Anda di halaman 1dari 13

CRITICAL JURNAL REPORT

Matakuliah : Pengantar Geografi

Dosen Pengampu : Rohani, S.Pd., M.Si

NIP : 198203062006042001

Nama Penyusun : Islamiah Tri Adinda

NIM : 3183131032

Kelas :B

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2018
Kata Pengantar
Puji syukur diucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya
makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya, adapun topik dari kritisi jurnal ini
adalah. Penulis berterima kasih kepada Ibu Dosen Pengampu Rohani, S.Pd., M.Si yang telah
memberikan bimbingannya.
Penyusunan critical jurnal review ini merupakan tugas dan persyaratan untuk
menyelesaikan tugas mata kuliah di Jurusan Pendidikan Geografi FIS Universitas Negeri
Medan dan harapannya dapat menjadi bahan referensi untuk kedepannya.
Dalam tugas Critical Jurnal Review ini, penulis menyadari bahwa tugas ini masih
banyak kekurangan oleh karena itupenulis meminta maaf jika ada kesalahan dalam penulisan
dan penulis juga mengharapkan kritikdan saran yang membangun guna kesempurnaan tugas
ini.

Wassalam,
Medan, November 2018

Penyusun

1
DAFTAR ISI
Kata Pengantar.....................................................................................................1
Daftar Isi..............................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...............................................................................................3
1.2 Tujuan.............................................................................................................3
BAB II RINGKASAN
2.1 Identitas Jurnal...............................................................................................4
2.2 Ringkasan Jurnal
A. Jurnal I.......................................................................................................4
B. Jurnal II......................................................................................................6
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Jurnal I...........................................................................................................9
3.2 Jurnal II.........................................................................................................10
BAB IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan....................................................................................................11
4.2 Saran..............................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................12

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Critical jurnal review yang berbentuk makalah ini berisi tentang kesimpulan dari
perbandingan yang akan penulis lakukan pada dua jurnal dengan materi jurnal yaitu
“Penataan Ruang Perkotaan yang Berkelanjutan, Berdaya Saing, dan Berotonomi” dan
“Peranan Geografi untuk Pembangunan Nasional di Era Global”. Penulis juga menyertakan
ringkasan dari masing-masing jurnal, dimana kedua jurnal memiliki judul yang hampir sama
dalam pembahasannya.
Dalam mengkritik jurnal tersebut, maka penulis dapat mengetahui perbedaan antara
kedua jurnal. Dan juga mengetahui kelebihan dan kekurangan dari masing-masing
jurnal.Pembuatan Critical Jurnal Report ini bertujuan untuk memenuhi tugas individu KKNI.
Semoga usaha ini dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan bagi penyusun khususnya.
1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penulisan Critical Jurnal Review ini adalah:

1. Bagaimana isi ringkasan jurnal-jurnal tersebut?


2. Bagaimana perbandingan isi dari setiap jurnal?
3. Bagaimana kelebihan dan kekurangan jurnal tersebut?

1.3 Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penulisan critical jurnal review ini adalah
untuk dapat memberikan informasi dari setiap jurnal serta dapat dipahami oleh para pembaca
secara mendalam mengenai setiap jurnal tersebut melalui isi ringkasan yang diikuti oleh
kelemahan dan kelebihan dari setiap jurnal.

3
BAB II
ISI RINGKAS JURNAL
2.1 Identitas Jurnal

Jurnal I Jurnal II
Judul jurnal Penataan Ruang Perkotaan yang Peranan Geografi untuk Pembangunan
Berkelanjutan, Berdaya Saing, dan Nasional di Era Global
Berotonomi
Tahun Terbit 2011 -
Penulis I Wayan Suweda Prof. Dr. Hartono, DEA, DESS
Reviewer Islamiah Tri Adinda

2.2 Ringkasan Jurnal

A. Jurnal Penataan Ruang Perkotaan yang Berkelanjutan, Berdaya Saing, dan


Berotonomi

Pendahuluan

Perkembangan teknologi mendorong lahirnya sistem transportasi yang lebih andal dan
sangat berpengaruh pada bentuk suatu kota. Keberadaan sistem transportasi, seperti
transportasi umum, memiliki syarat-syarat agar dapat melayani denyut kehidupan perkotaan
tersebut. Kendaraan pribadi pun harus tetap diperhitungkan. Hanya saja, pembangunan
infrastruktur jalan menyebabkan rusaknya pola perkotaan karena hanya didasarkan pada
pertimbangan teknis jalan raya dan kebutuhan untuk menciptakan sistem transportasi yang
aman, nyaman, dan ekonomis.
Trancik (1986) berpendapat bahwa dalam satu ruang perkotaanyang bagus,antara
ruangdan massanya haruslah memiliki hubungan yang baik sehingga bentukan antara ruang
solid (massa bangunan) dan ruang void (ruang terbuka) memenuhi standar perencanaan yang
ideal. Setelah terdefinisi dengan baik dan memiliki keterkaitan, kawasan perkotaan juga harus
memiliki makna dan aktivitas sebagai generator kegiatan di wilayah tersebut, sehingga akan
menjadi pusat kegiatan warganya.

