Anda di halaman 1dari 20

INISIASI 8.

1
JAMINAN SOSIAL DAN ASURANSI SOSIAL

A. Sistem Jaminan Sosial


1. Sejarah Sistem Jaminan Sosial
Sistem Jaminan Sosial (National Security System), diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh
Otto von Bismarck seorang pemimpin/ negarawan bangsa Prussia/German pada tahun 1883 sebagai
upaya untuk menyejahterakan kehidupan masyarakat. Jaminan sosial pada umumnya dianggap
sebagai salah satu usaha untuk membantu manusia menghadapi kesulitan sosial ekonomi yang paling
dasar. Usaha-usaha ini sebenarnya telah dilakukan manusia sejak dahulu kala. Dalam masyarakat
tradisional. hubungan keluarga merupakan perlindungan yang diharapkan para anggotanya untuk
mengatasi kesusahan dan keterlantaran. Anggota keluarga yang lebih muda atau yang lebih mampu
diharapkan membantu anggota yang lebih tua atau kurang beruntung. Demikian juga perkumpulan-
perkumpulan keagamaan dengan melalui pengumpulan dana dan zakat fitrah berupaya membantu
mereka yang miskin atau yang membutuhkan bantuan.
Dalam bentuk formal, di negara-negara Eropa pada abad 18 berlaku Undang-Undang
Kemiskinan (poor law) di mana orang-orang miskin secara legal dapat memperoleh bantuan.
Peraturan perundangan tersebut dimaksudkan untuk mencegah gejolak sosial yang waktu itu sangat
potensial karena tumbuhnya kaum proletar. Namun, bantuan itu hanya diberikan kepada mereka
yang benar-benar tidak memiliki sumber penghidupan lagi. Penerima bantuan itu dianggap sebagai
orang yang papa dan terlantar, sehingga tidak lagi memiliki hak-hak sipil. Karena itu tidak seorang
pun yang berusaha untuk meminta bantuan itu, kecuali tidak ada cara lain lagi.
Pada abad 19, negara-negara Eropa Barat mengalami revolusi industri yang kemudian diikuti
dengan proses industrialisasi. Proses ini menimbulkan golongan penduduk baru berupa pekerja
pabrik yang kehidupannya sama sekali tergantung dari penerimaan upah, sehingga sangat peka
terhadap peristiwa-peristiwa yang dapat mengganggu kelangsungan penghasilannya itu seperti sakit,
kecelakaan dan pemutusan hubungan kerja. Untuk menanggulangi peristiwa-peristiwa tersebut,
pemerintah atau masyarakat sendiri mengembangkan metode-metode perlindungan terhadap para
pekerja, seperti :
(1) Penggalangan tabungan kecil bagi pekerja berpenghasilan rendah,
(2) Pemberian tanggung jawab/kewajiban para pengusaha terhadap kesejahteraan karyawannya, dan
(3) Pertanggungan karyawan parta program asuransi industri (premi kecil) dari perusahaan asuransi
komersial.

Kemudian temyata bahwa ketiga metode tersebut kurang efektif untuk memberikan jaminan
masa depan pekerja. Dalam program tabungan kecil memberikan jaminan masa depan, pekerja
ternyata sulit menyisihkan sedikit penghasilannya secara sukarela. Dalam program tanggung jawab
pengusaha, pekerja berada pada pihak yang lemah untuk mengajukan haknya, bila terjadi peristiwa
yang merugikan. Dalam program asuransi komersial, temyata terdapat seleksi peserta dari golongan
risiko yang baik saja.
Menghadapi permasalahan tersebut, pemerintah harus mencari sistem alternatif yang terbaik
bagi negaranya masing-masing. Dalam hal ini, pemerintah Jerman di bawah Kanselir Otto Von
Bismarck membentuk suatu sistem perlindungan sosial ekonomi bagi pekerja industrinya yang
kemudian temyata merupakan sistem asuransi sosial yang pertama di dunia. Jerman dapat
menemukan sistem ini, karena tidak begitu terikat pada prinsip liberalisme seperti negara Eropa
Barat lainnya, dan tetap dipengaruhi oleh tradisi Rusia yang berpaham otoritarian dan paternalistis.
Sistem asuransi sosial Jerman dilancarkan dalam tiga tahap, yaitu:
(1) 1883 : asuransi
(2) 1884 : asuransi kecelakaan kerja, dan
(3) 1889 : asuransi pensiun hari tua dan pensiun cacat.
Pelaksanaan sistem ini dilakukan secara wajib bagi pekerja di daerah perkotaan yang sebelumnya
merupakan golongan yang membutuhkan bantuan dari perundang-undangan kemiskinan.
Sistem Jerman ini segera diikuti oleh Austria, dan setelah 30 atau 40 tahun kemudian oleh
Inggris dan negara Eropa lainnya, Rusia dan Jepang. Setelah depresi besar tahun 1930, asuransi
sosial menyebar ke Amerika Latin, Amerika Serikat, dan Kanada. Di Asia dan Afrika, asuransi sosial
dimulai pada waktu berbeda setelah akhir Perang Dunia II yaitu sesudah kemerdekaan nasional dari
masing-masing negara.
Saat ini sistem jaminan sosial telah berkembang di seluruh dunia. Di sebagian besar negara
maju, terutama yang sistem politik dan sistem ekonominya telah mapan, sistem jaminan sosial telah
lama dilaksanakan dengan berbagai bentuk dan model sesuai dengan nilai dan budaya masing-
masing negara.
Kiblat berbagai kemajuan tentang sistem jaminan sosial masyarakat dewasa ini pada umumnya
masih diarahkan ke negara-negara yang tingkat perkembangan ekonominya relatif lebih maju
dibandingkan dengan Indonesia. Tidak seorangpun membantah bahwa sampai dengan abad ini
negara-negara seperti Kanada, Amerika dan sebagian negara anggota Uni Eropa masih menjadi tolok
ukur dalam tingkat kemajuan sistem jaminan sosial masyarakat.
Dalam mengembangkan sistem jaminan sosial masyarakat di negara-negara tersebut, terutama di
Amerika, sektor perasuransian memainkan peran yang sangat besar. Sistem jaminan sosial
masyarakat pada dasarnya ditujukan untuk menyejahterakan kehidupan seluruh anggota warga
bangsa dalam suatu negara. Dengan demikian maka jaminan kesejahteraan mempunyai cakupan
yang sangat luas disamping itu membutuhkan sumber daya yang amat sangat besar. Maka oleh
karena itu perencana dan pengendali dilaksanakan oleh pemerintah, sedangkan dalam hal sebagian
pelaksanaannya dilakukan oleh pemerintah dan sebagian lainnya dimungkinkan untuk dilakukan oleh
masyarakat.

2. Pengertian Jaminan Sosial


Jaminan sosial dapat diartikan dalam ruang lingkup yang luas, sehingga mencakup usaha-usaha
dalam bidang kesejahteraan sosial untuk meningkatkan taraf hidup manusia dan mencegah atau
mengatasi keterbelakangan, ketergantungan, ketelantaran serta kemiskinan pada umumnya.
Pengertian demikian tercantum dalam Undang-Undang No.6 Tahun 1974 tentang Ketentuan-
Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial yang menyatakan bahwa jaminan sosial adalah seluruh sistem
perlindungan dan pemeliharaan kesejahteraan sosial bagi warga negara yang diselenggarakan oleh
pemerintah dan/atau masyarakat. Sedangkan jaminan sosial menurut Undang-undang N0. 40 Tahun
2004 tentang Sistem Jaminan Sosial menyatakan bahwa jaminan sosial adalah salah satu bentuk
perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar
hidupnya yang layak.
Dalam pengertian yang sangat luas ini, jaminan sosial dapat meliputi berbagai jenis pelayanan,
sarana, dan kemanfaatan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat seperti pendidikan dasar,
kesehatan masyarakat, perumahan rakyat, air bersih dan lingkungan hidup, bantuan bencana alam,
yatim-piatu, lanjut usia, serta penyandang berbagai ketunaan. Namun demikian, segala bentuk
kemanfaatan yang diberikan melalui program jaminan sosial ini hanya terbatas pada pemenuhan
kebutuhan manusia yang bersifat dasar dan minimal untuk menjaga harkat serta martabat manusia.
Karena itu maka usaha-usaha di bidang jaminan sosial ini selalu menjadi tanggung jawab
pemerintah, agar kemanfaatan yang cukup vital ini dapat terjamin realisasinya. Bagi mereka yang
mampu memenuhi kebutuhan di atas tingkat jaminan sosial tersebut, maka pemenuhannya
ditanggung sendiri oleh masing-masing.
Sedangkan dalam ruang lingkup yang lebih konkret, jaminan sosial diartikan sebagai
perlindungan terhadap risiko-risiko sosial ekonomi yang dihadapi masyarakat. Dalam
menanggulangi risiko ganda ini, aspek ekonominya temyata lebih menonjol, dan banyak masalah
sosial yang dihadapi melalui penyelesaian secara ekonomis. Pendekatan ekonomis ini sebenarnya
lebih bersifat pragmatis praktis daripada teoretis konsepsional, karena pada umumnya indikator
ekonomis, seperti jumlah jaminan dan besarnya biaya perawatan bisa lebih mudah diukur secara
kuantitatif daripada tolok ukur sosial yang lebih bersifat kualitatif, seperti ketenangan kerja dan
semangat kerja.
Dalam aspek ekonomis ini, risiko dapat dihitung sebagai besarnya kemungkinan (probability)
terjadinya peristiwa, dikalikan dengan besarnya kerugian yang dapat diderita karena terjadinya
peristiwa tersebut. Atas dasar perhitungan risiko ekonomis ini, maka besarnya tingkat jaminan/
santunan/kemanfaatan adalah besar jumlah kerugian yang dapat diderita, sedangkan pembiayaannya
adalah sebesar perkiraan jumlah kerugian tersebut, dikalikan besarnya kemungkinan terjadinya
peristiwa yang bersangkutan.
Karena kompleksitasnya risiko-risiko itu serta luasnya ruang lingkup kepesertaan pada
pengertian di atas, maka dalam prakteknya jaminan sosial sering kali hanya meliput angkatan kerja
yang bekerja secara ekonomis. Hal itu untuk memungkinkan administrasi dan pembiayaannya,
karena kepesertaan tersebut meliputi golongan penduduk yang lebih terorganisasi dan memiliki
penghasilan. Kepesertaan itu pun telah meliputi sebagian besar dari penduduk terutama bila
diperhitungkan dengan keluarganya.
Pengertian yang lebih sempit ini pada umumnya digunakan sebagai pedoman dalam
memberikan definisi mengenai jaminan sosial, karena dianggap lebih realistis dan berlaku secara
umum di semua negara di dunia. Dalam hal ini, secara konkret jaminan sosial diartikan sebagai
program pemerintah untuk memberikan jaminan tunai (cash benefits) bagi anggota masyarakat yang
penghasilannya terputus atau berkurang karena hari tua, sakit, cacat, meninggal dunia atau
menganggur, dan jaminan pelayanan (service benefits) dalam hal anggota masyarakat memerlukan
pengobatan, karena perawatan sakit, hamil dan bersalin. Di banyak negara, pemerintah juga
memberikan tunjangan keluarga (family allowance) bagi mereka yang kurang mampu untuk
memelihara anak-anaknya.
Pengertian di atas akan tetap mencakup ruang lingkup yang cukup luas, bila kita berusaha untuk
mengakomodasikan program-program jaminan sosial di dunia internasional. Namun demikian, setiap
negara biasanya membatasi program-programnya sesuai dengan kebutuhan serta situasi dan
kondisinya. Justru karena fleksibilitas ini, maka jaminan sosial telah diterima secara universal
sebagai program yang berfungsi sebagai santunan sosial, pengentasan kemiskinan, pencegahan
keterlantaran, dan redistribusi penghasilan.

