Anda di halaman 1dari 10

Analisis Kasus Pelanggaran Hak dan Pengingkaran Kewajiban

Warga Negara

Laporan ini dibuat sebagai pemenuhan tugas Konsep Dasar PKN

Dosen Pengampu :

Fitria Dwi Prasetyaningtyas, S.Pd., M.Pd.

Disusun Oleh :

1. Kurnia Muthi’ Nuriyah ( 1401419017 )


2. Markamah ( 1401419018 )
3. Eka Putri Nugraheni ( 1401419019 )
4. Arif Fahmi Ritonga ( 1401419021 )
5. Alfiza Dila Adelia ( 1401419022 )

Rombel A

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2019

1. Kasus Pelanggaran Hak Warga Negara


Pelanggaran hak warga negara merupakan akibat dari adanya pelalaian atau pengingkaran
terhadap kewajiban, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh warga negara
sendiri.Suatu peristiwa dapat dikatakan sebagai bentuk pelanggaran hak apabila seorang warga
negara tidak mendapatkan haknya sebagai warga negara yang tertuang dalam Undang-Undang.

Contoh kasus pelanggaran hak warga negara antara lain :

a) Meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran


b) Penegakan hukum yang kurang maksimal.
c) Meningkatnya kasus pelanggaran HAM misalnya kekerasan.
d) Maraknnya kasus kekerasan yang mengatasnamakan kelompok /golongan tertentu.
e) Pelanggaran hak cipta.
f) Meningkatnya angka putus sekolah.
g) Kesadaran bayar pajak masih rendah.

Berikut kasus pada berita yang menyangkut Pelanggaran hak;

Kasus 1

Tingginya Angka Putus Sekolah Jadi Kendala Belajar 12 Tahun

Anak harus bekerja membantu orang tua, menjadi salah satu penyebab putus sekolah/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Indonesia memiliki program Wajib Belajar (Wajar)


12 Tahun. Program ini mewajibkan anak bangsa bisa melanjutkan sekolah hingga SMA atau
SMK. Pemerintah melalui Kemendikbud juga telah meluncurkan program ini pada tahun
pelajaran 2015/2016.
Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Dirjen Dikdasmen Kemendikbud), Hamid Muhammad menyatakan untuk mencapai program
Wajar 12 Tahun memang tidak mudah.Menurut dia, salah satu kendala yang dihadapi adalah
tingginya angka putus sekolah di tingkat sekolah menengah.  

Hamid mengungkapkan, sebanyak delapan persen anak Indonesia yang berhasil


menyelesaikan sekolah menengah pertama (SMP). Namun sejumlah siswa itu malah tidak
mampu melanjutkan pendidikannya ke tingkat selanjutnya.

Menurut Hamid, penyebab munculnya angka itu memiliki banyak faktor. Pertama, terkait
dengan masalah kesejahteraan keluarga.Selain itu, Hamid menjelaskan, rendahnya harapan
peserta didik dan orang tua juga menjadi salah satu faktor kuat penyebab putusnya sekolah.
Mereka memiliki harapan kecil terhadap efektifitas sekolah dalam meningkatkan kesempatan
bekerja.

Kebanyakan anak dan orangtua di Indonesia, Hamid mengungkapkan, mereka lebih berpikir
bahwa pendidikan tidak memiliki relevansi dan manfaat yang kuat baginya. Oleh karena itu,
para orangtua pun tidak menyekolahkan anak mereka. Mereka lebih memilih anaknya untuk
bekerja daripada melanjutkan sekolah.“Kondisi seperti ini jelas tidak mudah," ujar Hamid
kepada wartawan di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Jumat (25/9).

Analisis kasus “tingginya angka putus sekolah menjadi kendala wajib belajar 12 tahun”:

Dari kasus diatas,dapat dilihat bahwa meningkatnya angka putus sekolah disebabkan
karena masalah ekonomi atau kesejahteraan keluarga, faktor ekonomi dianggap sebagai
penyebabnya angka putus sekolah,karena pendapatan keluarga yang minim mengakibatkan
prioritas utama pada kebutuhan pokok bukan lagi pada pendidikan anak. Akibatnya anak dipaksa
oleh keadaan untuk bekerja guna menambah penghasilan keluarga.

Upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi masalah ini adalah dengan
pemberian bantuan operasional sekolah (BOS) dan KIP, namun apabila anak yang membantu
orangtuanya bekerja, mereka akan enggan untuk menuntut ilmu karena sudah nyaman dengan
kondisi, mereka merasa sudah dapat memiliki penghasilan sendiri. selain itu, orangtua harus
mengubah pola pikir bahwa pendidikan memiliki peranan yang amat penting bagi masadepan
anak-anaknya

Selain itu,jika mendengar banyak pemberitaan tentang banyaknya kasus kejahatan


terhadap anak jalanan ,muncul pertanyaan dibenak kita,mengapa mereka tidak bersekolah?
mengapa mereka justru bekerja? Padahal semua tahu bahwa menempuh pendidikan adalah hak
warga negara dan bekerja bukan kewajiban mereka.Banyaknya anak yang tidak bersekolah
bisa disebabkan oleh beberapa faktor ,misalnya ketiadaan biaya atau kemalsan siswa.Anak
yang bekerja di jalanan juga disebabkan oleh beberapa faktor seperti ;

 karena desakan ekonomi


 suasana keluarga yang membuat mereka tidak merasa nyaman,atau
 pengaruh dari lingkungan yang menjanjikan kebebasan

Ada banyak kemungkinan yang dapat terjadi dengan banyaknya anak yang bekerja di
jalanan.Pertama,mereka rentan menjadi korban kekerasan.Kedua,hal ini merupakan dampak
yang lebih buruk yaitu anak tersebut menjadi rusak karena pengaruh lingkungan dan bahkan
dapat mempengaruhi anak-anak yang lain.Setiap anak adalah generasi bangsa yang harus kita
bina sebaik-baiknya agar dapat mewujudkan harapan membangun dan memajukan bangsa dan
negara.Terjadinya kasus kejahatan yang menelan korban anak-anak di bawah umur menandakan
bahwa saat ini marak terjadinya kasus pelanggaran hak .Setiap anak berhak untuk hidup dan
berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat kemanusiaan,serta mendapat perlindungan
dari kekerasan dan diskriminasi.

Contoh lain dari kasus pelanggaran hak warga negara adalah kemiskinan yang masih
menimpa sebagian masyarakat Indonesia,atau banyaknya pengamen dan peminta-minta di
jalanan juga termasuk pelanggaran hak warga negara.Padahal dalam pasal 27 ayat 2 UUD 1945
menyatakan bahwa setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan.Kemiskinan yang menimpa WNI disebabkan oleh berbagai hal,baik itu dari WNI
yang malas dan enggan bekerja.Atau karena gagalnya pemerintah dalam mengatasi kesenjangan
ekonomi yang terjadi akibat sistem yang kurang pro rakyat kecil.Sehingga,upaya yang harus
dilakukakn pemerintah diantaranya;
 memperluas lapangan pekerjaan bagi masyarakat guna setiap warga negara memiliki
pekerjaan dan penghidupan yang layak.
 Memberi bantuan pendidikan secara gratis baagi masyarakat yang tidak
mampu.Sehingga,masalah putus sekolah dapat diatasi.Yang mana suatu saat nanti siswa
yang telah lulus dapat mencari pekerjaan karena telah memiliki keterampilan dan
kemampuan dalam dunia kerja.

Selain itu,kita juga bisa berinisitaif untuk membuka lapangan pekerjaan sendiris seperti warung
makan,toko sembako dan lain-lain.

