Anda di halaman 1dari 8

PENGARUH FREKUENSI DAN WAKTU PENCUCIAN

BERBANTU ULTRASONIK MENGGUNAKAN ISOPROPANOL


TERHADAP KADAR GLUKOMANAN DAN VISKOSITAS
TEPUNG PORANG (Amorphophallus oncophyllus)

Lucia Hermawati Rahayu1, Dyah Hesti Wardhani2, Abdullah2


1
AKIN St. Paulus, Jl. Sriwijaya 104 Semarang, 50241
2
Jurusan Teknik Kimia, FakultasTeknik, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Sudarto, SH., Tembalang, Semarang, 50239

Abstract

Konjac (Amorphophallus oncophillus) contains a high economic value of soluble fiber


glucomannan. Most of Indonesia konjac flour is exported in low (glucomannan content <65) hence sell
in cheap price. Quality of glucomannan could be improved by removing impurities such as starch and
cellulose. Application of ultrasonic-assisted extraction (leaching) of non glucomannan
compound is an effective method to purify the konjac flour. The purpose of this study was to study the
effect of ultrasonic waves frequency and leaching time of ultrasonic-assisted extraction method using
aqueous isopropanol on glucomannan purification. The leaching conducted two frequencies (20 and 40
kHz) and various extraction time (5, 10, 15, 20, 25 minutes). The results showed that the best condition
of glucomannan purification was achieved at 20 kHz for 10 minutes. In this conditon, glucomannan
content , viscosity and yield were 76.1%, 12,800 cPs, and 96.1%, respectively.

Keywords: konjac (Amorphophallus oncophillus), glucomannan, ultrasonic-assisted extraction,


isopropanol

1. PENDAHULUAN tepung porang tertutup lapisan tipis yang


Tepung porang (Amorphophallus berisi komponen komtaminan seperti pati,
oncophillus) merupakan sumber potensial serat, dan protein (Ohashi, 2000; Arifin,
glukomanan. Glukomanan merupakan serat 2001; Koeswara, 2009). Komponen-
larut dengan kegunaan luas di bidang komponen pengotor ini harus dipisahkan
kesehatan, pangan maupun non pangan, untuk mendapatkan tepung porang dengan
sehingga bernilai ekonomi tinggi. kadar glukomanan tinggi.
Indonesia merupakan salah satu Pemurnian tepung porang dengan
produsen utama umbi porang. Produk porang etanol merupakan metode yang paling
Indonesia biasanya diperdagangkan dan banyak digunakan karena etanol merupakan
diekspor dalam bentuk bahan mentah berupa pelarut yang aman jika hasil olahan (tepung
chip atau tepung porang sehingga harga jual glukomanan) diaplikasikan untuk pangan dan
komoditasnya cukup rendah. Hal ini terjadi kesehatan. Etanol merupakan anti solven
karena teknologi yang digunakan petani atau untuk glukomanan sehingga penggunaannya
industri lokal pengolah tepung porang masih dalam pemurnian tepung porang
rendah sehingga tepung glukomanan yang dimaksudkan untuk mengekstraksi senyawa-
dihasilkan masih kalah bersaing dengan senyawa non glukomanan yang dianggap
tepung glukomanan impor (Mulyono, 2010; sebagai pengotor (pencucian). Modifikasi
Mutia, 2011). Saat ini Indonesia masih ekstraksi konvensional dengan etanol sering
mengimpor produk olahan tepung porang dilakukan guna mendapatkan produk tepung
atau tepung glukomanan food grade dalam glukomanan dengan kadar glukomanan
bentuk murni atau komposit untuk pangan tinggi (Sugiyama et al., 1972; Ogasawara et
dan non pangan. al.,1987; Mulyono, 2010; dan Chua et al.,
Tepung porang umumnya 2012). Namun, metode-metode ini memiliki
mengandung glukomanan sekitar 15-64% keterbatasan hampir sama, antara lain waktu
(Arifin, 2001; Koeswara, 2009). Secara ekstraksi lama, serta kadar glukomanan dan
mikroskopis, sel-sel glukomanan dalam yield/rendemen masih rendah.

