Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

PERKEMBANGAN KOGNITIF,BAKAT,DAN
KECERDASAN EMOSIONAL
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Perkembangan
Dosen pengampu : Dra.Sumilah,M.Pd

Disusun oleh:
Kelompok 7
1.Alfia Mua’fifa ( 1401419002)
2.Markamah (1401419018)
3.Annisa’ Kharismawati (1401418194)
ROMBEL A

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan Kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat, taufik serta karunia-Nya kepada kita. Sehingga kami bisa menyelesaikan
makalah  ini tepat pada waktunya, yang berjudul “Perkembangan kognitif, bakat
dan kecerdasan emosional”. Makalah ini berisikan mengenai perkembangan kognitif,
bakat ,dan kecerdasan emosional. Kami berharap makalah  ini dapat memberikan
informasi . Sehingga mampu menambah wawasan pengetahuan kita semakin luas.
Semoga menjadikan ilmu yang bermanfaat bagi orang lain.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan karena


keterbatasan pengetahuan kami. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak
yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi terciptanya kesempurnaan
dalammakalah.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan dalam makalah ini dari awal sampai akhir.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Semarang,16 September 2019

Penulis

i
Daftar isi

Kata pengantar........................................................................................................i

Daftar isi.................................................................................................................ii

BAB I Pendahuluan................................................................................................1

A. Latar
Belakang.....................................................................................................1
B. Rumusan Masalah.......................................................................................1
C. Tujuan.........................................................................................................1

BAB II Pembahasan................................................................................................2

A. Perkembangan kognitif...............................................................................2
B. Perkembangan bakat....................................................................................
C. Perkembangan kecerdasan emosional.........................................................

BAB III Penutup......................................................................................................

A. Simpulan......................................................................................................
B. Saran...........................................................................................................

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar belakang

Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, seorang anak melewati


berbagai tahap perkembangan yang harus dilalui. Tahap tersebut dapat dibagi
dalam berbagai kelompok, tergantung kepada para ahli yang menyatakan teori-
teori tersebut. Ada berbagai macam teori yang didapatkan para ahli yaitu teori
perkembangan psikomotorik, teori perkembangan kognitif, teori perkembangan
konsep diri dan emosi ,teori perkembangan nilai moral dan sikap, dan teori bakat
multiple intellegence.

Siswa tidak pernah lepas dari belajar, baik di sekolah maupun di lingkungan
keluarga. Kemampuan kognitif sangat diperlukan siswa dalam pendidikan. Peran
pendidik ,baik itu guru ataupun orang tua sangat berperan dalam perkembangan
kognitif anak.

Pada makalah ini, penulis memilih judul “ Perkembangan kognitif , bakat,


dan kecerdasan emosional.Selama ini kecerdasan manusia selalu dinilai dari
tingkat kecerdasan secara intelektual (IQ). Melalui IQ, manusia dianggap cerdas
dalam menghadapi segala bentuk permasalahan yang terjadi. Persaingan yang
dibentuk setiap jenjang pendidikan selalu dikaitkan dengan kecerdasan intelektual
ini. Nilai dan kemampuan menjadi tolok ukur keberhasilan seseorang.
Namun, berbagai penelitian mengungkapkan peran IQ hanya sebatas syarat
keberhasilan hidup. Maka dari itu, lahirlah konsep pemikiran tentang kecerdasan
emosional (EQ) yang dianggap mampu mengantarkan seseorang menuju puncak
prestasi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya orang-orang berkemampuan IQ
tinggi, tetapi terpuruk menghadapi dunia persaingan. Sebaliknya, orang dengan
kemampuan intelektual biasa-biasa saja justru sukses menjadi pengusaha dan
pemimpin di berbagai bidang.

1
Kombinasi dari kedua kecerdasan ini memiliki andil dalam kesuksesan
seseorang. Ketika kecerdasan intelektual dipadukan dengan emosi, sesungguhnya
prestasi telah dapat ditorehkan.

B.Rumusan Masalah

1.Bagaimana perkembangan kognitif pada anak menurut Piaget ?

2.Bagaimana cara mengembangkan bakat ?

3.Apa yang kamu ketahui tentang perkembangan kecerdasan emosional?

C.Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah:

1.Menjelaskan mengenai perkembangan kognitif menurut piaget.

2.Menjelaskan mengenai perkembangan bakat.

3.Menjelaskan mengenai perkembangan kecerdasan emosional.

4.Mengerahui cara meningkatkan perkembangan kecerdasan emosional.

5.Mampu menambah wawasan pembaca mengenai perkembangan kognitif &

Perkembangan kecerdasan emosional.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A.Perkembangan Kognitif

Piaget adalah seorang tokoh  psikologi kognitif yang besar pengaruhnya


terhadap perkembangan pemikiran para pakar kognitif lainnya.  Menurut Piaget,
perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses yang
didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf.  Dengan makin
bertambahnya umur seseorang, maka semakin kompleks susunan sel syarafnya
dan semakin meningkat pula kemampuannya.