3. Sistem Penyelenggaan Jaminan Sosial


Dalam penyelenggaraan jaminan sosial yang memberikan jaminan sakit, cacat, hari tua,
meninggal dunia dan menganggur, dikenal lima sistem utama, yaitu:
(1) Sistem kewajiban pengusaha (employers' liability scheme),
(2) Sistem kepesertaan universal (universal, non-contributary scheme),
(3) Sistem bantuan sosial (social assistance scheme),
(4) Sistem tabungan hari tua (national provident fund scheme),
(5) Sistem asuransi sosial (social insurance scheme).

Masing-masing sistem memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri, dan dapat


dilaksanakan bersamaan. Namun demikian, sistem asuransi sosial memiliki lebih banyak kelebihan,
dan sistem-sistem lainnya banyak yang diubah menjadi sistem asuransi sosial.

a. Sistem Kewajiban Pengusaha


Dalam sistem ini, peraturan perundangannya memberikan kewajiban kepada pengusaha untuk
bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa tertentu yang merugikan karyawan. Pemerintah
menegakkan dipatuhinya peraturan perundangan tersebut dengan mengawasi terlaksananya
kewajiban pengusaha dimaksud.
Pelaksanaan kewajiban ini diserahkan sepenuhnya kepada pengusaha. la dapat menanggung
sendiri segala kewajiban finansial yang timbul jika peristiwa yang dimaksud menimpa karyawannya.
Atau ia dapat mempertanggungkan risiko tersebut pada perusahaan asuransi komersial.
Sistem ini sering digunakan untuk penyelenggaraan program kecelakaan kerja dan sakit akibat
kerja. Di Indonesia, Undang-Undang No. 2 Tahun 1951 tentang Kecelakaan Kerja mewajibkan
pengusaha untuk memberikan perawatan dan kompensasi atas cacat atau kematian kepada tenaga
kerja atau ahli warisnya, dalam hal terjadi kecelakaan atau penyakit kerja. Pegawai pengawas
ketenagakerjaan dari Kementerian Tenaga Kerja melakukan pengawasan atas terlaksananya
kewajiban pengusaha tersebut.
Kebaikan sistem ini hanya terletak pada kesederhanaan penyelenggaraannya karena diserahkan
pada para pengusaha sendiri, sehingga pemerintah tidak perlu membentuk badan penyelenggara
khusus, cukup mengawasi pelaksanaannya saja. Kelemahannya terletak pada kemampuan finansial
masing-masing pengusaha. Bagi perusahaan besar mungkin dapat memenuhi kewajibannya jika
terjadi kecelakaan/ sakit kerja, tetapi bagi perusahaan kecil akan menjadi beban yang tidak ringan
untuk membayar klaim yang bisa cukup besar jumlahnya. Selain itu tidak mudah bagi pegawai
pengawas ketenagakerjaan untuk mengawasi pelaksanaannya jika pengusaha atau karyawan atau ahli
warisnya tidak melaporkan terjadinya kecelakaan atau penyakit kerja tersebut. Sering kali tenaga
kerja atau ahli warisnya berada pada posisi yang lemah untuk mengajukan ganti rugi kepada
pengusaha
.
b. Sistem Kepesertaan Universal
Berbeda dengan sistem lainnya yang kepesertaannya tertentu/terbatas pada karyawan serta
perusahaan atau tenaga kerja pembayar iuran, maka pada sistem ini kepesertaannya praktis seluruh
penduduk. Pembiayaannya terutama berasal dari perpajakan, meskipun sebagian dapat juga dipenuhi
dengan iuran dari yang bersangkutan.
Sistem ini banyak digunakan di negara industri maju, di mana pemerintah memberikan jaminan
sosial baik berupa asuransi sosial seperti pensiun dan kesehatan serta bantuan sosial serta tambahan
penghasilan (supplementary income). Di negara berkembang, sistem ini terutama digunakan untuk
program kesehatan, seperti Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) di mana masyarakat dapat
memperoleh pelayanan kesehatan dengan biaya yang sangat murah, karena sebagian besar
pembiayaannya berasal dari anggaran Departemen Kesehatan.
Kelebihan dari sistem ini terletak pada kepesertaannya yang sangat luas sehingga jaminan
perlindungannya merata. Kelemahannya terletak pada segi pembiayaannya yang bersumber dari
perpajakan, sehingga jumlah alokasi anggarannya harus bersaing dengan kegiatan-kegiatan rutin
lainnya. Selain itu, sistem ini merupakan bagian dari pelayanan aparatur pemerintah. sehingga sulit
bisa dielakkan terjadinya birokrasi dalam pembiayaan dan pelayanannya.

c. Sistem Bantuan Sosial


Sistem ini juga bisa digunakan untuk menyelenggarakan berbagai program jaminan sosial
seperti pensiun. pelayanan kesehatan, santunan penderita cacat, dan sebagainya. Perbedaannya
dengan sistem lainnya adalah bahwa hak atas jaminan didasarkan atas tes kebutuhan (means test).
Sedangkan dalam sistem yang lain, jaminan diberikan atas dasar hak (a matter of right).
Jaminan dalam sistem bantuan sosial diberikan kepada mereka yang menurut kriteria tertentu
dianggap membutuhkannya. Kriteria tersebut umumnya berupa penghasilan yang tidak
memungkinkan mereka untuk hidup secara layak. Misalnya pelayanan medis cuma-cuma bagi
mereka yang berpenghasilan tertentu atau kurang.
Pembiayaan bantuan sosial bersumber dari perpajakan (pendapatan negara). Di Indonesia,
bantuan sosial diberikan oleh Departemen Sosial seperti bantuan bencana alam, anak yatim piatu,
orang jompo, penderita cacat, dan penyandang ketunaan. Apabila terjadi bencana alam, maka tidak
semua orang yang tertimpa banjir atau lava atau gempa memperoleh bantuan; hanya mereka yang
tidak mampu, mendapatkan bantuan untuk harta bendanya yang rusak. Demikian juga tidak semua
anak yatim piatu atau orang lanjut usia mendapat tempat di panti asuhan; hanya mereka yang tidak
mampu memenuhi kehidupannya atau tidak ada keluarga yang memelihara, diberikan bantuan atau
fasilitas.
Kebaikan sistem ini terletak pada pembiayaan yang dibebankan pada anggaran belanja negara,
sehingga tidak memberatkan yang bersangkutan. Kelemahannya ada pada persyaratan tes kebutuhan.
Karena memang tidak ada iuran langsung dari yang bersangkutan, maka juga tidak timbul hak secara
otomatis bagi setiap orang. Kriteria untuk menentukan siapa yang dapat memperoleh bantuan dan
siapa yang tidak dapat, sering bersifat subyektif dari pejabat yang berwenang.
d. Sistem Tabungan Hari Tua
Pada dasarnya, tabungan hari tua merupakan program tabungan wajib. Tenaga kerja dan
pengusahanya membayar iuran secara tetap pada suatu badan penyelenggara. Iuran tersebut
dikreditkan pada rekening masing-masing tenaga kerja sebagai peserta. Saldo rekening tersebut
memperoleh bunga setiap tahun, dan diberitahu kepada peserta secara periodik dengan pernyataan
saldo (statement of accounf).
Tabungan ini hanya akan dibayarkan kepada/atau hanya bisa ditarik oleh peserta atau ahli
warisnya secara sekaligus (lump-sum) apabila terjadi peristiwa-peristiwa tertentu, yaitu mencapai
umur tertentu, mengalami cacat tetap total, dan meninggal dunia. Selain dari itu program ini sering
juga memungkinkan peserta meminjam atau menarik sebagian dari tabungannya, misalnya untuk
perawatan rumah sakit. pembelian rumah, bea siswa pendidikan.
Oleh karena bersifat tabungan individu program ini tidak mengandung unsur asuransi atau
gotong royong sebab memang tidak ada pengumpulan dan pembagian risiko. Jumlah saldo tabungan
yang akan diterima oleh peserta atau ahli warisnya sama sekali tergantung dari besarnya upah/gaji,
lamanya kepesertaan, dan tingkat bunga yang diberikan pada saldo tersebut pada tiap tahunnya.
Kebaikan dari sistem ini terletak pada kemudahan menjelaskan mengenai prinsip tabungan dan
kesederhanaan dalam pembayaran saldo tabungan secara sekaligus. Kesulitannya menyangkut
kerumitan pada administrasi rekening individu yang harus dapat mencatat iuran masing-masing
peserta setiap tahun. Sistem administrasi tabungan ini memerlukan pembiayaan yang cukup tinggi
sehingga menjadi beban yang tidak kecil bagi badan penyelenggara.