45
Ultrasonik dengan frekuensi 20-100 tidak jauh berbeda dengan etanol. Keduanya
kHz diketahui mempunyai efek signifikan juga merupakan pelarut yang dirujuk dalam
dalam mempercepat berbagai proses kimia regulasi Generally Recognized as Safe
dan fisika (Leong et al., 2011). Efek (GRAS) yang telah dipublikasikan oleh Food
penggunaan ultrasonik dalam proses and Drug Association (FDA) dan Flavor and
pembersihan (cleaning), ekstraksi atau Extract Manufacturing Association (FEMA)
pemurnian suatu senyawa adalah waktu (Aguda, 2007), sehingga hasil olahannya
proses lebih singkat dan peningkatan kualitas dapat digunakan untuk pangan, tetapi dari
produk (Chemat et al., 2011; John, 2002). segi ekonomi IPA lebih murah dibandingkan
Gelombang ultrasonik kekuatan tinggi dengan etanol.
diketahui mampu merusak atau mengikis Sejauh ini penelitian mengenai
dinding sel atau permukaan bahan padat ekstraksi glukomanan berbantu ultrasonik
(John, 2002). Pada reaktor ultrasonik, menggunakan pelarut IPA terhadap tepung
gelombang ultrasonik digunakan untuk porang (Amorphophallus oncophillus) belum
menimbulkan efek kavitasi akustik; yaitu pernah dilaporkan. Ekstraksi senyawa non
pembentukan, pertumbuhan, dan pecahnya GM berbantu ultrasonik dengan IPA
gelembung dalam medium cairan. Ketika diharapkan dapat menjadi metode alternatif
gelembung kavitasi pecah di dekat atau pada pemurnian glukomanan yang lebih efisien
permukan padat maka permukaan padat akan dan ekonomis untuk menghilangkan senyawa
memberikan resistensi terhadap aliran cairan. impuritas dalam tepung porang. Penelitian
Hal ini menyebabkan cairan mikrojet ini bertujuan untuk mendapatkan frekuensi
mengarah ke permukaan padat dengan gelombang ultrasonik dan waktu ekstraksi
kecepatan mendekati 400 km/h (Suslick, terbaik pada proses purifikasi glukomanan
1995). Dampak dari mikrojet ini sangat kuat, dari tepung porang dengan metode ekstraksi
antara lain dapat mengupas (peeling) berbantu ultrasonik menggunakan larutan
permukaan, mengikis, atau memecah isopropanol.
dinding sel (Vilkhu, 2008; Baig, 2010).
Pemakaian metode ultrasonik pada 2. METODOLOGI
ekstraksi (pencucian) senyawa non 2.1 Bahan dan Alat
glukomanan dalam tepung porang Bahan penelitian berupa chip porang
(Amorphophallus oncophillus) dengan yang diperoleh dari petani porang di daerah
pelarut etanol telah dilaporkan oleh Ngawi, Jawa Timur, dan digrinding menjadi
Widjanarko dkk. (2011a dan 2011b). tepung (80 mesh); isopropanol 99%, air, 3,5
Pemurnian dengan etanol berbantu ultrasonik dinitrosalicylic acid (DNS) PA, NaOH PA,
ini terbukti mampu menghasilkan yield dan NaHSO3, H2SO4 PA, glukosa PA dari Merck
kemurnian glukomanan yang tinggi serta (Jerman), KNatartrat, phenol kristal, dan
waktu proses lebih singkat dibanding asam formiat. Adapun alat penelitian
pemurnian tanpa ultrasonik. Namun, meliputi mesin ultrasonik tipe bath
keunggulan metode pemurnian dengan (ultrasonic cleaner Krisbow), timbangan
ultrasonik ini kurang diimbangi dengan nilai analitik, oven listrik, rotation viscometer
ekonomi dari pelarut etanol. Seiring dengan Brokfield RV DVE (Jerman),
meningkatnya permintaan/ kebutuhan pasar spectrofotometer uv-vis (SP-300
dan berbagai industri pengguna etanol spectrophotometer Optima), grinder,
berdampak pada peningkatan harganya, screener, dan peralatan gelas.
sehingga penggunaan solven lain yang lebih
murah menjadi alternatif penting dan 2.2 Prosedur percobaan
menarik terutama jika metode purifikasi 2.2.1 Ekstraksi senyawa non glukomanan
tersebut akan diterapkan di tingkat industri Tepung porang kering sebanyak 10 g
nantinya. dimasukkan ke dalam beaker gelas 200 ml dan
Isopropanol atau Isopropil alkohol ditambahkan 80 ml larutan IPA 80%
(IPA) memiliki sifat kepolaran mirip dengan (Widjanarko, 2011a). Ekstraksi berbantu
etanol sehingga kemampuannya dalam ultrasonik dengan variasi waktu ekstraksi 5,
mengekstraksi glukomanan dimungkinkan 10, 15, 20, 25 menit pada frekuensi 20 kHz