  Ketika individu berkembang menuju kedewasaan, akan mengalami adaptasi


biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-
perubahan kualitatif didalam struktur kognitifnya. Piaget tidak melihat
perkembangan kognitif sebagai sesuatu yang dapat didefinisikan secara
kuantitatif.  Ia menyimpulkan bahwa daya pikir atau kekuatan mental anak yang
berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.

Menurut Piaget, proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-
tahap perkembangannya sesuai dengan umurnya. Pola dan tahap-tahap ini bersifat
hierarkis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tertentu dan seseorang tidak
dapat belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya.  Piaget membagi
tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat, yaitu :

1.Tahap Sensorimotorik (umur 0 - 2 tahun)

Tahap Sensorimotor menurut Piaget dimulai sejak umur 0 sampai 2 tahun.


Piaget menyebut perkembangan berpikir sensorimotorik sebagai periode pertama
yang berlangsung dari lahir sampai dengan umur dua tahun.Ciri pokok
perkembangannya berdasarkan tindakan, dan dilakukan langkah demi langkah.

3
 Kemampuan yang dimiliki antara lain :
a.Melihat dirinya sendiri sebagai makhluk yang berbeda dengan objek
disekitarnya.
b.Mencari rangsangan melalui sinar lampu dan suara.
c.Suka memperhatikan sesuat lebih lama.
d.Mendefinisikan sesuatu dengan memanipulasinya.
e.Memperhatikan objek sebagai hal yang tetap,lalu ingin merubah
tempatnya.
Pada tahap ini,bayi menyusun pemahaman dunia dengan
mengoordinasikan pengalaman indera (sensori) mereka (seperti melihat
dan mendengar)degan gerakan motorik mereka (otot) seperti
menggapai,menyentuh.

Piaget membagi tahap sensorimotorik menjadi sub tahap sebagai berikut:

1.Refleks Sederhana (lahir samapai 1 bulan )

Pada tahap ini, bayi akan banyak melakukan gerakan yang bersifat refleks,
spontan, dan tidak disengaja. Contohnya, ia akan langsung menjulurkan lidah
ketika bibir atau dagunya disentuh seperti ingin menyusu. gerakan ini didasarkan
pada rangsangan dari luar yang ditanggapi secara spontan. Selain itu, refleks
tersebut juga merupakan bukti bahwa bayi sedang mulai mencoba untuk
mengenali aktivitas di sekitarnya.

Ciri-ciri:

1. kemampuan berfikir refllek.

2. Kemampuan menggerak-gerakkan anggota badan walaupun belum


terkoordinasi.

4
3. Kemampuan mengakomodasikan dan mengasimilasi berbagai kesan
yang diterima dari lingkungan.

2.Respon Berulang / reaksi sirkuler primer( 1-4 bulan)

Pada tahap ini, umumnya bayi sudah mulai mampu mengulang


kebiasaan-kebiasaan sederhana, seperti memasukkan jari ke dalam mulut. Fase
ini disebut juga dengan reaksi sirkuler primer. Menurut teori ini, respon
berulang yang dilakukan oleh si bayi ini, biasanya sudah mulai dilakukan oleh
anak usia 1-4 bulan sebagai cara untuk memenuhi kebutuhannya, misalnya
ketika sedang merasa lapar atau gelisah, maka ia akan memasukkan jari ke
dalam mulut untuk mengatasinya.

otot mata si bayi juga sudah mulai terbiasa bergerak mengikuti benda ia
lihat. Begitu pun ketika mendengar suara, ia akan mulai menggerakkan kepala
ke arah sumber suara tersebut. berbagai refleks atau respon yang muncul ini,
sudah terekam pada memori si bayi sehingga menjadi sebuah kebiasaan.

3.Reaksi Sirkuler Sekunder ( 4-8 bulan )

Pada tahap ini, biasanya bayi sudah mulai bisa menggerakkan beberapa
mainan yang ditunjukkan padanya. Respon ini merupakan sebuah tanda bahwa
ia sudah memasuki tahap perkembangan reaksi sirkuler sekunder.

Fase reaksi sirkuler sekunder ini merupakan respon berulang yang


melibatkan benda-benda di sekitar anak, misalnya, ketika si bayi menggerakkan
tangan berulang kali karena benda yang sedang digenggam olehnya dapat
mengeluarkan bunyi ketika digoyangkan.   

5
4.Koordinasi tahap sirkuler sekunder ( 8-12 bulan )

Bayi umumnya mulai mengalami perkembangan yang cukup siginifikan


pada tahap ini, yaitu koordinasi antara gerakan dan perintah otak yang
berlangsung selama usia 8-12 bulan. Di tahap ini, bayi mulai bisa mengulang
kembali gerakan-gerakan yang telah dipelajari dan diingat sebelumnya dengan
cara yang lebih terkoordinasi. Contohnya, saat sedang menggenggam mainan,
bayi akan mencoba untuk memukulkan benda tersebut pada objek lain yang
berada pada jangkauannya.

Ciri-ciri :

1. Kemampuan memahami bahwa benda “tetap ada”walaupun untuk


sementara menghilang,dan pada waktu yang akan datang akan muncul
kembali.

