Anda di halaman 1dari 32

BUKTi AUDIT dan kertas kerja audit

Audit Keuangan Sektor Komersial – Prodi D3 Akuntansi PKN STAN 2019


Bukti Audit (audit evidence)
• Bukti audit adalah bukti yang dikumpulkan dan diuji oleh auditor untuk menentukan
apakah laporan keuangan disajikan sesuai dengan standar pelaporan keuangan yang
berlaku (sesuai dengan SAK/sesuai dengan framework pelaporan keuangan – financial
reporting framework).
• Untuk menjamin pencapaian tujuan audit secara efektif, yaitu memberikan opini auditor
dengan tepat, auditor diwajibkan mengumpulkan bukti audit yang kompeten
(tepat/appropriate) dalam jumlah yang cukup (sufficient), atau sufficient appropriate
evidence.
• Kompetensi atau ketepatan bukti berhubungan dengan kualitas bukti, sedangkan
kecukupan bukti berhubungan dengan jumlah atau kuantitas bukti.
• Bukti audit laporan keuangan terdiri dari:
 Bukti pembukuan (accounting records), seperti jurnal, buku pembantu, dan buku
besar, atau file transaksi dan file induk (master file).
 Bukti pendukung (supporting information), seperti bukti transaksi dan bukti-bukti
pendukung pembukuan yang lain.
Kompetensi dan keandalan (reliability) bukti audit
▪ Kompetensi bukti dipengaruhi oleh ▪ Keandalan bukti ditentukan oleh:
beberapa faktor, seperti: 1. Independensi penyedia bukti
1. Relevansi bukti 2. Efektivitas pengendalian internal
2. Sumber bukti auditee
3. Kemutakhiran bukti 3. Pemahaman / Pengetahuan Auditor
4. Obyektivitas bukti 4. Kualifikasi / kompetensi individu yang
5. Sirkulasi bukti memberikan bukti
5. Tingkat obyektivitas
6. Ketepatan waktu (Timeliness)
Pengambilan keputusan terkait bukti audit
▪ Pengambilan Keputusan
terkait Bukti Audit:
AUDIT PROGRAM
1. Prosedur Audit Yang It includes a list of the audit procedures
Digunakan the auditor considers necessary.
2. Jumlah Sample yang
dipilih untuk tiap  Sample sizes
prosedur  Items to select
3. Jumlah yang diambil  Timing of the tests
dari populasi
4. Waktu pelaksanaan
Many auditors use audit software
prosedur Audit
packages to generate audit programs.
Pengambilan keputusan dan kualitas bukti audit
Qualities Affecting Persuasiveness
Audit Evidence Decisions of Evidence
Audit procedures and timing • Appropriateness • Dalam proses pengambilan
• Relevance keputusan terkait bukti audit
• Reliability yang dibutuhkan dalam
• Independence of provider
setiap penugasan audit,
• Effectiveness of internal controls
aspek kelayakan dan biaya
• Auditor's direct knowledge
• Qualifications of provider harus dipertimbangkan.
• Objectivity of evidence • Tujuan audit adalah untuk
• Timeliness mendapatkan bukti yang
• When procedures are performed cukup, tepat dan layak
• Portion of period being audited dengan biaya serendah
Sample size and items to select Sufficiency mungkin.
Adequate sample size
Selection of proper population items
Kecukupan (sufficiency) bukti audit

