Anda di halaman 1dari 12

Penelitian

INDIKATOR MUTU
PROGRAM PENDIDIKAN SEPANJANG HAYAT

Harina Yuhety,* Yusufhadi Miarso, dan Anisah Baslemah**

Abstract

Considering the importance of lifelong education, this study aimed at obtaining the quality of lifelong
education program in Indonesia. The study employed policy research method exploring the information
from various sources. The findings of the study concluded that although the lifelong education
program is not explicity stated in the education acts, its existance is undeniable conceptually and
empirically.

Keywords: lifelong education, indicator of program quality, life skill, lifelong learner.

PENDAHULUAN

Pergeseran paradigma pendidikan telah tertuang dihadapkan pada kian banyaknya pengangguran,
secara eksplisit dalam Undang-Undang Sisdiknas No. bertambahnya penduduk miskin, melemahnya standar
20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional kehidupan dalam populasi penduduk dunia yang makin
(UU Sisdiknas). Pada Pasal 4 ayat (2) ditetapkan bahwa bertambah, makin tajamnya jurang antara yang kaya
pendidikan diselenggarakan sebagai suatu kesatuan dan yang miskin. Kondisi tersebut menjadi inspirasi
yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. kunci (key inspiration) bagi berkembangnya belajar
Dalam ayat (3) ditetapkan bahwa pendidikan sepanjang hayat melalui pengembangan potensi
diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan manusia (the development of human potential)
dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung (Longworth dan Davies, 1996:24).
sepanjang hayat. Selanjutnya dalam ayat (6) ditetapkan Dalam pengkajian ini masalah dibatasi pada (1)
bahwa pendidikan diselenggarakan dengan Bagaimanakah rumusan indikator mutu program
memberdayakan semua komponen masyarakat melalui pendidikan sepanjang hayat? (2) Bagaimanakah
peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian pendapat pemangku kebijakan mengenai indikator mutu
mutu layanan pendidikan. Ketentuan ini mengandung program pendidikan sepanjang hayat? (3) Konsensus
arti pentingnya proses pendidikan daripada sekedar apa saja yang dapat dijadikan bahan untuk menentukan
materi pendidikan. standar mutu program pendidikan sepanjang hayat
Berdasarkan ketentuan tentang sistem terbuka sesuai dengan satuan pendidikan nonformal? (4)
dan multimakna telah dimungkinkan pendidikan yang
Kategori dan Indikator apa saja yang dapat dijadikan
diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu
bahan untuk penyusunan kebijakan dalam standar
penyelesaian program lintas satuan dan jalur
program pendidikan sepanjang hayat?
pendidikan. Untuk keperluan itu diperlukan adanya
Tujuan umum pengkajian ini adalah untuk
informasi tentang kategori dan indikator mutu yang
memberikan masukan kebijakan kepada para pengambil
berlaku untuk program pendidikan semua jalur sebagai
keputusan kebijakan berupa indikator mutu program
bagian dari program pendidikan sepanjang hayat.
pendidikan sepanjang hayat berdasarkan persepsi dari
Urgensi berkembangnya pendidikan dan belajar
para pemangku kepentingan (stakeholders) yang dapat
sepanjang hayat dilatarbelakangi oleh kondisi nyata
diberlakukan pada berbagai jalur, jenjang, dan jenis
(real conditons) bangsa-bangsa di dunia yang
pendidikan. Hasil kajian diharapkan dapat dijadikan
masukan lebih lanjut bagi Unit Utama Manajemen
Pendidikan dan Badan Standar Nasional Pendidikan
*Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional untuk dijabarkan lebih lanjut sebagai peraturan turunan
**Guru Besar Universitas Negeri Jakarta yang melengkapi perundangan yang ada.

Jurnal Ilmiah VISI PTK-PNF - Vol. 3, No.2 - 2008 159


Indikator Mutu Program...

KAJIAN TEORETIS

Hakikat Pendidikan Sepanjang Hayat itu, pendidikan sesungguhnya dapat berjalan dalam
Pendidikan dan belajar sepanjang hayat berbagai lingkungan kehidupan. Salah satunya program
didefinisikan sebagai pengembangan potensi manusia pendidikan nonformal yang meliputi kegiatan belajar
melalui proses yang medukung secara terus menerus sebaya (peer group), upaya peningkatan taraf hidup
yang menstimulasi dan memberdayakan individu- keluarga, belajar di perpustakaan, belajar dalam
individu agar memperoleh semua pengetahuan, nilai- lingkungan kerja, lapangan usaha, lembaga-lembaga
nilai, keterampilan-keterampilan, dan pemahaman. penyelenggara program pendidikan maupun dalam
Semuanya itu akan diperoleh dalam keseluruhan hidup
semua kegiatan yang ada dan berkembang di dalam
individu dan kemudian menerapkannya dengan penuh
masyarakat.
percaya diri, penuh kreativitas, dan menyenangkan
Belajar sepanjang hayat merupakan proses
dalam seluruh peran, iklim, dan lingkungan (Longworth
kontinum dari elemen-elemen yang saling berkaitan
dan Davies, 1996:22).
(interdependent), yang dilandasi oleh kebutuhan individu
Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH) merupakan
dalam pendidikan sepanjang hidupnya. Longworth dan
suatu gagasan atau konsep, bahkan direkomendasikan
Davies (1996) melukiskan proses belajar sepanjang
sebagai suatu konsep induk dalam upaya inovasi
hayat yang merentang dari pendidikan formal, nonformal
pendidikan. Dengan kata lain PSH bukanlah merupakan
hingga informal. Aksis A – pemelajar - adalah nilai,
suatu jalur ataupun satuan dan atau program
(sebagaimana ditegaskan dalam UU Sisdiknas No. 20 keterampilan, dan atribut belajar sepanjang hayat yang
Tahun 2003), melainkan sebagai suatu ide yang menjadi akan membawa pemelajar ke arah kemajuan melalui
landasan pengembangan jalur ataupun satuan siklus belajar sepanjang waktu sebagaimana
pendidikan. Hal ini perlu ditegaskan bahwa UUSPN No. ditunjukkan dalam Aksis B. Aksis B adalah sepanjang
20 tahun 2003 memberi arahan bahwa pendidikan hayat - tingkat perbedaan perjalanan hidup semua
nasional dilaksanakan melalui tiga jalur, yaitu pemelajar ditempuh melalui perolehan pengetahuan dan
pendidikan formal, nonformal, dan informal. pemahaman, melalui sistem belajar formal hingga
Dilihat dari cakupannya, PSH menurut Gestrelius sistem belajar informal. Aksis C adalah belajar -
(1997), meliputi interaksi belajar-membelajarkan, merupakan seperangkat pendukung dari sistem belajar
penentuan bahan belajar, metode belajar, lembaga sepanjang hayat di mana pemelajar beradaptasi dengan
penyelenggara pendidikan, organisasi penyelenggara, kebutuhan belajarnya. Gambar di bawah ini
fasilitas, administrasi, dan kondisi lingkungan menunjukkan proses belajar sepanjang hayat yang
pendukung kegiatan yang berkelanjutan. Oleh karena berlangsung secara kontinum.

Gambar 1. Proses belajar sepanjang hayat (Longworth dan Davies, 1996:20)

160 Jurnal Ilmiah VISI PTK-PNF - Vol. 3, No.2 - 2008


Indikator Mutu Program...