Latar Belakang
Ada 3 faktor utama yang menyebabkan berbagai permasalahan muncul di
perkotaan,yaitu pertambahan penduduk, bertambahnya aktivitas kegiatan dan bertambah
luasnya ukuran wilayah terbangun perkotaan. Akibat urbanisasi pula, tahun 2008, untuk
pertama kali penduduk dunia lebih dari 50% berada di perkotaan. Di Indonesia sendiri, saat

4
ini diperkirakan 41% penduduk tinggal di perkotaan. Khusus wilayah Jawa-Bali 55%
penduduk berada di perkotaan. Tahun 2025 di perkirakan 65% penduduk akan menghuni
perkotaan terutama di 16 kota besar yang ada di Indonesia
Pertambahan penduduk telah memunculkan kota-kota metropolitan yang berimbas kepada
bertambahnya angka kemiskinan, kurangnya lapangan pekerjaan, tumbuhnya kawasan kumuh di
perkotaan, meningkatnya kebutuhan perumahan sederhana dan murah, kemacetan lalulintas yang
makin meningkat, terbatasnya akses terhadap jaringan air minum / bersih dan sanitasi, makin
berkurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH), penanganan masalah persampahan yang kurang terpadu,
dan kebijakan pengelolaan sektor informal (PKL) yang belum optimal. Akibatnya, kualitas
lingkungan perkotaan menurun dan menimbulkan kawasan kumuh. Sementara itu, kualitas angkutan
umum yang rendah juga sebanding dengan terbatasnya kapasitas jaringan jalan di perkotaan.

Konsep Pembangunan Berkelanjutan


Solusi permasalahan umumnya cenderung berbasis pada multi aspek atau sektor, yaitu
melalui pengelolaan perkotaan, manajemen keterkaitan antar kota dalam sistem perkotaan,
dan melalui kerja sama antar wilayah. Oleh karena itu, perlu adanya fungsi entity pada
sebuah wilayah atau kawasan yang meliputi nyaman atau layak huni, memenuhi kebutuhan
manusia akan kenyamanan hidup, fisik, sosial budaya, dan lingkungan, berkelanjutan,
berkeadilan, pendorong pertumbuhan, dan sebagainya. Menurut Brundlant (2001),
pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi keperluan hidup manusia
pada masa kini tanpa mengabaikan keperluan hidup manusia di masa depan. Pembangunan
ini telah diatur dalam PP No. 26 Tahun 2008 dan UU No. 26 Tahun 2007. Tiga matra harus
dipenuhi untuk pembangunan berkelanjutan, yakni keberlanjutan pertumbuhan ekonomi,
keberlanjutan sosial budaya, dan keberlanjutan kehidupan lingkungan (ekologi ) manusia dan
segala eksistensinya.

Penutup

Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa pengembangan kawasan perkotaan


perlu mempertimbangkan pro growth, pro green, pro job, dan pro poor. Prinsip-prinsip
perencanaan dan perancangan juga perlu menyesuaikan dengan tingkat perkembangan
lingkungan strategis perkotaan. Oleh karena itu, perkotaan tidak akan menjadi kawasan
kumuh, melainkan menjadi perkotaan yang berkelanjutan untuk mewujudkan pembangunan
berkelanjutan.

