Anda di halaman 1dari 14

Nama : Florica Amanda

NPM : 06311254120238

Fakultas : Ilmu Kesehatan

Jurusan : Bidan Pendidik

Mata Kuliah : Asuhan Kebidanan Terkini

Tugas : Individu 2

Semester : 2 (Genap)

JAWAB :

1. Infeksi Nifas

a. Penatalaksanaan Bendungan Payudara

Jika ibu menyusui


a. Sebelum menyusui, pijat payudara dengan lembut, mulailah dari luar kemudian
perlahan-lahan bergerak ke arah puting susu dan lebih berhati-hati pada area yang
mengeras
b.  Menyusui sesering mungkin dengan jangka waktu selama mungkin, susui bayi dengan
payudara yang sakit jika ibu kuat menahannya, karena bayi akan menyusui dengan
penuh semangat pada awal sesi menyususi, sehingga bisa mengeringkannya dengan
efektif
c.   Lanjutkan dengan mengeluarkan ASI dari payudara itu setiap kali selesai menyusui jika
bayi belum benar-benar menghabiskan isi payudara yang sakit tersebut
d.    Tempelkan handuk halus yang sudah dibasahi dengan air hangat pada payudara yang
sakit beberapa kali dalam sehari (atau mandi dengan air hangat beberapa kali), lakukan
pemijatan dengan lembut di sekitar area yang mengalami penyumbatan kelenjar susu
dan secara perlahan-lahan turun ke arah puting susu
e.     Kompres dingin pada payudara di antara waktu menyusui
f.       Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.
2.   Jika ibu tidak menyusui
a.       Gunakan BH yang menopang
b.      Kompres dingin pada payudara utuk mengurangi bengkak dan nyeri
c.       Berikan paracetamol 500 mg per oral setiap 4 jam
d.      Jangan dipijat atau memakai kompres hangat pada payudara
e.       Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk mengevaluasi hasilnya

Terapi dan pengobatan (Prawirohardjo, 2005):


1) Anjurkan ibu untuk tetap menyusui bayinya 
2) Anjurkan ibu untuk melakukan post natal breast care
3) Lakukan pengompresan dengan air hangat sebelum menyusui dan kompres air dingin
sesudah menyusui untuk mengurangi rasa nyeri
4) Gunakan BH yang menopang payudara
5) Berikan paracetamol 500 mg untuk mengurangi rasa nyeri dan menurunkan panas

Penanganan sebaiknya dimulai selama hamil dengan perawatan payudara


untuk mencegah terjadinya kelainan. Bila terjadi juga, maka berikan terapi
simptomatis untuk sakitnya (analgetika), kosongkan payudara, sebelum menyusui
pengurutan dulu atau dipompa, sehingga sumbatan hilang. Kalau perlu berikan
stilbestrol 1 mg atau lynoral tablet 3 kali sehari selama 2-3 hari untuk sementara
waktu mengurangi pembendungan dan memungkinkan air susu dikeluarkan dengan
pijatan.

b. Penanganan Mastititis

Tata laksana mastitis dimulai dengan memperbaiki teknik menyusui ibu. Aliran ASI
yang baik merupakan hal penting dalam tata laksana mastitis karena stasis ASI merupakan
masalah yang biasanya mengawali terjadinya mastitis. Ibu dianjurkan agar lebih sering
menyusui dimulai dari payudara yang bermasalah. Tetapi bila ibu merasa sangat nyeri, ibu
dapat mulai menyusui dari sisi payudara yang sehat, kemudian sesegera mungkin
dipindahkan ke payudara bermasalah, bila sebagian ASI telah menetes (let down) dan
nyeri sudah berkurang. Posisikan bayi pada payudara sedemikian rupa sehingga dagu atau
ujung hidung berada pada tempat yang mengalami sumbatan. Hal ini akan membantu
mengalirkan ASI dari daerah tersebut.
Ibu dan bayi biasanya mempunyai jenis pola kuman yang sama, demikian pula pada
saat terjadi mastitis sehingga proses menyusui dapat terus dilanjutkan dan ibu tidak perlu
khawatir terjadi transmisi bakteri ke bayinya. Tidak ada bukti terjadi gangguan kesehatan
pada bayi yang terus menyusu dari payudara yang mengalami mastitis. Ibu yang tidak
mampu melanjutkan menyusui harus memerah ASI dari payudara dengan tangan atau
pompa. Penghentian menyusui dengan segera memicu risiko yang lebih besar terhadap
terjadinya abses dibandingkan yang melanjutkan menyusui. Pijatan payudara yang
dilakukan dengan jari-jari yang dilumuri minyak atau krim selama proses menyusui dari
daerah sumbatan ke arah puting juga dapat membantu melancarkan aliran ASI.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah ibu harus beristirahat, mengkonsumsi
cairan yang adekuat dan nutrisi berimbang. Anggota keluarga yang lain perlu membantu
ibu di rumah agar ibu dapat beristirahat. Kompres hangat terutama saat menyusu akan
sangat membantu mengalirkan ASI. Setelah menyusui atau memerah ASI, kompres dingin
dapat dipakai untuk mengurangi nyeri dan bengkak. Pada payudara yang sangat bengkak
kompres panas kadang membuat rasa nyeri bertambah. Pada kondisi ini kompres dingin
justru membuat ibu lebih nyaman. Keputusan untuk memilih kompres panas atau dingin
lebih tergantung pada kenyamanan ibu.

