Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Ke-8 Hari/Tanggal: Selasa/07 April 2020

Mikrobiologi Nutrisi Tempat Praktikum: Laboratorium


Biokimia Fisiologi dan Mikrobiologi
Nutrisi (BFM)
Nama Asisten :
1. Syarifah Aini (D24160007)
2. Martina Sihombing (D24160021)
3. Indry Agustiyani (D24160037)
4. Laily Rinda A (D24160057)

TEKNIK COUNTING BAKTERI ANAEROB

Nindi Yulia
D24170024
Kelompok 2/G1

DEPATERMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2020
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Mikroorganisme dapat dinggal dimana-mana atau yang kita kenal dengan


istilah kosmopolitan (tanah, air dan sebagai simbiosis dari organisme lain).
Mikroorganisme bersifat mikroskopis atau hanya bisa dilihat dengan menggunakan
mikroskop, bakteri merupakan salah satu dari mikroorganisme. Mikroorganisme
dapat tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat di alam. Bakteri merupakan
makhluk hidup yang sering ditumbuhkan dalam medium untuk tujuan suatu
penelitian. Pertumbuhan dan perkembangan bakteri danpat membentuk koloni-
koloni yang dapat dilihat secara langsung. Setelah mempelajari bagaimana
menumbuhkan suatu koloni bakteri, tentunya kita harus mengetahui kuantitas dan
kualitas dari bakteri tersebut. Kualitas suatu bakteri dapat diketahui dengan melihat
sifat-sifat bakteri baik yang menguntungkan maupun merugikan. Sedangkan, untuk
menentukan kuantitas bakteri dapat dengan berbagai cara perhitungan jumlah
bakteri, antara lain dengan cara perhitungan mikroskopis langsung (direct
microscopis count) dan metode hitungan tak langsung (indirect count) yang
menggunakan metode hitung koloni bakteri (Hadioetomo 1990).
Rumen merupakan kantung penampungan pertama bahan pakan setelah
dikunyah dan ditelen. Cairan rumen merupakan media yang baik bagi pertumbuhan
bakteri, protozoa dan mikroba lain secara anaerobik. Salah satu bakteri yang
penting di dalam rumen adalah bakteri selulolitik yang menyebabkan ternak
ruminansia mampu mencerna hijauan dengan kualitas rendah. Pakan konsentrat
yang mempunyai degradasi lambat cenderung memberikan pH cairan rumen lebih
tinggi dibanding konsentrat dengan degradasi cepat. Degradasi protein berperan
untuk menghasilkan VFA, methan, dan ammonia (Amygdala et al. 2014).
Mikroorganisme dalam rumen memecah karbohidrat kompleks seperti
selulosa, hemiselulosa, dengan proses frementasi menjadi asam-asam lemak rantai
pendek melalui aktivitas enzimnya. Hal yang sama, protein dalam pakan dipecah
menjadi peptida, asam-asam amino, amonia, dan amine. Mikroorganisme
menggunakan substansi ini kebutuhan perkembangan selnya sendiri. Protein pakan
akan diubah menjadi protein bakterial dan protozoal sebelum benar-benar
digunakan oleh sapi. Ini juga merupakan alasan bahwa urea (NPN) dapat
dimanfaatkan sebagai sumber protein oleh ruminansia, yang pada ternak
monogastrik tidak bermanfaat karena tidak mempunyai cukup banyak mikrobia
yang mampu mensintesis protein. Mikrobia selulolitik sesuai dengan namanya
mampu memecah selulosa. Enzim selulase yang dihasilkan dapat memecah ikatan
β-1,4-glikosidik pada selulosa. Hijauan yang mengandung selulosa dan
hemiselulosa dicerna oleh enzim yang dihasilkan mikrobia dalam rumen sampai
sebanyak 50% sampai 80% (Amygdala et al. 2014).

Tujuan

Praktikum ini bertujuan mengetahui teknik counting untuk menentukan


jumlah bakteri anaerob dalam rumen menggunakan teknik perhitungan koloni.
TINJAUAN PUSTAKA

Bakteri Anaerob

Bakteri anaerob adalah bakteri yang tidak membutuhkan oksigen untuk


hidupnya. Bakteri anaerob terdiri atas dua yaitu anaerob fakultatif dan anerob
obligat. Bakteri anaerob fakultatif adalah bakteri yang dapat hidup dengan baik
dengan adanya oksigen atau tidak. Sedangkan bakteri anaerob fakultatif adalah
bakteri yang sama sekali tidak membutuhkan oksigen dalam hidupnya (Safani
2017).

Media Gliserol

Media gliserol merupakan media pembiakan mikroba dengan tambahan


senyawa gliserol. Gliserol merupakan jenis senyawa yang berfungsi untuk
melindungi sel atau jaringan dari kerusakan sehingga digunakan untuk menjaga
viabilitas mikroorganisme selama penyimpanan. Gliserol termasuk jenis
Cryoprotectans yang efektif sebagai pelindung atau pertahanan sel jamur baik
intraseluler maupun ekstraseluler. Keberadaannya pada media cair (liquid nitrogen)
dapat mencegah kontaminasi dan memperpanjang umur simpan biakan (Amelia et
al. 2016).

Media BHI Agar

Media BHI (Brain-Heart Infussion) Agar merupakan media yang


mengandung karbohidrat dan protein yang digunakan sebagai media tumbuh dan
penyubur mikroorganisme yang bersifat anaerob. Media ini terbuat dari agar-agar
dan bertekstur padat, namun pada media ini bisa dicairkan dengan melalui
serangkaian proses pemanasan. Media ini cukup banyak mengandung karbohidrat
dan protein yang diperlukan untuk perkembangbiakan bakteri, sehingga media ini
cocok sebagai media tumbuh koloni bakteri pada eksperimen perhitungan bakteri
(Indrayati dan Akma 2018).

Media Anaerob

Media anaerob adalah media yang berfungsi sebagai tempat pertumbuhan


bakteri anaerobik. Keadaan dalam media ini tidak mengandung oksigen atau zat
asam, karena bakteri anaerobik tidak membutuhkannya dalam proses pertumbuhan.
Media ini tidak dapat digunakan sebagai tempat pertumbuhan bakteri aerobik,
sebab bakteri tersebut akan mati dalam keadaan media ini (Safani 2017).

Teknik Hitung Koloni Bakteri

Teknik ini diawali dengan pengenceran bertingkat yang bertujuan


memperkecil atau mengurangi jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan.
Digunakan perbandingan 1:9 untuk sampel dari pengenceran pertama dan
selanjutnya, sehingga pengenceran berikutnya mengandung 1/10 sel
mikroorganisme dari pengenceran sebelumnya. Kemudian dilanjutkan dengan
teknik kultur bakteri, terjadi proses pengambilan suspensi dari beberapa tabung
untuk tujuan isolasi. Teknik ini merupakan teknik isolasi mikroba dengan cara
menginokulasi kultur mikroba secara sebaran di media agar (Utami et al. 2018).

MATERI DAN METODE

Materi

Praktikum counting bakteri anaerob rumen dengan teknik hitung koloni


akan menggunakan beberapa bahan yang terdiri dari cairan rumen, media
pengencer, media BHI (Brain Heart Infussion), Gas CO2, alkohol, tisu dan spidol.
Praktikum ini menggunakan beberapa bahan yang terdiri dari tabung-tabung kultur
(hungate tube), inkubator, roller tube dan syringe.

Metode

Perhitungan Langsung

Cairan rumen disiapkan dan dimasukkan dalam tabung reaksi, kemudian


cairan rumen ditambahkan dengan formalin dan selanjutnya dihomogenkan dengan
cara memutarkan tabung berkali-kali dengan hati hati. Setelah homogen bahan
diteteskan keatas kaca counting chamber menggunakan syringe kemudian difiksasi
dan diwarnai. Preparat bakteri yang sudah ditempatkan pada kaca counting chamber
selanjutnya diamati menggunakan alat mikroskop.

Teknik Turbidimetri

Cairan rumen disiapkan dan diukur sesuai dengan takaran dalam


penghitungan bakteri menggunakan teknik turbidimetri. Cairan rumen yang telah
diukur volumenya kemudian dimasukkan kedalam kuvet dan bagian sisi kuvet yang
halus dibersihkan dengan menggunakan tisu agar proses pengukuran nilai
absorbansi dan transmitan dapat optimal. Cairan rumen yang telah dimasukkan ke
dalam kuvet selanjutnya dimasukkan ke dalam spektrofotometer ntuk diukur nilai
absorbansi dan transmitannya. Nilai yang telah didapat dari pengukuran
menggunakan alat spektrofotometer selanjutnya digunakan untuk perhitungan OD
(Optical Dencity) sehingga akan diketahui jumlah bakteri anaerob yang terdapat
dalam cairan rumen tersebut

Hitung Koloni

Alat, tempat dan tangan disterilisasi dengan menggunakan alkohol. 3 media


disiapkan yang terdiri dari media gliserol (stok), media pengencer dan media BHI
agar. 4 kali pengenceran dilakukan dengan membutuhkan 4 media BHI agar dan 4
media pengencer. Kemudian cairan rumen disiapkan dan diteteskan sebanyak 0.5
ml kedalam media gliserol 4.5 ml. Campuran tersebut dihomogenkan secara
vertikal membentuk angka 8. Campuran yang sudah dihomogenkan dipindahkan
sebanyak 0.05 ml kedalam media pengencer pertama 4.95 ml kemudian
dihomogenkan. Campuran pada media pengencer pertama kemudian dipindahkan
sebanyak 0.05 ml ke media pengencer kedua dan dihomogenkan, campuran pada
media pengencer kedua dipindahkan kedalam media pengencer ketiga kemudian
dihomogenkan lagi, kemudian campuran pada media pengencer ke tiga
dipindahkan pada media pengencer keempat dan dihomogenkan kembali. Media
BHI agar padat dipanaskan menggunakan waterbath. Campuran pada media
pengencer 1 sampai 4 masing-masing dimasukkan sebanyak 0.1 ml pada media BHI
agar cair sesuai urutannya dari urutan 4 ke urutan 1. Campuran tersebut dimasukan
dalam rolertube untuk meratakan bakteri keseluruh permukaan tabung biakan.
Kemudian dimasukkan kedalam inkubator dengan suhu 39 oC selama 24-48 jam.
Setelah diinkubasi bakteri dapat dilihat menempel pada permukaan tabung. Jumlah
koloni bakteri dapat dihitung dengan menggunakan rumus. Hasil perhitungan
koloni bakteri dapat ditulis pada laporan sementara.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel dibawah ini menunjukan hasil perhitungan populasi menggunakan


teknik hitung koloni bakteri anaerob. Jumlah koloni bakteri anaerob dalam rentang
20-200 koloni bakteri akan dipilih sebagai kisaran jumlah koloni normal. Sampel
A dan sampel B yang dipilih berada pada pengenceran 10-6. Perlakuan tersebut
dipilih karena jumlah koloni bakteri masuk dalam range dan merupakan
pengenceran tertinggi dibandingkan pengenceran lain yang jumlah koloninya
masuk dalam range 20-200 koloni bakteri.

Tabel 1. Hasil perhitungan populasi menggunakan teknik hitung koloni bakteri


No Sampel Pengenceran Jumlah koloni Populasi (cfu/ml)
1 A 10-2 237 TMR
10-4 102 20.4 ×107
10-6 50 10 ×109
10-8 12 TMR
2 B 10-2 212 TMR
10-4 96 19.2 ×107
10-6 32 6.4 ×109
10-8 11 TMR
Pembahasan

Metode yang digunakan dalam perhitungan tidak langsung yaitu metode


perhitungan koloni bakteri di dalam tabung kultur atau hungate tube. Prinsip
perhitungan ini adalah jika mikroba yang masih hidup ditumbuhkan pada medium
agar, maka sel mikroba tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang
dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop. Jumlah koloni
bakteri pada masing-masing tabung kultur diamati setelah diinkubasi, tabung yang
dipilih untuk penghitungan koloni ialah yang mengandung antara 20-200 koloni
bakteri, karena jumlah mikroorganisme dalam sampel tidak diketahui sebelumnya,
maka untuk memperoleh sekurang-kurangnya satu tabung kultur yang mengandung
koloni dalam jumlah yang memenuhi syarat tersebut maka harus dilakukan
sederetan pengenceran dan pengkulturan (Hadioetomo 1990).
Pada praktikum ini digunakan teknik penghitungan tidak langsung yaitu
dengan teknik hitung koloni bakteri, pada perhitungan bakteri secara tidak
langsung, campuran gliserol dan cairan rumen yang sudah dihomogenkan
dipindahkan sebanyak 0.05 ml kedalam media pengencer 10-2. 10-4, 10-6 dan 10-8,
kemudian suspensi bahan yang mengandung bakteri diinokulasi pada media BHI
Agar dan diratakan agar diperoleh koloni bakteri terpisah dan tersebar di seluruh
permukaan medium tersebut sehingga dapat memudahkan perhitungan jumlah
koloni bakteri. Teknik ini didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel mikroorganisme
hidup dalam suspensi akan tumbuh menjadi satu koloni setelah ditumbuhkan dalam
media pertumbuhan dan lingkungan yang sesuai (Hadioetomo 1990).
Hasil dari perhitungan koloni bakteri yang masuk dalam range 20-200 akan
dipilih dari masing-masing pengenceran. Pada sampel A, pengenceran 10-4 dan 10-
6
masing-masing memiliki jumlah koloni 102 dan 50 koloni. Pengenceran dengan
pangkat pengenceran terkecil akan dipilih untuk dilakukan perhitungan jumlah
bakteri lebih lanjut. Pengenceran 10-6 dipilih untuk dilakukan perhitungan lebih
lanjut. Hasil perhitungan jumlah bakteri pada perlakuan pengenceran ini adalah
sebesar 10 ×109 cfu/ml. Pada sampel B, pengenceran 10-4 dan 10-6 masing-masing
memiliki jumlah koloni 96 dan 32 koloni. Pengenceran 10-6 dipilih untuk dilakukan
perhitungan lebih lanjut. Hasil perhitungan jumlah bakteri pada perlakuan
pengenceran ini adalah sebesar 6.4 ×109 cfu/ml. Menurut Aorora (1989) konsentrasi
bakteri pada sapi dapat mencapai 21 ×109 cfu/ml pada cairan rumen. Bakteri dalam
rumen dapat berasal dari bahan pakan maupun adanya kontak langsung dengan
bahan lain yang mengandung bakteri (Purbowati 2014).
Fungsi perlakuan pengocokan bertujuan agar sampel tercampur secara
homogen. Pengenceran dilakukan dengan fungsi untuk mengurangi jumlah koloni
bakteri sehingga semakin mudah ketika dilakukan perhitungan. Seharusanya pada
perhitungan, bila jumlah pangkat pengenceran makin kecil maka jumlah bakteri
makin sedikit. Syringe setiap seri pengenceran harus berbeda, hal inii bertujuan
untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Pengenceran dilakukan untuk mengurangi
jumlah koloni bakteri sehingga semakin mudah ketika dilakukan perhitungan.
Seharusanya pada perhitungan, bila jumlah pangkat pengenceran makin kecil maka
jumlah bakteri makin sedikit (Hadioetomo 1990).
Teknik perhitungan koloni bakteri hanya menghitung jumlah sel bakteri
yang mampu hidup dengan menunjukkan pertumbuhan koloni, berbeda dengan
perhitungan secara langsung yang teknik penghitungannya adalah menghitung
jumlah bakteri total baik yang mati maupun yang hidup. Sehingga sangat jelas
apabila penghitungan langsung menunjukkan hasil yang lebih besar dibandingkan
penghitungan secara tak langsung (hitung koloni). Selain itu dapat disebabkan
karena pada penghitungan koloni terdapat beberapa sel bakteri yang terhitung
sekaligus, terdapat beberapa sel berdekatan yang membentuk spreader sehingga
tidak terhitung, dan proses inkubasi yang kurang sempurna sehingga koloni
mikrobia yang terbentuk kurang maksimal (Hadioetomo 1990).
Beberapa faktor yang mempengaruhi penghitungan bakteri diantaranya
adalah faktor pengenceran, semakin tinggi pengenceran suatu suspensi maka
jumlah bakteri yang dikandungnya akan semakin sedikit. Temperatur dan pH,
berkaitan dengan temperatur dan pH optimum dari suatu jenis bakteri. Komposisi
medium, medium yang digunakan untuk inokulasi harus sesuai dengan bakteri yang
akan dihitung. Selain itu keterampilan dan ketelitian dalam menggunakan alat juga
mempengaruhi perhitungan bakteri (Hadioetomo 1990).

SIMPULAN

Teknik counting bakteri anaerob dapat dilakukan menggunakan teknik


hitung koloni bakteri. Teknik ini dilakukan dengan beberapa tahap pengenceran dan
kultur bakteri pada tabung kultur atau hungate tube. Bakteri yang dikultur akan
tumbuh dan berkembang membentuk koloni-koloni bakteri yang dapat dilihat dan
dihitung.

DAFTAR PUSTAKA

Amaria W, Ferry Y, Samsudin, Harni R. 2016. Pengaruh penambahan gliserol pada


media perbanyakan terhadap daya simpan biofungisida Trichoderma. Jurnal
TIDP. 3(3): 159–166.
Amygdala RRA, Suprayoga D, Oktovidhar GC, Hidayat RNI, Febrianawati DU.
2014. Biokimia ternak acara II mikrobia dalam rumen. Yogyakarta (ID):
Universitas Gadjah Mada Press.
Hadioetomo, R. S. 1990. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
Indrayati S, Akma SF. 2018. Peranan monosodium glutamate sebagai media
penyubur alternatif pengganti BHIB untuk pertumbuhan bakteri Escherichia
coli. Prosiding Seminar Kesehatan Perintis E-ISSN : 2622-2256. 1(1).
Purbowati E, Rianto E, Dilaga WS, Lestari CMS, Adiwinarti R. 2014. Karakteristik
cairan rumen, jenis dan jumlah mikrobia dalam rumen sapi jawa dan
peranakan ongole. Buletin Peternakan. 38(1): 21-26.
Safani I. 2017. Pembuatan media dan sterilisasi. Kendari (ID): Universitas Halu
Oleh Perss.
Utami U, Hariani L, Kusmiyati N, Fitriasari PD. 2018. Mikrobiologi umum.
Malang (ID): Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Press.
LAMPIRAN