e. Sistem Asuransi Sosial


Sistem ini menggunakan mekanisme asuransi dalam arti melakukan pengumpulan dana dan
pembagian risiko di antara peserta yang mengikuti program jaminan sosial. Dengan demikian terjadi
gotong royong antara mereka yang menghadapi risiko tinggi dengan mereka yang risiko rendah di
mana yang muda membantu yang lebih tua, yang sehat membantu yang sakit, yang tidak terkena
musibah membantu yang terkena musibah. Selain itu apabila iurannya didasarkan atas upah/gaji
tenaga kerja, maka akan terjadi perantaraan antara yang berpenghasilan tinggi dan yang
berpenghasilan rendah.
Dalam sistem ini pembiayaan jaminan sosial ditanggung oleh pengusaha dan tenaga kerja sendiri
sehingga program ini benar-benar merupakan swadaya masyarakat. Mekanisme asuransi sosial ini
yang dianjurkan oleh ILO untuk digunakan sebagai sistem penyelenggaraan jaminan sosial.
Sedangkan program-program yang dapat dilaksanakan melalui sistem ini, yaitu:
1) Program yang memberikan jaminan tunai (cash benefits) untuk menanggulangi hilangnya atau
berkurangnya penghasilan.
(a) Jaminan hari tua
(b) Jaminan cacat
(c) Jaminan sakit/hamil/bersalin
(d) Jaminan menganggur
(e) Jaminan kematian
2) Program yang memberikan jaminan pelayanan (service benefit) untuk menanggulangi tambahan
biaya hidup, seperti pada pemeliharaan kesehatan.

Kelebihan sistem ini terletak pada kegotongroyongan beban risiko dan pemerataan beban biaya
berdasarkan swadaya masyarakat sendiri sehingga benar-benar dapat mewujudkan perlindungan
dasar yang merata, tanpa mem-bebani keuangan negara. Kelemahannya terletak pada kepesertaan
yang biasanya terbatas pada tenaga kerja yang dapat diasuransikan yaitu mereka yang bekerja di
sektor formal dan terorganisasi di daerah perkotaan. Namun demikian kekuatan sistem ini jauh
melebihi kelemahannya, sehingga seringkali sistem kewajiban pengusaha, sistem tabungan hari tua,
dan sistem universal diubah menjadi sistem asuransi ini.
B. Sistem Asuransi Sosial
1. Pengertian Asuransi Sosial
Asuransi sosial adalah program asuransi yang diselenggarakan secara wajib berdasarkan suatu
undang-undang, dengan tujuan untuk memberikan perlindungan dasar bagi kesejahteraan
masyarakat. Asuransi sosial hnya mencakup perlindungan dasar yang biasanya ditentukan dalam
peraturan perundangan. Asuransi sosial secara umum disebut sistem jaminan sosial nasional.
Asuransi sosial ditawarkan melalui beberapa bentuk oleh pemerintah dan bersifat wajib.
Asuransi sosial biasanya diarahkan untuk mensubstitusi penghasilan yang hilang atau berkurang
karena peristiwa kematian, hari tua, gangguan kesehatan dan pengangguran serta memberikan
pelayanan kesehatan.
Saat ini program asuransi sosial semakin diperlukan oleh masyarakat karena :
a. Perubahan Lingkungan
Semakin bertambahnya jumlah kendaraan dan berdirinya pabrik-pabrik membawa perubahan
terhadap kualitas udara. Udara yang semakin kotor akan berdampak kepada kesehatan
masyarakat. Jumlah kendaraan yang bertambah juga mengakibatkan kepadadatan lalu-lintas di
jalan raya, sehingga peluang terjadinya kecelakaan semakin tinggi. Kemudian adanya kemajuan
tehnologi dalam proses produksi di satu sisi mempercepat proses produksi, tetapi disisi lain
potensi risiko kecelakaan juga semakin tinggi.
b. Perubahan Kehidupan Sosial Masyarakat
Perubahan budaya masyarakat yang semakin individualis cenderung tidak peduli terhadap
lingkungan sekitar. Mereka lebih mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli terhadap kejadian-
kejadian di sekitarnya. Masyarakat saat ini cenderung berperilaku ingin serba praktis dan segala
dilakukan asalkan menguntungkan dirinya sendiri. Selain perilaku tersebut saat ini trend
penggunaan tenaga kerja usia muda semakin banyak. Perilaku-perilaku tersebut yang
mengharuskan setiap orang untuk mempersiapkan kemandirian dalam kehidupannya.
c. Peningkatan Harapan Hidup
Semakin banyak orang yang mencapai usia hari tua, walaupun mereka sudah tidak produktif,
tetapi kesejahteraan hidup mereka harus dipenuhi.

Asuransi sosial memiliki karakteristik dasar sebagai berikut:


a. Program Asuransi Bersifat Wajib (Compulsory Program)
Program asuransi sosial merupakan asuransi wajib, meskipun di dalam pelaksanaannya ada
beberapa pengecualian. Program asuransi wajib memiliki dua manfaat utama. Pertama, tujuan
untuk memberikan pendapatan minimal kepada penduduk dapat dicapai dengan relatif lebih
mudah. Kedua, seleksi untuk menjaring peserta yang merugikan dapat direduksi, oleh karena itu
baik penduduk yang sehat maupun penduduk yang tidak sehat dapat diberikan jaminan.
b. Mempertimbangkan Penerima Pendapatan Rendah (Floor of Income)
Program asuransi sosial pada dasarnya dirancang hanya untuk memberikan pendapatan minimal
yang didasarkan kepada masing-masing risiko yang dijamin asuransi. Sebagian besar peserta
didorong selain menjadi anggota program asuransi sosial yang cakupan risiko terbatas, juga
didorong membeli produk-produk asuransi lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan dan
kemampuan masing-masing, misalnya menambah nilai pertanggungan dan atau menambah
dengan aguransi tabungan.
c. Menekankan kepada kesetaraan sosial secara relatif, ketimbang kepada kebutuhan individual
(emphasis on sosial adequacy rather than individual equity)
Kesetaraan sosial, artinya bahwa manfaat yang dibayarkan harus memberikan kebutuhan standar
minimal tertentu bagi seluruh peserta program. Kondisi ini memberikan tekanan bahwa manfaat
yang dibayarkan harus memberikan bobot yang memadai bagi kelompok peserta tertentu, seperti
kelompok peserta dengan pendapatan paling rendah, kelompok peserta dengan jumlah keluarga
tertentu dan kelompok pensiunan tingkat tertentu. Kebutuhan individual, artinya setiap penggiur
(contributors), menerima manfaat secara langsung sesuai dengan kontribusi prerni yang telah
dibayarkan. Nilai aktuaria dari yang diperoleh peserta ini diperhitungkan mendekati kepada apa
yang seharusnya diperoleh para peserta.
d. Manfaat yang Diperoleh Didasarkan pada Pertimbangan Hukum (Benefit Prescribed by Law)
Penjabaran tentang masing-masing manfaat dalam program asuransi sosial dilakukan
berdasarkan kaidah-kaidah hukum, demikian juga dengan semua hal yang berkaitan dengan
kepatutan umum dijelaskan dengan menggunakan ketentuan hukum. Lagipula seluruh pekerjaan
administratif serta pengendaliannya dilakukan oleh Pemerintah.
e. Tidak Perlu Dilakukan Berbagai Tes/ Pemeriksaan Dokter (No Means Test)
Manfaat dari program asuransi sosial dimaksudkan sebagai pemberian hak santunan dasar bagi
penduduk yang memerlukan, tanpa memandang tingkat kebutuhannya. Oleh karena itu semua
kegiatan seleksi yang bertujuan menjaring kepesertaan anggota ditiadakan. Sebagai tolok ukur
yang digunakan adalah kondisi fisik yang melekat pada setiap peserta yang menunjukkan bahwa
tingkat pendapatan dan tingkat kondisi keuangan mereka memang berada di bawah tingkat
minimal.
f. Tidak Diperlukan Pendanaan Penuh (Full Funding Unnecessary)
Pada program asuransi sosial tidak diperlukan adanya pendanaan penuh. Sebagai gambaran,
pendanaan penuh bagi program jaminan sosial (social securih/) merupakan akumulasi aset
ditambah dengan nilai sekarang untuk kontribusi yang akan datang dianggap cukup untuk
mendanai seluruh peserta untuk lebih dari 75 tahun ke depan. Pendanaan penuh dalam program
asuransi sosial tidak diperlukan dengan beberapa alasan meliputi, pertama karena program akan
beroperasi dalam waktu tanpa waktu yang tetap dan berakhir dalam waktu yang tidak ditetapkan.
Kedua, karena program asuransi sosial merupakan asuransi wajib, maka setiap pegawai baru
akan masuk dan memberikan kontribusi untuk mendukung program ini.
g. Mendanai Sendiri (Financially Self-Supporting)
Program asuransi sosial hams dirancang untuk mampu mendanai sendiri seluruh kegiatannya
(self-supporting). Hal ini berarti bahwa seluruh kegiatan program harus dapat dibiayai dari hasil
investasi akumulasi dana yang ditempatkan. Biaya yang diperlukan guna membiayai biaya-biaya
umum dan biaya-biaya administrasi lainnya.

