Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN

KARYA TULIS ILMIAH


PENGARUH SAMPAH PLASTIK TERHADAP
EKOSISTEM di PANTAI WEDIOMBO

Direkomendasikan untuk Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, Biologi, Kimia

Disusun oleh:

Kelompok 3
Kelas XI-MIPA 6

1. Aqiel Muhamad F
2. Aulia Galih R
3. Muhamad Ihsam
4. Maula Nur

PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA BARAT


CABANG DINAS PENDIDIKAN WILAYAH IX
SMA NEGERI 1 MAJALENGKA
Jalan K.H Abdul Halim No 113 (0233)281220 email: smansa_mjl@yahoo.co.id
Majalengka 45418
TAHUN AJARAN 2018/2019
LEMBAR PENGESAHAN
KARYA TULIS ILMIAH

Telah Diperiksa dan disahkan pada tanggal ............................... dan


Diketahui oleh Kepala SMAN Negeri 1 Majalengka

Pembingbing

Aan Suciarahmat, M.Pd


NIP. 19790117 200501 1005

Mengetahui

Kepala SMA Negeri 1 Majalengka

Hj. Aah Suniah, S.Pd


NIP. 196301141987032003

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat allah swt yang telah memberikan rahmatnya
sehingga penyusn dapat menyelesaikan laporan dengan baik. Karya tulis ini
disusun dalam rangka memenuhi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Karya tulis ini merupakan laporan hasil kunjungan penyusun (kelompok 5)
dengan objek wisata Pantai Wediombo saat melakukan study campus ke
Jogjakarta yang dilaksanakan pada tanggal 11- 14 Febuari 2018. Adapun objek –
objek yang dikunjungi adalah Universitas Gadjah Mada ( UGM), sindu Kusuma
Edupark, Ketep Pass, Malioboro dan Pantai Wdiombo.
Penyusun mendapat bantuan dan bimbingan dalam menyusun karya tulis
ini dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terimakasih
kepada yang terhormat :
1. Ibu Hj. Aah Sumiah,S.pd. selaku kepala sekolah SMAN I
MAJALENGKA
2. Bapak Aan Sucia Rahmat S.pd. selaku guru pembimbing karya tulis
3. Ibu Dedeh Ratna Diana,S.pd. Selaku guru bidang study Bahasa Indonesia
dan juga selaku wali kelas 11 MIPA ^
4. Ibu Epi Sri Rahayu,S.pd. selaku guru bidang study Biologi dan juga selaku
guru pembimbing Biologi
5. Ibu Yani Suryani,S.pd. selaku guru bidang study kimia dan juga guru
pembimbing materi Kimia
6. Kedua orang tua penyusun tercinta yang telah memberi dorongan bantuan
secara langsung dan tidak langsung
Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penyusun dan pembaca umunya.
Kritik dan saran sangat penyusun harapkan untuk kesempurnaan karya tulis
dimasa yang akan datang

Majalengka, Febuari 2019

Penyusun

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN......................................................................ii

KATA PENGANTAR.............................................................................iii

DAFTAR ISI.............................................................................................v

DAFTAR GAMBAR................................................................................vi

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................1

A. Latar Belakang....................................................................... 1
B. Tujuan Penulisan.................................................................... 1
C. Rumusan Masalah...................................................................2
D. Metode Penelitian.................................................................... 2

BAB II Kajian teoritis............................................................................... 3

1. Plastik.................................................................................3
2. Pengertian Ekosistem........................................................7
3. Pengaruh Sampah Plastik terhadap ekosistem.............12

BAB 3 HASILSTUDI LAPANGAN.......................................................16

1. Waktu dan Tempat Penelitian.......................................16


2. Kondisi Sampah di Pantai Wediombo..........................16
3. Ekosistem Pantai Wediombo.........................................18
4. Kondisi Ekosistem di Pantai Wediombo.......................19

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN.................................................22

A. Kesimpulan............................................................................22
B. Saran .....................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA............................................................................23

LAMPIRAN..........................................................................................24’

BIOGRAFI PENULIS .........................................................................25

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar1.1 Data Produsen Sampah Plastik ................................................ 5

Gambar 1.2 Pembagian Zona laut berdasarkan kedalamn.......................... 9

Gambar 1.3 Burung Albartos yang mati karena Plastik.............................12

Gambar 2.1 Pantai Wediombo...................................................................16

Gambar 2.2 Sampah di Pantai Wediombo.................................................17

Gambar 2.3 Ikan dari Pantai Wediombo....................................................18

Gambar 2.4 Terumbu Karang di Pantai Wediombo...................................19

Gambar 2.5 Produksi Ikan di Pantai Wediombo........................................20

Gambar 2.6 Ikan Coelacanth Yang Menelan Sampah...............................20

v
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penulisan

Bumi yang kita tinggali sekarang ini sudah tidak muda lagi dan dewasa ini
banyak sekali polutan yang menjadi “ penyakit” bagi bumi kita. Bagian terburuk
dari kejadian ini adalah fakta bahwa populasi manusia yang ada di bumi semkain
bertanbah setiap tahunnya dan hal itu akan berbanding lurus dengan semakin
banyaknya polutan yang ada di muka bumi

Sampah plastik merupakan polutan yang cukup besar jumlahnya


disamping itu sampah plastik juga merupakan jenis polutan yang tidak bisa
diuraikan dalam waktu yang tidak sebentar. Sampah plastik pula merupakan
polutan yang dapat menghasilkan zat kimia yang dapat berbahaya bagi makhluk
hidup dan juga dapat membahayakan lingkungan. Oleh karena itu maka
keberadaan sampah plastik yang jumlahnya cukup banyak di zaman sekarang ini
harusnya menjadi perhatian semua pihak.

