Anda di halaman 1dari 10

UNIT 2 PRINSIP, KEMAMPUAN

DAN STARTEGI PEMBELAJARAN LITERASI

Pendahuluan

Bahan ajar matakuliah Pembelajaran Literasi di SD ini di dalamnya dibahas Teori pembelajaran literasi. Unit
ini terdiri atas 2 sub unit yaitu: (1) Prinsep Pendidikan Literasi , (2) Kemampuan belajar Literasi dan (2) Strategi
Pembelajaran Literasi.

Saudara, materi dalam unit ini sangat penting karena akan memberikan wawasan kepada Anda tentang
bagaimana sesungguhnya dan sejak kapan anak-anak mulai belajar literasi. Pemahaman yang baik mengenai hal
itu, tentu akan memudahkan Anda untuk menciptakan suasana pembelajaran literasi yang sesuai dengan situasi,
kebiasaan, dan strategi belajar literasi yang memungkinkannya menguasai dengan baik dan benar.

Untuk itulah, setelah mempelajari unit ini, diharapkan Anda mampu:

1. Menjelaskan Prinsip belajar Literasi


2. Menjelaskan kemampuan Belajar Literasi
3. Menjelaskan Stertegi Belajar Literasi
4. Mendeskripsikan Strategi Pembelajaran Literasi

Namun perlu Anda perhatikan, untuk mencapai tujuan di atas, perhatikanlah hal-hal berikut ini!

Setelah memahami tujuan mempelajari unit ini, ikutilah bagian-bagian bahan ajar ini secara bertahap-
berkelanjutan. Pelajari setiap bagian secara cermat dan seksama. Jangan lupa mengaitkan materi yang Anda baca
dengan pengalaman Anda sebagai calon guru atau orang tua yang bergaul dengan anak-anak.
Sub unit 1 Prinsip Dan Cara
Pembelajaran Literasi

A. Prinsip Pendidikan Literasi

Menuru Kern (2000) terdapat tujuh prinsip pendidikan literasi, yaitu:

1. Literasi melibatkan interpretasi

Penulis/pembicara dan pembaca/pendengar berpartisipasi dalam tindak interpretasi, yakni: penulis/pembicara


menginterpretasikan dunia (peristiwa, pengalaman, gagasan, perasaan, dan lain-lain), dan pembaca/pendengar kemudian
mengiterpretasikan interpretasi penulis/pembicara dalam bentuk konsepsinya sendiri tentang dunia.

2. Literasi melibatkan kolaborasi

Terdapat kerjasama antara dua pihak yakni penulis/pembicara dan pembaca/pendengar. Kerjasama yang dimaksud
itu dalam upaya mencapai suatu pemahaman bersama. Penulis/pembicara memutuskan apa yang harus ditulis/dikatakan
atau yang tidak perlu ditulis/dikatakan berdasarkan pemahaman mereka terhadap pembaca/pendengarnya. Sementara
pembaca/pendengar mencurahkan motivasi, pengetahuan, dan pengalaman mereka agar dapat membuat teks penulis
bermakna.

3. Literasi melibatkan konvensi

Orang-orang membaca dan menulis atau menyimak dan berbicara itu ditentukan oleh konvensi/kesepakatan kultural
(tidak universal) yang berkembang melalui penggunaan dan dimodifikasi untuk tujuan-tujuan individual. Konvensi disini
mencakup aturan-aturan bahasa baik lisan maupun tertulis.

4. Literasi melibatkan pengetahuan kultural.

Membaca dan menulis atau menyimak dan berbicara berfungsi dalam sistemsistem sikap, keyakinan, kebiasaan, cita-
cita, dan nilai tertentu. Sehingga orangorang yang berada di luar suatu sistem budaya itu rentan/beresiko salah/keliru
dipahami oleh orang-orang yang berada dalam sistem budaya tersebut.