2. Kemapuan dalam melakukan berbagai percobaan (eksperimen).

5. Reaksi Sirkuler Tersier ( 12-18 bulan )

Reaksi sirkuler tersier, mengacu pada kesenangan dan keingintahuan atas


hal-hal baru. Di fase ini,bayi akan semakin tertarik dengan berbagai objek dan
apa saja yang bisa ia lakukan terhadap benda tersebut, misalnya seperti
menekan-nekan botol, menyusun balok dan lain sebagainya.

Ciri-ciri:

1. Kemampuan untuk meniru.

2. Kemampuan untuk melakukan berbagai eksperimen terhadap lingkungan.

6
6.Logika Berpikir / Internalisasi Skema ( 18 -24 bulan )

Pada tahap ini, fungsi mental bayi akan mulai bertransisi dari
sensorimotor menjadi kemampuan kognitif. Fase ini merupakan tahap paling
krusial dalam proses perkembangan sensorimotor karena ia kini sudah mulai
mengembangkan kemampuan berimajinasi, logika berpikir, dan cara
menyelesaikan masalah.jadi,, ketika seseorang menyembunyikan mainan saat
sedang bermain dengannya, ia akan cenderung mencari benda tersebut di tempat
terakhir ia melihatnya.

Ciri-ciri :

1. Kemampuan mengingat dan berfikir.

2. Kemampuan untuk berfikir dengan menggunakan simbol-simbol


sederhana.

3. Kemampuan berfikir untuk memecahkan masalah sederhana.

4. Kemampuan memahami diri sendiri sebagai individu yang mulai


berkembang.

2.Tahap praoperasional (umur 2 - 7 tahun)

Tahap pemikiran ini lebih bersifat simbolis,egosentris,dan


intuitif.Pemikiran pada tahap ini dibagi menjadi 2 yaitu simbolik dan intuitif.

a.Sub tahap Simbolik ( 2-4 tahun )

Pada tahap ini.,anak secara mental sudah mampu mempresentasikan objek


yang tidak nampak dan penggunaan bahasa mulai berkembang.yang
ditunjukkan dengan sikap bermain,Sehingga mucul egoisme.
Egosentris terjadi ketika anak tidak mampu membedakan perspektif yang
dimilikinya dengan perspektif yang dimiliki orang lain.

b.Sub tahap intuitif( 4 -7 Tahun)

Pada tahap ini,anak mulai menggunakan penalaran primitif dan ingin tahu
jawaban dari semua pertanyaan.Disebut intuitif karena anak merasa yakin akan
pengetahuan dan pemahaman mereka,namun tidak menyadari bagaimana
mereka bisa mengetahui cara-cara apa yang mereka ingin ketahui.Mereka
mengetahui tanpa menggunakan pemikiran rasional.

Karakteristik tahap ini adalah :

a.Anak dapat membentuk kelas-kelas atau kategori objek, tetapi kurang


disadarinya.

b.Anak mulai mengetahui hubungan secara logis terhadap hal-hal yang lebih
kompleks.

c.Anak dapat melakukan sesuatu terhadap sejumlah ide.

Preoperasional (umur 2-4 tahun), anak telah mampu menggunakan bahasa dalam


mengembangkan konsep nya, walaupun masih sangat sederhana. Maka sering
terjadi kesalahan dalam memahami objek. Karakteristik tahap ini adalah:

a.Self counter nya sangat menonjol.


b.Dapat mengklasifikasikan objek pada tingkat dasar secara tunggal dan
mencolok.
c.Mampu mengumpulkan barang-barang menurut kriteria, termasuk
kriteria yang benar. 
d.Dapat menyusun benda-benda secara berderet, tetapi tidak dapat
menjelaskan perbedaan antara deretan.
3.Tahap operasional konkret (umur 7 atau 11)

Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah

1. anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, dan
ditandai adanya reversible dan kekekalan. 
2. Anak telah memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya
dengan benda-benda yang bersifat konkret. 
3. Anak mampu mengoperasikan berbagai logilka,namun masih dalam
bentuk benda konkrit.

Penalaran logika menggantikan penalaran intuitif,namun hanya pada


situasi konkrit dan kemampuan untuk menggolong-golongkan sudah
ada.Namun,belum bisa memecahkan soal yang abstrak.

4.Tahap operasional formal (umur 12-15 tahun) :

Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mampu berpikir
abstrak dan logis dengan  menggunakan pola berpikir "kemungkinan".  Model
berpikir ilmiah dengan tipe hipothetico-dedutive dan inductive sudah mulai
dimiliki anak, dengan kemampuan menarik kesimpulan, menafsirkan dan
mengembangkan hipotesa.  Pada tahap ini kondisi berpikir anak sudah dapat :

a.Bekerja secara efektif dan sistematis.

b.Menganalisis secara kombinasi.  Dengan demikian telah diberikan dua


kemungkinan penyebabnya, C1 dan C2 menghasilkan R, anak  dapat merumuskan
beberapa kemungkinan.

c.Berpikir secara proporsional, yakni menentukan macam-macam proporsional


tentang C1, C2 dan R misalnya.
d.Menarik generalisasi secara mendasar pada satu macam isi.  Pada tahap ini
mula-mula Piaget percaya bahwa sebagian remaja mencapai formal
operations paling lambat pada usia 15 tahun.  Tetapi berdasarkan penelitian
maupun studi selanjutnya menemukan bahwa banyak siswa bahkan mahasiswa
walaupun usianya telah melampaui, belum dapat melakukan formal operation.

Proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap sensorimotor tentu
akan berbeda dengan proses belajar yang dialami oleh seorang anak pada tahap
preoperasional, dan akan berbeda pula dengan mereka yang sudah berada pada
tahap operasional konkret, bahkan dengan mereka yang sudah berada pada tahap
operasional formal.  Secara umum, semakin tinggi tahap perkembangan kognitif
seseorang akan semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya.  Guru
seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif pada muridnya agar
dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajarannya sesuai dengan
tahap-tahap tersebut.  Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan tidak sesuai
dengan kemampuan dan karakteristik siswa tidak akan ada maknanya bagi siswa.

B.Perkembangan bakat

seseorang disebut punya bakat apabila orang tersebut menghasilkan karya,


keterampilan, kemampuan, kapasitas dan sebagainya. Bakat (aptitude) diartikan
sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi (potensial ability) yang
masih perlu dikembangkan atau dilatih

Kemampuan (ability) adalah daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai


hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukan bahwa suatu
tindakan dapat di laksanakan sekarang, sedangkan bakat memerlukan latihan dan
pendidikan agar suatu tindakan dapat di lakukan di masa yang akan datang.
Kapasitas diartikan kemampuan yang dapat di kembangkan sepenuhnya dimasa
mendatang apabila kondisi latihan dilakukan secara optimal (Semiawan, 1984:2).
Menurut U.S. Office of Education (dalam Munandar, 2002 :30) Anak berbakat
adalah mereka yang oleh orang-orang profesional diidentifikasi sebagai anak yang
mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-
kemampuan yang unggul. Anak-anak tersebut memerlukan program pendidikan
yang berdiferensiasi dan/ atau pelayanan di luar jangkauan program sekolah biasa
agar dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun untuk
pengembangan diri sendiri.

B.Ciri Pokok Anak Berbakat

Menurut Renzulli (dalam Munandar, 2002 : 33) ciri-ciri dari orang atau anak
berbakat adalah sebagai berikut:

1.Kemampuan di Atas Rata-Rata(Intelegensi)

Kemampuan di atas rata-rata di sini adalah merupakan “kemampuan


umum” yang mencakup berbagai bidang kemampuan yang biasanya diukur oleh
tes intelegensi, prestasi, bakat, kemampuan mental primer, dan berpikir kreatif.
Sebagai contoh penalaran verbal dan numerikal, kemampuan spasial, kelancaran
dalam memberikan ide, dan orisinalitas. Tentu seseorang pasti memiliki satu
kelebihan di salah satu bidang dan itulah yang dinamakan bakat.

2.Kreativitas

Ciri kedua yang dimiliki anak atau orang berbakat adalah kreativitas,
sebagai kemampuan umum untuk mencipta sesuatu yang baru, sebagai
kemampuan untuk memberi gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam
pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan
baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya. Contohnya seorang anak
yang memiliki bakat melukis, mungkin dengan mudah ia akan menciptakan suatu
karya lukis yang sangat indah dan ini merupakan suatu kekreatifan seorang anak
yang memiliki bakat.
3.Pengikatan Diri terhadap Tugas

Pengikatan diri terhadap tugas merupakan sebagai bentuk motivasi internal


yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya meskipun
mengalami macam-macam rintangan atau hambatan, menyelesaikan tugas yang
menjadi tanggung jawabnya karena ia telah mengikat dirinya terhadap tugas-tugas
tersebut atas kehendaknya sendiri.
Galton (dalam Vernon, 1982) menganut pandangan bahwa genetis adalah dasar
untuk keberbakatan dan “genius” , namun ia percaya bahwa motivasi intrinsik dan
kapasitas untuk bekerja keras merupakan kondisi yang perlu untuk mencapai
prestasi unggul. Sehingga orang yang berbakat adalah orang yang mau
bertanggung jawab atas pekerjaannya, sehingga dengan begitu bakatnya tidak
akan sia-sia.

C.Faktor yang Menentukan Bakat yang Dimiliki Seseorang

Untuk pengembangan keberbakatan yang optimal juga diperlukan rangsangan dan


pembinaan dari lingkungan sosial. Keberbakatan muncul dari interaksi antara
faktor pribadi dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan meliputi keluarga,
sekolah dan teman sebaya. Berikut ini adalah faktor yang menentukan bakat yang
dimiliki seseorang.

1.Kemampuan Mental Khusus

Selain kemampuan atau intelegensi umum yang diperlukan untuk semua aktivitas
sosial, diperlukan pula kemampuan mental khusus. Kemampuan mental khusus
yang superior merupakan dasar dari macam-macam jenis kemampuan tinggi atau
talenta.

2.Komponen Genetik

Komponen genetik (hereditas) dengan proporsi yang berbeda-beda, setiap anak


pasti memiliki sesuatu yang menurun dari orang tua mereka seperti contonya
bakat. Kemungkinan besar yang dapat terjadi jika orang tua memiliki suatu
kemampuan atau bakat tertentu maka kemampuan tersebut akan menurun kepada
anak-anak mereka.

