Anda di halaman 1dari 3

1.

Jelaskan perbedaan pengaturan mengenai perkawinan menurut Fikih


Munakahat, UU Perkawinan, dan Kompilasi Hukum Islam!

2. Sebutkan dan jelaskan penyebab putusnya perkawinan!

Jawaban
1. Hukum Melakukan Perkawinan
a. Wajib
Bagi orang yang tealh memiliki keinginan kuat untuk kawin, dan mampu
untuk melaksanakan dan memikul beban kewajiban, serta ada kekhawatiran jika tidak
kawin akan terjerumus melakukan zina.
b. Sunah
Bagi orang yang telah memiliki keinginan kuat untuk kawin, dan mampu
untuk melaksanakan dan memikul beban kewajiban, tapi jika tidak kawin tidak ada
kekhawatiran melakukan zina.
c. Haram
Bagi orang yang belum berkeinginan, serta tidak mampu memikul kewajiban,
sehingga bila kawin akan menyusahkan istri
d. Makruh
Bagi orang yang mampu dari segi materil, cukup daya tana mental dan agama
sehingga tidak khawatir terjerumus berbuat zina, tapi ia khawatir tidak dapat
memenuhi kewajibannya, meskipun tidak berakibat menyusahkan istri.
e. Mubah
Bagi orang yang memiliki harta, tapi jika tidak kawin khawatir akan berbuat
zina dan andaiakn kawinpun tidak merasa khawatir akan menyia-nyiakan kewajiban
terhadap istrinya.
Rukun Perkawinan Menurut Fiqih Munakahat
1. Akad nikah
2. Mempelai pria dan wanita
3. Wali
4. orang Saksi
Rukun kawin berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (KHI)
1. Akad nikah
2. Mempelai pria dan wanita
3. Wali
4. 2 orang Saksi
Syarat perkawinan menurut fiqih munakahat
1. a. Syarat akad nikah:
2. Dimulai dengan ijab dan qabul
3. Materi ijab dan qabul tidak boleh berbeda
4. Ijab dan qabul harus dilakukan secara bersambungan tanpa terputus
5. Ijab dan qabul tidak boleh mengandung ungkapan
6. Ijab dan qabul harus menggunakan lafaz yang jelas dan terang
7. b. Syarat mempelai pria dan wanita:
8. Kedua pihak jelas identitasnya
9. Sama-sama beragama islam
10. Antara keduanya tidak ada larangan menlangsungkan perkawinan
11. Kedua pihak setuju untuk kawin
12. Keduanya telah mencapai usia yang layak untuk kawin
c. Syarat wali:
Syarat wali adalah Dewasa; Berakal sehat; Laki-laki; Muslim; Orang
merdeka; Tidak dalam pengampuan; Berfikiran baik; Adil; dan Tidak sedang
melakukan ihram.
d. Syarat saksi:
Syarat saksi adalah Saksi paling sedikit berjumlah 2 orang; Beragama
Islam; Orang merdeka; Laki-laki; Bersifat adil dalam arti tidak pernah
melakukan dosa besar. Ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan adil pada saksi
perkawinan; Dapat mendengar dan melihat.
Perkawinan berdasarkan Undang-Undang Perkawinan (UUP)
a. Pengertian
Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan
seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah
tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan YME.”
b. Tujuan Perkawinan
Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia
dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

. Perkawinan berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (KHI)


a. Pengertian
Perkawinan adalah pernikahan yaitu akad yang sangat kuat atau
miitsaaqan gholiidhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya
merupakan ibadah.
b. Tujuan Perkawinan
Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga
yang sakinah (tentram), mawaddah (saling mencintai), dan rahmah (kasih
sayang).
c. Syarat Sah
Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai
dengan Pasal 2 ayat (1) Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan.

2. Akibat Putusnya Perkawinan Berkaitan dengan Iddah


1. Iddah kematian, baik sudah diagauli atau belum oleh suaminya masa iddahnya 4
bulan 10 hari
2. Perempuan yang belum digauli oleh suaminya maka tidak ada masa iddah
3. Perempuan yang sedang hamil maka masa idahnya sampai melahirkan
4. Perempuan yang sudah digauli suaminya dan masih haid, maka masa iddahnya 3
kali quru (haid)
5. Perempuan yang digauli suaminya tidak hamil dan terhenti masa haidnya maka
masa iddahnya 3 bulan