46
atau 40 kHz dijalankan. Setelah itu endapan hasil pemurnian dihitung rendemennya dan
tepung dipisahkan dari pelarutnya melalui dianalisis kadar glukomanan (Peiying et al,
proses penyaringan dan dikeringkan di dalam 2002; Chua et al, 2012) dan viskositas
oven pada suhu 40°C selama 24 jam. (modifikasi Peiying et al., 2002).
2.2.2 Analisis kimia
Tepung porang kasar sebelum digunakan 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
untuk penelitian dilakukan analisis kimia 3.1. Analisis Bahan Baku
meliputi kadar glukomanan (Peiying et al, Hasil analisis komposisi kimia dari
2002; Chua et al, 2012) dan kadar proksimat tepung porang kasar (common konjac flour,
(air, abu, protein, lemak, pati, dan serat kasar CKF) disajikan pada Tabel 1.
menurut AOAC, 2005). Sementara itu, tepung

Tabel 1. Komposisi kimia tepung umbi porang (Amorphophallus oncophillus)


Kandungan, dalam % (bobot basah)
Komponen
Widjanarko,2011a Widjanarko,2011b Arifin,2001 Penelitian ini
Glukomanan 71,83 64,77 64,98 64,28
Air td 9,80 6,8 8,46
Abu td 3,49 7,88 5,69
Protein td 2,70 3,42 4,28
Lemak td 1,69 0,00 0,00
Pati td 2,90 10,24 11,2
Serat kasar td - 5,9 5,13
td = tidak diukur

Hasil analisis menunjukkan bahwa dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain
komponen utama glukomanan dalam iklim, umur tanaman, waktu pemanenan
tepung porang penelitian ini mempunyai (Ohtsuki, 1968; Arifin, 2001), kondisi
kadar sebesar 64,28%. Kadar glukomanan tanah tempat tumbuh (Anam, 2008),
(GM) porang ini nilainya hampir sama perlakuan pasca panen dan bagian-bagian
dengan kadar GM porang yang dilaporkan yang diambil/digiling (Sumarwoto, 2007).
oleh Arifin (2001) dan Widjanarko dkk.
(2011b), tetapi sedikit lebih rendah dari 3.2. Pengaruh Frekuensi Ultrasonik dan
kadar GM porang Amorphophallus Waktu Pencucian
oncophillus yang dilaporkan Widjanarko 1. Kadar glukomanan
dkk. (2011a), yaitu 71,83%. Pengaruh waktu pencucian berbantu
Komposisi kadar proksimat tepung ultrasonik terhadap kadar glukomanan
porang kasar dalam penelitian ini tidak tepung porang hasil pemurnian (purified
mengandung lemak, dan didominasi konjac flour, PKF) pada frekuensi 20 kHz
dengan senyawa makromolekul yakni pati, dan 40 kHz ditampilkan pada Gambar 1.
protein dan serat; dengan kandungan Hasil pemurnian menunjukkan bahwa
proksimat terbesar yakni pati (11,2 %). perlakuan pada frekuensi 20 kHz dihasilkan
Komposisi proksimat ini hampir serupa kadar GM lebih tinggi dibandingkan
dengan komposisi proksimat tepung porang dengan frekuensi 40 kHz untuk setiap
yang dilaporkan oleh Arifin (2001). waktu pencucian yang sama. Hal ini karena
Dari Tabel 1 menunjukkan bahwa semakin rendah frekuensi ultrasonik
meskipun berasal dari spesies yang sama semakin besar gelembung kavitasi yang
(Amorphophallus oncophillus), komposisi dihasilkan sehingga energi yang dilepaskan
kimia porang bisa berbeda-beda. Hal ini ketika gelembung kavitasi pecah pun
karena kandungan umbi porang semakin besar.