Proses belajar dalam lingkup pendidikan mencapai kepuasan dalam peningkatan diri. Aspek
sepanjang hayat dapat ditempuh dengan berbagai cara. tingkah laku inilah yang perlu ditingkatkan ke arah
Misalnya, seseorang yang ingin mempelajari teknik-teknik yang lebih baik karena perubahan aspek tingkah laku
membuat barang kerajinan tangan, memasarkan hasil tersebut akan mempengaruhi peningkatan taraf hidup
produksi, dan mengelola unit usaha maka mungkin dan kehidupan peserta didik.
ia dapat menempuh langkah-langkah berikut. Proses belajar sepanjang hayat harus
1. Menyaksikan atau mengamati orang lain melakukan menempatkan nilai-nilai kecakapan hidup (life skills)
kegiatan tertentu yang diinginkan.
sebagai muatan strategis yang terintegrasi dengan materi
2. Membantu orang lain yang membuat barang atau
belajar sepanjang hayat. Nilai kecakapan hidup dan
melakukan usaha.
kecakapan sosial dalam dunia belajar sepanjang hayat
3. Ikut serta bersama orang lain yang melakukan
kegiatan. akan sangat baik bila dikembangkan melalui sistem
4. Mengerjakan sendiri pekerjaan kegiatan tertentu kemitraan (partnership system) dengan melibatkan
(Sudjana, 2004). orangtua, gubernur, organisasi profesi, kelompok minat,
Melalui salah satu atau beberapa langkah dan industri. Dalam gambar berikut terlihat ada sepuluh
tersebut maka ia dapat mengembangkan pengetahuan, daftar kecakapan hidup paling atraktif bagi pengembangan
keterampilan, sikap dan atau aspirasinya untuk wawasan dan nilai belajar sepanjang hayat.

Gambar 2. Kecakapan hidup dalam dunia belajar sepanjang hayat (Longworth, N & Davies, W.K., 1996).

Pentingnya belajar dari dan dalam dunia kehidupan Indikator Mutu Pendidikan
nyata tidak terbatas pada upaya untuk memiliki dan UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 menetapkan
meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perlunya ditentukan standar nasional pendidikan yang
aspirasi saja. Lebih jauh dari itu kegiatan belajar merupakan kriteria minimal tentang mutu sistem
mencakup segi-segi kehidupan yang lebih luas seperti pendidikan, yang terdiri atas standar isi, proses,
nilai keagarnaan, hubungan sosial, adat istiadat, dan kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan
norma-norma yang berkembang dalam masyarakat. prasarana, pengelolaan, pembiayaan, serta penilaian
Kegiatan belajar diperlukan pula untuk menyesuaikan diri pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana
dengan perubahan positif yang terus berkembang dan berkala. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun
dalam kehidupan. Dengan perkataan lain kegiatan 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) telah
belajar sepanjang hayat adalah untuk menyiapkan menjabarkan lebih lanjut ketentuan dalam Undang-
diri guna mencapai kehidupan yang lebih baik di masa undang Sisdiknas. Tujuan standar nasional pendidikan
yang akan datang. adalah untuk menjamin mutu pendidikan nasional

Jurnal Ilmiah VISI PTK-PNF - Vol. 3, No.2 - 2008 161


Indikator Mutu Program...

dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan Adapun yang merupakan ciri dari kesesuaian ini, antara
membentuk watak serta peradaban bangsa yang lain adalah sepadan dengan karakteristik peserta didik,
bermartabat. Namun standar nasional pendidikan ini serasi dengan aspirasi masyarakat maupun perorangan,
baru terbatas pada jalur pendidikan formal jenjang cocok dengan kebutuhan masyarakat, sesuai dengan
pendidikan dasar dan menengah. kondisi lingkungan, selaras dengan tuntutan zaman,
Secara konseptual mutu pendidikan diartikan dan sesuai dengan teori, prinsip, dan atau nilai baru
secara beragam, tergantung pada situasi dan dalam pendidikan.
lingkungan. Penelitian yang dilaksanakan oleh Donald Menurut pendapat Deming (Jenkins, 1996:12-13)
M. Morrison, Kelly Mohaski, dan Katryn Kotter yang pendidikan merupakan suatu sistem dengan tujuh
hasilnya divalidasikan oleh the Center for Reseach on komponen yang harus ada dan saling berkaitan. Ke tujuh
Educational Policy of University of Memphis pada tahun komponen tersebut adalah (1) tujuan (aims); (2) pelanggan
2005, menunjukkan adanya sejumlah indikator kualitas (customers); (3) persediaan (supplies); (4) masukan
pembelajaran (instructional quality indicators) yang (input); (5) proses; (6) keluaran (output); dan (7) ukuran
dikelompokkan ke dalam sepuluh kategori, yaitu: (1) kualitas (quality measurement). Deming menyatakan
lingkungan fisik yang kaya dan merangsang, (2) iklim bahwa tujuan umum pendidikan adalah meningkatkan
kelas yang kondusif untuk belajar, (3) harapan jelas hal-hal yang positif, mengurangi hal-hal yang negatif
dan tinggi para peserta didik, (4) pembelajaran yang sehingga setiap peserta didik bergairah untuk belajar.
koheren dan berfokus, (5) wacana ilmiah yang Adapun yang dimaksudkan dengan pelanggan adalah
merangsang pikiran, (6) belajar otentik, (7) asesmen para peserta didik terutama yang menjadi subjek dalam
diagnostik belajar yang teratur, (8) membaca dan program wajib belajar, meskipun termasuk pula peserta
menulis sebagai kegiatan regular, (9) pemikiran didik lain seperti maha peserta didik dan warga belajar
matematis, serta (10) penggunaan teknologi secara dewasa.
efektif. Kesepuluh kategori tersebut dijabarkan lagi Konsep tentang mutu pendidikan dengan
menjadi 42 indikator (Morrison, Mohaski, dan Cotter, demikian juga diartikan secara berbeda beda, tergantung
2005). pada situasi, kondisi, dan sudut pandang. Pada awal
Sementara itu the National Education Association kemerdekaan dahulu, adanya kesempatan satuan
di Amerika Serikat merumuskan enam kunci untuk pendidikan bagi kebanyakan warga sudah dianggap
keunggulan (keys to exellence) yang dijabarkan lebih sesuatu yang bermutu karena sebelumnya kesempatan
lanjut menjadi 35 indikator kualitas satuan pendidikan itu tidak ada atau sangat terbatas. Sekarang ini, sesuai
(indicators of a quality school). Keenam kunci dengan perkembangan budaya dan teknologi,
keunggulan tersebut adalah (1) pemahaman bersama pendidikan atau pembelajaran yang tidak memberikan
dan komitmen terhadap tujuan yang tinggi, (2) ko- kesempatan mengenal dan memanfaatkan teknologi
munikasi terbuka dan kolaborasi dalam memecahkan informasi, dianggap kurang bermutu.
masalah, (3) penilaian belajar dan pembelajaran secara Perbedaan sudut pandang didasarkan pada
terus menerus, (4) belajar pribadi dan profesional, (5) sum- pendapat bahwa dalam proses pendidikan ada tiga
ber-sumber untuk menunjang belajar dan pembelajaran, unsur yang berkepentingan. Pertama adalah
serta (6) kurikulum dan pembelajaran (http:// pemerintah dan atau yayasan bagi pendidikan swasta
www.nea.org/schoolquality/index.html). yang menentukan aturan pengelolaan (termasuk
Menurut Hoy, et al. (2000), yang dimaksud anggaran dan tata laksana); kedua adalah peserta
dengan mutu pendidikan adalah suatu evaluasi atas didik yang memperoleh manfaat dari pendidikan; dan
proses mendidik yang dapat meningkatkan kebutuhan ketiga adalah masyarakat, termasuk orangtua yang
untuk mengembangkan dan membina bakat dari memperoleh manfaat dari tersedianya lulusan atau hasil
peserta didik, proses pendidikan itu sendiri, dan dari proses pendidikan. Ketiga sudut pandang ini ada
bersamaan dengan itu memenuhi standar akuntabilitas kemungkinan berbeda dalam mengartikan mutu proses
yang ditetapkan oleh mereka yang bertanggung jawab pendidikan.
membiayai dan menerima lulusan pendidikan. Mutu Program PSH
Pendapat tersebut memperkuat pendapat bahwa ke tiga Mutu program PSH mengandung banyak
pihak yang berkepentingan perlu merumuskan rujukan. Beberapa di antara rujukan itu adalah bahwa
kesepakatan bersama. program PSH yang bermutu harus memiliki kesesuaian
Konsep mutu pendidikan menurut Miarso dengan standar tertentu, kesesuaian dengan kebutuhan
(2004:561) mengandung lima rujukan, yaitu kesesuaian, tertentu, kesepadanan dengan karakteristik dan kondisi
daya tarik, efektivitas, efisiensi, dan produktivitas. tertentu, keselarasan dengan kebutuhan zaman,