Pemilihan laut sebagai tempat pengamatan adalah karena hampir 70%


permukaan bumi merupakan lautan. Hampir dari 60 % ekosistem atau makhluk
hidup yang berada di bumi berada di dalam lautan. Selain itu pula laut merupakan
muara dari sungai yang menjadi tempat pembungan sampah yang cukup masif
jadi hampir sudah pasti sampah yang ada di sungai akan terbawa dan bermuara di
laut.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Penngaruh Sampah Plastik Disekitar Pantai Wediombo
Terhadap Ekosistem laut
2. Bagaimanakah Reaksi Masyarakat atau Pengunjung ketika melihat
sampah
3. Bagaimana Kondisi Terumbu Karang Pada saat Sampah Plastik Berada
disekitar Terumbu Karang?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengaruh sampah plastik terhadap ekosistem di pantai
Wediombo
2. Menambah pengertahuan di lapangan dalam mata pelajaran biologi
3. Untuk mengumpulkan data sebagai tugas laporan karya ilmiah

D. Metode Penulisan
Dalam penyusunan karya tulis ini, penulis menggunakan beberapa metode,
diantaranya:
1. Observasi
Observasi adalah pengamatan langsung para pembuat keputusan berikut
lingkungan fisiknya dan atau pengamatan langsung suatu kegiatan yang
sedang berjalan
2. Studi Pustaka
`Studi pustaka dilakukan dengan cara mempelajari, mendalami, dan
mengutip teori-teori atau konsep-konsep dari sejumlah literatur, baik buku,
jurnal, majalah, koran, atau karya tulis lainnya yang relevan dengan topik,
fokus atau variabel penelitian
3. Pencarian Data-Data di Internet
Metode ini dilakukan dengan cara melakukan pencarian data-data yang
dibutuhkan dari internet
4. Dokumentasi
Teknik ini dilakukan dengan memanfaatkan dokumen-dokumen tertulis,
gambar, foto, atau benda-benda lainnya yang berkaitan dengan aspek-
aspek yang diteliti
BAB II
KAJIAN TEORITIS

1. Sampah Plastik
a. Plastik

Istilah plastik mencakup produk polimerisasi sintetik atau semi-sintetik.


Mereka terbentuk dari kondensasi organik atau penambahan polimer dan bisa juga
terdiri dari zat lain untuk meningkatkan performa atau ekonomi. Ada beberapa
polimer alami yang termasuk plastik. Plastik dapat dibentuk
menjadi film atau fiber sintetik. Nama ini berasal dari fakta bahwa banyak dari
mereka "malleable", memiliki properti keplastikan. Plastik didesain dengan
variasi yang sangat banyak dalam properti yang dapat menoleransi panas, keras,
"reliency" dan lain-lain. Digabungkan dengan kemampuan adaptasinya, komposisi
yang umum dan beratnya yang ringan memastikan plastik digunakan hampir di
seluruh bidang industri. pelet atau bijih plastik yang siap diproses lebih lanjut
(injection molding, ekstrusi, dll)
Plastik dapat juga menuju ke setiap barang yang memiliki karakter yang
deformasi atau gagal karena shear stress, lihat keplastikan (fisika)dan ductile.
Plastik dapat dikategorisasikan dengan banyak cara tetapi paling umum dengan
melihat tulang-belakang polimernya (vinyl{chloride}, polyethylene, acrylic,
silicone, urethane, dll.). Klasifikasi lainnya juga umum.
Plastik adalah polimer; rantai panjang atom mengikat satu sama lain.
Rantai ini membentuk banyak unit molekul berulang, atau "monomer". Plastik
yang umum terdiri dari polimer karbon saja atau dengan oksigen, nitrogen,
chlorine atau belerang di tulang belakang. (beberapa minat komersial juga
berdasar silikon). Tulang-belakang adalah bagian dari rantai di jalur utama yang
menghubungkan
unit monomer menjadi kesatuan. Untuk mengeset properti plastik grup molekuler
berlainan "bergantung" dari tulang-belakang (biasanya "digantung" sebagai
bagian dari monomer sebelum menyambungkan monomer bersama untuk
membentuk rantai polimer). Pengesetan ini oleh grup "pendant" telah membuat
plastik menjadi bagian tak terpisahkan di kehidupan abad 21 dengan memperbaiki
properti dari polimer tersebut.
Pengembangan plastik berasal dari penggunaan material alami (seperti: permen
karet, "shellac") sampai ke material alami yang dimodifikasi secara kimia (seperti:
karet alami, "nitrocellulose") dan akhirnya ke molekul buatan-manusia (seperti:
epoxy, polyvinyl chloride, polyethylene).

b. Pengertian sampah Plastik

Polusi plastik adalah akumulasi dari produk plastik yang ada


di lingkungan yang berdampak buruk terhadap satwa liar, habitat satwa liar, dan
manusia. Plastik yang berperan sebagai polutan dikategorikan ke dalam mikro,
meso, atau puing-puing makro, berdasarkan ukurannya. Plastik berharga murah,
tahan lama, dan hasilnya tingkat produksi plastik oleh manusia menjadi
tinggi.Namun, umumnya struktur kimia dari plastik membuat mereka tahan
terhadap banyak proses alami degradasi dan akibatnya mereka lambat juga untuk
didegradasi. Bersama-sama, kedua faktor inilah yang menyebabkan tingginya
tingkat pencemaran plastik di lingkungan.
Banyak plastik yang baru terurai setelah 450 tahun, kata Benjamin
Bongardt pakar sampah dari ikatan perlindungan alam Jerman (NABU). Sebagian
besar pengotoran berasal dari plastik yang diproduksi abad ini. "80
persen plastik datang dari darat dan tidak dari laut. Artinya, plastik tidak dibuang
dari kapal, melainkan dari turis, penduduk yang dibawa sungai dan angin ke
lautan." Khususnya plastik yang tipis dan ringan dan setelah dipakai sekali
langsung dibuang, mudah terbang dari lokasi pembuangan sampah.
Sampah Plastik juga menjadi ancaman yang cukup berbahaya bagi negara
indinesia dihitung dari prosentase jumlah sampah plastik yang tidak diolah,
Indonesia termasuk yang paling tinggi di dunia. Sebanyak 87 persen dari 3,8 juta
ton sampah plastik yang dibuang setiap tahun mendarat di laut. Artinya setiap
penduduk pesisir Indonesia bertanggungjawab atas 17,2 kilogram sampah plastik
yang mengapung dan meracuni satwa laut.

