Anda di halaman 1dari 19

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kemampuan Motorik Anak Usia Dini

1. Pengertian Kemampuan Motorik Anak Usia dini

Kemampuan motorik adalah kemampuan untuk melakukan

gerakan. Kemampuan motorik diawali dengan koordinasi tubuh, duduk,

merangkak, berdiri dan diakhiri dengan berjalan. Kemampuan gerakan

ditentukan oleh perkembangan kekuatan otot, tulang, dan koordinasi otak

untuk menjaga keseimbangan tubuh. Perkembangan kemampuan motorik

merupakan perkembangan pengendalian gerakan jasmani yang

terkoordinasi antara pusat syaraf, urat syaraf, dan otot.

Motorik merupakan sekumpulan untuk menggunakan dan

mengontrol gerakan tubuh, baik gerakan kasar maupun gerakan halus.

Kemampuan yang termasuk dalam aspek ini adalah antara lain

mengangkat kepala, duduk, merangkak, berdiri, berjalan, berlari,

memegang benda kelenturan pergelangan tangan, menunjuk kesebuah

titik, menggunakan jari penjepit, dan sebagainya. Kemampuan motorik

selalu memerlukan koordinasi bagian-bagian tubuh, sehingga latihan untuk

aspek motorik ini perlu diperhatikan

Perkembangan motorik merupakan proses memperoleh

geterampilan dan pola gerakan yang dapat dilakukan anak keterampilan

motorik diperlukan untuk mengendalikan tubuh. Pengembangan motorik

halus merupakan kegiatan yang menggunakan otot halus pada kaki dan

8
tangan. Gerakan ini memerlukan kecepatan, ketepatan, dan keterampilan

menggerakan. Selain itu keterampilan lain yang diperlukan adalah gerakan

pengamatan yaitu bagaimana anak melakukan gerakan dalam mengamati

suatu benda. Suatu gerakan dikatakan berdaya guna dan berhasil guna

lebih banyak ditentukan oleh kecepatan pengamatan sendiri dan

lingkungan. Karena itu perkembangan pengamatan anak tergantung pada

gerakan yang dilakukan.

Menurut Yazid Busthomi (2012: 27) kemampuan motorik adalah

proses tumbuh kembang anak, dimana perkembangan motorik terbagi atas

dua bagian yaitu motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar meliputi:

kemampuan merangkak, duduk, berdiri, berjalan, melompat, berlari, dan

sebagainya. Sedangkan motorik halus seperti memegang mainan,

memegang sendok, menulis dan sebagainya.

Berdasarkan hasil penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa

kemampuan motorik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan

gerakan-gerakan tubuh.

2. Pengertian Motorik Halus

Gerakan motorik halus mempunyai peranan yang sangat penting,

motorik halus adalah gerakan yang hanya melibatkan bagian-bagian tubuh

tertentu yang dilakukan oleh otot-otot kecil saja. Oleh karena itu gerakan

di dalam motorik halus tidak membutuhkan tenaga akan tetapi

membutuhkan kondisi yang cermat serta ketelitian.

9
Menurut Dini P. dan Daeng Sari (1996: 72) motorik halus adalah

aktivitas motorik yang melibatkan aktivitas otot-otot kecil atau halus

gerakan ini menuntut koordinasi mata dan tangan serta pengendalian gerak

yang baik yang memungkinkan melakukan ketepatan dan kecermatan

dalam gerak.

Pengertian keterampilan motorik halus menurut Sumantri (2005:

143) adalah pengorganisasian penggunaan sekelompok otot-otot kecil

seperti jari-jemari dan tangan yang sering membutuhkan kecermatan dan

koordinasi dengan tangan, keterampilan yang mencangkup pemanfaatan

dengan alat-alat untuk bekerja dan objek yang kecil atau pengontrolan

terhadap mesin misalnya mengetik, menjahit dan lain-lain.