Berbeda dengan program asuransi sosial yang dijalankan di negara lain, program asuransi sosial
di Amerika menurut Rejda (2003) memiliki beberapa karakteristik khusus, antara lain:
(1) Program asuransi bersifat wajib (Compulson Program)
(2) Mempertimbangkan penerima pendapatan rendah (Floor of Income)
(3) Menekankan kepada persamaan sosial secara relatif, ketimbang kepada kebutuhan individual
(emphasis on sosial adequacy rather than individual equity)
(4) Kehilangan manfaat yang terkait dengan pendapatan (benefit loosely related to earnings)
(5) Manfaat yang diperoleh didasarkan pada pertimbangan hukum (benefit prescribed by law)
(6) Tidak perlu dilakukan berbagai test/ pemeriksaan dokter (no means test)
(7) Tidak diperlukan pendanaan penuh (full funding unnecessary)

2. Prinsip Penyelenggaraan Asuransi Sosial


Asuransi Sosial diselenggarakan dengan berbagai prinsip, yaitu :
a. Prinsip Gotong Royong
terjadi kegotong royongan dari banyak orang untuk menanggulangi risiko dengan jalan
mentransfer risiko perorangan menjadi risiko kelompok. Merubah ketidak pastian menghadapi
kerugian berjumlah besar dengan kepastian membayar iuran  berjumlah kecil.
b. Prinsip Manfaat Minimum
Dimana manfaat asuransi sosial ditetapkan dalam bentuk minimal yang diperlukan untuk
mengatasi peristiwa kerugian. Prinsip ini berhubungan dengan kemampuan rata-rata pembiayaan
dari masyarakat dan tetap memberikan ruang gerak usaha yang cukup bagi industry asuransi
privat-komersial.
c. Prinsip Kemanfaatan Optimal
Manfaat asuransi sosial senantiasa ditinjau dan disesuaikan untuk menjaga daya beli manfaat.
Pengelolaan dana asuransi sosial tidak bertujuan mencari laba, namun berfokus pada peningkatan
kesejahteraan peserta, sehingga bila terjadi surplus, akan digunakan untuk meningkatkan
kesejahteraan peserta.
d. Prinsip Efisiensi Pembiayaan
Peserta Asuransi Sosial yang berjumlah besar akan menyebabkan prinsip skala ekonomi  bekerja
dengan baik, sehingga pembiayaan asuransi sosial semakin  efisien.
e. Prinsip Subsidi Silang
Masyarakat yang mampu member subsidi pembiayaan kepada masyarakat yang kurang mampu.
f. Prinsip Wajib Berskala Nasional
Dimana semua anggota masyarakat yang sudah memenuhi syarat wajib menjadi peserta asuransi
sosial. Penyelenggaraan asuransi sosial bersifat nasional sehingga perlindungannya menjangkau
masyarakat diseluruh pelosok Negara.

Mengapa asuransi sosial direncanakan dan dikendalikan oleh pemerintah, setidaknya memiliki
tiga alasan. Ketiga alasan dimaksud dapat dijelaskan seperti berikut:
a. Guna Mengatasi Masalah Sosial yang Pada Umumnya Sangat Kompleks.
Pada umumnya permasalahan sosial masyarakat, meskipun pada skala yang terbatas, secara
langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap masyarakat secara keseluruhan.
Oleh karena itu guna mengatasinya peranan dan campur tangan pemerintah sangat diperlukan.
Sebagai ilustrasi guna memberikan perlindungan dan jaminan keselamatan bagi tenaga kerja,
tidak mungkin pemerintah tidak memainkan perannya. Permasalahan tenaga kerja adalah
permasalahan seluruh warga bangsa dan oleh karena harus direncanakan dan dikendalikan oleh
pemerintah.
b. Beberapa Risiko Tertentu pada Umumnya Tidak Mudah Bila Diselenggarakan Secara Individual.
Masih relevan dengan apa yang dimaksud pada butir (1), masalah pengangguran juga tidak
mungkin diselesaikan dengan asuransi yang diselenggarakan secara perorangan, melainkan harus
diselesaikan secara masal. Disamping itu untuk mengatasi masalah pengangguran, sudah pasti
akan melibatkan banyak pihak, seperti sektor perbankan, sektor perindustrian, sektor
perdagangan, dan kerjasama antar departemen. Dengan demikian maka organisasi yang paling
tepat mengambil inisiatif adalah pemerintah sendiri.
c. Program Asuransi Sosial Memberikan Landasan Ekonomi yang Kuat Bagi Penyelesaian
Masalah-Masalah Sosial Kependudukan
Program asuransi sosial, terkait dengan berbagai strata sosial masyarakat, terutama yang
berhubungan dengan kebutuhan pendanaan jangka panjang. Strata sosial masyarakat meliputi
segmen yang sangat luas dan sangat bervariasi, antara lain warga usia lanjut, anggota veteran,
warga yang mengalami cacat baik yang terjadi karena bawaan, karena peristiwa alam, karena
perang dan oleh sebab-sebab lainnya.

3. Program Asuransi Sosial di Indonesia


Penyelenggaraan program jaminan sosial merupakan salah satu tangung jawab dan kewajiban
Negara - untuk memberikan perlindungan sosial ekonomi kepada masyarakat. Sesuai dengan kondisi
kemampuan keuangan Negara. Indonesia seperti halnya negara berkembang lainnya,
mengembangkan program jaminan sosial berdasarkan funded social security, yaitu jaminan sosial
yang didanai oleh peserta dan masih terbatas pada masyarakat pekerja di sektor formal.
Program asuransi sosial sengaja dipisahkan dari usaha asuransi jiwa dan asuransi umum atau
asuransi kerugian. Pertimbangannya karena tujuan usaha asuransi jiwa dan asuransi umum, jelas
berorientasi kepada laba. Disamping itu, kedua usaha asuransi tersebut dalam melaksanakan seluruh
kegiatannya cenderung tunduk dan harus mempertimbangkan prinsip-prinsip usaha yang termuat
dalam undang-undang perseroan terbatas.
Sedangkan asuransi sosial sejatinya merupakan misi Pemerintah dalam rangka melaksanakan
alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Alinea keempat
tersebut berbunyi “Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia
yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Alinea keempat mengandung pengertian yang sangat dalam, terutama yang berbunyi
'...melindungi segenap bangsa Indonesia...' yang demikian seluruh warga negara Indonesia tanpa
kecuali, apakah berstatus sebagai anggota TNI/ POLRI, Pegawai Negeri Sipil, pegawai-pegawai
lainnya dan bahkan yang tidak memiliki status kepegawaian sekalipun harus mendapat perlakuan
dalam arti mendapat perlindungan yang sama. Dengan demikian apabila seorang anggota warga
bangsa yang memiliki status pegawai negeri sipil mendapat jaminan asuransi untuk hari tua,
seyogyanya untuk seorang petani pun harus mendapatkan jaminan asuransi untuk hari tua yang sama
pula.
Yang menjadi pertanyaan sekarang telah mampukah Pemerintah melaksanakan misi yang
terkandung di dalam alinea keempat tersebut? Dihitung sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus
1945, dewasa ini usia kemerdekaan Indonesia telah mencapai 70 tahunan lebih, suatu usia yang tidak
bisa dipandang masih muda. Pemikiran kita tentu mengadakan perbandingan dengan negara tetangga
yang usia kemerdekaannya relatif tidak jauh berbeda dengan negara kita, seperti Malaysia,
Singapura, dan negara-negara yang masuk dalam kategori developing country.
Dengan memperhatikan dan mempelajari apa yang telah dijalankan oleh negara yang telah maju,
kiranya kita sudah harus mulai menyiapkan konsep guna merealisasikan amanah yang tertuang
dalam alinea keempat sebagaimana tersebut di atas. Pemerintah perlu meyakini bahwa apabila ada
kemauan pasti ada jalan keluarnya. Semoga para pemegang otoritas dalam hal ini segera mengambil
prakarsa untuk segera mulai menyiapkan langkah dan strategi guna mewujudkan cita-cita luhur
tersebut.

a. Sistem Asuransi Sosial Sebelum Ada Undang-undang Sistem Jaminan Sosial Nasional
(SJSN)
Asuransi sosial bertujuan untuk melakukan perlindungan dasar yang biasanya ditentukan dalam
peraturan perundangan. Dalam kenyataannya, meskipun masih dalam skala yang terbatas,
Pemerintah telah mencoba untuk melaksanakan misi dimaksud pada beberapa kelompok masyarakat
tertentu melalui program asuransi sosial. Adapun kelompok masyarakat yang pernah mendapat
perlindungan dasar tersebut adalah:
(1) Semua pegawai negeri menjadi anggota Asuransi Kesehatan Pegawai Negeri (Keppres No. 230
Tahun 1968) dan untuk itu setiap bulan gaji pegawai negeri dipotong 2%.
(2) Semua pegawai negeri wajib menjadi anggota Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri
(TASPEN) berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1963. Untuk itu setiap pegawai
negeri harus membayar iuran yang langsung dipotong sebesar 3,25% dari gaji setiap bulan.
(3) Semua prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI), anggota Kepolisian Republik Indonesia
(POLRI), dan PNS Departemen Pertahanan/TNI/ POLRI beserta keluarganya telah dilaksanakan
program  Asuransi  Sosial  Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI) sesuai dengan
Peraturan Pemrintah Nomor 67 Tahun 1991 yang merupakan perubahan atas Peraturan
Pemerintah Nomor 44 Tahun 1971.
(4) Semua pengguna pengguna kendaraan umum, maupun masyarakat lainnya yang menjadi korban
kecelakaan lalu lintas. Iuran dibayarkan pada saat mereka memperpanjang Surat Tanda Nomor
Kendaraan (STNK) bagi pemilik kendaraan atau bagi penumpang kendaraan umum pada saat
mereka membayar tarif perjalan. Asuransi ini dikelola oleh PT Jasa Raharja.
(5) Semua karyawan perusahaan swasta dan BUMN wajib menjadi anggota Asuransi Sosial Tenaga
Kerja (ASTEK) menurut Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 1977. Asuransi ini mencakup
asuransi kecelakaan kerja, tabungan hari tua, dan asuransi kematian.