2. Kasus Pengingkaran Kewajiban Warga Negara


 Melanggar peraturan
Peraturan yang dimaksud bisa berupa peraturan sekolah atau peraturan dari pemerintah,
sebagai contoh pengendara sepeda motor yang tidak membawa SIM, perbuatan yang
tidak menaati peraturan lalulintas,seperti tidak membawa surat kendaraan yang
lengkap,melanggar lampu merah. Perbuatan-perbuatan tersebut selain melanggar UU
lalulintas, juga melanggar kewajiban menghormati orang lain.apalagi bila pelanggaran itu
membahayakan oranglain maka orang tersebut dikatakan melanggar hak asasi oranglain
 Tidak membayar pajak
Seperti yang diketahui pajak adalah sumber pemasukan bagi negara yang berguna untuk
membiayai proses pembangunan di negara kita, jika malas membayar pajak sama saja
tidak mendukung usaha negara (pasal 23 UUD 1945)
 Tidak ikut serta dalam pembelaan negara
Contoh pengingkaran kewajiban negara adalah seorang pelajar yang tidak ber sungguh-
sungguh dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai warga negara.
 Merusak fasilitas umum dan membuang sampah sembarangan
Berarti melakukan pengingkaran terhadap lingkungan dan alam sekitar, padahal
lingkungan dan alam itu sangat bermanfaat bagi manusia. Contoh fasilitas umum yang
dirusak seperti telephone umum, mencoret coret halte
Upaya pemerintah untuk menangani kasus pengingkaran kewajiban warga negara
1. Supremasi hukum harus ditegakkan dan para pejabat penegak hukum harus memenuhi
kewajiban dengan memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.
2. Meningkatkan kualitas pelayanan publik untuk mecegah terjadinya berbagai bentuk
pelanggaran hak dan kewajiban warga negara oleh pemerintah.

Faktor penyebab pelanggaran hak dan kewajiban secara umum, yaitu :