Yudha M Saputra dan Rudyanto (2005: 118) menjelaskan bahwa

motorik halus adalah kemampuan anak dalam beraktivitas menggunakan

otot-otot halus (kecil) seperti menulis, meremas, menggengam,

menggambar, menyusun balok dan memasukan kaleng. Sedangkan

menurut Kartini Kartono (1995: 97) motorik halus adalah ketangkasan,

keterampilan, jari tangan dan pergelangan tangan serta penugasan terhadap

otot-otot urat pada wajah.

Menurut pendapat Bambang Sujiono (2008: 1.14) motorik halus

adalah gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan

dilakukan oleh otot-otot kecil, seperti keterampilan menggunakan jari

jemari dan gerakan pergelangan tangan yang tepat. Hal tersebut sesuai

dengan pendapat Rosmala Dewi (2005: 2) bahwa motorik halus

10
merupakan keterampilan yang menggunkan jari jemari, tangan dan

gerakan pergelangan tangan yang tepat.

Berdasarkan kutipan di atas maka pengertian motorik halus adalah

pengorganisasian penggunaan otot-otot kecil seperti jari-jemari dan tangan

yang sering membutuhkan kecermatan koordinasi mata dan tangan.

Motorik halus mengembangkan kemampuan anak dalam

menggunakan jari-jarinya, khususnya ibu jari dan jari telunjuk. Menurut

Yamin Martinis & Sanan Jamilah S, (2012: 101) kemampuan motorik

halus ada bermacam-macam yaitu :

a. Menggenggam (grasping)

1) Palmer grasping

Anak menggenggam suatu benda dengan menggunakan

telapak tangannya. Biasanya usia anak di bawah 1,5 tahunlebih

cenderung lebih menggunakan genggaman ini. Anak merasa lebih

mudah dan sederhana dengan memegang benda menggunakan

telapak tangan. Kadang kita bisa mengamati anak memungut

kismis, tetapi kemudian sering diacak-acak memakai telapak

tangan. Karena motorik halus yang belum berkembang dengan

baik, maka anak perlu mendapatkan alat-alat yang lebih besar

untuk melatih motorik halusnya. Jangan member crayon/kuas yang

kecil pada anak usia 1,5-2 tahun, tetapi gunakan yang lebih besar.

Demikian pula jika memberikan piring, gunakan piring yang lebih

11
cekung dan sendok yang panjang dan kecil, sehingga ketika anak

mengambil sesuatu dari piringnya, ada penahan dari dinding piring.

2) Menjipit ( pincer grasping )

Perkembangan motorik halus yang semakin baik akan

menolong anak untuk dapat memegang tidak dengan telapak

tangan, tetapi dapat menggunakan jari-jemarinya. Ketika anak

sedang makan, maka cara memegang sendok pun akan lebih baik,

menyerupai orang dewasa memegang.

b. Memegang

Anak dapat memegang benda-benda besar maupun benda-

benda kecil. Semakin tinggi kemampuan motorik halus anak, maka

anak makin mampu memegang benda-benda yang lebih kecil.

c. Merobek

Keterampilan merobek dapat dilakukan dengan kedua tangan

sepenuhnya ataupun menggunakan dua jari ( ibu jari dan telunjuk ).

d. Menggunting

Motorik halus anak makin kuat dengan banyak berlatih

menggunting. Gerakan menggunting dari paling sederhana akan terus

diikuti dengan guntingan yang makin kompleks ketika motorik halus

anak semakin kuat.

12
3. Prinsip Perkembangan Motorik

Menurut Malina dan Bouchard (Martini Jamaris, 2006: 10) prinsip

utama perkembangan motorik adalah kematangan, urutan, motivasi,

pengalaman, dan latihan atau praktek. Salah satu prinsip perkembangan

anak usia dini yang normal adalah terjadi suatu perubahan baik fisik

maupun psikis sesuai dengan masa pertumbuhannya.

Elizabeth B. Hurlock (1978: 151-153) terdapat 5 prinsip

perkembangan motorik anak adalah sebagai berikut:

a) Perkembangan motorik bergantung pada kematangan otot dan syaraf.

