Anda di halaman 1dari 28

TUGAS KELOMPOK MATA

PEDIATRIC OPHTHALMOLOGY

Kelompok 7:

ASRI MAULANI 20160811014001

ISAK KASE WAICANG 20160811014002

ADVENIA MERRY BINSYOWI KAPISA 20160811014003

EMANUEL ADVENIA T. BAGA 20160811014005

MELINDA ANASTASYA IRENE BELLA 20160811014006

VITALIA SARUNI RUMKOREM 20160811014008

RUTH CITRA IRIANI PUTRI RAMANDEI 20160811014009

TERLINCE PAHABOL 20160811014010

Dosen Pengampu :
dr. Livia, Sp.M

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2020
SOAL

1. Bagaimana cara menilai visus/tajam penglihatan pada bayi dan anak?


2. Peralatan dan bahan apa saja yang perlu disiapkan/digunakan untuk
pemeriksaan visus pada bayi dan anak?
3. Apa perbedaan pemeriksaan visus pada bayi/anak dan orang dewasa?
4. Secara anatomis hal-hal apa saja yang dinilai saat pemeriksaan mata pada bayi
dan anak?
5. Kelainan apa saja yang menyebabkan timbulnya leukokoria pada bayi dan
anak?
6. Apa saja factor resiko terjadinya retinopati prematuritas?
7. Bagaimana tatalaksana katarak pada bayi/anak?
8. Jelaskan apa yang anda ketahui mengenai retinoblastoma?
9. Bagaimana cara pemeriksaan “red reflex test” dan interpretasinya?
10. Apa yang dimaksud dengan “congenital rubella syndrome”?

JAWAB

1. Bagaimana cara menilai visus/tajam penglihatan pada bayi dan anak?

Tajam penglihatan merupakan indikator primer kesehatan mata dan


sistem visual. Tajam penglihatan didefinisikan sebagai kemampuan seseorang
untuk melihat suatu objek. Pemeriksaan tajam penglihatan pada anak-anak
memerlukan teknik, metode tertentu, dan tergantung kondisi pasien.
Pemeriksaan refraksi yang dilakukan pada anak-anak dengan menggunakan
siklopegik. Pemeriksaan tajam penglihatan anak pada usia preverbal (kurang
dari 2,5 tahun) yaitu dapat dilakukan dengan observasi, fiksasi, oftalmoskopi,
refleks pupil, optokinetic nystagmus test (OKN), the prefential looking test,
dan visual evoked potential (VEP). Sedangkan pemeriksaan tajam penglihatan
pada anak usia verbal (lebih dari 2,5 tahun) yaitu dengan menggunakan
optotype seperti Allen card, HOTV card, LEA symbol, E chart, dan Snellen
chart. Refraksi siklopegik merupakan gold standard pemeriksaan refraksi pada
anak karena dapat mencegah akomodasi sehingga dapat menghindari
terjadinya kesalahan hasil pemeriksaan refraksi pada anak. Kesimpulan:
Pemeriksaan tajam penglihatan pada anak dapat dibedakan berdasarkan usia
yaitu preverbal dan verbal. Refraksi siklopegik merupakan gold standard
pemeriksaan refraksi pada anak.
1. Observasi
Pada metode ini kita dapat mengamati apakah anak tampak melihat
atau peduli terhadap lingkungan sekitarnya? Apakah anak respon terhadap
lingkungan sosial seperti mengenali wajah pemeriksa atau anggota
keluarganya.? Apakah anak melihat jari tangan dan kakinya sendiri? Adanya
pengenalan dan perhatian anak menunjukkan tajam penglihatannya baik.
Metode ini sulit dinilai pada anak yang keterbelakangan mental, karena
mungkin anak tersebut melihat, tetapi tidak respon terhadap sekitar.
2. Fiksasi dan mengikuti benda
Pada teknik ini kita lihat apakah anak tetap terfiksasi pada objek yang
menarik. Apakah anak mengikuti objek yang menarik tersebut. Respon anak
mengikuti objek ini biasanya didapatkan pada 1 atau 2 bulan kehidupan dan
ini membuktikan bahwa visus anak baik. Untuk melihat fiksasi pada mata
anak juga dapat digunakan metode CSM. Metode ini dapat digunakan pada
anak yang belum dapat berbicara.
C : Sentral. Lokasi reflek kornea pada saat pasien berfiksasai dengan cahaya
senter dengan 1 mata ditutup (monokuler). Normal reflek kornea ada pada
sentral kornea. Jika eksentrik disebut dengan uncentral (UC).
S : Steadines. Artinya tetap. Fiksasi pada senter saat digerakan dan diam
(monokuler). Jika tidak tetap disebut unsteady (US).
M : Maintain Aligment. Kemampuan pasien untuk mempertahankan kelurusan
mata dengan cara satu mata ditutup kemudian dibuka. Jika tidak mampu
mempertahankan disebut Unmaintain (UM).
3. Oftalmoskopi
Oftalmoskopi langsung atau pun tidak langsung dipakai untuk
mengetahui keadaan media mata dan mempelajari karakteristik fisik dari
retina dan nervus optikus. Terdapatnya media yang jernih dan retina yang utuh
dengan nervus optikus yang yang normal dapat menunjukan bahwa tajam
penglihatan baik.

4. Reflek Pupil
terhadap cahaya menunjukkan bahwa jalur aferen dan eferen reflek pupil
baik. Cara sederhana yang dipakai untuk memeriksa reflek ini dapat digunakan untuk
menilai keadaan saraf penglihatan bagian depan. Tapi respon normal dari
pemeriksaan ini belum mengindikasikan bahwa pasien dapat melihat, hanya
menunjukan penyampaian sinyal ke korteks. Jika cahaya senter pada satu mata
menyebabkan konstriksi pada kedua pupil berarti retina, nervus optikus, traktus
optikus berfungsi baik.
5. Optokinetic Nystagmus Test (OKN)
Optokinetic Nystagmus Test merupakan sebuah silinder yang dapat berputar
pada sumbunya dan pada dindingnya terdapat garis-garis tegak yang mempunyai
ketebalan tertentu, Tes ini sangat berguna untuk mengetahui fungsi penglihatan pada
anak. Dengan memutar alat ini di depan mata anak akan terlihat nistagmus pada mata
anak tersebut yang gerakannya berlawanan dengan arah perputaran slinder. Semakin
halus garis yang terdapat pada tabung slinder yang memberikan respon nistagmus
maka semakin baik pula visus bayi yang diperiksa.

Gambar 1. Optokinetic Nystagmus Test

6. Prefential Looking Test


Preferential looking test menilai ketajaman penglihatan dengan mengamati
respon anak terhadap stimulus visual. Pemeriksaan ini cukup detail untuk menilai
tajam penglihatan pada bayi dan anak yang belum bisa bicara. Preferential looking
test dapat dilakukan dengan menggunakan Teller Acuity Card II dan Cardiff Acuity
Test. Pada pemeriksaan visus dengan teller acuity test, jarak pemeriksaan ditentukan
berdasarkan usia anak. Pada bayi usia 0-6 bulan pemeriksaan dilakukan pada jarak 38
cm, pada anak usia 7 bulan hingga 3 tahun pemeriksaan dilakukan pada jarak 55 cm.
Gambar 2. Prefential looking test.

