Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH BATUAN SEDIMEN

Disusun oleh :
Nama : Batistuta Sihotang
NPM : 270110170036
Kelas : D (Petrologi)

UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2018
BAB I : Pendahuluan
Kata sedimen berasal dari bahasa latin sedimentum, yang bermakna “penenggelaman”
atau secara sederhana dapat diartikan dengan kata “endapan”, yang digunakan untuk material
padat yang diendapkan oleh fluida. Oleh karena itu Batuan sedimen adalah hasil akumulasi
sedimen baik yang berasal dari rombakan batuan yang sudah ada maupun hasil akumulasi hasil
aktivitas organisme, serta akumulasi hasil proses kimia yang terjadi secara alamiah yang
kemudian mengalami kompaksi sehingga membentuk massa yang padat.
Batuan sedimen yang terbentuk sebagai hasil dari rombakan batuan lainnya (batuan beku,
batuan metamorf, atau batuan sedimen itu sendiri) terbentuk melalui proses pelapukan
(weathering), erosi, pengangkutan (transport), dan pengendapan, yang pada akhirnya mengalami
proses litifikasi atau pembatuan. Mekanisme lain yang dapat membentuk batuan sedimen adalah
proses penguapan (evaporasi), longsoran, erupsi gunungapi.
Batuan sedimen hanya menyusun sekitar 5% dari total volume kerak bumi. Tetapi karena
batuan sedimen terbentuk pada permukaan bumi, maka meskipun jumlahnya relatif sedikit akan
tetapi dalam hal penyebaran batuan sedimen hampir menutupi batuan beku dan metamorf.
Batuan sedimen menutupi sekitar 75% dari permukaan bumi.
BAB II : Isi
A. Proses Sedimentasi
1. Proses Sedimentasi Mekanik
Proses sedimentasi secara mekanik merupakan proses dimana butir-butir sedimen
tertransportasi hingga diendapkan di suatu tempat. Proses ini dipengaruhi oleh banyak hal dari luar.
Transportasi butir-butir sedimen dapat dipengaruhi oleh air, gravitasi, angin, dan es. Dalama
sedimentasi mekanik terdapat beberapa proses .

Proses yang pertama ialah Pelapukan atau weathering (weather) merupakan perusakan
batuan pada kulit bumi karena pengaruh cuaca (suhu, curah hujan, kelembaban, atau angin).
Karena itu pelapukan adalah penghancuran batuan dari bentuk gumpalan menjadi butiran yang
lebih kecil bahkan menjadi hancur atau larut dalam air. Pelapukan dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
 Pelapukan fisika, adalah proses dimana batuan hancur menjadi bentuk yang lebih
kecil oleh berbagai sebab, tetapi tanpa adanya perubahan komposisi kimia dan
kandungan mineral batuan tersebut yang signifikan.
 Pelapukan kimia, adalah proses dimana adanya perubahan komposisi kimia dan
mineral dari batuan.
 Pelapukan biologi, Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang
tumbuhan dan manusia, binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain
cacing tanah, serangga.
Kedua ialah Erosi adalah suatu pengikisan dan perubahan bentuk batuan, tanah atau
lumpur yang disebabkan oleh kekuatan air, angin, es, pengaruh gaya berat dan organisme hidup.
Erosi tidak sama dengan pelapukan, yang mana merupakan proses penghancuran mineral batuan
dengan proses kimiawi maupun fisik, atau gabungan keduanya.
Ketiga ialah Transportasi adalah pengangkutan suatu material (partikel) dari suatu
tempat ke tempat lain oleh suatu gerakan media (aliran arus) hingga media dan material terhenti
(terendapkan). Media transportasi (fluida) antara lain gravitasi, air, es, dan udara. Gerakan fluida
dapat terbagi ke dalam dua cara yang berbeda yaitu
 Aliran laminar, semua molekul-molekul di dalam fluida bergerak saling sejajar
terhadap yang lain dalam arah transportasi. Dalam fluida yang heterogen hampir
tidak ada terjadinya pencampuran selama aliran laminar.
 Aliran turbulen, molekul-molekul di dalam fluida bergerak pada semua arah tapi
dengan jaring pergerakan dalam arah transportasi. Fluida heterogen sepenuhnya
tercampur dalam aliran turbulen.
Partikel semua ukuran digerakkan di dalam fluida oleh salah satu dari tiga mekanisme
 Menggelinding (rolling) di dasar aliran udara atau air tanpa kehilangan kontak dengan
permukaan dasar.
 Saltasi (saltation), bergerak dalam serangkaian lompatan, secara periode meninggalkan
permukaan dasar dan terbawa dengan jarak yang pendek di dalam tubuh fluida sebelum
kembali ke dasar lagi.
 Suspensi (suspension), turbulensi di dalam aliran dapat menghasilkan gerakan yang
cukup untuk menjaga partikel bergerak terus di dalam fluida.