5. Literasi melibatkan pemecahan masalah.

Karena kata-kata selalu melekat pada konteks linguistik dan situasi yang melingkupinya, maka tindak menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis itu melibatkan upaya membayangkan hubungan-hubungan di antara kata-kata, frasefrase,
kalimat-kalimat, unit-unitmakna, teks-teks, dan dunia-dunia. Upaya membayangkan/memikirkan/mempertimbangkan ini
merupakan suatu bentuk pemecahan masalah.

6. Literasi melibatkan refleksi dan refleksi diri.

Pembaca/pendengar dan penulis/pembicara memikirkan bahasa dan hubungan- hubungannya dengan dunia dan diri
mereka sendiri. Setelah mereka berada dalam situasi komunikasi mereka memikirkan apa yang telah mereka katakan,
bagaimana mengatakannya, dan mengapa mengatakan hal tersebut.

7. Literasi melibatkan penggunaan bahasa.


Literasi tidaklah sebatas pada sistem-sistem bahasa (lisan/tertulis) melaikan mensyaratkan pengetahuan tentang bagaimana
bahasa itu digunakan baik dalam konteks lisan maupun tertulis untuk menciptakan sebuah wacana/diskursus.

B. Ciri Pembelajaran Literasi

Dalam Pembelajaran Literasi siswa memberi respon pada tugas-tugas yang diberikan guru atau pada teks-teks yang
mereka baca. Demikian pula guru memberi respon pada jawaban-jawaban siswa agar mereka dapat mencapai tingkat
’kebenaran’ yang diharapkan. Pemberian respon atas hasil pekerjaan siswa juga cukup penting agar mereka tahu apakah
mereka sudah mencapai hal yang dirahapkan atau belum. Revision yang dimaksud disini mencakup berbagai aktivitas
berbahasa. Misalnya, dalam menyusun sebuah laporan kegiatan, revisi dapat dilaksanakan pada tataran perumusan gagasan,
proses penyusunan, dan laporan yang tersusun. Reflecting berkenaan dengan evaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan, apa
yang dilihat, dan apa yang dirasakan ketika pembelajaran dilaksanakan. Secara spesifik lagi, refleksi dapat dibagi ke dalam dua,
yaitu: dari sudut pandang bahasa reseptif (mendengarkan dan membaca) dan sudut pandang bahasa ekspresif (berbicara dan
menulis). Dari sudut pandang bahasa reseptif beberapa pertanyaan dapat diajukan, yaitu: apa tujuan/maksud pembicara/penulis
ini? Apakah hal-hal tertentu yang menyiratkan keyakinan dan sikap pembicara/penulis mengenai topic pembicaraan? dan lain-
lain. Dari sudut pandang bahasa ekspresif, pertanyaanpertanyaan berikut ini cukup bermanfaat, yaitu: bagaimana orang lain
menginterpretasikan apa yang saya katakan? Dari mana saya tahu pendengar/pembaca memahami atau meyakini apa yang
saya kemukakan? Dan sebagainya.
Dalam pembelajaran literasi dicirikan dengan tiga R, yakni: (1) Responding, (2) Revising, dan (3) Reflecting (Kern, 2000,
dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Responding disini melibatkan kedua belah pihak, baik guru maupun siswa. Para siswa memberi respon pada tugas-tugas
yang diberikan guru atau pada teks-teks yang mereka baca. Demikian pula guru memberi respon pada jawaban-jawaban
siswa agar mereka dapat mencapai tingkat ’kebenaran’ yang diharapkan. Pemberian respon atas hasil pekerjaan siswa
juga cukup penting agar mereka tahu apakah mereka sudah mencapai hal yang dirahapkan atau belum.
2. Revision yang dimaksud disini mencakup berbagai aktivitas berbahasa. Misalnya, dalam menyusun sebuah laporan
kegiatan, revisi dapat dilaksanakan pada tataran perumusan gagasan, proses penyusunan, dan laporan yang tersusun.
3. Reflecting berkenaan dengan evaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan, apa yang dilihat, dan apa yang dirasakan
ketika pembelajaran dilaksanakan. Secara spesifik lagi, refleksi dapat dibagi ke dalam dua, yaitu: dari sudut pandang
bahasa reseptif (mendengarkan dan membaca) dan sudut pandang bahasa ekspresif (berbicara dan menulis). Dari sudut
pandang bahasa reseptif beberapa pertanyaan dapat diajukan, yaitu: apa tujuan/maksud pembicara/penulis ini? Apakah
hal-hal tertentu yang menyiratkan keyakinan dan sikap pembicara/penulis mengenai topik pembicaraan? dan lain-lain. Dari
sudut pandang bahasa ekspresif, pertanyaanpertanyaan berikut ini cukup bermanfaat, yaitu: bagaimana orang lain
menginterpretasikan apa yang saya katakan? Dari mana saya tahu pendengar/pembaca memahami atau meyakini apa
yang saya kemukakan? Dan sebagainya.