Pada anak dengan usia lebih dari 3 tahun pemeriksaan pada jarak 84 cm dan
pada anak dengan tajam penglihatan yang lebih buruk pemeriksaan dilakukan pada
jarak yang lebih dekat 9.5 cm dan 19 cm. Sebelum memulai pemeriksaan,
pemeriksaan harus memastikan jarak mana yang digunakan dan kemudian tajam
penglihatan dinilai dengan menggunakan tabel konversi visus berdasarkan pada level
kartu yang bisa dilihat (dalam cy/cm) dengan jarak pemeriksaan.
7. VEP
Tes Visual Evoked Potential (VEP) merupakan pemeriksaan kualitatif dari
pemeriksaan tajam penglihatan. Tes ini digunakan untuk melihat ada atau
tidaknya kebutaan korteks. Alat ini berupa elektroensefalogram (EEG) yang
diambil dari lobus oksipital. Elektroda primer ditempelkan di atas lobus
oksipital. VER ditentukan dengan menstimulasi mata dengan cahaya terang,
dengan mengunakan suatu alat perekam aktivitas listrik otak lewat stimulasi
cahaya pada retina. Pemeriksaan ini lebih bermanfaat pada anak dengan
retardasi mental.
Sedangkan pemeriksaan tajam penglihatan pada anak usia verbal yaitu
dengan menggunakan optotype seperti Allen card, HOTV card, LEA symbol, E
chart, dan Snellen char

1. Allen Card
Allen Card berupa gambar yang sudah dikenal oleh anak-anak misalnya
gambar mobil, pohon natal, boneka beruang, telepon dan kue ulang tahun. Allen card
digunakan pada usia anak 2,5 tahun. Pemeriksaan dilakukan dengan jarak 3 meter.
Gambar 3. Allen card.
2. The Stycard Test (HOTV card)
Pada pemeriksaan ini digunakan satu set simbol dengan ukuran yang
bertingkat, dan satu set simbol yang masing-masing bertuliskan Huruf H,O,T,V
sebagai interpretasi dengan meminta anak menunjukan huruf yang sama dengan yang
ditunjuk oleh pemeriksa. HOTV card digunakan pada usia anak 30-54 bulan.
Pemeriksaan dilakukan dengan jarak 3 meter.

Gambar 4. HOTV card.


3. LEA symbol
Lea symbol terdiri atas 4 buah gambar yaitu apel, rumah, lingkaran, dan
persegi empat. LEA symbol digunakan pada anak usia 3-3,5 tahun. Anak diminta
untuk mengenal masing-masing gambar kemudian anak menunjukkan gambar yang
ada. Nilai berapa visus anak sesuai dengan angka yang berada di samping LEA
symbol.

Gambar 5. LEA symbol


4. E chart
Pemeriksaan dengan metode ini hampir sama dengan pemeriksaan kartu snellen,
bedanya pemeriksan ini hanya menggunakan satu huruf “E” dengan berbagai ukuran
dan posisi. Tanyakan kepada anak kemana arah dari kaki Huruf ‘E’ apakah ke
bawah,ke atas, ke kiri atau ke kanan. E chart dapat digunakan pada usia di atas 4
tahun.

2. Peralatan dan bahan apa saja yang perlu disiapkan/digunakan untuk


pemeriksaan visus pada bayi dan anak?

Alat yang digunakan untuk pemeriksaan tajam terbagi antara peralatan


manual berupa berbagai jenis bagan, baik untuk penglihatan jarak jauh
maupun penglihatan jarak dekat, serta peralatan otomatis berupa
autorefraktometer.

Peralatan Manual untuk Tajam Penglihatan Jarak Jauh Untuk Anak ( < 5
tahun)

1. Allen picture cards memiliki gambar yang mudah dikenal oleh anak-anak
dan ditempatkan pada jarak 6 meter. Prinsip penggunaan hampir sama
dengan Snellen chart namun dibuat dalam bentuk gambar. Pada beberapa
kondisi yang menjadi kendala adalah terdapat beberapa anak yang tidak
mengenal obyek tersebut dan hal tersebut bukan karena pandangan yang
terganggu namun dicurigai adanya kesulitan untuk mengenal benda atau
obyek

2. Dot visual acuity test secara umum dilakukan pada anak usia 2–5 tahun
dengan menunjukkan beberapa titik hitam dengan ukuran yang berbeda,
kemudian dinilai titik terkecil yang dapat dilihat oleh anak

3. Sheridan ball test umumnya akan digunakan pada anak berusia 1–5 tahun
dimana terdapat alat peraga berupa bola dengan berbagai ukuran kemudian
ukuran terkecil yang dipilih oleh anak memperkirakan tajam penglihatan
anak
4. Optokinetic nystagmus test biasanya dilakukan pada bayi berusia < 1 tahun
dengan alat menggunakan bentuk seperti drum yang diputar secara lambat
kemudian pemeriksa memperhatikan gerakan mata dan menilai kejadian
dari nystagmus dan kemampuan padangan dari pasien [3,4]

Untuk pemeriksaan tajam penglihatan jarak dekat biasanya  dengan


menggunakan alat berikut :

1. Jaeger’s chart: Kartu ini digunakan untuk mengukur ketajaman penglihatan


jarak dekat dimana pada baris J1 menggambarkan visus 20/15 (dalam feet)
sedangkan pada baris J2 menggambarkan visus 20/20 (dalam feet) atau setara
dengan visus 6/6 (dalam meter) yang merupakan ketajaman penglihatan
optimal seseorang. Pada daftar ini akan terdapat baris dari J1 sampai dengan
J7
2. Snellen’s near vision test type
3. Roman test

3. Apa perbedaan pemeriksaan visus pada bayi/anak dan orang dewasa?

 Pemeriksaan visus bayi dan anak :


4 bulan : 6/600
6 bulan : 6/300
9 bulan : 6/72
3 tahun : 6/9
5 tahun : 6/6

 Pemeriksaan tajam penglihatan pada anak dapat dibedakan


berdasarkan usia yaitu preverbal dan verbal. Pemeriksaan tajam
penglihatan anak pada usia preverbal yaitu usia kurang dari 2,5 tahun
dan verbal pada usia lebih dari 2,5 tahun. Pemeriksaan tajam
penglihatan anak pada usia preverbal yaitu dapat dilakukan dengan
observasi, fiksasi, oftalmoskopi, refleks pupil, optokinetic nystagmus
test (OKN), the prefential looking test, dan visual evoked potential
(VEP). Sedangkan pemeriksaan tajam penglihatan pada anak usia
verbal yaitu dengan menggunakan optotype seperti Allen card,
HOTV card, LEA symbol, E chart, dan Snellen chart.