5
B. Jurnal Peranan Geografi untuk Pembangunan Nasional di Era Global

Pendahuluan
Dalam pandangan geografi, problema terkait ruang (sumberdaya alam, mitigasi bencana,
degradasi lingkungan, batas wilayah dan negara, alih fungsi lahan) perlu memperoleh
perhatian yang serius, mengingat bahwa hal-hal tersebut menyangkut hajat hidup rakyat yang
perlu diprioritaskan. Pemberdayaan SDA bagi kesejahteraan rakyat dan bagi pelaksanaan
otonomi daerah, memerlukan data dan informasi geospasial SDA pada berbagai jenjang
kerincian dari jenjang makro hingga jenjang mikro, dari skala 1:1.000.000 hingga skala
1:1.000. Hal terakhir ini telah diatur dalam UU 4/2011. Pengelolaan data dan informasi
geospasial dapat terselenggara berkat peranan penting teknologi informasi geografi
(penginderaan jauh, system informasi geografi, GPS, kartografi, dll).
Strategi dan kebijakan dalam otonomi daerah meliputi Aspek Kelembagaan, Aspek
Sumberdaya Manusia, Aspek Perencanaan, Aspek keuangan daerah, Aspek Logistik (sarana
dan prasarana), Aspek Hukum, Aspek Konflik. Aspek SDM memegang kunci penting dalam
pengelolaan SDA yang terdapat di kabupaten tersebut. Pemanfaatan ruang, eksploitasi SDA
dan LH, sistem informasi geografi dan pemanfaatan serta aplikasi data dan informasi
sumberdaya sangat penting untuk digunakan dalam berabgai tahap pembangunan agar dicapai
hasil yang lestari.

Geografi dan dan Informasi Geospasial


Geografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bumi dan hubungannya dengan
kehidupan manusia. Ilmu pendukung geografi antara lain meliputi hidrologi, geomorfologi,
pedologi, geografi kota, desa, dan didukung oleh teknologi informasi geografi. Daerah yang
tidak memiliki sumberdaya air tawar, manusia mampu mendestilasi air laut untuk
menghasilkan air minum dan kebutuhan domestik lainnya (di pulau-pulau terpencil).
Hagget (1978) menyebutkan bahwa geografi memiliki tiga pisau análisis dalam
pendekatannya untuk mempelajari fenomena bumi, yaitu pendekatan ekologik, spasial dan
wilayah. Ketiga pendekatan tersebut secara nyata telahh diterapkan dalam pembangunan
nacional, dan memberikan hasil yang baik. Pendataan pulau baru mencapai 13466, itupun
belum sempurna. Hal-hal tersebut adalah contoh persoalan spasial dan wilayah, yang masih
sangat diperlukan di Indonesia.
Data dan informasi geospasial dapat berupa peta dasar, peta tematik, citra foto udara,
citra satelit, chart, denah, maket, sistem informasi spasial, baik yang statik maupun dinamik.

6
Teknologi pengelolaan informasi geospasial memanfaatkan teknologi ICT dengan intens,
sehingga bidang kajian geografi tidak hanya meliputi geografi fisik dan geografi manusia,
tetapi juga didukung oleh teknologi informasi geografi, yang menjadikan kajian geografi
makin bermakna. Pengolahan citra penginderaan jauh, dapat dimanfaatkan untuk berbagai
aplikasi, terutama dalam bidang SDA dan LH. Manfaat tersebut antara lain perolehan data
dan informasi tentang jenis, luas, distribusi, dan kualitas SDA dan LH secara cepat dan
perubahan-perubahannya. Berbagai SNI telah diterbitkan, untuk memberikan panduan
tentang kompetensi dan spesifikasi produk spasial tertentu (Panduan penyusunan Peta Rupa
Bumi, dll).

Peran Geografi dan Informasi Geospasial untuk Pembangunan Nasional


Program pembangunan nasional tahun 2000, tercantum dalam UU No. 25 tahun 2000,
bab X memuat Program Pengembangan dan Peningkatan Akses Informasi sumberdaya alam
(SDA) dan Lingkungan Hidup (LH). UU tersebut dengan jelas mewajibkan pada semua
spasial data provider untuk mengembangkan sisem informasi spasial geografis, yang dapat
memberikan layanan kepada masyarakat secara real time dan menyeluruh. Enam model
pendekatan telah dilakukan untuk melokalisir cebakan emas, dengan menggunakan data peta,
citra satelit, citra aeromagnetic dan survey lapangan. Enam pendekatan tersebut 6 adalah,
Chemically-reactive host rocks, Metal source rocks, Igneous heat sources, Faults,
Hydrothermal alteration, Geochemical.
Kekeringan, menyusutnya volume air permukaan, pendangkalan danau dan rawa, telah
dilaporkan dalam berbagai media. Kajian Rawa Biru oleh WWF dan Fakultas Geografi UGM
2003, menunjukan fenomena tersebut. Analisis spasial holistic dengan overlay, dilakukan
dengan menggunakan berbagai variable abiotik sebagai input (geologi, geomorfologi, tanah,
dan liputan lahan) dan mampu menunjukan potensi akuifer. Fakta menunjukan bahwa hutan
berkurang >1 juta Ha per tahun, melalui penebangan resmi maupun yang tidak resmi.
Penebangan hutan, >1,2 juta Ha per tahun, ekploitasi sumber-sumber air, mineral dan
minyak bumi, yang tidak proporsinal, over fishing di berbagai perairan karena racun, bom
dan praktek menyimpang lainnya, alih fungsi lahan yang terus berlanjut, polusi, merupakan
ancaman laten terhadap perubahan-perubahan iklim yang mengancam kehidupan kini dan
yang akan dating. Kita wajib bersyukur, karena bencana, telah memunculkan kesadaran
bahwa kehidupan kita sebenarnya bersanding dengan bencana. Hal itu lambat laun
diharapkan makin dapat diterima sebagai suatu Rahmat oleh seluruh masyarakat.