Sub Unit 2

Kemampuan,Tahapan dan Strategi Literasi SD

Belajar Kemampuan literasi pada awalnya adalah kemampuan membaca dan menulis ( Edisi ke-7 Oxford Advanced
Learner’s Dictionary, 2005:898, dalam Usaid Prioritas, 2014). Dan pada awalnya pendidikan di Indonesia lebih mengenal
dengan istilah pengajaran bahasa atau pelajaran bahasa. Namun, sesuai dengan perkembangan zaman yang sangat cepat
maka makna literasi juga ikut berkembang sehingga maknanya tidak sekadar membaca dan menulis. Meskipun pengertian
literasi berkembang pesat, tetapi masih berkaitan dengan bahasa. Dengan demikian, makna literasi berkembang dari sederhana
menjadi lebih kompleks.

Perlu diketahui bahwa dalam ranah pembelajaran, kemampuan literasi adalah kemampuan penting yang harus dimiliki
oleh setiap siswa. Kemampuan literasi sangat dibutuhkan siswa dalam rangka menguasai berbagai mata pelajaran. Agar siswa
dapat mencapai tujuan setiap mata pelajaran (meliputi penguasaan ranah pengetahuan, keterampilan, dan sikap) maka mereka
harus memiliki kemampuan literasi. Dengan demikian, jelaslah bahwa kemampuan literasi tidak terbatas pada kemampuan
kognitif, melainkan kemampuan yang bersifat lebih kompleks karena mencakup aspek sosial, aspek kebahasaan, dan aspek
psikologis.

A. Kemampuan Literasi SD

Kemampuam literasi merupakan kemampuan yang sangat penting dalam menghadapi permasalahan keseharian di
sekolah dasar. Pembelajaran Literasi sekolah dalam konteks gerakan literasi sekolah (GLS) di Sekolah Dasar (SD) merupakan
kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, seperti membaca,
melihat, menyimak, menulis, dan berbicara. GLS di SD merupakan suatu upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk
menjadikan sekolah sebagai komunitas pembelajaran literasi.

Pembelajaran litarasi di SD akan menembuhkan kemampuna siswa dalam menerapkan kemampuan membaca dan
menulis dalam berinteraksi dengan orang lain. Sependapat dengan NAEYC (1998), literasi adalah suatu kegiatan yang mampu
mendorong anak-anak berkembang sebagai pembaca dan penulis sehingga hal ini sangat membutuhkan interaksi dengan
seseorang yang menguasai literasi.

Secara umum, GLS di SD memiliki tujuan untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan
suasana literasi sekolah yang diwujudkan dalam gerakan literasi sekolah. Sedangkan tujuan khusus GLS di SD, antara lain:

1. Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah.


2. Meningkatkan kapasitas literasi warga dan lingkungan sekolah.
3. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.

Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi
membaca.

Adapun ruang lingkup pengembangan dari GLS di SD, diantaranya:

1. Lingkungan fisik sekolah berupa fasilitas dan sarana prasarana literasi. Lingkungan sosial dan afektif berupa dukungan dan
partisipasi aktif seluruh warga sekolah.
2. Lingkungan akademik berupa program literasi yang menimbulkan minat baca dan menunjang kegiatan pembelajaran di sekolah
dasar.