Perawatan di rumah sakit dipertimbangkan bila ibu sakit berat atau tidak ada yang
dapat membantunya di rumah. Selama di rumah sakit dianjurkan rawat gabung ibu dan
bayi agar proses menyusui terus berlangsung.

Penggunaan obat-obatan

Meskipun ibu menyusui sering enggan untuk mengkonsumsi obat, ibu dengan
mastitis dianjurkan untuk mengkonsumsi beberapa obat sesuai indikasi.

Analgesik

Rasa nyeri merupakan faktor penghambat produksi hormon oksitosin yang berguna
dalam proses pengeluaran ASI. Analgesik diberikan untuk mengurangi rasa nyeri pada
mastitis. Analgesik yang dianjurkan adalah obat anti inflamasi seperti ibuprofen.
Ibuprofen lebih efektif dalam menurunkan gejala yang berhubungan dengan peradangan
dibandingkan parasetamol atau asetaminofen. Ibuprofen sampai dosis 1,6 gram per hari
tidak terdeteksi pada ASI sehingga direkomendasikan untuk ibu menyusui yang
mengalami mastitis.

Antibiotik

Jika gejala mastitis masih ringan dan berlangsung kurang dari 24 jam, maka
perawatan konservatif (mengalirkan ASI dan perawatan suportif) sudah cukup membantu.
Jika tidak terlihat perbaikan gejala dalam 12 - 24 jam atau jika ibu tampak sakit berat,
antibiotik harus segera diberikan. Jenis antibiotik yang biasa digunakan adalah
dikloksasilin atau flukloksasilin 500 mg setiap 6 jam secara oral. Dikloksasilin
mempunyai waktu paruh yang lebih singkat dalam darah dan lebih banyak efek
sampingnya ke hati dibandingkan flukloksasilin. Pemberian per oral lebih dianjurkan
karena pemberian secara intravena sering menyebabkan peradangan pembuluh darah.
Sefaleksin biasanya aman untuk ibu hamil yang alergi terhadap penisillin tetapi untuk
kasus hipersensitif penisillin yang berat lebih dianjurkan klindamisin.

Antibiotik diberikan paling sedikit selama 10 - 14 hari. Biasanya ibu menghentikan


antibiotik sebelum waktunya karena merasa telah membaik. Hal ini meningkatkan risiko
terjadinya mastitis berulang. Tetapi perlu pula diingat bahwa pemberian antibiotik yang
cukup lama dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi jamur pada payudara dan vagina.