Perkembangan bentuk kegiatan motorik yang berbeda sejalan dengan

perkembangan area pusat syaraf yang berbeda. Karena perkembangan

system syaraf yang rendah, yang bertempat dalam urat syaraf tulang

belakang. Pada waktu lahir berkembang lebih baik daripada pusat

syaraf yang berada dalam otak, maka gerak reflek lebih baik

dikembangkan dengan sengaja daripada berkembang sendiri.

b) Belajar keterampilan motorik tidak terjadi sebelum anak matang.

Sebelum system syaraf dan otot berkembang dengan baik, upaya

mengajarkan gerakan terampil pada anak akan sia-sia. Sama halnya

bila upaya tersebut diprakasai oleh anak sendiri.

c) Perkembangan motorik mengikuti pola yang dapat diramalkan.

Perkembangan motorik mengikuti hukum arah perkembangan, urutan

perkembangan cephalocaudal (kepala ke kaki) menunjukkan bahwa

13
dalam masa awal bayi, terdapat gerakan yang lebih besar bagian kepala

dari pada di bagian badan yang lain.

d) Menentukan norma perkembangan motorik.

Kemungkinan perkembangan motorik mengikuti pola yang ditentukan

berdasarkan umur rata-rata yang dimungkinkan menentukan norma

untuk bentuk kegiatan motorik lainnya. Norma tersebut juga

digunakan orang tua atau orang lain untuk mengikuti perkembangan

anak.

e) Perbedaan individu dalam laju perkembangan motorik

Walaupun dalam aspek perkembangan mengikuti pola yang serupa

tetapi dalam hal rincian pola tersebut ada perbedaan individu. Hal

tersebut dapat mempengaruhi umur pada waktu perbedaan individu

tersebut mencapai tahap berbeda.

Selain itu, Endang Rini Sukamti (2007: 2-3) ada delapan hal

penting dalam mempelajari keterampilan motorik diantaranya:

a) Kesiapan belajar, anak yang sudah memiliki kesiapan belajar akan

lebih unggul dibanding anak yang belum memiliki kesiapan belajar

b) Kesempatan belajar, banyak anak yang tidak berkesempatan untuk

mempelajari keterampilan motorik karena hidup dalam lingkungan

yang tidak menyediakan kesempatan belajar atau bisa saja orang

tua merasa takut akan melukai anaknya.

c) Kesempatan berpraktek, anak harus diberi kesempatan untuk dapat

berpraktek semaksimal mungkin dalam menguasai keterampilan

14
meskipun demikian kualitas praktek jauh lebih penting dari

kuantitasnya.

d) Modal yang baik, anak dalam mempelajari keterampilan motorik

suka meniru suatu model memainkan peran yang penting, maka

untuk dapat mempelajari keterampilan seharusnya mendapatkan

model yang baik pula.

e) Bimbingan, untuk dapat meniru model yang betul maka

membutuhkan bimbingan. Bimbingan dapat membantu anak dalam

membetulkan suatu kesalahn sebelum kesalahan terlanjur melekat

dan dipelajari.

f) Motivasi, sumber motivasi umum adalah kepuasan pribadi yang

diperoleh anak dari kelompok sebayanya, serta kompetensi

terhadap perasaan kurang mampu dalam bidang lain. Motivasi bisa

dating dari diri sendiri juga dari orang lain disekitarnya.

g) Setiap keterampilan motorik harus dipelajari secara individu,

keterampilan gerak anak berbeda-beda dan keterampilan

mempunyai perbedaan tertentu, sehingga harus dipelajari secara

individu, missal: memegang sendok.

h) Keterampialn sebaiknya dipelajari secara bertahap dan satu persatu

sehingga tidak membosankan dan hasil maksimal.

Dari beberapa pendapat ahli maka dapat disimpulkan bahwa

terdapat prinsip utama perkembangan motorik adalah kematangan, urutan,

motivasi, pengalaman, dan latihan atau praktek. Dalam penelitian ini

15
prinsip-prinsip tersebut sangat berpengaruh bagi perkembangan motorik

anak sebab apabila salah satu prinsip tersebut tidak terpenuhi maka

perkembangan motorik anak dapat terhambat.