Keempat ialah proses Sedimentasi adalah proses pengendapan sedimen oleh media air,
angin, atau es pada suatu cekungan pengendapan pada kondisi P dan T tertentu. Pettijohn (1975)
mendefinisikan sedimentasi sebagai proses pembentukan sedimen atau batuan sedimen yang
diakibatkan oleh pengendapan dari material pembentuk atau asalnya pada suatu tempat yang
disebut dengan lingkungan pengendapan berupa sungai, muara, danau, delta, estuaria, laut
dangkal sampai laut dalam.
Yang terakhir ialah proses Litifikasi yaitu proses perubahan sedimen lepas menjadi
batuan. Salah satu proses litifikasi adalah kompaksi atau pemadatan. Pada waktu material
sedimen diendapkan dan terakumulasi terus – menerus pada suatu cekungan. Berat endapan yang
berada di atas akan membebani endapan yang ada di bawahnya. Akibatnya, butiran sedimen
akan semakin rapat dan rongga antara butiran akan semakin kecil. Proses lain yang merubah
sedimen lepas menjadi batuan sedimen adalah sementasi. Material yang menjadi semen diangkut
sebagai larutan oleh air yang meresap melalui rongga antar butiran, kemudia larutan tersebut
akan mengalami presipitasi di dalam rongga antar butir dan mengikat butiran – butiran sedimen.
Material yang umum menjadi semen adalah kalsit, silika dan oksida besi.
2. Proses Sedimen Kimiawi
Proses sedimentasi secara kimiawi terjadi saat pori-pori yang berisi fluida menembus atau
mengisi pori-pori batuan. Hal ini juga berhubungan dengan reaksi mineral pada batuan tersebut
terhadap cairan yang masuk tersebut. Proses kimiawi ini disebut juga diagenesis. Setelah pengendapan
berlangsung sedimen mengalami diagenesa yakni, proses proses-proses yang berlangsung pada
temperatur rendah di dalam suatu sedimen, selama dan sesudah litifikasi. Hal ini merupakan proses
yang mengubah suatu sedimen menjadi batuan keras ( Pettjohn, 1975). Proses-proses kimiawi dalam
diagenesa klastik antara lain:

 Kompaksi Sedimen yaitu termampatnya butir sedimen satu terhadap yang lain akibat
tekanan dari berat beban di atasnya. Disini volume sedimen berkurang dan hubungan
antar butir yang satu dengan yang lain menjadi rapat.

 Sementasi yaitu turunnya material-material di ruang antar butir sedimen dan secara
kimiawi mengikat butir-butir sedimen dengan yang lain. Sementasi makin efektif bila
derajat kelurusan larutan pada ruang butir makin besar.

 Rekristalisasi yaitu pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu larutan kimia yang
berasal dari pelarutan material sedimen selama diagenesa atu sebelumnya. Rekristalisasi
sangat umum terjadi pada pembentukan batuan karbonat.

