya

Evaluasi
Kategori akne berdasarkan
jenis dan keparahan

Edukasi pasien

Tatalaksana

Bagan 1. Alur diagnosis akne1


Diagnosis banding (DD) dapat dibuat berdasarkan jenis lesi, komedonal,
inflamasi, kista atau nodus. Untuk itu dalam IAEM 2015 diputuskan bahwa
pemikiran tentang diagnosis banding lebih fokus pada DD pada remaja dan
dewasa saja. Dengan demikian DD akne pada remaja dan dewasa utamanya
adalah apakah itu akne vulgaris, akne venenata atau akne fisik (semuanya dalam
penggolongan akne sejati) atau apakah bukan erupsi akneiformis. Pada keadaan
khusus misalnya monomorfi komedo tertutup yang mirip milia, papul yang mirip
siringoma, kista yang mirip steatoma atau nodus yang mirip furunkel, baru DD
lain dipikirkan.1,6
Diagnosis banding yang paling menyerupai akne vulgaris adalah sebagai
berikut:1,6
1. Akne dengan komedo tertutup
a. Milia
b. Hiperplasia sebasea
2. Akne dengan komedo terbuka
a. Dilated pore of Winner
b. Sindrom Favre-Racouchot
3. Akne dengan lesi inflamasi
a. Rosasea
b. Dermatitis perioral

TATALAKSANA AKNE VULGARIS


Terapi akne vulgaris didasarkan atas empat proses patogenesis akne vulgaris
itu sendiri. Mekanisme kerja dari terapi yang ada adalah sebagai berikut:6
1. Memperbaiki pola keratinisasi dari folikel
2. Menurunkan aktivitas kelenjar sebasea
3. Menurunkan populasi bakteri folikel, terutama P. acnes
4. Mengeluarkan efek antiinflamasi
Menyesuaikan terapi dengan pengetahuan tentang patogenesis akne dan
mekanisme kerja dari obat akne yang tersedia menjamin respons terapeutik yang
maksimal. Seringkali, beberapa obat dikombinasikan untuk menghadapi banyak
faktor dalam patogenesis akne.1,6

Tabel 2. Rekomendasi Terapi Akne1


Derajat /
Ringan Sedang Berat
Terapi
Asam retinoat, asam
Lini pertama Asam retinoat, BPO, Antibiotik
salisilat
Topikal Antibiotik BPO
BPO
Doksisiklin Azitromisin, Quinolon
Oral - Eritromisin pada Eritromisin pada wanita
wanita hamil hamil
Asam azelat, asam Asam azelat, asam
Lini kedua Asam azelat salisilat, Triamcinolon salisilat, Triamcinolon
Topikal BPO Acetonide intralesi Acetonide intralesi
BPO BPO
Perempuan: Antiandrogen
Oral - Antibiotik lain
Laki-laki: Isotretinoin
Asam azelat, asam
Asam Antibiotik konsentrasi
Lini ketiga salisilat, Triamcinolon
retinoat+BPO/AB tingi, asam
Topikal Acetonide intralesi
konsentrasi tinggi retinoat+BPO
BPO
Perempuan: Isotretinoin
Oral - Antibiotik lain
Streroid sistemik
Komunikasi Informasi Edukasi, Perawatan kulit, Skin peeling, terapi laser dan
Ajuvan
cahaya, Kosmeseutikal (Papulex, Sunscreen)
Komunikasi Informasi Edukasi, Perawatan kulit, Asam retinoat < 0,01-
Rumatan
0,025%, Kosmeseutikal (Papulex)