ggj
Gambar 1.1 Data negara penyumbang sampah plastik WHO
Sumber : World Enviroment Asosiation

c. Pengaruh Sampah Plastik

Berikut ini adalah pengaruh dari sampah plastik menurut organisasi


lingkungan hidup dunia
1. tercemarnya tanah, air tanah, dan juga makhluk hidup bawah tanah.
2. Racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan berpotensi
untuk membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah, termasuk cacing.
3. PCB (polychlorinated biphenyl) yang tidak terurai walaupun sudah termakan
oleh para hewan dan tumbuhan akan menjadi suatu racun berantai sesuai
urutan makanannya. Yang mana, tidak menutup kemungkinan bahwa
manusia, termasuk kita sendiri, ada di dalam rantai makanan tersebut.
4. Sampah plastik akan mengganggu jalur terserapnya air ke dalam tanah.
5. Menurukan kesuburan tanah. Hal ini dikarenakan plastik juga dapat
menghalangi sirkulasi udara di dalam tanah dan ruang gerak makhluk hidup
bawah tanah yang berperan dalam proses penyuburan tanah.
6. Sampah plastik yang susah diurai, mempunyai umur panjang, dan ringan akan
semakin mempermudah untuk diterbangkan angina sehingga tidak menutup
kemungkinan untuk mencemari lautan dan wilayah-wilayah lainnya secara
bergantian.
7. Hewan-hewan dapat terjebak dalam tumpukan sampah plastic hingga mati.
8. Hewan-hewan laut, seperti lumba-lumba, penyu, dan anjing laut menganggap
sampah atau kantong plastik sebagai makanannya sehingga mereka akhirnya
bisa mati hanya gara-gara memakannya dan tidak mampu mencernanya.
9. Ketika hewan-hewan yang menelan sampah atau kantong plastik mati, maka
sampah atau kantong plastik yang berada di dalam tubuhnya tersebut tidak
akan hancur dan tetap utuh sehingga akhirnya akan menjadi bangkai yang
dapat meracuni hewan lainnya, manusia yang berada di sekitarnya, hingga
mencemari lingkungan dengan baunya yang biasanya busuk dan menyengat.
10. Pembuangan sampah plastik secara sembarangan di sungai-sungai akan
mengakibatkan pendangkalan sungai dan penyumbatan alirannya sehingga
bukan tidak mungkin akan menyebabkan banjir ketika hujan turun.
11. Sampah plastik yang dibakar, maka asapnya akan mencemari lingkungan.
Yang mana, dalam asap tersebut biasanya terkandung zat dioksin yang
apabila dihirup oleh manusia dapat menyebabkan berbagai gangguan
kesehatan, seperti gangguansistem pernapasan pada manusia, kanker,
pembengkakan hati, dan gangguan sistem syaraf.
12. Penyumbatan saluran air akibat sampah plastik dapat menjadi tempat
perkembangbiakan daur hidup nyamuk dan serangga berbahaya lainnya,
seperti nyamuk BDB dan malaria, sehingga menimbulkan penyakit.
13. Kualitas air di lingkungan akan semakin memburuk karena banyaknya
sampah plastik yang mengandung bahan-bahan kimia, seperti styrene trimer,
bisphenol A, dan lain sebagainya, di mana pada akhirnya akan meracuni air
yang biasanya dijadikan air minum atau mandi dalam kehidupan sehari-hari.
d. Sampah Plastik di Laut

Sampah plastik merupakan sampah yang cukup berbahaya bagi kehidupan


terutama ekosistem laut, buktinya saja World Economic Forum pada 2018
menyatakan ada lebih dari 150 juta ton plastik di samudra planet ini. Tiap tahun, 8
juta ton plastik mengalir ke laut. Padahal plastik bisa berumur ratusan tahun di
lautan dan terurai menjadi partikel kecil dalam waktu yang lebih lama lagi. Plastik
bakal terakumulasi terus dan terus di laut.Berdasarkan data yang diperoleh dari
Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS),
sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun dimana sebanyak 3,2 juta
ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

2. Pengertian Ekosistem

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan


timbal balik tak terpisahkan antara  makhluk hidupdengan
lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh
dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling
memengaruhi.
Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang
melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga
aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus
materi antara organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua
energi yang ada.
Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama
dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem.Organisme akan beradaptasi dengan
lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga memengaruhi lingkungan fisik untuk
keperluan hidup. Pengertian ini didasarkan pada Hipotesis Gaia, yaitu:
"organisme, khususnya mikroorganisme, bersama-sama dengan lingkungan fisik
menghasilkan suatu sistem kontrol yang menjaga keadaan di bumi cocok untuk
kehidupan".Hal ini mengarah pada kenyataan bahwa kandungan
kimia atmosfer dan bumi sangat terkendali dan sangat berbeda dengan planet lain
dalam tata surya.
Kehadiran, kelimpahan dan penyebaran suatu spesies dalam ekosistem
ditentukan oleh tingkat ketersediaan sumber daya serta kondisi faktor kimiawi dan
fisis yang harus berada dalam kisaran yang dapat ditoleransi oleh spesies tersebut,
inilah yang disebut dengan hukum toleransi. Misalnya: Panda memiliki toleransi
yang luas terhadap suhu, namun memiliki toleransi yang sempit terhadap
makanannya, yaitu bambu. Dengan demikian, panda dapat hidup di ekosistem
dengan kondisi apapun asalkan dalam ekosistem tersebut terdapat bambu sebagai
sumber makanannya. Berbeda dengan makhluk hidup yang lain, manusia dapat
memperlebar kisaran toleransinya karena kemampuannya untuk berpikir,
mengembangkan teknologi dan memanipulasi alam.

a. Pengertian Ekosistem laut

Ekosistem laut merupakan ekosistem yang terdapat di perairan laut, terdiri


atas ekosistem perairan dalam, ekosistem pantai pasir dangkal/bitarol, dan
ekosistem pasang surut.

Ekosistem air laut memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut.