4. Karakteristik Pengembangan Motorik Halus Usia 4-5 tahun

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik

Indonesia No 58 Tahun 2009 Tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini,

tahapan tingkat pencapaian perkembangan motorik halus anak menurut

usia 4-5 tahun adalah sebagai berikut:

1. Membuat garis vertikal, horizontal, lengkung kiri dan kanan, miring

kiri/kanan, dan lingkaran.

2. Menjiplak bentuk.

3. Mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan gerakan yang

rumit.

4. Melakukan gerakan manipulatif untuk menghasilkan suatu bentuk

dengan menggunakan berbagai media.

5. Mengekspresikan diri dengan berkarya seni menggunakan berbagai

media.

Sejalan dengan pendapat diatas, menurut Bambang Sujiono (2005:

3.18) karakteristik perkembangan motorik halus anak usia 4-5 tahun

adalah sebagai berikut:

a. Menempel.

b. Mengerjakan puzzle (menyusun potongan-potongan gambar).

c. Mencoblos kertas dengan pensil atau spidol.

16
d. Makin terampil dalam menggunakan jari-jari (mewarnai gambar

dengan rapi).

e. Mengancingkan baju.

f. Menggambar dengan gerakan naik turun bersambung (seperti gunung

atau bukit).

g. Menarik garis lurus, miring, dan lengkung.

h. Melipat kertas.

5. Fungsi Pengembangan Motorik Halus

Fungsi keterampilan motorik halus menurut Dirjen Pendidikan TK

dan SD (2007: 2) adalah sebagai berikut:

a. Melatih kelenturan otot jari tangan.

b. Memacu pertumbuhan dan perkembangan motorik halus dan rohani.

c. Meningkatkan perkembangan emosi anak.

d. Meningkatkan perkembangan sosial anak.

e. Menumbuhkan perasaan menyenangi terhadap diri sendiri.

Sejalan dengan pendapat diatas, menurut Yudha Saputra &

Rudyanto (2005: 116) fungsi pengembangan motorik halus yaitu:

a. Sebagai alat untuk mengembangkan keterampilan gerak kedua tangan.

b. Sebagai alat untuk mengembangkan koordinasi kecepatan tangan dan

gerakan mata.

c. Sebagai alat untuk melatih penguasaan emosi.

17
6. Tujuan Pengembangan Motorik Halus

Dirjen Pendidikan TK dan SD (2007: 2), menyatakan bahwa tujuan

pengembangan keterampilan motorik halus di TK adalah untuk

memperkenalkan dan melatih gerakan halus, meningkatkan koordinasi

mata dan tangan.

Sumantri (2005: 146) menambahkan bahwa tujuan pengembangan

motorik halus di usia 4 – 6 tahun adalah:

a. Anak mampu mengembangkan kemampuan motorik halus yang

berhubungan dengan keterampilan gerak kedua tangannya.

b. Anak mampu menggerakkan anggota tubuh yang berhubungan dengan

gerak jari jemari, seperti kesiapan menulis, menggambar, dan

memanipulasi benda-benda.

c. Anak mampu mengkoordinasikan indra mata dan aktivitas tangan.

d. Anak mampu mengendalikan emosi dalam beraktivitas motorik halus.

Tujuan pengembangan motorik halus menurut Yudha Saputra dan

Rudyanto (2005: 115) yaitu:

a. Mampu memfungsikan otot-otot kecil seperti gerakan jari tangan.

b. Mampu mengkoordinasi kecepatan tangan dengan mata.

c. Mampu mengendalikan emosi

7. Tahap-tahap Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 4-6 Tahun

a. Menggunting sesuai dengan pola.

b. Menempel dengan tepat.

18
c. Mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan gerakan yang

rumit.

d. Menggambar sesuai gagasannya.

e. Menggunakan alat tulis dengan benar.

f. Meniru bentuk.

g. Melakukan eksplorasi dengan berbagai media dan kegiatan.