 Autigenesis yaitu terbentuknya mineral baru di lingkungan diagenesa, sehingga adanya


mineral tersebut merupakan partikel baru dlam suatu sedimen. Mineral autigenik ini yang
umum diketahui sebagai berikut : karbonat, silica, klorita, gypsum dll.

 Metasomatisme yaitu pergantian material sedimen oleh berbagai mineral autigenik, tanpa
pengurangan volume asal.

B. Macam-Macam Batuan Sedimen

Secara genetic batuan sedimen dapat dibagi menjadi dua golongan ( Pettijohn, 1975 ).

1. Batuan Sedimen Klastik

Batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan kembali detritus atau pecahan batuan asal.
Batuan asal dapat berupa batuan beku, metamorf dan sedimen itu sendiri. ( Pettjohn, 1975).
Batuan sedimen diendapkan dengan proses mekanis. Proses mekanis yang dimaksud ialah bahwa
batuan ini mengalami proses pelapukan,erosi,trabsportasi dan akhirnya terendapkan dan juga
terlitifikasi. Batuan ini terbagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok yang memiliki ukuran butir
besar dan kecil.Cara terbentuknya dapat terjadi di darat maupun laut. Batuan yang ukurannya
besar seperti breksi dapat terjadi pengendapan langsung dari ledakan gunungapi dan di endapkan
disekitar gunung tersebut dan dapat juga diendapkan dilingkungan sungai dan batuan batupasir
bisa terjadi dilingkungan laut, sungai dan danau. Semua batuan diatas tersebut termasuk ke
dalam golongan detritus kasar. Sementara itu, golongan detritus halus terdiri dari batuan lanau,
serpih dan batuan lempung dan napal. Batuan yang termasuk golongan ini pada umumnya di
endapkan di lingkungan laut dari laut dangkal sampai laut dalam ( Pettjohn, 1975)..

Fragmentasi batuan asal tersebut dimulaiu darin pelapukan mekanis maupun secara kimiawi,
kemudian tererosi dan tertransportasi menuju suatu cekungan pengendapan ( Pettjohn, 1975 ).
etelah pengendapan berlangsung sedimen mengalami diagenesa yakni, proses proses-proses yang
berlangsung pada temperatur rendah di dalam suatu sedimen, selama dan sesudah litifikasi. Hal
ini merupakan proses yang mengubah suatu sedimen menjadi batuan keras ( Pettjohn, 1975).
Adapun komponen pembentuk batuan sedimen klastik :

1. Butiran (grain) : butiran klastik yang mengalami transportasi yang berupa mineral, fosil
atau fragmen batuan (litik).
2. Masa dasar (matrix) : berukuran lebih halus dari butiran (< 1/16 mm) dan diendapkan
bersama-sama dengan butiran.
3. Semen (cement) : material berukuran halus yang mengikat butiran dan
matrik, diendapkan setelah fragmen dan matrik, contoh : semen karbonat, silika,
oksida besi, lempung, dll.

2. Batuan Sedimen Non-Klastik

Batuan sedimen yang terbentuk dari hasil reaksi kimia atau bisa juga dari kegiatan organisme.
Reaksi kimia yang dimaksud adalah kristalisasi langsung atau reaksi organik (Pettjohn, 1975).
Oleh karena batuan ini terbentuk sebagai proses kimiawi, yaitu material kimiawi yang larut
dalam air (terutama air laut).Material ini terendapkan karena proses kimiawi seperti proses
penguapan membentuk kristal garam, atau dengan bantuan proses biologi. Dalam keadaan
tertentu, proses yang terlibat sangat rumit, dan sulit untuk dibedakan antara bahan yang terbentuk
hasil proses kimia, atau proses biologi (yang juga melibatkan proses kimia secara tak langsung).
Tekstur batuan sedimen non klastik yaitu komponen pembentuk batuannya tidak mengalami
transportasi melainkan secara kimia atau organic. Teksturnya antara lain amorf dan krsitalin.
Menurut R.P. Koesoemadinata, 1981 batuan sedimen dibedakan menjadi enam golongan yaitu :

 Golongan Detritus Kasar


Batuan sedimen diendapkan dengan proses mekanis. Termasuk dalam golongan ini antara
lain adalah breksi, konglomerat dan batupasir. Lingkungan tempat pengendapan batuan
ini di lingkungan sungai dan danau atau laut.