Pada penelitian yang dilakukan Jahanfar diperlihatkan bahwa pemberian antibiotik


disertai dengan pengosongan payudara pada mastitis mempercepat penyembuhan bila
dibandingkan dengan pengosongan payudara saja. Sedangkan penelitian Jimenez dkk.
memperlihatkan bahwa pemberian Lactobacillus salivarius dan Lactobacillus gasseri
mempercepat perbaikan kondisi klinik pada kasus mastitis yang sementara mendapat
antibiotik.

c. Penanganan Metristis

Penanganan yang dapat dilakukan yaitu.

a.      Berikan transfusi darah jika dibutuhkan (packet red cell)


b.      Berikan antibiotik spektrum luas dalam dosis yang tinggi
c.      Pertimbangakan pemberian anti tetanus profilaksis
d.      Bila dicurigai adanya sisa plasenta, lakukan pengeluaran ( digital atau dengan kuret
tumpul besar)
e.       Bila ada pus, lakukan drainase (kalau perlu kalpotomi), ibu dalam posisi flower
f.       Bila tidak ada perbaikan dengan pengobatan konservatif dan ada tanda peritonitis
generalisata, lakukan laparotomi dan keluarkan pus. Bila pada uterus nekrotik dan
septik lakukan histerektomi subtotal.

d. Penanganan Sepsis Puerperalis

Prioritas di dalam penatalaksanaan sepsis puerperalais,antara lain:

1. Kaji kondisi pasien


2. Resusitasi ibu,jika perlu
3. Isolasi ibu sesegera mungkin jika ada dugaan infeksi
4. Ambil spesimen untuk memeriksa organisme penyebab dan pastikan dianosis,dan
5. Mulai berikan terapi antibiotik berspektrum luas.

PENATALAKSANAAN:

1. Isolasi dan batasan pada perawatan ibu

Tujuan dari kegiatan ini adalah mencegah penyebaran infeksi pada ibu lain
dan bayi mereka.prinsip-prinsip keperawatan dasar adalah penting.perawat/bidan
harus:

 Merawat ibu disuatu ruang terpisah ,atau jika hal ini tidak mungkin di pojok bangsal
terpisah dari pasien lain.
 Memungkinkan gown dan sarung tangan pada saat mengunjungi ibu dan gown serta
sarung tangan khusus ini hanya dipakai ketika berhadapan dengan ibu.
 Menyimpan satu set peralatan,alat makan ,dan peralatan dapur lainnya hanya
digunakan untuk ibu dan memastikan bahwa peralatan ini tidak digunakan oleh
orang lain.
 Mencuci tangan sampai bersih sebelum dan setelah mengurusi ibu.
Jika memungkinkan,seorang bidan/perawat khusus harus ditempatkan untuk  merawat
ibu dan bayinya.kalau ada kerabat yang mau membantu merawat pasien itu,hal ini
sangat menolong.Jika begitu,kerabat tersebut harus diajurkan tentang prinsip-prinsip
dasar pencegahan penularan penyakit.Selain itu,penunjang juga harus dibatasai.

2. Pemberian Dosis Tinggi Antibiotik Berspektrum Luas


Kegiatan ini biasanya diresapkan oleh dokter,petugas kebidanan harus mengetahui
cara meresepkan dan memberikan obat-obatan yang tepat.jika secara hukum
tidak memungkinkan,peraturan tersebut harus dikaji kembali.

 Pilihlah antibiotik
Jika ibu tidak sangat sakit (mis.,tidak demam atau hanya demam ringan ,denyut
tidak sangat tinggi,status kesadaran normal ).
 Tidak Lanjut
Jika ibu tidak membaik setelah 48 jam atau laporan laboratorium menyatakan bahwa
bakteri resisten terhadap anti biotik yang diberikan,antibiotik harus diganti.
 Tetanus toksoid
jika ada kemungkinan ibu terserang tetanus (mis.akibat kotaran sapi,lumpur,atau
ramu-ramuan dimasukan kedalam vagina) dan ada keraguan tentang riwayat
vaksinasinya,maka berikan tetanus toksoid.

3. Pemberian Cairan yang Banyak

Tujuan pemberian cairan ini adalah memperbaiki atau mencegah dehidrasi dan
membantu menurunkan demam.

4. Pengeluaran Fragmen Plasenta yang Tertahan


Fragmen plasenta yang tertahan dapat menjadi penyebab terjadinya sepsis
puerperalis.curigai keadaan ini jika uterus lunak dan membesar dan jika lokea
berlebihan dan mengandung bekuan darah.Ibu harus segera di rujuk.
5. Pemberian Asuhan Keperawatan yang Terlatih
Hal ini memerlukan perhatian yang seksama baik untuk kenyamanan ibu maupun
untuk melaksanakan instruksi dokter.
berikut ini adalah hal yang penting:
 Menganjurkan ibu untuk beristiraht di tempat tidur
 Memantau tanda-tanda vital
 Mengukur asupan dan pengeluaran
 Menjaga agar catatan tetap akurat,dan
 Mencegah penyebaran infeksi dan infeksi silang.

