Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

HUKUM MUAMALAH

(ZAKAT, INFAQ, SHODAQOH, PERMBERDAYAAN


EKONOMI UMAT)

Disusun untuk Memenuhi Tugas Fiqih

Dosen Pengampu : Mohammad Khotib, M.Pd

Disusun oleh :

Suwati Yuli Krisdayanti (19.12.00230)

U‟un Safa‟atun (19.12.00092)

INSTITUT PESANTREN MATHALI’UL FALAH

PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

TAHUN 2020/2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah untuk mata kuliah
Fiqih. Dan juga saya berterimakasih kepada Mohammad Khotib, M.Pd Selaku
dosen yang sudah memberikan tugas ini kepada kami. Kami berharap makalah ini
dapat menambah pengetahuan kami. Kami juga menyadri sepenuhnya bahwa
dalam tugas ini masih banyak sekali kesalahan, maka dari itu kami minta bantuan
pembaca untuk memberikan kritik dan saran agar kami dapat memperbaiki
makalah selanjutnya.

Purworejo, April 2020

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Zakat, infaq dan shodaqah merupakan hal yang sudah tidak asing
lagi dikalangan umat muslim. Berbicara zakat selalu tidak luput juga
berbicara tentang infaq dan shodaqah. Zakat merupakan salah satu cara
untuk membantu mengurangi kemiskinan, karena masih banyak lagi
sumber dana yang bisa dikumpulkan seperti infaq, shodaqah serta
sejenisnya.
Infaq berbeda dengan zakat, infaq merupakan pemberian yang
tidak ada nishabnya sedangkan zakat sebaliknya. Besar kecilnya sangat
bergantung kepada keuangan dan keikhlasan dalam memberi, yang
terpenting adalah hak orang lain yang ada pada harta kita sudah
dikeluarkan. Sedangkan untuk shodaqah sama dengan pengertian infaq,
termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Shodaqah diartikan
sebagai sebuah pemberian seseorang secara ikhlas kepada orang yang
berhak menerima yang diiringi juga pahala dari Allah SWT.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian zakat, infaq, dan shodaqoh?
2. Apa tujuan pengelolaan zakat dan bagaimana manajemen pengelolaan
zakat beserta perhitungan zakat?
3. Apa yang dimaksud dengan pemberdayaan ekonomi umat?
C. Tujuan
Untuk mengetahui pengertian zakat, infaq, dan shodaqoh serta mengetahui
bagimana manajemen pengelolaan zakat serta mengetahui apa itu yang
dimaksud pemberdayaan ekonomi umat.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Zakat, Infaq dan Shodaqoh


1. Zakat
Zakat adalah hak Allah yang dikeluarkan oleh manusia untuk
orang-orang miskin. Dinamakan zakat karena adanya harapan
keberkahan, pensucian jiwa dengan berbagai kebaikan. 1 Zakat sebagai
bentuk ibadah bisa sah karena disertai niat. Oleh karena itu, ketika
akan mengeluarkan zakat, para pemilik harta harus berniat menunaikan
zakat atau shadaqah.2
Zakat sebagai salah satu penyangga bangunan Islam, dengan
tanpa mengabaikan penyangga-penyangga yang lain dan sampai saat
ini masih memerlukan perhatian seris. Bukan saja zakat sebagai salah
satu rukun Islam, tetapi lebih dari itu, karena kesadaran kaum
muslimin untuk melaksanakan zakat masih rendah. 3
Zakat merupakan satu rukun diantara rukun-rukun Islam. Zakat
hukumnya wajib berdasarkan Al-Qur‟an. Ini menunjukka betapa
pentingnya zakat, sebagaimana shalat.4 Dengan syariat zakat, Allah
SWT menghendaki kebaikan kehidupan manusia agar hidup tolong-
menolong, gotong-royong, dan selalu menjalin persaudaraan. Adanya
perbedaan harta, kekayaan dan status sosial dalam kehidupan adalah
sunatullah yang tidak mungkin dihilangkan sama sekali. Bahkan

