Anda di halaman 1dari 30

TUGAS 3

PERKOPERASIAN

JUDUL
PERANAN KOPERASI DALAM PROGRAM
PENGEMBANGAN EKONOMI SECARA NASIONAL
UNTUK MEWUJUDKAN KEMAKMURAN YANG ADIL
DAN MERATA BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

DIBUAT OLEH :
MUNTASIR
NIM 030693539

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA


FAKULTAS HUKUM, ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TERBUKA

1
DAFTAR ISI

Daftar Isi ............................................................................................................ 2

BAB I PENDAHULUAN

a. Latar Belakang ............................................................................... 3


b. Rumusan Masalah .............................................................................. 5
c. Tujuan Penulisan ............................................................................. 5

BAB II TINJAUAN PUSATAKA

a. Pengertian Koperasi ........................................................................ 6

b. Prinsip Koperasi ............................................................................. 7

c. Fungsi dan Peran Koperasi .................................................................. 10

BAB III PEMBAHASAN

a. Peran Koperasi Terhadap Perekonomian Indonesia Menurut


Moh. Hatta ....................................................................................... 12
b. Bentuk Partisipasi Koperasi Menurut Moh. Hatta ............................. 21
c. Manfaat Koperasi Bagi Perekonomian Menurut Moh. Hatta .............. 23

BAB IV KESIMPULAN ......................................................................................... 29

Daftar Pustaka ............................................................................................................ 30

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Koperasi merupakan badan usaha bersama yang berjuang dalam bidang
ekonomi. Berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 1992 tentang pokok-pokok
perkoperasian bahwa koperasi sebagai organisasi ekonomi rakyat yang bertujuan
untuk memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada
umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka
mewujudkan masyarakat yang maju adil makmur berlandaskan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945.
Dengan kata lain koperasi sebagai badan usaha yang melakukan kegiatan
berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai penggerak ekonomi rakyat yang
berdasar atas azas kekeluargaan. Dengan memperhatikan kedudukan dan tujuan
koperasi seperti tersebut di atas, maka peran koperasi sangatlah penting dalam
menumbuhkan dan mengembangkan potensi ekonomi rakyat serta dalam
mewujudkan kehidupan demokrasi ekonomi yang mempunyai ciri-ciri demokratis,
kebersamaan, kekeluargaan dan keterbukaan.
Dalam kehidupan ekonomi seperti itu koperasi seharusnya memiliki
ruang gerak dan kesempatan usaha yang luas yang menyangkut kepentingan
kehidupan ekonomi rakyat.
Selain itu juga koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat yang
berorientasi untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam upaya
memperkokoh struktur perekonomian nasional dengan demokrasi ekonomi yang
berlandaskan azas kekeluargaan. Oleh karena itu, untuk menyelaraskan dengan
perkembangan lingkungan yang dinamis seperti era globalisasi sekarang, maka
perlu adanya peningkatan usaha yang mampu mendorong koperasi agar dapat
tumbuh dan berkembang menjadi lebih kuat dan mandiri.
Dilihat dari aspek fungsinya, menurut Pasal 4 Undang-Undang no. 25 Tahun
1992, koperasi memiliki empat kegunaan yaitu :

3
1. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota
pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan
kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.
2. Mendukung secara aktif untuk mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan
masyarakat
3. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan
perekonomian masional dengan koperasi sebagai soko gurunya
4. Mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan
usaha bersama berdasar atas nama asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
Sebagai satu-satunya bentuk badan usaha yang paling sesuai dengan
pasal 33 UUD 1945, koperasi mempunyai tujuan seperti yang tercantum dalam
Undang-Undang Nomor 25 pasal 3, yaitu “memajukan kesejahteraan anggota
pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan
perekonomian nasional dalam rangka mewujudkanmasyarakat yang maju, adil,
dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang– Undang Dasar 1945”.
Timbulnya Pasal 33 tersebut diatas menurut Bung Hata yang merupakan
pencetud ide, dilatarbelakangi oleh struktur perekonomian di zaman penjajahan
belanda yang tersusun atas tiga lapisan. Lapisan atas dikuasai oleh kaum penjajah,
yang menguasai sektor-sektor ekonomi yang utama, kemudian laposan kefua
merupakan perantara dipegang oleh orang non-pribumi (terutama Tionghoa) dan
laposan ketiga yang merupakan bagian terbesar, tetapi terdiri dari sektor ekonomi
yang serba kecil ditangani oleh orang-orang pribumi. Untuk mengatasi kesulitan-
kesulitan yang dihadapi oleh bagsa indonesia yang menangani sektor ekonomi yang
serba keccil dan lemah ini hanya mungkin dilakukan dalam wadah koperasi. Bertolak
dari latar belakang diatas penulis tertarik untuk membuat sebuah makalah mengenai
Peranan koperasi dalam program pengembangan ekonomi secara nasional dengan
judul “PERANAN KOPERASI DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN
EKONOMI SECARA NASIONAL UNTUK MEWUJUDKAN KEMAKMURAN
YANG ADIL DAN MERATA BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA”

4
B. RUMUSAN MASALAH
Menjelaskan Bagaimana Peranan Koperasi dalam Pengembangan Ekonomi Secara
Nasional yang adil dan merata bagi seluruh rakyat indonesia Menurut Moh. Hatta

C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan Penulisan ini adalah :
1. Untuk Mengetahui Peranan Koperasi dalam Pengembangan Ekonomi Secara
Nasional yang adil dan merata bagi seluruh rakyat indonesia Menurut Moh. Hatta
2. Untuk Mengetahui penjabaran demokrasi ekonomi sebagai dasar sistem ekonomi
indonesia

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Koperasi merupakan suatu lembaga ekonomi yang saat ini penting dan diperlukan bagi
masyarakat khususnya masyarakat menengah ke bawah, karena koperasi merupakan
sarana bagi orang-orang yang ingin meningkatkan taraf hidupnya. Dasar kegiatan
koperasi adalah gotong royong tanpa membedakan suku, ras, golongan dan agama agar
bersama-sama bersatupadu dan beritikad baik untuk membangun perekonomian dan di
anggap suatu cara untuk memecahkan berbagai masalah atau persoalan yang mereka
hadapi masing-masing.
2.1.1 Pengertian Koperasi

Pengertian Koperasi secara etimologi berasal dari kata cooperation. Co

artinya bersama dan operation artinya bekerja atau berusaha, jadi cooperation

adalah bekerja sama-sama atau usaha bersama-sama untuk kepentingan bersama.

Berdasarkan UU No.25 Tahun 1992 Pasal 1 tentang Perkoperasian,

memiliki definisi sebagai berikut :

“Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau


badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan
prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang
berdasarkan atas asas kekeluargaan”.

Menurut Rudianto (2010:4) pengertian Koperasi adalah :

“Suatu perkumpulan orang yang secara sukarela mempersatukan diri untuk


berjuang meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka melalui pembentukan
sebuah badan usaha yang dikelola secara demokratis”.

Menurut Abrahamson (2010:3) Pengertian Koperasi adalah:

“Badan usaha Koperasi dimiliki oleh anggota, yang merupakan pemakai jasa
(user).Fakta ini membedakan koperasi dengan badan usaha (perusahaan)
bentuk lain yang pemiliknya, pada dasarnya adalah para penanam modalnya
(investor)”.

Dari definisi yang ada tentang Koperasi,terdapat hal-hal yang menyatukan


pengertian tentang koperasi, antara lain :
6
1. Koperasi adalah suatu perkumpulan yang didirikan oleh orang-orang yang
memiliki kemampuan ekonomi terbatas,yang bertujuan untuk
memperjuangkan peningkatan kesejahteraan ekonomi mereka.
2. Koperasi adalah bentuk kerjasama dalam koperasi yang bersifat sukarela.
3. Koperasi adalah perusahaan yang berasaskan kekeluargaan.
4. Masing-masing anggota koperasi memiliki hak dan kewajiban yang sama.