 Pemeriksaan visus pada orang dewasa


 Snellen Chart

Snellen chart digunakan untuk memeriksa tajam penglihatan pada


orang dewasa.
 Cara pemeriksaan :
1. Letakkan papan pada jarak 20 kaki atau 6 meter
2. Jika pasien menggunakan kacamata, pemeriksaan dilakukan dengan
menggunakan kacamata
3. Letakkan penutup mata pada mata yang tidak diperiksa. Pemeriksaan
pertama dilakukan pada mata yang menurut penderita penglihatannya
lebih jelek.
4. Mulailah dengan optotip yang besar dan terus ke optotip kecil. Pasien
harus menyebutkan setiap huruf yang terlihat dengan keras.
5. Jika hasil pemeriksaan tidak mencapai 20/20 atau 6/6, pemeriksaan
dengan menggunakan pinhole harus dilakukan.
6. Ganti penutup mata pada mata sebelahnya dan mulai lagi dari langkah
no.4.
 Dengan Snellen chart standar ini, dapat menentukan tajam penglihatan
seseorang, seperti :
 Bila tajam penglihatan 6/6, berarti dapat melihat huruf pada jarak 6
meter, yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 6
meter.
 Bila pasien hanya dapat membaca pada huruf baris yang menunjukkan
angka 30, berarti tajam penglihatan pasien adalah 6/30.
 Bila tajam penglihatan adalah 6/60 berarti hanya dapat melihat pada
jarak 6 meter yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada
jarak 60 meter.
 Bila pasien tidak dapat mengenali huruf terbesar pada kartu Snellen,
maka dilakukan uji hitung jari. Jari dapat dilihat terpisah oleh orang
normal pada jarak 60 meter.
 Bila pasien hanya dapat melihat atau menentukan jumlah jari yang
diperlihatkan pada jarak 3 meter, maka dinyatakan tajam penglihatan
3/60. Dengan pengujian ini, tajam penglihatan hanya dapat dinilai
sampai 1/60, yang berarti hanya dapat menghitung jari pada jarak 1
meter.

 Ujia lambaian tangan


Dapat dikatakan tajam penglihatan pasien yang lebih buruk daripada
1/60. Orang normal dapat melihat gerakan atau lambaian tangan pada
jarak 300 meter. Bila mata hanya dapat melihat lambaian tangan pada
jarak 1 meter, berarti tajam penglihatannya adalah 1/300.

 Sinar atau cahaya


Kadang-kadang mata hanya dapat mengenal adanya sinar saja dan
tidak dapat melihat lambaian tangan. Keadaan ini disebut sebagai
tajam penglihatan 1/~. Orang normal dapat melihat adanya sinar pada
jarak tak terhingga. Bila pasien masih menentukan arah sinar yang
dating dengan tepat, maka disebut 1/~ persepsi sinar benar, tetapi bila
pasien tidak bias menentukan arah datangnya sinar, maka disebut 1/~
sinar salah.
 Bila penglihatan sama sekali tidak mengetahui adanya sinar, maka
dikatakan penglihatannya adalah 0 (nol).

4. Secara anatomis hal-hal apa saja yang dinilai saat pemeriksaan mata
pada bayi dan anak?

1. pemeriksaan ketajaman penglihatan

Pada tahun-tahun pertama, ketajaman penglihatan harus dinilai sebagai


bagian dari pemeriksaan umum “anak sehat”. Sebaiknya jangan
menunggu sampai anak cukup usia untuk dapat merespon kartu
penglihatan (aisual charts) karena pemeriksaan ini tidak bisa memberi
informasi yang tepat hingga anak mencapai usia sekolah.dalam 3-4 tahun
pertama,penilaian penglihatan sangat tergantung pada pengamatan dan
laporan mengenai perilaku anak sewaktu permain atau berinteraksi dengan
orang tua anak lain.pada usia ini, anak yang menunjukkan kinerja
penglihatan yang tampak normal kemungkinan besar menunjukkan
mencerminkan ketajaman penglihatan yang sangat buruk.

Respon pupil terhadap cahaya adalah pemeriksaan kasar untuk menilai


fungsi penglihatan dan hanya dapat diandalkan untuk menyingkirkan
disfungsi total jaras penglihatan anterior atau jaras pupil eferen.
Kemampuan melakukan melakukan fiksasi d mengikuti suatau sasaran
dinilai jauh dari informati. Sasaran harus sesuai dengan usia anak.
Sebaiknya pertama-tama diperiksa refleks konvergensi dan refleks
mengikuti binokular untuk membangun kerja sama anak.kemudian
masing-masing mata diperiksa secara terpisah, sebaiknya dengan
penutupan mata lain dengan plester.

Berbandingan kinerja kedua mata akan memberikan keterangan yang


bermanfaat mengenai ketajaman penglihatan kedua mata
tersebut.penolakan terhadap penutupan salah satu mata sangat
mengisyaratkan bahwa mata itulah yang lebih sering diapakai sehingga
mata yang satunya secara komparatif memiliki penglihatan yang kurang.
Setelah usia 3 bulan, adanya starbius, yang dideteksi dengan
memeriksa posisi relatif refleksi cahaya korne, juga harus dianggap
sebagai indikasi buruknyapenglihatan pada mata yang berdeviasi,
terutama bila mata ini tidak atau lambat melakukan fiksasi terhadap
cahaya.kurang lebih sejak usia 4 tahun ke atas, telah dapat dilakukan
pemeriksaan respons subjektif dengan menggunakan kartu ‘E’’ buta
huruf, gambar-gambar yang dikenali anak-anak,gambar-gambar LEA,atau
kartu HOTV.biasanya pada sekolah dasar kelas 1 atau 2, dapat digunakan
kartu Snellen yang biasa,Streoacuity (ketajaman penglihatan tiga
dimensi)terbukti berkembang pada sebagian besar bayi usia 3 bulan, tetapi
uji klinis umumnya tidak mungkin dilakukan hingga usia 3-4 tahun.tidak
adanya Stereopsis, seperti yang dinilai dengan uji ‘E’’ titik ajak atau uji
stereo titmus, mengisyaratkan strabismus atau ambliopia,dan memerlukan
pemeriksaan lanjutan.

2. Reftraksi

Reftraksi objektif adalah suatu pemeriksaan bagian penting dalam


pemeriksaan mata pediatrik, terutama bila terdapat indikasi gangguan
penglihatan atau strabismus. Pada anak kecil, hal ini harus dilakukan
dengan sikloplegia untuk mengtasi kecenderungan anak melakuka
akomodasi.diberikan tetesan cyclopentale 1 % yang diberikan 2 kali-
dengan interval 5 menit-30 menit sebelum pemeriksaan akan
menghasilkan cukup sikloplegia,tetapi bila terdapat strabismus
konvergens atau bila katanya sangat berpigmen, dianjurkan pemberian
atropin. Karena tetes atropin sering menyebabkan efek sistem sistemik,
regimen yang dianjurkan adalah saleb mata atropin 1% yang diberikan
sekali sehari mulai 2 atau 3 hari sebelum pemeriksaan dilakukan.