 Golongan Detritus Halus


Batuan yang termasuk kedalam golongan ini diendapkan di lingkungan laut dangkal
sampai laut dalam. Yang termasuk ked ala golongan ini adalah batu lanau, serpih, batu
lempung dan Nepal.

 Golongan Karbonat
Batuan ini umum sekali terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, algae dan
foraminifera. Atau oleh proses pengendapan yang merupakan rombakan dari batuan yang
terbentuk lebih dahulu dan di endpkan disuatu tempat. Proses pertama biasa terjadi di
lingkungan laut litoras sampai neritik, sedangkan proses kedua di endapkan pada
lingkungan laut neritik sampai bahtial. Jenis batuan karbonat ini banyak sekali macamnya
tergantung pada material penyusunnya.

 Golongan Silika
Proses terbentuknya batuan ini adalah gabungan antara pross organik dan kimiawi untuk
lebih menyempurnakannya. Termasuk golongan ini rijang (chert), radiolarian dan tanah
diatom. Batuan golongan ini tersebarnya hanya sedikit dan terbatas sekali.

 Golongan Evaporit
Proses terjadinya batuan sedimen ini harus ada air yang memiliki larutan kimia yang
cukup pekat. Pada umumnya batuan ini terbentuk di lingkungan danau atau laut yang
tertutup, sehingga sangat  memungkinkan terjadi pengayaan unsure-unsur tertentu. Dan
faktor yang penting juga adalah tingginya penguapan maka akan terbentuk suatu endapan
dari larutan tersebut. Batuan-batuan yang termasuk kedalam batuan ini adalah gip,
anhidrit, batu garam.

 Golongan Batubara
Batuan sedimen ini terbentuk dari unsur-unsur organik yaitu dari tumbuh-tumbuhan.
Dimana sewaktu tumbuhan tersebut mati dengan cepat tertimbun oleh suatu lapisan yang
tebsl di atasnya sehingga tidak akan memungkinkan terjadinya pelapukan. Lingkungan
terbentuknya batubara adalah khusus sekali, ia harus memiliki banyak sekali tumbuhan
sehingga kalau timbunan itu mati tertumpuk menjadi satu di tempat tersebut.

C. Klasifikasi Batuan Sedimen

Selain dari proses tranportasinya menurut Pettjhon yang membagi batuan sedimen
menjadi klastik dan non klastik, batuan sedimen memiliki beberapa klasifikasi seperti salah
satunya dibawah berikut.

Berdasarkan proses terjadinya (Sanders and Tucker 1991), maka batuan sedimen terbagi
menjadi empat kategori, yaitu :

1. Terrigeneous Clastics terbentuk dari hasil rombakan batuan lainnya melalui proses pelapukan,
erosi, transportasi, sedimentasi dan pembatuan (litifikasi). Pelapukan yang berperan disini adalah
pelapukan yang bersifat fisika. Contoh: breksi, konglomerat, batupasir, batulempung.
2. Biochemical-Biogenic-Organic Deposits, Batuan sedimen ini terbentuk dari akumulasi bahan-
bahan organik (baik flora maupun fauna) dan proses pelapukan yang terjadi pada umumnya
bersifat kimia. Contoh: batugamping, batubara, rijang, dll.

3. Chemical Precipitates-Evaporates ,Batuan sedimen jenis ini terbentuk dari akumulasi kristal-
kristal dan larutan kimia yang diendapkan setelah medianya mengalami penguapan. Contoh:
gipsum, batugaram, dll.

