Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI TUMBUHAN II
TRANSPIRASI PADA TUMBUHAN

Oleh :

Nama : Ayiguna Mada Wardiana


NIM : B1J006084
Rombongan : VI
Kelompok :2
Hari/jam : Sabtu/15.45-17.45 WIB
Asisten : Iis Istianah

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2008
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN II

Acara Praktikum : Transpirasi pada Tumbuhan


Tujuan : 1. Membuktikan bahwa besarnya transpirasi tidak
ditentukan oleh luas stomata tetapi oleh keliling
2. Menghitung laju kehilangan uap air pada beberapa
macam daerah penguapan

Hasil dan Pembahasan:

Hasil

Tabel pengamatan :
Tempat Laju (m/s) LDC (cm3)
Laborat tengah 7,8 . 10-5 2335,15
Laborat teduh 17 . 10-5 1346,67
Luar panas 9 . 10-4 1024,56
Luar teduh 6,7 . 10-3 1557,33
Luar belakang 3,3 . 10-4 1236,57

A. Pembahasan

Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk


uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata (Lakitan, 1993). Kemungkinan
kehilangan air dari jaringan lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut
sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Oleh sebab itu,
dalam perhitungan besarnya jumlah air yang hilang dari jaringan tanaman
umumnya difokuskan pada air yang hilang melalui stomata (Loveless,1991).
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian satu lubang dengan
ukuran 2x2 cm, menghasilkan volume air yang diuapkan sebanyak 5 ml.
Perlakuan ke -2 dengan 2 lubang ukuran 2x1 cm dengan volume air yang
diuapkan sebanyak 7ml dan empat lubang dengan ukuran 1x1 cm dapat
menguapkan air sebanyak 7,5 ml. Hilangnya air dari tanaman dalam hal ini
transpirasi berhubungan dengan stomata. Lubang stomata yang berbentuk oval
mempunyai kaitan dengan intensitas pengeluaran air. Percobaan fisika
membuktikan bahwa penguapan air yang tidak ditutup sama sekali lebih lambat
daripada penguapan air melalui lubang-lubang selaput yang halus. Dalam batasan
terentu, semakin banyak pori, maka penguapan juga semakin cepat ( Tjitrosomo,
1985). Posisi lubang yang berdekatan menyebabkan penguapan melalui lubang
yang satu terhambat oleh penguapan lubang yang berdekatan, karena jalan yang
ditempuh oleh molekul air yang melewati lubang tidak lurus tetapi membelok
karena pengaruh sel penutup. Bentuk stomata yang oval juga memudahkan
pengeluaran air daripada bentuk stomata yang bundar. Deretan molekul-molekul
air yang kuat lebih banyak jika keliling dari stomata lebih panjang. Pengeluaran
air yang maksimal terjadi jika jarak antara stomata 20 kali diameternya
(Dwidjoseputro, 1989). Hasil pengamatan menunjukkan penguapan air yang
paling besar yaitu 7,5 ml untuk perlakuan 4 lubang 1x1 cm dan yang paling
sedikit menguap pada 1 lubang 2x2 cm yaitu 5ml. Hasil pengamatan tersebut
berarti sesuai dengan pendapat di atas.
Transpirasi dalam tanaman atau terlepasnya air melalui stomata dapat
melalui kutikula walaupun hanya 5-10% dari jumlah air yang ditranspirasikan di
daerah beriklim sedang. Air sebagian besar menguap melalui stomata,sehingga
jumlah dan bentuk stomata sangat mempengaruhi laju transpirasi (Tjitrosomo,
1985).
Dwidjoseputro (1989), menyatakan bahwa transpirasi mempunyai arti
penting bagi tanaman. Transpirasi pada dasarnya suatu penguapan air yang
membawa garam-garam mineral dari dalam tanah. Transpirasi jiga bermanfaat di
dalam hubungan penggunaan sinar matahari, kenaikan temperatur yang diterima
tanaman digunakan untuk penguapan air.
Transpirasi dibedakan menjadi tiga macam berdasarkan tempatnya, yaitu
transpirasi kutikula, transpirasi lentikuler, transpirasi stomata. Hampir 97% air
dari tanaman hilang melalui transpirasi stomata. (Heddy,1990).
Proses transpirasi pada dasarnya sama dengan proses fisika yang terlibat
dalam penguapan air dari permukaan bebas. Dinding mesofil basah yang dibatasi
dengan ruang antar sel daun merupakan permukaan penguapan. Konsentrasi uap
air dalam ruang antar sel biasanya lebih besar daripada udara luar. Manakala
stomata terbuka, lebih banyak molekul air yang akan keluar dari daun melalui
stomata dibandingkan dngan jumlah yang masuk per satuan waktu, dengan
