Anda di halaman 1dari 5

Masalah 1

Pada Buku Materi Pokok (BMP) MPDR5202 Statistika Pendidikan, Modul 2, halaman 2.3, Anda
telah mendapatkan penjelasan bagaimana menyajikan data kategori berikut
Kelas 1A laki-laki 12 orang dan perempuan 12 orang.
Kelas 1B laki-laki 13 orang dan perempuan 12 orang.
Kelas 2A laki-laki 11 orang dan perempuan 17 orang.
Kelas 2B laki-laki 10 orang dan perempuan 16 orang.
Kelas 3A laki-laki 12 orang dan perempuan 16 orang.
Kelas 3B laki-laki 12 orang dan perempuan 15 orang.
Kelas 4A laki-laki 18 orang dan perempuan 15 orang.
Kelas 4B laki-laki 17 orang dan perempuan 16 orang.
Kelas 5A laki-laki 14 orang dan perempuan 14 orang.
Kelas 5B laki-laki 12 orang dan perempuan 15 orang.
Kelas 6A laki-laki 10 orang dan perempuan 12 orang.
Kelas 6B laki-laki 13 orang dan perempuan 11 orang.
ke dalam tabel baris-kolom. Topik diskusi yang menarik kita bicarakan selanjutnya adalah

1. Apakah Anda dapat menyajikan data tersebut dalam bentuk tabel baris-kolom lain, yang
berbeda dengan tampilan pada Modul 2 BMP MPDR5202 Statistika Pendidikan?
2. Jika Anda menemukan bentuk tabel baris-kolom lain, mengapa data yang sama dapat
disajikan dalam tabel bari-kolom yang berbeda?
3. Hal penting apa sajakah yang perlu diperhatikan dalam menyajikan data kategori dalam
bentuk tabel baris-kolom?
JAWAB :

1. Penyajian data pada Modul 2 BMP MPDR5202 Statistika Pendidikan:

Penyajian data yang berbeda :

Rekapitulasi Siswa SD X Tahun Ajaran 2014 - 2015

JENIS KELAMIN
NO KELAS JUMLAH
LAKI LAKI PEREMPUAN
A 12 12 24
1 I
B 13 12 25
A 11 17 28
2 II
B 10 16 26
A 12 16 28
3 III
B 12 15 27
A 18 15 33
4 IV
B 17 16 33
A 14 14 28
5 V
B 12 15 27
A 10 12 22
6 VI
B 13 11 24
7 JUMLAH 154 171 325
Sumber: rekayasa

2. Karena ketika kita membuat tabel baris-kolom, semua data atau informasi yang disajikan atau
diperoleh harus termuat dalam tabel. Sehingga, meskipun bentuk tabel berbeda, data yang
disajikan akan tetap sama.
3. Hal yang harus diperhatikan dalam menyusun tabel baris-kolom adalah semua informasi yang
diperolah harus termuat dalam tabel. Artinya tidak boleh ada data yang tertinggal. Selain itu,
penyajian kategori bagi judul (baik kolom maupun baris) harus jelas, bebas, dan saling lepas.
Beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam menyajikan data kategori dalam bentuk tabel
baris-kolom adalah :
a. Judul tabel, yakni :
– ditulis di tengah-tengah bagian paling atas
– diberi nomor bila perlu
– ditulis dengan huruf besar semua
– singkat dan jelas
– dapat ditulis dalam beberapa baris
– sebaiknya tiap baris jangan ada pemisahan kata.
b. Judul baris, yakni :
– ditulis singkat dan jelas
– dapat ditulis dalam beberapa baris
– sebaiknya tidak dilakukan pemisahan kata.
c. Judul kolom, yakni :
– ditulis singkat dan jelas
– dapat ditulis dalam beberapa baris
– sebaiknya tidak dilakukan pemisahan kata.
d. Pada bagian kiri bawah diisi catatan yang diperlukan, seperti sumber data (jika ada) .
e. Data mengenai waktu disusun secara berurutan.
f. Data mengenai kategori disusun menurut kebiasaan.
Masalah 2

Pada Buku Materi Pokok (BMP) MPDR5202 Statistika Pendidikan, Modul 2, halaman 2.7, Anda
telah mendapatkan penjelasan bagaimana menyajikan data dalam bentuk tabel distribusi
frekuensi. Pada penyajian data tersebut terdapat dua bentuk tabel distribusi frekuensi untuk
panjang interval = 5. Menurut Anda, tabel mana yang dapat menyajikan data lebih baik? Jelaskan
kriteria Anda dalam menentukan pendapat Anda tersebut!
JAWAB:

Data dari (BMP) MPDR5202 Statistika Pendidikan, Modul 2, halaman 2.7 :

Menurut saya Tabel B menyajikan data lebih baik, Karena data pada tabel B menggunakan
ujung-ujung kelas interval yang lebih baik, yakni ujung bawah interval kelas pertamanya
mempakan kelipatan dari panjang kelas intervalnya, sedangkan tabel C ujung bawah kelas
interval pertamanya bukan kelipatan dari panjang interval kelasnya, sebagai tambahan pula
bahwa pada Tabel B dimulai dengan batas bawah 60. Sedangkan Tabel C dimulai dengan
batas bawah 61. Tentu tabel C tidak mewakili data yang tersedia. Serta pada Tabel B
diakhiri dengan batas atas 99 dan tabel C diakhiri dengan batas atas 100. Ini menunjukkan
Tabel C kurang mewakili data.
Menurut Minium,dkk. (1993) terdapat suatau consensus yang dapat dijadikan acuan dalam
menyusun tabel distribusi frekuensi, namun ini bersifat tidak kaku, acuan tersebut adalah:
a. Pastikan bahwa kelas kelas interval yang dibuat saling lepas. Interval interval tidak boleh
overlap, sehingga tidak ada skor yang termuat ke lebih dari satu interval.
b. Pastikan bahwa semua interval panjangnya sama. Konsensus ini untuk mempermudah
melihat pola yang muncul dari data yang kita sajikan.
c. Buatlah interval-interval tersebut kontinu sehingga membentuk distribusi. Misalkan, pada
Tabel A di atas, kita tetap membuat interval 63 - 65, walaupun pada interval tersebut tidak
ada frekuensi atau tidak ada skor yang termuat dalam interval tersebut.
d. Susunlah kelas-kelas interval secara sistematis. Bisa menurun; dari terbesar hingga tcrkecil,
bisa juga dari yang terkecil hingga besar Minium, dkk. (1997) Iebih menyarankan dari yang
terbesar hingga terkecil (turun). Minium, dkk. beralasan bahwa jika kita menyusun interval-
interval dari data skor siswa dengan skala 100, maka jika susunannya naik sangat mungkin
kita akan memperoleh interval, misalnya 98 102, dan hal ini misleading. Tetapi jika dari
yang terbesar, maka pastilah kita akan memilih interval ujung bawah interval pertama
kurang dari atau sama dengan 100.
e. Jika range datanya besar, gunakan banyak interval 10 hingga 20 kelas interval. Sebagai
contoh untuk tabel 3 di atas yang terdiri dari 3 buah tabel distribusi frekuensi berbeda. Tabel
A menggunakan lebih banyak kelas-kelas interval dibandingkan dengan tabel B dan tabel C.
Menurut Minium, dkk. (1993), tabel distribusi frekuensi yang memuat sedikit kelas-kelas
interval akan kehilangan keakuratan (accuracy) lebih jauhnya kita akan kehilangan banyak
informasi dari data tersebut Namun demikian, tentu saja, banyak kelas-kelas interval yang
kita pilih sangat bergantung dari ukuran sampel, serta jangkauan dari datanya.
f. Pilihlah panjang kelas interval yang convenient, misalnya panjang kelaS interval 2, 5, 10,
15, 25, dan 50 lebih mudah di konstruksi dan diinterpretasikan dibandingkan dengan
memilih panjang kelas interval 7, 19, atau 33.
g. Jika memungkinkan, pilihlah ujung bawah kelas interval pertama yang merupakan kelipatan
dari panjang kelas intervalnya. Contohnya pada tabel 3 di atas, tabel A dan B menggunakan
ujung-ujung kelas interval yang lebih baik, yakni ujung bawah interval kelas pertamanya
mempakan kelipatan dari panjang kelas intervalnya, sedangkan tabel C ujung bawah kelas
interval pertamanya bukan kelipatan dari panjang interval kelasnya.

Sumber :
http://www.pustaka.ut.ac.id/reader/index.php?subfolder=MPDR5202/&doc=M2.pdf

Anda mungkin juga menyukai