▪ Kecukupan jumlah bukti dipengaruhi


oleh beberapa faktor sebagai berikut:
1. Potensi salah saji: dipengaruhi
oleh risiko bawaan dan risiko
pengendalian serta materialitas
salah saji.
2. Pertimbangan ekonomis:
penambahan sampel dipandang
tidak akan mempengaruhi
kesimpulan auditor.
3. Variabilitas atau heteroginitas
populasi bukti.
Prosedur audit
▪ Prosedur audit adalah langkah-langkah yang ditempuh oleh auditor untuk
mengumpulkan dan menguji bukti audit.
▪ Kategori prosedur audit:
1. Prosedur pemahaman SPI (Sistem Pengendalian Internal)
2. Prosedur pengujian SPI
3. Prosedur pengujian substantif
▪ Prosedur pemahaman SPI dan pengujian SPI ditujukan untuk mengukur kecukupan
dan efektifitas SPI dalam mencegah potensi salah saji.
▪ Hasil pemahaman dan pengujian SPI digunakan untuk menentukan: sifat, saat, dan
luas pengujian substantif.
▪ Sifat audit berhubungan dengan kedalaman audit, saat audit berhubungan dengan
waktu pelaksanaan audit, dan luas audit berhubungan dengan jumlah bukti audit.
Jenis bukti audit (audit evidence)
• Klasifikasi bukti
berdasarkan Prosedur
AuditYang Digunakan.
• Dalam literatur,
penamaan prosedur dan
jenis bukti bisa berbeda
tapi secara umum
memiliki arti yang sama
• Contoh : Inspection
dapat diartikan sebagai
penelusuran terhadap
dokumen laporan
keuangan  vouching &
tracing
• Physical Examination
adalah kegiatan inspeksi
atas fisik asset berwujud
Vouching & tracing
– Vouching dilakukan untuk mendeteksi
Arah Pengujian Asersi (overstatement)
– Vouching juga digunakan untuk
menguji Asersi manajemen mengenai
VOUCHING Eksistensi atau Keberadaan (existence), Penilaian
(Valuation), Hak dan kewajiban (Right
(Menguji potensi overstatement) terjadinya and Obligation), Penyajian dan
pengungkapan (Presentation and
Disclosure).
– Vouching juga memiliki kelemahan,
Pengujian asersi mengenai kelengkapan
Bukti Buku (Completeness) melalui vouching lebih
Jurnal sulit dilakukan karena pengujian
Transaksi Besar
kelengkapan mengharuskan auditor
untuk mencari bukti yang tidak
tercatat.
TRACING
(Menguji potensi understatement) Kelengkapan
Vouching & tracing

Arah Pengujian Asersi – Tracing adalah suatu kegiatan yang merupakan


kebalikan dari Vouching. Arah kegiatan tracing
adalah mengikuti dokumen sumber hingga ke
pencatatannya dalam catatan akuntansi.
VOUCHING Eksistensi atau adapun pelaksanaan dari tracing adalah
mengikuti dokumen sumber, seperti faktur
(Menguji potensi overstatement) terjadinya penjualan atau laporan pengiriman, kemudian
auditor melakukan penelusuran dokumen
sumber tersebut melalui sistem akuntansi ke
pencatatan akhir dalam catatan akuntansi,
seperti jurnal dan buku besar.
– Karena Vouching berlawanan arah dengan
Bukti Buku Vouching, Tracing dapat digunakan untuk
Jurnal menguji asersi manajemen mengenai
Transaksi Besar kelengkapan (completeness).
– Tracing juga dapat digunakan auditor untuk
menguji asersi managemen mengenai penilaian
(valuation) serta penyajian dan pengungkapan
(Presentation and disclosure)
TRACING
(Menguji potensi understatement) Kelengkapan
Jenis dan terminologi bukti audit (audit evidence)
Terms Type of Evidence