162 Jurnal Ilmiah VISI PTK-PNF - Vol. 3, No.2 - 2008


Indikator Mutu Program...

ketersediaan pada saat yang diperlukan, keterandalan 5. Active Citizenship Cultural and Social Skills
dalam berbagai kondisi, dan daya tarik yang tinggi. Area B: Access and Participation
Dalam perspektif yang lain disebutkan bahwa 6. Access to Lifelong Learning
mutu program PSH biasanya dikaitkan dengan konsep 7. Participation in Lifelong Learning
efisiensi (efficiency), efektivitas (effectiveness), Area C: Resources for Lifelong Learning
produktivitas (productivity), dan kepuasan (satisfaction). 8. Investment in Lifelong Learning
Efisiensi biasanya berhubungan dengan waktu dan 9. Educators and Training
sumber daya. Dalam pengertian bahwa sedikit mungkin 10. ICT in Learning
waktu dan sumber daya yang digunakan untuk Area D: Strategies and System Development
memperoleh output yang maksimal. Efektivitas berarti 11. Strategies of Lifelong Learning
bahwa bagaimana suatu aktivitas atau program 12. Coherence of Supply
dilakukan sebaik-baiknya sehingga memperlihatkan 13. Counselling and Guidance
adanya outcome yang dicapai. Produktivitas 14. Accreditation and Certification
bermakna optimalisasi, artinya bahwa semua anggota 15. Quality Assurance
atau komponen suatu organisasi dituntut Pendekatan PSH tersebut merupakan strategi
menghasilkan sesuatu sesuai dengan bidang dan kebijakan untuk pembangunan kewarganegaraan,
kemampuan masing-masing. Kepuasan lebih kohesi sosial, ketenagakerjaan, dan pemenuhan
berdimensi pada sejauhmana pengguna (user) kebutuhan pribadi. Berdasarkan kajian pustaka dapat
memperoleh kepuasan terhadap layanan pendidikan disimpulkan bahwa mutu progam PSH seyogianya
yang ditawarkan. didasarkan pada indikator sebagai berikut.
Komisi Eropa yang merupakan perwakilan dari 1. Berkembangnya kemitraan antara semua faktor, baik
35 negara Eropa, telah mengadakan pengkajian tahun yang ada dalam lingkungan pendidikan formal,
2002 mengenai indikator mutu PSH (European
informal, dan nonformal agar bekerja sama dalam
Commission. Directorate General for Education and
melaksanakan program di lapangan.
Culture, 2002:7-8). Indikator-indikator tersebut memiliki
2. Kegiatan difokuskan pada kebutuhan peserta belajar
peran penting dan strategis dalam pendidikan sepanjang
dan peserta belajar potensial, sejalan dengan
hayat, yaitu: (1) to describe the present situation, (2)
kebutuhan pribadi, lembaga, masyarakat, dan pasar
to quantify the objectives which have been set, (3) to
kerja.
provide continuous updates on progress towards certain
3. Adanya jaminan ketersediaaan sumber belajar
objectives or, (4) to provide insights into which factors
might have contributed to achieving results. disertai pembiayaan yang memadai.
Laporan komisi tersebut menyatakan adanya 15 4. Tersedianya akses untuk untuk belajar apa saja,
indikator mutu PSH yang dapat dikelompokkan dalam dari siapa saja, di mana saja, kapan saja, sesuai
empat kategori. Kategori dan indikator tersebut adalah dengan kaidah moral dan hukum yang ada.
sebagai berikut. 5. Adanya penghargaan yang berimbang kepada hasil
Area A: Skills, Competencies and Attitudes pendidikan formal, informal dan nonformal.
1. Literacy 6. Terciptanya budaya belajar pada semua jenjang,
2. Numeracy jalur, dan jenis pendidikan.
3. New Skills in the Learning Society 7. Adanya mekanisme penjaminan mutu melalui
4. Learning-to-Learn Skills evaluasi dan monitoring secara berkelanjutan.

METODOLOGI PENELITIAN

Tujuan Khusus Penelitian 2. Diperolehnya kesepakatan mengenai indikator mutu


Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mem- program PSH berdasarkan hasil kajian lapangan dan
peroleh informasi yang disepakati bersama mengenai konseptual oleh para wakil pemangku kepentingan.
indikator mutu program PSH. Adapun indikator mutu 3. Terhimpunnya bahan untuk penyusunan kebijakan
program PSH adalah sebagai berikut. yang berkaitan dengan standar mutu program PSH.
1. Terumuskannya indikator mutu program PSH yang Tujuan khusus tersebut direncanakan untuk
dapat berlaku lintas jalur, jenis, dan jenjang dapat dicapai secara bertahap. Hal tersebut dilakukan
pendidikan. karena mengingat bahwa konsep PSH masih belum

Jurnal Ilmiah VISI PTK-PNF - Vol. 3, No.2 - 2008 163


Indikator Mutu Program...