2.1.2 Prinsip Koperasi


Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian,
BAB III tentang Fungsi, Peran, dan Prinsip Koperasi, Pasal 5 menerangkan
bahwa koperasi melaksanakan prinsip Koperasi sebagai berikut:

a. Keanggotaan bersifat sukarela

b. Pengelolaan dilakukan secara demokratis.

c. Pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) dilakukan secara adil sebanding dengan
besarnya jasa usaha yang masing-masing anggota

d. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal.

e. Kemandirian.
Dalam mengembangkan Koperasi, maka Koperasi melaksanakan pula
prinsip Koperasi sebagai berikut :
a. Pendidikan Perkoperasian.
b. Kerjasama antar Koperasi.
Apa yang dapat di informasikan oleh prinsip-prinsip ini merupakan pedoman
atau norma-norma, atau nilai-nilai (Property right) yang sering kali harus
memberikan pedoman bagi kegiatan-kegiatan organisasi yang disebut koperasi
itu sendiri.
Prinsip Koperasi ini merupakan esensi dari dasar kerja Koperasi sebagai badan
usaha dan merupakan ciri khas dan jati diri Koperasi yang membedakannya dari
badan usaha lainnya.
a. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka
Sifat kesukarelaan dalam keanggotaan Koperasi mengandung makna bahwa
menjadi anggota Koperasi tidak boleh dipaksakan oleh siapapun. Sedangkan

7
sifat terbuka memiliki arti bahwa dalam keanggotan tidak dilakukan
pembatasan atau diskriminasi dalam bentuk apapun. Walaupun dalam
pelaksanaannya koperasi diperhadapkan pada aspek ketidakpastian
(uncertainty), sebagai organisasi yang memiliki peran ganda, koperasi
sebenarnya sangat di untungkan denagn prinsip ini karena selain
memfasilitasi seluruh pihak tanpa ada pembatasan, koperasi juga dapat
memupuk modal yang besar dengan ketertiban anggota secara sukarela.
b. Pengelolaan dilakukan secara demokratis
Prinsip demokrasi menunjukkan bahwa pengelolaan Koperasi dilakukan atas
kehendak dan keputusan para anggota. Para anggota memegang kekuasaan
tertinggi dalam Koperasi melalui Rapat Anggota Tahunan (RAT) sehingga
“setiap anggota mempunyai kewajiban dan hak yang sama terhadap Koperasi
sebagaimana diatur dalam anggaran dasar” (Pasal 19 ayat 4 UU No.25 Tahun
1992). Dalam suatu negara, telah terbukti bahwa sistem demokrasi telah
meningkatkanmotivasi dan kreativitas masyarakat dalam berbuat yang terbaik
bagi negara karena pengelolaan negara diselenggarakannya dari rakyat, oleh
rakyat dan untuk rakyat. Berkaitan dengan koperasi, semestinya penerapan
prinsip ini memberikan ruang keterlibatan sebanyak mungkin bagi anggota
dalam proses pengambilan keputusan sehingga dapat meningkatkan motivasi,
kreativitas dan partisipasi anggota.
c. Pembagian Sisa Hasil Usaha ( SHU) dilakukan secara adil sebanding dengan
besarnya jasa usaha masing-masing anggota.
Prinsip ini menggambarkan adanya pembagian SHU kepada anggota yang
tidak terbatas berdasalkan modal yang dimiliki seseorang dalam koperasi
tetapi juga berdasarkan perimbangan jasa usaha anggota terhadap koperasi.
Ketentuan yang demikian ini merupakan perwujudan nilai kekeluargaan dan
keadilan. Dalam beberapa prusahaan, walaupun berbeda konteknya
sebenarnya secara tidak langsung juga menerapkan prinsip ini dalam strategi
pemasarannya. Misalnya beberapa supermarket atau swalayan, dengan sistem
“Keanggotaan/Membership” yang mereka berlakukan ternyata mampu
menjaga loyalitas pelanggannya yang pada akhirnya meningkatkan
keuntungannya. Untuk itu, jika prinsip ini dilakukan secara konsisten oleh

8
koperasi maka tidak diragukan lagi dapat meningkatkan loyalitas anggota
koperasi terhadap koperasi.
d. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal
Modal dalam Koperasi pada dasarnya dipergunakan untuk kemanfaatan
anggota dan bukan untuk sekedar mencari keuntungan. Oleh karena itu, balas
jasa terhadap modal yang diberikan kepada para anggota juga terbatas, dan
tidak didasarkan semata-mata atas besarnya modal yang diberikan. Yang
dimaksud dengan terbatas adalah wajar dalam arti tidakmelebihi suku bunga
yang berlaku di pasar. Penerapan prinsip ini mengidentifikasikan perlunya
kesetiakawanan maupun solidaritas antar sesama anggota koperasi sehingga
dapat memberikan sesuatu yang lebih kepada anggota dibandingkan usaha-
usaha lainnya.
e. Kemandirian
Prinsip kemandirian merupakan perwujudan bahwa koperasi harus mampu
berdiri sendiri, tanpa bergantung pada pihak lain dan melakukan pengelolaan
secara bertanggung jawab, transparan dan akuntabel. Prinsip ini telah menjadi
suatu tujuan utama yang umumnya diharapkan oleh seluruh organisasi.
Dengan kemandirian, suatu organisasi dapat mengelola dan mengembangkan
organisasinya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan organisasi tersebut
tanpa ada intervensi pihak lain sehingga hasilnya pun dapat dinikmati oleh
organisasi tersebut. Dengan penerapan prinsip ini, berarti bahwa dalam
melakukan pelayanan kepada anggota, koperasi tidak bisa mengabaikan usaha
untuk mengembangkan usaha koperasi dan meningkatkan kredibilitas
koperasi, sehingga dapat lebih mensejahterakan anggota.
f. Pendidikan perkoperasian dan kerjasama antar koperasi
Dalam menunjang tercapainya kemandirian dan pengembangan koperasi
maka prinsip pendidikan perkoperasian dan kerjasama antar koperasi menjadi
bagian penting yang mutlak untuk dilakukan. Melalui kedua prinsip ini,
diharapkan dapat meningkatkan kemampuan, memperluas wawasan dan
memperkuat pemahaman anggota, pengurus, badan pengawas dan manajemen
dalam mewujudkan tujuan koperasi, serta dapat menciptakan jaringan yang
luas bagi koperasi baik ditingkat lokal, regional, nasional, maupun

9
internasional dalam melakukan kerjasama untuk menunjang pengembangan
koperasi. Pelaksanaan kedua prinsip ini mutlak dilakukan dalam era
globalisasi ini, karena untuk bisa berkompetisi, apapun organisasinya, faktor
pengetahuan dan jaringan usaha akan memberikan andil besar dalam
mendukung kemampuan organisasi tersebut berkompetisi termasuk koperasi.
Dari gambaran diatas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip koperasi
sampai saat ini masih sangat relevan dengan perubahan ekonomi yang terjadi,
bahkan dalam persaingan yang ketat pun, prinsip-prinsip koperasi telah
diadopsi oleh organisasi-organisasi non koperasi dan terbukti telah
memberikan manfaat yang lebih kepada organisasi-organisasi tersebut.
2.1.3 Fungsi dan Peranan Koperasi
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian,
Koperasi memiliki peran dan fungsi, yakni :
1. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan
ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya.
2. Berusaha mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang
merupakan usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan dan
demokrasi ekonomi.
3. Mengembangkan dan membangun potensi dan kemampuan ekonomi
anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
4. Berperan serta aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan
manusia dan masyarakat.
Menurut M.Iskandar Soesilo (2009:43) peran dan fungsi koperasi adalah
sebagai berikut :

Fungsi Koperasi antara lain adalah


a. Memenuhi kebutuhan anggota untuk memajukan kesejahteraannya
b. Membangun sumber daya anggota dan masyarakat

c. Mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota

d. Mengembangkan aspirasi ekonomi anggota dan masyarakat di lingkungan


kegiatan koperasi

e. Membuka peluang kepada anggotanya untuk mengaktualisasikan diri

10
dalam bidang ekonomi secara optimal.
Peran Koperasi antara lain adalah sebagai berikut :
a. Wadah peningkatan taraf hidup dan ketangguhan berdaya saing para
anggota koperasi dan masyarakat di lingkungannya
b. Bagian integral dari sistem ekonomi rakyat
c. Pelaku strategis dalam sistem ekonomi rakyat
d. Wadah pencerdasan anggota dan masyarakat di lingkungannya.

