Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Ke-6 Hari/Tanggal: Selasa/25 Februari 2020

Mikrobiologi Nutrisi Tempat Praktikum: Laboratorium


Biokimia Fisiologi dan Mikrobiologi
Nutrisi (BFM)
Nama Asisten :
1. Laily Rinda A (D24160057)

TEKNIK COUNTING PROTOZOA

Nindi Yulia
D24170024
Kelompok 2/G1

DEPATERMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2020
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Bagian perut ruminansia terdiri dari 4 bagian yaitu rumen, retikulum,


omasum, dan abomasum. Rumen merupakan saluran fermentasi terbesar di saluran
pencernaan ruminansia yang di dalamnya terdapat beberapa jenis mikroba. Mikroba
tersebut memiliki hubungan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan) dengan
tubuh inangnya (ruminansia). Mikroba rumen mendapatkan makanan dari pakan
yang masuk ke saluran pencernaan inangnya, sementara mikroba tersebut
membantu dalam mencerna pakan inangnya (Puspitaning 2012).
Rumen adalah kantung penampungan pakan pertama setelah pakan tersebut
mengalami pengunyahan dan penelanan dari mulut. Cairan rumen merupakan
media yang sangat baik untuk pertumbuhan bakteri dan protozoa secara anaerobik.
Salah satu bakteri yang penting di dalam rumen adalah bakteri selulolitik yang
menyebabkan ternak ruminansia hidup dengan hijauan berkualitas rendah
(Amygdala et al. 2014).
Ekosistem didalam rumen ternak ruminansia selain dihuni oleh bakteri
selulolitik juga dihuni oleh makhluk hidup lain berupa protozoa, fungi, dan arkae
yang juga berperan dalam pencernaan pakan. Populasi protozoa yang tinggi dalam
rumen ruminansia kurang menguntungkan karena sifatnya yang memangsa
(predator) bakteri untuk memenuhi kebutuhan proteinnya. Akibatnya biomassa
bakteri akan berkurang sehingga laju degradasi pakan di dalam rumen dan suplai
protein mikroba akan berkurang pula. Sementara itu pada ternak yang mendapat
pakan tinggi hijauan, perkembangan populasi mikroba rumen terutama bakteri
pencerna serat sangat menentukan fermentasi pakan di dalam rumen (Puspitaning
2012).
Banyak bukti yang menunjukkan bahwa interaksi antara bakteri dan
protozoa di dalam rumen lebih bersifat kompetitif. Protozoa memangsa bakteri
yang terdapat pada cairan rumen dan mencernanya sebagai sumber asam amino
bagi pertumbuhannya. Akibatnya populasi bakteri akan berkurang sehingga laju
kolonisasi partikel makanan di dalam rumen akan berkurang juga (Puspitaning
2012). Perlu dilakukannya perhitungan protozoa untuk mengetahui jumlah populasi
protozoa pada rumen. Jumlah protozoa yang sesuai di dalam rumen akan
mendukung kehidupan bakteri rumen yang perannya penting untuk mencerna
makanan yang masuk didalam rumen.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui jumlah protozoa rumen dengan


menggunakan teknik counting protozoa.
TINJAUAN PUSTAKA

Mikroba Rumen

Mikroba rumen dibagi menjadi 4 kelompok utama yaitu bakteri, protozoa,


jamur, dan bakteriophage atau virus. Disamping itu terdapat amoeba yang
populasinya belum diketahui secara pasti (Puspitaning 2012). Mikroorganisme
dalam rumen memecah karbohidrat kompleks yang terdiri dari selulosa,
hemiselulosa, dengan proses frementasi menjadi asam-asam lemak rantai pendek
melalui aktivitas enzimnya. Hal yang sama, protein dalam pakan dipecah menjadi
peptida, asam-asam amino, amonia, dan amine. Mikroorganisme menggunakan
substansi ini kebutuhan perkembangan selnya sendiri. Protein pakan akan diubah
menjadi protein bakterial dan protozoal sebelum benar-benar digunakan oleh sapi.
Ini juga merupakan alasanbahwa urea (NPN) dapat dimanfaatkan sebagai sumber
protein oleh ruminansia, yang pada ternak monogastrik tidak bermanfaat karena
tidak mempunyai cukup banyak mikrobia yang mampu mensintesis protein
(Amygdala et al. 2014).

Protozoa

Protozoa bersifat anaerob. Apabila kadar oksigen maupun nilai pH isi rumen
tinggi, maka protozoa tidak dapat membentuk cyste untuk mempertahankan diri
dari lingkungan yang jelek, sehingga dengan cepat akan mati (Arora, 1989).
Protozoa memiliki jumlah yang lebih sedikit daripada bakteri. Protozoa memiliki
ukuran tubuh lebih besar sehingga total biomasanya hampir sama dengan bakteri
(Puspitaning 2012).

Larutan TBFS (Trypan blue formalin salin)

larutan Trypan blue formalin salin (TBFS) dapat digunakan untuk


mengetahui populasi protozoa. Perhitungan populasi protozoa dapat dilakukan
menggunakan counting chamber Fuchs Rosenthal. Larutan ini dibuat dengan
mencampurkan formalin sebanyak 4 ml ditambah dengan larutan NaCl fisiologis
0.9% hingga 100 ml untuk analisis mikroba rumen. Protozoa yang dihitung adalah
total dari protozoa yang terdapat dalam counting chamber. Cairan rumen yang baru
diambil dicampurkan dengan larutan TBFS dengan perbandingan 1:1. Dua tetes
campuran tersebut ditempatkan pada counting chamber dengan ketebalan 0.2 mm,
luas kotak terkecil 0.0625 mm2 yang terdapat jumlah kotak yang dibaca sebanyak
16 kotak besar dan 16 kotak kecil. Perhitungan populasi protozoa dilakukan dengan
menggunakan mikroskop pada perbesaran 40 kali. Populasi protozoa dapat dihitung
dengan mengkalikan jumlah protozoa yang terdapat pada counting chamber dengan
faktor pengencer dan 1000. Jumlah dari perhitungan tersebut kemudian dapat dibagi
dengan 0.2 yang telah dikalikan dengan 0.0625 (luas kotak kecil), 16 (jumlah kotak
besar) dan 16 (jumlah kotak kecil) (Arifah 2017).
Larutan MFS (Methylgreen Formalin Saline)

Larutan MFS (Methylgreen Formalin Saline) merupakan indikator terbaik


untuk mendukung proses penghitungan ciliata. Larutan ini dapat memfiksasi,
pewarnaan inti sel dan menyimpan ciliata rumen, oleh karena itu sangat berguna
untuk identifikasi ciliata. Larutan MFS berwarna hijau tua dan terbentuk dari
beberapa bahan yang diantaranya adalah 35% larutan formalin, aquadest, methyl
green dan NaCl. Ketika methylgreen terkena sinar, maka akan berubah menjadi
methylviolet sehingga pewarnaannya tidak bagus. Bila spesimen ditambahkan
sebanyak 5-10 kali volume larutan MFS, hanya inti sel ciliata yang berwarna.
Spesimen harus diamati paling tidak 30 menit setelah penambahan larutan MFS dan
setelah itu pewarnaan menjadi sangat lemah. Spesimen yang dicampur dengan
larutan MFS dan disimpan ditempat gelap dapat disimpan dengan kondisi bagus
untuk jangka waktu 3 tahun. MFS dapat disimpan dalam waktu lama.

MATERI DAN METODE

Materi

Praktikum ini menggunakan beberapa alat dan bahan, alat yang digunakan
dalam praktikum ini terdiri dari kaca preparat, cover glass, spoit, syringe, counting
chamber neurer baurer, mikroskop, rak tabung reaksi, tabung reaksi dan alat tulis.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini diantaranya adalah cairan rumen yang
sudah di centrifuge, larutan TBFS (Trypan Blue Formalin Salin), larutan MFS
(Methylogreen Formalin Salin), aquades, alkohol 70% dan tissue.

Metode

Persiapan Pembuatan Endapan Protozoa

Tahap awal yang dipersiapkan adalah cairan rumen dicentrifuge selama 5


menit untuk memisahkan antara supernatan dan endapan pada cairan rumen. Proses
centrifugasi ini juga dapat memisahkan antara protozoa dengan mikroba rumen
lainnya. Endapan dan supernatan yang telah terpisah dipindahkan pada tabung
reaksi yang berbeda. Supernatan dipindahkan menggunakan spoit, setelah terpisah
endapan protozoa rumen dimasukan kedalam tabung hungate kemudian dipanfix
agar tidak terkontaminasi mikroba lainnya.