1
Adnan Ath-Tharsyam, Anda dan Harta, (Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 2004), hlm.110
2
Supiana dan Karman, Materi Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2003), hlm.77
3
Bazis Provinsi DKI Jakartadan Institut Manajer Zakat, manajeman ZIS, (Jakarta: BAZIS
Provinsi DKI Jakarta, 2005), hlm.1
4
Hasan Ayyub, Fikih Ibadah, (Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 2004), hlm.502
dengan adanya perbedaan status sosial di tengah-tengah masyarakat,
manusia saling membuutuhkan diantara yang satu dengan yang lain. 5
2. Infaq
Infaq berasal dari kata anfaqa yang artinya mengeluarkan sesuatu
(harta) untuk kepentingan sesuatu. Menurut terminologi syariat, infaq
berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan
untuk suatu kepentingan yang diperintah Islam. Jika zakat ada
nisabnya, kalau infaq tidak mengenal nishab. Infaq dikeluarkan setiap
orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah,
apakah ia disaat lapang maupun sempit.6
Dalam infaq tidak ditetapkan bentuk dan waktunya, demikian pula
dengan besar atau kecil jumlahnya. Tetapi infaq biasanya identik
dengan harta atau sesuatu yang memiliki nilai barang yang
dikorbankan. Infaq adalah jenis kebaikan yang bersifat umum, berbeda
dengan zakat. Jika seseorang ber-infaq, maka kebaikan akan kembali
pada dirinya, tetapi jika ia tidak melakukan hal itu, maka tidak akan
jatuh kepada dosa, sebagaimana orang yang telah memenuhi syarat
untuk berzakat, tetapi ia tidak melaksanakannya. 7
3. Shodaqoh
Shadaqah secara bahasa berasal dari kata shadaqa yashdduqu,
shadaqatan yang berarti pembenaran. Secara istilah adalah
mengeluarkan harta dijalan Allah sebagai pembenaran terhadap ajaran-
ajaran Allah. 8 Shadaqah berasal dari kata sidqun yang berarti benar
dalam hubungannya dengan antara perkataan, keyakinan dan
perbuatan. Zakat juga disebut shadaqah karena salah satu tujuan dari
zakat adalah mendekatkan diri pada Allah swt sebagai implementasi
dari keyakinan terhadap tuhan. Dengan demikian zakat merupakan

5
Abdul Hamid, Fikih Zakat, (Curup: LP2 STAIN CIRUP,2012), hlm.122
6
Shihab Quraish, Tafsir Al-Misbah, (Jakkarta: Lentera Hati, 2002), hlm.261-262
7
Zaki Al-Din Abd Al-‘Azhim Al-Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, (Bandung: Mizan,
2002), hlm.299
8
Hasbiyallah, Fiqh dan Ushul Fiqh, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017), hlm.246
shadaqah wajib yang diwajibkan bagi orang muslim yang mempunyai
harta satu nisab.
Shadaqah akan menambah harta seseorang karena berkah,
terhindar dari kerugian, digantikan dengan yang lebih baik dan lebih
bermanfaat.9 Shadaqah dibolehkan pada setiap waktu dan disunnahkan
berdasarkan Al-Qur‟an dan As-Sunnah.10 Shadaqah merupakan
sumbangan yang termotivasi secara sepenuhnya dari keinginan
pribadi. 11 Shadaqah disunnahkan bagi siapapun yang mempunyai harta
sekalipun tidak satu nisab, dan shadaqah dikeluarkan harus sesuai
kemampuan.
Shadaqah bukan merupakan suatu kewajiban. Sifatnya sukarela
dan tidak terikat pada syarat-syarat tertentu dalam pengeluarannya,
baik mengenai jumlah, waktu dan kadarnya.

B. Tujuan dan Hikmah Pengelolaan Zakat 12


1. Tujuan pengelolaan zakat menurut amanah Undang-Undang No. 38
Tahun 1999 adalah:
a. Meningkatkan pelayanan bagi masyarakat dalam menunaikan zakat
sesuai dengan tuntunan agama.
b. Meningkatnya fungsi dan peranan pranata keagamaan dalam upaya
mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial.
c. Meningkatkan hasil guna dan daya guna zakat.

9
Adnan Ath-Tharsyah, Anda dan Harta, (Jakarta: Pusataka Al-Kausar, 2004), hlm.111
10
Rahmat Syafei, Fiqih Muamalah, (Bandung: Pustaka Setia, 2001), hlm.249
11
Muhammad, Paradigma, Metodelogidan Aplikasi Ekonomi Syariah, (Yogyakarta: Graha
Ilmu, 2008), hlm.153
12
https://www.academia.edu/36935081/Makalah_Fiqih_Muamalah_2_Zakat_dan_Wakaf,
diakses pada 6 April 2020 pukul 11.35 WIB
2. Sedangkan hikmah zakat antara lain :
a. Menghindari kesenjangan sosial antara aghniya dan du‟afa.
b. Pilar amal jama‟i antara aghniya dengan para mujahid dan da‟i
yang berjuang dan berdakwah dalam rangka meninggikan kalimat
Allah SWT.
c. Membersihkan dan mengikis akhlak yang buruk.
d. Alat pembersih harta dan penjagaan dari ketamakan orang jahat.
e. Ungkapan rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan.
f. Menambah pendapatan negara untuk proyek-proyek yang berguna
bagi umat.