11
BAB III
PEMBAHASAN

A. Peran Koperasi Terhadap Perekonomian Indonesia Menurut Moh. Hatta


Menurut Moh. Hatta beliau mengemukakan bahwa koperasi adalah usaha
bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong
menolong. Mereka didorong oleh keinginan memberi jasa pada kawan “seorang buat
semua dan semua buat seorang” inilah yang dinamakan Auto Aktivitas Golongan,
terdiri dari :
a. Solidaritas
b. Individualitas
c. Menolong diri sendiri
d. Jujur
UU No. 25 Tahun 1992 (Perkoperasian Indonesia). Koperasi adalah badan
usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan
melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan
ekonomi rakyat yang beradasarkan atas dasar asas kekeluargaan.
Moh. Hatta hingga mengingatkan bagaimana caranya agar kita tidak tergelincir
pada pilihan politik perekonomian yang keliru yaitu yang membunuh akar
kolektivisme itu perlahan-lahan dan membuka peluang seluas-luasnya kepada
kapitalisme yang seperti dikatakan Boeke: kapitalisme yang berusia penuh ini masuk
ke Indonesia sebagai perampas dan menaklukkannya dalam beberapa puluh tahun
saja.
Dengan memakai analisis Boeke, Mohammad Hatta ingin mengatakan bahwa
politik ekonomi kolonial telah membuka pintu selebar-lebarnya untuk kapitalisme
yang keras hati dan merusak infrastruktur sosial tradisional yang ada tanpa dapat
menggantinya. Sebagai penerus tradisi pemikiran pendahulunya, Moh. Hatta
menjawab dengan sistem koperasi.
Sistem ini dipilih karena ia mampu menampung nilai-nilai tradisional serta
menjawab kebutuhan-kebutuhan personal dan komunal. Bagi Boeke, sistem bisnis
koperasi lebih cocok bagi kaum pribumi dari pada bentuk badan-badan usaha
kapitalis. Perkataan Boeke kemudian direalialisasikan Mohammad Hatta dalam

12
wujud ekonomi Pancasila yang tertuang kedalam sistem ekonomi koperasi.
Ekonomi Pancasila sendiri merupakan sistem ekonomi yang didasarkan pada
falsafah kehdiupan bangsa Indonesia, yakni gotong royong dan saling menolong.
Sosialisme pancasila merupakan ideologi dasar dari sistem perekonomian ini, dimana
keadilan sosial didapatkan dari nilai-nilai luhur kehidupan sosial-budaya bangsa
Indonesia serta etika moral yang berasal dari kehidupan religius bangsa Indonesia.
Koperasi di Indonesia belum memiliki kemampuan untuk menjalankan
peranannya secara efektif, hal ini disebabkan koperasi masih menghadapi hambatan
struktural dalam penguasaan faktor produksi khususnya permodalan. Kelangkaan
modal pada koperasi menjadi faktor ganda yang membentuk hubungan sebab akibat
lemahnya perkoperasian di Indonesia selama ini.
Restrukturisasi penguasaan faktor produksi diantaranya dapat dilakukan
melalui pemberian akses yang lebih besar kepada koperasi untuk memperoleh modal,
misalnya menyertakan karyawan dalam suatu koperasi ini perusahaan dalam
pemilikan saham perusahaan. Manfaat dari pemilikan saham oleh koperasi karyawan
ini adalah untuk mempercepat proses pemerataan pembangunan melalui
restrukturisasi penguasaan modal.
Teori ini didasarkan atas asumsi bahwa terdapat hubungan pos antara tingkat
penguasaan modal dengan tingkat pemanfaatan hak pembangunan. Dengan akses
lebih besar terhadap modal, koperasi diharapkan dapat menikmati perolehan
pembangunan secara lebih besar pula. (Sumarna, 1988 ; 52). Secara mikro, dengan
kondisi tersebut maka anggota koperasi dapat meraih manfaat yang llebih besar atas
kegiatan dan usaha koperasi.
Untuk menjamin penyertaan saham oleh koperasi karyawan tersebut, ada tiga
persyaratan yang harus dipenuhi baik bagi koperasi maupun perusahaannya, yaitu:

1. Sehat organisasi
2. Sehat usaha dan
3. Sehat mental
Koperasi mempunyai berbagi macam ciri dan menjalankan berbagai macam
fungsi. Koperasi hanyalah merupakan sarana untuk mencapai tujuan, dan tujuan yang
dapat dicapai melalui koperasi bermacam-macam (Sudjanadi, 1988 ; karena itu,
amatlah sulit untuk membuat batas tentang koperasi yang dapat memusatkan semua
13
pihak. Perbedaan pendapat masih terus terjadi mengenai arti koperasi, baik di tingkat
nasional maupun internasional. Apabla seorang membuat batasan, hal itu hanya
merupakan penekanan yang subyektif mengenai ciri, fungsi atau tujuan koperasi.
Batasan itu merupakan batasan yang bersifat tidak universal melainkan bersifat
operasional (working definition), oleh karena itu mengandung nilai subyektif.
Di atas telah dikemukakan, bahwa tujuan yang dapat dicapai koperasi adalah
bermacam-macam. Namun apapun tujuan akhir yang hendak dicapai melalui
koperasi, satu hal harus selalu dijadikan sasaran antara lain, apabila koperasi
diharapkan agar dapat tumbuh dengan baik dan sehat, yaitu tujuan didirikannya
koperasi adalah untuk memajukan ekonomi anggota. Untuk itu koperasi hasus
melakukan transaksi usaha dengan ekonomi anggotanya.
Yang dimaksud dengan ekonomi anggota (member’s econom) adalah berupa
rumah tangga anggota (kalau para anggotanya konsumen dan berupa perusahaan
(usaha) anggota (kalau para anggotanya pengusaha). Perusahaan milik koperasi harus
secara terus menerus diusahakan agar menjadi sehat dan kuat, dalam hal ini perlu
dilakukan supaya organisasi ekonomi anggota itu berjalan baik dan lancar.
Perusahaan koperasi mempunyai dua sasaran langsung dan harus dicapai secara
serempak, yaitu memperoleh laba dan memajukan ekonomi anggota dengan jalan
memberi pelayanan kepada anggota sesuai dengan kebutuhan ekonominya.
Definisi yang terdapat dalam Undang-Undang No. 12/1967 tentang pokok-
pokok perkoperasian sebagai berikut: “Koperasi Indonesia adalah organisasi ekonomi
rakyat yang berwatak sosial” yang sering kali disingkat menjadi “Koperasi Indonesia
adalah organisasi ekonomi yang berwatak sosial”, dan organisasi ekonomi itu
dimaksudkan sama dengan perusahaan.
Koperasi tidak semata-mata mengejar keuntungan, tetapi juga memberikan
pelayanan kepada para anggota dalam rangka memajukan ekonomi anggota. Koperasi
adalah bentuk organisasi ekonomi yang paling sesuai bagi golongan masyarakat
berpenghasilan rendah. Peran ekonomi secara ekonomis sering kali diukur melalui
sumbangannya terhadap pembentukan produk domestik bruto atau pruduk domestik
regional bruto (PDB/PDRB).
Hal ini mengingat bahwa pengukuran peranan didalam sistem perhitungan
PDB/PDRB hanya mengenal dua bentuk, yaitu menurut sektor kegiatan (seperti

