Anda di halaman 1dari 15

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kemampuan Sosial dan Emosi Anak

Untuk mencapai pemahaman tentang dasar teoritis perkembangan sosial

dan emosi pada masing-masing (individu) anak usia dini, maka diharapkan

mampu mendeskripsikan secara singkat pengertian sosial dan emosi, serta

menggambarkan mekanisme terjadinya berbagai emosi dalam diri manusia, serta

memahami penahapan perkembangan sosial.

1. Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial adapt diartikan sebagai pencapaian kematangan

dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagai

proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok,

moral dan tradisi; meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling

berkomunikasi dan kerja sama.

Menurut Plato secara potensial (fitrah) manusia dilahirkan sebagai

makhluk sosial (zoon politicori). Syamsuddin (1995:105) mengungkapkan

bahwa "sosialisasi adalah proses belajar untuk menjadi makhluk sosial",

Selanjutnya dikatakan bahwa "sosialisasi merupakan suatu proses di mana

individu (terutama) anak melatih kepekaan dirinya terhadap rangsangan-

rangsangan sosial terutama tekanan-tekanan dan tuntutan kehidupan

(kelompoknya) serta belajar bergaul dengan bertingkah laku, seperti orang lain

di dalam lingkungan sosialnya". Muhibin (2000:35) mengatakan bahwa

perkembangan sosial merupakan proses pembentukan social self (pribadi

dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan

8
9

seterusnya. Adapun Hurlock (1993:250) mengutarakan bahwa perkembangan

sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan

tuntutan sosial. "Sosialisasi adalah kemampuan bertingkah laku sesuai dengan

norma, nilai atau harapan sosial".

Hurlock (1993:252) mengatakan fungsi dan peranan kemampuan sosial

pada perkembangan anak adalah sebagai berikut :

1. Belajar untuk bertingkah laku dengan cara yang dapat diterima

masyarakat.

2. Belajar memainkan peran sosial yang ada dimasyarakat.

3. Mengembangkan sikap/tingkah laku sosial terhadap individu lain dan

aktivitas sosial yang ada di masyarakat.

2. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial

Hurlock (1993:123) Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh

beberapa faktor yaitu: keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga,

tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan inteligensi.

a. Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh

terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan

sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan

yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku norma-norma

kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa

perilaku kehidupan anak.

Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak

lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma
10

dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan

diarahkan oleh keluarga.

b. Kematangan Anak

Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu

mempertimbangan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang

lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu,

kemampuan berbahasa ikut pula menentukan.

Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan

kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan

fungsinya dengan baik.

c. Status Sosial Ekonomi

Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan

sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang

anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam

konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. “ia anak siapa”. Secara tidak

langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya dan

memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya.

Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi

normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam

kehidupan sosial anak akan senantiasa “menjaga” status sosial dan ekonomi

keluarganya. Dalam hal tertentu, maksud “menjaga status sosial keluarganya” itu

mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal

ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi “terisolasi” dari kelompoknya.

Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya sendiri.
11

d. Pendidikan

Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat

pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan

warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa

yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa

perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat, dan

kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan

kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan(sekolah).

Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan

dekat, tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa(nasional) dan norma

kehidupan antarbangsa. Etik pergaulan membentuk perilaku kehidupan

bermasyarakat dan bernegara.

3. Perkembangan Emosi

Menurut Goleman (1995:411) “emosi merujuk pada suatu perasaan atau

pikiran-pikiran khas,suatu keadaan biologis dan psikologis serta rangkaian

kecenderungan untuk bertindak”. Menurut Syamsuddin (1995:69) mengemukakan

“emosi merupakan suatu suasana yang kompleks dan getaran jiwa yang meyertai

atau muncul sebelum atau sesudah terjadinya suatu perilaku.

Jika kita berbicara tentang emosi maka setiap orang akan mengatakan bahwa

ia pernah merasakannya, setiap orang bereaksi terhadap keberadaannya. Hidup

manusia sangat kaya akan pengalaman emosional. Hanya saja ada yang sangat

kuat dorongannya, adapula yang sangat samar sehingga ekspresinya tidak tampak.