1. Memiliki salinitas tinggi, semakin mendekati khatulistiwa semakin tinggi.


2. NaCl mendominasi mineral ekosistem laut hingga mencapai 75%.

3. Iklim dan cuaca tidak terlalu berpengaruh pada ekosistem laut.

4. Memiliki variasi perbedaan suhu di permukaan dengan di kedalaman.


1.2 Pembagian zona laut berdasarkan kedalaman.

Ekosistem laut juga berperan penting bagi lingkungan di daratan. 50% oksigen
yang dihisap organisme di daratan berasal dari fitoplankton di lautan. Habitat
pantai (estuari, hutan bakau, dan sebagainya) merupakan kawasan paling
produktif di bumi. Ekosistem terumbu karang menyediakan sumber makanan dan
tempat berlindung bagi berbagai jenis organisme dengan keanekaragaman
hayati tingkat tinggi di lautan.

Ekosistem lautan pada umumnya memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang


tinggi sehingga diperkirakan memiliki ketahanan yang baik terhadap spesies
invasif. Namun beberapa kasus yang melibatkan spesies invasif telah ditemukan
dan mekanisme yang menentukan kesuksesan spesies invasif ini belum dipahami
secara pasti.

 Bagian- bagian Ekosistem Air Laut


 Sebagai suatu ekosistem, ekosistem laut ini terdiri atas beberapa bagian. Secara
umum, bagian- bagian dari ekosistem air laut ini dilihat dari jarak dari pantai dan
juga kedalamannya. Dilihat dari sudut tersebut, ekosistem air laut dibedakan
menjadi zona litoral, zona neritik, dan juga zona oseanik.
1. Zona litoral

Zona litoral ini juga disebut sebagai zona pasang surut, yakni merupakan zona yang
paling atas atau paing dangkal dari lautan. Zona litoral ini merupakan zona dari
laut yang berbatasan langsung dengan daratan. zona litoral ini juga merupakan
zona yang terendam ketika air laut mengalami pasang, dan akan terlihat seperti
daratan ketika air laut surut. Di zona litoral ini, kita akan menemukan banyak
hewan atau sekelompok hewan, diantaranya adalah bintang laut, udang, kepiting,
bulu babi, hingga cacing laut.

2. Zona neritik
Zona yang kedua adalah zona neritik. Zona neritik ini disebut juga dengan
ekosistem pantai pasir dangkal. Zona neritik ini merupakan bagian dari laut yang 
mempunyai tingkat kedalaman sekitar 200 meter, sehingga masih dapat ditembus
oleh cahaya matahari hingga ke bagian dasar. zona neritik ini merupakan zona
yang banyak dihuni oleh berbagai jenis tumbuhan ganggang lalu atau rerumputan
laut dan juga berbagai jenis ikan. Do zona neritik ini kita akan menemukan suatu
ekosistem lainnya yang lebih kecil, yakni ekosistem terumbu karang, ekosistem
pantai batu, dan ekosistem pantai lumpur. Ketiga ekosistem tersebut disebut juga
sebagai jenis- jenis dari ekosistem pantai pasir dangkal atau zona neritik ini.

3. Zona oseanik
Dari kedua zonae sebelumnya, yakni zona litoral dan zona neritik, zona oseanik
merupakan zona yang paling dalam dari ekosistem air laut. Zona oseanik ini
merupakan wilayah ekosistem air laut yang lepas, yang mana kedalamannya
sangat dalam. Saking dalamnya, zona ini sampai terlihat gelap. Zona oseanik ini
dibedakan menjadi dua macam, yakni zona batial dan juga zona abisal. Zona
batial merupakan zona yang memiliki kedalaman sekitaran 200 hingga 2000
meter. Zona batial mempunyai keadaan yang remang- remang karena cahaya
matahari yang masuk hanya sidkit sekali, sehingga tanpak remang- remang.

Di zona batial ini kita tidak bisa menemukan produsen karena hanya dihuni oleh
nekton (sejenis organisme yang aktif berenang). Sementara zona abisal
merupakan zona yang memiliki kedalaman yang lebih jauh lagi yakni lebih dari
2000 meter. Zona abisal ini merupakan zona yang sama sekali tidak dapat
ditembus oleh cahaya matahari. Zona abisal ini dihuni oleh binatang- binatang
predator, detrivitor atau pemakan sisa organisme, dan juga pengurai. Secara
umum, air  di zona oseanik ini tidak dapat bercampur dengan dengan air di
permukaan air laut, hal ini karena keduanya memiliki perbedaan suhu. Batas dari
kedua bagian ini dinamakan daerah termoklin.

Itulah bagian- bagian dari laut apabila dilihat dari tingkat kedalamannya. Lalu jika
dilihat berdasarkan intesitas cahaya matahari (baca: bagian- bagian matahari) yang
bisa masuk, ekosistem air laut dibedakan atas zona- zona sebagai berikut:

1. Zona fotik, yakni merupakan zona yang mudah ditembus cahaya matahari
dan mempunyai kedalaman air kurang dari 200 meter. Di zona fotik ini kita akan
menemui organisme yang melakukan fotosintesis.
2. Zona twilight, yakni zona yang mempunyai kedalaman air antara 200
hngga 2000 meter. Di zona ini, cahaya matahari yang masuk hanya sedikit, oleh
karena itu bersifat remang- remang.

3. Zona afotik, merupakan zona yang tidak dapat ditembus cahaya matahari
sama sekali, yakni di kedalam lebih dari 2000 meter.

Kemudian berdasarkan wilayah permukaan secara vertikal, laut dibedakan atas


bebera zona

1. Epipelagik, yakni daerah yang berada di antra permukaan hingga


kedalaman sekitar 200 meter.
2. Mesopelagik, yakni daerah dengan kedalaman antara 200 hingga 1000
meter.

3. Batiopelagik, yakni daerah jerang benua yang mempunyai kedalaman 200


hingga 2500 meter.