Manajemen Akne Ringan


Penggunaan obat topikal pada terapi akne derajat ringan umumnya
ditujukan pada lesi dominan yang biasanya non inflamatorik: komedonal dan
papular. Kadang kala terjadi lesi campuran dengan pustul. Pada keadaan-keadaan
komedonal terapi lini pertama (1st line therapy) tetap asam retinoat, namun pada
keadaan adanya lesi pustular terapi lini pertama ditambah dengan benzoil
peroksida (BPO).1,6,11
Terapi lini kedua (2nd line therapy) pada akne derajat ringan baik yang
komedonal maupun yang kombinasi pustul adalah asam azelaik. Terapi lini ketiga
(3rd line therapy) pada akne komedonal maupun kombinasi adalah asam retinoat
+ BPO atau antibiotik (AB) topikal dengan pertimbangan meningkatkan
konsentrasi atau frekuensi aplikasi obat. Setiap perubahan dipikirkan setelah
terapi 6-8 minggu.1,6,11

Manajemen Akne Sedang


Prinsip terapi pada akne derajat sedang adalah memberikan terapi topikal
dan terapi oral. Terapi topikal lini pertama adalah tetap asam retinoat, BPO, dan
AB. Terapi lini kedua dan lini ketiga adalah asam azelaik, asam salisilat, dan
kortikosteroid (KS) intralesi. Terapi sistemik lini pertama adalah AB oral
doksisiklin. Terapi sistemik lini kedua dan ketiga adalah AB lain. Terapi sistemik
wanita hamil dan menyusui adalah eritromisin.1,6,12

Manajemen Akne Berat


Terapi pada akne derajat berat adalah obat topikal dan sistemik. Terapi lini
pertama topikal adalah AB topikal. Terapi lini kedua dan ketiga topikal adalah
asam azelaik, asam salisilat, dan KS intralesi. Terapi lini pertama, kedua dan
ketiga topikal pada wanita hamil atau menyusui adalah BPO.1,6
Obat sistemik yang diberikan pada lini pertama adalah AB (doksisiklin,
azitromisin, kuinolon) dosis tinggi ditambah dengan KS oral. Obat sistemik pada
lini kedua adalah isotretinoin oral pada pria dewasa dan hormon oral pada wanita.
Obat sistemik pada lini ketiga adalah isotretinoin oral pada wanita.. Obat sistemik
pada wanita hamil adalah eritromisin.1,6

Terapi Topikal Akne Vulgaris


Terapi topikal merupakan terapi lini pertama untuk tatalaksana akne
vulgaris dan merupakan bagian dari terapi rumatan.
1. Retinoid topikal
Retinoid memiliki kemampuan untuk mengikat dan mengaktivasi
reseptor asam retinoat (RAR) sehingga mengaktifkan transkripsi gen
spesifik. Retinoid efektif dalam menstimulasi deskuamasi normal dari epitel
folikel, sehingga akan mengurangi komedo dan menghambat pembentukan
lesi baru. Retinoid juga memiliki efek antiinflamasi dengan menghambat
aktivitas leukosit dalam mengeluarkan sitokin proinflamasi. Agen ini juga
membantu penetrasi agen aktif lainnya. Oleh karena itu, retinoid sebaiknya
diberikan hampir pada seluruh pasien akne dan menjadi pilihan untuk terapi
rumatan.3,6,13
Tretinoin memiliki efek komedolitik poten dan antiinflamasi.
Konsentrasi asam retinoat untuk pengobatan akne vulgaris ringan adalah
krim atau micronized gel tretinoin 0,01%-0,1% diberikan selama 8-12
minggu. Umumnya, seluruh retinoid dapat menjadi iritan dengan gel
berbasis alkohol dan solutio memiliki potensi iritasi terkuat. Tretinoin akan
inaktif bila digunakan bersamaan dengan benzoil peroksida dan tretinoin
juga merupakan agen yang fotolabil, dengan demikian tretinoin sebaiknya
digunakan pada malam hari agar dapat diterima tubuh lebih baik. Pasien
harus diperingatkan untuk mengurangi pajanan terhadap sinar matahari
karena obat ini akan menipiskan stratum korneum. Oleh karena itu,
penggunaan tabir surya perlu dianjurkan. Informasi mengenai tretinoin
topikal dapat dilihat pada Tabel 3.5,6,13
Selain tretinoin, retinoid sintetis lainnya yang juga tersedia dan
memiliki tolerabilitas yang tinggi adalah adapalene. Adapalene bekerja
spesifik terhadap reseptor RARAdapalene bersifat lebih stabil terhadap
cahaya sehingga dapat diberikan siang atau malam dan dapat digunakan
bersamaan dengan benzoil peroksida. Dosis adapalene yang
direkomendasikan adalah adapalene gel 0,1%.6,13