47
80

75

% Glukomanan
70

65

60 % GM (20 kHz)
55 % GM (40 kHz)

50
5 10 15 20 25
Waktu (menit)
Gambar 1. Pengaruh waktu ekstraksi ultrasonik pada frekuensi 20 kHz dan 40 kHz terhadap
kadar glukomanan tepung porang pemurnian. Konsentrasi larutan IPA 80%; rasio
pelarut-bahan baku 8:1 (mL/g); ukuran tepung 80 mesh; suhu kamar.

Fuchs (2011) menyatakan bahwa Gambar 1 menunjukkan bahwa


gelembung yang lebih besar yang kadar glukomanan tertinggi dicapai pada
dihasilkan oleh frekuensi ultrasonik lebih pencucian dengan waktu 10 menit baik
rendah akan lebih efektif dalam pada perlakuan frekuensi 20 kHz maupun
menghilangkan kontaminan daripada 40 kHz, dimana besarnya masing-masing
gelembung kecil yang dihasilkan oleh adalah 76,04% dan 70,19%. Ekstraksi
frekuensi lebih tinggi. Sementara itu dengan waktu lebih dari 10 menit
menurut Pereira (2010), pada pencucian menghasilkan kadar glukomanan yang kian
(cleaning) ultrasonik terdapat hubungan menurun seiring dengan bertambahnya
antara penggunaan frekuensi ultrasonik waktu. Hal ini karena pada waktu yang
dengan ukuran kontaminan yang akan lebih lama, pecahnya gelembung kavitasi
dihilangkan. Frekuensi antara 20-40 kHz yang menghasilkan mikrojet yang
secara umum digunakan untuk mengarah ke permukaan granula tepung
menghilangkan partikel dengan ukuran porang tidak hanya menyebabkan lapisan
lebih besar dari 4 μm, sedangkan untuk pengotor terabrasi tetapi juga akan
partikel dengan diameter kurang dari 1 μm mengikis atau merusak sebagian molekul
lebih efektif dihilangkan dengan frekuensi glukomanan sehingga jumlah glukomanan
40 kHz. Berdasarkan Tabel 1 diketahui dalam tepung porang pemurnian menjadi
bahwa kontaminan terbesar dalam tepung berkurang dan mengakibatkan penurunan
porang adalah senyawa-senyawa kadar glukomanan tepung porang
makromolekul, yakni pati, protein dan pemurnian.
serat, yang umumnya memiliki diameter Hasil serupa dikemukakan beberapa
partikel lebih dari 4 μm. Ukuran partikel peneliti, diantaranya Ying et al. (2011)
pati berkisar antara 5 – 80 μm (Gregorova dan Widjanarko dkk. (2011a). Ying et al.
dan Pabst, 2007), protein 1-1.000 μm, dan (2011) melaporkan bahwa pada ekstraksi
serat 10 – 25 μm (Wang, 2008). Oleh polisakarida berbantu ultrasonik dari daun
karena itu, kontaminan non glukomanan mulberry pada variasi waktu 10-50 menit,
dalam CKF lebih banyak yang hilang atau ekstrak polisakarida optimum dicapai pada
terkikis oleh efek kavitasi akustik pada perlakuan ultrasonik 20 menit dan setelah
frekuensi 20 kHz daripada frekuensi 40 itu semakin menurun. Widjanarko dkk.
kHz. Akibatnya kemurnian (kadar (2011a) menyampaikan bahwa pada
glukomanan) PKF frekuensi 20 kHz pencucian ultrasonik dari tepung porang
diperoleh lebih tinggi dibanding PKF (Amorphophallus oncophillus) dengan
frekuensi 40 kHz. etanol 40% lebih dari 5 menit didapatkan