3.Interaksi dengan Faktor Lingkungan Keluarga, Sekolah, Kelompok Sebaya

Saat seseorang berinteraksi dengan lingkungannya seperti melakukan sesuatu di


lingkungannya tersebut, ia bisa menemukan sesuatu yang mungkin saja tanpa ia
sadari adalah bakat yang selama ini telah ia miliki tetapi tidak pernah ia sadari.
Contohnya saat seorang anak senang bermain basket bersama teman-temannya,
tanpa ia sadari ia mahir dalam olah raga basket tersebut dan itu menjadi bakat dan
kelebihannya.

D.Cara Mengembangkan Bakat

1.Mengikuti Kegiatan

Di kampus telah banyak kegiatan-kegiatan bagi para mahasiswa. Kegiatan


ini bertujuan agar mahasiswa selain hanya memperoleh pengalaman dari materi di
perkuliahan tetapi juga dapat memperoleh berbagai pengalaman dari kegiatan-
kegiatan yang diikuti. Selain itu dengan adanya kegiatan di kampus juga dapat
membantu mengembangkan bakat yang dimiliki oleh mahasiswa, sehingga
walaupun telah menjadi mahasiswa bakat yang dimiliki tetap terlatih dan terus
berkembang. Sehingga untuk para mahasiswa yang merasa memiliki bakat atau
ingin menemukan bakatnya bisa melalui kegiatan-kegiatan di kampus.
2.Percaya Diri

Ketika seseorang memiliki bakat ia harus memiliki keberanian untuk


menunjukkan dan mengembangkan bakat tersebut. Karena dengan menunjukkan
bakat yang dimiliki kepada orang lain, orang lain dapat memberikan pendapat
mereka tentang bakat yang kita miliki sehingga kita dapat terus memperbaiki dan
meningkatkan bakat yang kita miliki.

3.Meminta Dukungan Orang Terdekat

Dalam mengembangkan bakat kita bisa meminta dukungan orang-orang


terdekat kita, seperti orang tua dan teman-teman kita. Dengan meminta dukungan
dari orang-orang terdekat kita, mereka bisa memberikan semangat untuk kita agar
kita lebih baik dalam mengembangkan bakat yang kita miliki.

4.Bekerja Sama dengan Orang yang Memiliki Bakat yang Sama

Saat bertemu dengan orang yang memiliki bakat yang sama dengan kita
dan kita merasa cocok dengan orang tersebut, kita dapat saling bertukar ilmu,
pengalaman dan pengetahuan tentang bakat kita. Sehingga kita dapat
mengembanhkan bakat yang kita miliki dengan orang yang tepat.

E.Lingkungan yang Berpengaruh dalam Pengembangan Bakat :

1.Lingkungan Keluarga

Keluarga harus memberikan dukungan untuk pertumbuhan intelektual


anak. Setiap orang mempunyai profil kemampuan dan kecerdasan yang berbeda-
beda. Anak-anak dalam keluarga walaupun saudara sekandung mungkin saja
memiliki bakat, kemampuan, dan kecerdasan yang berbeda-beda. Oleh karena itu
sebaiknya orang tua menghargai keunikan setiap anak dan memberikan
pengalaman beragam yang memungkinkan bakat dan kemampuannya
berkembang. Anak akan mengembangkan keterampilan dan keahliannya yang
menurut mereka cocok dengan kemampuan profil intelektual mereka. Orang tua
dapat mendukung pertumbuhan anak dengan mengamati perilaku dan kesibukan
anak dalam kegiatan yang beragam. Memperhatikan cara-cara anak mengatasi
masalah dan menghadapi tugas-tugas baru akan membuat orang tua memahami
potensi dan bakat anak.

2. Lingkungan Sekolah

Semua anak di sekolah memerlukan guru yang baik, guru menentukan tujuan dan
sasaran belajar membantu pembentukan nilai-nilai pada anak, misalnya nilai
hidup, nilai moral dan nilai sosial, memilihkan pengalaman belajar, menentukan
metode atau strategi mengajar dan yang paling penting menjadi model perilaku
bagi siswa.
Seorang guru saat menemui siswa berbakat harus menunjukkan sikap-sikap
seperti demokratis, ramah dan memberi perhatian, sabar, minat luas, penampilan
menyenangkan, adil, tidak memihak, perilaku konsisten, memberi perhatian
terhadap masalah anak, sikap luwes (fleksibel), menggunakan penghargaan dan
pujian, dan mempunyai kemahiran yang luar biasa dalam mengajarkan subjek
tertentu (Munandar, 2002 : 144)
Sehingga dengan begitu siswa akan merasa sangat senang ketika guru peduli
dengan bakat yang mereka miliki dan siswapun akan semakin semangat dalam
mengembangkan bakat yang dimilikinya.