4. Abisalpelagik, yakni daerah yag mempunyai kedalaman 4000 meter.


5. Hadal pelagik, yakni daerah laut yang paling dalam dimana kedalaman
lebih dari 6000 meter.

 Jenis-jenis Ekosistem Air Laut

Ekosistem air laut merupakan ekosistem yang beraneka ragam. Berikut ini adala
macam- macam dari ekosistem air laut:

1. Ekosistem laut dalam. Ekosistem alut dalam ini terdapat di daerah laut
paling dalam atau palung laut. Ekossitem ini tidak dapat ditembus oleh cahaya
matahari. Organisme yang hidup di ekosistem ini adalah predator dan ikan yang
dapat memancaran cahayanya sendiri.
2. Ekosistem terumbu karang. Ekosistem ini terdapat di laut dangkal yang
jernih. Banyak organisme yang hidup di ekosistem ini, antara lain adalah terumbu
karang, hewan spons, mollusca, bintang laut, ikan, dan juga ganggang. Ekosistem
terumbu karang ini mempunyai manfaat ekosistem terumbu karang bagi biota laut
dan manusia yang beraneka ragam.

3. Ekosistem estuari. Ekosistem ini berada di daerah percampuran air laut


dengan air sungai. Di ekosistem estuari ini terdapat ekosistem yang khas, yakni
ekosistem padang lamun dan ekosistem hutan mangrove (baca: ciri-ciri hutan
mangrove).

4. Ekosistem pantai pasir. Ekosistem pantai pasir merupakan ekositem yang


berada di pesisir pantai dengan hamparan pasir. Tempat ini selalu terkena deburan
ombak dan cahaya matahari yang kuat pada siang harinya.

5. Ekosistem pantai batu. Ekosistem pantai batu ini merupakan ekosistem


yang meiliki banyak bongkahan batu yang besar maupun kecil. Banyak organisme
yang hidup di ekosistem ini, misalnya ganggang cokelat, kepiting, kerang, siput,
dan juga burung.

3.Pengaruh Sampah Plastik Terhadap Ekosistem Laut


Sampah Plastik yang sangat banyak terdapat dilautan tentu saja banyak
berpengaruh terhadap ekosistem di laut . Sampah plastik merupakan penyebab
nomer dua setelah minyak yang tumpah dilaut sebagai hal yang merusak
ekosistem laut (Universitas Melbourne:2009) sebagai contohnya saja ada
beberapa kasus hewan yang ada di laut terkena dampak dari sampah plastik.
Contohnya saja pada tahun 2018 kemarin ada paus sperma yang mati karena
memakan sampah plastik yang cukup banyak yaitu: 2 buah pasang sendal jepit, 6
kg sampah plastik yang termasuk gelas plastik dan tali rafia, sebagai contoh lain
ada kasus matinya burung albatros yang mati karena memakan tutup botol plastik
yang ada di Pulau Midway.Selain dari contoh contoh di atas masih banyak kasus-
kasus kerusakan ekosistem lainnya yang di sebabkan karena sampah plastik yang
ada di laut . Menurut peneliti dari Universitas Melbourne sampah plastik yang ada
di laut nampak seperti ubur-ubur yang di lihat oleh hewan-hewan di laut.

Gambar 1.3 Burung Albartos yang mati karna Sampah Plastik

Sumber : World Enviroment Asosiation

Hal lain yang menyebabkan kerusakan ekosisstem laut akibat sampah


plastik adalah banayk hewan yang terperangkap atau terjebak di dalam sampah-
sampah plastik sebagai contohnya saja pada tahun 2011 ditemukan anjing laut
yang terperangkap oleh sampah-sampah plastik yang ada di Samudera Pasifik
yang menyebabkan anjing laut tersebut mati secara perlahan-lahan.

Hal-Hal di ats tentu saja sangat berbahaya bagi keberlangsungan ekosistem


laut yang ada di dunia apalagi dari data yang dikeluarkan oleh badan lingkungan
hiduo dunia yang menyatakan bahwa hampir 70% wilayah yang ada di
permukaan bumi merupakan lautan. Jika sampah plastik yang angkanya terus
menerus menaik setiap tahunnya akibat dari semakin banyak nya populasi
manusia yang ada di muka bumi maka hal itu dapat menyyebabkan
ketidakseimbangan lingkungan seperti yang dikatakan oleh profesor akainu
akamichi dari Universitas Tokyo yang telah meneliti sampah yang ada di laut
sejak tahun 2007, dia mengatakan bahwa laut merupakan komponen yang sangat
penting bahkan yang terpenting dan terlebih lagi ekosistem yang ada di laut.
Ekosistem laut juga merupakan salah satu bagian terpenting dari piramida
makanan yang ada di bumi oleh karena itu jika terjadi kerusakan terus menerus
terhaddpa ekosistem di laut maka tidak mungkin akan terjadi ketdakseimbangan
ekosistem yang akan terjadi di muka bumi

Menurut Dr. Agus Haryono dari pusat penelitian kimia Lipi Sampah
plastik dapat memiliki beberaapa kadar berbahaya bagi makhluk hidup seperti
mercury,tyrene Trimer, Polystyrene, Polyethylene Terephthalate (PET), dan
Polyvinyl Chloride (PVC) yang dapat menimbulkan effect yang berbhaya bagi
makhluk hidup dan bahkan akan menyebabkan kematian pada makhluk hidup
tersebut cara bahan bahan inimasuk adalah ketika plastik yang berukuran makro
berubahmenjadi plastik berukuran mikro dan dapat ditelan oleh hewan-hewan
tersebut

Selain menyebabkan dampak bagi ekosistem yang ada di laut sampah juga
merupakan polutan yang bisa mengancam kehidupan yang ada di daratan hal ini
dikarenakan sampah plastik yang sulit terurai dan bisa mengeluarkan beberapa zat
kimia yang tentu saja sangat berbahaya dan akan lebih bahaya lagi karena
makhluk dekommposer atau pengurai menjadi terganggu karena adanya sampah
yyang berada di dalam tanah. Di sungai pun sampah plastik menjadi momok yang
cukup memprihatinkan karena banyak permukaan sungai yang mengalami
pendankalan dan juga permukaan sungai yang tertutup oleh sampah plastik yang
mennyebabkan banyak ekositem sungai yang rusak dan membuat kesimbangan
ekosistem terganggu hal ini di buktikan dengan salah satu data dari komunitas
pecinta Sungai Ciliwung yang menyebutkan bahwa sungai ciliwung mengalami
pendangkalan hampir sebanyak 5cm setiap tahunnya dan hamoir setiap bulan
mereka harus mengangkut sampah sebanyak 1 ton dari Sungai Ciliwung.
Hal ini berhubungan dengan kerusakan ekosistem laut karena menurut
data statistik yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa hampir
85% sampah yang ada di laut merupakan sampah bawaan dari darat yang berarti
sampah ini bukan berasal dri turis yang membuang sampah di tepi pantai atau
nelayan yang membuang sampah di laut tapi mayoritas sampah merupakan
sampah bawaan yang datang dari daratan.