banyak dipahami dan juga belum ada penjabaran resmi Berdasarkan pendekatan bola salju tersebut
tentang apa itu gagasan dan atribut yang terkandung maka instrumen awal kajian yang dikembangkan adalah
dalam PSH. Oleh karena itu maka langkah pengkajian kuesioner yang berkaitan dengan program pendidikan
akan dimulai dari pemahaman yang telah dikenal, yaitu masyarakat. Kuesioner meliputi 125 indikator mutu
pendidikan masyarakat. yang dikelompokkan dalam sepuluh kategori, yaitu
Metode Penelitian pengelola, pamong belajar atau tutor fasilitator, program
Pengkajian ini merupakan pengkajian kebijakan belajar, sarana dan prasarana, hasil belajar, warga
yang bersifat eksploratif (explorative study), yaitu belajar, ragi belajar, kelompok belajar, panti belajar, serta
menjelajahi kemungkinan penjabaran kebijakan yang dana belajar. Tiap indikator dimungkinkan pemberian
bersifat umum sehingga dapat diketahui gagasan dan skor dengan rentangan 0 s/d 5. Skor 0 menunjukkan
atribut pokok dari kebijakan tersebut secara lebih tidak adanya pendapat atas indikator tersebut; skor 1
operasional. Pengkajian menggunakan metode teramu menunjukkan tidak pentingnya indikator; dan skor 5
(mixed method approaches), yaitu yang menunjukkan sangat pentingnya indikator yang
menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. bersangkutan.
Menurut Creswell (2008:552) metode teramu adalah Data yang diperoleh melalui kuesioner dilengkapi
prosedur dalam koleksi, analisis, dan meramu kuantitatif dengan observasi dan wawancara. Hasil kajian lapangan
serta kualitatif data dalam satu penelitian tunggal, untuk tersebut kemudian digabungkan dan dianalisis secara
dapat memahami masalah penelitian. Selanjutnya kuantitatif maupun kualitatif dan kemudian disajikan
Creswell (2008:558-561) mengidentifikasi empat macam dalam FGD yang diselenggarakan secara berturutan
dalam tiga lokasi agar dapat terkumpul informasi lebih
desain metode teramu yang biasanya dilakukan, yaitu
banyak lagi. Dalam FGD tersebut partisipasi responden
desain triangulasi, desain terjalin (embedded design),
diperluas sehingga meliputi para pemangku
desain eksplanatoris, dan desain eksploratoris. Desain
kepentingan dalam program PSH seperti yang
eksploratoris diawali dengan mengumpulkan data
diidentifikasikan dalam analisis konseptual dan analisis
kualitatiif, kemudian informasi kuantitatif untuk
lapangan yang telah berkembang.
menjelaskan saling hubungannya.
Selanjutnya, hasil FGD diolah dan kemudian
Berdasarkan pendapat Creswell tersebut maka
disajikan dalam forum yang lebih luas dalam seminar
awal pengkajian ini dilakukan dengan mengumpulkan nasional yang diselenggarakan dalam waktu dua hari.
data kualitatif berupa dokumen kebijakan serta berbagai Seminar nasional dirancang agar memperluas cakupan
laporan penyelenggaraan yang berkaitan dengan objek pengertian program PSH, serta sekaligus memperoleh
yang dikaji, yaitu program PSH. Kecuali itu juga rambu-rambu untuk penjabaran kebijakan yang
dikumpulkan informasi dari bahan pustaka dan referensi berkaitan dengan peningkatan mutu program PSH.
yang berkaitan. Hasil analisis awal menunjukkan bahwa Mereka yang dijadikan responden dalam
kebijakan beserta program PSH baru dipahami sebagai pengkajian dikelompokkan ke dalam empat kategori,
pendidikan masyarakat. Berdasarkan kajian konseptual yaitu Birokrasi atau Pejabat Dinas Pendidikan c.q Sub
program PSH mempunyai cakupan yang luas, bahkan Dinas Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Akademisi atau
lintas jalur, jenis, dan jenjang diputuskan untuk Dosen PLS atau PSH, Pengelola dan Praktisi PLS atau
menggunakan pendekatan bola salju (snowball PSH, dan tokoh masyarakat yang peduli PLS atau
approach). Menurut Creswell (2008:155) pendekatan PSH. Responden dipilih secara purposive dengan
ini memperluas cakupan, baik sumber data maupun mempertimbangkan jumlah yang seimbang antara
informasi yang dapat diperoleh. berbagai kategori responden tersebut.

HASIL PENELITIAN

Hasil Kajian Kuantitatif Hasil pengolahan data kuesioner tersebut


Hasil kuesioner yang terkumpul dari 168 respon- menunjukkan bahwa lima indikator yang dianggap
den di 21 provinsi hanya dapat diolah sebanyak 145 buah paling urgen dalam penyelenggaraan program
atau 86%. Ada sejumlah kuesioner yang tidak diolah pendidikan secara berurutan adalah sebagai berikut.
karena tidak semua data yang diminta diberikan (beberapa 1. Dimilikinya dokumen identitas warga belajar
butir kuesioner kosong), dan ada kuesioner yang (Kategori Kelompok Belajar #109).
diragukan kesungguhan pengisiannya karena semua butir 2. Warga belajar memiliki kemampuan baca tulis
pernyataan (125 buah) direspon dengan skor yang sama. fungsional (Kategori Warga Belajar indikator #81).

164 Jurnal Ilmiah VISI PTK-PNF - Vol. 3, No.2 - 2008


Indikator Mutu Program...