C.Perkembangan emosional / EQ (Emotional Quotient/Intellegent)


            Istilah kecerdasan emosi (emotional intelligence) diperkenalkan pada
tahun 1990 oleh dua ahli psikologi, yaitu Peter Salovery dan John Mayer.
Kecerdasan emosi mengacu ke kemampuan memahami dan menangani perasaan
diri seseorang dan orang lain. Menurut Supriadi Kecerdasan emosional
(Emotional Intelligence) adalah suatu dimensi kemampuan  manusia yang berupa
keterampilan emosionil dan sosial yang kemudian membentuk karakter. Di
dalamnya terkandung kemampuan-kemampuan seperti kemampuan
mengendalikan diri, empati, motivasi, semangat, kesabaran, ketekunan, dan
keterampilan sosial.
Sedangkan menurut pendapat Goleman kecerdasan emosi adalah
kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan
kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh manusia.
Seorang anak yang masih dalam tahap perkembangan, EQ-nya masih labil.
Namun, pada anak dengan lingkungan yang ‘aman’, niscaya EQ-nya akan tinggi.
Seorang yang mudah marah namun tidak tampak di permukaan berbeda dengan
mereka yang marah frontal namun segera reda. Orang yang mengalami gangguan
emosi bisa menjadi seorang yang moody. Apabila dibiarkan naik-turun tak
terkendali, akan menjadi gangguan kejiwaan “bipolar”.
 Aspek emosi mengalami perkembangan yang signifikan pada periode
anak. Seiring pertambahan usia kemampuan anak untuk mengenali emosinya
sendiri semakin berkembang. Anak-anak semakin menyadari tentang perasaannya
sendiri dan perasaan orang lain. Anak-anak juga semakin mampu mengatur
ekspresi emosi dalam situasi sosial dan mampu mereaksi kondisi stres yang
dialami orang lain.
Menurut Papalia et al (2004) pada usia 7 atau 8 tahun, rasa malu dan
kebanggaan, yang tergantung pada kesadaran terhadap akibat tindakan mereka
akan mempengaruhi pendapat mereka tentang diri mereka sendiri. pada periode
kanak-kanak lanjut, anak akan lebih empatis dan perilaku menolong semakin
berkembang. Anak-anak juga mulai belajar mengontrol emosi negatif.
Dan seorang anak yang menampilkan kecerdasan emosi tinggi akan tampil
yakin terhadap emosi yang dirasakan, mampu mengungkapkan perasaannya
dengan tepat, mampu mengenali emosi orang lain dan menanggapinya secara
baik. Anak yang memiliki kecerdasan emosi yang baik, akan tampil hangat,
simpatik, mudah bergaul, dan menyenangkan bagi orang lain. Kecerdasan emosi
seorang anak sangat terkait erat dengan gaya pengasuhan yang dilakukan oleh
orang tuanya sendiri.