7
Data dan informasi sumberdaya, lingkungan, kerusakan lingkungan, akibat bencana,
fenomena kerusakan lahan, kebakaran hutan, alih fungsi lahan dan global change yang
dikemas dengan baik merupakan bahan ajar yang amat berguna bagi anak didik. Bentuk
penyajian dapat dalam bentuk denah, maket, poster, peta, peta foto, ortofoto, spasiomap, dan
tayangan multimedia statik dan dinamik, akan meningkatkan pemahaman kondisi
sumberdaya dan lingkungan dan pada gilirannya akan menumbuhkan rasa cinta tanah air.

Pembangunan Berkelanjutan Blue Economy


Sunoto (2013) mengemukakan bahwa sensi dari konsep Ekologi adalah “Pembangunan
berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi
kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri”, tidak merusak
sistem alam, atmosfir, air, tanah, dan makhluk hidup, mengurangi pencemaran dan kerusakan
lingkungan, mengendalikan eksploitasi sumberdaya alam.
Cara kerja ekosistem dijadikan model Blue Economy, yaitu seperti air mengalir dari
gunung membawa nutrien dan energi untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan seluruh
makhluk hidup dan tanaman, limbah dari sesuatu menjadi makanan bagi yang lain, limbah
dari satu proses menjadi bahan baku/sumber energi bagi yang lain. Prinsip konsep ini adalah
meningkatkan efisiensi SDA dan nilai ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat,
meningkatkan aktivitas ekonomi dengan konsep pembangunan berkelanjutan, meningkatkan
aksesibilitas masyarakat lokal terhadap sumberdaya ekonomi, mendorong berkembangnya
investasi inovatif dan kreatif untuk peningkatan efisiensi dan nilai tambah sumberdaya alam,
mengembangkan system pengelolaan SDA secara seimbang antara pemanfaatan dan
pelestarian lingkungan.

Kesimpulan
Geografi sebagai cabang ilmu yang sudah mapan, telah terbukti kemantapan konsep,
pengertian, pendekatan, analisis dan aplikasinya bagi pembangunan di indonesia. Peran
geografi tersebut antara lain, selain sebagai salah unsur pembentuk negara, juga mendukung
ketahanan pangan, energi, dan wilayah. Teknologi Informasi Geografi, penghasil data
geospasial semakin berkembang dalam hal teknik dan aplikasinya dalam mendukung
pelaksanaan kegiatan pembangunan nasional. Menuju kelestarian lingkungan dan
pemanfaatan sumberdaya, konsep blue economy, yang bertumpu pada pemanfaatan resources
yang efisien dan meminimalisir limbah, perlu diintrodusir dan diterapkan dengan baik, agar
tercapai kelestarian alam dan dapat mensejahterakan rakyat.

8
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Jurnal Penataan Ruang Perkotaan yang Berkelanjutan, Berdaya Saing, dan
Berotonomi

A. Kelebihan
Jurnal tersebut membahas mengenai pembangunan berkelanjutan atau sustainable
development. Setidaknya, solusi yang ditawarkan dari permasalahan di perkotaan bukan
hanya solusi dari teori yang ada. Solusi untuk mewujudkan pembangunan perkotaan
berkelanjutan telah ditawarkan pada bagian penutup, yakni TOD dan eco-city merupakan
alternatif mendorong terwujudnya pembangunan perkotaan berkelanjutan. Sumber-sumber
yang tercantum pada tabel dan gambar jurnal ini merupakan lembaga pemerintah, yakni
Bappenas dan Departemen Pekerjaan Umum. Lembaga-lembaga tersebut memiliki data
mengenai perbandingan penduduk perkotaan dan perdesaan serta persentase perubahan lahan
sawah tahun 2005-2007.
B. Kelemahan
Berdasarkan segi penulisan dan bahasa, terdapat beberapa kata yang tidak sesuai denga
Ejaan Yang Disempurnakan, misalnya dengan demikian. Kata “dengan demikian” tidak boleh
diletakkan di awal kalimat. Hal ini dikarenakan kata “dengan” merupakan kata penghubung.
Sementara kata penghubung tidak boleh diletakkan di awal kalimat. Kesalahan lain yang
ditemukan dalam jurnal tersebut adalah bahasa Inggris. Ada beberapa kata dalam bahasa
Inggris yang tidak menggunakan “Italic” untuk menandainya. Kata-kata asing seharusnya
diberi tanda khusus untuk membedakannya dengan bahasa Indonesia.
Apabila dilihat dari isinya, maka secara keseluruhan isinya bagus. Hanya saja, bahasanya
akan sulit dipahami bagi orang-orang awam. Ada beberapa kata yang hanya dapat dipahami
oleh ahlinya. Kata-kata tersebut meliputi konsolidasi fiskal, stimulus fiskal,eco region, dan
lain-lain. Setidaknya, kata-kata yang sulit dipahami diberi sedikit penjelasan agar orang
awam juga mengerti isi jurnal tersebut.