2. Benzoil peroksida
Benzoil peroksida merupakan antimikroba yang poten. Benzoil
peroksida mengurangi populasi bakteri dan juga akan menurunkan hidrolisis
dari trigliserid. Penggunaannya bersamaan dengan antibiotik topikal akan
mengurangi kejadian resistensi. Obat ini paling efektif untuk lesi
inflamatorik pada akne. Beberapa penelitian menyatakan terdapat efek
komedolitik dalam benzoil peroksida.5,6,13
Terapi biasanya satu atau dua kali sehari. Benzoil peroksida dapat
mengiritasi wajah dan membuat kulit mengelupas. Formula dengan basis air
menurunkan dampak iritasi dari agen ini. Preparat dalam sediaan gel
merupakan yang paling efektif. Pemakaian dikurangi menjadi sekali sehari
atau dua hari sekali juga dapat mengurasi dampak iritasi. Informasi
mengenai benzoil peroksida dapat dilihat pada Tabel 3.3,6
3. Asam salisilat
Asam salisilat tersedia dalam konsentrasi 0,5%-2%. Agen ini
mempunyai efek komedolitik, eksfoliasi ringan dari stratum korneum, dan
menurunkan kohesi dari keratinosit. Informasi mengenai asam salisilat dapat
dilihat pada Tabel 3.5,11

4. Antibiotik topikal
Eritromisin dan klindamisin merupakan antibiotik topikal yang paling
sering digunakan dalam pengobatan akne vulgaris ringan. Umumnya
antibiotik ini cukup efektif untuk pengobatan akne ringan-sedang.
Antibiotik ini sering dikombinasikan dengan benzoil peroksida untuk
mengurangi kejadian resistensi. Penggunaan bersamaan dengan retinoid
topikal akan mempercepat respon dan memungkinkan penghentian
antibiotik yang lebih cepat. Informasi mengenai eritromisin topikal serta
klindamisin topikal dapat dilihat pada Tabel 3.5,6,13

5. Asam azelaik
Asam dikarboksilat ini sangat aman dari efek samping dan memiliki
sedikit khasiat pada akne komedonal maupun akne dengan lesi inflamatorik.
Agen ini memiliki efek antimikroba dan komedolitik. Selain itu, agen ini
juga merupakan inhibitor kompetitif dari enzim tirosinase, sehingga dapat
mengurangi pigmentasi. Efek ini bermanfaat bagi pasien dengan
hiperpigmentasi paska inflamasi. Asam azelaik ini tersedia dalam sediaan
krim 20% atau gel 15%.5,6

6. Kortikosteroid intralesi
Kortikosteroid intralesi diberikan pada pasien akne vulgaris nodular.
Contoh kortikosteroid intralesi yang sering digunakan adalah triamsinolone
acetonide 10 mg/ml di dilusi dengan normal saline menjadi 2,5 mg/L atau
kortikosteroid injeksi 0,1 ml yang diinjeksikan ke pusat nodul untuk
mencegah atrofi dan hipopigmentasi.13