3. Dimilikinya Identitas lembaga (Kategori Kelompok pendidikan sepanjang hayat kepada khalayak yang
Belajar Indikator #110). lebih luas. Kedua, rumusan indikator PSH sebaiknya
4. Pertanggungjawaban dana (Kategori Dana Belajar dikemas secara sederhana untuk dapat dipahami
Indikator #120). dengan mudah oleh praktisi PSH.
5. Pamong belajar menjadi motivator agar warga aktif Ketiga, perlu ada contoh Good Practice dari
belajar (Kategori Pamong Belajar Indikator #19). lembaga PLS yang melaksanakan atau menerapkan
Adapun lima indikator yang dianggap paling tidak prinsip-prinsip PSH yang bersifat lintas jalur, jenis, dan
urgen adalah sebagai berikut. jenjang. Keempat, lembaga atau satuan penyelenggara
1. Pengaturan sarana yang menjamin kenyamanan program PSH, terutama pada jalur pendidikan nonformal
dan kesehatan (Kategori Sarana-Prasarana Indikator harus dibina, diawasi, dihidupi, dan dibiayai tidak hanya
#89). dalam dimensi program, namun juga dari segi fasilitas,
2. Pamong belajar menguasai pembelajaran berbasis tempat, serta sarana dan prasarana.
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) (Kategori Kelima, bila indikator mutu diimplementasikan
Pamong Belajar Indikator #18). perlu dipikirkan mengenai institusi independen yang
3. Termanfaatkannya media belajar berbasis TIK memberikan penjaminan mutu. Keenam, keterkaitan
(Kategori Sarana-Prasarana Indikator #70). program PSH dengan lembaga lain (kemitraan) mutlak
4. Tersedianya peralatan pendukung pembelajaran diperlukan. Oleh karena dalam operasionalisasinya
dengan TIK (Kategori Sarana-Prasarana Indikator kemitraan dengan lembaga lain akan meningkatkan
#71). keberdayaan warga belajar dan lembaga
5. Tersedianya laboratorium dan ruang kreatif (Kategori penyelenggaran PSH. Kemitraan dilakukan dalam
Sarana-Prasarana Indikator #72). bentuk: (a) rekayasa pelembagaan ekonomi
Hasil Kajian Kualitatif masyarakat dengan mengadaptasi budaya setempat
Hasil kajian kualitatif ini merupakan di mana kegiatan usaha tersebut bermuara; (b)
penggabungan dari data yang diperoleh melalui kemitraan usaha harus berdasarkan pada prinsip saling
observasi, analisis dokumen, wawancara, dan FGD. menguntungkan, saling membutuhkan, dan saling
Penggabungan ini dilakukan karena pertama, data menghidupi; serta (c) dilakukan upaya transformasi
saling melengkapi, apa yang dilihat melalui observasi kelembagaan (kelompok bina) menjadi kelompok atau
dan didengar penjelasannya melalui wawancara serta lembaga yang mandiri melalui proses yang wajar,
hasil pengecekan mengenai rancangan dan laporan demokratis, dan sesuai dengan tahap kematangan
kegiatan yang bersangkutan melalui analisis dokumen, kegiatan usaha yang diterapkan.
merupakan satu kesatuan sehingga tidak mungkin Ketujuh, kegiatan pembelajaran yang menjadi
dipisahkan; kedua, banyak kegiatan yang dilaporkan indikator adalah pembelajaran kelompok sedangkan
seperti yang dianalisis dari dokumen serta didukung pada saat ini telah mulai berkembang pembelajaran
oleh hasl wawancara, tidak dapat dilihat atau mandiri dengan mempergunakan teknologi informasi dan
diobservasi karena berbagai kendala seperti kegiatan komunikasi. Untuk itu, perlu dikembangkan indikator
tersebut tidak dilaksanakan setiap hari dan pada hari model pembelajaran yang memberi kemungkinan warga
kunjungan tidak berlangsung kegiatan, kegiatan belajar untuk mengembangkan pembelajaran mandiri.
tersebut berlangsung di tempat jauh misalnya di empang Kedelapan, perlu dikembangkan indikator input
di mana keterampilan perikanan dilaksanakan; serta bagi warga belajar di mana warga belajar menyadari
ketiga, data kualitatif hasil observasi, analisis dokumen, dirinya sebagai life-long-learner: (1) sadar bahwa dirinya
wawancara, dan FGD berfungsi utama untuk harus selalu belajar, (2) memandang bahwa mempelajari
mengklarifikasi dan menambah data yang diperoleh sesuatu yang baru adalah cara yang baik untuk
melalui kuesioner. mengatasi masalah, (3) menyambut baik setiap
Hasil analisis menunjukkan perlunya sejumlah perubahan, (4) memandang tantangan sebagai
ketentuan maupun kegiatan yang perlu dikembangkan pemberian kesempatan untuk belajar hal baru, serta
sebagai berikut. (5) bermotivasi tinggi untuk mempelajari dan
Pertama, Pemerintah Pusat, Kabupaten atau melaksanakan sesuatu pada semua tingkatan.
Kota semestinya membuat regulasi yang jelas dan Kesembilan, indikator output perlu dikembangkan
tegas tentang pemahaman PSH sebagai suatu dalam pengelolaan lembaga pendidikan nonformal. Di
kesatuan yang memungkinkan setiap aparat dan setiap mana lulusan pendidikan nonformal diupayakan untuk
komponen dalam masyarakat berkemampuan dalam dapat berfungsi tidak hanya bagi dirinya tapi juga bagi
menyampaikan dan mensosialisasikan program masyarakat. Agar mereka mampu produktif sehingga

Jurnal Ilmiah VISI PTK-PNF - Vol. 3, No.2 - 2008 165


Indikator Mutu Program...

secara terus menerus dapat meningkatkan Proses penyelenggaraan program PSH


pengetahuan, sikap, dan keterampilannya, termasuk hendaknya menekankan pada terjadinya interaksi dan
pengembangan sosial ekonominya. kolaborasi antara sesama warga belajar atau peserta
Kesepuluh, rendahnya akses warga masyarakat didik, warga belajar atau peserta didik dengan nara
untuk memperoleh buku merupakan hambatan dalam sumber termasuk tenaga kependidikan, warga belajar
peningkatan mutu PSH maka perlu diupayakan pusat- atau peserta didik dengan beragam sumber belajar
pusat bacaan masyarakat yang mendorong masyarakat buatan terutama dengan memanfaatkan perkembangan
untuk gemar membaca yang diharapkan mampu teknologi, serta interaksi dengan lingkungan alam dan
mencapai learning society. sosial. Interaksi dan kolaborasi tersebut ditujukan
untuk memperoleh kesamaan dan atau keselarasan
Hasil Seminar Nasional
tujuan, dan memerlukan partisipasi aktif warga belajar
Seminar merumuskan asas yang perlu dijadikan
atau peserta didik dalam mencari dan memanfaatkan
pegangan dalam mengembangkan program PSH, yaitu
sumber belajar. Partisipasi tersebut perlu dihargai dan
kebutuhan warga belajar, terciptanya budaya belajar,
bahkan dibina dan mendapat pengakuan.
relevansi dengan kondisi masyarakat yang sedang
Proses penyelenggaraan program PSH
membangun, dan berwawasan pada masa depan.
Materi inti program PSH perlu dikembangkan disarankan mempertimbangkan beberapa hal sebagai
berdasarkan prinsip-prinsip, yaitu (1) terkait dengan berikut.
kondisi masa lalu, kondisi saat ini dan kebutuhan di 1. Dalam pelaksanaannya program PSH memerlukan
masa datang sesuai dengan umur, kemampuan, potensi sumber belajar yang lengkap, minimal tersedia
lingkungan dan kebutuhan, serta peserta didik dan bahan belajar berupa media cetak dan perpustakaan,
masyarakat; (2) bersifat holistik dan komprehensif serta baik yang tradisional maupun perpustakaan virtual.
memenuhi kebutuhan hidup seperti kebutuhan dasar, 2. Proses pembelajaran menjadi optimal jika diawali
rasa aman, sosial, dan aktualisasi diri; (3) memberdaya- oleh motivasi, pengetahuan, dan pengalaman belajar
kan peserta didik agar mampu mengembangkan diri dari warga belajar atau peserta didik sendiri, namun
dan menghadapi tantangan; (4) mengembangkan memerlukan dukungan lingkungan terdekatnya.
keterampilan fungsional dan kepribadian profesional 3. Tersedianya narasumber (pendidik, tenaga
sehingga dapat mewujudkan insan Indonesia yang kependidikan dan atau tokoh masyarakat) setempat
kooperatif, demokratis, berbudaya, dan kompetitif; serta yang dapat membantu memberikan informasi dan
(5) mampu mengembangkan lima kecerdasan: spiritual, bersedia berinteraksi dengan memberikan panduan
emosional, sosial, intelektual, dan kinestetik. kepada warga belajar atau peserta didik berdasarkan
Pengembangan materi belajar pada program perancah yang ada.
PSH dilakukan dengan cara berikut. Pertama, dipilih 4. Sarana dan fasilitas yang harus tersedia dan dikelola
dan ditentukan sendiri oleh warga belajar atau peserta dengan baik.
didik dengan mengacu pada pernacah dan atau rambu- 5. Program pendidikan dan pembelajaran yang sesui
rambu yang ditentukan oleh pihak yang berwenang. dengan kebutuhan dan berdasar pada perancah yang
Pihak yang berwenang terutama adalah yang berbasis diperlukan.
masyarakat, termasuk keluarga, lingkungan kerja serta 6. Adanya tempat atau sarana untuk saling berinteraksi,
dunia usaha dan industri, sepanjang tidak menyimpang termasuk untuk belajar atau ruang pertemuan.
dari peraturan perundangan. 7. Keanekaragaman sumber belajar dan kemudahan
Kedua, dikembangkan oleh pendidik dan tenaga terhadap akses sumber-sumber belajar.
kependidikan serta lembaga penyelenggara pendidikan 8. Adanya tenaga kependidikan yang mampu mengi-
yang mempunyai kepedulian, baik lembaga pendidikan kuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
formal, nonformal maupun informal. Ketiga, bekerja serta terampil dalam teknologi pembelajaran.
sama dengan satuan yang relevan dalam 9. Adanya kolaborasi antarpihak yang berkepentingan
mengembangkan materi belajar PSH, termasuk untuk menyepakati bersama program beserta
misalnya dunia usaha dan industri. Keempat, kompetensi yang disyaratkan dalam mengikuti
melibatkan perguruan tinggi, para profesional dan para program pendidikan tersebut. Program tersebut harus
pakar pendidikan nonformal. Kelima, melakukan merepresentasikan kebutuhan belajar dan sesuai
kolaborasi antarinstansi pemerintah, instansi dengan perkembangan zaman.
pemerintah dengan lembaga swadaya masyarakat dan 10.Penggunaan metode dan teknik belajar dan
dunia usaha atau industri. pembelajaran yang bervariasi.