Berikut diuraikan tentang program-program asuransi sosial yang telah dilaksanakan oleh
Pemerintah:
1) PT Askes (Persero)
PT Asuransi Kesehatan (Persero) pertama-tama dibentuk dengan Keputusan Presiden No.
230 Tahun 1968 dan diatur kembali berdasarkan organisasi pemeliharaan kesehatan melalui
Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1991. PT Askes merupakan badan usaha milik negara yang
berbentuk perseroan, yang ditugaskan oleh pemerintah khusus untuk menyelenggarakan jaminan
pemeliharaan kesehatan bagi Pegawai Negeri Sipil, Penerima Pensiun PNS dan TNI/POLRI,
Veteran, Perintis Kemerdekaan beserta keluarganya dan badan usaha lainnya.
Pelayanan kesehatan diberikan melalui jaringan pemeliharaan kesehatan yang terstruktur
untuk menyediakan pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative. Program ini
dibiayai dengan iuran sebesar 2% dari gaji pegawai yang didasarkan sistem kapitasi, system
anggaran, dan system paket dalam konsepsi jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat.
Pelayanan kesehatan yang diberikan kepada peserta merupakan pelayanan umum yang
komprehensif yang meliputi :
(1) Rawat jalan tingkat pertama
(2) Rawat inap rumah sakit
(3) Pelayanan kehamilan dan persalinan
(4) Obat-obatan
(5) Transfusi darah
(6) Pemeliharaan gigi
(7) Prostese anggota badan
(8) ALat bantu dengar
(9) Kacamata
Sedangkan pelayanan khusus diberikan kepada peserta dalam bentuk :
(1) Hemodialisa
(2) CT scan
(3) Pelayanan penyakit jantung

Mekanisme sistem pelayanan yang diberikan PT Askes diawali dari Pusat Kesehatan
Masyarakat (Puskesmas) dan doketr keluarga sebagai pelayanan kesehatan tingkat pertama.
Pelayanan perawatan sekunder dan tersier diberikan melalui Rumah Sakit Umum, Militer dan
Swasta setelah ada rekomendasi dai Puskesmas dan dokter keluarga.
PT ASKES memiliki perjalanan sejarah yang panjang, yang secara singkat dapat diuraikan
sebagai berikut:
(a) Periode tahun 1968
Pemerintah menempuh kebijakan untuk mengatur jaminan pemeliharaan kesehatan bagi
Pegawai Negeri Sipil dan para Penerima Pensiun (PNS dan ABRI) beserta keluarganya.
Kebijakan dituangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 230 Tahun 1968. Guna
menindaklanjuti kebijakan tersebut, maka Departemen Kesehatan membentuk Badan
Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan yang disingkat dengan BPDPK. Menteri
Kesehatan pada waktu itu Prof. Dr. G.A. Siwabessy, menyatakan bahwa badan ini merupakan
embrio dari pembentukan Asuransi Kesehatan Nasional.

(b) Periode tahun 1984


Guna lebih meningkatkan kinerja program jaminan pemeliharaan kesehatan bagi peserta dan
agar organisasi Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan dapat dijalankan lebih
profesional, Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1984.
Selanjutnya pada tahun yang sama, Pemerintah juga menerbitkan Peraturan Pemerintah
Nomor 23 Tahun 1984 yang isinya mengubah status Badan Penyelenggara Dana
Pemeliharaan Kesehatan menjadi Perusahaan Umum atau Perum Husada Bhakti.

(c) Periode tahun 1991


Kepesertaan Perum Husada Bhakti, diperluas dengan menambah anggota Veteran dan
Perintis Kemerdekaan. Ketentuan ini diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun
1991. Disamping itu anggota dan atau pegawai badan usaha yang lainnya yang berminat,
dibuka kemungkinan untuk ikut menjadi peserta berbasis sukarela.

(d) Periode tahun 1992


Status badan hukum usaha yang berbentuk Perum diubah status hukumnya menjadi
Perusahaan Perseroan atau Persero. Diharapkan dengan berubahnya status hukum menjadi
Perusahaan Perseroan, PT Husada Bhakti dapat melakukan kegiatan operasional-nya lebih
fleksibel. Pengertian fleksibel di sini dalam merekrut anggota, tidak terbatas hanya dari pasar
Pemerintah akan tetapi juga kepada masyarakat luas sebagai pasar swasta.

(e) Periode tahun 2005


Pemerintah melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1241/Menkes/XI/2004.2004, PT
Askes ditugaskan untuk memberikan pelayanan Program Jaminan Kesehatan Bagi
Masyarakat Miskin disingkat dengan PJKMM.

(f) Periode tahun 2008


Sebutan masyarakat miskin dirasakan kurang membahagiakan sebagian besar masyarakat,
terutama bagi mereka yang membutuhkan jaminan pemeliharaan kesehatan. Maka tahun
2008 Pemerintah mengubah nama Program Jaminan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin
menjadi Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Sebagai tindak lanjut
berlakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional,
pada 6 Oktober 2008 PT ASKES (Persero) mendirikan anak perusahaan yang akan
menjalankan kegiatan operasional Asuransi Kesehatan Komersial. Anak perusahaan tersebut
diberi nama PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia, yang disingkat dengan AJII.

(g) Pada tahun 2009


PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia memperoleh ijin operasional dari Departemen
Keuangan melalui Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 38/KM.10/2009, tanggal 20
Maret 2009.

2) PT Taspen (Persero)
Taspen adalah singkatan dari Tabungan Asuransi Pegawai Negeri. Lembaga ini berbentuk
Perseroan Terbatas yang seluruh sahamnya dimiliki oleh Pemerintah, dengan demikian maka
statusnya adalah Badan Usaha Milik Negara. PT Taspen bertugas memberikan santunan bagi
para Pegawai Negeri Sipil. Bagi pegawai negeri sipil yang telah memasuki usia pensiun akan
mendapatkan sejumlah uang yang disebut dengan uang pesangon pensiun dan menerima upah
pensiun bulanan dan berakhir sampai yang bersangkutan meninggal dunia.
PT Taspen (Persero) yang sekarang ini awalnya bernama PN Taspen yang dibentuk
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1963, tanggal 17 April 1963. Kemudian
melalui keputusan Menteri Keuangan Nomor KEP/749/MK/IV/II/1970 tanggal 18 Nopember,
status badan hukumnya berubah menjadi Perum Taspen. Terakhir status badan hukum menjadi
PT Taspen (Persero) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1981

3) PT ASABRI (Persero)
ASABRI, merupakan singkatan dari Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
Organisasi usaha ini berbentuk Perseroan Terbatas yang seluruh sahamnya dimiliki oleh
Pemerintah, dengan demikian statusnya merupakan Badan Usaha Milik Negara. PT Asabri
menjalankan fungsi, tugas, dan tanggung jawab sebagai asuransi sosial khususnya bagi seluruh
anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan anggota Kepolisian Republik Indonesia,
termasuk seluruh Pegawai Negeri Sipil yang bekerja di lingkungan organisasi tersebut.
Dasar hukum pendirian PT ASABRI (Persero) sangat lengkap yang secara kronologis dapat
diuraikan sebagai berikut:
(a) Peraturan Pemerintah Nomor 67 tahun 1991, tentang Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia. Lembaran Negara RI, Nomor 87 Tahun 1991.
(b) Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1991 Tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum
atau Perum, menjadi Perusahaan Perseroan Negara atau Persero.
(c) Akta Pendirian PT ASABRI Nomor 201, oleh Muhani Saiim, Notaris di Jakarta, tanggal 30
Desember 1992. Selanjutnya Akta Pendirian ini mengalami beberapa kali perbaikan, dengan
Akta Nomor 40 pada tanggal 09 Juni 1993 oleh Notaris Erni Nasution SH, Akta Nomor 19
tanggal 06 April 1998 oleh Notaris Muhani Salim, dan terakhir dengan Akta Nomor 6 tanggal
17 Pebruari 2005.
(d) Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1992, tentang Usaha Perasuransian. Lembaran Negara
RI Tahun 1992 Nomor 13, dan Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3467.
(e) Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2003 Tanggal 19 Juni 2003 tentang Badan Usaha Milik
Negara. Lembaran Negara RI Tahun 2003 Nomor 70, dan Tambahan Lembaran Negara RI
Nomor 4297.
(f) Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1995 Tanggal 7 Maret 1995 tentang Perseroan Terbatas
yang telah diperbaharui dengan Undang-Undang RI Nomor 40 Tahun 2007,16 Agustus 2007.