Tabel 3. Informasi Obat Topikal untuk Akne Vulgaris5


Dosis Efek samping Kontraindikasi
Asam 0,025%-0,1% dalam Kulit kering, mengelupas, Riwayat
retinoat krim atau gel, dioleskan rasa terbakar, kemerahan, hipersensitifitas
pada akne sekali sehari gatal, nyeri, sunburn, terhadap tretinoin
pada malam sebelum hiperpigmentasi, dan
tidur. Jauhkan dari mata, hipopigmentasi
mulut, lipatan hidung,
dan mukosa
Benzoil 2,5%, 5%, atau 10% Reaksi hipersensitifitas, Riwayat
peroksida dalam gel atau krim eritema yang berlebihan, hipersensitifitas
dan pengelupasan kulit terhadap benzoil
peroksida
Eritromisin Solutio atau gel 2% Superinfeksi Clostridium Riwayat
topikal dioleskan tipis pada area difficile hipersensitifitas
akne satu atau dua kali terhadap eritromisin
sehari
Klindamisin Gel klindamisin 1% Kolitis berat, dermatitis, Riwayat
topikal dioleskan tipis pada area folikulitis, reaksi hipersensitifitas
akne fotosensitifitas, gatal, terhadap klindamisin
kemerahan, kulit kering ata linomisin, riwayat
dan mengelupas enteritis regional atau
kolitis ulseratif,
riwayat kolitis yang
berhubungan dengan
antibiotik
Asam Gel atau krim asam Reaksi hipersensitifitas, Riwayat
salisilat salisilat 0,5%-2% satu keracunan salisilat, dan hipersensitifitas
sampai tiga kali sehari kemerahan yang terhadap asam salisilat
berlebihan

Terapi Oral Akne Vulgaris


1. Antibiotik
Pemberian antibiotik pada tatalaksana akne vulgaris diberikan pada
derajat sedang hingga berat, pasien dengan penyakit inflamasi yang tidak
memberikan respon terhadap obat topikal kombinasi, akne vulgaris di
dada, punggung, dan bahu. Antibiotik oral biasanya diberikan 6-8 minggu
disertai dengan pemberian retinoid topikal atau benzoil peroksida. 13

1. Tetrasiklin
Tetrasiklin merupakan antibiotik oral yang paling sering
digunakan pada tatalaksana akne vulgaris. Tetrasiklin oral
memiliki efek menurunkan kadar free fatty acid sehingga
menurunkan aktivitas metabolik P.acnes. Umumnya dosis
tetrasiklin yang diberikan adalah 500-1000 mg/hari dapat
dinaikkan hingga 3500 mg/hari untuk kasus acne vulgaris derajat
berat. Tetrasiklin tidak boleh diberikan pada pasien gagal ginjal,
hamil, dan anak berusia <9 tahun. Tetrasiklin memiliki efek
samping hepatotoksisitas dan menyebabkan pewarnaan kuning-
kecoklatan pada gigi dan menghambat pertumbuhan tulang pada
janin. 6,13
Derivat tetrasiklin yang paling sering digunakan adalah
minosiklin dan doksisiklin. Dosis doksisiklin yang dianjurkan
adalah 500-100 mg diberikan dua kali sehari, sedangkan dosis
minosiklin yang dianjurkan adalah 100-200 mg/ hari diberikan dua
kali sehari. Minosiklin digunakan bila terdapat resistensi terhadap
tetrasiklin. Minosiklin dapat menyebakan blue-black pigmentation
pada acne scar, palatum durum, dan alveolar ridge. 6,13
2. Makrolid
Makrolid yang diberikan pada penatalaksanaan acne vulgaris
adalah eritromisin dan azitromisin. Pemberian eritromisin hanya
diberikan pada wanita hamil dan anak-anak karena terdapat laporan
resistensi terhadap P.acnes. Azitromisin lebih sering diberikan
pada pengobatan akne vulgaris dengan dosis 250-500 mg diberikan
tiga kali dalam seminggu. 6
3. Trimethropin-Sulfametoksasol
Pemberian trimethropin-sulfametoksasol hanya diberikan
pada pasien akne vulgaris derajat berat yang tidak memberikan
respon terhadap antibiotik lainnya. Hal ini dipertimbangkan karena
efek samping yang ditimbulkan, yaitu rekasi hipersensitivitas kulit
seperti Stevens-Johnson Syndrome, Toxic Epidermal Necrolysis,
dan anemia aplastik. 6
4. Klindamisin dan Dapson
Dapson lebih sering diberikan pada akne vulgris derajat berat
dan akne vulgaris yang telah resisten. Dosis dapson yang diberikan
pada penatalaksanaan akne vulgaris adalah 50-100 mg/hari tiga kali
sehari selama 3 bulan. Pasien yang diberikan dapson dianjurkan
untuk memonitor fungsi hari dan kadar G6PD. Klindamisin oral
jarang diberikan karena berisiko menyebabkan colitis
pseudomembranosa, sehingga penggunaannya lebih sering dalam
bentuk topikal dan dikombinasikan dengan benzoil peroksida. 6,13

2. Isotretinoin
Penggunaan isotretinoin disarankan untuk penatalaksanaan akne
vulgrais nodular, resisten dengan antibiotik oral, akne yang menyebabkan
physical atau emotional scarring, dan akne fulminan. Isotretinoin akan
menginhibisi aktivitas kelenjar sebasea sehingga mempengaruhi aktivitas
pertumbuhan organisme. Selain itu isotretinoin memberikan efek anti
inflamasi dan keratinisasi. Dosis isotretinoin yang direkomendasikan
adalah 0,5-1 mg/kg/hari diberikan selama 20 minggu dan dosis dapat
ditingkatkan hingga 40-80 mg/hari. Pemberian isotretinoin tidak boleh
diberikan pada ibu hamil dan wanita yang sedang berusaha hamil karena
efek teratogenik pada janin. 6
3. Antiandrogen
Antiandrogen bekerja dengan cara memblok reseptor androgen dan
sebagai inhibitor 5α-reduktase. Antiandrogen yang diberikan pada
pengobatan akne vulgaris adalah spironolakton, cyproterone, dan
flutamide. Pemberian spironolakton pada tatalaksana akne vulgaris
terbukti mengurangi produksi sebum dan mengurangi akne. Dosis yang
dianjrkan adalah 50-100 mg diberikan saat malam hari. Pemberian
spironolakton harus hati-hati pada ibu yang mengandung anak laki-laki
karena dapat menyebabkan feminisasi. 6,13
Flutamid, yaitu androgen receptor blocker biasanya diberikan dalam
dosis 250 mg diberikan dua kali sehari dan dikombinasikan dengan
kontrasepsi oral pada hirsutisme. Pemberian flutamid harus dihindari pada
ibu hamil. 6

4. Steroid sistemik
Glukokortikoid sistemik dosis tinggi diberikan hanya pada pasien
akne vulgaris derajat berat dalam jangka waktu singkat. Pemberian steroid
sistemik dalam jangka panjang akan menyebabkan steroid acne. Steroid
yang dapat diberikan adalah deksametason dan prednison. Dosis
deksametason yang dianjurkan adalah 0,125-0,5 mg/hari diminum saat
malam hari akan mengurangi cystic acne. Prednison biasanya diberikan
pda cystic acne dan akne conglobata selama 1-2 bulan dan dikombinasikan
dengan isotretinoin. 6,13

Terapi Ajuvan dan Rumatan


Terapi ajuvan (tambahan) adalah terapi/perawatan tambahan bersamaan
dengan terapi utama terhadap akne dengan tujuan untuk mempercepat perbaikan
terapi atau memperbaiki kondisi kulit waktu pengobatan berlangsung.1,6
Jenis terapi ajuvan yaitu KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi), perawatan
kulit, bedah kimia (skin peeling), antioksidan oral (evidence masih rendah),
light/laser therapy, kortikosteroid oral jangka pendek, dan kosmesetikal
(Nicotinamide, ABA, Zinc PCA, dan sunscreen yang hipoalergenik dan non
komedogenik). Rekomendasi pemilihan terapi ajuvan adalah setelah inflamasi
berhasil dikontrol.1,6,14
Terapi rumatan adalah terapi yang diberikan setelah terapi utama dihentikan
karena sembuh dengan tujuan untuk mencegah kekambuhan. Jenis terapi rumatan
adalah KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi), perawatan kulit, asam retinoat
topikal konsentrasi rendah (0,01%, 0,025%) yang dinilai setiap 6 bulan untuk
diteruskan atau dihentikan, dan kosmesetikal (Nicotinamide, ABA, Zinc
PCA).1,6,14

Jenis terapi ajuvan dan rumatan:10,11,12,14


1. Perawatan kulit
Perawatan kulit meliputi membersihkan wajah secara lembut (gentle
cleanising). Penggunaan deterjen sintetik memungkinkan proses
pembersihan tanpa merubah pH normal kulit. Membersihkan wajah secara
kasar menggunakan scrub dapat memicu fase inflamasi dari akne. Abrasi
menyebabkan kerusakan folikel rambut dan berkaitan dengan penambahan
jumlah lesi. Membersihkan wajah berlebihan menggunakan sabun alkali
akan meningkatkan pH kulit sehingga merusak sawar lemak kulit dan
meningkatkan efek iritasi obat topikal yang digunakan.
Pengggunaan pelembab bermanfaat pada kulit kering atau kulit yang
mengalami iritasi akibat terapi topikal. Produk perawatan wajah dan
kosmetik yang digunakan pada akne vulgaris sebaiknya bersifat
nonkomegogenik. Perawatan kulit akan meminimalkan efek samping terapi
topikal pada akne vulgaris ringan dengan memperbaiki sawar kulit.
Kosmetik yang tepat akan memiliki efek sinergis dengan pengobatan akne
vulgaris ringan.
2. Ekstraksi komedo
Ekstraksi komedo penting dilakukan pada akne komedonal. Ekstraksi
komedo adalah tindakan mengeluarkan isi sumbatan folikel pilosebasea
dengan tekanan mekanik yang ringan menggunakan komedo ekstraktor.
Tindakan ini dapat memberikan perbaikan klinis cepat dan meningkatkan
kepuasan pasien. Ekstraksi komedo efektif untuk lesi superfisial, tidak untuk
kistik. Kekurangan dari tindakan ini adalah dapat menimbulkan kerusakan
jaringan dan kekambuhan masih relatif timbul.
Ekstraksi komedo dilakukan pada akne komedonal yang bertujuan
mencegah sumbatan, kolonisasi bakteri, inflamasi, dan memperbaiki
penampilan kulit wajah. Ekstraksi harus dilakukan dalam kondisi aseptik,
bisa dilakukan penguapan ringan untuk mempermudah ekstraksi dan hindari
penekanan yang keras saat ekspresi komedo. Eksfoliasi mekanik dengan
ekstraktor komedo dilakukan sebelum terapi topikal untuk mengurangi
hiperkeratosis. Aplikasikan antimikroba dan antiinflamasi setelah ekstraksi
komedo.
3. Peeling kimiawi
Peeling kimiawi menyebabkan deskuamasi sehingga mengurangi
kohesi korneosit dan sumbatan keratinosit. Agen peeling superfisial yang
banyak digunakan pada peeling yaitu asam glikolat dan asam salisilat.
Penelitian in vitro menunjukkan bahwa asam glikolat dapat menghambat
pertumbuhan P. acnes. Peeling asam salisilat diganakan dalam konsetrasi
20%-30% menyebabkan keratolisis. Solusio Jessner juga digunakan pada
peeling akne yang menyebabkan keratolisis melalui penurunan kohesi
korneosit. Berdasarkan penelitian di Jepang melaporkan bahwa peeling
kimiawi mengurangi jumlah komedo hingga 35%. Peeling dilakukan mulai
dari konsentrasi rendah kemudian dinaikkan secara bertahap dengan interval
2-4 minggu.
4. Terapi laser dan cahaya
Terapi ini menawarkan kelebihan apabila digunakan sebagai terapi
ajuvan terutama untuk pasien yang menolak atau tidak dapat mentoleransi
pemakaian obat-obatan topikal. Secara umum terapi berbasis cahaya
memiliki beberapa target terapi primer:
- Mengurangi jumlah P. acnes
- Memperbaiki gangguan fungsi glandula sebasea
- Efek antiinflamasi melalui hambatan sitokin rpoinflamasi
Terdapat berbagai laser dan cahaya yang digunakan yaitu sinar tampak,
spesific narrowband light, intense pulse light (IPL), KTP laser, dan pulsed
dye laser (PDL).
5. Bahan yang mengandung Niasiamid, Antibacterial Adhesive, dan Zinc
Pyrolidon acid (Zinc PCA)(Papulex®)
Zink adalah elemen mineral yang penting untuk berbagai proses
fisiologis dan modulator pada proses penyembuhan luka. Pada pengobatan
akne vulgaris, zink berperan sebagai antiinflamasi dan antioksidan. Zink
dapat menurunkan produksi sebum melalui sistem enzim dalam sintesis
androgen. Zink juga menurunkan mediator inflamasi dan mempunyai efek
anti P. acnes. Zink berperan sebagai regulator yang mengontrol aktivitas
bakterisidal dan fagositosis, serta meningkatkan kecepatan kemotaksis
neutrofil. Zink terbukti bermanfaat pada akne inflamasi dan menekan IGF-1
yang menstimulasi proliferasi keratinosit. Kombinasi terapi akne dengan
zink meningkatkan efek antibakteri dan mengurangi risiko resistensi.
Nikotinamid dikenal juga sebagai niasinamid, niasin, atau vitamin B3.
Nikotinamid topikal dan oral mempunyai potensi sebagai agen
antiinflamasi. Nikotamid gel 4% memiliki efek anti inflamasi dan tidak
menyebabkan resistensi terhadap P. acnes. Nikotinamid dapat menghambat:
- Ekspresi ICAM-1 dan MHC-II dan produksi IL-1, IL-1, IL-6, IL-8, TNF-
α, dan macrophage inhibiting factor (MIF).
- Pelepasan protease dari leukosit dan transformasi limfosit.
- Permeabilitas vaskular dan akumulasi sel inflamasi
- Kerusakan DNA sel.
Antibacterial adhesive (ABA) mencegah perlekatan P. acnes pada
korneosit, tetapi tidak membunuh bakteri tersebut.

EVALUASI HASIL TERAPI


Untuk evaluasi terapi praktis menurut Samuelson & Cook1
1. Bagus sekali Excellent <3 tingkat
2. Bagus Good <2 tingkat
3. Sedang Moderate <1 tingkat
4. Buruk Poor -/> buruk
Untuk evaluasi terapi penelitian1
1. Bagus sekali Excellent <75-100%
2. Bagus Good <50-74%
3. Sedang Moderate <25%
4. Buruk Poor 0 atau >
SKAR PASCA AKNE (SPA)
Skar pasca akne adalah parut (scar) yang terjadi setelah lesi akne sembuh.
Jenis SPA adalah: Atrofik (ice pick, rolling, box car), hipertrofik, dan keloid.1
Jenis terapi untuk SPA atrofik adalah:1
1. Minimal invasive: Chemical peeling, mikrodermabrasi, laser dan IPL, non
ablative dan ablative laser, filler, kombinasi dengan asam retinoat.
2. Invasif: Eksisi elips (rolling besar), punch excision (ice pick), punch
elevation (box car), dermal graft (parut luas), subcision (rolling).
Jenis terapi untuk SPA hipertrofik dan keloid:1
1. KS topikal (hipertrofik)
2. Injeksi triamcinolone acetonide (TA) intralesi (keloid)
3. Cryosurgery
4. Injeksi 5FU intralesi
5. Laser pulse dye 6. Eksisi + KIL (kortikosteroid intra lesi)

HIPERPIGMENTASI PASCA AKNE


HPA adalah hipermelanosis didapat yang terjadi sesudah peradangan kulit
atau luka, (HPI) dalam hal ini setelah lesi akne sembuh. Jenis HPA adalah yang
epidermal dan yang letaknya di dermal.1
Jenis terapi untuk HPA adalah obat topikal dan terapi prosedural minimal
invasif pada lesi HPI. Tidak ada rekomendasi pilihan terapi awal, kedua dan
seterusnya. Obat topikal: retinoid topikal, hydroquinone, asam kojik, asam
azelaik, arbutin, mequinol, soy, niacinamide, asam askorbat, glabridin, N-acetyl
glucosamine, asam tranexamat, formula Kligman, kamuflase kosmetik, sunblock
kosmetik. Terapi prosedural: Chemical peeling, laser dan light therapy,
mikrodermabrasi, dermabrasi.1
RINGKASAN
Akne adalah penyakit berupa peradangan kronis folikel pilosebasea yang
ditandai dengan adanya lesi polimorfik berupa komedo, papul, pustul, nodus, serta
kista di tempat predileksi. Akne dikatakan ringan apabila ditemukan komedo <20
atau lesi inflamasi <15, atau total lesi <30. Akne derajat sedang apabila terdapat
komedo 20-100, atau lesi inflamasi 15-50, atau kista <5, atau lesi total 30-125.
Akne berat apabila terdapat komedo >100, atau lesi inflamasi >50, atau kista >5,
atau total lesi >125. Tatalaksana akne vulgaris tergantung dari derajatnya, obat
lini pertama untuk derajat ringan adalah asam retinoat, asam salisilat, BPO tanpa
obat oral. Pada derajat sedang dan berat ditambahkan antibiotik topikal dan oral
sebagai terapi lini pertama. Selanjutnya terdapat juga terapi ajuvan dan terapi
rumatan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Wasistaatmadja SM, Irma B, Marlyn GK, et al. Pedoman Tatalaksana Akne


di Indonesia. Jakarta: Kelompok Studi Dermatologi Kosmetik Indonesia
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia; 2015.
2. Bernadette I, Sitohang S, Sjarif MW. Akne Vulgaris. Dalam: Menaldi SL,
Kusmarinah B, Wresti I. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin 7 th ed. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2016. p. 288-91
3. James WD, Timothy GB, Dirk ME. Andrews' Diseases of The Skin: Clinical
Dermatology 10th ed. Philadelphia: Elsevier; 2008. p. 231-35
4. Widawaty S, et al. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Spesialis Kulit dan
Kelamin di Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan
Kelamin Indonesia; 2017. p. 248-54
5. Zaenglein et al. Guidelines for Acne Care and Management. J Am Acad
Dermatol; 2016: 74(5). p. 945-973
6. Zaenglein AL, Emmy MG, Diane MT, John SS. Acne Vulgaris and
Acneiform Eruptions. Dalam: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest
BA, Paller AS, Leffell DJ (eds). Fitzpatrick’s Dermatology in General
Medicine 8th ed. McGraw-Hill: New York; 2012. p. 897-911
7. Webster GF. Acne and Its Therapy. New York: Informa Health Care; 2007. p.
37-40
8. Habif TP. Clinical Dermatology 6th ed. Philadelphia: Elsevier; 2016. p 218-22
9. Kartowigno S. Sepuluh Besar Kelompok Penyakit Kulit 2nd ed. Palembang:
Unsri Press; 2012. p. 121-27
10. Layton AM, Eady EA, Christos CZ. Disorders of the Sebaceous Glands.
Dalam: Griffiths, Christopher EM, Jonathan B, Tanya B, Robert C, Daniel C
(eds). Rook’s Textbook of Dermatology 9th ed. Leichester: Willey-Blackwell;
2016. p 90.41-90.50
11. Praharsini IGA. Tatalaksana Akne Ringan. Dalam: Wasitaatmadja SM. Akne.
Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2018. p.
107-14
12. Tantari. Terapi Akne Derajat Sedang. Dalam Wasitaatmadja, SM. Akne.
Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2018. p.
128-30
13. James, WD, Berger, TG, Elston DM, Neuhaus, IM. Andrew’s Diseases of the
Skin Clinical Dermatology Twelfth Edition. Elsevier; 2011. p. 232-227
14. Legiawati, L. Terapi Rumatan dan Ajuvan pada Akne Vulgaris. Dalam:
Wasitaatmadja SM. Akne. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2018. p. 145-50 (13)