4. Volcaniclastics (Pyroclastic), Batuan sedimen jenis ini dihasilkan dari akumulasi material-
material gunungapi. Contoh: agglomerat, tuf, breksi, dll.

Graha (1987) membagi batuan sedimen menjadi 4 kelompok juga, yaitu :

 Batuan sedimen detritus (klastika/mekanis)

 Batuan sedimen batubara (organik/tumbuh-tumbuhan)

 Batuan sedimen silika, dan

 Batuan sedimen karbonat

D. Deskripsi Bauan Sedimen

1. Warna

Warna pada batuan sedimen memiliki informasi yang penting karena dapat mencerminkan
komposisi butiran penyusun batuan sedimen dan dapat digunakan dalam menginterpretasikan
lingkungan pengendapan. Warna batuan merah menunjukan lingkungan oksidasi,sedangkan
warna batuan hitam atau gelap menunjukan lingkungan reduksi. Secara umum warna pada
batuan sedimen dipengaruhi oleh :

 Warna mineral pembentuk batuan sedimen, contoh : bila mineral pembentuk batuan
sedimen didominasi oleh kuarsa maka batuan akan berwarna putih (misal batupasir
quartz arenite).
 Warna matrik atau semen, contoh : bila matriks/semen mengandung oksida besi, maka
batuan akan berwarna coklat kemerahan.
 Warna material yang meyelubungi (coating material), contoh : batupasir kuarsa
yang diselubungi oleh glaukonit akan berwarna hijau
 Derajat kehalusan butir penyusunnya, contoh : pada batuan dengan komposisi sama jika
makin halus ukuran butir maka warnanya akan cenderung lebih gelap.

2. Tekstur sedimen

Menjelaskan hubungan antarbutir mineral pembentuk batuan sedimen.


 Besar butir yaitu ukuran/diameter butiran, yang merupakan unsur utama dari batuan
sedimen klastik, yang berhubungan dengan tingkat energi pada saat transportasi dan
pengendapan. Klasifikasi besar butir menggunakan skala Wentworth dibantu dengan alat
berupa loupe dalam mengidentifikasikan besar butir nya.

 Bentuk butir yaitu tingkat kebundaran atau ketajaman sudut butir, dimana tingkat kebundaran
tersebut mencerminkan tingkat abrasi selama transportasi dan dapat juga menceritakan laju
tranportasi butiran tersebut.

 Kemas (fabric) yaitu derajat keterkaitan antar butiran penyusun batuan atau hubungan
antar butir, dan ini dapat mencerminkan viscositas (kekentalan) medianya. Bila
butirannya saling bersentuhan maka dinyatakan dengan kemas tertutup (berarti dia
diendapkan oleh media yang cair/encer, sehingga kemungkinan mengandung semen-
matrik). Bila butirannya tidak saling bersentuhan maka dinyatakan dengan kemas terbuka
(berarti dia diendapkan oleh media yang pekat).

 Pemilahan/Sortasi yaitu tingkat keseragaman besar butir penyusun batuan, mencer-


minkan viskositas media pengendapan serta energi mekanik/arus ge-lombang medianya.
Jika pemilahannya baik maka ia diendapkan oleh media yang cair/encer dengan energi
arus yang kecil, dan begitu pula dengan sebaliknya.

 Porositas yaitu perbandingan antara volume rongga dengan volume total batuan yang
dinyatakan dalam persen. Porositas dapat diketahui dengan meneteskan air ke permukaan
batuan. Istilah – istilah yang dipakai ialah porositas baik (batuan menyerap air), porositas
sedang (di antara baik-buruk), dan porositas buruk (batuan tidak menyerap air).
 Permeabilitas yaitu kemampuan suatu batuan untuk meloloskan fluida. Bila cairan
diserap dengan cepat, maka nyatakanlah bahwa permeabilitasnya baik.Bila cairan diserap
dengan cukup cepat, maka nyatakanlah bahwa permeabilitasnya sedang.Bila cairannya
diserap dengan lambat, maka nyatakanlah bahwa permeabilitasnya buruk.
3. Struktur Sedimen

