Anda di halaman 1dari 14

TUGAS INDIVIDU

“PRINSIP DASAR PENGERJAAN COMPOUNDING”

DISUSUN OLEH :

KADEK SUASTINI (D1A119001)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESIONAL APOTEKER

UNIVERSITAS MEGAREZKY MAKASSAR

2020
PRINSIP DASAR PENGERJAAN COMPOUNDING

A. Keahlian Dasar

Saat seorang apoteker melakukan compounding terdapat hubungan

yang lebih dekat antara seorang apoteker dengan pasien yang menerima

obat racikan dibanding dengan pasien yang hanya menerima obat komersil,

karena semakin banyak obat yang diracik dalam suatu resep maka semakin

tinggi pula tingkat pelayanan kefarmasian yang diberikan untuk seorang

pasien (Yancey dkk., 2008).

Keahlian dasar apoteker dalam proses compounding adalah sebagai berikut:

1. Memiliki akses informasi terbaru

2. Mampu menyimpan bahan sdiaan obat yang sesuai dengan sifat fisika

kimia bahan

3. Mempunyai keahlian ilmu dasar farmasi sehingga mampu melakukan

proses compounding yang benar

Oleh sebab itu, seorang apoteker di Indonsia harus memenuhi

standar kompetensi apoteker yang di buat oleh Ikatan Apoteker Indonesia,

dalam melakukan dispensing apoteker harus menguasai kompetensi inti

dalam melakukan dispensing. Kompetensi inti tersebut adalah sebagai

berikut (Ikatan Apoteker Indonesia, 2016).

1. Mampu melakukan penyiapan sediaan farmasi sesuai standar, dengan

rincian

a. Memutuskan legalitas dan kelengkapan administratif resep.

b. Melakukan analisis kesesuaian farmasetik.


c. Melakukan analisis kompatibilitas dan stabilitas obat.

d. Melakukan kalkulasi dosis, serta konversi kekuatan dan bentuk

sediaan obat dengan tepat.

e. Menetapkan formulasi sediaan farmasi yang membutuhkan

penanganan khusus, sediaan steril dan sitostatika.

f. Melakukan penyiapan sediaan non-steril, pencampuran sediaan steril

(i.v. ad mixture), sterilisasi sediaan farmasi & alat kesehatan, &

penyiapan sitostatika sesuai standar dan pedoman.

g. Menyiapkan etiket dan label sesuai kebutuhan, termasuk

penyimpanan, ED (Expiration Date) atau BUD (Beyond Use Date ).

h. Mengemas sediaan farmasi dalam wadah yang tepat untuk menjaga

mutu dan menghindari kesalahan penggunaan.

i. Memvalidasi salinan resep.

j. Merancang, membuat dan memutakhirkan dokumen pengobatan

pasien (PMR) beserta semua perubahan dan tindakan atas resep.

2. Mampu menyerahkan sediaan farmasi dan alat kesehatan, serta

memberikan informasi terkait sediaan farmasi dan alat kesehatan kepada

pasien, dengan rincian

a. Memastikan kesesuaian identitas pasien serta kewenangan penerima

sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang diresepkan.

b. Memastikan kesesuaian antara sediaan farmasi dan/atau alat

kesehatan yang disiapkan dengan yang diminta dalam resep.

c. Melakukan penyerahan sediaa farmasi dan alat kesehatan dengan

sikap ramah, terbuka, komunikatif, dan asertif dengan memperhatikan

etika profesi.
d. Memberikan penjelasan tentang fungsi atau kegunaan, frekuensi,

waktu dan cara penggunaan, batasan penggunaan, efek samping

potensial, serta cara penyimpanan sediaan farmasi dan/atau alat

kesehatan.

e. Menjelaskan identitas obat dan karakteristik bentuk sediaan yang

digunakan pasien.

f. Memastikan pasien memahami informasi yang diberikan.

g. Mendokumentasikan kegiatan penyerahan sediaan farmasi dan

informasi yang disampaikan kepada pasien.

h. Mengidentifikasi & melakukan tindakan untuk mencegah dan/atau

mengatasi dispensing error dan near misses.

i. Menerapkan dan mengelola sistem pelaporan adanya kejadian

dispensing error dan near misses.

j. Melaporkan adanya sediaan yang cacat dan/atau substandar ke pihak

yang berwenang.