Masalah praktik yang mungkin muncul,meliputi:

 Fasilitas tidak memungkinkan untuk melakukan isolasi yang layak


 Kurangnya staf menyebabkan tidak mungkin untuk mengalokasikan seorang
bidab/perawat untuk memberikan perawatan.

Bidan juga harus akurat dalam semua obsevasi,catatan,dan juga pelaporannya.

2. Penanganan Asfiksia Neonatorum

1.      Selalu mencuci tangan dan menggunakan sarung tanagn bersih// DTT sebelum
menangani bayi baru lahir. Ikuti praktek pencegahan infeksi yang baik pada saat
merawat dan melakukan resusitasi pada bayi baru lahir
2.      Ikuti langkah pada standar 13 untuk perawatan segera bayi baru lahir
3.      Selalu waspada untuk melakukan resusitasi bayi baru lahir pada setiap kelahiran bayi,
siapkan semua peralatan yang diperlukan dalam keadaan bersih, tersedia, dan
berfungsi dengan baik
4.      Segera setelah bayi lahir, nilai keadaan bayi, letakkan di perut ibu dan segera
keringkan bayi dengan handuk bersih dan hangat. Setelah bayi kering, selimuti bayi
termasuk bagian kepalanya dengan handuk baru yang bersih dan hangat
5.      Nilai bayi dengan cepat untuk memastikan bahwa bayi bernafas/menangis sebelum
menit pertaam nilai APGAR, jika bayi tidak menangis dengan keras, bernafas dengan
lemah atau bernafas dengan cepat dan dangkal, pucat atau biru dan atau lemas
-          Baringkan terlentang dengan benar pada permukaan yang datar, kepala sedikit
ditengdahkan agar jalan nafas terbuka. Bayi harus tetap diselimuti. Hal ini
penting untuk mencegah hipotermi pada bayi
-          Hisap mulut dan kemudian hidung bayi dengan lembut dengan bola karet
penghisap DTT atau penghisap DeLee DTT/ steril. ( jangan memasukkan alat
penghisap terlalu dlam pada kerongkongan bayi. Penghisapan terlalu dalam akan
mengakibatkan bradikardi, denyut jantung tak teratur atau spasme pada laring/
tenggorokan bayi )
-          Berikan stimulasi taktil dengan lembut pada bayi ( gosok punggung bayi, atau
menepuk dengan lembut atau menyentil kaki bayi, keduanya aman dan efektif
untuk menstimulasi bayi ). Nilai ulang keadaan bayi. Jika bayi mulai menangis
atau bernafas dengan normal, tidak perlu tindakan lanjutan. Lanjutkan dengan
perawatan bagi bayi baru lahir normal, jika bayi tetap tidak menangis atau tidak
bernafas dengan normal ( 40-60 kali / menit ), teruskan dengan ventilasi
6.      Melakukan ventilasi pada bayi baru lahir :
-          Letakkan bayi dipermukaan datar, diselimuti dengan baik
-          Periksa kembali posisi bayi baru lahir. Kepala harus sedikit ditengadahkan
-          Pilih masker yang ukurannya sesuai ( 0 untuk bayi kecil dan 1 untuk bayi yang
lahir cukup bulan ). Gunakan ambubag dan masker atau sungkup
-          Pasang masker dan periksa pelekatannya. Pada saat dipasang dimuka bayi,
masker harus menutupi dagu, mulut, dan hidung
-          Lekatkan wajah bayi dan masker
-          Remas kantung ambubag/ atau bernafaslah kedalam sungkup
-          Periksa pelekatannya dengan cara ventilasi dua kali dan amati apakah dadanya
mengembang. Jika dada bayi mengembang, mulai ventilasi dengan kecepatan 4
sampai 60 kali / menit
-          Jika dada bayi tidak mengembang :
·      Perbaiki posisi bayi dan tengadahkan kepala lebih jauh
·       Periksa hidung dan mulut apakah ada darah, mucus, atau cairan ketuban.