Jaminan asuransi yang diberikan oleh PT ASABRI kepada pesertanya, meliputi:


(a) Santunan Asuransi (SA), diberikan kepada para peserta yang diberhentikan dengan hak
pensiun/tunjangan bersifat pensiun.
(b) Santunan Nilai Tunai Akhir (SNTA), diberikan kepada para peserta yang diberhentikan tanpa
hak pensiun/tunjangan bersifat pensiun.
(c) Santunan Risiko Kematian (SRK), diberikan kepada para peserta yang meninggal dunia
dalam dinas aktif.
(d) Santunan Risiko Kematian Khusus (SRKK), diberikan kepada para peserta yang gugur/tewas
dalam menjalankan tugas negara.
(e) Santunan Biaya Pemakaman (SBP), diberikan kepada para peserta pensiunan yang meninggal
dunia.
(f) Santunan Cacat Karena Dinas (SCKD), diberikan kepada para peserta akibat tindakan
langsung lawan maupun bukan tindakan larigsung lawan dan atau dalam tugas kedinasan bagi
Prajurit TNI.
(g) Santunan Cacat Bukan Karena Dinas (SCBKD), diberikan kepada para peserta yang terjadi
dalam masa kedinasan bagi prajurit TNI, anggota POLRI, dan Pegawai Negeri Sipil
DEPHAN/POLRI.
(h) Santunan Biaya Pemakaman Istri/Suami (SBPI/S), diberikan kepada para peserta ASABRI
aktif/Pensiunan Peserta/Ahli Waris, dalam hal Istri/Suami Peserta/Pensiunan Peserta
meninggal dunia.
(i) Santunan Biaya Pemakaman Anak (SBPA), diberikan kepada peserta dalam hal Anak
Peserta/Pensiunan Peserta meninggal dunia.

4) PT Jasa Raharja (Persero)


PT Jasa Raharja (Persero) melaksanakan Program Asuransi Sosial dalam bidang pemberian
santunan bagi korban kecelakaan lalu lintas umum. Korban yang dimaksud di sini meliputi baik
pengguna kendaraan umum, maupun masyarakat lainnya yang menjadi korban kecelakaan lalu
lintas.
Untuk melaksanakan tugas ini, Pemerintah telah menunjuk sebuah Badan Usaha Milik
Negara, yaitu PT Asuransi Jasa Raharja. Dasar penunjukan adalah Undang-Undang Nomor 33
Tahun 1964 tentang Kecelakaan Lalu Lintas dan Jalan Raya dan Undang-Undang Nomor 34
Tahun 1964 tentang santunan bagi pengguna kendaraan umum.

5) PT Jamsostek (Persero)
Asuransi Jamsostek merupakan singkatan dari Asuransi Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
Jamsostek melaksanakan Program Asuransi Sosial dalam bidang pemberian santunan bagi para
pekerja yang mendapat kecelakaan pada saat melaksanakan tugas pekerjaannya. Apabila seorang
pekerja dalam melaksanakan tugas pekerjaannya mengalami kecelakaan, maka kepadanya akan
diberikan santunan berupa biaya pengobatan. Apabila dalam kecelakaan tersebut mengalami
cacat tetap juga akan diberikan penggantian sesuai dengan tingkat cacat tetap yang dideritanya.
Dan apabila dalam kecelakaan tersebut sampai meninggal dunia, maka kepada keluarganya akan
diberikan santunan.
Untuk melaksanakan tugas tersebut, Pemerintah telah menunjuk sebuah Badan Usaha Milik
Negara, PT Jamsostek dan dasar pelaksanaan tugasnya berupa Undang-Undang Nomor 3 Tahun
1992, tentang jaminan Sosial Tenaga Kerja. Dalam Jamsostek, terdapat beberapa program,
dimana risiko-risiko yang ada, ditangani masing- masing program, program tersebut
diantaranya :
(a) Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (Program JPK)
Program JPK memberikan perlindungan bagi tenaga kerja terhadap risiko mengidap
gangguan kesehatan atau penyakit yang berakibat terganggunya kemampuan produktifitas
kerja. Manfaat JPK berupa pelayanan kesehatan untuk tindak pengobatan yang bersifat
promotif serta kuratif. Tindak pengobatan yang dijamin mencakup rawat jalan, rawat inap,
persalinan serta imunisasi/vaksinasi. Bentuk program JPK dilaksanakan dalam 3 model, yaitu
program Jamsostek yang diselenggarakan oleh PT. Jamsostek, program asuransi kesehatan
yang diselenggarakan oleh lembaga asuransi yang ditunjuk oleh pemberi kerja, serta program
JPK mandiri yang diselenggarakan langsung oleh pemberi kerja secara swakelola.

(b) Jaminan Kecelakaan Kerja (Program JKK)


Program JKK memberikan perlindungan bagi tenaga kerja terhadap risiko mengalami
kecelakaan kerja serta mengidap berbagai penyakit yang timbul akibat hubungan kerja.
Manfaat JKK berupa pelayanan kesehatan menyeluruh serta rehabilitasi medis sehubungan
kecelakaan yang di derita tenaga kerja. Disamping pelayanan jasa medik, tenaga kerja
mendapatkan santunan tidak mampu bekerja selama menjalani masa perawatan dan
pemulihan. Pembiayaan program JKK melalui pembayaran iuran kepada pihak
penyelenggara yang ditanggung oleh pemberi kerja

(c) Jaminan Kematian (Program JK)


Program JK memberikan perlindungan bagi tenaga kerja terhadap risiko meninggal dunia
akibat sakit atau kecelakaan kerja. Manfaat JK berupa pemberian satunan sekaligus kepada
keluarga atau ahli waris pada saat tenaga kerja meninggal dunia. Pemberian santunan
kematian bertujuan membantu meringankan beban finansial pihak keluarga atau ahli waris
yang ditinggalkan. Pembiayaan program JK melalui pembayaran iuran kepada pihak
penyelenggara yang ditanggung oleh pemberi kerja

(d) Jaminan Hari Tua (Program JHT)


Program JHT memberikan perlindungan bagi tenaga kerja pada saat memasuki masa purna
bhakti. Manfaat jht berupa pemberian bekal dana tunai dalam bentuk pembayaran sekaligus
kepada tenaga kerja atau keluarga dan ahli waris. Pembiayaan program JHT melalui
pembayaran iuran kepada pihak penyelenggara yang ditanggung bersama oleh tenaga kerja
dan pemberi kerja.

(e) Jaminan Pensiun (Program Pensiun)


Program Pensiun memberikan jaminan kesinambungan pembayaran penghasilan bagi tenaga
kerja pada saat memasuki usia pensiun. Manfaat program pensiun berupa pembayaran uang
pensiun berkala kepada tenaga kerja atau keluarga dan ahli waris pada saat tenaga kerja
memasuki masa usia pensiun. Pembiayaan program pensiun melalui pembayaran iuran
kepada pihak penyelenggara yang ditanggung bersama oleh tenaga kerja dan pemberi kerja.
Penyelenggara program pensiun dapat dilakukan melalui 2 instansi, yaitu Dana Pensiun
Lembaga Keuangan (DPLK) yang terdaftar di Departemen Keuangan dan Dana Pensiun
Pemberi Kerja (DPPK) yang merupakan lembaga pengelola dana pensiun yang didirikan oleh
pemberi kerja. Jenis program pensiun terdiri dari Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) dan
Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP).
(f) Asuransi Kecelakaan Diluar Hubungan Kerja (Asuransi AKDHK)
Asuransi AKDHK adalah jaminan yang memberi perlindung bagi tenaga kerja yang
mengalami kecelakaan kerja pada waktu diluar hubungan kerja. Program ini sebagai
pelengkap dari Program JKK yang diselenggarakan PT.Jamsostek yang menjamin tenaga
kerja yang mengalami kecelakaan pada waktu hubungan kerja. Asuransi AKDHK ditetapkan
berdasarkan perda no.7 tahun 1989 serta SK gubernur dki no.2 tahun 1990 dan sebagai
penyelenggara ditunjuk PT. Asuransi Bumi Putera Muda (BUMIDA). Guna memenuhi
ketentuan normatif dibidang ketenagakerjaan, maka pemberi kerja wajib menyertakan tenaga
kerja dalam Asuransi AKDHK.

Dilihat dari sudut anggota peserta, jenis program, kualitas manfaat dan prinsip penyelenggaraan
serta regulasi dianggap masih memerlukan penyempurnaan. Dari sudut peserta nampak masih sangat
terbatas, seperti hanya berlaku bagi mereka yang berstatus pegawai negeri sipil, anggota TNI/Polri
dan tenaga kerja formal. Dengan demikian belum menyentuh anggota masyarakat yang lebih luas,
lebih-lebih yang dimaksud dalam Undang-Undang Dasar 1945.
Demikian juga dengan bentuk organisasi penyelenggara yang masih berbentuk perseroan
terbatas. Bentuk organisasi Perseroan terbatas konotasinya adalah mencari laba, sedangkan untuk
sistem jaminan sosial nasional seyogyanya bersifat nirlaba.
Berdasarkan pertimbangan untuk lebih memberikan perbaikan, memberikan payung hukum
kepada penyelenggaraan program jaminan sosial, meningkatkan jumlah peserta dan meningkatkan
manfaat yang lebih berkeadilan, maka lahirlah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004.