14
pertanian, industri, dan lain-lain). Sedangkan perhitungan PDB berdasarkan
pelakunya hingga saat ini belum pernah dilakukan. Disampig itu, koperasi sesuai
dengan wataknya dan asas sandi dasarnya lebih menekankan pada upaya peningkatan
nilai tambah anggotanya, bukan koperasi sebagai badan usaha yang berdiri sendiri.
Koperasi di Indonesia, angotanya sebagian besar masih berdiri dari
masyarakat yang tingkat ekonomi dan pengetahuannya rendah. Dan di Indonesia
koperasi masih dianggap sebagai wadah yang mempunyai semangat tradisional,
disamping itu selain anggotnya dari masyarakat yang berpendidikan kurang, tenaga
profesional dalam sebuah koperasi di Indonesia belum mencapai 10 persen. Sebagai
mana kegiatan ekonomi lainnya, semestinya koperasi mempunyai pembukuan yang
tertib. Pengolaan, serta volume, wilayah dan pengusahaannya besar. (Darwan
Rahardjo, 1988). Hambatan lain bagi koperasi hingga saat ini, terletak pada motif
masyarakat, baik anggota maupun pengurus masih ada yang bermental lemah.
Anggota dan pengurus itu sudah mempunyai niat jelek terhadap koperasi.
Maju dan berkembangnya koperasi ditentukan oleh modernisasi beberapa
petani dan pengusaha sektor informal yang menjadi anggota koperasi harus didorong
menjadi pengusaha formal yang mengenal medernisasi. Pendidikan bagi anggota dan
pengurus lebih ditingkatkan dari yang ada saat ini. Selain itu, koperasi juga harus
tetap berpegang pada prinsip-prinsip ekonomi, yaitu mencari laba dan memberi
kesejahteraan kepada anggota secara seimbang.
Kenyataan yang ada sangat memperhatinkan, kegiatan perekonomian yang
dikuasai koperasi ternyata tidak lebih dari 5% saja. Jangankan untuk skala
nasional, untuk skala regionalpun koperasi belum berarti sama sekali. Koperasi sering
diidentifikasikan dengan golongan ekonomi lemah. (Entang, 1990).
Koperasi memiliki karakteristik tersendiri, ada beberapa hal yang dikambing
hitamkan orang menyangkut kenapa koperasi tidak berkembang. Dan ini melibatkan
karakteristik yang ada pada koperasi, yang pertama ditunjuk adalah fungsi sosial dari
koperasi. Fungsi sosial dipandang hanya sebagai hambatan, sebenarnya keliru. Fungsi
sosial justru merupakan dasar berpijak yang kokoh untuk memperjuangkan
kepentingan anggota secara bersama-sama.
Azas dan sandi dasar koperasi juga sering dianggap hambatan untuk
berkembangnya koperasi. Jika azas dan sandi dasar koperasi dianggap sebagai

15
hambatan dalam pengembangan koperasi, jelas kurang tepat. Bukan soal koperasi
maju pesat dan kokoh dilapangan sesuai dengan kepentingan anggotanya. Hanya
untuk diversifikasi usaha memang nampaknya sulit, azas dan sandi dasar koperasi
justru merupakan dasar pijakan yang kokoh. Hal ini karena azas dan sandi dsar
koperasi, merupakan pencerminan dari kepentingan yang sama dari para anggotanya.
Karakteristik lain yang dianggap hambatan adalah organisasi dan struktur
managemen. Koperasi adalah organisasi otonom dan demokratis, struktur managemen
yang ada berorientasi pada rapat anggota. Dengan demikian, prosedur pengambilan
keputusan adalah bottom up.beberapa pakar koperasi sering mempersoalkan hal ini,
rapat anggota memang merupakan kekuasaan tertinggi. Sangat jelas bahwa faktor
pengurus yang menjadi kunci persoalannya. Kejujuran pengurus memang sangat
menentukan, tapi bukan hanya itu saja. Faktor lain yang lebih menentukan yaitu
kemampuan mengelola suatu usaha.
Meningkatkan jumlah unit dan anggota koperasi bisa dianggap sebagai
indikator meningkatnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam gerakan
koperasi. Namun hal ini banyak diisebabkan oleh intervensi pemerintah dalam
memobilisasikan anggota masyarakat melalui parat-apaaratnya dan subsidi besar yang
diberikannya sebagai rangsangan. Ini terutama namppak dalam pembinaan KUD,
koperasi fungsional, dan koperasi kusus. (Pudjo Suharno, 1988 ; 35).
Selain persoalan diatas, koperasi juga masih dihadapkan pada masalah intern
yang tak kalah pentinggnya. Beberapa hal yang terpenting yang berkaitan dengan
konteks lemah-melemahnya kemandirian koperasi adalah masih terdapatnya
managemen yang amatiran, kurangnya jiwa kewiraswastaan dikalangan anggota
koperasi dan persoalan institusionl yang kurang disadari “sound of business” yang
memadai.
Masih banyak masalah “ilmiah-teknis” atau “teknis-ilmiah” yang belum
terpecahkan dalam persoalan perkoperasian. Dalam maslah-masalah seperti ini akan
terus bermunculan, apabila pemikir-pemikir dan ahli-ahli semakin sering terlibat
dalam diskusi-diskusi serius tentang koperasi dan upaya-upaya pengembangannya.
(Mubyarto, 1988 ; 28).
Strategi pengembangan koperasi menghadapi lingkaran setan berupa sejumlah
kendala tentang bagaimana menumbuhkan gairah dan kesadaran masyarakat untuk

16
berpartisipasi, bagaimana mengupayakan produktifitas lembaga yang diharapkan
menjadi sokoguru perekonomian ini. (Amin Aziz, 1988 ; 40). Peningkatan
kemampuan koperasi, harus dilakukan dengan mengintegrasikan seluruh kegiatan
Koperasi Unit Desa (KUD) dalam proses peningkatan pendapatan dan
produktivitas/nilai tambah. Seluruh kegiatan kerja yang ada mengacu pada upaya
peningkatan kemampuan dan kemandirian.
Dalam kegiatan untuk menaikkan penapatan melalui peningkatan
produktivitas dan nilai tambah. Koperasi primer perlu melakukan dan diberi
kemampuan untuk erncana sendiri (cooperative corporate plan) sejajar dengan
rencana pengembangan kelembagaannya (institutional development plen).
Gunnar Myrdal, nilai-nilai modern yang harus dianut adalah efisien, ulet,
keteraturan, ketepatan, perhitungan, lugas, cermat, jujur, rasional, tanggap terhadap
setiap peluang, energi, mandiri dan memiliki integritas wawasan. Mau tidak mau,
nilai-nilai tradisional yang mengacu ke masa lampau seperti sikap cenderung pada
keselarasan, harmonis, dan kerukunan. Bukannya semangat persaingan atau selalu
memberikan nilai lebih kepada yang di atas atau pada yang lebih tinggi, harus segera
dirombek.
Sasaran pengembangan koperasi harus diarahkan pada masyarakat kelas
“atas” karena memiliki modal yang lebih besar dan keterampilan managemen yang
lebih baik. Citra koperasi yang menggambarkan sebuah organisasi “kampungan” bisa
diubah jika koperasi juga diakui keberadaannya dikalangan masyarakat kelas “atas”.
Banyak persoalan yang menyangkut masalah koperasi mencuat ke permukaan,
diantara banyaknya persoalan itu sebagian persoalan justru menunjukkan kegagalan
koperasi. Salah satu masalah yang pernah ramai dibicarakan adalah harapan agar
pemerintah tidak terlalu jauh dalam campur tangan terhadap pengembangan gerakan
koperasi di Indonesia. Masalah itu makin ramai setelah terlihat suatu sukses kecil
BUUD/KUD didaerah Yoyakarta diangkat ketingkat nasional menjadi Inpres No.
4/1973 dan makin diperkuat lagi oleh lahirnya Inpres No. 2/1978.
Sejak itu, adanya campur tangan pemerintah yang begitu besar dalam
mengarahkan KUD menjadi alat kebijakan pemerintah. Kasus lainnya yang terjadi
beberapa waktu yang lalu adalah berupa kemelut tata niaga cengkeh dan jeruk, kasus
keduanya yang melibatkan KUD itu adalah bukti ketidakberdayaan koperasi sebagai