3. pemeriksaan segmen anterior dan posterior

Pemeriksaan lebih lanjut harus disesuaikan dengan usia dan


kemampuan anak untuk bekerja sama. Pemeriksaan segmen anterior pada
anak kecil terutama tergantung pada penggunaan senter dan kaca
pembesar. Tetapi pemeriksaan dengan slitlamp kadang-kadang dapat
dilakukan pada bayi (dengan kerja sama ibunya) dan pada anak kecil yag
dapat dibujuk. Pengukuran tekanan intraokuler dan gonioskopi sering
menimbulkan masalah dan sering memerlukan pemeriksaan di bawah
anestesi.

4. Pemeriksaan tajam penglihatan pada anak dapat dibedakan berdasarkan


usia yaitu preverbal dan verbal pada usia. Pemeriksaan tajam penglihatn
anak pada usia preverbal yaitu usia kurang dari 2,5 tahun. Pemeriksaan
tajam penglihatan anak pada usia preverbal yaitu :

1. Observasi
Pada metode ini kita dapat mengamati apakah anak tampak melihat atau
peduli terhadap lingkungan sekitarnya? Apakah anak melihat jari tangan
dan kakinya sendiri? Adanya pengenalan dan perhatian anak
menunjukkkan tajam penglihatan nya baik. Metode ini sulit dinilai pada
anak yang keterbelakangan mental, karena mungkin anak tersebut
melihat, tetapi tidak merespon terhadap sekitar.
2. Fiksasi dan mengikuti benda
Pada teknik ini kita lihat apakah anak tetap terfiksasi pada objek yang
menarik.apakah anak mengikuti objek ini biasanya didapatkan pada 1
atau 2 bulan kehidupan dan ini membektikan bahwa visus anak baik.untuk
melihat fiksasi pada mata anak juga dapat digunakan metode CSM
metode ini dapat digunakan pada anak yang belum dapat berbicara. C:
sentral. Lokasi reflek kornea pada saat pasien berfiksasi dengan cahaya
senter dengan satu mata ditutup (monokuler) normal reflek kornea ada
pada sentral kornea.jika eksentrik disebut dengan uncentral (UC). S:
Steadines. Artinya tetap tetap. fiksasi pada senter saat digerakan dan diam.
(monokuler). Jika tidak tetap disebut unsteady (US). M: Maintain
aligment. Kemampuan pasien untuk mempertahankan kelurusan pada
dengan cara satu mata ditutup kemudian dibuka. Jika tidak mampu
mempertahankan disebut Unmaintain (UM).
3. Oftalmoskopi
Oftalmoskopi langsung atau pun tidak langsung dipakai untuk
mengetahui keadaan media mata dari mempelajari karakteristik fisik dari
retina dan nervus optikus. Terdapaatnya media yang jernih dan retina
yang utuh dengan nervus optikus yan normal dapat menunjukkan bahwa
tajam penglihatan baik.
4. Replek pupil
Adanya reflek langsung dan tidak langsung pupil terhadap cahaya
menunjukkan bahwa jalur aferen dan eferen reflek pupil baik. Cahaya
sederhana yang dipakai untuk memeriksa reflek ini dapat digunakan untuk
menilai keadaan saraf penglihatan bagian depan.tapi respon normal dari
pemeriksaan ini belum mengindikasikan bahwa pasien dapat melihat,
tanpa menunujukkan penyampaian sinyal ke korteks. Jika cahaya senter
pada satu mata menyebabkan kontriksi pada kedua pupil berarti retina,
nervus optikus, traktus optikus berfungsi baik.
5. Optokinetic nystagmus test(OKN)
Optakinetic nystagmus test merupakan sebuah silinder yang dapat
berputar pada sumbuhnya dan pada dindingnya terdapat garis-garis tegak
yang mempunyai ketebalan tertentu, tes ini dapat berguna untuk
mengetahui fungsi penglihatan pada anak. Dengan memutar alat ini
didepan mata anak akan terlihat nistagmus pada mata anak tersebut yang
gerakannya berlawanan dengan arah perputaran slinder. Semakin halus
garis yang terdapat pada tabung slinder yang memberikan respon
nistagmus maka semakin baik pula visus bayi yang diperiksa.
6. Prevential looking test
Prevential looking test menilai ketajaman penglihatan dengan
mengamati respon anak terhadap istimulus visual. Pemeriksaan ini cukup
detail untuk menilai tajam penglihatan pada bayi dan anak yang belum
bisa bicara. Prevential looking test dapat dilakukan dengan menggunakan
teller acuity card II dan Cardiff Acuity test.
Teller Acuity Card II merupakan serangkaian kartu persegi panjang
yang terdiri dari 17 kartu yang berukuran masing-masing 25,5 cm x55,5
cm. Dan terdapat garis-garis hitam dan putih yang dicetak dengan latar
belakang abu-abu.
7. Visual Evoked potensial (VEP)
Tes visual evoked potensial (VEP) merupakan pemeriksaan kualitatif dari
pemeriksaan tajam penglihatan. Tes ini digunakan untuk melihat atau ada
tidaknya kebutaan kortek. Alat ini berupa elektroensefalogram (EEG)
yang diambil dari lobus oksipital. Elektroda primer ditempelkan diatas
lobus oksipital.

5. Kelainan apa saja yang menyebabkan timbulnya leukokoria pada


bayi dan anak?

Leukokoria adalah istilah untuk menggambarkan temuan klinis berupa


refleks pupil berwarna putih, pupil dapat terlihat normal pada cahaya
kamar namun tidak memiliki red reflex pada pemeriksaan oftalmoskop.
Leukokoria disebabkan anomali retina atau kekeruhan reflektif di media
okular sepanjang aksis visual di daerah pupil. Leukokoria
mengindikasikan keadaan infeksi seperti uveitis, endoftalmitis, kekeruhan
pada lensa seperti katarak, persistent hyperplastic primary vitreous
(PHPV), kelainan retina seperti retinoblastoma, falciform retinal fold,
retinal detachment, retinoschisis, retinopathy of prematurity (ROP),
miopia tinggi, koloboma, penyakit Coats, dan kelainan intra okular lain.
Sebuah tinjauan terbaru dari kasus leukokoria berturut-turut pada anak-
anak mengungkapkan bahwa minoritas adalah disebabkan retinoblastoma
dan mayoritas adalah karatak (60%).Leukokoria pada anak-anak
membutuhkan perhatian segera karena merupakan suatu tanda yang dapat
mengancam jiwa atau menyebabkan gangguan visual permanen.