9
3.2 Jurnal Peranan Geografi untuk Pembangunan Nasional di Era Global
A. Kelebihan
Penggunaan kalimat dengan komposisi S-P-O-K yang baik sudah mulai diterapkan secara
jelas di jurnal tersebut. Hal ini mengartikan bahwa penulis memiliki pemahaman dari segi
penulisan dan bahasa. Apabila dilihat dari isinya, maka jurnal tersebut dapat dijadikan
sumber pengetahuan yang dapat dipertanggung jawabkan. Ketika memasuki bagian
pembahasan, penulis menjabarkan tentang konsep pembangunan berkelanjutan dengan
mengkaji dari berbagai sisi yang penting untuk keberlangsungan hidup dengan menyertakan
hasil riset dari masing-masing kajian dengan baik. Sumber-sumber yang tercantum pada tabel
dan gambar jurnal ini merupakan lembaga pemerintah, UU Negara, dan Jurnal Universitas-
Universitas Nasional maupun Internasional yang membuat jurnal ini semakin terpercaya
keakuratannya.
B. Kelemahan
Sama seperti jurnal sebelumnya, pada jurnal ini juga ditemukan ada beberapa kata dalam
bahasa Inggris yang tidak menggunakan “Italic” untuk menandainya. Kata-kata asing
seharusnya diberi tanda khusus untuk membedakannya dengan bahasa Indonesia. Dan
ditambah ada beberapa kalimat yang sulit dipahami oleh orang awam dan hanya dipahami
oleh para ahli dalam bidang yang sama, dimana seharusnya bahasa yang digunakan haruslah
mudah dipahami oleh pembacanya.
Pada jurnal ini tidak ditemukan penyelesaian yag relevan untuk masalah pembangunan
namun lebih mengarah pada pengertian masalah dan penyampaian konsep yang diikuti
prinsip-prinsipnya. Jika pun ada, penyelesaian yag dipaparkan sulit untuk diterapkan karena
tidak dijelaskan dengan rinci dengan kalimat yang mudah dipahami.

10
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Setiap karya tulis pastinya memiliki ciri-ciri yang berbeda-beda antar satu dengan yang
lain,baik itu dari segi bahasanya, kelebihannya, dan kekurangannya. Jurnal pasti mengandung
informasi yang sudah dipaparkan dengan jelas oleh penulisnya terlepas dari kekurangan yang
terkandung dalam setiap jurnal, namun sudah dapat dipastikan setiap jurnal akan membawa
keuntungan bagi pembaca dalam hal pendapatan informasi lebih. Dalam kedua jurnal ini
dengan mengesampingkan segala kekurangannya, terkandung informasi yang sangat yang
bermanfaat dan dapat digunakan bersamaan demi mendapatkan kesempurnaan Informasi.
Diatas telah kami sampaikan ringkasan dan juga kelebihan serta kekurangan dari masing-
masing jurnal yang diharapan dapat menjadi perbandingan antara opini atas pembaca jurnal
tersebut.

4.2 Saran
Didalam kelebihan dari kedua jurnal tersebut agar lebih dipertahankan dan diperkuat
lagi, dan mengenai kekurangan jurnal yang terdapat dalam jurnal diatas dapat menjadi
pembelajaran bersama untuk dapat lebih diteliti lagi untuk mencapai hasil yang lebih
maksimal.

11
DAFTAR PUSTAKA
1. download.portalgaruda.org/article.php?article=12672&val=916
2. https://www.academia.edu/10631178/GEOGRAFI_UNTUK_PEMBANGUNAN

12