GLS di SD menciptakan komunitas literasi pendidikan di SD. Komunitas ini merupakan lingkungan yang menyenangkan
dan ramah bagi peserta didik, sehingga menumbuhkan semangat warganya dalam belajar. Semua warga sekolah perlu
menunjukkan empati, peduli, dan menghargai sesama, menumbuhkan rasa ingin tahu, melatih kecakapan berkomunikasi,
berkontribusi pada lingkungan sosial, dan mengakomodasi partisipasi seluruh warga sekolah. (Rizki Siddiq Nugraha (2017).

B. B. Tahapan-Tahapan Belajar Literasi

Menurut Rizki Siddiq Nugraha (2017) GLS di SD dilaksanakan dalam tiga tahap, yakni tahap pembiasaan,
pengembangan, dan pembelajaran. Penjelasan lebih terperinci disajikan, sebagai berikut:
1. Tahap Pembiasaan

Kegiatan pelaksanaan pembiasaan gerakan literasi pada tahap ini bertujuan untuk menumbuhkan minat peserta didik
terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca.
Prinsip-prinsip kegiatan membaca pada tahap pembiasaan, diantaranya:

a. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku bacaan, bukan buku teks pelajaran.
b. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta didik. Peserta didik diperkenankan untuk membaca
buku yang dibawa dari rumah.
c. Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini tidak diikuti oleh tugas-tugas menghafalkan cerita,
menulis sinopsis, dan lain-lain.
d. Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini dapat diikuti dengan diskusi informal tentang buku yang
dibaca/dibacakan, atau kegiatan yang menyenangkan terkait buku yang dibacakan apabila waktu memungkinkan.
e. Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini berlangsung dalam suasana yang santai dan
menyenangkan.

Adapun kegiatan membaca dan penataan lingkungan kaya literasi pada tahap pembiasaan, antara lain:

a. Membaca buku cerita/pengayaan selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan membaca yang dapat dilakukan
adalah membacakan buku dengan nyaring (read aloud) dan membaca dalam hati (sustained silent reading).
b. Memperkaya koleksi bacaan untuk mendukung kegiatan 15 menit membaca.

Memfungsikan lingkungan fisik sekolah melalui pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah, seperti perpustakaan, sudut
buku kelas, area baca, kebun sekolah, kantin, unik kesehatan sekolah (UKS), dan lain-lain. Sarana dan prasarana ini
dapat diperkaya dengan bahan kaya teks.

c. Melibatkan komunitas di luar sekolah dalam kegiatan 15 menit membaca dan pengembangan sarana literasi, serta
pengadaan buku-buku koleksi perpustakaan dan sudut baca kelas.
d. Memilih buku yang sesuai dengan minat peserta didik.

2. Tahap pengembangan

Kegiatan literasi pada tahap pengembangan bertujuan untuk mempertahankan minat terhadap bacaan dan terhadap
kegiatan membaca, serta meningkatkan kelancaran dan pemahaman membaca peserta didik.

Prinsip-prinsip kegiatan pada tahap pengembangan, diantaranya:

1. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku selain buku teks pelajaran.


2. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta didik. Peserta didik diperkenankan untuk membaca
buku yang dibawa dari rumah.
3. Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini dapat diikuti oleh tugas-tugas menggambar, menulis, kriya, seni gerak
dan peran untuk menanggapi bacaan, yang disesuaikan dengan jenjang dan kemampuan peserta didik.
4. Penilaian tanggapan peserta didik terhadap bacaan bersifat non-akademik dan berfokus pada sikap peserta didik dalam
kegiatan. Masukan dan komentar pendidik terhadap karya peserta didik bersifat memotivasi.