166 Jurnal Ilmiah VISI PTK-PNF - Vol. 3, No.2 - 2008


Indikator Mutu Program...

11. Inti pembelajaran adalah terjadinya transformasi dalam melalui belajar mandiri, belajar dengan tatap muka;
diri warga belajar atau peserta didik dengan mengacu belajar melalui magang; belajar secara berkelompok,
pada pola pemenuhan kebutuhan seketika. belajar jarak jauh, dan belajar berjaringan (online
12.Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi learning).
perlu digalakkan, dengan terlebih dahulu 14.Proses harus disesuaikan dengan latar belakang
mengenalkan faedah, manfaat, dan melatih atau karakteristik warga belajar atau peserta didik
keterampilan dalam penggunaannya. serta jenis program yang dipelajari dan kondisi
13.Proses pembelajaran dilakukan secara bervariasi lingkungan.

KESIMPULAN

Kesimpulan mencantumkan bahwa pendidikan berusaha


Kesimpulan ini merupakan interpretasi atas data mengembangkan potensi peserta didik, dan
yang berkembang, yang diperoleh dengan teknik bola diselenggarakan dengan sistem terbuka serta
salju (snowballing technique). Data awal berupa data multimakna. Ketentuan tersebut perlu dijabarkan lebih
kuantitatif yang terbatas pada bidang pendidikan lanjut, termasuk kaitan antara pendidikan informal, formal,
masyarakat dan dijaring dengan kuesioner, berkembang nonformal dan pendidikan di tempat kerja yang bersifat
ke arah pendidikan nonformal dengan dikumpulkannya formal (terstruktur dan berjenjang) dengan pendekatan
data kualitatif yang diperoleh melalui observasi, informal (melalui pengamatan, peniruan dan internalisasi),
wawancara, dan analisis dokumen, berkembang lagi dan nonformal yang menekankan pada penguasaan
ke arah pendidikan informal dan nonformal melalui tiga keterampilan fungsional serta mengembangkan sikap dan
kali FGD, dan akhirnya berkembang ke arah konsep kepribadian profesional.
dan strategi PSH sebagai hasil seminar nasional. Penafsiran yang berkembang berdasarkan
Meskipun demikian perlu diakui bahwa pengkajian ini perkembangan data dapat disimpulkan dalam butir-butir
kurang berhasil merumuskan indikator mutu program sebagai berikut.
PSH karena persepsi para pemangku kebijakan di 1. Pembenahan administratif pengembangan program
daerah maupun di pusat masih belum padu dalam PSH perlu mendapat perhatian. Ada kekhawatiran
pendapat dan pemikiran. program PSH yang tidak dikelola dengan baik
Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa di merupakan jalan pintas untuk memperoleh tanda
lapangan konsep dan strategi PSH belum dikenal. Para penghargaan (ijazah, diploma, dan serifikat), dan
praktisi, birokrat, dan bahkan akademisi yang ada di bukannya untuk kemampuan fungsional.
lapangan terkungkung dengan apa yang selama ini 2. Keberadaan dan penggunaan sumber belajar
dikerjakan berdasarkan kebiasaan dan struktur termasuk teknologi yang dianggap tidak penting
kegiatan yang dianggap telah mapan. Dengan kata lain merupakan tantangan tersendiri. Cukup indikasi
cenderung untuk melestarikan apa yang telah diketahui bahwa responden di daerah masih belum memahami
dan dilakukan selama ini. arti penting teknologi bagi kemajuan pembangunan.
Masih banyak pejabat dan akademisi pendidikan 3. Indikator mutu PSH yang dikembangkan dari patokan
(apalagi praktisi dan orang awam) yang menafsirkan pendidikan masyarakat tidak cukup
PSH sekedar sebagai jangka waktu kehidupan mulai merepresentasikan indikator mutu program PSH
dalam kandungan hingga ke liang lahat. Padahal telah yang diharapkan karena masih sangat terbatas
terjadi perubahan paradigma dalam belajar yang cakupan dan indikatornya, bahkan cenderung
disebabkan antara lain karena perkembangan ilmu konservatif dan ketinggalan zaman. Konsep dan
pengetahuan, globalisasi, penetrasi media massa strategi pengembangan pendidikan, termasuk PSH
terutama televisi, perkembangan teknologi terutama belum sesuai dengan nafas otonomi daerah dan
teknologi informasi dan komunikasi, dan perubahan filosofi PLS yang secara faktual empirik memiliki
lingkungan sosial dan alam. Perubahan paradigma keragaman satuan, program, dan sasaran.
tersebut berimplikasi pada berkembangnya PSH sebagai 4. Indikator mutu yang dikembangkan melalui FGD
konsep dan strategi yang perlu ditumbuh kembangkan. yang diselenggarakan untuk mengolah masukan dari
Berbagai perubahan tersebut sebenarnya telah lapangan dan kajian pustaka telah memperluas
terakomodasikan dalam peraturan perundangan, yaitu UU cakupan program PSH, namun belum cukup
Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 yang antara lain komprehensif serta merepresentasikan dan

Jurnal Ilmiah VISI PTK-PNF - Vol. 3, No.2 - 2008 167


Indikator Mutu Program...