Examine Inspection
Scan Analytical procedures
Read Inspection
Compute Analytical procedures
Recompute Recalculation
Foot Recalculation
Trace Inspection/Reperformance
Compare Inspection
Count Physical examination
Observe Observation
Inquire Inquiries of client
Vouch Inspection
Klasifikasi prosedur audit
Prosedur audit dapat diklasifikasi secara detil menjadi sebagai berikut:
1. Prosedur analitis, adalah prosedur pengujian yang dilakukan dengan cara
membandingkan angka objek audit dengan angka pembanding, seperti:
angka periode sebelumnya, angka anggaran, dan angka rata-rata industri.
2. Prosedur tracing, adalah prosedur pengujian dengan cara menelusur dari
bukti transaksi ke bukti pembukuan.
3. Prosedur vouching, adalah prosedur pengujian dengan cara menelusur dari
bukti pembukuan ke bukti transaksi.
Klasifikasi Prosedur audit –
4. Prosedur inspeksi (inspection), adalah prosedur pengujian/pemeriksaan langsung
terhadap bukti audit, misalnya pemeriksaan fisik aset dan pemeriksaan fisik
dokumen.
5. Prosedur matematis, adalah prosedur pengujian kebenaran perhitungan matematis,
seperti penjumlahan, perkalian, dan pembagian. Prosedur matematis juga sering
disebut sebagai Prosedur penghitungan (recalculation) adalah prosedur pengujian
dengan cara melakukan penghitungan ulang objek audit, seperti penghitungan fisik
aset tetap dan penghitungan fisik persediaan.
6. Prosedur konfirmasi (confirmation), adalah prosedur pengujian dengan cara
mempertanyakan secara tertulis kepada pihak ketiga tentang kebenaran objek audit,
misalnya konfirmasi piutang dan konfirmasi persediaan yang disimpan di gudang
umum.
Klasifikasi Prosedur audit –
7. Prosedur observasi (observation), adalah prosedur pengujian dengan cara
menyaksikan suatu proses pelaksanaan kegiatan untuk menghasilkan bukti
audit tertentu, misalnya proses perhitungan fisik persediaan.
8. Prosedur pengerjaan ulang (reperformance) , adalah prosedur pengujian
dengan cara mengerjakan oleh suatu proses yang biasa dilakukan untuk
menghasilkan bukti audit tertentu.
9. Prosedur wawancara (client inquiry) , adalah prosedur pengujian bukti audit
yang dilakukan dengan melakukan wawancara dengan petugas/perjabat yang
terkait. Untuk bisa menjadi bukti audit, wawancara harus dilakukan secara
tertulis.
10. Prosedur audit berbantuan komputer (computer assisted audit
techniques/CAAT), adalah prosedur pengujian yang dilakukan dengan
bantuan komputer terhdap bukti audit yang diproses dengan menggunakan
komputer.
Bukti AUdit
Bukti audit bisa dikelompokkan menjadi:
1. Bukti analitis, hasil dari prosedur analitis
2. Bukti dokumen, hasil dari prosedur tracing, vouching, dan inspeksi dokumen
3. Bukti fisik, hasil dari inspeksi fisik dan perhitungan fisik, serta prosedur
observasi.
4. Bukti matematis, hasil dari pengujian matematis, seperti perkalian,
penjumlahan dst.
5. Bukti konfirmasi, hasil dari pengujian konfirmasi.
Prosedur audit – pengujian substantif
▪ Pengujian substantif adalah pengujian kewajaran saldo akun atau asersi
manajemen.
▪ Prosedur pengujian substantif bisa diklasifikasi dengan urutan sebagai berikut:
1. Prosedur awal
2. Prosedur pengujian analitis
3. Prosedur pengujian detil transaksi
4. Prosedur pengujian saldo akun
5. Prosedur pengujian estimasi Akuntansi
6. Prosedur pengujian penyajian dan pengungkapan
Prosedur audit – pengujian substantif

Audit risk AAR


model = PDR
IR × CR

Substantive Tests of Sufficient


Tests of Analytical
tests of details of appropriate
controls procedures
transactions balances evidence

Further audit procedures


Proses audit

Pelaksanaan Prosedur
Perencanaan dan Analitis
Fase 1 Rancangan Fase III dan Pengujian Rinci
Pendekatan Audit
atas Saldo

Pelaksanaan Penyelesaian Audit


Pengujian Pengendalian
Fase 2 Dan Pengujian Substantif Fase IV dan Penerbitan
Kelas Transaksi Laporan Audit
Fase I –- perencanaan dan perancangan pendekatan audit

Accept client and perform initial planning Penentuan materialitas dan asesmen
Penerimaan penugasan & perencanaan awal risiko audit yang diterima dan risiko inheren

Understand the client’s business and industry Understand internal control and assess control risk
Pemahaman bisnis industri klien Memahami pengendalian internal &
asesmen risiko pengendalian
Assess client’s business risk Gather information to assess fraud risks
Asesmen risiko bisnis klien Pengumpulan Informasi dan asesmen risiko fraud

Perform preliminary analytical procedures Develop overall audit strategy and audit program
Prosedur Analitis Pendahuluan Mengembangkan strategi audit dan program audit
Fase II –- pelaksanan pengujian pengendalian dan pengujian
substantif atas saldo akun

▪ Pengujian substantif
adalah prosedur yang
Perlu mengurangi dirancang untuk menguji
Pengujian tingkat risiko pengendalian No salah saji keuangan yang
Pengendalian (Plan to reduce assessed
level of control risk?) secara langsung
merupakan
mempengaruhi kebenaran
prosedur yang saldo laporan keuangan.
digunakan
untuk menguji
Yes ▪ Tujuan dari pengujian
efektivitas Pelaksanaan Pengujian Pengendalian substantif atas transaksi
kebijakan dan adalah untuk menentukan
prosedur apakah semua tujuan
audit berkaitan dengan
pengendalian Pengujian substantif transaksi transaksi (transaction-
yang diterapkan
related audit objectives)
untuk menilai telah terpenuhi untuk
risiko Asesmen terhadap kemungkinan setiap kelas transaksi.
pengendalian kesalahan penyajian laporan keuangan
Fase III –- pelaksanaan prosedur analitis dan pengujian
rinci atas akun transaksi