Kegiatan membaca/membacakan buku berlangsung dalam suasana yang menyenangkan. Selaitu itu, terdapat beberapa
alternatif cara membaca pada tahap pengembangan, sebagai berikut:

a. Membacakan nyaring interaktif (interactive read aloud)


Cara ini dilakukan dengan guru membacakan buku/bahan bacaan dan mengajak peserta didik untuk menyimak dan
menanggapi bacaan dengan aktif. Proses membacakan buku ini bersifat interaktif karena guru memperagakan bagaimana
berpikir menanggapi bacaan dan menyuarakannya serta mengajak peserta didik untuk melakukan hal yang sama. Fokus
kegiatan membaca nyaring alternatif untuk memahami kosakata baru.
b. Membaca terpandu (guided reading)
Cara ini dilakukan dengan guru memandu peserta didik dalam kelompok kecil (4-6 siswa) dalam kegiatan membaca untuk
meningkatkan pemahaman. Fasilitas pendukung yang perlu tersedia, berupa buku untuk dibaca, alat tulis, kertas besar ( flip
chart), perekat, dan papan untuk menempelkan kertas.
c. Membaca bersama (shared reading)
Cara ini dilakukan dengan guru mendemonstrasikan cara membaca kepada seluruh peserta didik di kelas atau kepada satu
per satu peserta didik. Guru dapat membaca bersama-sama peserta didik, lalu meminta peserta didik untuk bergiliran
membaca. Metode ini bertujuan memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk membaca dengan nyaring dan
meningkatkan kefasihan membaca. Fasilitas pendukung yang perlu tersedia, berupa buku besar ( big book, apabila
dibacakan kepada banyak peserta didik), buku bacaan, kertas besar ( flip chart), dan alat tulis.
d. Membaca mandiri (independent reading)

Kegiatan membaca mandiri dilakukan dengan peserta didik memilih bacaan yang disukainya dan membacanya secara
mandiri.

Kegiatan membaca mandiri ini bisa diikuti oleh kegiatan tindak lanjut seperti membuat peta cerita atau kegiatan lain
untuk menanggapi cerita.
Pada tahap pengembangan ini juga dibentuk Tim Literasi Sekolah (TLS) yang bertanggung jawab langsung kepada
kepala sekolah dan terdiri dari: anggota komite sekolah, orang tua/wali murid, pustakawan dan tenaga kependidikan, guru
kelas, dan relawan literasi atau elemen masyarakat lain yang membantu pelaksanaan kegiatan literasi di sekolah.

Adapun peran TLS, diantaranya:

1. Memastikan keberlangsungan kegiatan 15 menit membaca setiap hari.


2. Memastikan ketersediaan koleksi buku pengayaan di perpustakaan dan sudut-sudut baca di sekolah.
3. Memastikan keterlaksanaan kegiatan di perpustakaan sekolah minimal 1 jam dalam seminggu.
4. Mengkoordinir pelaksanaan festival literasi, minggu buku, atau perayaan hari-hari besar lain yang berbasis literasi.
5. Kegiatan menanggapi bacaan mempertimbangkan kecerdasan majemuk dan keragaman gaya belajar peserta didik.
6. Melakukan pemodelan dan pendampingan terhadap peserta didik.
7. Akhirnya, GLS di SD ada untuk mengembangkan pelaksanaan kegiatan literasi sekolah di SD yang efektif dan
berkelanjutan. Penumbuhan budaya literasi pada diri peserta didik bukan hanya tugas sekolah, namun juga merupakan
tanggung jawab keluarga, pelaku bisnis dan media, pemangku kebijakan, dan elemen masyarakat lain.

3. Tahap Pembelajaran

Kegiatan literasi pada tahap ini bertujuan untuk mempertahankan minat peserta didik terhadap bacaan dan
terhadap kegiatan membaca, serta meningkatkan kecapakan literasi peserta didik melalui buku-buku pengayaan dan buku
teks pelajaran.

Menurut Irine dan Irene dan Gay (2001), bahwa nilai-nilai literasi yang berkualitas tergambar dari ketika siswa
berhasil menerapkan apa yang telah mereka pelajari dan dituangkan kedalam tulisan mereka sendiri. Siswa secara
langsung dalam mengenal dunia pendidikan sudah memahami istilah ini.