a) Faktor Internal
 Sikap mementingkan diri sendiri atau egois.
Sikap ini akan menyebabkan seseorang untuk selalu menuntut haknya, sementara
kewajibannya sering di abaikan. Seseorang yang mempunyai sikap seperti ini akan
menghalalkan segala cara agar haknya dapat terpenuhi, meskipun caranya tersebut
dapat melanggar hak orang lain.
 Rendahnya kesadaran berbangsa dan bernegara
Hal ini akan menyebabkan pelaku pelanggaran berbuat seenaknya. Pelaku tidak
mau tahu bahwa orang lain pun mempunyai hak yang harus dihormati. Sikap tidak
mau tahu ini berakibat munculnya perilaku atau tindakan penyimpangan terhadap
hak dan kewajiban warga negara.
 Sikap tidak toleran
Sikap ini akan menyebabkan munculnya perilaku tidak saling menghargai dan tidak
menghormati atas kedudukan atau keberadaan orang lain. Sikap ini pada akhirnya
akan mendorong orang melakukan diskriminasi kepada orang lain.
 Keadaan psikologis para pelaku pelanggaran
Pelaku kasus pelanggaran sedang mengalami keadaan gangguan jiwa saat
melakukan pelanggaran HAM.
 Dendam
Adanya suatu rasa dendam yang dimiliki kepada orang lain yang mengakibatkan
tindak pelanggaran HAM.
 Tidak adanya rasa empati dan kemanusiaan
Pelaku akan sesuka hati melakukan pelanggaran HAM tanpa adanya rasa
kemanusiaan di dalam dirinya.
 Tindak kesadaran pelaku terhadap pelanggaran HAM
Setiap pelaku pelanggaran HAM tidak mengerti tentang suatu HAM dan aturan
yang ditetapkan.
 Adanya suatu pandangan yang bersifat individualistik
Pelaku dari pelanggaran HAM akan merasa dirinya bebas berekspresi dan
melakukan semua hal sesuai dengan kehendaknya tanpa memikirkan perasaan
orang lain. Mereka hanya fokus dengan kepentingan diri sendiri dan kepuasan
tersendiri.
 Tidak adanya rasa toleransi
Tidak memandang bulu akan sebuah masalah, baik itu besar atau kecil, sering kali
pelaku tidak peduli dengan toleransi.
b) Faktor Eksternal
 Penyalahgunaan kekuasaan
Di dalam masyarakat terdapat banyak kekuasaan yang berlaku. Kekuasaan disini
tidak hanya menunjuk pada kekuasaan pemerintah, tetapi juga bentuk-bentuk
kekuasaan lain yang terdapat dalam masyarakat. Contohnya adalah kekuasaan di
dalam perusahaan. Para pegusaha yang tidak memedulikan hak-hak buruhnya jelas
melanggar hak warga negara.
 Ketidaktegasan aparat penegak hukum
Tentu saja akan mendorong timbulnya pelanggaran lainnya. Penyelesaian kasus
pelangggaraan yang tidak tuntas akan menjadi pemicu bagi munculnya kasus-kasus
lain. Para pelaku tidak akan merasa jera, dikarenakan mereka tidak menerima
sanksi yang tegas atas perbuatannya itu. Selain hal tersebut, aparat penegak hukum
yang bertindak sewenang-wenang juga merupakan bentuk pelanggaran hak warga
negara dan menjadi cintih yang tidak baik, serta dapat mendorong timbulnya
pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya.
 Penyalahgunaan teknologi
Kemajuan teknologi dapat memberikan pengaruh yang positif, tetapi dapat juga
memberikan pengaruh negatif bahkan dapat memicu timbulnya kejahatan. Anda
tentunya pernah mendengar terjadinya kasus penculikan yang berawal dari
pertemanan dalam jejaring sosial. Kasus tersebut menjadi bukti apabila kemajuan
teknologi tidak di manfaatkan untuk hal-hal yang sesuai aturan, tentu saja akan
menjadi penyebab timbulnya pelanggaran hak warga negara. Selain itu, kemajuan
teknologi dalam bidang produksi ternyata dapat menimbulkan dampak negatif,
misalnya munculnya pencemaran lingkungan yang dapat mengakibatkan
terganggunya kesehatan manusia.
 Kesenjangan sosial
Kesenjangan sosial di masyarakat, baik karena jabatan atau harta, dapat
mengakibatkan kehidupan yang tidak seimbang dan harmonis. Jika dibiarkan, hal
ini bisa berujung pada pelanggaran hak.
 Struktur sosial dan politik
Struktur sosial dan politik yang tidak sesuai dengan harapan pelaku, akan menjadi
alasan pelaku melakukan tindak kriminal dan pelanggaran HAM.
 Adanya pihak yang membantu aksi pelanggaran HAM
Adanya seseorang yang membantu pelaku dalam melancarkan tindak pelanggaran
HAM tersebut.
Upaya mengatasi kasus pelanggaran hak dan kewajiban secara umum, yaitu :
 Supremasi hukum dan demokrasi harus ditegakkan. Pendekatan hukum dan
pendekatan dialogis harus dikemukakan dalam rangka melibatkan partisipasi
masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Para pejabat penegak
hukum harus memenuhi kewajiban dengan memberikan pelayanan yang baik dan
adil kepada masyarakat, memberikan perlindungan.
 Mengoptimalkan peran lembaga-lembaga selain lembaga tinggi negara yang
berwenang dalam penegakan hak dan kewajiban warga negara seperti Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), Lembaga Ombudsman Republik Indonesia, Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Komisi Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI), dan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
(Komnas Perempuan).
 Meningkatkan kualitas pelayanan publik untuk mencegah terjadinya berbagai
bentuk pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban warga negara oleh
pemerintah.
 Meningkatkan pengawasan dari masyarakat dan lembaga-lembaga politik terhadap
setiap upaya penegakan hak dan kewajiban warga negara.
 Meningkatkan penyebarluasan prinsip-prinsip kesadaran bernegara
Kepada masyarakat melalui lembaga pendidikan formal (sekolah/perguruan tinggi)
maupun non-formal (kegiatan-kegiatan keagamaan dan kursus-kursus).
 Meningkatkan profesionalisme lembaga keamanan dan pertahanan negara.
 Meningkatkan kerja sama yang harmonis antarkelompok atau golongan dalam
masyarakat agar mampu saling memahami dan menghormati keyakinan dan
pendapat masing-masing

DAFTAR PUSTAKA
 https://guruppkn-com.cdn.ampproject.org/v/s/guruppkn.com/kasus-pengingkaran-kewajiban-
warga-negara/amp?amp_js_v=a2&amp_gsa=1&usqp=mq331AQCKAE
%3D#aoh=15739938709110&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari
%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fguruppkn.com%2Fkasus-pengingkaran-kewajiban-
warga-negara
 https://belajargiat.id/kasus-pelanggaran-hak-dan-pengingkaran-kewajiban-wni/
 https://m-republika-co-id.cdn.ampproject.org/v/s/m.republika.co.id/amp/nv8wqh366?
amp_js_v=a2&amp_gsa=1&usqp=mq331AQCKAE%3D#aoh=15739849159280&referrer=https
%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s
 https://www.academia.edu/30228995/Makalah_Kasus-
kasus_Pelanggaran_hak_dan_kewajiban.docx
 Nurjanah,Siti dkk.2013.Belajar praktis Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.Klaten:Viva
pakarindo