 Retinoblastoma
Retinoblastoma adalah tumor endo-okular pada anak yang mengenai saraf
embrionik retina. Kasus ini jarang terjadi, sehingga sulit untuk dideteksi
sejak awal. Rata rata usia pada saat diagnosis adalah 24 bulan pada kasus
unilateral, 13 bulan pada kasus kasus bilateral.Beberapa kasus bilateral
tampak sebagai kasus unilateral, dan tumor pada bagian mata yang lain
terdeteksi pada saat pemeriksaan evaluasi. ini menunjukkan pentingnya
untuk memeriksa klien dengan anestesi pada anak anak dengan
retinoblastoma unilateral, khususnya pada usia dibawah 1 tahun. (Pudjo
Hagung Sutaryo, 2006 ).Retinoblastoma adalah kanker pada retina (daerah
di belakang mata yang peka terhadapcahaya) yang menyerang anak
berumur kurang dari 5 tahun. 2% dari kanker pada masa kanak-kanak
adalah retinoblastoma.Retinoblastoma adalah suatu neoplasma yang
berasal dari neuroretina (sel kerucut sel batang)atau sel glia yang bersifat
ganas. Merupakan tumor ganas intraokuler yang ditemukan pada anak-
anak, terutama pada usia dibawah lima tahun. Tumor berasal dari jaringan
retina embrional.Dapat terjadi unilateral (70%) dan bilateral (30%).
Sebagian besar kasus bilateral bersifatherediter yang diwariskan melalui
kromosom. Massa tumor diretina dapat tumbuh kedalamvitreus (endofitik)
dan tumbuh menembus keluar (eksofitik). Pada beberapa kasus
terjadipenyembuhan secara spontan. Sering terjadi perubahan degeneratif,
diikuti nekrosis dankalsifikasi. Pasien yang selamat memiliki
kemungkinan 50% menurunkan anak denganretinoblastoma. Pewarisan ke
saudara sebesar 4-7%.Retinoblastoma adalah kanker yang dimulai dari
retina – lapisan sensitif di dalam mata.Retinoblastoma umumnya terdapat
pada anak-anak. Retina terdiri dari jaringan syaraf yangmerespon cahaya
masuk ke mata. Kemudian retina mengirimkan sinyal melalui syaraf optik
keotak, dimana sinyal diinterpretasikan sebagai gambar.
Etiologi retinoblastoma yaitu karena kelainan Kromosom.Terjadi karena
kehilangan kedua kromosom dari satu pasang alel dominant protektif
yangberada dalam pita kromosom 13q14. Bisa karena mutasi atau
diturunkan. Penyebabnya adalahtidak terdapatnya gen penekan tumor,
yang sifatnya cenderung diturunkan. Kanker bisamenyerang salah satu
mata yang bersifat somatic maupun kedua mata yang merupakankelainan
yang diturunkan secara autosom dominant. Kanker bisa menyebar ke
kantung matadan ke otak (melalu saraf penglihatan/nervus optikus).Selain
itu terdapat Faktor genetic.Gen cacat RB1 dapat warisan dari orang tua
baik, pada beberapa anak, bagaimanapun,mutasi terjadi pada tahap awal
perkembangan janin. Tidak diketahui apa yang menyebabkan kelainan
gen, melainkan yang paling mungkin menjadi kesalahan acak selama
proses copyyang terjadi ketika sel membelah.

 Katarak
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi
akibat hidrasi lensa, denaturasi protein lensa, atau akibat kedua-duanya.
Biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif (Mansjoer. 2008).
Katarak berasal dari bahasa Yunani Katarrhakies, Inggris Cataract, dan
Latin Cataracta yang berarti air terjun, karena orang yang menderita
katarak mempunyai penglihatan yang kabur seolah-olah tertutup oleh air
terjun. Pada mata sehat, lensa yang jernih berfungsi meneruskan cahaya
ke dalam mata agar mata dapat memfokuskan benda dari jarak yang
berbeda-beda. Sebaliknya pada penderita katarak, lensa mata yang keruh
menyebabkan cahaya yang masuk ke dalam mata dapat terpencar dan
mengakibatkan penglihatan kabur.

6. Apa saja factor resiko terjadinya retinopati prematuritas?

 Penggunaan O2
Peran oksigen sebagai faktor risiko RPP telah mulai diteliti semenjak era
1950-an diawali oleh penelitian kolaboratif rumah sakit yang dikoordinasi
dokter V.E. Kinsey yang kemudian hasil penelitian ini diperkuat oleh
penelitian eksperimental lain
Efek primer oksigen terhadap pembuluh darah retina yang belum
matang pada binatang percobaan adalah terjadinya vasokonstriksi retina.
Apabila konstriksi ini bertahan akan diikuti oleh penutupan pembuluh
darah pada berbagai tingkat, kemudian akan menimbulkan kerusakan
endotel dan akan menyebabkan penutupan sempurna pembuluh darah
yang belum matang tersebut. Pembuluh darah baru akan terbentuk pada
daerah yang mengalami kerusakan kapiler retina tersebut. Pembuluh darah
baru ini akan menyebar di permukaan retina dan berkembang sampai ke
korpus vitreus.
Penelitian dengan binatang percobaan yang diberi oksigen konsentrasi
tinggi menunjukkan hanya pembuluh darah yang belum matanglah yang
sensitif terhadap oksigen, semakin tidak matang pembuluh darahnya
makin besar risikonya terhadap pemberian oksigen, sehingga bayi dengan
pembuluh darah retina yang sudah matang / pembuluh darah yang sudah
penuh di retina tidak memberi risiko terhadap RPP. Atas dasar itulah
predileksi RPP di bagian temporal retina dapat diterangkan.
Vasokonstriksi awal pada pembuluh darah retina yang imatur terjadi
dalam beberapa menit pertama setelah paparan terhadap oksigen, ukuran
pembuluh darah berkurang sampai 50% , namun kemudian kembali ke
ukuran normal. Oksigen yang dilakukan terus menerus 4 – 6 jam selama
akan menimbulkan vasospasme bertahap sampai pembuluh darah tersebut
mengecil sampai 80%. Sampai pada tahap ini vasokonstriksi pembuluh
darah retina masih bersifat reversibel, namun apabila keadaan ini bertahan
(misalnya pemberian oksigen sampai 10 – 15 jam) beberapa pembuluh
darah perifer retina yang belum matur tersebut akan mengalami penutupan
permanen