C. Manajemen Pengelolaan Zakat


Pengelolaan zakat adalah kegiatan perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengumpulan dan pendistribusian
serta pendayagunaan zakat. Bagian yang tak terpisahkan dari pengelolaan
zakat adalah muzakki dan harta yang dizakati, mustahik, dan amil.
1. Muzakki dan Harta yang Dizakati
Muzakki adalah seorang muslim yang dibebani kewajiban
mengeluarkan zakat disebabkan terdapat kemampuan harta setelah
sampai nisab dan hauli-nya. Syarat wajib muzakki: muslim, berakal,
baligh, milik sempurna, cukup nisab, cukup haul. Zakat secara umum
terdiri dari dua macam, yaitu: zakat fitrah dan zakat mal.
a. Zakat Fitrah / Fidyah
Adalah sejumlah badan makanan pokok yang dikeluarkan pada
bulan Ramadhan oleh setiap muslim bagi dirinya dan bagi orang
yang ditanggungnya yang memiliki kelebihan makanan pokok
untuk sehari pada hariRaya Idul Fitri. Besarnya zakat fitrah
menurut ukuran sekarang adalah 2,5 kg.
b. Zakat Harta (Mal)
Zakat harta adalah bagian harta yang disisihkan oleh seorang
muslim atau badan yang dimiiki oleh orang muslim sesuai dengan
ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak
menerimanya. Syarat kekayaan itu dizakati antara lain milik penuh,
berkembang, cukup nisab, lebih dari kebutuhan pokok, bebas dari
utang, sudah berlalu satu tahun (haul). Harta yang dikenakan
zakat,antara lain: Emas, perak, uang, hasil perdagangan dan
perusahaan, hasil pertanian dan hasil perkebunan, hasil peternakan,
dan lain sebagainya.
2. Amil
Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelola Zakat pada
Bab III Pasal 6 dan 7 menegaskan bahwa Lembaga Pengelola Zakat
diIndonesia terdiri dari dua macam, yaitu Badan Amil Zakat (BAZ)
yang dibentuk oleh pemerintah dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang
dibentuk oleh masyarakat.
3. Mustahik, adalah orang-orang yang berhak menerima zakat. Ketentuan
tentang siapa saja yang berhak menerima zakat telah diatur dengan
jelas dalam QS at-Taubah [9]: 60.13
Adapaun orang yang berhak menerima zakat ialah:
1. Fakir
Fakir adalah orang yang penghasilannya tidak dapat memenuhi
kebutuhan pokok (primer) sesuai dengan kebiasaan masyarakat
tertentu. Fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta yang
kurang dari nisab zakat menurut pendapat mazhab Hanafi.
Kondisinya lebih buruk daripadaorang miskin.
2. Miskin
Miskin adalah orang-orang yang memerlukan, yang tidak dapat
menutup ikebutuhan pokoknya sesuai dengan kebiasaan yang