17
lembaga perekonomian yang sejajar dengan dua pelaku ekonomi lain, yaitu Swasta
dan BUMN.
Dari dua contoh masalah diatas merupakan petunjuk adanya dua masalah
mendasar yang menjadi tantangan bagi koperasi, persoalan pertama menyangkut
peran atau campur tangan pemerintah yang terlalu jauh pada koperasi. Campur tangan
yang berlebihan dari pemerintah berakibat menjadikan mekanisme kerja didalam
koperasi banyak yang tidak berjalan, banyak aset koperasi menjadi mubazir. Koperasi
jenis ini biasanya penampilannya lebih rumit, karena keberadaannya belum tentu
selaras dengan kebutuhan nyata di masyarakat, beban target yang dilimpahkan begitu
besar. Sehingga yang tampak menonjol adalah tidak adanya sikap kemandirian.
Beberapa hal dicoba diperbaharui melalui RUU yang baru itu meliputi konsep
koperasi, fungsi, peran, tugas, dan sendi-sendi dasar keanggotaan, managemen
bahkan peran pemerintah dalam pengembangan koperasi. Dalam RUU yang baru itu
dapat dilihat pasal-pasal yang dapat mendorong kearah kejelasan fungsi koperasi
sebagai unit ekonomi yang otonom dan tidak filantropis, lebih lugas dalam
pemilihan kepengurusan. Hal ini mengantisipasikan rumusan lama dalam UU No.
12/1967 yaitu tentang fungsi koperasi (pasal 4), peranan dan tugas (pasal 7), yang
terlalu berbau politis.
Koperasi menjadi tulang punggung atau sokoguru perekonomian Indonesia
karena koperasi mengisi baik tuntutan konstitusional maupun tuntutan pembangunan
dan perkembangannya. Koperasi mempunyai aspek kehidupan yang menyeluruh,
substansif makro dan bukan hanya partial makro. Koperasi adalah wadah yang tepat
untuk membina golongan ekonomi kecil/pribumi adalah masalah makro, bukan
masalah parikal didalam kehidupan ekonomi kita, baik secara kualitas maupun
kuantitas.
Pernyataan koperasi sebagai sokoguru pertama kali ini di ucapkan oleh Moh.
Hatta, bapak koperasi Indonesia. Dan tidak dimaksudkan sebagai cita-cita atau
idaman kosong tentang peranan koperasi di masa depan, justru sebaliknya, Moh.
Hatta melihat kenyataan bahwa kekuatan ekonomi nasional yang berdasarkan
kekeluargaan merupakan “penyangga utama” ekonom nasional adalah sokoguru,
ekonomi nasional misalnya dihadapkan pada sistem ekonomi kapitalis yang kuat dan
sudah mapan sekalipun.

18
Yang dimaksud dengan ekonomi koperasi oleh Bung Hatta adalah ekonomi
rakyat, baik masa awal kemerdekaan maupun dikelak kemudian hari. Pertanyaan
Bung Hatta selalu benar, yaitu ekonomi nasional. Bila ekonomi rakyat ambruk, maka
ambruklah seluruh ekonomi nasional. Inilah pengertian sokoguru dalam arti kata yang
sebenarnya yang menurut Bung Hatta harus dibangun maupun pembangunan tenaga
belinya. Rencana kerja harus didasarkan pada memperbesar tenaga beli rakyat dari
semulanya. Rakyat Indonesia telah lama menderita kemiskinan dan kesengsaraan
hidup sehingga sudah pada tempatnya ialah dijadikan patokan. (Moh. Hatta, 1961).
Kongres koperasi yang pertama pada tanggal 12 Juli 1947 di Tasikmalaya,
yang kemudian diresmikan menjadi hari koperasi Indonesia. Maka pada penghujung
masa berlakunya UUD sementara berhasil diwujudkan UU Koperasi pertama di
Indonesia yaitu UU No. 79 tahun 1959, kemudian koperasi mengalami masa timbul
tenggelam terutama pada masa setelah dikeluarkannya UU No. 14/1965, kaena
koperasi pada waktu itu dimanfaatkan oleh golongan politik tertentu untuk maksud-
maksdu tertentu.
Pada awal pelita 1 tercetus gagasan pembentukan BUUD/KUD yang
merupakan peleburan dari berbagai koperasi pertanian dan pedesaan, pertama kali
gagasan ini dilaksanakan di daerah Yogyakarta dan pada awal tahun 70-an
dikembangkan di daerah lain di Indonesia. Hasilnya cukup memberikan harapan,
sehingga akhirnya pengembangan BUUD/KUD di kukuhkan dengan inpres No.
Tahun 1978.
Koperasi akan mampu menjadi landasan kekuatan ekonomi masyarakat
pedesaan, atau masyarakat kecil. Dengan melihat beberapa faktor berikut (M.
Ridwan, 1990 ; 50).
1. Potensi summber daya alam dan manusia yang melimpah.
2. Pengalaman dalam perkoperasian.
3. Landasan Yuridis formal, yaitu : pasala 33 UUD 1945. UU No. 12 tahun 1967
tentang pokok-pokok perkoperasian serta Inpres No. 2 tahun 1978 sebagai
landasan bagi BUUD/KUD.
4. Kebijakan Pemerintah yang mengarah kepada pemerintah kegiatan dan
pendapatan pembangunan diseluruh Indonesia.
5. Terdapat dua sektor ekonomi sektor negara dan sektor swasta non koperasi, yang

19
sudah demikian pesat perkembangannya.
Dalam pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi kemakmuran masyarakat
yang diutamakan bukan kemakmuran orang seorang. Cabang-cabang produksi yang
penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai
oleh negara, hanya perushaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh
ditangani oleh orang seorang. Demikian kiranya jelas bahwa ekonomi rakyat
(koperasi) adalah benar-benar sokoguru ekonomi nasional secara rill, dan bukan cita-
cita yang masih perlu diwujudkan.
Dalam kaitan dengan pasal 33 UUD 1945 (ayat 2 dan 3) maupun dalam
kenyataan kehidupan ekonomi di Indonesia, memang harus diakui bahwa pemerintah
besar sekali peranannya sebagai “pelindung” koperasi dalam upaya menjamin
tercapainya kemakmuran rakyat secara maksimal. Perekonomian nasional harus
beradasarkan atas asas kekeluargaan dan kerakyatan. Produksi dikerjakan oleh semua
dan untuk semua. Inilah dasar dan isi demokrasi ekonomi yang cocok bagi bangsa
Indonesia.
Implementasi pembangunan yang begitu luas, struktur pembangunan ekonomi
Indonesia ada tiga kekuata utama : Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan
Usaha Milik Swasta (BUMS), dan Koperasi. Yang paling memungkinkan dari 3 basis
kekuatan untuk pertumbuhan pembangunan masyarakat pedesaan adalah koperasi.
Pertimbangannya adalah :
1. Koperasi bukanlah badan usaha yang tujuan uatamanya berorientasi profit, meski
juga tidak menampiknya.
2. Sifat kegotong royongan masyarakat pedesaan dianggap lebih tinggi dibanding
dengan masyarakat perkotaan. Menyimak dari perkembangannya koperasi belum
berperan sebagaimana yang diharapkan, masyarakat desa masih belum bisa
menghargai koperasi sebagai sebuah kekuatan yang secara ekonomis mampu
mengangkat taraf hidupnya.
Menurut M. Hatta (1987), ide yang tertanam dalam pasal 33 UUD 1945
mempunyai sejarah yang panjang, yaitu membangun ekonomi rakyat yang lemah.
Sejarah pertumbuhan koperasi di Eropa telah membuktikan bahwa, untuk
menghadapi kekuasaan dan pengaruh kapitalisme yang begitu hebat, hanya organisasi
rakyat yang berdasarkan atas solidaritas dan kesetiakawananlah yang dapat

20
memperbaiki nasibnya. Organisasi yang paling tepat ialah koperasi.