Lakukan penghisapan jika perlu
·      Remas kantung ambu lebih keras untuk meningkatkan tekanan ventilasi
-          Ventilasi bayi selama 1 menit, lalu hentikan, nilai dengan cepat apakah bayi
bernafas spontan ( 30 – 60 kali/ menit ) dan tidak ada pelekukan dada atau
dengkuran, tidak diperlukan resusitasi lebih lanjut. Teruskan dengan langkah
awal perawatan bayi abru lahir
-          Jika bayi belum bernafas, atau pernafasannya lemah, teruskan ventilasi. Bawa
bayi ke rumah sakit atau puskesmas, teruskan ventilasi bayi selama perjalanan
-          Jika bayi mulai menangis, hentikan ventilasi, amati bayi selama 5 menit. Jika
pernafasan sesuai batas normal ( 30 – 60 kali/ menit ), teruskan dengan langkah
awal perawatan bayi baru lahir
-          Jika pernafasan bayi kurang dari 30 kali/ menit teruskan ventilasi dan bawa ke
tempat rujukan
-          Jika terjadi pelekukan dada yang sangat dalam, ventilasi dengan oksigen jika
mungkin. Segera bawa bayi ke tempat rujukan, teruskan ventilasi
7.      Lanjutkan ventilasi sampai tiba di tempat rujukan, atau sampai keadaan bayi membaik
atau selama 30 menit ( membaiknya bayi ditandai dengan warna kulit merah muda,
menangis, atau bernafas spontan )
8.      Kompresi dada :
-          Jika memungkinkan, dau tenaga kesehatan terampil diperlukan untuk melakukan
ventilasi dan kompresi dada
-          Kebanyakan bayi akan membaik hanya dengan ventilasi
-          Jika ada 2 tenaga kesehatan terampil dan pernafasan bayi lemah atau kurang dari
30 kali/ menit dan detak jantung kurang dari 60 kali/ menit setelah ventialsi
selama 1 menit, tenaga kesehatan yang kedua mulai melakukan kompresi dada
dengan kecepatan 3 kompresi dada berbanding 1 ventilasi
-          Harus berhati-hati pada saat melakukan kompresi dada tulang rusuk bayi masih
peka dan mudah patah, jantung dan paru-prunya mudah terluka
-          Lakuakn tekanan pada jantung, dengan cara meletakkan kedua jari tepat dibawah
garis putting bayi, ditengah dada ). Dengan jari-jari lurus, tekan dada sedalam 1-
1,5 cm
9.      Setelah bayi bernafas normal, periksa suhu. Jika suhu di bawah 36,5 C, atau punggung
sangat dingin, lakukan pengahngatan yang memadai, ikuti standar 13. ( penelitian
menunjukkan, bahwa jika tidak terdapat alat-alat, kontak kulit ibu ke bayi akan sangat
membantu menghanagtkan bayi. Hal ini dilakukan dengan mendekapkan bayi pada
ibunya rapat ke dada, agar kulit ibu bersentuhan dengan kulit bayi, lalu selimuti ibu
yang sedang mendekap bayinya )
10.  Perhatikan warna kulit bayi, pernafasan, dan nadi bayi selama 2 jam. Ukur suhu bayi
stiap jam hingga normal 9 36,5 c-37,5c )
11.  Jika kondisinya memburuk, rujuk ke fasilitas rujukan terdekat, dengan tetap
melakukan penghangatan
12.  Pastikan pemantauan yang sering pada bayi selama 24 jam selanjutnya. Jika tanda-
tanda kesulitan bernafas kemabli terjadi, persiapkan untuk membawa bayi segera ke
rumah sakit yang paling tepat
13.  Ajarkan ibu, suami/ keluarganya tentang bahaya dan tanda-tandanya pada bayi baru
lahir. Anjurkan ibu, suami/ keluarganyaaagar memperhatikan dengan baik-baik. Jika
ada tanda-tanda sakit atau kejang, bayi harus segera dirujuk ke rumah sakit atau
menghubungi bidan secepatnya
14.  Catat dengan seksama semua perawatan yang diberikan.