13
https://www.academia.edu/36935081/Makalah_Fiqih_Muamalah_2_Zakat_dan_Wakaf,
diakses pada 8 April 2020 pukul 3.40 WIB
berlaku. Miskin menurut mayoritas ulama adalah orang yang tidak
memiliki harta dan tidak mempunyai pencarian yang layak untuk
memenuhi kebutuhannya.
3. Amil
Yang dimaksud dengan amil zakat adalah semua pihak yang
bertindak mengerjakan yang berkaitan dengan pengumpulan,
penyimpanan, penjagaan, pencatatan, dan penyaluran harta zakat.
4. Mualaf
Termasuk dalam kategori mualaf ini adalah pertama, orang-orang
yang dirayu untuk memeluk Islam: sebagai persuasi terhadap hati
orang yang diharapkan akan masuk Islam atau keislaman orang
yang berpengaruh untukkepentingan Islam dan umat Islam.
5. Untuk Memerdekakan Budak
Mengingat golongan ini sekarang tidak ada lagi, maka kuota
zakatmereka dialihkan ke golongan mustahik lain menurut
pendapat mayoritas ulama fikih (jumhur). Namun sebagian ulama
berpendapat bahwa golongan ini masih ada, yaitu para tentara
muslim yang menjadi tawanan.
6. Fisabilillah
Yang dimaksud dengan mustahik fisabilillah adalah orang berjuang
dijalan Allah dalam pengertian luas sesuai dengan yang ditetapkan
oleh paraulama fikih.
7. Orang yang Sedang Dalam Perjalanan
Orang yang dalam perjalanan (Ibnu Sabil) adalah orang asing yang
tidak memiliki biaya untuk kembali ketanah airnya. Golongan ini
diberi zakat dengan syarat-syarat sedang dalam perjalanan diluar
lingkungan negeri tempat tinggalnya.
D. Perhitungan Zakat
1. Emas dan Perak dan Uang Simpanan
Zakat ini menggunakan nishab, yakni batas minimal banyak atau
nilai. Nishab simpanan emas 90 gram sedangkan nishab perak 600
gram. Adapun uang yang merupakan akat tukar yang diperhitungkan
zakat. Zakat simpanan menggunakan sistem haul, yaitu simpanan
selama setahun hijriyah penuh. Zakat emas, perak dan uang simpanan
besarnya 2,5%
Batasan nishab emas dan perak tersebut di atas, ialah emas dan
perak murni (24 karat), dengan demikian apabila seseorang memiliki
emas yang tidak murni, misalnya emas 18 karat, maka nishabnya harus
disesuaikan dengan nishab emas yang murni (24 karat), yaitu dengan
cara membandingkan harga jualnya atau dengan bertanya kepada toko
emas, atau ahli emas, tentang kadar emas yang ia miliki. 14
2. Hasil Perdagangan dan Perusahaan
Adapun harta kekayaan hasil perdagangan tersebut wajib dizakati
dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Berjalan 1 tahun (haul),
b. Nishab zakat perdagangan sama dengan nishab emas yaitu
senilai 85 gram emas
c. Kadarnya sebesar 2,5%
d. Dapat dibayar dengan uang atau barang
e. Dikenakan pada perdagangan maupun perseroan

Perhitungan = (Modal diputar + Keuntungan + Piutang yang dapat


dicairkan – (Utang + Kerugian) x 2,5% .15

Pada zakat perusahaan dikeluarkan zakatnya dapat dengan memilih di


antara 2 (dua) cara:
1. Pada perhitungan tutup akhir tahun (tutup buku), seluruh harta
kekayaan perusahaan dihitung, termasuk barang (harta)

14
http://zakat.or.id/layanan-zakat/kalkulator-zakat/ diakses pada 10 April 2020 pukul 20.50
WIB
15
http://zakat.or.id/layanan-zakat/kalkulator-zakat/ diakses pada 10 April 2020 pukul 20.55
WIB
penghasil jasa, seperti taksi, kapal, hotel, dll, kemudian
dikeluarkan zakatnya 2,5%.
2. Pada perhitungan akhir tahun (tutup buku), hanya dihitung dari
hasil bersih yang diperoleh usaha tersebut selama satu tahun,
kemudian zakatnya dikeluarkan 10%. Hal ini diqiyaskan
dengan perhitungan zakat hasil pertanian, dimana perhitungan
zakatnya hanya didasarkan pada hasil pertaniannya, tidak
dihitung harga tanahnya.
3. Hasil Pertanian, Perkebunan dan Perikanan
Hasil pertanian adalah hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang
bernilai ekonomis. Syarat-syarat pelaksanaan zakat pertanian:
1. Hasil pertanian tersebut ditanam oleh manusia. Jika hasil pertanian
itu tumbuh sendiri karena perantara air atau udara maka tidak wajib
dizakati.
2. Hasil pertanian tersebut merupakan jenis makanan pokok manusia
yang dapat disimpan, dan jika disimpan tidak rusak.
3. Sudah mencapai nishab.
Kadar zakat hasil pertanian yang wajib dikeluarkan:
1. Hasil perairan yang diairi dengan menggunakan tenaga
hewan/manusia/mesin yang mengangkut air dari sungai, atau
sumur, maka zakatnya adalah 5%
2. Hasil pertanian yang diairi dengan irigasi alami atau air hujan
zakatnya adalah 10%, sebab tidak menanggung beban kelelahan
maupun biaya pengairan.
3. Hasil pertanian yang tanahnya diairi dengan mesin penyedot dan
penyiram air atau dengan menggunakan tenaga
hewan/manusia/mesin, maka zakatnya 5%.
Pada zakat hasil perkebunan yaitu hasil bumi dan buah-buahan,
ketentuannya adalah sebagai berikut:
1. Jika tanaman atau buah-buahan yang dihasilkan dari tanah sewaan,
maka zakatnya wajib dibayar oleh pemilik tanah, bukan oleh
penyewa, setelah mencapai haul dan digabungkan dengan harta
yang lain, dikeluarkan zakatnya 2,5%.
2. Jika tanaman dan buah-buahan itu dihasilkan dari kontrak
muzara‟ah atau musaqah, maka zakatnya diwajibkan atas kedua
belah pihak sesuai dengan presentasi masing-masing, setelah
mencapai nishab.