B. Mencetak

1) Pengertian Kemampuan Mencetak

Sumanto (2005: 71) “mengatakan mencetak/seni grafis adalah

kegiatan berkarya seni rupa dwi matra yang dilakukan dengan cara

mencapkan alat atau acuan yang sudah diberi tinta/cat pada bidang

gambar”. Mencetak merupakan salah satu kegiatan seni yang dapat

mengembangkan kreativitas anak. Sumanto juga menyebutkan mencetak

atau seni grafis dalam pembelajaran seni adalah kegiatan berkarya seni

rupa dua dimensi yang dimaksudkan untuk menghasilkan atau

memperbanyak karya seni dengan bantuan alat/acuan cetak tertentu.

Kegiatan mencetak ini antara lain dengan membuat cap (Slamet Suyanto,

2005: 167). Anak dapat membuat karya seni dendan menggunakan cap

dari pelepah pohon pisang, daun, atau bisa juga menggunakan tangan anak

yang sebelumnya sudah diberi warna kemudian ditempel pada kertas.

Desain seni grafis dibutuhkan acuan yang berfungsi sebagai master

gambar-gambar yang nantinya akan dipergunakan sebagai alat mencetak,

dengan adanya acuan yang kemudian dipakai untuk memproses kegiatan

19
memproduksi hasil karya dalam jumlah banyak inilah yang dimaksud

dengan mencetak (Evan Sukardi S. & Hajar Pamadhi, 2008: 4.4).

Mencetak adalah suatu cara memperbanyak gambar dengan alat cetak.

Mencetak dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana sampai

dengan cara yang sangat rumit (Evan Sukardi S. & Hajar Pamadhi, 2008:

4.4). Cara-cara mencetak yang sederhana dapat dilakukan dengan

menggunakan media yang ditemukan dilingkungan sekitar, misalnya

menggunakan pelepah pisang, belimbing, dll. Sedangkan dengan cara

yang rumit dapat dilakukan dengan menggunakan acuan yang sengaja

dirancang dengan desain motif yang diciptakan sendiri. Misalnya dengan

menggunakan acuan dari papan kayu (woodcut).

Jadi mencetak adalah kegiatan kegiatan seni yang menggunakan

alat acuan dengan cara mencapkan alat atau acuan yang sudah diberi tinta

pada media kertas, dimana kegiatan mencetak ini bertujuan untuk

menghasilkan atau memperbanyak karya seni. Alat dalam penelitian ini

alat acuan yang digunakan adalah menggunakan bahan alam seperti

pelepah pisang.

2) Teknik Mencetak

Mencetak adalah teknik membuat gambar berulang dengan

menggunakan alat dan cat warna. Terdapat beberapa teknik yang dapat

digunakan untuk mencetak, berdasarkan proses pembuatannya Sumanto

(2005: 72-73) menjelaskan beberapa teknik yaitu:

20
1. Cetak tinggi adalah teknik mencetak dengan menggunakan alat cetak

yang permukaanya tinggi atau berbentuk relief, ketika diatas acuan

(alat mencetak) diberi tinta/cat kemudian dicapkan pada bahan yang

dipakai mencetak (misalnya kertas gambar) maka akan dihasilkan

bentuk cap yang sama dengan bentuk acuannya.

2. Cetak datar adalah teknik mencetak dengan menggunakan alat cetak

yang prmukaanya rata/datar artinya tidak membentuk gambar timbul,

tidak berlubang dan tidak membentuk goresan alur rendah. Disebut

sebagai cetak tunggal karena teknik ini hanya dapat menghasilkan satu

karya cetak saja. Artinya acuan hanya dapat dipakai satu kali mencetak

saja, tidak bisa dipakai berulang-ulang seperti halnya cetak lainnya.

3. Cetak dalam atau cetak rendah adalah teknik mencetak menggunakan

alat cetak yang permukaanya rendah yaitu berupa alur rendah/dalam

bekas torehan alat yang digunakan. Selanjutnya pada acuan yang

rendah diberi tinta/cat dan kemudian dicapkan kebahan yang dipakai

mencetak maka akan pindahlah cat/tinta tersebut dan akan

menghasilkan bentuk cetakan tertentu.