3. Penanganan BBLR

– Pemberian vitamin K1
– Injeksi 1 mg IM sekali pemberian; atau
– Per oral 2 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur 3-10 hari, dan umur 4-6 minggu).
– Mempertahankan suhu tubuh normal
– Gunakan salah satu cara menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi, seperti
kontak kulit ke kulit, kangaroo mother care, pemancar panas, inkubator, atau ruangan
hangat yang tersedia di fasilitas kesehatan setempat sesuai petunjuk
– Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin
– Ukur suhu tubuh sesuai jadwal
– Pemberian minum
– ASI merupakan pilihan utama
– Apabila bayi mendapat ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang cukup dengan cara
apapun, perhatikan cara pemberian ASI dan nilai kemampuan bayi menghisap paling
kurang sehari sekali
– Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20 g/hari selama 3
hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu.
– Pemberian minum minimal 8x/hari. Apabila bayi masih menginginkan dapat diberikan
lagi (ad libitum).
– Indikasi nutrisi parenteral yaitu status kardiovaskular dan respirasi yang tidak
stabil, fungsi usus belum berfungsi terdapat anomali mayor saluran cerna, NEC, IUGR
berat, dan berat lahir 1000 g.
Pada bayi sakit, pemberian minum tidak perlu dengan segera ditingkatkan selama tidak
ditemukan tanda dehidrasi dan kadar natrium serta glukosa normal.

Panduan pemberian minum berdasarkan BB:


– Berat lahir  500 U/L berikan
fosfat 2-3 mmol/kg/hari dibagi 3 dosis.
– Imunisasi yang diberikan sama seperti bayi normal kecuali hepatitis B.
– Bila perlu siapkan transportasi dan atau rujukan.

4. Penanganan Hipotermi

Pada fase Hipotermi ringan, korban dapat dibantu menghangatkan dirinya dengan
panas tubuhnya sendiri yaitu dengan dilepaskan semua pakaian yang basah dan diganti
dengan pakaian kering, kemudian dibungkus dengan selimut thermal darurat (emergency
thermal blanket) dan dimasukkan ke dalam sleeping bag. Cara ini di sebut Penghangatan
Pasif (Passive Rewarming).

Pada fase hipotermia sedang, jika nampak gejalanya segera hangatkan korban dengan
api unggun, selimut thermal darurat atau dengan air hangat dalam kemasan botol atau
hydration bag (camel bag) yang ditempelkan ke tuibuh korban. Panas tubuh orang lain
juga bisa digunakan dengan cara dibungkus bersama dalam selimut thermal darurat
(emergency thermal blanket) dan dimasukkan dalam sleeping bag. Cara ini disebut
Penghangatan Aktif (Active Rewarming)

Pada hipotermia berat sebisa mungkin hangatkan tubuh korban dan segera mungkin
mendapatkan penanganan medis. Jika terjadi henti jantung segera lakukan Resusitasi
Jantung Paru (Cardio Pulmonary Resusitation / CPR) sesuai standard.

Jurus paling jitu mengatasi hipotermia adalah mencegahnya terjadi dengan cara
hindari mengenakan pakian basah, selalu bawa pakaian penahan dingin yang cukup dan
saling memperhatikan gejala gejala hipotermia yang terjadi pada diri anda sendiri ataupun
rekan seperjalanan anda.

Emergency Thermal Blanket / Selimut Penahan Panas Tubuh Darurat adalah alat
sederhana, murah, ringkas namun merupakan pertolongan pertama yang dapat
menyelamatkan nyawa dalam kasus hipotermia. Terbuat dari Polyetilene (PE) yang dilapis
dengan material Mylar. Selain dapat menahan 90% panas tubuh, juga dapat dijadikan
Signalling Mirror / Cermin Sinyal. Selalu bawa emergency thermal blanket dalam survival
kit anda.