B. Bentuk Partisipasi Koperasi Menurut Moh. Hatta


Koperasi adalah sistem ekonomi Indonesia yang dipelopori oleh salah satu
founding father, sang proklamator Indonesia, Bung Hatta. Koperasi ada salah
satunya untuk menunjukkan eksistensi masyarakat yang tidak ingin terbawa arus
sistem ekonomi kapitalis yang dibawa oleh negara barat dan sistem ekonomi sosialis-
komunis yang dibawa oleh negara timur. sekedar mengingatkan, sistem ekonomi
kapitalis mengedepankan kekuatan pemilik modal sedangkan sistem sosialis-
komunis mengedepankan kekuatan negara. di sistem koperasi, kedua sistem tersebut
disinergikan. hak pengusaha atas modal diakui dan diangkat sedangkan negara juga
memiliki hak dan kewajiban atas usaha yang dikembangkan oleh masyarakat
khususnya anggota koperasi. dapat dikatakan bahwa koperasi adalah saka guru
perekonomian Indonesia.
Koperasi di Indonesia sejak jaman penjajahan hingga sekarang telah
membuktikan dirinya sebagai alat perjuangan rakyat. Pada masa pembangunan ini
koperasi sangat besar sekali peranannya bukan hanya dibidang perekonomian saja,
tetapi lebih dari itu koperasi bisa menjadi alat pemersatu bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Menurut pasal 3 UU No. 12 tahun 1967 tentang pokok-pokok perkoperasian,
disebutkan bahwa koperasi di Indonesia adalah organisasi ekonomi rakyat yang
berwatak sosial, beranggotakan orang-orang atau badan-badan hukum koperasi yang
merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama berdasrkan asas
kekeluargaan. Dan UU No. 12 tahun 1967 tersebut dijabarkan dalam ciri-ciri khas
koperasi Indonesia yang pada akhirnya tujuannya benar-benar merupakan
kepentingan bersama dari semua anggota.
Falsafah dan pandangan hidup (the way of lafe) bangsa Indonesia tercermin
dalam pancasila. Penjelasan strukturnya adalah UUD 1945 dan penjabaran
operasionalnya dituangkan dalam GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara). UUD
1945 merupakan ketentuan atau tata tertib dasar yang mengatur terselenggaranya
falsafat hidup dan moral cita-cita bangsa. Sedangkan GBHN adalah merupakan
rangkaian program-program pembangunan yang menyeluruh, terarah, dan terpadu
yang berlangsung secara terus menerus. Adapaun tujuan pembangunan ekonomi
21
adalah untuk mencapai kemakmuran masyarakat. Ketentuan dasar dalam
melaksnakan kegiatan ini diatur oleh UUD 1945 pasal 33 ayat 1 yang berbunyi,
“perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.”
Dalam penjelasan pasal 33 UUD 1945 ini dikatakan bahwa “produksi
dikerjakan oleh semua, untuk semua, dibawah pimpinan atau pemilikan anggota-
anggota masyarakat. Dan penjelasan pasal 33 UUD 1945 ini menempatkan
kedudukan koperasi (1) sebagai sokoguru perekonomian nasional, dan (2) sebagai
bagian integral tata perekonomian nasional.
Wojowasito (1982 ; 43), arti dari sokoguru adalah pilar atau tiang. Jadi,
makna dari istilah koperasi sebagai sokoguru perekonomian dapat diartikan koperasi
sebagai pilar atau “penyangga utama” atau “tulang punggung” perekonomian.
Dengan demikian, koperasi difungsikan sebagai pilar utama dalam sistem
perekonomian nasional.
Koperasi mempuyai peranan yang sama dengan lembaga-lembaga ekonomi
lainnnya. Tidak hanya melayani anggota-anggota, tetapi koperasi pun harus hadir
sebagai lembaga yang profesional, untuk menerapkan bahkan menemukan inovasi,
metode dan pencarian pasar-pasar yang baru. Dari peran seperti inilah harapan
koperasi akan dapat memberikan suatu kontribusi terhadap perekonomian secara
menyeluruh.
Selai itu juga, dari segi pendidikan perkoperasian haruslah di tingkatkan.
Karna dewasa ini, tingkat pemahaman terhadap koperasi itu sangat minim, banyak
masyarakat tahu tentang koperasi, tetapi masyarakat belum tahu system di dalamnya
seperti apa. Untuik itu di perlukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Dengan memperbaiki kurikulum pendidikan koperasi, kurikulum saat ini kurang
memberikan motivasi. Penggambaran akan keberhasilan koperasi di dunia
internasional perlu mendapat penekanan untuk membongkar sikap pesimistis
terhadap dunia koperasi nasional yang masih jauh tertinggal. Selain itu interaksi
langsung dengan dunia koperasi perlu ditingkatkan, sehingga pendidikan
koperasi tidak terkesan teoritis, sekaligus membangkitkan motivasi untuk
berkontribusi dalam pembangunan bangsa melalui kelembagaan koperasi.
2. Dengan pengadaan literatur perkoperasian baik berupa buku, jurnal maupun
pemberitaan koperasi tingkat nasional dan internasional. Hal ini sangat penting

22
agar para pendidik koperasi tidak lagi bagai katak di bawah tempurung.
3. Proses kaderisasi tenaga pendidik koperasi itu sendiri. Tenaga pendidik yang
tahu persis apa yang diajarkan. Sebagaimana yang dimaksudkan Bung Hatta,
para pendidik yang memiliki integritas, semangat dan keluhuran jiwa seorang
koperasiawan. Kaderisasi dilakukan dengan pengiriman staf untuk tugas belajar
ke negara-negara yang maju gerakan kopersinya dan juga melalui upgraiding
berkala untuk pengembangan wawasan mengenai dunia perkoperasian.
Kaderisasi juga diwujudkan dengan membangun kerjasama sinergis (co-operative
actions) antara sesama pendidik koperasi dalam mengatasi permasalahan
pendidikan koperasi.

C. Manfaat Koperasi Bagi Perekonomian Indonesia Menurut Moh. Hatta

Masyarakat Indonesia pada umumnya telah memaklumi perkembangan


koperasi di Indonesia dilihat dari segi kuantitas memang sangat menggembirakan,
tetapi dilihat dari segi kualitas masih sangat memperhatinkan. Pemerintah dalam
menyalurkan bahan yang dikelola/dikendalikan oleh pemerintah, misalnya: pupuk,
gula pasir dan lain sebagainya, sebagian besar penyalurannya masih menyerahkan
pada pihak swasta. Ini semua dapat digunakan sebagai bukti bahwa kemampuan dan
kualitas koperasi yang ada sekarang ini belum mencapai sebagai mana yang
diharapkan. (Saryo, 1988 ; 55).

