Anda di halaman 1dari 6

Tenaga kebersihan yang diserahkan oleh PT Bahtera kepada PT

Pratama Duta tersebut merupakan karyawan dari PT Bahtera. Tenaga


kebersihan tersebut bertanggung jawab kepada PT Bahtera dan
mendapatkan upah dari PT Bahtera.
Atas jasa yang diserahkan tersebut, PT Bahtera menerima
imbalan dari PT Pratama Duta sebesar Rp 30.000.000,00 (tiga puluh
juta rupiah). Imbalan tersebut terdiri atas imbalan atas jasa penyediaan
tenaga kebersihan oleh PT Bahtera termasuk di dalamnya upah bagi
para tenaga kebersihan sebesar Rp 20.000.000,00 (dua puluh juta
rupiah) untuk 10 (sepuluh) tenaga kebersihan.
Jasa yang diserahkan oleh PT Bahtera kepada PT Pratama Duta
merupakan jasa penyediaan pekerja yang tidak memenuhi kriteria
sebagai jasa penyediaan tenaga kerja yang tidak dikenai Pajak
Pertambahan Nilai, sehingga atas penyerahan jasa tersebut dikenai
Pajak Pertambahan Nilai.
Berdasarkan contoh transaksi penyerahan jasa penyediaan jasa
pekerja/buruh di atas, Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan jasa
tersebut adalah :
a. Penggantian, yaitu sebesar Rp 30.000.000,00 (tiga puluh juta
rupiah), dalam hal tagihan tidak dirinci dalam Faktur Pajak antara
yang diterima oleh PT Bahtera dan upah yang diterima oleh tenaga
kebersihan; atau
b. Nilai lain, yaitu berupa tagihan yang seharusnya diterima oleh PT
Bahtera tidak termasuk upah bagi tenaga kebersihan, yaitu sebesar
Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah), dalam hal tagihan atas
penyerahan jasa tersebut dirinci dalam Faktur Pajaknya dengan
memisahkan antara imbalan yang diterima oleh PT Bahtera dan
upah yang diterima oleh tenaga kebersihan yaitu sebesar Rp
20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah

6. Perhitungan PPN untuk Pemakaian Sendiri dan Pemberian


Cuma-Cuma
a. PPN untuk Pemakaian Sendiri
Yang dimaksud dengan "Pemakaian sendiri BKP " adalah
pemakaian BKP untuk kepentingan pengusaha sendiri, pengurus,
atau karyawannya, baik barang produksi sendiri maupun bukan
produksi sendiri. Sedangkan yang dimaksud dengan "Pemakaian

Hal. 100
sendiri JKP " adalah pemakaian JKP untuk kepentingan pengusaha
sendiri, pengurus, atau karyawannya.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2012,
Pemakaian sendiri Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak
merupakan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena
Pajak yang terutang PPN atau PPN dan PPnBM.
Pemakaian sendiri Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena
Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pemakaian
sendiri untuk:
1) tujuan produktif; atau
Yang dimaksud dengan "Pemakaian sendiri BKP dan/atau JKP
untuk tujuan produktif" adalah pemakaian BKP dan/atau JKP
yang nyata-nyata digunakan untuk kegiatan produksi
selanjutnya atau untuk kegiatan yang mempunyai hubungan
langsung dengan kegiatan usaha Pengusaha ybs, yang
meliputi kegiatan produksi, distribusi, pemasaran, dan
manajemen
Pemakaian sendiri Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena
Pajak untuk tujuan produktif tidak dilakukan pemungutan
Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah, kecuali pemakaian
sendiri yang digunakan untuk melakukan penyerahan yang:
a) tidak terutang Pajak Pertambahan Nilai; atau
b) mendapat fasilitas dibebaskan dari pengenaan PPN
Transaksi pemakaian sendiri untuk tujuan produktif terutang
Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Dalam rangka
memberikan kemudahan administrasi kepada Pengusaha
Kena Pajak, pemakaian sendiri untuk tujuan produktif tidak
dilakukan pemungutan Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Kemudahan administrasi tersebut diberikan karena Pajak
Pertambahan Nilai yang dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak
atas pemakaian sendiri untuk tujuan produktif merupakan
Pajak Masukan yang dapat dikreditkan.

