Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

METODE GEOLOGI LAPANGAN

INTERPRETASI PETA TOPOGRAFI, HUKUM V DAN


PENAMPANG GEOLOGI

Disusun Oleh:
Annisa Sustika Danif
21100118120025

LABORATORIUM GEODINAMIK, HIDROGEOLOGI,


DAN PLANOLOGI
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG
OKTOBER 2019
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Praktikum Metode Geologi Lapangan Acara Interpretasi Peta Topografi,


Hukum V dan Penampang Geologi yang disusun oleh praktikan bernama Annisa
Sustika Danif telah diperiksa dan disahkan pada :

hari :

tanggal :

pukul :

Sebagai tugas laporan praktikum mata kuliah Metode Geologi Lapangan.

Semarang, Oktober 2019

Asisten Acara, Praktikan,

Lia Suryani Annisa Sustika Danif

NIM : 21100117130056 NIM : 21100118120025


HASIL PENGERJAAN

PEMBAHASAN
A. Deliniasi Peta Topografi
- Pelurusan
Pada peta, dapat diamati terdapat kontur rapat dan memiliki
orientasi arah yang memanjang yang merupakan kontur pelurusan
struktur. Pola pelurusan struktur tersebut memiliki arah E-W atau pola
Jawa, dimana di daerah tersebut terdapat indikasi sesar yang ditandai
dengan kontur yang berubah secara tiba-tiba, yaotu dari kontur rapat
menjadi kontur renggang. Selain itu, konturnya juga mengindikasikan
lipatan yang dicirikan dengan kontur rapat yang melengkung.
- Litologi
Pada peta dapat diamati terdapat 2 kontur, yaitu kontur rapat dan
kontur renggang. Untuk daerah yang memiliki kontur rapat atau daerah
yang memiliki kemiringan lereng yang curam/terjal, dapat
diindikasikan bahwa litologinya sangat resisten atau istilahnya
hardrock (biasanya berkaitan dengan batuan metamorf dan batuan
beku). Untuk mendeliniasinya, litologi hardrock diberi warna merah
pada peta.
Sedangkan, untuk daerah yang memiliki kontur renggang atau
kemiringan lerengnya landai dapat diindikasikan bahwa litologinya
memiliki resistensi yang rendah atau istilahnya softrock (biasanya
dikaitkan dengan batuan sedimen). Untuk mendeliniasinya, litologi
softrock diberi warna oranye pada peta.
- Bentuklahan
Pada peta yang diamati, terdapat 2 bentuklahan, yaitu bentuklahan
Struktural dan bentuklahan Denudasional. Bentuklahan Struktural
dicirikan oleh kontur rapat yang menggambarkan daerah tersebut
memiliki kemiringan lereng yang terjal. Ciri lainnya adalah daerah
tersebut memiliki litologi yang memiliki tingkat resistensi yang
tinggi/hardrock. Lalu, terdapat bentuklahan Denudasional yang
dicirikan oleh kontur renggang yang menggambarkan daerah tersebut
memiliki kelerengan yang landau. Ciri lainnya adalah daerah tersebut
memiliki litologi yang memiliki tingkat resistensi yang
rendah/softrock. Untuk mendeliniasinya, bentuklahan Struktural diberi
warna ungu tua dan bentuklahan Denudasional diberi warna coklat.