Unsur-unsur Dalam Kecerdasan Emosi Seseorang


Goleman menyatakan dalam bukunya bahwa unsur emosi merupakan faktor
yang turut berperan dalam kehidupan seseorang termasuk seorang anak. Menurut
Goleman, kecerdasan emosi mencakup unsur-unsur berikut:
1.      Kemampuan Seseorang Mengenali Emosinya Sendiri
Korteks atau otak rasional memungkinkan seseorang mengenali
bermacam-macam emosi yang dialami. Kemampuan untuk mengenal bermacam-
macam emosi berkembang secara bertahap. Awalnya, anak masih mencapur
adukan emosi marah dengan kecewa menjadi satu. Secara bertahap, melalui
interaksi dengan orang tua dan orang lain di sekelilingnya. Kemampuan anak
untuk memahami perasaannya pun bertambah.
2.   Kemampuan Mengelola Suasana Hati
Pada usia dini, pengelolaan emosi masih banyak dipengaruhi oleh reflek
yang dibawa sejak lahir. Seiring dengan bertambahnya usia rasa takut berikut pola
emosi yang menyertai ketakutan yaitu rasa malu, kecanggungan, kekhawatiran,
dan kecemasan, semakin bisa diatasinya karena anak menyadari bahwa tidak ada
perlunya merasa takut. Pada gilirannya kemampuan anak dalam mengendalikan
emosi ini akan berpengaruh terhadap cara-cara anak mengekspresikan
perasaannya lewat kata – kata merupakan bagian vital dalam tahap perkembangan
kemampuan untuk mengekspresikan perasaan secara tepat. 
3.     Kemampuan Memotivasi Diri Sendiri
Agar mampu mencapai tujuan, anak harus mampu memotivasi diri, artinya
anak harus memiliki ketekunan. Usia 6 – 10 tahun, anak mulai melihat bahwa
usaha hanyalah satu faktor saja dalam pencapaian suatu tujuan. Faktor lainnya
adalah kemampuan swadaya. Sebagia besar anak dalam tahap ini melihat bahwa
ada penyesuaian antara usaha dan hasil. Karenanya untuk mencapai sukses
mereka harus bekerja keras. Usia antara 10 – 12 tahun, anak mulai lebih bisa
memahami hubungan antara usaha dan kemampuan. Sejak saat ini anak sadar
bahwa orang dengan kemampuan yang kurang harus berusaha lebih keras dan
orang dengan kemampuan yang lebih besar hanya perlu mencurahkan usaha lebih
sedikit. Kurang kuatnya motivasi, mempengaruhi anak selama masa pertumbuhan
mereka.
4.      Kemampuan Mengendalikan Nafsu 
                Seorang anak sering kali sulit untuk mengendalikan nafsunya, baik berupa
emosi maupun keinginan yang harus dipenuhi. Dalam hal ini anak menjadi merasa
egois, dan apa yang ia inginkan harus dicapai atau didapatkannya. Oleh karena itu
peran orang tua dalam mengendalikan nafsu anak harus lebih diperhatikan, karena
apabila orang tua tidak memberikan pengarahan yang baik kepada anak,
anak tersebut bisa menjadi liar dalam artian nakal yang sudah keluar dari batas
wajar. Kenakalan tersebut nantinya dapat memicu kenakalan-kenakalan lainnya
dan berdampak tidak baik bagi anak itu sendiri. Orang tua dapat memberikan
pengertian dengan cara-cara yang mudah dipahami anak, contoh: mengajak anak
ke suatu tempat anggota keluarga atau orang yang tidak mampu, dan berikan
gambaran terhadap keluarga tersebut sehingga rasa empati anak dapat langsung
tertuju kepada keluarga tersebut dan tidak lagi menggunakan cara-cara yang tidak
seharusnya untuk mendapatkan sesuatu, sekaligus mengajarkan anak untuk saling
berbagi terhadap sesama manusia.
5.      Kemampuan Membangun dan Mempertahankan Hubungan dengan Orang
Lain 
            Agar terampil membina hubungan dengan orang lain, seseorang harus mampu
mengenal dan mengelola emosinya. Salah satu seni yang harus dimiliki anak
dalam membangun kemampuan membina hubungan dengan orang lain adalah
kemampuan untuk mengendalikan emosi orang lain. Mengapresiasi emosi
orang lain adalah kemampuan yang sama pentingnya, khususnya dalam
mengembangkan keintiman dan memberi arti dari suatu hubungan. Lebih penting
menjadi pendengar yang baik daripada menjadi pembicara yang pandai saat
terjadi komunikasi emosional. Kemampuan menangani emosi orang
lain merupakan inti seni memelihara hubungan dengan orang lain. Kemampuan
ini memungkinkan seseorang membentuk hubungan untuk menggerakan dan
mengilhami orang lain, membina kedekatan hubungan, meyakinkan dan
mempengaruhi serta membuat orang lain merasa nyaman. Anak yang mempunyai
kemampuan mengendalikan emosi orang lain, dapat membuat orang merasa
senang, takut, segan, dan mau melakukan apa yang dia kehendaki. Sebelum
mampu menangani emosi orang lain, dibutuhkan kematangan dan keterampilan
emosional, yaitu manajemen diri dan empati. 
Perkembangan Emosi Anak Sesuai Tahapan Usia
1.      Usia Infant (0-2 Tahun)
Sejak lahir, seorang individu sudah memiliki kemampuan untuk
merasakan dan memberi respon emosi dalam bentuk tertarik pada sesuatu, merasa
tertekan dan merasa jijik. Bayi sudah bisa memberikan senyuman sosial sebagai
bentuk ekspresi emosi, pada usia mulai 4-6 minggu. Emosi-emosi lain
berkembang secara bertahap dam ditunjukkan dengan semakin banyaknya respon
ketika anak berkembang seiring dengan waktu. Emosi marah, terkejut dan sedih
mulai muncul pada usia 3-4 bulan, dan anak mula bisa merasakan takut pada usia
antara 5-7 bulan. Rasa malu muncul pada usia 6-8 bulan, dan perasaan bersalah
baru muncul pada usia anak 2 tahun. 
2.      Usia Prasekolah (2-6 Tahun)
Secara emosional, anak-anak prasekolah sudah bisa merasakan cinta dan
mempunyai kemampuan untuk menjadi anak yang penuh kasih sayang, baik dan
sangat menolong, dan pada saat bersamaan bisa juga sangat egois dan agresif.
Ketika anak-anak prasekolah ini memiliki orang tua/pengasuh yang penuh
kehangatan dan cinta serta merawat mereka dengan kasih sayang, mereka akan
menjadikan cinta sebagai landasan dari dunia mereka, dan bisa diajari untuk
peduli dan mau membantu atau menolong orang lain. Hal ini bisa dilakukan
dengan memberi contoh, membacakan cerita, melalui gambar, menyanyi, menari,
bermain drama, atau kegiatan-kegiatan kooperatif lainnya. 
3.      Usia Sekolah (6-12 Tahun)
Perkembangan emosi anak usia sekolah kurang lebih sama dengan anak
usia prasekolah, namun karena kemampuan kognitif mereka sudah lebih
berkembang, hal ini memungkinkan mereka untuk bisa mengekspresikan
emosinya dengan lebih bervariasi, dan terkadang bisa mengekspresikan secara
bersamaan dua bentuk emosi yang berbeda dan bahkan bertolak belakang.
Perkembangan kemampuan kognitif mereka juga membuat anak-anak usia
antara 6-8 tahun sudah mengetahui bahwa orang lain bisa punya perasaan dan
pikiran berbeda mengenai suatu hal. Pada usia 8-10 tahun mereka bisa mengira-
ngira apa yang orang lain pikir atau rasakan. Dan pada usia 12 tahun keatas
mereka sudah bisa menganalisa dan mengevaluasi cara mereka merasakan atau
memikirkan sesuatu, begitu juga orang lain, dan mereka sudah mulai bisa
merasakan bentuk empati yang lebih dalam. 
Gangguan Emosional Pada Anak
            Terdapat beberapa gangguan emosional pada masa kanak – kanak, antara
lain beberapa tipe masalah emosional pada anak, yaitu :
1)      Kebrutalan atau kebringasan
2)      Gangguan Kecemasan
3)      Takut Sekolah
4)      Kematangan Sekolah 
5)      Depresi pada masa Kanak – kanak