Hal selanjutnya yang menjadi masalah adalah karena p;lastik sudah


tersebar idmana-mana dari mulai antarika sampai ke samudera hindia sudah pasti
kita menemukan sampah plastik dan itu merupakan fakta di lapangan yang sering
kita jumpai bahkan di tempat seperti palung mariana yang memiliki kedalaman
sampai 14 kilo meter masih terdapat sampah disana akibatnya ekosistem laut tidak
lagi memiliki pilihan selain terpaksa hidup dengan sampah plastik yang ada di
sekeliling mereka juga merusak rumah dan habitat mereka. Sampah plastik ini
bisa kita temukan di pantai sampai ke laut dalam.

Fakta mengejutkan yang lain adalah fakta yang ditemukan oleh nicholas
scott peneiti asal austria yang mengatakan dari hasil penelitiannya bahwa
pembunuh terbesar dari ekosistem laut bukanlah manusia dengan alat seperti
pukat harimau atau pun bom maupun fenomena alam seperti tsunami yang terjadi
di jepang ataupun letusan gunung berapi bawah laut tetapi pembunuh terbesar di
dalam ekosistem laut dan pantai merupakan sampah plastik yang dibuang oleh
manusia ke sungai sungai yang bermuara di laut.

Hal ini diperparah dengan fakta bahwa tidak semua sampah plastik dapat
di daur ulang, ada beberapa jenis sammpah plastik yang sangat sulit untuk di daur
ulang sehingga tidak dapat dimanfaatkan kembali menjadi sebuah kerajinan atau
diproduksi ulang. Di lain sisi juga kita harus sadar dengan fakta bahwa tidak
semua plastik yang bisa di daur ulang itu di daur ulang karena kenyataannya aa
beberapa negara ynag masih sangat rendah sekali kesadaraannya akan pemilihan
sampah yang benar ataupun edukasi tentang r\\educe reuse recycle. Kita
mengambil contoh Indonesia sebagai produsen sampah plastik terbesar kedua di
dunia yang di dalam budaya masyarakatnya sendiri belum memiliki kesadaran
untuk melakukan langkah 3r atau pun memilih untuk mengurangi penggunaan
plastik, walaupun pemerintah sudah mengusahakan berbagai cara untuk mengatasi
permasalahan ini atau setidaknya merubah budaya pemborosan plastik yang sudah
menjadi kebiasaan di indonesia yaitu dengan cara memberikan harga untuk
kantung plastik tetapi sepertinya hal itu tidak berfungsi dengan baik mengingat
sekarang peringkat indonesia masih buruk dalam pengelolaan sampah terutama
sampah plastik.

Tempat pembuangan akhir atau TPA juga menjadi salah satu faktor yang
penting dalam pengelolaan sampah di lihat dari fakta bahwa pengrlolaan sampah
diindonesia masih jauh dari kata layak apalagi jika kita lihat lautan sampah yang
ada di TPA Bantar Gebang setinngi 14 meter dan masih akan terus bertambah
oleh karena itu seharusnya pemerintah memberikan lebih banyak dana untuk
pengelolaan sampa ini karena sampah merupakan hal yang sangat krusial di masa
sekarang ini.

Jika kita lihat dari beberapa negara yang memiliki sistem pengelolaan
sampah yang sangat baik seperti Denmark yang merupakan negara pemproduksi
sampah plastik paling kecil di dunia yang memiliki pengelolaan sampah yang baik
sehingga sampah plastik yang terbuang menjadi sangat sedikit dan pengunaan 3R
digunakan sangat baik di negara ini.
4

BAB 3
HASIL STUDI LAPANGAN

a. Waktu dan Tempat penelitian


Waktudantempatstudilapangan kami dilaksanakanpadatanggal 11-14
Februari 2019 yang bertepatandengan acara studikampussekolah kami SMAN 1
Majalengka, antara lain ketempatWisataKetep Volcano Centre, GunungMerapi,
Universitas UGM/UPN, PantaiWediOmbo, danMalioboro. Disinikelompok kami
menitikberatkanobservasi di wilayahsekitarPantai Wediombo

Gambar 2.1 Pantai Wediombo

Sumber : Data Pribadi

b. Keadaan Sampah di pantai Wediombo

Sampah diatas permukaan pantai Wediombo memang bisa dibilang tidaak terlalu
parah jika kita bandingkan dengan pantai-pantai lain yang ada di daerah pantai selatan hal
ini dikarenakan jarak yang cukup jauh yang harus ditempuh untuk kita bisa berada sampai
disana dan jika kita lihat lagi sangat sedikit wisatawan yang datang dan itu menyebabkan
sampah di pantai ini juga tidak terlalu parah. Faktor lain yang menyebabkan sedikitnya
sampah yang ada di Pantai Wediombo yaitu fakta bahwa pantai ini tidak menjadi muara
dari sungai yang ada di Jogjakarta.