Struktur sedimen dikelompokkan menjadi :


 Masif, bila pada batuan sedimen tidak menampakkan perlapisan sama sekali
 Perlapisan sering disebut dengan istilah strata,bila pada batuan sedimen terlihat ada
perlapisan. Jika tebal lapisannya >1cm maka disebut perlapisan dan jika tebal
lapisannya <1cm disebut laminasi. Struktur lapisan dapat teridentifikasi dengan
adanya varuasi warna atau variasi ukuran butir.
 Berdasarkan terjadinya : struktur batuan sedimen dapat dibagi menjadi 2 yaitu
struktur primer (syngenetik) dan struktur sekunder (epigenetic)

Berdasarkan terjadinyan struktur sedimen terbagi menjadi dua katagori, yaitu:

a. Struktur sedimen primer (depositional structures), struktur sedimen yang terbentuk bersamaan
dengan terbentuknya suatu batuan, contohnya adalah: graded bedding, parallel lamination, ripple
mark, dune and sand wave, cross stratification, shrinkage crack (mud crack), flacer, lenticular,
dll.

b. Struktur sedimen sekunder (post-deposition structures), struktur sedimen yang terbentuk


setelah proses litifikasi. Struktur sedimen sekunder meliputi:
- Struktur erosional, terbentuk karena erosi, contohnya: flute cast, groove cast, tool marks, scour
marks, channel, dll.
- Struktur deformasi, terbentuk oleh adanya gaya, contohnya: slump, convolute, sand dyke, dish,
load cast, nodule, dll.
- Struktur biogenik, terbentuk oleh adanya aktivitas makhluk hidup, contohnya: bioturbation,
trace fossils, rootlet bed, dll.

4. Kandungan CaCO3
Kandungan CaC03 Ditentukan dengan jalan meneteskan larutan HCl 0,1 Normal pada
permukaan sampel batuan yang masih segar, jika ia berbuih/bereaksi (ngecos…!) maka
batuan tersebut bersifat karbonatan (calcareous), dan begitu pula sebaliknya.
5. Kandungan Mineral
Mineral-mineral sekunder yang umum terdapat dalam batuan sedimen misalnya kalsit
(ngecos oleh HCl, sedangkan kuarsa tidak), aragonit (memiliki habit yang menjarum),
pirit (kuning pucat seperti emas de-ngan bentuk kristal kubik), glaukonit (berwarna hijau
kotor), kaolinit (serbuk putih seperti bedak), dll.

6. Kandungan Fosil
Yang dapat ditentukan di lapangan tentu saja fosil-fosil yang bersifat makro (besar).
Dalam penentuannya, sebutkan minimal kelas atau filumnya, jika ia berongga atau
bolong-bolong maka itu adalah koral (filum coelenterata, artinya rongga), jika ia
memiliki dua cangkang yang tidak sama besar (memiliki bagian ventral dan dorsal) maka
itu adalah brachiophoda, jika ia memiliki dua cangkang yang sama besar, maka itu adalah
moluska. Jika ia berbentuk menyerupai keong mas, maka itu adalah gastrophoda, dan jika
ia berbentuk seperti bintang laut, maka itu adalah echinodermata, dll.

7. Kekerasan
Kekerasan Merupakan tingkat kekuatan partikel batuan terhadap disagregasi. Gunakan
istilah:

 Kompak, bila tidak dapat dicukil dengan jarum penguji.

 Keras, bila masih dapat dicukil dengan jarum penguji.

 Agak keras, bila dapat hancur ketika ditekan dengan jarum penguji.

 Lunak, bila dapat dipotong-potong dengan mudah menggunakan jarum penguji.

 Dapat diremas, bila dapat diremas dengan jari tangan.

 Spongi, bila sifatnya seperti karet busa. Jika ditekan balik lagi ke asal.