Bentuk-bentuk Ekspresi Emosi Anak


        1. Amarah
       2. Takut
       3. Cemburu
       4. Iri Hati
       5. Gembira
       6. Sedih
       7. Kasih Sayang

Cara untuk Mencerdaskan Emosi Anak


Apabila IQ diukur dengan melakukan evaluasi atas berbagai aspek
intelektual seperti konsentrasi, daya nalar, daya abstraksi dan daya analisis
sintesis. Seorang anak yang menampilkan kecerdasan emosi tinggi akan tampil
yakin terhadap emosi yang dirasakan, mampu mengungkapkan perasaannya
dengan tepat, mampu mengenali emosi orang lain dan menanggapinya secara
baik. Kecerdasan emosi diawali dengan adanya pengenalan terhadap emosi, baik
emosi yang dialami sendiri maupun yang dirasakan orang lain. Sebagai anak yang
pemikirannya masih berpusat pada diri sendiri, kecerdasan emosi diawali dengan
usaha untuk mengenali emosinya sendiri.
Proses ini akan banyak dibantu oleh orang tua yang memiliki empati, yaitu
bersedia memahami emosi anak. Diatas telah dijelaskan bahwa emosi anak
dipengaruhi oleh gaya orangtua dalam mengasuh anaknya. Ada empat gaya
pengasuhan, yaitu mengabaikan emosi anak, menentang emosi, gaya serba boleh,
dan  gaya pencerdasan pencerahan emosi anak. Untuk mengembangkan
kecerdasan emosi anak ada beberapa langkah yang perlu dilakukan orang tua :
1.      Menyadari dan memahami emosi anak,
2.      Memandang emosi sebagai peluang untuk menjadi akrab dan menjadi sahabat
anak,
3.      Mendengarkan dengan empati setiap masalah anak dan menjelaskan emosi anak,
4.      Membantu anak memahami emosinya, serta
5.      Menetapkan aturan dan membantu anak menyelesaikan masalah. 
Kegiatan bermain sejumlah anak juga diyakini oleh para ahli psikologi sebagai
sarana efektif dan ampuh untuk meningkatkan kecerdasan emosional anak. Jika
anak sering menampilkan emosi yang meledak – ledak, mudah marah, gampang
curiga, suka mengancam, senang melakukan bentrok fisik, tenggelam dalam
kesedihan, sering merasa bersalah serta cemas berkepanjangan, itu semua
menunjukkan anak tersebut memiliki tingkat kecerdasan emosi (EQ) yang rendah.
Hal ini perlu diperhatikan para orang tua, karena tingkat kemampuan (IQ) anak
yang tinggi tidak ada artinya jika EQ-nya rendah.

BAB III
PENUTUP
Simpulan
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, seorang anak melewati
berbagai tahap perkembangan yang harus dilalui. Tahap tersebut dapat dibagi
dalam berbagai kelompok seperti Perkembangan kognitif,perkembangan
bakat,dan perkembangan kecerdasan emosional.

perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses


yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf.  Dengan
makin bertambahnya umur seseorang, maka semakin kompleks susunan sel
syarafnya dan semakin meningkat pula kemampuannya.Sedangkan Bakat
(aptitude) diartikan sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi
(potensial ability) yang masih perlu dikembangkan atau dilatih.Kecerdasan
emosional (Emotional Intelligence) adalah suatu dimensi kemampuan  manusia
yang berupa keterampilan emosionil dan sosial yang kemudian membentuk
karakter.

Saran

Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dalam penulisan


makalah yang berjudul “Perkembangan kognitif,perkembangan bakat,dan
perkembangan kecerdasan emosional.
DAFTAR PUSTAKA

http://kumpulantipsanakpintar.blogspot.com/
http://organisasi.org/kecerdasan-iq-eq-dan-sq-pada-anak-intellectual-quotient-
emotional-quotient-spiritual-quotient
http://lifeschool.wordpress.com/2012/03/17/emosi-anak/
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PGTK/196510011998022-
ERNAWULAN_SYAODIH/EQ__peb_05_.pdf 
http://nsholihat.wordpress.com/2012/02/21/memahami-perkembangan-dan-
masalah-emosi-pada-anak/
at https://www.johnsonsbaby.co.id/artikel/kenali-6-tahap-
perkembangan-sensorik-dan-motorik-pada-si-
kecil#r5tFESb8g87DlaWv.99

Rifai,Achmad dkk.2018.Psikologi Pendidikan.Semarang:UNNES PRESS