Ekspresi emosi akan kita kenali pada setiap jenjang usia mulai dari bayi hingga

orang dewasa, baik itu laki-Iaki ataupun perempuan. Sebagai contoh, seorang anak
12

tertawa kegirangan ketika ayahnya melambungkan tubuhnya ke udara atau kita

meiihat seorang anak yang berusia satu tahun sedang menangis karena mainannya

direbut oleh kakaknya. Bagi seorang anak, kondisi emosi ini lebih*mudah

diekspresikan rnelalui kondisi fisiknya. Sebagai contoh seorang anak akan

iangsung menangis apabila ia merasa sakit atau merasa tidak nyaman. Namun,

apabiia seorang anak ditanya tentang "bagaimana perasaannya" atau "mengapa ia

merasa sakit?", anak akan merasa kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya

dalam bahasa verbal. Contoh-contoh perilaku di atas menunjukkan gambaran

emosi seseorang. Jadi, apa sebetulnya yang dimaksud dengan emosi itu? Untuk

mengetahui hai itu lebih jelas, Anda dapat mengikuti pembahasan berikut ini.

Emosi adalah perasaan yang ada dalam diri kita, dapat berupa perasaan v senang

atau tidak senang, perasaan baik atau buruk. Hurlock (199: 690) emosi

didefinisikan sebagai "berbagai perasaan yang kuat". Perasaan benci, takut, marah,

cinta, senang, dan kesedihan. Macam-macam perasaan tersebut adalah gambaran

dari emosi. Goleman (1995:411) menyatakan bahwa "emosi merujuk pada suatu

perasaan atau pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis serta

serangkaian kecenderungan untuk bertindak". Syamsuddin (1995:69)

mengemukakan bahwa "emosi merupakan suatu suasana yang kompleks (a

complex feeling state) dan getaran jiwa (stid up state) yang menyertai atau muncul

sebelum atau sesudah terjadinya suatu perilaku". Berdasarkan definisi di atas kita

dapat memahami bahwa emosi merupakan suatu keadaan yang kompleks, dapat

berupa perasaan ataupun getaran jiwa yang ditandai oleh perubahan biologis yang

muncul menyertai terjadinya suatu perilaku.


13

4. Ciri Utama Reaksi Emosi pada Anak TK

Reaksi emosi anak sangat kuat, dalam hal kekuatan, makin

bertambahnya usia anak, dan semakin bertambah matangnya emosi anak maka

anak akan semakin terampil dalam memiliki dan memiliki kadar keterlibatan

emosionalnya.

1) Reaksi emosi seringkali muncul pada setiap peristiwa dengan cara yang

diinginkannya. Semakin emosi ank berkembang menuju kematangannya,

mereka akan belajar mengontrol diri dan memperlihatkan reaksi emosi

dengan cara dapat diterima lingkungan.

2) Reaksi emosi anak mudah berubah dari satu kondisi kekondisi lain

3) Reaksi emosi bersifat individual

4) Keadaan emosi anak dapat dikenali melalui gejala tingkah laku yang

ditampilkan (Hurlock, 1993:120)

5. Bentuk Reaksi Emosi pada Anak TK

Adapun beberapa bentuk emosi umum terjadi pada awal masa anak-anak

yang dikemukakan oleh Hurlock (1993:117) adalah: (1) amarah; (2) takut; (3)

cemburu; (4) ingin tahu, (5) iri hati, (6) senang, (7) sedih; dan (8) kasih sayang.

B. Konsep Pembelajaran Kooperatif

1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Istilah Cooperative Learning dalam pengertian bahasa Indonesia dikenal

dengan nama pembelajaran kooperatif. Menurut Johnson & Johnson dalam Isjoni,

(2012: 17-20) Cooperative Learning adalah mengelompokkan siswa dapat bekerja

sama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu

sama lain dalam kelompok tersebut. Beberapa ciri Cooperative Learning adalah;
14

(a) setiap anggota kelompok memiliki peran, (b) terjadi hubungan interaksi

langsung di antara siswa, (c) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas

belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya, (d) guru membantu

mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, dan (e) guru

hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.

Menurut Lie, (2007: 22-25) juga menyebutkan bahwa pembelajaran

kooperatif merupakan sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan pada

anak untuk bekerja sama dengan tugas-tugas terstruktur. Melalui pembelajaran ini

siswa bersama kelompok secara gotong-royong maksudnya setiap anggota

kelompok saling membantu antara teman yangsatu dengan yang lain dalam

kelompok tersebut sehingga di dalam kerjasama tersebut yang cepat harus

membantu yang lemah.