5. Penanganan Hipoglikemi

Saat ini sudah tersedia alat pengukur kadar gula darah di apotek yang dapat digunakan
oleh penderita diabetes di rumah. Selain diabetes, alat ini juga dapat digunakan untuk
mendiagnosis hipoglikemia. Kadar gula normal seseorang adaah 72 hingga 108 mg/dl
pada saat puasa, dan mencapai 140 mg/dl kurang lebih dua jam setelah makan. Biasanya
gejala hipoglikemia akan mulai dirasakan seseorang jika darah mereka di bawah 70 mg/dl.
Ketika gejala hipoglikemia muncul, segera konsumsi makanan-makanan yang
mengandung kadar gula tinggi, seperti jus buah, permen, atau minuman ringan,. Selain itu,
Anda juga dapat mengonsumsi makanan yang kandungan karbohidratnya bisa diubah
menjadi gula dengan cepat oleh tubuh,  seperti roti lapis, sereal, atau biskuit. Setelah 15
menit, periksa kembali kadar gula Anda. Jika masih tetap di bawah 70 mg/dl, konsumsi
kembali makanan-makanan pendongkrak kadar gula tadi. Lakukan terus pengecekan tiap
15 menit sekali hingga kadar gula Anda berada di atas 70 mg/dl. Setelah kadar gula
kembali normal, jagalah agar tetap stabil dengan mengonsumsi makanan atau camilan
sehat. Jika gejala tergolong parah atau penanganan awal tidak efektif sehingga kondisi
Anda memburuk, maka segera ke dokter atau rumah sakit. Di rumah sakit, biasanya dokter
akan langsung memberikan suntikan glukagon atau cairan infus yang mengandung
glukosa agar kadar darah Anda kembali normal. Pastikan untuk tidak memasukkan
makanan atau minuman apa pun ke mulut saat penderita dalam kondisi tidak sadar untuk
menghindari sesak. Selain tes darah, dokter juga akan memeriksa fungsi organ hati, ginjal,
kelenjar adrenal, atau pankreas untuk mengetahui apakah hipoglikemia Anda terjadi akibat
adanya gangguan pada organ-organ tersebut. Jika ternyata benar, maka hipoglikemia baru
bisa sembuh setelah kondisi yang mendasari tersebut diobati. Penanganan dasar bisa
dilakukan dengan obat-obatan, maupun dengan operasi, misalnya untuk mengangkat
tumor pada pankreas. Secara umum, hipoglikemia perlu ditangani secara cepat dan tepat
agar terhindar dari komplikasi seperti kehilangan kesadaran, kejang hingga kematian.
Selalu konsultasikan dengan dokter jenis pengobatan dan aktivitas apa yang tepat untuk
Anda.
6. Penanganan Kejang Pada BBL

Prinsip tindakan untuk mengatasi kejang


 Menjaga jalan nafas tetap bebas
 Mengatasi kejang dengan memberikan obat anti kejang
 Mengobati penyebab kejang
Penanganan kejang pada BBL
 Bayi diletakan dalam tempat hangat, pastikan bayi tidak kedinginan, suhu
dipertahankan 36,5-37ᴼC
 Jalan nafas dibersihkan dengan tindakan penghisapan lendir diseputar mulut,
hisung dan nasofaring
 Pada bayi apnea, pertolongan agar bayi bernafas lagi dengan alat Bag to Mouth
Face Mask oksigen 2 liter/menit
 Infus
 Obat antispasmodik/anti kejang : diazepam 0,5 mg/kg/supp/im setiap 2 menit
sampai kejang teratasi dan luminal 30 mg im/iv
 Nilai kondisi bayi tiap 15 menit
 Bila kejang teratasi berikan cairan infus dextrose 10% dengan tetesan
60ml/kgBB/hr
 Cari faktor penyebab :
o Apakah mungkin bayi dilahirkan dari ibu DM
o Apakah mungkin bayi prematur
o Apakah mungkin bayi mengalami asfiksia
o Apakah mungkin ibu bayi emnghisap narkotika
o Kejang sudah teratasi, diambil bahan untuk pemeriksaan laboratorium
untuk mencari faktor penyebab, misalnya : darah tepi, elektrolit darah, gula
darah, kimia darah, kultur darah, pemeriksaan TORCH
o Kecurigaan kearah sepsis (pemeriksaan pungsi lumbal)
o Kejang berulang, diazepam dapat diberikan sampai 2 kali
 Masih kejang : dilantin 1,5 mg/kgBB sebagai bolus iv
diteruskan dalam dosis 20 mg iv setiap 12 jam
 Belum teratasi : phenytoin 15 mg/kgBB iv dilanjutkan 2
mg/kg tiap 12 jam
 Hipokalsemia (hasil lab kalsium darah <8mg%) : diberi
kalsium glukonas 10% 2 ml/kg dalam waktu 5-10 menit . apabila
belum juga teratasi diberi pyridoxin 25-50 mg
 Hipoglikemia (hasil lab dextrosit/gula darah < 40 mg%) :
diberi infus dextrose 10%.