 Anemia dan Transfusi Darah


Beberapa peneliti melaporkan transfusi darah atau anemia sebagai faktor
risiko RPP, namun laporan ini masih diperdebatkan. Beberapa penelitian
menyimpulkan bahwa anemia adalah faktor risiko untuk terjadinya RPP
sedangkan laporan lain mengatakan hematokrit yang tinggi dan transfusi
berulang pada kejadian anemia yang merupakan faktor independen
terjadinya kasus RPP. Sacks, dkk. pada penelitian 90 bayi dengan BB £
1250 gram (Pennsylvania, 1980) menemukan hubungan yang bermakna
antara kejadian RPP dengan transfusi tukar. Clark, dkk.menemukan
hubungan yang bermakna antara insiden RPP dengan transfusi darah pada
penelitian 58 bayi dengan BB £ 1000 gram dan 70 bayi dengan berat lahir
rendah yang mendapatkan terapi oksigen dengan berbagai variasi berat
badan.
Anemia pada BBLR yang kemudian ditangani dengan pemberian
transfusi darah berulang akan menyebabkan bayi menerima sejumlah
darah dari orang dewasa (donor dewasa). Masuknya darah dari orang
dewasa ini meningkatkan risiko RPP yang dihubungkan dengan
peningkatan penumpukan zat besi pada bayi-bayi prematur ini. Hal ini
akan meningkatkan aktivitas anti oksidan yang terkait dengan
penumpukan zat besi.Brooks dkk, pada penelitian 50 bayi dengan BB ≤
1250 gram tidak menemukan perbedaan insiden RPP antara kelompok
bayi yang diberikan transfusi untuk mengatasi anemia (24 bayi) dengan
kelompok bayi yang diberikan transfusi untuk mempertahankan kadar
hematokrit >40 % (26 bayi).
 Defisiensi Vitamin E
Flynn mengutip dari Owens dan Owens melaporkan peran vitamin E
dalam mencegah kejadian RPP pada kelompok bayi prematur. Pemberian
50 mg vitamin E secara oral tiga kali sehari bersamaan dengan dimulainya
pemberian makanan peroral diketahui dapat menekan insiden RPP.
Penelitian ini dilakukan pada bayi-bayi dengan BB ≤ 1360 gram.7,15
Payne mengutip dari Kretzer dan Hittner, memperlihatkan adanya
perubahan dasar pada struktur sel spindel retina bayi-bayi prematur
berisiko tinggi. Sel spindel retina bayi prematur yang mendapat oksigen
secara terus menerus akibat distres pernafasan memperlihatkan
peningkatan gap junction, diyakini bahwa peningkatan Gap Junction ini
mengganggu proses pembentukan pembuluh darah yang normal. Pada
bayi prematur yang mendapat vitamin E peningkatan gap junction dapat
ditekan.
Vitamin E secara invitro merupakan anti oksidan lipofilik yang poten,
sedangkan kadar vitamin ini pada bayi prematur lebih rendah sehingga
keterkaitan ini menjadi dasar asumsi faktor risiko RPP. Namun sulit untuk
dibuktikan bahwa peningkatan kadar vitamin E di dalam serum bayi akan
dapat mencegah kejadian RPP. Pemberian vitamin E pada bayi prematur
diketahui memiliki beberapa kemungkinan efek samping seperti
enterokolitis nekrotikans, sepsis, perdarahan intra ventrikular, perdarahan
retina, perubahan respons imun dan penekanan aktifitas bakteriostatik sel
leukosit

 Paparan Cahaya
Cahaya terang yang mengenai mata bayi prematur diduga menimbulkan
pengaruh untuk terjadinya RPP, namun masih terdapat perbedaan
pendapat terhadap mekanisme terjadinya ROP dalam hubungan dengan
paparan cahaya terang pada tempat perawatan bayi intensif.7,16 Glass,
melaporkan bahwa bayi prematur yang dirawat di ruangan dengan cahaya
terang benderang 32% lebih besar peluangnya terkena RPP dibanding
mata bayi yang mendapat perlindungan dari paparan cahaya, meskipun
hasil ini tidak secara kuat menunjuk kepada pengaruh cahaya pada
retinopati pada prematurias, tapi Glass menyatakan bahwa tidak ada
satupun penelitian yang menyatakan cahaya fluoresen aman bagi mata
bayi. Reynold, dkk.pada penelitian 188 bayi prematur yang mendapatkan
paparan cahaya terkontrol dengan cara memberikan pencahayaan ruangan
memakai lampu yang berputar (hidup-mati), dengan kontrolnya bayi yang
terpapar cahaya terang terus menerus, mendapatkan hasil bahwa
pengurangan intensitas cahaya ini (399 Lux untuk kelompok studi dan 447
Lux untuk kelompok kontrol) tidak mengubah insiden RPP (53%
kelompok studi dan 52% kelompok kontrol). Hasil yang didapat pada
penelitian ini sangat dipengaruhi oleh perbedaan intensitas paparan yang
tidak terlalu besar.

 Karbondioksida
Retensi CO2 dapat meningkatkan efek kerusakan pembuluh darah retina
bayi prematur oleh terapi suplementasi oksigen.7,16 Patz mengutip dari
Baner dan Widmayer melaporkan bahwa retensi CO2 adalah faktor
tunggal terpenting yang membedakan insiden RPP pada penelitiannya
pada bayi dengan berat badan lahir < 1000 gram, namun Biglan dan
Brown tidak melihat pengaruh retensi CO2 terhadap insiden RPP dan
malah menemukan bayi dengan RPP tingkat lanjut memiliki PCO2 serum
yang lebih rendah dari kelompok kontrol.

 Septikemia
Beberapa penulis melaporkan septikemia sebagai salah satu faktor risiko
untuk terjadinya RPP.Gunn, dkk.pada penelitian 150 bayi prematur
dengan berat badan ≤ 1500 gr dan mendapatkan suplementasi oksigen,
melaporkan sepsis sebagai faktor yang sangat kuat hubungannya dengan
kejadian RPP. Mittal, dkk,. melaporkan bahwa sepsis oleh kandida adalah
faktor risiko yang berdiri sendiri dalam memperberat kejadian RPP dan
menyebabkan bayi prematur tersebut membutuhkan terapi bedah laser.

 Faktor Risiko Lain


Beberapa keadaan juga dilaporkan sebagai faktor risiko untuk timbulnya
RPP, namun karena belum banyak peneliti lain yang juga menilai faktor
yang sama, perannya sebagai faktor risiko atau penolakan peran faktor-
faktor tersebut belum begitu jelas. Termasuk disini seperti sianosis, apne,
ventilasi mekanis, perdarahan intraventrikular, kejang, PDA, preparat
xanthine, preparat indometasin, asidosis, hipoksia intrauterin, distres
pernafasan
Dari semua faktor risiko yang sudah diteliti tampak adanya perbedaan
pendapat di antara para peneliti tentang peran masing-masing faktor risiko
tersebut untuk terjadinya RPP, sehingga masih diperlukan banyak
penelitian untuk menjelaskan potensi risiko masing-masing faktor tersebut
secara terpisah (independent).
Kita cenderung berpikiran bahwa RPP adalah penyakit yang
disebabkan oleh terpaparnya bayi prematur terhadap berbagai faktor risiko
setelah lahir, pada kenyataannya ada bayi yang sudah mengalami
threshold ROP pada hari pertama atau kedua kehidupan yang memberi
kesan bahwa retinopati sudah terjadi intrauterin sebelum bayi terpapar
dengan berbagai faktor risiko setelah lahir. Ogden memperkirakan
sepertiga kasus RPP lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor prenatal
dibanding faktor-faktor setelah lahir.