demikian tumbuhan tersebut akan kehilangan air.
Kegiatan transpirasi dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dalam maupun
luar. Faktor dalam antara lain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis
lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak sedikitnya bulu pada permukaan
daun, banyak sedikitnya stomata, bentuk dan letak stomata
(Salisbury&Ross.1992) dan faktor luar antara lain:
1. Kelembaban
Bila daun mempunyai kandungan air yang cukup dan stomata terbuka,
maka laju transpirasi bergantung pada selisih antara konsentrasi molekul uap air
di dalam rongga antar sel di daun dengan konsentrasi mulekul uap air di udara.
2. Suhu
Kenaikan suhu dari 180 sampai 200 F cenderung untuk meningkatkan
penguapan air sebesar dua kali. Dalam hal ini akan sangat mempengaruhi tekanan
turgor daun dan secara otomatis mempengaruhi pembukaan stomata.
3. Cahaya
Cahaya memepengaruhi laju transpirasi melalui dua cara pertama cahaya
akan mempengaruhi suhu daun sehingga dapat mempengaruhi aktifitas transpirasi
dan yang kedua dapat mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap
buka-tutupnya stomata.
4. Angin
Angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan
terhadap laju transpirasi. Angin menyapu uap air hasil transpirasi sehingga angin
menurunkan kelembanan udara diatas stomata, sehingga meningkatkan
kehilangan neto air. Namun jika angin menyapu daun, maka akan mempengaruhi
suhu daun. Suhu daun akan menurun dan hal ini dapat menurunkan tingkat
transpirasi.
5. Kandungan air tanah
Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan alju
absorbsi air di akar. Pada siang hari biasanya air ditranspirasikan lebih cepat dari
pada penyerapan dari tanah. Hal tersebut menyebabkan devisit air dalam daun
sehingga terjadi penyerapan yang besar, pada malam hari terjadi sebaliknya. Jika
kandungan air tanah menurun sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air
melalui tanah ke dalam akar menjadi lambat. Hal ini cenderung untuk
meningkatkan defisit air pada daun dan menurunkan laju transpirasi lebih lanjut
(Loveless,1991).
Unsur kalium sangat memegang peranan dalam proses mermbuka dan
menutupnya stomata (stomata movement) serta transportasi lain dalam hara
lainnya, baik dari jaringan batang maupun lasngsung dari udara bebas. Dengan
adanya defisiensi kalium maka secara langsung akan memperlambat proses
fisiologi, baik yang melibatkan klorofil dalam jaringan daun maupun yang
behubungan dengan fungsi stomata sebagai faktor yang sangat penting dalam
produksi bahan kering secara umum. Semakin lama defisiensi kalium maka akan
semakin berdampak buruk terhadap laju proses fisiologi dalam jaringan daun.
Semakin berat defisiensi kalium pada gilirannya akan berdampak semakin parah
terhadap rusaknya pertumbuhan daun (Masdar, 2003)
Transpirasi yang terjadi memang dapat merugikan tanaman, namun juga
bermanfaat bagi tanaman antara lain
1. Meningkatkan daya isap daun pada penyerapan air
2. Mengurangi jumlah air dalam tumbuhan jika terjadi penyerapan yang
berlebihan.
Kesimpulan

Besarnya transpirasi tidak dapat ditentukan oleh luasnya stomata tetapi


oleh keliling stomata adalah laju kehilangan uap air pada perlakuan lubang 2x2
cm adalah 5ml, 2 lubang 2x1 cm adalah 7 ml dan 4 lubang dengan ukuran 1x1 cm
adalah 7,5 ml.

Daftar Referensi

Dwidjoseputro. 1989. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT Gramedia, Jakarta

Heddy, S.1990. Biologi Pertanian. Rajawali Press. Jakarta

Lakitan,B. 1993. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan.PT Raja Grafindo


Persada.Jakarta

Loveless, P.R.1991. Principles of Biology Plants in Tropical Area. Mac Millan


Publishing Inc.New York

Masdar. 2003. Pengaruh Lama Beratnya defisiensi Kalium Terhadap


Pertumbuhan Tanaman Durian (Durio Zibethinus). Jurnal Akta
Agrosia Vol.6 No. 2. Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.

Salisbury, F.B. and C.W.Ross.1992.Plant Physiology. Third Edition.Wadsworth


Publishing Co., Belmount, California

Tjitrosomo,S.S.1985. Boani Umum 2.Angkasa.Bandung