Kegiatan literasi pada tahap pembelajaran berfokus pada peningkatan kemampuan berbahasa repesif (membaca
dan menyimak) dan aktif (menulis dan berbicara) yang disajikan secara rinci dalam konteks dua kegiatan utama, yakni
membaca dan menulis. Kemampuan membaca dan menulis dijenjangkan agar peningkatan kecakapan di empat area
bahasa (membaca, menyimak, menulis, dan berbicara) dapat dilakukan secara terukur dan berkelanjutan.

Kegiatan yang dapat dilakukan pada tahap pembelajaran, antara lain:

Guru mencari metode pengajaran yang efektif dalam mengembangkan kemampuan literasi peserta didik. Untuk mendukung hal
ini, guru dapat melakukan penelitian tindakan kelasa (PTK).
a. Guru mengembangkan rencana pembelajaran sendiri dengan memanfaatkan berbagai media dan bahan
ajar.
b. Guru melaksanakan pembelajaran dengan memaksimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana literasi
untuk memfasilitasi pembelajaran.
c. Guru menerapkan berbagai strategi membaca untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap
materi pembelajaran.

Adapun prinsip-prinsip kegiatan pada tahap pengembangan, diantaranya:

1. Kegiatan membaca disesuaikan dengan kemampuan literasi peserta didik dan tujuan kegiatan
membaca.
2. Kegiatan membaca bervariasi, dengan memberikan porsi yang seimbang untuk kegiatan membaca
nyaring, membaca mandiri, membaca terpandu, dan membaca bersama.
3. Guru memanfaatkan buku-buku pengayaan fiksi dan non-fiksi untuk memperkaya pemahaman peserta
didik terhadap materi ajar dan buku teks pelajaran.
4. Pengajaran berfokus pada proses. Peserta didik berbagi dan mendiskusikan draf pekerjaannya untuk
mendapat masukan dari guru dan teman.

C. Strategi Pembelajaran Literasi


a) Tujuan
Tujuan utama penggunaan strategi literasi dalam pembelajaran adalah untuk membangun pemahaman siswa,
keterampilan menulis, dan keterampilan komunikasi secara menyeluruh. Selama ini berkembang pendapat bahwa literasi
hanya ada dalam pembelajaran bahasa atau di kelas bahasa. Pendapat ini tentu saja tidak tepat karena literasi berkembang
rimbun dalam bidang matematika, sains, ilmu sosial, teknik, seni, olahraga, kesehatan, ekonomi, agama, prakarya dll.
(Depdiknas dalam cf. Robb, L, 2003).

Konten dalam pembelajaran adalah apa yang diajarkan, adapun literasi adalah bagaimana mengajarkan konten
tersebut. Oleh sebab itu, bidang-bidang yang telah disebutkan dan lintas bidang memerlukan strategi literasi dalam
pembelajarannya.Strategi literasi dalam pembelajaran akan menguatkan karakter siswa dan mengembangkan
kompetensinya sebagai warga global di abad ke-21.

b) Peta Konsep Strategi Literasi dalam Pembelajaran

Strategi literasi adalah strategi untuk memahami teks melalui kegiatan:

Menghubungkan teks dengan pengetahuan, pengalaman atau teks yang lain.

1. Membuat inferensi atau prediksi tentang teks.


2. Merumuskan pertanyaan.
3. Memvisualisasikan pemahaman tentang teks
4. Mengidentifikasi ide penting/pokok dan pendukung.
5. Mengkomunikasikan pemahaman terhadap teks.
6. Semua kegiatan ini dilakukan sebelum, selama, dan sesudah membaca sebuah teks.

Hal ini, lebih jelasnya dalam pete konsep pembelajaran strategi literasi dalam pembelajaran dapat digambarkan
sebagai berikut.
Staregi Literasi dalam Pembelajaran, yaitu:

1. Indikator Literasi dalam pembelajaran


 Pengunaan Alat Bantu, terdiri atas (a) pengatur grafis; (b) daftar cek dll.
2. Sebelum Pembelajaran Membaca/belajar membaca, yaitu: (a) Mengidentifikasi tujuan membaca; (b) Membuat
Pradiksi
3. Ketika Pembelajaran Membaca/Belajar
(1) Membuat Pertanyaan isi teks, dan hal-hal lain yang terkait dengan topi
(2) Mengidentifikasi Informasi Releva
(3) Mengevaluasi dan/atau think aloud
(4) Mengidentifikasi kosakata baru, kata kunci
(5) Membuat Keterkaitan Antara Teks
(6) Mengidentifikasi bagian teks sulit/membaca kembali
(7) Membuat inferensi