mengakomodasi keragaman satuan pendidikan satu indikator penting peningkatan mutu program
dalam menyelenggarakan program PSH. Oleh PSH. Ketersediaan taman bacaan atau pusat-pusat
karena itu, untuk keperluan pengembangannya perlu bacaan masyarakat dapat berfungsi untuk
dijabarkan rambu-rambu atau struktur bangunan mendorong masyarakat gemar membaca dan belajar
pengetahuan (knowledge scaffold) yang dapat yang merupakan langkah awal terbentuknya
dijabarkan lebih spesifik dan implementatif. masyarakat berpengetahuan.
5. Seminar nasional yang diselenggarakan untuk 10.Materi inti program pendidikan sepanjang hayat perlu
menambah, memperbaiki, dan memantapkan hasil- dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip: (a) a-
hasil kajian yang telah dilakukan, baik kajian danya keterkaitan dengan kondisi masa lalu, kondisi
lapangan maupun kajian konseptual melalui analisis saat ini,kebutuhan di masa datang sesuai dengan
pustaka telah berhasil mengembangkan rambu- umur, kemampuan, potensi lingkungan, dan
rambu yang merupakan bahan masukan untuk kebutuhan peserta didik, serta masyarakat; (b) ber-
kebijakan dalam rangka pengembangan program
sifat holistik dan komprehensif serta memenuhi
PSH yang bermutu.
kebutuhan hidup seperti kebutuhan dasar, rasa
6. Indikator mutu masukan (input) bagi warga belajar
aman, sosial, dan aktualisasi diri; (c) mem-
adalah menyadari dirinya sebagai pemelajar seumur
berdayakan peserta didik agar mampu
hidup (lifelong-learner), yaitu: (a) sadar bahwa dirinya
mengembangkan diri dan menghadapi tantangan;
harus selalu belajar, (b) memandang bahwa
(d) mengembangkan keterampilan fungsional dan
mempelajari sesuatu yang baru adalah cara yang
kepribadian profesional sehingga dapat mewujudkan
baik untuk mengatasi masalah, (c) menyambut baik
insan Indonesia yang kooperatif, demokratis,
setiap perubahan, (d) memandang tantangan
berbudaya, dan kompetitif; serta (e) mampu
sebagai pemberian kesempatan untuk belajar hal
mengembangkan lima kecerdasan: spiritual,
baru, (e) bermotivasi tinggi untuk mempelajari dan
emosional, sosial, intelektual, dan kinestetik.
melaksanakan sesuatu pada semua tingkatan.
7. Indikator proses PSH merupakan proses yang 11. Kegiatan pembelajaran yang menjadi indikator mutu
terbuka, yaitu siapa saja, di mana saja, kapan saja, program PSH tidak hanya belajar berkelompok tetapi
dapat belajar apa saja, dari apa dan siapa saja, juga belajar mandiri dengan menekankan selalu
dengan cara bagaimana saja sepanjang mengikuti adanya interaksi. Interaksi tersebut berlangsung
kaidah moral, etika, sosial, dan konstitusional. antara sesama warga belajar atau peserta didik,
Ketentuan perundangan yang ada mengenai proses warga belajar atau peserta didik dengan guru atau
pendidikan baru meliputi jalur pendidikan formal (PP pamong belajar, warga belajar atau peserta didik
No. 19 Tahun 2005). dengan lingkungan, dan warga belajar atau peserta
8. Indikator mutu keluaran (output) dalam pengelolaan didik dengan materi pelajaran yang memungkinkan
satuan atau lembaga penyelenggara program PSH penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
adalah berkembangnya potensi pribadi yang Untuk itu, perlu dikembangkan proses
berfungsi tidak hanya bagi dirinya tapi juga bagi penyelenggaraan program belajar dilakukan dengan
masyarakat agar mereka mampu produktif sehingga menggunakan pola yang bervariasi, yaitu (a) belajar
semakin terjadi peningkatan didalam pengetahuan, mandiri, (b) belajar dengan tatap muka, (c) belajar
sikap, dan keterampilan yang dibutuhkan di dalam melalui magang, (d) belajar secara berkelompok,
kehidupannya. Terbentuknya identitas dan kepuasan dan (e) belajar beregu (team learning).
diri merupakan indikator utama dari keluaran, dengan 12.Pelembagaan program PSH dapat dilakukan dengan
pengakuan dan atau penghargaan dari masyarakat mempertimbangkan aspek (a) sikap dan tindakan,
dan lingkungan sekitar. Sementara itu, untuk (b) kegemaran menjadi kebiasaan, (c) jenis
keperluan mobilitas pemerintah dapat menetapkan kelembagaan, (d) karakteristik program, (e)
prinsip dan prosedur penghargaan atau pengakuan dukungan sistem regulasi, (f) kebijakan (policy), dan
yang bersifat otentik. Penghargaan atau pengakuan (g) manajemen profesional.
tersebut dapat berupa ijazah, diploma, sertifikat atau Implikasi
bentuk tertulis lain. Implikasi dari hasil kajian indikator mutu program PSH
9. Akses warga masyarakat untuk memperoleh dan bagi berbagai pihak adalah sebagai berikut.
menggunakan berbagai macam sumber belajar, 1. Indikator mutu program PSH tentunya harus berkaitan
termasuk buku, nara sumber, lingkungan, dan dengan UU dan Peraturan Pemerintah yang mengarahkan
teknologi informasi dan komunikasi merupakan salah pada standar mutu pendidikan dan Standar Nasional

168 Jurnal Ilmiah VISI PTK-PNF - Vol. 3, No.2 - 2008


Indikator Mutu Program...

Pendidikan menjadi tanggung jawab BSNP. Hasil kajian warga belajar atau peserta didik dengan beragam sumber
ini juga diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah belajar buatan terutama dengan memanfaatkan
dalam konteks melengkapi UU dan Peraturan- perkembangan teknologi, serta interaksi dengan
peraturan yang ada sekaligus dapat dijadikan bahan lingkungan alam dan sosial. Interaksi dan kolaborasi
kebijakan di bidang pendidikan yang berhubungan tersebut ditujukan untuk memperoleh kesamaan dan atau
dengan peningkatan mutu program pendidikan keselarasan tujuan serta memerlukan partisipasi aktif
sepanjang hayat. warga belajar atau peserta didik dalam mencari dan
2. Bagi tingkat satuan pendidikan penyelenggara program memanfaatkan sumber belajar. Partisipasi tersebut perlu
PSH, hasil kajian indikator mutu ini diharapkan dapat dihargai dan bahkan dibina dan mendapat pengakuan.
bermanfaat dalam mengembangkan kurikulum atau 5. Perlunya pelembagaan kegiatan PSH, meliputi
program pembelajaran yang komprehensif. pelembagaan sikap dan tindakan, pelembagaan satuan
3. Bagi praktisi atau pengelola satuan pendidikan pendidikan yang berbasis kemitraan, pelembagaan
penyelenggara program PSH, hasil kajian ini program, pelembagaan kebijakan termasuk manajemen,
diharapkan dapat menjadi rujukan dalam regulasi, akreditasi, dan sertifikasi.
penyelenggaraan program PSH yang dilangsungkan di Temuan dalam kajian ini mengandung implikasi bahwa
sekolah, masyarakat, dan keluarga. meskipun dalam UU Sisdiknas, program PSH tidak tercantum
4. Bagi forum-forum PSH, orang tua, dan masyarakat hasil secara eksplisit sebagai suatu konsep dan atau sistem,
kajian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar dalam namun secara konseptual dan empirik keberadaannya tidak
menilai mutu tingkat satuan pendidikan sepanjang hayat diragukan lagi. Atribut atau ciri yang melekat pada konsep
yang berada di wilayah tempat tinggalnya sehingga dapat dan atau sistem PSH harus berkaitan dengan perundangan
berperan serta dalam meningkatkan mutu pendidikan yang ada, dan mutunya perlu memenuhi ketentuan standar
secara umum, khususnya mutu PSH. yang diharapkan dapat dikembangkan ke dalam Standar
Rekomendasi Nasional PSH.
Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan di Kajian ini merupakan langkah awal yang bersifat
atas maka dapat dikemukakan beberapa prinsip eksploratorik untuk mengidentifikasi gagasan serta atribut
sebagai berikut. yang melekat pada program PSH sebagai suatu konsep
1. Asas dan prinsip yang dihasilkan dalam kajian ini dan sistem dalam menuju tercapainya masyarakat
dijadikan semacam perancah (scaffold) sebagai berpengetahuan. Langkah awal ini dengan sendirinya
acuan untuk dikembangkan lebih lanjut melalui memerlukan tindak lanjut. Oleh karena itu,
penelitian dan pengembangan kelembagaan direkomendasikan hal-hal sebagai berikut.
(institutional research and development). 1. Satuan pendidikan, baik pada jalur pendidikan formal,
2. Fokus pengembangan program PSH harus nonformal, dan informal merupakan organisasi kunci
ditempatkan pada kebutuhan belajar dan pendidikan dalam mengembangkan budaya belajar sepanjang
warga belajar atau peserta didik yang terus tumbuh hayat. Oleh karena itu, di antara mereka harus terjalin
dan berkembang dengan menumbuhkan kegiatan kemitraan dalam penyelengaraan program PSH.
belajar berdasarkan dorongan dan arah diri (self- 2. Program PSH harus mengedepankan pengembangan
directed learning). Untuk itu, perlu dijamin akses potensi manusia (development of human potential).
untuk belajar dan ketersediaan sumber belajar yang Oleh sebab itu, pengembangan program PSH perlu
diperlukan. berfokus kepada warga belajar atau peserta didik
3. Materi yang perlu dipelajari bersifat holistik dan dengan memperhatikan karakteristik mereka,
komprehensif namun fungsional untuk memenuhi kompetensi yang diharapkan, serta kondisi lingkungan.
kebutuhan hidup, serta sedikitnya meliputi 3. Dilakukan usaha lebih lanjut termasuk pengembangan
pengembangan aspek kecerdasan spiritual, sistem akreditasi dan sertifikasi, penggunaan
emosional, sosial, intelektual dan kinestetik serasi teknologi, pengintegrasian penyelenggaraan,
dengan pemenuhan diri, serta kebutuhan diterbitkannya regulasi, dijabarkannya perancah yang
masyarakat dan lingkungan. Dengan kata lain, mengandung indikator mutu, pembinaan,
rumusannya harus dikemas secara sederhana agar dapat pengembangan percontohan, serta penyediaan dan
dipahami dengan mudah oleh praktisi PSH. akses terhadap sumber belajar.
4. Proses belajar dan pembelajaran menekankan pada 4. Perlu dilakukan upaya lebih lanjut berupa penelitian
terjadinya interaksi dan kolaborasi antara sesama warga dan pengembangan kelembagaan (instituional research
belajar atau peserta didik, warga belajar atau peserta didik and development) yang menggunakan temuan kajian
dengan nara sumber termasuk tenaga kependidikan, ini sebagai rujukan awal dengan memperhatikan