48
kadar glukomanan PKF adalah cenderung tingginya kadar glukomanan PKF pada
semakin turun. Menurut Ying et al. (2011) frekuensi 20 kHz juga diikuti dengan
dan Baig et al. (2010), perlakuan dengan tingginya nilai viskositas dibandingkan
ultrasonik dalam waktu lama dapat dengan PKF frekuensi 40 kHz pada semua
menyebabkan senyawa hasil ekstraksi atau variasi waktu ekstraksi. Semakin besar
materi yang diiradiasi dapat mengalami kadar GM maka viskositas PKF semakin
kerusakan karena pengikisan (abrasi), tinggi, demikian sebaliknya. Viskositas
terdegradasi, atau terdepolimerisasi. tepung porang perlakuan diperoleh
tertinggi pada kadar GM terbesar yakni
2. Viskositas pada waktu ekstraksi 10 menit, dimana
Pengaruh waktu pencucian berbantu besarnya masing-masing adalah 12.800
ultrasonik terhadap viskositas tepung hasil cPs untuk PKF frekuensi 20 kHz dan
pemurnian pada frekuensi 20 kHz dan 40 10.080 cPs untuk PKF frekuensi 40 kHz.
kHz ditampilkan pada Gambar 2.
Berdasarkan Gambar 2 nampak bahwa
14000

12000
Viskositas (cps)

10000

8000
Viskositas (20 kHz)
6000 Viskositas (40 kHz)

4000
5 10 15 20 25
Waktu (menit)
Gambar 2. Pengaruh waktu ekstraksi ultrasonik pada frekuensi 20 kHz dan 40 kHz terhadap
viskositas Tepung porang pemurnian. Konsentrasi larutan IPA 80%; rasio pelarut-
bahan baku 8:1 (mL/g); ukuran tepung 80 mesh; suhu kamar

Hal ini sesuai dengan hasil studi 3. Rendemen


yang dilakukan Chua et al. (2012) maupun Pola atau kecenderungan viskositas
Widjanarko dkk. (2011a, 2011b) yang yang serupa dengan kadar glukomanan
melakukan studi pemurnian glukomanan tepung porang pemurnian (Gambar 1 dan
dari tepung umbi Amorphophalus sp 2), ternyata tidak diikuti dengan rendemen
menggunakan larutan etanol. Hasil PKF. Dari Gambar 3 terlihat bahwa
penelitian mereka menunjukkan bahwa rendemen tepung porang pemurnian pada
peningkatan kadar glukomanan tepung frekuensi 40 kHz lebih tinggi daripada
porang pemurnian akan diiringi dengan tepung porang pemurnian pada frekuensi
peningkatan viskositas, demikian pula 20 kHz, dan rendemen tepung porang
sebaliknya. Menurut Widjanarko dkk. pemurnian pada kedua frekuensi diperoleh
(2011a), nilai viskositas berhubungan terus menurun seiring dengan
dengan glukomanan yang terkandung bertambahnya waktu. Rendahnya rendemen
dalam tepung porang. Kadar glukomanan tepung porang pemurnian pada frekuensi
berperan penting dalam peningkatan 20 kHz daripada tepung porang pemurnian
viskositas tepung porang karena frekuensi 40 kHz karena pada frekuensi
glukomanan bersifat kental (Widjanarko rendah lapisan pengotor yang
dkk., 2011b). menyelubungi glukomanan lebih banyak
yang terkikis/hilang sehingga bobot

49
granula tepung porang perlakuan menjadi akan mengikis/merusak sebagian molekul
menjadi kian menyusut. glukomanan dengan meningkatnya waktu
Sementara itu, rendemen tepung pencucian sehingga kandungan GM dan
porang pemurnian yang terus menurun bobot granula tepung porang yang hilang
seiring dengan bertambahnya waktu kian bertambah. Akibatnya, baik kadar GM
pencucian disebabkan karena pecahnya maupun rendemen tepung porang
gelembung kavitasi mula-mula akan pemurnian pun sama-sama menurun pada
mengikis lapisan pengotor pada pencucian lebih dari 10 menit.
permukaan molekul glukomanan sehingga Hasil serupa diperoleh Widjanarko
akan mengurangi bobot granula tepung dkk. (2011a) untuk kajian pengaruh waktu
porang. Abrasi pengotor ini diperkirakan ekstraksi berbantu ultrasonik (5, 15, dan 25
terjadi pada 10 menit pertama, dimana menit) dengan larutan etanol terhadap yield
kadar glukomanan tepung porang tepung porang perlakuan. Pada ekstraksi
pemurnian terus meningkat (Gambar 1) dengan larutan etanol 40 % didapatkan
sebaliknya rendemen tepung porang bahwa yield tepung porang perlakuan
pemurnian cenderung turun (Gambar 3). semakin menurun dengan bertambahnya
Setelah itu pecahnya gelembung kavitasi waktu ekstraksi.