4. Cetak sablon adalah teknik mencetak dengan menggunakan acuan

cetak yang belubang-lubang atau membentuk saringan tembus

sehingga tinta cetak akan meresap/bentuk melalui lubang-lubang acuan

kebahan yang dipakai mencetak.

Berdasarkan keempat tekink mencetak tersebut, yang biasa

digunakan di Taman Kanak-kanak adalah teknik cetak tinggi dan

21
teknik cetak sablon. Kegiatan mencetak ini juga dapat dipadukan

dengan kegiatan-kegiatan lainnya, seperti menggambar, mewarnai,

menggunting, dan menempel. Di dalam penelitian ini kegiatan

mencetak yang akan dilakukan adalah menggunakan teknik cetak

tinggi, yaitu teknik mencetak dengan menggunakan alat cetak yang

dipermukaan tinggi.

3) Kegiatan Mencetak Untuk Anak Usia Dini

Setelah mengetahui beberapa teknik dalam mencetak, yang dapat

diaplikasikan di dalam kegiatan di Taman Kanak-kanak adalah kegiatan

mencetak dengan kegiatan sederhana. Evan Sukardi S. & Hajar Pamadhi,

(2008: 4.7) menyebutkan kegiatan mencetak sederhana yang dapat

dilakukan anak usia dini dengan menggunakan pelepah pisang yaitu:

a. Bahan dan alat pelepah daun pisang

Pelepah pisang, pisau pemotong, pewarna makanan, piring kecil,

kertas karton, air dan spons.

Sedangkan menurut (Sumanto, 2005: 76) bahan dan alat yang

digunakan untuk mencetak pelepah pisang yaitu:

1. Kertas gambar ukuran kwarto, A4, kertas lipat.

2. Tinta atau cat gambar (cat air, cat poster) bisa juga menggunakan

tinta stempel.

3. Kuas atau menggunakan kapas.

4. Kertas Koran untuk alas meja.

5. Pelepah pisang untuk alat cetakknya atau pelepah lainnya.

22
6. Bantalan stempel bila menggunakan tinta stempel.

a. Cara Kerja

1) Siapkan adonan warna secukupnya pada piring kecil, kemudian

celupkan spon ke dalam adonan warna tersebut.

2) Ambil atau pilih salah satu atau beberapa potong pelepah dalam

keadaan masih segar (belum layu atau kering) dengan ukuran

sedang dan permukaan datar. Pelepah pisang dipotong melintang

dengan pisau oleh guru/peneliti (Sumanto, 2005: 76).

3) Kemudian penampang pelepah pisang diberi warna dengan cara

ditekan dengan cairan pewarna atau diolesi dengan memakai kuas

atau celupkan salah satu permukaan penampang pelepah pisang

pada spon yang telah diberi warna.

4) Selanjutnya penampang yang sudah berwarna tersebut dicapkan

pada kertas yang telah disiapkan sambil dilakukan penataan agar

diperoleh hasil cap yang lebih baik dan terarah.

5) Untuk menghasilkan cap dengan komposisi warna tertentu

ulangilah langkah mencetak yang sudah dilakukan dengan

mencelupkan penampang pada spon berbeda warna.

4) Manfaat Mencetak

Terdapat manfaat dari kegiatan mencetak untuk anak usia dini

dalam proses perkembangan anak. Sumanto (2005: 73), mengatakan

bahwa kreativitas mencetak yang dimaksudkan kegiatan berlatih berkarya

seni rupa dengan menerapkan cara-cara mencetak/mencap sesuai tingkat

23
kemampuan anak. Manfaat dari kegiatan mencetak adalah dapat

mengembangkan kreativitas anak, dapat meningkatkan kemampuan anak

dalam mengombinasikan warna (Lerin, 2009: 90). Manfaat lain dari

kegiatan mencetak adalah dapat meningkatkan pengendalian jari tangan

dan koordinasi tangan-mata (Einon, 2005: 92). Jadi kegiatan mencetak ini

sangat berpengaruh dalam pengembangan kemampuan motorik halus anak

terutama dalam hal koordinasi mata dan tangan. Maka kegiatan mencetak

ini sangat tepat untuk diterapkan di Taman Kanak-Kanak.