Untuk memenuhi standar kompetensi tersebut, dalam menyiapkan

sediaan farmasi yang sesuai standar, apoteker harus menerapkan

prinsip-prinsip umum compounding agar obat racikan yang dihasilkan

kekuatan sediaan, kualitas, dan kemurniannya dapat diterima dan sesuai

dengan resep atau pesanan obat (United States Pharmacopeia, 2011).

B. Peralatan yang dibutuhkan

Untuk memastikan presisi dan reliabilitas, semua peralatan dan

instrumen, harus diperiksa, dirawat, dibersihkan, dan dikalibrasi pada interval

yang tepat, seperti yang 8 direkomendasikan oleh pabrik, dan setidaknya


setahun sekali jika tidak ada rekomendasi. Setiap kali selesai digunakan dan

dibersihkan, peralatan dan instrumen lain yang digunakan untuk

compounding harus disimpan dengan rapi di lemari yang sesuai. Instrumen

dan peralatan yang digunakan untuk beberapa preparasi berbeda harus

dibersihkan sepenuhnya dan menyeluruh untuk menghilangkan semua

produk sebelumnya sehingga mencegah kontaminasi silang antara racikan

(National Association of Pharmacy Regulatory Authorities, 2016).

Semua catatan yang dibuat pada formulir pemeliharaan harus

menunjukkan anggota staf yang melakukan pemeliharaan (apoteker, teknisi

farmasi, anggota staf pembersihan) (United States Pharmacopeia, 2011).

Adapun peralatan yang dibutuhkan seorang apoteker dalam

pelaksanaan compounding adalah:

1. Alat peracikan

Alat yang digunakan dalam membantu pencampuran obat yang meliputi :

a. Molar & Stamper ; digunakan untuk menghaluskan dan mencampur

bahan bahan yang terbuat dai porcelain dan tahan panas.

b. Cawan; digunakan untuk wadah menimbang,

menguapkan/mengeringkan cairan, melebur/mencampur bahan,

terbuat dari porcelain tahan panas tapi tidak tahan banting.


c. Kaca arloji; digunakan untuk menimbang bahan yang mudah

menguap, menyublin & cairan yang tidak boleh ditimbang dengan

kertas perkamen.

d. Pengayak; alat yang dipakai untuk mengayak bahan yang sesuai

dengan derajat kehalusan serbuk.

e. Sendok/sudip; digunakan untuk mengambil bahan padat, untuk bahan

cair bias digunakan pipet penates atau langsung dituang dengan hati-

hati, sedangkan untuk bahan semi padat (ekstrak kental dan lemak-

lemak) bisa digunakan spatel/sudip.

f. Corong; digunakan untuk menyaring dengan meletakkan kertas saring

di atas corong, kertas saring diguntung bulat + 1 cm diletakkan di atas

mulut corong.
g. Batang pengaduk; digunakan untuk mengaduk bahan, biasanya

bahan berupa cair.

h. Pencetak suppo; digunakan untuk pembuata/pencetakan sediaaan

suppo.

i. Capsule Filter; alat untuk mengisi capsul secara

manual/menggunakan tangan.

j. Pencetak Tablet; digunakan untuk mencetak tablet


C. Penimbangan, dan Pengukuran.

1. Jenis timbangan

Ada tiga jenis timbangan obat yaitu:

a. Timbangan kasar ; Daya beban 250 gram – 1000 gram, kepekaan

200 mg

b. Timbangan gram halus ; daya beban 100 gram – 200 gram, kepekaan

50 mg

c. Timbangan milligram ; daya beban 10 gram – 50 gram, kepekaan 5

mg

Digunakan untuk menimbang bahan kurang dari 1 g atau yang

membutuhkan ketelitian, missal obat berkhasiat keras (meskipun

jumlahnya > 1 g)

2. Cara penimbangan bahan-bahan

a. Bahan padat seperti serbuk, lilin ditimbang diatas perkamen.

b. Bahan ½ padat seperti vaselin, adeps, ditimbang di atas kertas

perkamen atau diatas cawan penguap.