Menurut Pidarta (2000:40), bahwa beberapa pendidik menginginkan

adanya kompetisi dan kooperasi yang dilakukan sejajar untuk mengembangkan

segi individualitas dan sosial secara bersama-sama, serta meningkatkan iklim

emosional dalam kelas.

Pidarta (2000:41) menjelaskan pula bahwa dari hasil-hasil penelitian

menyatakan bawa hubungan yang bersifat bersahabat dan saling membantu lebih

penting untuk sebagian besar anak-anak dari pada prestasi individual. Apabila

kondisi tidak diciptakan untuk bekerjasama, saling membantu dan bersahabat,

anak-anak menjadi tidak puas; energi, perhatian dan belajarnya terhadap tugas-

tugas sekolah akan menjadi berkurang.

Guru seharusnya menciptakan di dalam lingkungan belajar siswa suatu

sistem sosial yang dicirikan dengan produser demokrasi dan proses ilmiah seperti
15

yang dikemukakan oleh ahli pedagogi Dewey dalam Santoso, (2003:10), bahwa

tanggung jawab utama guru adalah memotivasi siswa untuk bekerja secara

kooperatif dan untuk memikirkan masalah sosial penting yang muncul pada hari

itu. Ibrahim (2000:5-6), juga mengemukakan bahwa siswa yang bekerja dalam

situasi pembelajaran kooperatif didorong atau dikehendaki untuk bekerjasama

pada suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usaha untuk

menyelesaikan tugasnya. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau

lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan

bersama.

Santoso (2003:5) juga menguraikan bahwa pembelajaran kooperatif

dicirikan oleh struktur tugas, tujuan, dan penghargaan kooperatif. Siswa yang

bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong dan atau dikehendaki

untuk bekerjasama pada tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan

usahanya untuk menyelesaikan tugasnya.

Tujuan pokok pembelajaran kooperatif adalah: a) hasil belajar; b)

penerimaan keseragaman atau melatih siswa untuk menghargai dan mengikuti

orang lain; dan c) mengembangkan keterampilan sosial. Tujuan kooperatif dapat

tercapai jika tercipta kerja sama yang baik dalam kelompoknya, kesadaran dan

tanggungjawab dan ada saling ketergantungan positif dan interaktif promotif

Ibrahim (2000: 8)

2. Karateristik dan Prinsip Pembelajaran Kooperatif

Karateristik merupakan prilaku yang tampak dan menjadi tabiat atau

karakter dari kegiatan pembelajaran kooperatif. Ibrahim (2000:6-7) mengatakan

bahwa pembelajaran kooperatif memiliki sejumlah karateristik tertentu yang


16

membedakan dengan pembelajaran lain, antara lain: a) siswa bekerja dalam

kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya; b) kelompok

dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah; c)

bilamana mungkin anggota kelompok berasal dalam ras, budaya, suku, jenis

kelamin berbeda-beda; dan d) penghargaan lebih beriorintasi kelompok dibanding

individu.

Menurut Ibrahim (2000:6), unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif

adalah sebagai berikut: a) siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa

mereka sehidup sepenanggungan bersama; b) siswa bertanggungjawab atas segala

sesuatu di dalam kelompoknya seperti mereka sendiri; c) siswa haruslah melihat

bahwa semua anggota didalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama; d) siswa

haruslah membagi tugas dan tanggungjawab yang sama diantara anggota

kelompoknya; e) siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan

keterampilan untuk belajar bersama-sama selama proses belajarnya; dan f) siswa

akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani

oleh kelompok kooperatif.

Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran

yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pembelajaran kooperatif dapat

didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Yang

termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok. Menurut Johnson &

Johnson dalam Ibrahim (2000:120), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung

jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.

3. Ciri-ciri Model Pembelajaran Kooperatif

Sedangkan ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :


17

1. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar

sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.

2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-

beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin

anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta

memperhatikan kesetaraan jender.

3. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing

individu, (Johnson & Johnson (dalam Ibrahim (2000:125)

Dalam pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi

dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis,

saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan

kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan

diri sendiri maupun teman lain, (Ibrahim, 2000:10).

4. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

Langkah-langkah pembelajaran kooperatif pada pelaksanaan pembelajaran

siswa dalam satu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5

orang dan setiap kelompok haruslah heterogen laki-laki dan perempuan dari

berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, rendah dan sedang. Anggota tim

menggunakan lembar kegiatan atau perangkat belajar yang lain untuk

menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain

untuk memahami bahan pelajaran melalui tutorial Ibrahim, (2000:20-21).

Menurut Ibrahim (2000:20-21), Terdapat 6 langkah atau fase dalam

pembelajaran kooperatif, yaitu: a) memotivasi siswa dan menyampaikan tujuan

pembelajaran; b) menyajikan informasi /penyajian materi; c) mengorganisasikan


18

siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar; d) membimbing siswa

bekerja/belajar kelompok; e) melakukan evaluasi; dan f) memberikan

penghargaan kepada siswa secara berkelompok. Dalam kaitannya dengan kegiatan

atau perilaku guru pada setiap fase tersebut, dapat dilihat tabel pada halaman

berikut:

Tabel 1. Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif


Fase-fase Pembelajaran Tingkah laku Guru

Fase 1 Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang


Menyampaikan tujuan dan ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan
memotivasi siswa memotivasi siswa dalam belajar.

Fase 2 Guru menyajikan informasi atau materi


Menyajikan informasi atau pelajaran kepada siswa dengan cara
materi pelajaran demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

Fase 3 Guru menjelaskan bagaimana caranya


Mengorganisai siswa kedalam membentuk kelompok belajar dan membantu
kelompok belajar setiap kelompok agar melakukan transisi
secara efisien dalam belajar.

Fase 4 Guru membimbing kelompok-kelompok


Membimbing siswa belajar pada saat mengerjakan tugas bersama.
bekerja/belajar kelompok

Fase 5 Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi


Evaluasi yang telah dipelajari atau masing-masing
kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Fase 6 Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik


Memberikan penghargaan upaya maupun hasil belajar individu dan
kelompok.

(Ibrahim dkk, 2000 : 10).

5. Kelemahan dan Keunggulan Pembelajaran Kooperatif


19

Sampai saat ini pembelajaran kooperatif belum banyak diterapkan dalam

dunia pendidikan, kebanyakan pengajar enggan untuk menerapkan sistem ini

karena beberapa alasan.

Menurut Slavin, (1998: 136–137) bahwa ada beberapa masalah dalam

menerapkan strategi pembelajaran bersama seperti ini di kelas, yaitu: ramai, gagal

untuk saling mengenal, prilaku yang salah, dan penggunaan waktu yang tidak

efektif. Diharapkan di dalam kelas lebih ramai sedikit karena siswa bekerja dan

berbicara dalam kelompok kecil, namun sesuatu yang berkelebihan,

bagaimanapun akan mengganggu guru dan mengganggu fungsi kelompok dan

kelas lainya. Gagal untuk menyatu, biasanya terjadi pada siswa yang terisolasi

secara sosial.

Dalam kegiatan belajar, siswa duduk diam terisolir dari siswa–siswa

lainya. Belajar bersama mengharuskan mereka berbicara, mendengarkan, dan

membantu yang lainya untuk belajar. Proses biasanya dibuat lebih rumit oleh

kehetrogenen kelompok tersebut. Prilaku yang salah, biasanya timbul karena

adanya ketidak tahuan siswa tentang apa yang harus dilakukan dalam

pembelajaran kooperatif. Hal ini menimbulkan peningkatan masalah manajemen

pada siswa sehingga memerlukan solusi untuk masalah potensial yang menantan.

Penggunaan waktu yang tidak efektif oleh siswa terjadi karna siswa yang bergurau

dan bermain sendiri sedangkan siswa lainya sibuk melakukan aktifitas kelompok.

Pengawasan guru yang tidak cermat dalam mengawasi kinerja guru selama

pembelajaran kelompok tidak efektif.

Selain masalah–masalah di atas yang kemungkinan terjadi, menurut

Soewarso (1998:23) kelemahan-kelemahan yang mugkin terjadi adalah sebagai


20

brikut: (a) pembelajaran kooperatif bukanlah obat yang paling mujarap untuk

memecahkan masalah yang timbul dalam kelompok kecil; (b) adanya

ketergantungan sehingga siswa yang lambat berpikir tidak dapat berlati belajar

mandiri; (c) pembelajaran koperatif memerlukan waktu yang lama sehingga target

pencapaian kurikulum tidak dapat dipenuhi; (d) pembelajaran kooperatif tidak

dapat menerapkan materi pelajaran secara tepat; dan (e) penilaian terhadap

individu dan kelompok dan pemberian hadiah menyulitkan bagi guru untuk

melaksanakannya.

Meskipun banyak kelemahan yang timbul, menurut Soewarso (1998; 22)

pembelajaran kooperatif juga memiliki keuntungan. Keuntungan ini meliputi: (a)

pelajaran kooperatif membantu siswa mempelajari isi materi pelajaran yang

sedang dibahas; (b) adanya anggota kelompok lain menghindari kemungkinan

siswa mendapatkan nilai rendah karena dalam pengetesan lisan siswa dibantu oleh

anggota kelompoknya; (c) pembelajaran kooperatif menjadikan siswa mampu

belajar berdebat, belajar mendengarkan pendapat orang lain dan mencatat hal hal

yang bermanfaat untuk kepentingan bersama–sama; (d) pembelajaran koopertif

menghasilkan pencapaian belajar siswa yang tinggi, menambah harga diri siswa,

dan memperbaiki hubungan dengan teman sebaya; (e) hadiah atau penghargaan

yang diberikan akan memberikan dorongan bagi siswa untuk mencapai hasil yang

lebih tinggi; (f) siswa lambat berpikir dapat dibantu untuk menambah ilmu

pengetahuannya; dan (g) pembentukan kelompok – kelompok kecil memudahkan

guru untuk memonitor siswa dalam belajar bekerjasama.

C. Penelitian yang Relevan


21

Berdasarkan hasil kaji pustakan ditemuman beberapa judul yang

relevansi dengan judul peneliti antara lain:

1. Ika Puspasari Stambuk A520090125 (2013) dengan judul: “Upaya

Mengembangkan Kemampuan Interaksi Sosial Anak Melalui Pembelajaran

Kooperatif Pada Anak Kelompok A Di Tk Pertiwi Segaran Delanggu

Klaten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pelaksanaan tindakan

dilaksanakan dalam 3 siklus. Hasil yang diperoleh menunjukkan ada

peningkatan kemampuan interaksi sosial anak melalui pembelajaran

kooperatif, yaitu kemampuan interaksi sosial anak pada pra siklus sebesar

40,10%, siklus I sebesar 60,42%, siklus II sebesar 73.18% dan siklus III

mencapai 83,85%. Maka kesimpulan dari penelitian ini adalah

pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan interaksi

sosial anak.

2. Francicka Anggraeni (2013) PG-PAUD, Universitas Sebelas Maret dengan

judul: “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Metode Team Game

Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Perkembangan Sosial Emosional

Anak Kelompok B TK Marsudisiwi” Hal tersebut dapat dibuktikan dengan

melihat hasil nilai ketuntasan perkembangan sosial emosional anak

kelompok B TK Marsudisiwi Surakarta pada partindakan, siklus I dan

siklus II. Nilai ketuntasan perkembangan sosial emosional anak sebelum

dilakukannya tindakan sebesar 24% atau sejumlah 6 orang anak,

selanjutnya setelah dilakukan tindakan pada siklus I nilai ketuntasan

perkembangan sosial emosional anak meningkat menjadi 56% atau

sejumlah 14 orang anak, kemudian pada siklus II nilai ketuntasan


22

perkembangan sosial emosional anak meningkat menjadi 84% atau

sejumlah 21 orang anak. Melihat hasil ketercapaian nilai ketuntasan

perkembangan sosial emosional anak setiap siklusnya dapat dikatakan

berhasil, karena menunjukan peningkatan dan telah mencapai indikator

kinerja yang telah ditetapkan oleh peneliti yaitu sebesar 80% dan hasil

penelitian nilai ketuntasan yang dicapai sebesar 84% atau sejumlah 21

orang anak. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai ketuntasan perkembangan

sosial emosional anak mengalami peningkatan setiap siklusnya sehingga dapat

disimpulkan penerapan model pembelajaran kooperatif metode Team Game

Tournament (TGT) dapat meningkatkan perkembangan sosial emosional anak

kelompok B TK Marsudisiwi Surakarta.