4. Setelah Pembelajaran Membaca/belajar

(1) Membuat Ringkasan


(2) Mengevaluasi teks
(3) Mengubah dari satu mode ke mode lain
(4) Memilih, mengombinasikan teks multimode untuk mengkomunikasikan konsep tertentu

c) Indikator Strategi Literasi dalam Pembelajaran di SD


Pada dasarnya, Kurikulum 2013 telah menekankan implementasi strategi literasi untuk meningkatkan kecakapan berpikir tinggi peserta
didik di SD. Daftar cek untuk strategi literasi di bawah ini mendata kegiatan literasi yang perlu ada untuk menguatkan langkah-langkah
pembelajaran dalam Kurikulum 2013 di SD. Namun bukannya tidak mungkin bahwa strategi tersebut diimplementasikan dalam ungkapan
kalimat yang serupa. Perlu menjadi catatan bahwa nomor yang tersaji tidak merujuk pada urutan (dalam pembelajaran hal tersebut tidak
harus urut).
INDIKATOR STRATEGI LITERASI DALAM PEMBELAJARAN DI SD

NO DESKRIPSI ADA BELU CAT.


M ADA Kelas/Semeter :
A Strategi Literasi dalam Pembelajaran
1 Sebelum membaca/belajar Tema/Subtema :
mengidentifikasi tujuan membaca/belajar
membuat prediksi terhadap materi yang akan dipelajari,
misalnya melalui fitur awal pada media pembelajaran
Alokasi Waktu ;
(judul buku, judul film, dll)
mendiskusikan materi yang akan dipelajari melalui media
yang menyenangkan (buku pengayaan, dongeng, film
pendek, dll)
menghubungkan materi pembelajaran dengan
pengalaman siswa/subtema pembelajaran sebelumnya
2 Ketika membaca/belajar
SD Kelas Rendah
mengidentifikasi kosakata baru dan menebak maknanya
melalui fitur teks (gambar atau konteks kalimat)
melafalkan kata-kata yang berulang dengan intonasi,
pelafalan, dan irama yang benar
menggambar peta konsep sederhana
bermain peran/menyanyi/menceritakan kembali untuk
mengekspresikan pemahaman terhadap materi
pembelajaran
Berdiskusi dengan teman dan bekerja dalam kelompok
SD Kelas Tinggi
3 Setelah membaca/belajar
Mengambil kesimpulan tentang materi pembelajaran dan
mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari.
Melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran
Melakukan konfirmasi terhadap prediksi/pertanyaan yang
dibuat pada kegiatan pendahuluan
d) Contoh Praktik Pembelajaran Dengan Strategi Literasi di SD
a. Kegiatan dengan buku pengayaan untuk SD kelas rendah (Kelas 1, 2, 3)

Kegiatan untuk mengembangkan karakter ini dapat dilaksanakan sebagai kegiatan pembiasaan (pada 15 menit
membaca sebelum pembelajaran) atau kegiatan pengembangan (pada jam kunjungan perpustakaan/jam literasi).

- Guru membacakan buku dengan nyaring


- Guru dan peserta didik membaca buku bersama-sama

Sebelum Membaca

- Sebelum membacakan buku, guru mengajak peserta didik untuk memperhatikan sampul buku dan mendiskusikan
pertanyaan-pertanyaan berikut.
- Pada kegiatan membaca bersama, guru mengajak peserta didik untuk memperhatikan sampul buku dan
mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, lalu meminta peserta didik untuk membaca mandiri/membaca
bersama guru.