7. Bagaimana tatalaksana katarak pada bayi/anak?

Anak baru lahir mendapat pemeriksaan mata, termasuk evaluasi


dengan ophthalmoscopy. Pemeriksaan dari refleks fundus dapat
menyatakan keadaan sedikit keruh. Evaluasi lengkap dari refleks merah
yang simetris secara normal mudah dikerjakan di dalam ruangan gelap
dengan cahaya yang terang dari ophthalmoscopy direct ke dalam kedua
mata secara simultan.

 Anamnesa

Memperhatikan anamnesa lengkap, onset dan tanda serta gejala


dari status okuli dari pemeriksaan mata sebelumnya  prognosis
penglihatan setelah terapi. Selain itu, dalam anamnesa juga harus
diperoleh informasi mengenai tumbuh kembang anak, kebiasaan makan,
kelainan tumbuh kembang lainnya, lesi kulit dan riwayat keluarga.

 Fungsi penglihatan
Pada anak usia dibawah 2 bulan, fiksasi reflek normal tidak
ditemukan, pada umumnya kekeruhan pada kapsul anterior biasanya tidak
terlihat kecuali menutupi pupil sehingga menghalangi terlihatnya reflek
merah. Strabismus pada katarak unilateral dan nystagmus pada katarak
bilateral mengindikasikan adanya kekeruhan menjadi sangatlah berarti.

Pada anak usia diatas 2 bulan, standar pemeriksaan klinis dapat


dilihat dari fiksasi tingkah laku, fiksasi objek, sebagai tambahan untuk
dasar penglihatan katarak pada anak. Untuk katarak bilateral dapat dilihat
dari kebiasaan anak melihat, diikuti dengan observasi keluarga pada anak
dirumah, sangat membantu menentukan tingkat dari fungsi penglihatan
anak.

 Pemeriksaan segmen anterior

Pemeriksaan dengan slit-lamp dapat menjelaskan morfologi dari


katarak dan dapat membantu menentukan penyebab dan prognosis. Hal
yang berhubungan dengan kornea abnormal, iris dan pupil dapat dicatat.
Slit lamp yang mudah dibawa secara khusus membantu pemeriksaan bayi
dan anak. Glaukoma bisa dikesampingkan karena katarak dan glaukoma
dihubungkan dengan rubella congenital dan Lowe Syndrome.

 Pemeriksaan funduskopi

Suatu pemeriksaan untuk melihat keadaan retina dan optic disc


untuk memperkirakan penglihatan potensial dari mata. Ketika katarak
sudah komplit dan menghambat aksis penglihatan. B-ultrasonografi dapat
digunakan untuk menyingkirkan retina dan vitreous patologis. Secara
khusus penting dilakukan pada pasien dengan katarak bilateral yang tebal
untuk melihat adanya retinoblastoma.

 Pembedahan
Perkembangan waktu sangat penting dalam hal-hal sebagai berikut :
1. Katarak total bilateral memerlukan operasi awal ketika usia anak 4-6
minggu untuk mencegah penurunan perkembangan stimulus ambliopia.
Jika kelainan asimetris yang sudah berat, mata dengan katarak harus
ditangani terlebih dahulu.
2. Katarak parsial bilateral mungkin tidak memerlukan pembedahan. Dalam
kasus yang meragukan, mungkin lebih bijaksana menunda operasi.
Kekeruhan lensa dan fungsi visual di monitor dan dilakukan intervensi
nanti jika penglihatan memburuk.
3. Katarak total unilateral harus di operasi segera diikuti dengan terapi anti-
amblyopia agresif, meskipun yang hasilnya sering minimal. Waktu
intervensi harus seimbang dengan saran bahwa intervensi dini (< 4
minggu) dapat menyebabkan peningkatan resiko glaukoma sekunder
berikutnya. Jika kataral terdeteksi setelah 16 minggu maka prognosis
penglihatan sangat minimal.
4. Katarak parsial unilateral biasanya dapat diamati atau diperlakukan secara
non-pembedahan dengan dilatasi pupil dan mungkin oklusi kontralateral
untuk mencegah ambliopia.
5. Pembedahan yang melibatkan capsulorhexis anterior, aspirasi materi
lensa, capsulorhexis dari kapsul posterior , terpatas pada anterior
virektomi dan implantasi IOL jika sesuai.

 Pengangkatan lensa ( lensektomi ) tanpa pemasangan IOL


Pada anak-anak yang aphakia, Lensektomi dilakukan melalui insisi
kecil di limbus atau pars plana menggunakan alat pemotong vitreous atau
alat aspirasi manual. Irigasi dapat dilakukan dengan alat infus terintegrasi
atau kanul yang terpisah untuk pembedahan bimanual.
Korteks dan lensa secara umum bersifat lunak sehingga
fakoemulsifikasi tidak diperlukan. Kapsulektomi anterior dilakukan
sebelum atau setelah pengangkatan seluruh korteks.
Karena kekeruhan kapsul posterior cepat terjadi pada anak-anak,
penanganan kapsulotomi moderat dan vitrektomi anterior sebaiknya
dilaksanakan pada saat pembedahan, terutama pada bayi. Sisa kapsul
lensa posterior bagian perifer sebaiknya ditinggalkan untuk memfasilitasi
penanaman IOL sekunder di kemudian hari.
 Lensektomi dengan intraocular lens (IOL)
Direkomendasikan dan dipertimbangkan penanaman IOL pada
pasien katarak yang didapat atau katarak yang terjadi pada anak dengan
usia 2 tahun, dengan kapsul posterior yang mencukupi untuk fiksasi
ruangan posterior lensa.Lensektomi dengan intraocular lens (IOL)Anak-
anak dengan katarak traumatika dan mempunyai potensi penglihatan yang
baik sebagai kandidat penanaman IOL.

 Penanaman IOL pada anak


Karena mata anak terus memanjang sampai dekade pertama
kehidupannya, pemilihan kekuatan IOL yang tepat sangatlah sulit.
Penelitian telah memperhatikan bahwa kelainan refraksi pada anak yang
afakia mengalami pergeseran miopia ( Myopic shift ) 7-8 D dari usia 1
hingga 10 tahun. Kemudian jika anak dibuat emetropia pada usia 1 tahun
nilai refraksinya pada usia 10 tahun menjadi sekitar -8D. Oleh karena itu
implantasi lensa intra okuler memerlukan perhitungan yang mencakup
usia anak dan target refraksi pada saat dilakukan pembedahan.

 Perawatan post operatif


Untuk mengurangi reaksi inflamasi operasi, bayi dan anak
membutuhkan topikal kortikosteroid, topikan antibiotik. Sikloplegik
dengan siklopentolat 1% atau 2%, scopolamin 0,25%, atau atropin 1%
obat tetes untuk pemakaian 1 bulan setelah operasi. Beberapa ahli
memberikan steroid oral terutama untuk anak yang memiliki pigmen iris.