c. Bahan cair dapat ditimbang diatas kaca arloji, cawan penguap atau

langsung dalam botol atau wadah.

d. Bahan cairan kental seperti ekstrak belladon dan ekstrak hyoscinamy

langsung ditimbang, sedangkan untuk ichytol ditimbang dikertas

perkemen yang sebelumnya dioles dengan paraffin cair / vaselin.

e. Bahan oksidator (kalii Permanganas, Iodium, Argenti Nitras)

ditimbang pada gelas timbang atau pada gelas arloji yang tertutup.
f. Bahan yang botolnya kurang dari 50 mg dilakukan pengenceran.

Pemilihan instrument untuk menentukan bobot tergantung pada tugas

yang dilakukan. Pilihan dapat dibuat berdasarkan luasnya rentang

instrument yang tersedia, termasuk timbangan analitik yang sangat

sensitive, timbangan resep elektronik atau torsi. Indtrumen yang

digunakan harus memenuhi standar yang ksudah ditetapkan untuk

kepekaan, akurasi dan kapasitas.

Timbangan resep golongan A, minimal harus digunakan dalam semua

prosedur peracikan resep. Timbangan ini mempunyai syarat kepekaan 6

mg dan kapasitas maksimum 120 gram.

Jika persentasi galat tertentu tidak dilampaui dan kepekaan

timbangan diketahui, maka jumlah terkecil yang dapat ditimbang dengan

akurasi yang diinginkan dapat dihitung dengan cara :

Dengan demikian untuk timbangan dengan kepekaan 6 mg dengan

galat yang diterima (acceptable error 5%), jumlah yang harus ditmbang

adalah 120 mg. Beberapa apoteker menggunakan timbangan elektronik

untuk menimbang jumlah yang sangat kecil. Banyak timbangan ini yang

dapat menimbang 0,1 mg dengan akurat dan mudah digunakan.

Pengukuran volume yang akurat merupakan suatu keterampilan yang

diperoleh pendidikan dan pelatihan apoteker.

Volume adalah ruang yang ditempati diukur dalam satuan kubik.

Volumerik berkaitan dengan pengukuran volume dengan instrument atau


alat yang sesuai. Alat yang diizinkan digunakan dalam prosedur analitik

adalah mikropipet dan buret. Pemilihan alat yang digunakan harus sesuai

dengan bahan yang diukur dan tingkat presisi yang diperlukan.

Pengukuran volume kecil dalam bejana ukur yang besar

meningkatkan kesalahan; semakin sempit rongga atau ruang bejana,

semakin kecil kesalahan dalam pembacaan miniskus dan semakin akurat

pengukuran tersebut.

Berdasarkan USP, penyimpangan 1 mm pada pembacaan meniscus

menyebabkan kesalahan sekitar 0,5 ml jika menggunakan bejana selinder

100 ml.

D. Memperkecil Ukuran Partikel

Pengetahuan dan pengendalian ukuran, serta kisaran ukuran partikel

sangat penting dalam farmasi, sebab ukuran partikel mempunyai pengaruh

yang sangat besar dalam pembuatan sediaan obat dan juga terhadap efek

fisiologinya (Moechtar, 1990; Sukandar, el al., 2008)

Secara klinik, ukuran partikel suatu obat dapat dipengaruhi

pelepasannya dari bentuk-bentuk sediaan yang diberikan secara oral,

parenteral, rektal dan topical. Dalam bidang pembuatan tablet dan kapsul,

pengendalian ukuran partikel sangat penting sekali dalam mencapai sifat

aliran yang diperlukan dan pencampuran yang benar dari granul dan serbuk

(Martin, et al., 1993)

Penurunan ukuran partikel dapat meningkatkan laju absorpsi dan

berpengaruh pada proses pelarutan. Pengurangan ukuran partikel berperan


tidak hanya pada laju penyerapan tetapi juga pada kecilnya derajat kelarutan

suatu senyawa.

Ukuran partikel dapat dinyatakan dengan berbagai cara. Ukuran

diameter rata-rata dan beberapa cara pengukuran partikel yaitu :

1. Metode mikroscopik

Bila partikelnya lebih kecil yaitu partikel dengan ukuran Angstrom. Dari 10

– 1000 Angstrom (1 Angstrom = 0,001 mikrometer), mikroskop ini

memiliki jelajah ukur dari 12 mikrometer sampai kurang lebih 100

mikrometer.

2. Metode Pengayaan

Cara ini untuk mengukur ukuran partikel secara kasar. Bahan yang akan

diukur partikelnya ditaruh di atas ayakan dengan nimir mesh rendah.

Kemudian di bawahnya ditaruh/ditempatkan ayakan dengan ayakan

dengan nomor mesh yang lebih tinggi. Metode ini adalah metode yang

paling sederhana dilakukan. Ayakan dibuat dari kawat dengan lubang

diketahui ukurannya. Istilah “mesh” adalah nomor yang menyatakan

jumlah lubang tiap inci.

3. Metode Sedimentasi

Ukuran partikel dari ukuran saringan seperti salah satunya seringkali

disangkutkan dalam bidang farmasi. Metode sedimentasi di dasarkan

pada hokum Stoke, serbuk yang akan diukur disuspensikan dalam cairan,

dimana serbuk yang tidak dapat larut. Suspense ini ditempatkan pada

sebuah pipet yang bervariasi. Sampel ini diuapkan untuk dikeringkan dan

residunya ditimbang. Setiap sampel ditarik yang mempunyai ukuran

partikel; yang lebih kecil dari yang dihubungkan dengan kecepatan.


Pengendapan karena semua partikel dengan ukuran yang lebih panjang

akan jatuh ke level bawah dari ujung pipet.

Penggerusan adalah proses mekanik untuk memperkecil ukuran zat

padat. Proses penggerusan merupakan dasar operasional penting dalam

teknologi farmasi. Proses ini melibatkan perusakan dan penghalusan materi

dengan konsekuensi meningkatnya luas permukaan. Ukuran partikel atau

ukuran butiran dapat menentukan tingkat homogenesis zat aktif dan tingkat

kerja optimal (Kurniawan, 2009).

Ada dua cara penggerusan yaitu penggerusan dengan mortar

stamper dan penggunaan dengan blander. Penggerusan dapat

diklasifikasikan menjadi 3 kelompok sesuai dengan tingkat kehalusan yang

dicapai yaitu:

1. Mesin penggerus butir kasar

2. Mesin penggerus butir sedang

3. Mesin penggerus butir halus

Pemilihan klasifikasi ini disesuaikan dengan tujuan bentuk sediaan

farmasi yang dikehendaki tergantung dari material dan sifat-sifat fisikanya

(kekerasan, elastisitas, kelengketan dan sebagainya), ukuran partikel awal

dari bahan yang digerus dan ukuran partikel akhir dari produk yang

diinginkan. Misalkan dituntut sesuai proses penghalusan yang berlangsung

lama, maka pertama-tama dilakukan penggerusan kasar, kemudian

dilanjutkan dengan suatu cara penggerusan lainnya, yang memungkinkan

diperolehnya ukuran partikel terkecil (Kurniawan, 2009).


Secara konvensional, ukuran dinyatakan dengan istilah mesh (jumlah

lubang pada tiap inci linear dari ayakan). Sebagai klasifikasi pembanding

untuk pertimbangan kefarmasian, penggerusan kasar menghasilkan partikel-

partikel ysng lebih besar dari 20-mesh, penggerusan sedang menghasilkan

partikel-partikel berukuran antara 200 sampai 20-mesh (74 sampai 80

mikron) dan penggerusan halus menghasilkan partikel-partikel yang lebih

kecil dari 200-mesh. (Lachman, 1989).


DAFTAR PUSTAKA

Kurniawan, D.W.,T.N. Saifullah. 2009. Teknologi Sediaan Farmasi. Graha Ilmu,


Yogyakarta

Lachman, L., dkk. 1989. Teori dan Praktek Farmasi Industri. UI Press. Jakarta

The United State Pharmacopeial. (2007). The United States Pharmacopeia


(USP). 30th Edition. United States

https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/16027/05.2%20bab
%202.pdf?sequence=7&isAllowed=y

https://slideplayer.info/slide/17440045/