▪ Prosedur analitis melibatkan


perbandingan jumlah yang
High or dicatat dengan ekspektasi
Low Medium yang dikembangkan oleh
unknown auditor. Contohnya seperti
perhitungan rasio untuk
Prosedur Analitis membandingkan dengan
rasio tahun lalu dan data lain
yang berhubungan.
Pengujian untuk akun penting
▪ Tujuan prosedur analitis
– Menunjukkan salah saji
Pengujian tambahan yang mungkin dalam LK
untuk detil saldo akun – Memberikan bukti yang
bersifat substantif
Fase IV–- PENYELESAIAN AUDIT DAN PENERBITAN LAPORAN AUDIT
Perform additional tests for
presentation and disclosure
Melakukan pengujian tambahan untuk
penyajian dan pengungkapan
Accumulate final evidence
Mengumpulkan semua bukti audit
Evaluate results
Evaluasi hasil audit
Issue audit report
Menerbitkan laporan audit
Communicate with audit
committee and management
Komunikasi hasil audit
dengan manajemen/komite audit
Pengujian audit untuk siklus penjualan dan penerimaan kas
– TOC (Test of Control) =
Pengujian Pengendalian
– STOT (Substantive test of
transactions) = Pengujuan
substantif transaksi
– AP (Analytical Procedures)
= Prosedur Analisis
– TDB (Test of Detail
Balances) = Pengujian
Detil Transaksi
Keterkaitan prosedur Pengujian audit dengan bukti audit
metodologi perancangan Pengujian audit dan pengujian
substantif atas transaksi
Pendekatan 4 langkah - perancangan Pengujian audit
dan pengujian substantif
perancangan Pengujian rinci saldo akun piutang usaha
▪ Pengujian atas rincian saldo
berfokus pada saldo akhir buku
besar baik untuk akun neraca
maupun laporan laba rugi.
Penekanan utamanya dalam
sebagian besar pengujian rincian
saldo adalah pada neraca
▪ Pengujian ini dapat membantu
dalam menetapkan kebenaran
jumlaj saldo akun-akun yang
berhubungan  dan oleh
karenanya disebut pengujian
substantif
perancangan Pengujian rinci saldo akun piutang usaha
Kertas kerja audit
Kertas Kerja Audit adalah seluruh dokumen pelaksanaan audit yang
dikumpulkan atau dibuat oleh auditor selama proses pelaksanaan audit,
mulai dari perencanaan audit sampai dengan pelaporan hasil audit.

Fungsi Kertas Kerja Audit:


1. Sebagai alat perencanaan audit
2. Sebagai alat koordinasi pelaksanaan audit
3. Sebagai alat pengendalian pelaksanaan audit
4. Sebagai alat pembuktian pelaksanaan audit
5. Sebagai alat pendukung kesimpulan audit
Bentuk Kertas kerja audit
1. Program audit / Audit Program, berfungsi untuk mendeskripsikan:
a. Tujuan audit
b. Cara atau prosedur yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan audit
c. Pedoman dalam membuat kesimpulan audit.
d. Siapa yang harus melaksanakan audit, termasuk siapa yang harus mereviu kertas kerja
audit.
e. Target waktu pelaksanaan dan penyelesaian audit.
2. Memo audit, adalah catatan auditor dalam bentuk narasi untuk mendeskripsikan fakta,
pandangan, serta catatan-catatan penting lain.
3. Daftar pendukung (supporting schedules), adalah tabel atau analisis tertulis untuk
mendeskripsikan secara detil saldo akun tertentu.
4. Daftar utama (lead schedule) adalah dokumen yang digunakan untuk meringkas daftar
pendukung.
Bentuk Kertas kerja audit
5. Kompilasi kertas kerja (working trial balance/WTB), adalah tabel untuk
mengkompilasi seluruh kertas kerja (daftar utama) yang dibuat selama proses
pelaksanaan audit. WTB berfungsi untuk memudahkan auditor dalam melihat
pengaruh seluruh kertas kerja terhadap laporan keuangan yang diaudit. WTB
terdiri dari WTB untuk neraca dan WTB untuk laporan laba rugi.
6. Informasi pendukung, adalah berbagai dokumen yang dikumpulkan untuk
kepentingan audit, misalnya: copy manual akuntansi, copy notulen rapat
manajemen atau komisaris, copy kontrak-kontrak bisnis, serta copy dari dokumen
penting yang lain.
Questions ?