Contoh Pemakaian BKP dan/atau JKP untuk tujuan produktif


yang nyata-nyata digunakan untuk kegiatan yang mempunyai

Hal. 101
hubungan langsung dengan kegiatan usaha Pengusaha yang
bersangkutan:
a) Pabrikan truk mempergunakan sendiri truk yang
diproduksinya untuk kegiatan usaha mengangkut suku
cadang.
b) Pabrikan minyak kelapa sawit menggunakan limbahnya
berupa kulit dari inti sawit sebagai pengeras jalan di
lingkungan pabrik.
c) Perusahaan telekomunikasi menggunakan saluran
teleponnya untuk kegiatan operasional perusahaan dalam
berkomunikasi dengan mitra bisnisnya

Contoh Pemakaian Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena


Pajak untuk tujuan produktif yang nyata-nyata digunakan
untuk kegiatan produksi selanjutnya:
a) Pabrikan minyak kelapa sawit menggunakan limbahnya
berupa kulit dari inti sawit sebagai bahan pembakaran
boiler dalam proses pabrikasi.
b) Pabrikan kayu lapis (plywood) menggunakan hasil
produksinya berupa kayu lapis (plywood) untuk
membungkus kayu lapis (plywood) yang akan dipasarkan
agar tidak rusak.
c) Perusahaan telekomunikasi menggunakan sambungan
saluran teleponnya untuk melakukan penyerahan jasa
provider internet kepada konsumennya.

2) tujuan konsumtif
Yang dimaksud dengan "Pemakaian sendiri BKP dan/atau
JKP untuk tujuan konsumtif" adalah Pemakaian sendiri BKP
dan/atau JKP yang tidak ada kaitan dengan kegiatan produksi
selanjutnya atau untuk kegiatan yang tidak mempunyai hubungan
langsung dengan kegiatan usaha Pengusaha yang bersangkutan.
Contoh Pemakaian sendiri Barang Kena Pajak dan/atau Jasa
Kena Pajak untuk tujuan konsumtif:
a) Pabrikan minuman ringan menggunakan hasil produksinya
untuk konsumsi karyawan atau para tamu.

Hal. 102
b) Pabrikan sepatu dalam rangka promosi membeli topi dengan
logo merek sepatu pabrik tersebut dan sebagian dibagikan
kepada karyawannya.
c) Perusahaan telekomunikasi selular memberikan fasilitas bebas
biaya telepon selular kepada para direksinya.
Atas pemakaian sendiri Barang Kena Pajak dan atau Jasa
Kena Pajak bukan untuk tujuan produktif terutang PPN dan harus
diterbitkan Faktur Pajak. PPN yang tercantum dalam Faktur Pajak
merupakan Pajak Keluaran dan sekaligus merupakan Pajak
Masukan yang tidak dapat dikreditkan.

Contoh kasus :
Pabrikan ban menggunakan produksi ban sendiri untuk:
a) truk yang digunakan untuk pengangkutan ban produksinya;
dan
b) kendaraan angkutan umumnya.
Atas pemakaian sendiri untuk tujuan produktif sebagaimana
dimaksud pada contoh huruf a tidak dilakukan pemungutan Pajak
Pertambahan Nilai.
Namun demikian, atas pemakaian sendiri untuk tujuan
produktif sebagaimana dimaksud pada contoh huruf b tetap
dipungut Pajak Pertambahan Nilai, karena digunakan untuk
penyerahan jasa angkutan umum yang merupakan penyerahan
yang tidak terutang Pajak Pertambahan Nilai.

b. PPN untuk Pemberian Cuma-cuma


Yang dimaksud dengan “pemberian cuma-cuma” adalah
pemberian yang diberikan tanpa pembayaran baik barang produksi
sendiri maupun bukan produksi sendiri, seperti pemberian contoh
barang untuk promosi kepada relasi atau pembeli.
Contoh Pemberian cuma-cuma BKP dan atau JKP:
1) Pabrikan mie instan memberikan bantuan berupa mie instan
hasil produksinya kepada korban bencana alam.
2) Pabrikan mie instan memberikan contoh produknya kepada
para relasi.
3) Pabrikan shampo memberikan 1 sabun mandi untuk setiap
penjualan 1 botol produk shamponya.

Hal. 103
4) Perusahaan jasa persewaan traktor memberikan bantuan
penggunaan traktor kepada pemerintah untuk mengatasi tanah
longsor
Menurut Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE - 04/PJ.51/2002,
besarnya Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai yang
dicantumkan dalam Faktur Pajak atas pemakaian sendiri dan atau
pemberian cuma-cuma adalah Harga Jual atau Penggantian setelah
dikurangi laba kotor.

PPN yang telah dipungut dan disetor atas pemberian cuma-


cuma BKP dan atau JKP, dapat dikreditkan oleh PKP penerima
Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak sepanjang memenuhi
persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan perundangan
yang berlaku.

PPN yang dibayar oleh PKP atas perolehan BKP dan atau JKP
yang digunakan untuk menghasilkan BKP dan atau JKP yang
digunakan untuk pemakaian sendiri dan atau pemberian cuma-
cuma atau atas perolehan BKP yang kemudian dipakai sendiri oleh
PKP atau diberikan secara cuma-cuma merupakan Pajak Masukan
yang dapat dikreditkan sepanjang memenuhi persyaratan
sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan perundang-undangan
yang berlaku.

7. Nilai Penyerahan dengan Valas


Apabila terjadi penyerahan BKP dan atau JKP yang
pembayarannya ternyata dilakukan dengan menggunakan valuta asing,
maka sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 2012 pasal 14 diatur :
Dalam hal transaksi atas:
a. impor Barang Kena Pajak;
b. penyerahan Barang Kena Pajak;
c. penyerahan Jasa Kena Pajak;
d. pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak berwujud dari luar Daerah
Pabean; atau
e. pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean,
dilakukan dengan mempergunakan mata uang asing, penghitungan
besarnya Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang, harus dikonversi ke

Hal. 104
dalam mata uang rupiah dengan mempergunakan kurs yang ditetapkan
Menteri Keuangan yang berlaku pada saat pembuatan Faktur Pajak.
Contoh perhitungan :
Contoh 1 dengan DPP Nilai Impor
Tanggal 01 November 2011, PT JAK mengimpor barang elektronik senilai
(FOB) $ 10.000, biaya kirim $ 500, asuransi $ 25. Tarif Bea masuk 5%,
kurs pajak saat itu Rp 8.000/1$. Hitung Berapa jumlah dibayar PT JAK
dengan API?
Maka :
Cost = $10.000 X Rp8.000,00 Rp80.000.000,00
Insurance = $25 X Rp8.000,00 Rp 200.000,00
Freight = $500 X Rp8.000,00 Rp 4.000.000,00
Nilai CIF Rp84.200.000,00
Bea Masuk=5% X Rp84.200.000,00 Rp 4.210.000,00
Nilai Impor Rp88.410.000,00
PPN = 10% X Rp88.410.000,00 Rp 8.841.000,00
PPh 22 (API) =2,5% X Rp88.410.000,00 Rp 2.210.250,00
Jumlah dibayar PT JAK Rp99.461.250,00

Contoh 2 dengan DPP Harga Jual


Pengusaha Kena Pajak A menjual tunai Barang Kena Pajak dengan
Harga Jual $25.000, dan kurs Menteri Keuangan yang berlaku saat itu
adalah Rp10.000,00 per dolar.
Maka :
Harga jual = $25.000 X Rp10.000,00 Rp250.000.000,00
PPN = 10% X Rp250.000.000,00 Rp 25.000.000,00

C. LATIHAN

1. PKP A menjual BKP dengan harga jual Rp. 25.000.000 dengan


memberikan diskon 5 %. Hitung PPN Keluarannya!
2. PKP B melakukan penyerahan JKP dengan nilai penggantian Rp.
55.000.000 termasuk PPN. Berapakah DPP dan PPN Keluarannya!
3. PKP C mengimpor BKP dengan nilai impor Rp 6.500.000 termasuk
PPN dan PPnBM 20 %, berapakah PPN dan PPnBM yang dibayar
PKP C? Berapakah jumlah harus dibayar PKP C jika mempunyai API?
4. 0Tanggal 01 November 2011, PT JAK mengimpor barang elektronik
senilai (FOB) $ 10.000, biaya kirim $ 500, asuransi $ 25. Tarif Bea

Hal. 105