100
98
Rendemen (%)

96
94
92 Rendemen (20kHz)
Rendemen (40 kHz)
90
88
0 5 10 15 20 25 30

Waktu (menit)
Gambar 3. Pengaruh waktu ekstraksi ultrasonik pada frekuensi 20 kHz dan 40 kHz terhadap
rendemen. Konsentrasi larutan IPA 80%; rasio pelarut-bahan baku 8:1 (mL/g); ukuran
tepung (CKF) 80 mesh; temperatur kamar

Guna menentukan kondisi pencucian Kadar GM dari tepung perlakuan terbaik


terbaik untuk proses pemurnian tepung porang, penelitian ini diperoleh lebih tinggi (76,04 %)
maka parameter kimia fisik yang dipilih yaitu dibandingkan tepung porang sebelum
parameter kemurnian (kadar glukomanan) pemurnian (64,28 %). Kadar glukomanan ini
PKF. Hal ini karena standar mutu tepung sedikit di bawah standar tepung glukomanan
glukomanan pada umumnya lebih mutu food grade di USA, yakni > 80%
menitikberatkan pada persyaratan parameter (Mulyono, 2010) dan standar PKF di China,
tersebut (Mulyono, 2010; Peiying et al., 2002). yakni > 85% (Peiying et al., 2002).
Oleh karena itu, frekuensi dan waktu terbaik
untuk pemurnian glukomanan dari tepung 4. KESIMPULAN
porang pada penelitian ini adalah frekuensi Kondisi terbaik proses pemurnian
dan waktu pencucian yang memberikan nilai tepung porang (Amorphophallus oncophillus)
kadar glukomanan PKF tertinggi, yaitu dengan metode ekstraksi ultrasonik
frekuensi 20 kHz dan waktu ekstraksi menggunakan isopropanol diperoleh pada
ultrasonik 10 menit. frekuensi 20 kHz dan waktu ekstraksi 10

50
menit, dengan kadar glukomanan 76,1%, Gregrova, E. And Pabst, W.(2007). Porosity
viskositas 12.800 cPs dan rendemen 96,1%. and Pore Siiize Control in S tarch
Consolidation Casting of Oxide
DAFTAR PUSTAKA Ceramics-Achievements and Problems.
Aguda, R.M. (2007). Modeling the Solubility Journal of the European Ceramics
of Sclareol in Organic Solvent Using Society 27 : 669 - 672
Solubility Parameter. North Carolina
American Journal of Applied Sciences 6 John, F. (2002). Ultrasonic Cleaning :
(7): 1390-1395. Fundamental Theory and Application.
Unpublised article.
Anam K., Rodiyati A. dan Gustini E. (2008).
Perbandingan Kadar Senyawa Koeswara S. (2009). Ebook Pangan : Iles-iles
Glukomanan dan Kalsium Oksalat pada dan hasil olahannya. Diakses 16 Agustus
Beberapa Varian Porang 2012.http://ebookpangan.com
(Amorphophallus muelleri Blume.) dari
Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Leong, T., Ashokkumar and Kentish S. (2011).
Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Malang The Fundamental of Power Ultrasound.
: Jurusan Biologi FMIPA. Universitas Acoustic Australia. 39 (2) : 54-63
Brawijaya,
Mulyono, E. (2010). Peningkatan mutu tepung
AOAC (2005). Official of Analysis of The iles-iles (Amorphophallus oncophyllus)
Association of Official Analytical food grade (glukomanan 80%) melalui
Chemistry. Arlington : AOAC Inc teknologi pencucian bertingkat dan
enzimatis. Bogor : Laporan Penelitian.
Arifin, M.A.(2001). Pengeringan keripik umbi Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian.
iles-iles secara mekanik untuk
meningkatkan mutu keripik iles. Thesis. Mutia, R. (2011). Pemurnian Glukomanan
Teknologi Pasca Panen. Bogor : PPS-IPB. secara Enzimatis dari Tepung Iles-iles.
Skripsi. Teknologi Pasca Panen. Bogor :
Baig, S., Farooq, R. and Rehman, F. (2010). IPB
Sonochemistry and Its Industrial
Applications. World Applied Sciences Ogasawara, S., Yamazaki, H. & Nunomura,
Journal 10 (8): 936 - 944 W. (1987). Electrophoresis on konjac
mannan gel. Seibutsu Butsuri Kagaku.
Chemat F., Z. Huma, and M. K. Khan. 2011. 31:155–158
Applications of ultrasound in food
technology: Processing, preservation and Ohashi (2000). Clarified Konjag
extraction. Ultrasonics Sonochemistry.18 Glucomannan. United States Patent
: 813–835 6162906