Badan usaha dengan bentuk koperasi merupakan realisasi dari UUD 1945.
Bagi mereka yang tidak mendukung dan berperan serta dalam pelaksanaan
pembangunan koperasi di Indonesia, sama saja tidak mendukung pelaksanaan UUD
1945, khususnya pasal 33.

Dalam ayat 1 dicantumkan dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan


oleh semua dibawah pimpinan atau pemilikan anggota masyarakat. Ayat ke dua,
menyatakan bahwa cabang-cabang produki yang menyangkut hajat hidup orang
banyak dikuasai oleh negara. Sedangkan ayat ke tiga, menyatakan bahwa bumi, air,
dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran
rakyat.

Dalam pelita IV, koperasi harus makin luas dan berakar dalam masyarakat,
sehingga koperasi secara bertahap dapat menjadi salah satu sokoguru perekonomian
23
nasional. Pengertian dari sokoguru ialah tiang penyanggah rumah yang paling utama,
untuk menopang selluruh bangunan yang ada di atasnya. Presiden Soeharto selalu
mendataris MPR, pemimpin tertinggi pemerintah negara RI sangat mendambakan
agar koperasi di Indonesia mampu mewujudkan cita-cita nasional seperti tersurat di
dalam pembukaan UUD 1945.

Dengan demikian sudah melaksanakan apa yang tersurat dalam UU No.


12/1967 tentang pokok-pokok perkoperasian khususnya pasal 2 tentang landasan
koperasi, pasal 4 tentang fungsi koperasi, dan pasal 6 tentang sendi-sendi dasar
koperasi, khususnya ayat 5 yang berbunyi : Mengembangkan kesejahteraan anggota
khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Berdasarkan pasal 33 UUD 1945, di Indonesia ada tiga sektor ekonomi untuk
mensejahterakan seluruh bangsa Indonesia, yaitu :
1) Sektor ekonomi yang dikuasai oleh koperasi.
2) Sektor ekonomi yang dikuasai oleh negara.
3) Sektor ekonomi yang dikuasai oleh pihak swasta.

Jadi menurut UUD 1945, sektor ekonomi yang dikuasai oleh koperasi menduduki
tempat yang diutamakan. Menurut evaluasi pemerintah terhadap koperasi, menteri
koperasi Bustanil Arifin, SH antara lain menyatakan :
- Jumlah koperasi bertambah pesat, tapi perannya masih kecil.
- Dampak koperasi, yaitu manfaat koperasi yang dapat dirasakan oleh para
anggotanya serta masyarakat sekitarnya.
Menurut proyeksi menteri koperasi Bustanil Arifin, SH. Harapan presiden Suharto
itu akan terwujud tahun 1997/1998.
Sejalan dengan proyeksi menteri koperasi, sejak orde baru pemerintah selalu dan
terus menerus mengadakan monitoring terhadap perkembangan dan pertumbuhan
serta peran/fungsi koperasi seperti yang tersurat dalam UU No. 12/1967 tentang
pokok-pokok perkoperasian pasal 4, yaitu :
- Alat perjuangan ekonomi untuk mempertinggi kesejahteraan rakyat.
- Salah satu urat nadi perekonomian bangsa Indonesia.
- Alat pembina insan masyarakat untuk memperkokoh kedudukan ekonomi
bangsa Indonesia serta bersatu dalam mengatur tata laksana perekonomian
rakyat.
24
Dalam mewujudkan suatu koperasi yang mandiri, banyak persoalan yang
harus dihadapi, baik masalah intern seperti permodalan, managemen, maupun
masalah eksternnya seperti mekanisme pasal, campur tangan pemerintah dan lain
sebagainya. Untuk mengetahui dan mencoba memahami permasalahan yang
dihadapi, perlu di ingat kembali pengertian tentang koperasi Indonesia menurut
UU No. 12/1967 baik mengenai fungsinya, sendi-sendi dasar dan tugas menuju
pencapaian tujuan.
Koperasi Indonesia adalah kumpulan dari orang-orang yang sebagai
manusia secara bersama-sama bergotong royong berdasarkan persamaan, bekerja
untuk memajukan kepentingan-kepentingan ekonomi merekan dan kepentingan
masyarakat, kumpulan orang-orang, bukan kumpulan modal. Ciri-ciri khusus
yang melekat pada organisasi yang sulit ditemui pada organisasi lain adalah yang
tercantum pada sendi-sendi dasar antara lain bahwa sifat anggotanya sukarela dan
terbuka, rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi, pembagian sisa hasil usaha
diatur menurut jasa masing-masing anggota, mengembangkan kesejahteraan
anggota dan masyrakat, managemennya bersifat terbuka dan percaya pada diri
sendiri.
Di dalam GBHN ditentukan bahwa koperasi adalah sebagai alat
peningkatan kesejahteraan rakyat dan sebagai wadah utama pembina golongan
ekonomi lemah serta sebagai soko guru perekonomian Indonesia. Adapun tujuan
berkoperasi adalah untuk memperbaiki tata kehidupan dan penghidupan keluarga
yang lebih baik sehingga dapat menikmati keselamatan, ketenangan, dan
ketentraman hidup lahir dan batin. Sedangkan sasaran koperasi adalah anggota,
baik yang berdomisili didaerah pedesaan maupun perkotaan yang perlu
ditingkatkan dan dikembangkan kepribadian dan kemampuan.
Secara struktural, koperasi memiliki akses paling kecil terhadap faktor
produksi, khususnya permodalan, dibanding dengan pelaku ekonomi lainnya.
Selain itu secara institusional koperasi memiliki ruang gerak yang paling terbatas
dibanding dengan pelaku ekonomi lainnya.peraturan dan perundangan ang
berlaku dalam dunia usaha tidak memungkinkan koperasi bergerak bebas seperti
swasta murni.
Secara de jure dan de facto, menurut Sumarna, sistem perekonomian

25
Indonesia berlandaskan atas teori keseimbangan, yaitu keberhasilan dalam
mewujudkan cita-cita masyarakat adil dan makmur hanya dapat dicapai dengan
adanya keseimbangan peran antara tiga pelaku ekonomi nasional tanpa
keseimbangan itu, sulit untuk dapat mewujudkan cita-cita tersebut.
Koperasi dalam realitas, jarang sekali menjadi besar dan maju. Lembaga
ini sering berhenti sebagai unit ekonomi unit ekonomi kolektid yang kecil dan
lambat, sementara kalangan masyarakat terdapat krisis kepercayaan terhadap
koperasi : (Pudjo Suharso, 1988 ; 31).
Masyarakat yang relatif masih rendah, faktor pendidikan juga harus diakui
ikut mempengaruhi permintaan masyarakat akan pelayanan kesehatan,
1. Walaupun lembaga ini merupakan bagian integral dari perjuangan bangsa
sejak kebangkitan nasional.
2. Walaupun secara konstitusioonal koperasi cukup mendapat tempat dan
mempunyai kedudukan yang penting dalam perekonomian Indonesia seperti
dijelaskan oleh UUD 1945 pasal 33 ayat 1 dan penjelasannya: UUD No.
12/1967; dan Inpres No. 4/1984.
3. Walaupun koperasi telah banyak di dorong-dorong dan diberi berbagai fasilitas
oleh pemerintah.
Dalam kerangka ini, mengkaji kembali koperasi lewat salah satu sendi
dasarnya, yaitu asas swadaya (kemandirian) agaknya menjadi sangat relevan.
Karena disini ditemui lemahnya swadaya/kemandirian dengan maju mundurnya
perkembangan koperasi mempunyai korelasi yang signifikan.
Menurut Frans Seda, intervensi aparatur/pejabat pemerintah merupakan
salah satu penyebab utama menipisnya swadaya koperasi. Secara formal memang
tidak nampak, namun secara aktual di lapangann sangat banyak dan sangat
mendalam. Campur tangan pejabat dirasakan mulai dari pembentukan koperasi,
yang seharusnya dan secara formal memang dilakukan oleh para anggota. Tentang
seleksi anggota sampai pada pertanggung jawaban keuangan pun, yang seharusnya
dipilih dan dilakukan oleh para anggota, tak luput dari campur tangan pejabat.
Malahan sampai pembangunan kantor dan perabotan.
Akses yang diperlukan koperasi garis besar meliputi akses terhadap
teknologi usaha dan akses terhadap permodalan. Perkembangan koperasi pada