b. Sistem Asuransi Sosial Setelah Ada Undang-undang Sistem Jaminan Sosial Nasional
Undang-undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang diratifikasi
oleh Dewan Perwakilan Rakyat pada 19 Oktober 2004 bertujuan untuk memberikan jaminan
kesejahteraan bagi masyarakat. Masyarakat yang dimaksud di sini adalah yang sesuai dengan
maksud Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34 ayat 2, yang berbunyi "Negara mengembangkan
sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdavakan masyarakat yang lemah dan tidak
mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan".
Secara garis besar Undang-Undang Nomor 40 tahun 2004 dirancang untuk:
(1) Memenuhi amanat UUD 1945, khususnya pasal 34 ayat 2 yang berbunyi, Negara
mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang
lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.
(2) Meningkatkan jumlah peserta program jaminan sosial di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh
karena sejauh ini, program jaminan sosial di Indonesia masih sangat rendah.
(3) Meningkatkan cakupan manfaat/benefit yang dapat dinikmati oleh peserta program jaminan
sosial. Oleh karena manfaat program jaminan sosial belum dapat sepenuhnya dinikmati oleh
sebagian besar rakyat Indonesia. Bagi pegawai negeri sipil belum menikmati program jaminan
kecelakaan kerja, sementara bagi kelompok pekerja formal swasta, belum memiliki program
jaminan kesehatan dan jaminan pensiun.
(4) Meningkatkan kualitas manfaat yang dapat dinikmati oleh peserta program jaminan sosial, agar
dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak.
(5) Terselenggaranya keadilan sosial dalam penyelenggaraan program jaminan sosial bagi seluruh
masyarakat Indonesia. Dengan pengem-bangan SJSN, diharapkan terselenggara penyelenggaraan
program jaminan sosial bagi semua penduduk Indonesia.
(6) Terselenggaranya prinsip-prinsip penyelenggaraan program jaminan sosial sesuai dengan prinsip-
prinsip universal yang dikenal, misalnya prinsip kegotongroyongan, kepesertaan bersifat wajib,
nirlaba, transparan, pruden, dan akuntabel.
(7) Dilaksanakan secara bertahap, baik dari aspek jenis program maupun kepesertaan dengan
memperhatikan kelayakan program. Dengan mengantisipasi implementasi SJSN sesuai dengan
UU No. 40/2004, diperkirakan sedikitnya diperlukan waktu 20 sampai 25 tahun untuk dapat
mencakup seluruh rakyat Indonesia.
Untuk sampai kepada operasionalisasi Undang-Undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem
Jaminan Sosial Nasional, berbagai ketentuan dan aturan pelaksanaan masih diperlukan, meliputi:
(1) Peraturan tentang pembentukan Organisasi atau Badan Pelaksanaan Penyelenggaraan Sistem
Jaminan Sosial Nasional.
(2) Peraturan tentang susunan organisasi dan uraian fungsi, tugas, wewenang dan tanggung jawab
Dewan Nasional untuk Sistem Jaminan Sosial Nasional.
(3) Peraturan tentang tata cara perekrutan, seleksi, pengangkatan dan pemberhentaian pengurus
Dewan Nasional untuk Sistem Jaminan Sosial Nasional.
(4) Peraturan tentang penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan dan Biaya Badan
Penyelenggara Sistem Jaminan Sosial Nasional.
(5) Peraturan tentang jadwal pelaksanaan rencana jangka pendek, jangka menengah dan jangka
panjang.
(6) Peraturan tentang tata cara penerimaan bangunan, pemungutan iuran anggota, dan penyusunan
anggaran biaya bagi terselengaranya kegiatan operasional Badan Penyelenggara Sistem Jaminan
Sosial Nasional.
(7) Peraturan tentang tata cara pemungutan iuran dan atau premi dan atau kontribusi bagi seluruh
peserta Sistem Jaminan Sosial Nasional.
(8) Peraturan tentang tata cara pemberian santunan dan atau pemberian ganti rugi bagi peserta yang
mengalami musibah dan atau yang harus menerima santunan berdasarkan hak-hak yang diatur
dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional.
(9) Peraturan-peraturan lainnya yang terkait dengan mekanisme dan pelaksanaan program Sistem
Jaminan Sosial Nasional.
(10) Peraturan tentang unit-unit organisasi yang berhak melakukan audit dan pengawasan terhadap
pelaksanaan dan kegiatan operasional Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS merupakan lembaga yang dibentuk untuk
menyelenggarakan program jaminan sosial di Indonesia menurut Undang-undang Nomor 40 Tahun
2004 dan Undang- undang Nomor 24 Tahun 2011. Sesuai Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, BPJS merupakan badan hukum nirlaba. Program BPJS
Kesehatan 2014 ini mulai berlaku pada tanggal 1 januari 2014.
Selama ini pelayanan kesehatan yang menggunakan kartu penerima bantuan dari pemerintah
hanya dilayani oleh rumah sakit-rumah sakit milik pemerintah. Kementerian Kesehatan mencatat
saat ini jumlah rumah sakit swasta di seluruh Indonesia sekitar dua ribu rumah sakit. Dan hal ini
nanti akan didorong bahwa rumah sakit swasta juga harus melayani segenap lapisan
masyarakat Indonesia.
Di dalam BPJS, jaminan sosial dibagi kedalam 5 jenis program jaminan sosial dan
penyelenggaraan dibuat dalam 2 program penyelengaraan, yaitu :
(1) Program yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan, dengan programnya adalah Jaminan
Kesehatan yang berlaku mulai 1 Januari 2014.
(2) Program yang diselenggarakan oleh BPJS Ketenagakerjaan, dengan programnya adalah
Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian yang
direncanakan dapat dimulai mulai 1 Juli 2015.

BPJS Kesehatan adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program
jaminan kesehatan. BPJS Kesehatan adalah peleburan 4 (empat) badan usaha milik negara menjadi
satu badan hokum. Badan usaha yang dimaksud adalah PT TASPEN, PT JAMSOSTEK, PT
ASABRI, dan PT ASKES. Transformasi tersebut diikuti adanya pengalihan peserta, program, aset
dan liabilitas, pegawai serta hak dan kewajiban
BPJS ini berbentuk seperti asuransi, nantinya semua warga Indonesia diwajibkan untuk
mengikuti program ini. Dalam mengikuti program ini peserta BPJS di bagi menjadi 2 kelompok,
yaitu untuk mayarakat yang mampu dan kelompok masyarakat yang kurang mampu. Adapun rincian
kelompok tersebut adalah sebagai berikut:
(1) Penerima Bantuan Iuran (PBI) jaminan kesehatan
Yaitu peserta Jaminan Kesehatan bagi fakir miskin dan orang tidak mampu sebagaimana
diamanatkan Undang-undang SJSN yang iurannya dibayarkan oleh pemerintah sebagai peserta
program Jaminan Kesehatan. Peserta PBI adalah fakir miskin yang ditetapkan oleh pemerintah
dan diatur melalui Peraturan Pemerintah.
(2) Bukan PBI jaminan kesehatan.
Yaitu peserta jaminan kesehatan dari kelompok masyarakat umum yang memiliki kemampuan
untuk membayar iuran.
BPJS Ketenagakerjaan adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program
Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian. BPJS
Ketenagakerjaan merupakan transformasi dari PT Jamsostek (Persero).

4. Peran Pemerintah dalam Pelaksanaan Kesehatan


Pemerintah berperan aktif dalam pelaksanaan kesehatan masyarakat tertulis dalam pasal 14 (1)
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang berbunyi “Pemerintah bertanggung
jawab merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina, dan mengawasi penyelenggaraan
upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat.”. Selanjutnya dalam Pasal 20 (1)
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 bahwa Pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan
jaminan kesehatan masyarakat melalui sistem jaminan sosial nasional bagi upaya kesehatan
perorangan
Agar penyelenggaraan upaya kesehatan tersebut berhasil guna dan berdaya guna, maka
pemerintah perlu:
(1) Mengatur upaya penyelenggaraan serta sumber daya kesehatan.
(2) Membina penyelenggaraan serta sumber daya kesehatan.
(3) Mengawasi penyelenggaraan serta sumber daya kesehatan.
(4) Menggunakan peran serta masyarakat dalam upaya penyelenggaraan serta sumber daya
kesehatan.
Dalam penyelenggaraan kesehatan di masyarakat, diperlukan upaya peningkatan pembangunan
di bidang kesehatan. Dalam hal ini pemerintah mempunyai fungsi dan tanggung jawab agar tujuan
pemerintah di bidang kesehatan dapat mencapai hasil yang optimal melalui penempatan tenaga,
sarana, dan prasarana baik dalam hitungan jumlah (kuantitas) maupun mutu (kualitas).
Dalam melaksanakan undang-undang tersebut pemerintah membutuhkan satu kebebasan untuk
melayani kepentingan masyarakat. Untuk dapat bekerja dengan baik maka pemerintah harus dapat
bertindak dengan cepat dan dengan inisiatif sendiri, oleh karena itu pemerintah diberikan
kewenangan dengan istilah freies ermessen. Dengan adanya freies ermessen negara memiliki
kewenangan yang luas untuk melakukan tindakan hukum untuk melayani kepentingan masyarakat
dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakatnya.
Peran pemerintah daerah guna berjalannya program SJSN dengan baik, meliputi:
(1) Pengawasan program SJSN, agar sesuai dengan ketentuan.
(2) Menyediakan anggaran tambahan untuk iuran, baik untuk penerima bantuan iuran ataupun
masyarakat yang lain.
(3) Penentu peserta penerima bantuan iuran
(4) Penyediaan/pengadaan dan pengelolaan sarana penunjang.
(5) Mengusulkan pemanfaatan/investasi dana SJSN di daerah terkait.
(6) Sarana/usul kebijakan penyelenggara SJSN

Selain 6 (enam) peran diatas, pemerintah daerah juga memiliki peran penting untuk mendukung
program BPJS, yakni:
(1) Mendukung proses kepersertaan dalam rangka menuju cakupan semesta 2019 melalui integrasi
Jamkesda melalui (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) APBD dengan mengikuti skema
JKN.
(2) Mendorong kepesertaan pekerja penerima upah yang ada di wilayahnya (PNS, Pemda, Pekerja
BUMD dan Swasta) dan mendorong kepersertaan pekerja bukan penerima upah (kelompok
masyarakat/individu).
(3) Mendorong penyiapan fasilitas kesehatan milik pemerintah dan swasta serta mendukung
ketersedianya tenaga kesehatan terutama dokter umum di puskesmas dan spesialis di rumah
sakit.
(4) Mengefektifkan pengelolaan dan pemanfaatan dana kapitasi di fasilitas kesehatan tingkat
pertama milik pemda.

5. Jaminan Kesehatan Nasional


Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional
(SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme asuransi kesehatan sosial yang
bersifat wajib (mandatory) bagi seluruh rakyat Indonesia, maupun untuk warga negara asing yang
bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia yang pengaturannya berdasarkan Undang-
Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
kesehatan masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran
atau iurannya dibayar oleh Pemerintah.

a. Cara Pendaftaran JKN


Untuk memudahkan masyarakat sebagai peserta BPJS, BPJS memberikan pelayanan dalam
melakukan pendaftaran. Dalam pendaftaran JKN dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu
pendaftaran secara manual yang dapat dilakukan secara langsung ke kantor BPJS terdekat atau dapat
juga melalui pendaftaran yang dilakukan secara online yaitu dengan mengakses melalui situs
http://bpjskesehatan.go.id/.
1) Pendaftaran secara On-Line
Untuk pendaftaran secara on-line terdapat beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Hal-hal yang
harus dipersiapkan sebelum Pendaftaran Peserta BPJS-Kesehatan secara Online, yaitu:
(a) Kartu Tanda Penduduk
(b) Kartu Keluarga
(c) Kartu NPWP
(d) Alamat E-mail dan nomor telpon yang bisa dihubungi

Calon Peserta mengisi isian secara lengkap (Nama, Tanggal lahir, Alamat, Email dll). Besaran
Iuran adalah sesuai dengan Kelas Perawatan yang di pilih, yaitu kelas I, kelas II, dan kelas III.
Setelah menyimpan data, sistem akan mengirimkan email pemberitahuan nomor registrasi ke
alamat email sesuai dengan yang diisikan oleh calon peserta agar e-ID dapat digunakan/aktif,
calon peserta agar melakukan pembayaran di bank. Pembayaran iuran harus dilakukan tidak
melewati 24 jam sejak pendaftaran. Setelah calon peserta melakukan pembayaran di bank, maka
peserta dapat mencetak e-ID dengan link yang terdapat pada email pemberitahuan.

2) Pendaftaran Secara Manual


Sedangkan untuk pendaftaran secara langsung di kantor BPJS yang perlu dipersiapkan,
yaitu:
(a) Calon peserta mengisi Daftar Isian Peserta (DIP), membawa Kartu Keluarga/Kartu Tanda
Penduduk (KTP)/Paspor pas foto bewarna 3x4 sebanyak 1 lembar. Untuk anggota keluarga
menunjukan Kartu Keluarga/Surat Nikah/Akte Kelahiran.
(b) Data diperoses oleh petugas BPJS Kesehatan untuk diterbitkan nomor Virtual Account
(VA) perorangan dan diserahkan ke calon peserta.
(c) Calon peserta membayar uang iuran Anjungan Tunai Mandiri (ATM)/Setor Tunai sesuai
dengan nomor VA perorangan ke bank yang telah bekerja sama.
(d) Membawa bukti pembayaran untuk dicetakkan Kartu Peserta.
(e) Peserta menerima kartu peserta sebagai identitas dalam mengakses pelayanan.

b. Metode pembayaran JKN


Sesuai Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2013 metode pembayaran atau iuran dari program
ini dibagi menjadi 3 jenis:
1) Iuran Jaminan Kesehatan bagi penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah daerah dibayar oleh
Pemerintah Daerah (orang miskin dan tidak mampu).
2) Iuran Jaminan Kesehatan bagi peserta Pekerja Penerima Upah (PNS, Anggota TNI/POLRI,
Pejabat Negara, Pegawai pemerintah non pegawai negeri dan pegawai swasta) dibayar oleh
Pemberi Kerja yang dipotong langsung dari gaji bulanan yang diterimanya. Anggota keluarga
bagi pekerja penerima upah meliputi:
(a) Istri atau suami yang sah dari Peserta; dan
(b) Anak kandung, anak tiri dan/atau anak angkat yang sah dari Peserta, dengan kriteria:
(1) tidak atau belum pernah menikah atau tidak mempunyai penghasilan sendiri;
(2) dan belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun atau belum berusia 25 (dua puluh lima)
tahun yang masih melanjutkan pendidikan formal.
3) Pekerja Bukan Penerima Upah (pekerja di luar hubungan kerja atau pekerja mandiri) dan
Peserta Bukan Pekerja (investor, perusahaan, penerima pensiun, veteran, perintis kemerdekaan,
janda, duda, anak yatim piatu dari veteran atau perintis kemerdekaan) dibayar oleh Peserta yang
bersangkutan.

c. Prinsip Sistem JKN


Jaminan Kesehatan Nasional mengacu pada prinsip-prinsip Sistem Jaminan Sosial Nasional
(SJSN) berikut:
1) Prinsip Kegotongroyongan
Gotong royong sesungguhnya sudah menjadi salah satu prinsip dalam hidup bermasyarakat
dan juga merupakan salah satu akar dalam kebudayaan kita. Dalam SJSN, prinsip gotong royong
berarti peserta yang mampu membantu peserta yang kurang mampu, peserta yang sehat
membantu yang sakit atau yang berisiko tinggi, dan peserta yang sehat membantu yang sakit. Hal
ini terwujud karena kepesertaan SJSN bersifat wajib untuk seluruh penduduk, tanpa pandang
bulu. Dengan demikian, melalui prinsip gotong royong jaminan sosial dapat menumbuhkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
2) Prinsip Nirlaba
Pengelolaan dana amanat oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah nirlaba
bukan untuk mencari laba (for profit oriented). Sebaliknya, tujuan utama adalah untuk memenuhi
sebesar-besarnya kepentingan peserta. Dana yang dikumpulkan dari masyarakat adalah dana
amanat, sehingga hasil pengembangannya, akan di manfaatkan sebesar- besarnya untuk
kepentingan peserta.
3) Prinsip Keterbukaan, Kehati-hatian, Akuntabilitas, Efisiensi, dan Efektivitas.
Prinsip-prinsip manajemen ini mendasari seluruh kegiatan pengelolaan dana yang berasal dari
iuran peserta dan hasil pengembangannya.
4) Prinsip Portabilitas
Prinsip portabilitas jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan yang
berkelanjutan kepada peserta sekalipun mereka berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
5) Prinsip Kepesertaan Bersifat Wajib
Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta sehingga dapat terlindungi.
Meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi seluruh rakyat, penerapannya tetap disesuaikan dengan
kemampuan ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan penyelenggaraan program. Tahapan
pertama dimulai dari pekerja di sektor formal, bersamaan dengan itu sektor informal dapat
menjadi peserta secara mandiri, sehingga pada akhirnya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
dapat mencakup seluruh rakyat.
6) Prinsip Dana Amanat
Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan dana titipan kepada badan-badan
penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka mengoptimalkan dana tersebut untuk
kesejahteraan peserta.
7) Prinsip Hasil Pengelolaan Dana Jaminan Sosial
Dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan untuk sebesar-besar
kepentingan peserta.

d. Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)


Ada beberapa manfaat dari JKN BPJS Kesehatan, antara lain:
1) Pelayanan kesehatan tingkat pertama, yaitu pelayanan kesehatan non spesialistik mencakup:
(a) Administrasi pelayanan
(b) Pelayanan promotif dan preventif
(c) Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi medis
(d) Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif
(e) Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai
(f) Transfusi darah sesuai kebutuhan medis
(g) Pemeriksaan penunjang diagnosis laboratorium tingkat pertama
(h) Rawat inap tingkat pertama sesuai indikasi
2) Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan, yaitu pelayanan kesehatan mencakup:
(a) Rawat jalan, meliputi:
(1) Administrasi pelayanan
(2) Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi spesialistik oleh dokter spesialis dan sub
spesialis
(3) Tindakan medis spesialistik sesuai dengan indikasi medis
(4) Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai
(5) Pelayanan alat kesehatan implant
(6) Pelayanan penunjang diagnostic lanjutan sesuai dengan indikasi medis
(7) Rehabilitasi medis
(8) Pelayanan darah
(9) Pelayanan kedokteran forensik
(10) Pelayanan jenazah di fasilitas kesehatan

(b) Rawat Inap yang meliputi:


(1) Perawatan inap non intensif
(2) Perawatan inap di ruang intensif
(3) Pelayanan kesehatan lain yang ditetapkan oleh Menteri.

Meskipun manfaat yang dijamin dalam JKN bersifat komprehensif, masih ada manfaat yang
tidak dijamin meliputi:
1) Tidak sesuai prosedur;
2) Pelayanan di luar Fasilitas Kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS;
3) Pelayanan bertujuan kosmetik;
4) General checkup, pengobatan alternatif;
5) Pengobatan untuk mendapatkan keturunan, pengobatan impotensi;
6) Pelayanan kesehatan pada saat bencana ; dan
7) Pasien Bunuh Diri /Penyakit yang timbul akibat kesengajaan untuk menyiksa diri sendiri/ Bunuh
Diri/Narkoba.

e. Beberapa Halangan dalam Program JKN


Dalam menjalankan program Jaminan Kesehatan Nasional ini pemerintah menemui
berbagai halangan, beberapa halangan-halangan yang dihadapi dalam menjalankan program
Jaminan Kesehatan Nasional tersebut adalah sebagai berikut:
1) Jumlah faslitas pelayanan kesehatan yang kurang mencukupi dan persebarannya kurang merata
khususnya bagi Daerah Terpencil Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) dengan tingkat utilisasi
yang rendah akibat kondisi geografis dan tidak memadainya fasilitas kesehatan pada daerah
tersebut.
2) Jumlah tenaga kesehatan yang ada masih kurang dari jumlah yang dibutuhkan.
3) Untuk pekerja sektor informal nantinya akan mengalami kesulitan dalam penarikan iurannya
setiap bulan karena pada sektor tersebut belum ada badan atau lembaga yang menaungi sehingga
akan menyulitkan dalam penarikan iuran di sektor tersebut.
4) Permasalahan akan timbul pada penerima PBI karena data banyak yang tidak sesuai antara
pemerintah pusat dan daerah sehingga data penduduk tidak mampu tidak sesuai dengan kondisi
di lapangan