Chua, M., Chana, K., Hockinga, T.J., Ohtsuki, T. (1968). Studies on reserve
Williams, P.A., Perrya, C.J., Baldwina,T. carbohydrates of four amorphophallus
C. (2012). Methodologies for the species with special reference to mannan.
extraction and analysis of konjac Bot. Mag. Tokyo. 81: 119-126
glucomannan from corms of
Amorphophallus konjac K. Koch. Peiying, L., Zhang, S., Zhu, G., Chen, Y.,
Carbohydrate Polymers. 87:2202–2210 Quyang, H., Han, M., Wang, Z., Xiong,
W., and Peng, H. (2002). Professional
Fuchs, J. (2011). Ultrasonics – Number and Standart of The Peoeple’ Republic of
Size of Cavitation Bubbles. China for Konjac Flour. NY/T : 494-2002
http://www.ctgclean.com/tech-
blog/2011/12/ultrsonics-number-and- Pereira A.H.A. (2010). Ultrasonic Cleaning :
size-of-cavitation-bubbles/. Overview and State of the Art. Technical
Retrieved date, July 3, 2013 Report RT-ATCP-02. ATCP Physical

51
Engineering. ww.atcp-ndt.com /
ha@atcp.com.br. São Carlos - Brazil

Sugiyama, N., Shimahara, H. & Andoh, T.


(1972). Studies on mannan and related
compounds. I. The purification of konjac
mannan. Bulletin of the Chemical Society of
Japan. 45: 561–563.

Sumarwoto. 2007. Review : Kandungan


Mannan padaTanaman Iles-iles
(Amorphophallus muelleri Blume.).
Bioteknologi. 4 (1) : 28- 32

Suslick, S. (1995). Applications of Ultrasound


to Materials Chemistry. MRS Bulletin : 29-
34.

Vilkhu K., R. Mawson, L. Simons, and D.


Bates. (2008) Applications and
Opportunities for Ultrasound
assistedExtraction in The Food Industry
– A Review. ScienceDirect : Innovative
Food Science and Emerging
Technologies 9 : 161 -169

Wang, Y. (2008). Cellulose Fiber Dissolution


in Sodium Hydroxide Solution at Low
Temperature : Dissolution Kinetics and
Solubility Improvement. Thesis. Georgia
Institute of Technology

Widjanarko, S.B., Faridah, A. and Sutrisno, A.


(2011a).Effect of Multi Level Ethanol
Leaching on Physico-Chemical Properties
of Konjac Flour (Amorphophallus
Oncophyllus). Technical paper presented
at the 12th ASEAN Food Conference,
BITEC Bangna, Bangkok, Thailand. 16 -18
June

Widjanarko S.B., Aji S., dan Anni S. (2011b).


Efek Hidrogen Peroksida terhadap Sifat
Fisiko-Kimia Tepung Porang
(Amorphophallus Oncophyllus) dengan
Metode Maserasi dan Ultrasonik. Jurnal
Teknologi Pertanian. 12 : 143 – 152.

Ying, Z., Han X., and Li,J. (2011).


Ultrasound-assisted Extraction of
Polysaccharides from Mulberry Leaves.
Food Chemistry.127 : 1273 - 127

52