Jurnal Ilmiah VISI PTK-PNF - Vol. 3, No.2 - 2008 169


Indikator Mutu Program...

tantangan global dalam menuju masyarakat lajar yang menjadi cikal bakal terbentuk
berpengetahuan. masyarakat belajar (learning society).
5. Program belajar sepanjang hayat pada semua 12.Dalam konteks pengembangan pengkajian dan
jalur pendidikan harus mempertimbangkan penelitian maka perlu dilakukan penelitian-
pengembangan sistem akreditasi (accreditation), penelitian lanjutan berupa observasi langsung dan
penggunaan teknologi (technology issues), uji coba di lapangan untuk memastikan
terintegrasi dalam penyelenggaraannya sejauhmana indikator-indikator yang disepakati
(integration), memperhatikan mutu (quality), dan dapat menjadi tolok ukur dalam peningkatan mutu
didukung oleh pembiayaan yang memadai pendidikan.
(finance). 13.Keterbatasan jumlah dan kelompok responden
6. Diusahakan terbit suatu regulasi yang nantinya yang dipilih dan berpartisipasi di dalam pengkajian
efektif sebagai pedoman para penyelenggara, ini perlu dikembangkan lebih banyak dan bervariatif
praktisi, dan penggiat program PSH. untuk mewakili berbagai kelompok berdasarkan
7. Bila indikator mutu diimplementasikan perlu letak geografis maupun beragam kelompok
dipikirkan dan dikembangkan mengenai lembaga masyarakat pengguna lulusan satuan PSH
atau institusi independen yang memberikan termasuk dunia usaha dan dunia industri.
penjaminan mutu PSH. 14.Perlunya komparasi pengkajian jenis lain yang
8. Lembaga atau satuan PSH, terutama pada jalur berkaitan dengan indikator mutu PSH, seperti
pendidikan nonformal harus dibina, diawasi, meta analisis, studi banding, dan studi kasus agar
dihidupi, dan dibiayai tidak hanya dalam dimensi didapat hasil yang lebih komprehensif.
program, na- 15.Implementasi indikator mutu program PSH,
mun juga dari segi sarana, dan prasarana. memerlukan adanya contoh Good Practice dari
9. Diperlukan contoh lifelong learning facilitating lembaga atau satuan penyelenggara program PSH
curriculum atau kurikulum yang mempermudah yang melaksanakan atau menerapkan prinsip-
terjadinya belajar sepanjang hayat dalam berbagai prinsip belajar sepanjang hayat.
satuan dan jenjang PSH. 16.Dalam kaitannya dengan peningkatan mutu
10.Perlunya menghidupkan forum-forum pengelola program PSH, Pemerintah Pusat, Kabupaten atau
PSH yang berfungsi sebagai sarana tukar Kota dengan dukungan akdemisi setempat
pendapat dan sharing pengalaman. diharapkan dapat membuat regulasi yang jelas
11.Tersedianya Perpustakaan Mini, Perpustakaan dan tegas tentang pemahaman PSH sebagai
Komunitas, Taman Bacaan Masyarakat atau suatu kesatuan yang memungkinkan setiap
apapun namanya di setiap RW bahkan kalau aparat dan setiap komponen dalam masyarakat
memungkinkan sampai tingkat RT. Kondisi ini berkemampuan dalam menyampaikan dan
diharapkan mampu mendorong masyarakat ke menyebarluaskan program PSH kepada khalayak
arah masyarakat gemar membaca dan gemar be- yang lebih luas.

DAFTAR PUSTAKA

European Commission. (2002). European report on quality asas. Bandung: Falah Production.
indicators of lifelong learning. Brussel: Directorate Jenkins, L. (1996). Improving student learning. Applying
General for Education and Culture. deming quality principles in education.
Longworth, N & Davies, W.K. (1996). Lifelong learning. Milaukee,WI: ASOQ Press, hh. 12-13.
London: Kogan Page Limited. http://www.nea.org/schoolquality/index.html.
Miarso, Y. (2004). Menyemai benih teknologi pendidi- (2002) Keputusan Menteri No. 087/U/2002 tentang
Akreditasi Satuan Pendidikan.
kan. Jakarta: Pustekkom Diknas & Kencana.
(2003) Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang
Morrison, D. M., Mohaski, K. & Cotter, K. (2005). Instructional
Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta:
quality indicators research foundations. Cambridge,
Depdiknas.
MA: Conect. (2005) Peraturan pemerintah No. 19 Tahun 2005 Tentang
Sudjana, H.D. (2004). Pendidikan nonformal: Wawasan, Standar Nasional Pendidikan. Jakarta:
sejarah perkembangan, filsafat, teori pendukung Depdiknas.

170 Jurnal Ilmiah VISI PTK-PNF - Vol. 3, No.2 - 2008