8. Jelaskan apa yang anda ketahui mengenai retinoblastoma?

 Retinoblastoma adalah keganasan intraokular primer yang paling sering pada


bayi dan anak dan merupakan tumor neuroblastik yang secara biologi mirip
dengan Neuroblastoma dan Medulloblastoma. Retinoblastoma disebabkan oleh
mutasi gen RB1, yang terletak pada lengan panjang kromosom 13 pada locus 14
(13q14) dan kode protein pRB, yang berfungsi sebagai supresor pembentukan
tumor. pRB adalah nukleoprotein yang terikat pada DNA (Deoxiribo Nucleid
Acid) dan mengontrol siklus sel pada transisi dari fase G1 sampai fase S. Jadi
mengakibatkan perubahan keganasan dari sel retina primitif sebelum diferensiasi
berakhir.
 Tanda-tanda Retinoblastoma yang paling sering dijumpai adalah leukokoria
(white pupillary reflex) yang digambarkan sebagai mata yang bercahaya,
berkilat, atau cat’s-eye appearance, strabismus dan inflamasi okular. Gambaran
lain yang jarang dijumpai, seperti Heterochromia, Hyfema, Vitreous Hemoragik,
Sellulitis, Glaukoma, Proptosis dan Hypopion. Tanda tambahan yang jarang, lesi
kecil yang ditemukan pada pemeriksaan rutin. Keluhan visus jarang karena
kebanyakan pasien anak umur prasekolah.Tanda Retinoblastoma adalah:
Pasien umur < 5 tahun
• Leukokoria (54%-62%), * Proptosis
• Strabismus (18%-22%) * Katarak
• Hypopion * Glaukoma
• Hyphema * Nystagmus
• Heterochromia * Tearing
• Spontaneous globe perforation * Anisocoria
Pasien umur > 5 tahun
• Leukokoria (35%) * Inflamasi (2%-10%)
• Penurunan visus (35%) * Floater (4%)
• Strabismus (15%) * Pain (4%)
 Klasifikasi Reese-Ellsworth adalah metode penggolongan retinoblastoma
intraokular yang paling sering digunakan, tetapi klasifikasi ini tidak
menggolongkan Retinoblastoma ekstraokular. Klasifikasi diambil dari
perhitungan jumlah, ukuran, lokasi tumor dan dijumpai atau tidak dijumpai
adanya vitreous seeding.
Klasifikasi Reese-Ellsworth
1. Group I
a. Tumor Soliter, ukuran kurang dari 4 diameter disc, pada atau dibelakang equator.
b. Tumor Multipel, ukuran tidak melebihi 4 diameter disc, semua pada atau
dibelakang equator.
2. Group II
a. Tumor Soliter, ukuran 4-10 diameter disc, pada atau dibelakang equator.
b. Tumor Multipel, ukuran 4-10 diameter disc, dibelakang equator.
3. Group III
a. Ada lesi dianterior equator.
b. Tumor Soliter lebih besar 10 diameter disc dibelakang equator.
4. Group IV
a. Tumor Multipel, beberapa besarnya lebih besar dari 10 diameter disc.
b. Ada lesi yang meluas ke anterior ora serrata.
5. Group V
a. Massive Seeding melibatkan lebih dari setengah retina
b. Vitreous seeding
 Tumor terdiri dari sel basophilic kecil ( Retinoblast), dengan nukleus
hiperkhromotik besar dan sedikit sitoplasma. Kebanyakan Retinoblastoma tidak
dapat dibedakan, tapi macam-macam derajat diferensiasi Retinoblastoma
ditandai oleh pembentukan Rosettes, yang terdiri dari 3 tipe :
1. Flexner-wintersteiner Rosettes, yang terdiri dari lumen central yang dikelilingi
oleh sel kolumnar tinggi. Nukleus sel ini lebih jauh dari lumen.
2. Homer-Wright Rosettes, rosettes yang tidak mempunyai lumen dan sel terbentuk
mengelilingi masa proses eosinophilik
3. Flerettes adalah fokus sel tumor, yang mana menunjukkan differensiasi
fotoreseptor, kelompok sel dengan proses pembentukan sitoplasma dan tampak
menyerupai karangan bunga.
 Penatalaksanaan Retinoblastoma
1. Enukleasi
2. Kemoterapi
3. Periocular Chemotherapy
4. Photocoagulation dan Hyperthermia
5. Krioterapi
6. External-Beam Radiation Therapy
7. Plaque Radiotherapy ( Brachytherapy )

9. Bagaimana cara pemeriksaan “red reflex test” dan interpretasinya?

Pemeriksaan red reflex merupakan pemeriksaan yang penting pada


neonatus, bayi, dan anak, karena dapat menjadi screening awal gangguan
penglihatan dan kelainan yang kemungkinan mengancam nyawa, seperti
katarak, glaukoma, retinoblastoma, gangguan retina, gangguan sistemik
dengan manifestasi okular, dan gangguan refraksi yang tinggi. Adanya
abnormalitas pada pemeriksaan red reflex bisa disebabkan karena kelainan
pada mukosa ataupun adanya benda asing, gangguan kejernihan kornea,
aqueous vitreous, lensa, serta gangguan pada retina dan pupil, maupun
misalignment mata.

Pada pasien dengan iris yang sangat gelap sehingga pupil sulit terlihat,
dapat menggunakan oftalmoskop untuk melihat red reflex, yaitu warna
jingga-kemerahan yang muncul pada pemeriksaan fundus. Pemeriksaan
red reflex menggunakan cahaya dari oftalmoskop dengan kekuatan dioptri
“0”, pada ruang yang redup. Oftalmoskop diarahkan pada kedua mata
secara simultan dengan jarak 18 inci. Normalnya, red reflex harus muncul
pada kedua mata secara simetris. Apabila terdapat bintik kehitaman,
refleks menurun, white reflex, ataupun refleks yang asimetris (Bruckner
reflex), maka perlu merujuk pasien ke dokter spesialis mata.

10. Apa yang dimaksud dengan “congenital rubella syndrome”?

Congenital Rubella Syndrome (CRS) adalah suatu kumpulan gejala akibat


infeksi virus rubella selama kehamilan. Virus rubella termasuk dalam famili
togaviridae dengan genus rubivirus. Virus rubella umumnya menyebabkan
penyakit yang ringan, 50% orang yang terinfeksi rubella tidak terdiagnosis.
Namun bila infeksi rubella terjadi pada masa kehamilan, virus rubella dapat
menembus sawar placenta dan menginfeksi janin. Akibat hal tersebut dapat
terjadi gangguan pertumbuhan janin, antara lain: abortus, lahir mati atau cacat
berat kongenital (birth defects) apabila bayi tetap hidup. Risiko infeksi dan cacat
kongenital paling besar terjadi selama trimester pertama kehamilan. Bayi dengan
CRS biasanya menunjukkan satu atau lebih gejala berupa gangguan
pendengaran, kelainan mata, kelainan jantung, retardasi mental dan cacat seumur
hidup lainnya. Gangguan pendengaran adalah kelainan tunggal yang paling
sering