8. Kontak
Kontak (hubungan dengan batuan sekitarnya) Perhatikan hubungan tiap satuan
batuannya, apakah ia selaras (tentukan kontaknya apakah tegas, gradasi, atau interkalasi)
atau tak selaras (ditandai dengan bidang erosi: angular unconformity, disconformity,
paraconformity, atau nonconformity).

E. Contoh Batuan Sedimen

Batu Konglomerat
Batu konglomerat merupakan batuan yang terbentuk dari material kerikil-kerikil bulat, batu-batu
dan pasir yang merekat satu sama lainnya. Batu konglomerat terbentuk dari bahan-bahan yang
lepas karena gaya beratnya kemudian menjadi padat  dan saling terikat. Batu konglomerat
berfungsi sebagai bahan pendukung bangunan (bukan bahan utama).
Batu Pasir

Batu pasir merupakan batuan yang tersusun dari butiran-butiran pasir, umumnya berwarna abu-
abu, kuning, atau pun merah. Batu pasir terbentuk dari bahan-bahan yang lepas karena gaya
beratnya menjadi terpadatkan dan menjadi saling terikat. Batu pasir dapat berfungsi sebagai
material penyusun gelas/kaca atau pun sebagai kontruksi bangunan.
Batu Gamping (Batu Kapur)
Batu gamping merupakan batu yang agak lunak, berwarna putih keabu-abuan, dan dapat
membentuk gas karbon dioksida apabila ditetesi asam. Batu ini terbentuk dari cangkang binatang
lunak seperti siput, kerang, dan binatang-binatang laut lainnya yang telah mati. Rangkanya yang
terbuat dari kapur tidak akan musnah, akan tapi memadat dan membentuk batu kapur. Batu ini
digunakan sebagai bahan baku semen.
Batu Lempung

Batu lempung merupakan batuan yang umumnya berwarna coklat, keemasan, merah, atau abu-
abu. Batuan ini umumnya terbentuk karena proses pelapukan batuan beku yang menghasilkan
material lempung dan umumnya ditemukan disekitar batuan induknya. Kemudian material
lempung ini mengalami proses pengendapan sehingga membentuk batu lempung. Batu lempung
cocok dijadikan sabagai bahan kerajinan.
Batu Breksi
Batu breksi merupakan batuan yang terbentuk dari gabungan pecahan-pecahan yang berasal dari
letusan gunung berapi. Batu ini terbentuk karena bahan-bahan ini terlempar tinggi ke udara dan
mengendap di suatu tempat. Batu ini berfungsi sebagai bahan kerajinan atau pun bahan
bangunan.

Daftar Pustaka
Sukandarrumidi.2017.BELAJAR PETROLOGI Secara Mandiri.Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press

ILMU DASAR.(2017,18 Juli). Batuan Sedimen : Pengertian, Pembentukan, Ciri, Jenis. Diakses
9 November 2018 dari http://www.ilmudasar.com/2017/07/Pengertian-Ciri-Proses-Terbentuknya-
Macam-Batuan-Sedimen-adalah.html

Dinar Project. Pengertian dan Tekstur Batuan Sedimen Klastik. Diakses 9 November 2018 dari
https://dinarproject.com/beranda/pengertian-dan-tekstur-batuan-sedimen-klastik/

Ptbudie.(2012,2 April). PENGERTIAN UMUM BATUAN SEDIMEN


DAN KLASIFIKASINYA. Diakses 9 November 2018 dari
https://ptbudie.com/2012/04/02/pengertian-umum-batuan-sedimen-dan-klasifikasinya/
IlmuGeografi.com.(2016,11 Maret).Batuan Sedimen : Pengertian, Proses, dan Jenisnya. Diakses
9 November 2018 dari https://ilmugeografi.com/geologi/batuan-sedimen
GeologiNesia.(2017,4 Oktober).Jenis dan Klasifikasi Batuan Sedimen. Diakses 9 November
2018 dari https://www.geologinesia.com/2017/10/jenis-dan-klasifikasi-batuan-sedimen.html