26
dasarnya ditentukan oleh kegiatan usaha yang dikelolanya. (SP, 1988). Selama ini
kegiatan uasaha koperasi masih konservatif yaitu masih berkisar dari dan untuk
anggota seperti simpan pinjam. Dengan bentuk kegiatan seperti ini sebenarnya
koperasi secara tidak langsung mengisolasi dirinya dari kegiatan dunia usaha yang
lebih luas.
Karena orientasi kegiatan usahanya yang bersifat inward-looking, wajarlah
jika gerakan koperasi di Indonesia lamban dan kalah bersaing dengan pihak lain
khususnya swasta. Agar koperasi berkembang dengan dan dapat meraih peluang
usaha yang lebih luas, maka orientasi kegiatan usahanya hendaklah bersifat
outward-looking, yakni tidak dibatasi oleh lingkugan anggotanya semata. Untuk
terlaksananya perkembangan koperasi lebih luas perlu peninjauan kembali terhadap
perundangan yang selama ini menjadi pembatas kegiatan usaha koperasi. Untuk itu,
kebijakan deregulasi dan debirokrasi juga diperlukan untuk memungkinkan
tumbuhnya koperasi yang produktif dan mandiri.
Perluasan koperasi menuju orientasi outward-looking dimingkinkan jika
koperasi memiliki sarana dn prasarana yang pendukung, diantaranya adalah modal.
Karena tanpa adanya modal koperasi dan kegiatan usaha lainnya tidak dapat
berbuat apa-apa. Ada dua yang menjadi penyebab munculnya hambatan dalam
aspek permodalan dikalangan koperasi. Pertama, karena umumnya modal dari
anggota sulit dilakukan. Dan kedua, karena prosedur dan aturan perbankan belum
memungkinkan koperasi dalam memanfaatkan dana perbankan secara optimal.
Untuk jangka pendek, hambatan permodalan yang dihadapi koperasi dapat
dipecahkan melalui deregulasi pada sektor perbankan, yakni menempatkan
koperasi secara sejajar dengan pihak lain khususnya swasta dalam kemungkinian
mendapat fasilitas kredit. Kenyataan yang ada sekarang aturan dan prosedur
perbankan masih sulit untuk dapat ditembus oleh koperasi, disebabkan belum
adanya keterkaitan dan kesamaan antara aturan perkoperasian dengan aturan
perbankan.
Untuk jangka panjang, untuk memperkuat modal koperasi dapat dilakukan
melalui penyertaan koperasi dalam pemilihan saham perusahaan. Dengn ini
diharapkan koperasi memiliki akses yang lebih besar untuk memperkuat
kapasitasnya, khususnya dalam aspek permodalan.

27
Peranan koperasi dalam meningkatkan produksi mewujudkan pendapatan
yang adil dan kemakmuran yang merata. Kebijakan pembangunan ekonomi
Indonesia yang menekankan pada strategi pertumbuhan atau model produktifitas
dengan mendasarkan pada akumulasi modal dan penggunaan teknologi yang
mengutamakan pemakaian tenaga kerja terampil dipandang sebagai sebagai
pendekatan yang paling efisien untuk meningkatkan out put produksi.
Sebagai badan usaha yang ditujukan untuk kepentingan bersama,
kesejahteraan anggota koperasi mutlak harus didahulukan karena anggota koperasi
adalah elemen terpenting yang menjadi roda penggerak koperasi. Walaupun
manfaat koperasi sangat dirasakan bagi para anggota, namun kadangkala ada
anggota yang tidak bertanggung jawab atau lepas tanggung jawab terhadap
koperasi tempatnya bernaung.
Yang dimaksud lepas tanggung jawab adalah seperti ketidak jujuran
anggota atau pengurus, pengelolaan yang tidak demokratis, kurangnya kesadaran
untuk mengembalikan pinjaman, kurangnya kesadaran untuk menghidupkan
koperasi demi kelangsungan koperasi itu sendiri. Koperasi dapat tumbuh dan
berkembang tergantung pada partisipasi aktif anggota di mana partisipasi
menentukan kelangsungan dan berkembangnya lapangan usaha atau unit usaha
koperasi. Dengan demikian tanggung jawab kesadaran berkoperasi sangat
diperlukan dan menjadi perhatian agar koperasi dapat hidup tumbuh dan
berkembang maju.
Kesadaran berkoperasi yang dimaksud antara lain: a) keinginan untuk
memajukan koperasi, b) kesanggupan mentaati peraturan dalam koperasi seperti
kewajiban terhadap simpan pinjam, c) mentaati ketentuan-ketentuan baik sedagai
anggota, pengurus dan badan pengawas, d) membina hubungan sosial dalam
koperasi, e) melakukan pengawasan terhadap jalannya koperasi.

28
BAB IV
KESIMPULAN

Timbulnya Pasal 33 tersebut diatas menurut Bung Hata yang merupakan pencetud
ide, dilatarbelakangi oleh struktur perekonomian di zaman penjajahan belanda yang
tersusun atas tiga lapisan. Lapisan atas dikuasai oleh kaum penjajah, yang menguasai
sektor-sektor ekonomi yang utama, kemudian laposan kefua merupakan perantara
dipegang oleh orang non-pribumi (terutama Tionghoa) dan laposan ketiga yang
merupakan bagian terbesar, tetapi terdiri dari sektor ekonomi yang serba kecil ditangani
oleh orang-orang pribumi. Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh bagsa
indonesia yang menangani sektor ekonomi yang serba keccil dan lemah ini hanya
mungkin dilakukan dalam wadah koperasi. Dalam koperasi yang merupakan usaha
bersama, orang mendorong untuk mengenal disi sendiri, percaya pada diri sendiri
mengolong diri sendiri, disamping juga menolong orang lain, setia kawan, otoaktivitas
dan solidaritas.
Dalam Pasal 33 UUD 1945 tersbut juga dinyatakan bahwa perekonomian kita
berdasarkan atas demokrasi ekonomi, kemudian menjadi dasar pembangunan
perekonomian nasional sampai saat ini, sebagai dasar pembangunan perekonomian
nasiona maka demokerasi ekonomi selalu dicantumkan pada GBHN dengan disebutkan
ciri-cirinya. Dengan peranan yang sedemikian penting maka demokrasi ekonomi perlu
dijabarkan secara lebih terperenci untuk dapat dijadikan pedoman dalam pembangunan
ekonomi oleh koperas, perusahaan negara, dan perusahaan swasta.
Dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi meskipun secara normatif dinyatakan
tetap berpedoman pada Pasal 33 UUD 1945, tetap dalam praktiknya banyak menyimpang
dari ketentuan konstitusi tersebut. Terjadi pemusatan sumber daya ekonomi pada
sekelompok kecil pengusaha, khususnya yang dekat dengan pusat kekuasaan, terjadi
praktik monopoli praktik KKN sehingga terjadi kesenjangan yang dalam antara
sekelompok kecil lapisan masyarakat atas yang sudah mapan dan masyarkat luas yang
serba kekurangan.

29
DAFTAR PUSTAKA

Modul 6 ADPU 4330 Peranan Ekonomi dalam Pembangunan Nasional


https://www.jurnal.id/id/blog/2017-tujuan-dan-peran-koperasi-dalam-membangun-
perekonomian/

30