Perhitungan nishab, kadar dan waktu hasil pertanian adalah 5


wasaq atau setara dengan 750 kg. Kadar zakat untuk hasil pertanian,
apabila diairi dengan air hujan/sungai/mata air, maka kadar zakatnya
10%, apabila diairi dengan disiram/irigasi (ada biaya tambahan) maka
zakatnya 5%.

Pada zakat hasil perikanan, dicontohkan dengan seorang nelayan


yang menangkap ikan di laut, kemudian dijual, maka seperti zakat
niaga, wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 2 ½ %.

4. Hasil Tambang ( Zakat Madin)


Beberapa pendapat ulama mengenai zakat ma‟adin:
a. Imam Asy-Syaifii berpendapat bahwa pada barang tambang idak
ada zakat sma sekali kecuali barang tambang itu emas dan perak
yang sudah mencapai nisab lalu disimpan selama setahun
perhitungan hijriyyah, barulah terkena dengan kewajiban zakat
emas dan perak simpanan. Dan ini menjadi fatwa Al-Laits bin
Sa‟ad.
b. Abu Hanifah dan kawan-kawan berpendapat bahwa yang diambil
dari ma‟din seperti emas, perak, besi, timah, tembaga zakatnya
khusus (20 persen). Adapun yang berupa emas dan perak, setelah
dikeluarkan zakatnya 20% itu lalu disimpan selama setahun dan
sampai nishab dizakati lagi setiap tahunnya 2 1/2 % sebagai zakat
emas dan perak simpanan
5. Zakat An‟am (Binatang Ternak)
Binatang ternak yang wajib dikeluarkan zakatnya meliputi unta, sapi,
kerbau, dan kambing. Syarat wajib zakat atas pemilik binatang ternak
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Islam .
b. Merdeka
c. 100% milik sendiri dan telah sampai nisab ( batas waktu zakat).
d. Digembalakan di padang rumput dan bebas. Binatang yang dipakai
membajak sawah atau menarik gerobak tidak wajib dikenakan
zakat. Ditegaskan oleh nabi Muhammas saw, “tidaklah ada zakat
bagi sapi yang dipakai bekerja”. 16
Bahwa zakat itu diambil dari harta yang ada kelebihanya (di atas
batas cukup) dan zakat hewan disyaratkan yang bersifat peternakan,
karena dengan diternakkan itu bisa berkembang dan mendapatkan
keuntungan. Itulah sebabnya, disyaratkan dalam masa satu tahun (haul).
6. Hasil Penghasilan (Pendapatan Profesi) dan Jasa
Dalam hal ini zakat yang dikeluarkan adalah dari hasil pendapatan atau
penghasilan profesi bila telah mencapai nishab. Ketentuan untuk hasil
pendapatan profesi:
a. Pendapatan yang merupakan hasil kerja mudharabah kadar zakatnya
2,5%
b. Gaji profesi keahlian seperti dokter, insinyur, penjahit, dsb.
zakatnya sebesar 10%
c. Penghasilan dari profesi seperti pelayan toko, kuli dll. Tidak perlu
dizakati ketika memperoleh, tapi ditunggu sampai mencapai nishab,
dengan kadar 2,5%.

16
Margiono, Pendidikan Agama Islam 1, (Jakarta: Yudhistira, 2007), hlm. 174.
7. Harta Rikaz (zakat Harta Terpendam)
Apabila kita menemukan harta terpendam seperti emas dan perak, maka
wajib mengeluarkan zakatnya 1/5 (20%). Dari Abu Hirairah ra. Telah
bersabda Rasulullah saw., “zakat rikaz seperlima” (HR. Bukhari dan
Muslim). Zakat rikaz tidak disyaratkan harus dimiliki selama satu
tahun. Selain menurut Imam Maliki, Imam Abu Hanifah, dan Imam
Ahmad serta yang berpendapat harus sampai nisabnya baru dikeluarkan
zakatnya.