B. Hukum V
Hukum V merupakan hukum yang dapat menjelaskan mengenai
pola sebaran singkapan batuan berdasarkan topografi dan kemiringan
lapisan batuan.
Terdapat suatu singkapan di titik P, ditemui kontak batuan
batugamping kalkarenit dengan batupasir tuffan. Kedudukan kontaknya
dalah N 900 E / 450 dengan batugamping kalkarenit berada diatas batupasir
tuffan. Dalam kasus ini, dapat ditentukan persebaran pada peta dengan
menggunakan hukum V. Langkah – langkah pengerjaannya :
1. Perpanjang garis strike pada peta sampai ke sisi diluar peta.
2. Tarik garis yang tegak lurus dengan garis strikenya, usahakan tidak terlalu
diluar batas peta. Pada tiitk tegak lurus strike tentukan ketinggian atau
elevasinya berdasarkan letak kontak batuan.
3. Lalu, buka sudut sebessar nilai dip dari titik elevasi kontak batuan yang
telah dibuat sebelumnya, kemudian tarik garis.
4. Kemudian berdasarkan nilai d, tarik garis sejajar sebanyak jumlah data
elevasi yang ada.
5. Setelah itu, tarik garis yang sejajar strike hingga berpotongan dengan garis
tegak lurus strike diluar peta.
6. Tentukan titik perpotongan garis yang sejajar strike dengan garis kontur
yang memiliki ketinggian yang sama.
7. Lalu, hubungkan titik – titik tersbebut. Garis yang terbentuk setelah titik –
titik potong dihubungkan merupakan kontak batuangamping kalkarenit
dengan batupasir tuffan.
8. Kemudian, tentukan warna litologi berdasarkan kaidah tangan kiri. Warna
kuning mewakili batupasir tuffan dan warna biru merupakan batugamping
kalkarenit.

C. Penampang Geologi
Pada peta geologi ini memiliki 3 buah sayatan, Ketiga sayatan
tersebut terdapat pada daerah Nganjuk – Jombang.
1. Sayatan A- B. Sayatan ini melewati litologi batulempung, batupasir,
batugamping, tuff karbonatan, breksi, dan alluvium; orientasinya
memiliki arah NE – SW; struktur geologi yang ada berupa lipatan
2. Sayatan C – D. Sayatan ini melewati litologi batupasir dan
batulempung; memiliki orientasi NE – SW; struktur geologi yang ada
berupa lipatan (sinklin dan antiklin), sesar naik dan sesar turun.
3. Sayatan E – F. Sayatan ini melewati litologi batupasir, batulempung,
batugamping, dan breksi; struktur geologi yang ada berupa sesar geser
mengiri, sesar naik, dan lipatan (antiklin).

Langkah pengerjaan membuat sayatan geologi sebagai berikut.


1. Membuat garis sayatan pada peta geologi dan tandai kedua ujung dari
garis tersebut.
2. Gunakan aturan pembuatan sayatan, sayatan normal atau sayatan
eksagrasi.
3. Plot ketinggian berdasarkan kontur yang dilalui oleh garis sayatan
tersebut,
4. Plot juga litologi dan struktur yang dilalui oleh garis sayatan tersebut.
5. Hubungkan titik plotingan tersebut.
6. Tarik garis perpanjangan strike yang dekat terhadap sayatan.
7. Tentukan nilai direction angles yang terbentuk oleh perpotonan antara
pelurusan garis strike dengan sayatan.
8. Carilah nilai apparent dip.
9. Plot nilai apparent dip pada penampang dengan orientasi tergantung pada
arah true dip.
10. Lakukan rekonstruksi geologi pada penampang.

Berdasarkan hasil pengerjaan, didapatkan data :

Sayatan A-B :

Dip Direction Angle Apparent Dip


20o 85o 22o
30o 88o 50o

Sayatan C-D :

Dip Direction Angle Apparent Dip


45° 75° 43°
30° 63° 28°
62° 63° 60°
58° 49° 57°

Sayatan E-F :

Dip Direction Angle Apparent Dip


72° 52° 68°
34° 25° 17°
38° 28° 21°
20° 79° 20°
41° 80° 43°

- Interpretasi

Pada peta geologi daerah yang berada pada daerah Ngangjuk –


Jombang ini memiliki litologi yang sangat beragam. Litologi paling tua
yaitu batulempung, tuff karbonatan, batugamping, batupasir, breksi dan
yang paling muda adalah alluvium. Di daerah tersebut memiliki banyak
pula struktur geologi yang berkembang, seperti lipatan antiklin ataupun
sinklin, sesar naik, turun dan geser. Daerah pada peta yang termasuk
dalam daerah Zona Kendeng yaitu zona yang memiliki ciri litologi yang
terbentuk pada daerah laut dalam. Struktur yang terbentuk pada zona ini
kebanyakan terbentuk akibat guguran bukan aktivitas tektonik.