Pertanyaan Sebelum Membaca:

- Membaca teks dan gambar pada sampul buku: Apakah judul buku ini? Siapa yang ada di sampul buku ini? Apakah
dia?
- Membuat prediksi: Apa yang dilakukan tokoh pada sampul buku? Mengapa? Dari judul dan gambar sampul, bisakah
kamu menebak cerita dalam buku ini?
- Mengaktifkan pengetahuan latar anak: pernahkah kamu melihat binatang ini? Di mana? Binatang apakah yang mirip
ini? Apa yang kamu ketahui tentang binatang ini?
- Membuat inferensi: Menurutmu, bagaimana perasaan binatang ini? Mengapa? Dari raut muka binatang ini, bisakah
kamu menebak isi cerita ini?

b. Diskusi selama membaca buku:

Pertanyaan yang dapat ditanyakan kepada peserta didik selama dibacakan buku atau membaca bersama guru antara lain:

- Menurutmu, apa yang terjadi di sini?


- Menurutmu, apa yang terjadi setelah ini?
- Apa perasaan ... (tokoh cerita, misalnya Cepuk)? Mengapa? Apakah kamu pernah mengalami hal yang sama?
Bagaimana perasaanmu?
- Apakah artinya... (kosakata baru/sulit)? Dapatkah kamu menebak artinya?
- Apa perasaan ... (tokoh cerita, misalnya Cepuk)? Mengapa? Apakah kamu pernah mengalami hal yang sama?
Bagaimana perasaanmu?
- Apakah artinya... (kosakata baru/sulit)? Dapatkah kamu menebak artinya?

Pertanyaan-pertanyaan khusus terkait cerita dapat ditanyakan untuk meningkatkan:

- Kemampuan peserta didik menggunakan elemen visual/gambar dan teks untuk memahami cerita

Misalnya:
o Apa yang terdapat di sini? Ini gambar apa? Mengapa ini ada di sini?
o Apa artinya kata ini (kosakata tertentu)? Mengapa ia (tokoh cerita) mengatakan ini?
- Kemampuan nalar peserta didik dalam menganalisis cerita. Misalnya:
o Menurutmu, apakah yang dilakukannya (tokoh cerita) baik/benar
o Apa yang kamu lakukan apabila berada dalam situasi yang sama?

c. Kegiatan setelah membaca:

- Pemahaman Cerita: Diskusikan cerita bersama peserta didik: Apa? Siapa? Di mana? Bagaimana? Mengapa?
- Tanggapan terhadap cerita: Mendiskusikan tanggapan peserta didik terhadap cerita:
- Keterkaitan antara cerita dengan pengalaman: Mendiskusikan pengalaman peserta didik yang relevan dengan cerita:
o Pernahkah kamu mengalami masalah yang sama (dengan yang dialami oleh tokoh cerita)?
o Apa yang kamu lakukan apabila mengalami masalah yang sama?
o Apakah kamu tahu seseorang yang mengalami masalah yang sama dengan yang dialami oleh tokoh cerita? Apa yang ia
lakukan?
- Keterkaitan antara cerita dengan pengetahuan lain yang relevan. Misalnya: mendiskusikan cerita “Waktunya Cepuk
Terbang”:
o Mengapa burung hantu terbang pada malam hari?
o Apa yang dimakan burung hantu?
o Ada berapa jenis burung hantu di Indonesia?
o Di mana tempat tinggal burung hantu?
- Kegiatan setelah membaca:
o Menulis/menggambar pemahaman terhadap cerita/alur cerita dengan peta cerita/ mind map/gambar.
o Membuat daftar pertanyaan tentang apa yang ingin diketahui lebih lanjut tentang cerita/tokoh cerita, dll.
o Membuat bagan tanggapan terhadap cerita/tokoh cerita.
o Melakukan riset sederhana tentang binatang tokoh cerita atau fenomena dalam cerita.
o Mengisi jurnal membaca.

Contoh Jurnal Membaca Untuk SD Kelas Rendah

- Elemen Bacaan

• Judul
• Penulis:
• Ilustrator:
• Tahun terbit:
• Sub judul:

- Bagaimana alur cerita dalam buku ini?

 Awal:
 Tengah:
 Akhir: