Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH KIMIA FISIKA II

PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II

PERANAN LINGKUNGAN TERHADAP KOROSI

Prodi : Pendidikan Kimia

Kelompok :4

Anggota : 1. Dona Sofia Rahayu

2. Kinten Nafa Aulia

3. Retta Austina

4. Trie Novia

5. Viola Dwicha Asda

6. Wilda Putri Waer

Dosen : 1. Dr Hardeli, M.Si

2. Fajriah Azra, S.Pd, M.Si

Asisten dosen : 1.

2.

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2019

i
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobil’alamin, puji beserta syukur kehadiran Allah


SWT yang telah memberikan kekuatan dan kelancaran sehingga penulis
bisa menyelesaikan makalah ini sesuai sengan waktu yang telah
direncanakan. Tersusunnya makalah ini tidak lepas dari dukungan
berbagai pihak yang telah memberi dorongan dan motivasi kepada penulis.
Baik secara langsung maupun tidak langsung, baik secara moril maupun
materil. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :

Terimakasih kepada dosen beserta asisten dosen yang telah


meluangkan waktu dan tenaga untuk membimbing penulis dalam proses
pembuatan makalah ini dari awal sampai akhir. Kedua orang tua yang
senantiasa memberi semangat dan mendampingi penulis dalam proses
pembuatan makalah ini. Sahabat dan teman yang telah membantu dan
meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu penulis dalam pembuatan
makalah ini, baik itu membantu mengoreksi maupun dalam pencarian
buku sumber.

Selanjutnya penulis menyadari bahwa pembuatan makalah ini masih


jauh dari kesempurnaan seperti kata pepatah tak ada gading yang tak retak.
Oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik, saran dan evaluasi dari
pembaca, agar kedepannya bisa lebih baik lagi. Dengan penulisan makalah
ini diharapkan memberi manfaat terutama kepada penulis sendiri dan
bagi para pembaca tentunya.

Padang, Mei 2019

Penulis

i
DAFTAR ISIY

Table of Contents
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang.................................................................................................1
B. Rumusan Masalah............................................................................................3
C. Tujuan Penulisan.............................................................................................3
D. Manfaat Penuliasan.........................................................................................3
BAB II KAJIAN PUSTAKA...................................................................................5
BAB III METODE PENELITIAN.......................................................................11
A. Alat dan Bahan..............................................................................................11
B. Prosedur penelitian........................................................................................11
BAB IV PEMBAHASAN.....................................................................................13
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................26
A. Simpulan.....................................................................................................26
B. Saran............................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................27

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Korosi dalam istilah sehari-hari kita kenal sebagai peristiwa perkaratan.


Korosi ini sebenarnya merupakan peristiwa oksidasi logam oleh gas oksigen
yang ada di udara membentuk oksidanya. Proses korosi banyak menimbulkan
masalah pada barang-barang yang terbuat dari besi walaupun logam-logam lain
(kecuali logam mulia) dapat juga mengalami korosi. Jadi jelas korosi dikenal
sangat merugikan.

Korosi merupakan sistem termodinamika logam dengan lingkungannya,


yang berusaha untuk mencapai kesetimbangan. Sistem ini dikatakan setimbang
bila logam telah membentuk oksida atau senyawa kimia lain yang lebih stabil.
Pencegahan korosi merupakan salah satu masalah penting dalam ilmu
pengetahuan dan teknologi modern.

Besi adalah salah satu dari banyak jenis logam yang penggunaannya
sangat luas dalam kehidupan sehari-hari. Namun kekurangan dari besi ini
adalah sifatnya yang sangat mudah mengalami korosi. Padahal besi yang telah
mengalami korosi akan kehilangan nilai jual dan fungsi komersialnya. Ini tentu
saja akan merugikan sekaligus membahayakan. Berdasarkan dari asumsi
tersebut, percobaan ini difokuskan dalam upaya pencegahan terjadinya
peristiwa korosi ini khususnya pada besi..

Proses perkaratan pada besi dapat berlanjut terus sampai seluruh bagian
dari besi hancur. Hal ini disebabkan oksida-oksida besi yang terbentuk pada
peristiwa awal korosi akan menjadi katalis (otokatalis) pada peristiwa korosi
selanjutnya.

1
2

B. Rumusan Masalah

Bagaimana peranan lingkungan sekitar dalam proses korosi?

C. Tujuan Penulisan

Untuk menunjukkan peranan lingkungan sekitar dalam proses


korosi

F. Manfaat Penuliasan

Dengan dilakukannya penelitian ini, maka diharapkan akan diperoleh manfaat
sebagai berikut :

1. dapat mengetahui sifat dari berbagai bahan terhadap besi.

2. dapat menambah informasi mengenai korosi (karat).


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Korosi adalah proses suatu logam mengalami reaksi oksidasi di udara


bebas. Korosi juga merupakan reaksi redoks antara logam dengan zat yang ada di
sekitarnya dan menghasilkan senyawa yang tidak dikehendaki. Senyawa tersebut
biasanya berupa oksida logam atau logam karbonat Dalam bahasa sehari-hari,
korosi disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan
besi.

Sebagian orang mengartikan korosi sebagai karat, yakni sesuatu yang


hampir dianggap sebagai musuh umum masyarakat. Karat (rust) adalah sebutan
yang belakangan ini hanya dikhususkan bagi korosi pada besi, padahal korosi
merupakan gejala destruktif yang mempengaruhi hampir semua logam.Walaupun
besi bukan logamp ertama yang dimanfaatkan oleh manusia, tidak perlu diingkari
bahwa logam itu paling banyak digunakan, dan karena itu, paling awal
menimbulkan masalah korosi serius. Karena itu tidak mengherankan bila istilah
korosi dan karat hampir dianggap sinonim (Chamberlain, 1991).

Korosi merupakan proses perubahan logam menjadi


senyawa, terutama terjadi dalam lingkungan yang mengandung
air, atau peristiwa teroksidasinya suatu logam oleh gas oksigen
di udara. Salah satu contoh korosi adalah yang terjadi pada besi,
atau biasa disebut dengan karat. Besi yang mengalami korosi
membentuk karat dengan rumus Fe2O3.XH2O. Pada proses
pengamatan, besi (Fe) bertindak sebagai preduksi dan Oksigen
(O2) yang terlarut dalam air bertindak sebagai pengoksidasi.
Persamaan reaksi pembentukan karat :

Anode : Fe2+ + 2e→ Fe

Katode : 2H2O → O2 + 4H+ + 4e

3
4

Karat disebut sebagai autokatalis karena karat yang terjadi


pada logam akan mempercepat proses pengaratan
berikutnya.korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat
reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di
lingkungannya yang menghasilkan senyawasenyawa yang tidak
dikehendaki. Dalam bahasa seharihari, korosi disebut
perkaratan. Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan
besi.

Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi,


sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi. Karat logam
umumnya berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi
adalah Fe2O3. nH2O, suatu zat padat yang berwarna
coklatmerah. Korosi merupakan proses elektro kimia.Pada korosi
besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku sebagai anode, dimana
besi mengalami oksidasi (Trethewey, K.R, 1991).

Korosi merupakan proses


degradasi,deterorisasi,pengerusakan materil yang  di sebabkan
oleh pengaruh lingkungan sekelilingnya.Adapun prosesnya yakni
merupakan reaksi redoks antara satu logam dengan berbagai zat
di sekelilingnya tersebut.Dalam bahasa sehari-hari korosi di
sebut dengan perkaratan.Kata korosi berasal dari bahasa latin
“Corrodere” yang artinya  pengrusakan logam atau
perkaratan.jadi jelas korosi di kenal sangat merugikan. Korosi
merupakan sistem termodinamika logam dengan
lingkungannya,yang berusaha untuk mencapai
kesetimbangan.Sistem ini di katakan setimbang bila logam telah
membentuk oksida atau senyawa kimia lain yang lebih stabil.
Pencegahan korosi merupakan salah satu dari banyak jenis
logam yang penggunaanya sangat luas dalam kehidupan sehari-
5

hari.Namun kekurangan dari besi adalah sifatnya yang sangat


mudah mengalami korosi.Padahal besi yang telah mengalami
korosi akan kehilangan nilai jual ada fungsi komersialnya.Ini
tentu saja akan merugikan sekaligus
membahayakan.Berdasarkan dari asumsi tersebut ,percobaan ini
di fokuskan dalam upaya pencegahan terjadinya peristiwa korosi
ini khususnya pada besi. Selain itu pada  percobaan ini akan di
ketahui logam-logam apa sajakah yang dapat menghambat
terjadinya korosi sesuai dengan sifat-sifat  kimia nya (Keenan,
Charles W, 1984).

Besi merupakan logam yang menempati urutan kedua dari


logam-logam yang umum terdapat pada kerak bumi . Besi cukup
reaktif, besi bila di biarkan di udara terbuka untuk  beberapa
lama mengalami perubahan warna yang lazim di sebut
perkaratan besi. Proses perubahan besi menjadi besi berkarat
merupakan reaksi redoks yag melihat oksigen. Korosi merupakan
proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi
itu berlaku sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi.
Fe(s)<--> Fe2+(aq) + 2e
Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain
dari besi itu yang bertindak sebagai katode, di mana oksigen
tereduksi.
O2(g) + 4H+(aq) + 4e <--> 2H2O(l)
atau
O2(g) + 2H2O(l) + 4e <--> 4OH-(aq)
Ion besi(II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi
membentuk ion besi(III) yang kemudian membentuk senyawa
oksida terhidrasi, yaitu karat besi. Mengenai bagian mana dari
besi itu yang bertindak sebagai anode dan bagian mana yang
bertindak sebagai katode, bergantung pada berbagai faktor,
6

misalnya zat pengotor, atau perbedaan rapatan logam itu


(Svehla,G. 1990).
Besi yang murni adalah logam yang berwarna putih perak
yang kukuh dan liat. Ia melebur pada suhu 1535 oC. Jarang
terdapat besi komersial yang murni, biasanya besi mengandung
sejumlah kecil karbida, silsida, fosfida, dan sulfida dari besi, serta
sedikit grafit. Zat-zat pencemar ini memainkan peranan penting
dalam kekuatan struktur besi. Berbeda dengan tembaga,
tembaga adalah logam merah muda, yang lunak, dapat ditempa,
dan liat. Melebur pada 1038o+C. Karena potensial elektroda
standarnya positif, ia tidak larut dalam asam klorida dan asam
sulfat encer, meskipun dengan adanya oksigen ia bisa larut
sedikit.

Deret Volta dan hukum Nernst akan membantu untuk


dapat mengetahui kemungkinan terjadinya korosi. Kecepatan
korosi sangat tergantung pada banyak faktor, seperti ada atau
tidaknya lapisan oksida, karena lapisan oksida dapat
menghalangi beda potensial terhadap elektrode lainnya yang
akan sangat berbeda bila masih bersih dari oksida (Sukardjo,
2002).

Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan


menjadi dua, yaitu yang berasal dari bahan itu sendiri dan dari
lingkungan. Faktor dari bahan meliputi kemurnian bahan,
struktur bahan, bentuk kristal, unsurunsur kelumit yang ada
dalam bahan, teknik pencampuran bahan dan sebagainya. Faktor
dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran udara, suhu,
kelembaban, keberadaan zatzat kimia yang bersifat korosif dan
sebagainya. Bahanbahan korosif (yang dapat menyebabkan
korosi) terdiri atas asam, basa serta garam, baik dalam bentuk
7

senyawa maupun anorganik. Penguapan dan pelepasan


bahanbahan korosif keudara dapat mempercepat proses korosi.
Udara dalam ruangan yang terlalu asam atau basa dapat
mepercepat proses korosi peralatan elektronik yang ada dalam
ruangan tersebut. Flour, hidrogen fluorida beserta
senyawaansenyawaannya dikenal sebagai bahan korosif. Dalam
industri, bahan ini umumnya dipakai untuk sintesa bahanbahan
organik. Amoniak (NH3) merupakan bahan kimia yang cukup
banyak digunakan dalam kegiatan industri. Pada suhu dan
tekanan normal, bahan ini berada dalam bentuk gas dan sangat
mudah terlepas ke udara (Oxtoby, D.W. Gilis,H, 1999).

Dampak korosi

Dampak yang ditimbulkan korosi dapat berupa kerugian


langsung dan kerugian tidak langsung. Kerugian langsung adalah
berupa terjadinya kerusakan pada peralatan, permesinan atau
stuktur bangunan. Sedangkan kerugian tidak langsung berupa
terhentinya aktifitas produksi karena terjadinya penggantian
peralatan yang rusak akibat korosi, kehilangan produk akibat
adanya kerusakan pada kontainer, tangki bahan bakar atau
jaringan pipa air bersih atau minyak mentah, terakumulasinya
produk korosi pada alat penukar panas dan jaringan
pemipaannya akan menurunkan efisiensi perpindahan panas,
dan lain sebagainya. Berdasarkan kondisi lingkungannya, korosi
dapat diklasifikasikan sebagai korosi basah yaitu korosi yang
terjadi dilingkungan air, korosi atmosferik yang terjadi di udara
terbuka dan korosi temperatur tinggi yaitu korosi yang terjadi
dilingkungan bertemperatur diatas 500oC (Akhadi, Muklis, 2002).
8

Mencegah terjadinya korosi

Prinsip sederhananya adalah ”menutup” jalan masuk dan


kontak antara permukaan besi dengan air dan udara. Korosi besi
memerlukan oksigen dan air. Kemudian, kita ketahui bahwa
berbagai jenis logam dapat melindungi besi terhadap korosi.
Cara-cara pencegahan korosi besi yang akan dibahas berikut ini
didasarkan pada dua sifat tersebut.

1. Mengecat

Jembatan, pagar dan railing biasanya dicat. Cat menghindarkan


kontak besi dengan udara dan air.

2. Melumuri dengan oli atau gemuk

Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas dan mesin. Oli dan
gemuk mencegah kontak besi dengan air.

3. Dibalut dengan plastic

Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan keranjang


sepeda dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak besi
dengan udara dan air.

4. Tin plating

Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi yang dilapisi dengan


timah. Tin planting mencegah kontak besi dengan udara dan air.

5. Galvanisasi
9

Besi terlindung dan zink yang mengalami oksidasi.

6. Cromium planting

( Aris,Tris, 2009 ).

Daftra Pustaka
10

Akhadi, Muklis. 2002. Ahli peneliti Muda Bidang Fisika dibidang

Tenaga Nuklir Indonesia. Jakarta : Migas Indonesia.

Aris, Tris, dan Antonio Gomes. 2009. Bahan Konstruksi Alat

Proses dan Korosi. Malang : ITM.

Chamberlain J., TretheweyKR.. 1991. Korosi (Untuk Mahasiswa dan Rekayasawan).

Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Keenan, Charles W.1984. Kimia untuk Universitas .Jakarta : Erlangga.

Oxtoby, D.W. Gilis,H. 1999. Kimia Modern. Jakarta : Erlangga.

Sukardjo.2002. Kimia Fisika. Bandung : Ganeca Exact

Svehla,G. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro

dan Semi Makro.

Jakarta : Kalman Media Pustaka.

Trethewey, K.R. 1991. Korosi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama


11
12

Anda mungkin juga menyukai