5) Mencetak dengan Pelepah Pisang

1. Pengertian Media Pelepah Pisang

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 9) pelepah

adalah “tulang daun yang terbesar (tentang daun pisang, daun pepaya,

dan sebagainya); bagian pangkal atau bawahdaun yang membungkus

batang”.

Kegiatan berkarya seni rupa yang dilakukan untuk

memindahkan gambar ke atas kertas dengan menggunakan acuan cetak

dengan menggunakan penampang pelepah pisang (Widia Pekerti, dkk.

2008: 10).

2. Proses Kreasi

Berikut ini adalah proses kreasi mencetak dengan penampang

pelepah pisang (Pekerti, 2008: 10.39).

1. Proses diawali dengan memberi stimulus untuk membangkitkan

minat dan rasa ingin tahu anak akan materi baru materi yang

24
dipelajarinya melalui contoh karya mencetak dengan penampang

pelepah pisang.

2. Proses merasakan atau menghayati dapat dicapai dengan memberi

kertas gambar agar anak dapat mengeksplorasi bermacam-macam

gerak jari-jari tangan dan beragam coretan atau sapu tangan.

3. Proses berpikir anak lebih fokus dan membangkitkan daya

imajinasi/fantasi sehingga anak mampu merespon lebih tepat dan

lancar.

4. Proses berkarya akan melibatkan kemampuan anak menguasai

beragam media cetak (bahan dan alat) sesuai tingkat perkembangan

usia.

C. Hubungan Motorik Halus Anak dengan Kegiatan Mencetak

Menggunakan Pelepah Pisang

Kemampuan motorik halus sebaiknya dibiasakan sejak dini melalui

proses latihan yang rutin berkelanjutan dan tepat sasaran. Hal ini bisa

dibuktikan karena tidak semua anak pandai menggerakan tangannya, misalnya

ada seorang anak yang kesulitan ketika ia akan memegang pensil, pensil

tersebut dipegang yang kurang tepat tetapi ada anak yang lainnya dengan

begitu mudah memegangnya. Kegiatan motorik halus sebaiknya juga sudah

diperkenalkan kepada anak-anak usia pra sekolah, sebab kegiatan motorik

halus merupakan langkah awal bagi pematangan dalam hal menulis dan

menggambar. Dengan demikian, berkembangnya motorik halus pada anak

sejak dini diharapkan agar anak mampu mengontrol keseimbangan tubuhnya

25
dan mampu mengembangkan potensi serta kreativitas yang dimiliki terutama

semua hal atau kegiatan yang berhubungan dengan syaraf atau otak seperti

menggambar, melukis, menggunting, menulis dan lain-lain.

D. Kerangka Berpikir

Kegiatan mencetak yang dilakukan pada penelitian ini adalah kegiatan

mencetak gambar dengan menggunakan pelepah pisang yang ada di sekitar

lingkungan anak, kegiatan ini sangat cocok dilakukan pada kegiatan

pembelajaran untuk anak usia dini yang dapat menstimulus motorik halus

anak, meningkatkan kepercayaan diri anak, dan melatih anak untuk

memecahkan masalah. Selain itu, dalam kegiatan mencetak peneliti juga

menggunakan demonstrasi dihadapan anak-anak bagaimana cara alat cetak

pelepah pisang sehingga dapat menghasilkan bentuk yang diinginkan. Dalam

kegiatan mencetak ini anak diberi kebebasan dalam menggunakan alat cetak

dan pewarna yang diinginkan untuk mencetak sehingga diharapkan anak akan

mampu berkreasi dan menghasilkan hasil karya baru dan berbeda dengan

teman-temannya.

E. Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan penelitian ini adalah kemampuan motorik halus

anak melalui kegiatan mencetak di Kelompok B TK Kemala Bhayangkari 25

Kendari ditingkatkan melalui media pelepah pisang.

26