E. Pemberdayaan Ekonomi Umat


Pemberdayaan ekonomi umat, merupakan upaya untuk
membangun daya (masyarakat) dengan mendorong, memotivasi, dan
membangkitkan kesadaran akan potensi ekonomi yang dimilikinya serta
berupaya untuk mengembangkannya.
Dalam ekonomi islam, wujud untuk meningkatkan pemberdayaan
ekonomi umat yaitu dengan cara:
a. Zakat
Zakat dalam ekonomi islam memiliki fungsi sebagai alokasi, distribusi
dan sekaligus stabilisasi dalam perekonomian. Jika dikelola dengan
baik, zakat akan menjadi salah satu solusi dari sasaran akhir
perekonomian suatu Negara.
b. Pelarangan riba
Zakat dijadikan sebagai sarana untuk menciptakan keadilan sosial
ekonomi. Oleh karena itu sarana untuk mencegah timbulnya fenomena
ketidak adilan yang paling menonjol yaitu dengan adanya pelarangan
riba.
c. Kerjasama Ekonomi
Salah satu bentuk kerjasama dalam ekonomi islam yaitu qirad. Qirad
merupakan kerjasama antara pemilik modal atau uang dengan
pengusaha pemilik keahlian atau keterampilan atau pelaku usaha.
Qirad dikenal didunia ekonomi sebagai penyertaan modal, tanpa beban
bunga modal atau bunga uang.

Salah satu lembaga ekonomi yang berdiri menggunakan sistem


ekonomi islam, antara lain: Badan Amil Zakat (BAZ) yang merupakan
lembaga swadaya masyarakat yang mengelola penerimaan dan
pemanfaatan ZIS (Zakat Infaq Shodaqoh) secara berdaya guna dan
berhasil guna, Bank Syariah, dan Baitul Mal Wa Tamwil yang merupakan
kegiatan untuk mengembangkan usaha produktif dan investasi dalam
meningkatkan kualitas kegiatan ekonomi pengusaha kecil dan menunjang
pembiayaan kegiatan ekonominya. Selain itu Baitul Mal Wa Tamwil juga
bisa menerima titipan zakat, infaq, dan sedekah kemudian menyalurkannya
sesuai dengan peraturan dan amanatnya.17

17
http://habapendidikan.blogspot.com/2012/03/islam-dan-pemberdayaan-ekonomi-
ummat.html, diakses pada 10 April 2020 pukul 19.25 WIB
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Zakat adalah hak Allah yang dikeluarkan oleh manusia untuk
orang-orang miskin. Infaq berasal dari kata anfaqa yang artinya
mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan sesuatu.. Jika zakat ada
nisabnya, kalau infaq tidak mengenal nishab. Infaq dikeluarkan setiap
orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah,
apakah ia disaat lapang maupun sempit. Zakat juga disebut shadaqah
karena salah satu tujuan dari zakat adalah mendekatkan diri pada Allah swt
sebagai implementasi dari keyakinan terhadap tuhan.Orang yang berhak
menerima zakat ialah: fakir, miskin, amil, muallaf, untuk memerdekakan
budak, fisabilillah, dan orang yang sedang dalam perjalanan.

B. Saran
Dari penjelasan kami diatas masih banyak kesalahan dalam
penulisan, oleh karena itu kami meminta kritik dan sarannya agar kami
dapat memperbaiki kesalahan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

Ath-Tharsyam Adnan, Anda dan Harta……………………….. hlm.110.

Karman dan Supiana, Materi Pendidikan Agama Islam……………….hlm.77.

Bazis Provinsi DKI Jakartadan Institut Manajer Zakat, manajeman


ZIS……………………. hlm.1

Ayyub Hasan, Fikih Ibadah……………………………….hlm.502

Hamid Abdul, Fikih Zakat………………...hlm.122

Shihab Quraish, Tafsir Al-Misbah…………………..hlm.261-26

Zaki Al-Din Abd Al-„Azhim Al-Mundziri, Ringkasan Shahih


Muslim……………….hlm.299

Hasbiyallah, Fiqh dan Ushul Fiqh……………..hlm.246

Syafei Rahmat, Fiqih Muamalah…………………………….hlm.249

Muhammad, Paradigma, Metodelogidan Aplikasi Ekonomi Syariah……. hlm.153

https://www.academia.edu/36935081/Makalah_Fiqih_Muamalah_2_Zakat_dan_
Wakaf,

http://zakat.or.id/layanan-zakat/kalkulator-zakat/