17
18

Gambar 2.2Sampah di Pantai Wediombo

Sumber : Data Pribadi

Terlihat Sampah Plastik dari pantai yang cukup menggunduk yang


disebabkan pula karena kurangnya ketersediaan tempat sampah di pantai ini selain
itu seperti yang kita tahu bahwa lautan itu saling berhubungan satu dengan yang
lainnya oleh karena itu maka Sampah yang bukan merupakan sampah asli dari
pantai itupun bisa jadi tertarik sampai ke bibir pantai

Terlihat disii sampah sudah dikumpulkan di satu sisi tapi karena tidak
terlihat ada sampah disana dan setelah ditanyakan kewarga disana tidak ada TPS
atau tempat pembuangan sampah sementara maka kami dapat simpulkan bahwa
Sampah ini hanya dikumpulkan dan di bakar jika sudah menumpuk tapi hal
tersebut sangat tidak baik mengingat bahwa pada saat pantai sedang pasang
kemungkinan sampah akan tertarik lagi ke dalam laut.

Reaksi masyarakat setelah kami tanyakan tentang sampah disini adalah


masyarakat sekitar sering sekali mengadakan kegiatan untuk membersihkan
sampah yang ada di pantai akan tetapi karena memang jumlah penduduk yang
sedikit dan jarak yang jauh dari TPA menyebabkan sampah yang sudah
dikumpulkan tidak bisa diangkut atau dimanfaatkan lagi. Tetapi warga sudah
berswadaya untuk membuat tempat sampah yang di buat dari ember-ember yang
bisa di gunakan oleh para wisatawan meskipun letak tempat sampah itu sangat
jauh yaitu dekat dengan kawasan pedagang.
19

Saat ditanyakan kepada bapa Joko, beliau mengatakan bahwa masyarakat


dan pemerintah setempat akan berusaha untuk membuat TPS atau tempat
pembuangan sampah sementara yaang bisa digunakan untuk menyimpan sampah
sebelum diangkut ke TPA ngablak yang ada daerah Bantul.

c. Ekosistem Pantai Wediombo

Pantai Wediombo merupakan pantai yang ada di daerah pantai selatan


Indonesia yang memiliki karakteristik ombak yang besar dan juga air yang tidak
terlalu jernih saat sedang melakukan observasi di Pantai Wediombo kami sedikit
kesulitan untuk menemukan Ikan atau pun makhluk hidup yang lain di karenakan
ombak yang tinggi juga waktu yang terbatas yang kami miliki akan tetapi menurut
litelatur yang kami baca juga dari penuturan warga sekitar terdapat cukup banyak
ikan dan juga ikan yang terdapat di sekitaran pantai Wediombo ini merupakan
ikan laut dengan ukuran yang cukup besar. Kami diberi foto oleh salah satu warga
desa yang baru saja mendapat ikan yang cukup besar dari Pantai Wediombo ini.

Gambar 2.3 Ikan dari Pantai Wediombo

Sumber : Data Pribadi

Menurut Candra Aryudiawan, S.Pi., M.Sc dosen departemen perikanan


universitas Gadja Mada Ikan yang ada di daerah Pantai Selatan ini memang
memiliki ukuran yang sangat besar. Jenisnya antara lain ikan Trengili dan jenis
ikan monster lainnya. Hal ini dikarenakan pantai yang memiliki tebing tebing juga
memiliki ombak yang cukup kencang dan perairan yang hangat sehingga terdapat
20

banyak ikan kecil membuat Ikan ukuran besar itu banyak tinggak di sekitar Pantai
Wediombo.

Selain ikan biota lain yang ada di sekitar Pantai Wediombo yaitu terumbu
karang yang cukup banyak berada disna sebagai tempat untuk ikan ikan kecil
hidup. Jenis-jenis terumbu karang yang hidup di Pantai Wediombo menurut
Bambang Halianto dosen departemen perikanan universitas Diponogoro yaitu
Tipe terumbu karang di Pantai Wediombo merupakan terumbu karang tepi
(fringing reef). Keberadaan terumbu karang tepi (fringing reef) ditandai
dengan adanya karang yang tumbuh mulai dari tepian pantai dan tidah
dipisahkan dengan adanya gobah besar yang membentuk paparan terumbu
(reef flat). Tipe terumbu karang ini ditemukan hampir diseluruh pantai tropis
dimana pertumbuhan terumbu karang menuju permukaan laut ke arah laut
lepas dan berfungsi sebagai pelindung daratan dari gempuran ombak.

Gambar 2.4 Terumbu karang Tepi di Pantai Wediombo


Sumber : Data Pribadi

d. Kondisi Ekosistem Pantai Wediombo

Kondisi Ekosistem Pantai Wediombo cukup baik hingga saat ini di


karenakan masih belum bnayaknya wisatawan yang mengetahui letak dari pantai
ini akan tetapi dari data yang kami dapati terdapat penurunan produksi yang
menunjukan kerusakan disekitar Pantai Wediombo. Contohnya saja menurut data
dari departemen perikanan UNDIP didapati bahwa terjadi penurunan produksi
ikan yang sangat drastis dari tahun ketahun seperti dari tahun 2013 ke 2014 yang
jumlahnya turun lebih dari 50.000 kilogram
21

Gambar 2.5 Produksi ikan Pantaii Wediombo

Sumber : Lembar Penelitian Depatemen Perikanan

UNDIP

Menurut Sutriosno Anggoro Peneliti dari departemen perikanan UNDIP


hal ini dikarenakan kerusakan lingkungan yang salah satu penyebab terbesarnya
adalh sampah plastik menurut beliau Sampah yang ada di Pantai banyak yang
termakan oleh ikan besar dan juga dapat memerangkap Ikan Kecil yang ada di
Pantai Wediombo

Gambar 2.6 Ikan Coelacan yang memakan sampah

Sumber : World Enviroment Asosiation

Menurut Sutriosno Anggoro pula sampah Plastik yang ada di sekitar pantai
Wediombo menyumbang 45% sedangkan sisanya merupakan fenomena alam dan
perbuatan manusia. Selain sampah plastik dapat termakan oleh ikan menurutnya
22

kandungan kimia yang terdapat di sampah plastik terurai dan meracuni ikan-ikan
tersebut. Dari data ini kita dapat lihat bahwa sampah plastik memiliki pengaruh
yang sangat besar dalam kerusakan ekosistem yang ada di Pantai Wediombo.

Untuk terumbu karang sendiri karena terumbu karang yang terdapat di


Pantai Wediombo ini merupakan jenis Karang Tepi atau karang yang ada di luar
air sehingga kehidupannya tidak bergantung pada kandungan dalam air yang
menyebabkan kandungan senyawa kimia sampah plastik tidak terlalu memiliki
pengaruh yang cukup signifikan.
BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari pengamatan dan observasi yang dilakukan di pantai Wediombo yang


terletak di Kota Yogyakarta kami menyimpulkan bahwasampah plastik dapat
berpengaruh dalam ekosistem pantai dalam hal ini Pantai Wediombo dikarenakan
sampah dapat termakan juga kandungan senyawa kimia sampah plastik dapat
berbahaya untuk makhluk hidup

B. Kitik dan Saran

   Apa yang terkandung dalam isi makalah ini bukan semata pemikiran
penulis, tetapi penulis ambil dari berbagai macam referensi yang selanjutnya
penulis rangkum untuk menyelesaikan tugas ini, penulis menyadari dalam
penulisan makalah ini masih sangat banyak terdapat kekurangan baik itu dari segi
penulisan maupun bahasa, maka daripada itu penulis sangat mengharapkan kritik
dan saran dari para pembaca untuk mendorong penulis dalam pembuatan tugas
selanjutnya ke arah yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.researchgate.net/publication/316947870_Kajian_Kondisi_dan_Nilai_Ekono
mi_Manfaat_Ekosistem_Terumbu_Karang_di_Pantai_Wediombo_Kabupaten_Gunung_
Kidul_Daerah_Istimewa_Yogyakarta

Lestari, Fitra.2017.Tingkat kerusakan laut


Indonesia.https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/gk/article/view/3772

https://lingkunganhidup.co/sampah-plastik-indonesia-dunia/

https://id.wikipedia.org/wiki/Polusi_plastik

https://www.marineinsight.com/environment/how-is-plastic-ruining-the-ocean/

https://www.google.com/search?
q=data+sampah+plastik+di+indonesia&safe=strict&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=
0ahUKEwi8qomb2avhAhUM63MBHQ18CncQ_AUIDigB&biw=1485&bih=616&dpr=0.9#i
mgrc=0W3iDBY8DgUqWM:

https://chemicalsinourlife.echa.europa.eu/chemicals-in-plastic-products

https://aruna.id/2017/05/12/sampah-laut-ancaman-nyata-ekosistem-laut/

https://id.wikipedia.org/wiki/Ekosistem_laut

https://www.mongabay.co.id/2018/07/26/ancaman-sampah-plastik-untuk-ekosistem-
laut-harus-segera-dihentikan-bagaimana-caranya/
LAMPIRAN
Warga sekitar
Pertanyaan :
1. Bagaimana pengelolaan sampah di Pantai Wediombo ?
2. Apakah ada tempat pembuangan sampah sementara disekitar Pantai?
3. Apakah sampah berpengaruh terhadap ikan hasil tangkapan di sekitar
Pantai?
4. Dimana TPA terdekat dari Pantai Wediombo

Jawaban :
1. Pengelolaan sampah di pantai Wediombo masih memberdayakan
masyarakat sekitar karena belum adanya pengurus resmi dari swasta
maupun dari pemerintah daerah setempat, jadi warga bersama-sama
membersihkan pantai. Hal ini juga disebabkan karena belum banyak
wisatawan yang datang ke pantai Wediombo.
2. Sampai sekarang belum ada TPS, warga hanya membuat tempat sampah
swdaya yang disimpan didekat warung atau rumah penduduk mengingat
pengunjung yang datang karena lokasi pantai yang jauh dari pusat kota
3. Sampah plastik cukup berpengaruh terhadap ikan hasil tangkapan di
daerah sekitar Pantai. Biasanya di sekitar pantai itu mudah untuk
menangkap ikan-ikan besar, karena dari dulu memang pantai Wediombo
terkenal dengan spot memancing ikan –ikan monster tapi makin hari
makin susah untuk mendapatkan ikan-ikan besar di daerah sekitar pantai
4. TPA terdekat dari pantai Wediombo ya TPA ngablak yang ada di Bantul
itu yang paling dekat sama pantai ini, itupun kita harus menempuh jarak
sekitar 20 km untuk sampai kesana jadi biasanya kami mengumpulkan
dulu sampah lalu kami bakar.
BIODATA PENULIS

Nama : Aqiel Muhamad F

TTL : Majalengka, 3 April 2002

Hobi : Karate, bermain catur

Alamat: Desa Kertabasuki

Sosmed: : aqiel firdaus

Motto : Coba aja semuanya


Nama : Aulia Galih Ramadhani

Tempat tanggal lahir : Majalengka,14 – November – 2002

Hobby : renang, volley, nonton, makan, jalan jalan

Social media : Instagram : @auliagalihramadhani

Email : auliagalihr@gmail.com

Alamat : Perum bca jalan mangga 10 blok 5 rt 10 rw 06sukahaji .


Majalengka

Motto hidup : jadikan lah masa lalu mu pelajaran bagimu agar tak terulang di
masa depan
Nama: MaulaNur Sri Handari
TTL : Majalengka, 13 Mei 2003
Alamat : JL. SitiArmilah No. 8
RT.02/RW.08 Majalengka
KulonKode Pos. 45418
Hobby : Dengerinmusik, nonton
film, bacaWebtoon, main
game.
E-mail : maulansh@gmail.com
Sosmed : 1. Instagram :maulansh_
2. Facebook :MaulaNur
Sri Handari
Motto Hidup : Man jaddawajadda,
“Barangsiapa yang
bersungguh-sungguhpasti
berhasil”.
Nama Lengkap : Muhammad Ihsan

Nama : Ihsan

Kelas : XI MIPA 6

TTL : Bogor,31 Mei 2002

Motto hidup:kamarin adalah sejarah hari ini untuk memperbaiki


sejarahdan mempersiapkan masa depan dan besok adalah masa depan

Gol.darah:AB