Pengamatan Protozoa dalam Keadaan Segar

Kaca preparat dibersihkan menggunakan aquades dan tissue kemudian


endapan cairan rumen diteteskan keatas kaca preparat menggunakan syringe.
Tetesan dari cairan rumen diratakan sampai tipis. Preparat diamati menggunakan
mikroskop pada perbesaran 10x dan 40x.

Pengamatan dan Perhitungan Protozoa dengan Larutan TBFS

Endapan cairan rumen yang berada didalam tabung hungate diambil


menggunakan spoit sebanyak 1 ml dan dipindahkan kedalam tabung reaksi. Larutan
TBFS dan aquades ditambahkan kedalam tabung reaksi berisi endapan rumen
dengan perbandingan 1:1 dalam satuan milliliter. Campuran dihomogenkan secara
hati-hati. Counting hamber dibersihkan dan ditambahkan dengan cover glass
dibagian atasnya, kemudian campuran larutan diambil menggunakan spoit dan
dimasukkan kedalam counting chamber yang telah dilapisi cover glass secara
perlahan melalui celah antar kedua benda tersebut. Preparat diamati dan dihitung
menggunakan mikroskop pada perbesaran 10x dan 40x.

Pengamatan dan Perhitungan Protozoa dengan Larutan MFS.

Endapan cairan rumen yang berada didalam tabung syringe diambil


menggunakan spoit sebanyak 1 ml dan dipindahkan kedalam tabung reaksi. Larutan
MFS dan aquades ditambahkan kedalam tabung reaksi berisi endapan rumen
dengan perbandingan 1:2 dalam satuan milliliter. Counting hamber dibersihkan dan
ditambahkan dengan cover glass dibagian atasnya, kemudian campuran larutan
diambil menggunakan spoit dan dimasukkan kedalam counting chamber yang telah
dilapisi cover glass secara perlahan melalui celah antar kedua benda tersebut.
Preparat diamati dan dihitung menggunakan mikroskop papa perbesaran 10x dan
40x.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel 1. Populasi protozoa menggunakan TBFS dan MFS


Pengenceran (FP) Populasi protozoa (sel/ml)
TBFS MFS
11
1 2.75 x 10 8 x 1011
6
2 6.18 x 10 8.3125 x 1014
3 1.875 x 105 1.08 x 106
4 4 x 104 2.7125 x 105
Keterangan Pengenceran (FP) : 1 = 1:1, 2 = 1:2, 3 = 1:3, 4 = 1:4.
Gambar 1. Preparat dengan pewarnaan MFS
Perbesaran 40 x 10

Gambar 2. Preparat protozoa hidup


Perbesaran 10 x 40

Pembahasan

Hasil perhitungan protozoa menggunakan larutan MFS dan TBFS dengan


faktor pengenceran 1:1 sampai 1:4 antara cairan rumen dan TBFS/ MFS
menunjukan hasil yang sangat berbeda jauh. Hasil perhitungan protozoa kelompok
2 pada faktor pengenceran TBFS 1:2 dan MFS 1:3 menunjukan hasil perhitungan
berturut-turut sebesar 6.18 x 106 sel/ml dan 1.08 x 106 sel/ml. Hasil tersebut sesuai
dengan hasil dari penelitian Puspitaning (2012) yang menyatakan bahwa jumlah
protozoa dalam rumen sangat beragam menurut jenis makanan, umur, dan jenis
hewan yang menjadi inangnya. Jumlah protozoa ciliate biasanya adalah 105 per ml
pada makanan berserat kasar tinggi, namun jumlah ini meningkat menjadi 10 6 per
ml pada adaptasi terhadap gula-gula terlarut. Hasil perhitungan protozoa pada
faktor pengenceran TBFS 1:3 dan MFS 1:4 juga sesuai dengan hasil penelitian
Puspitaning (2012), yaitu berturut turut sebesar 1.875 x 105 sel/ ml dan 2.7125 x
105 sel/ml. Perbedaan perhitungan menggunakan larutan indikator TBFS dan MFS
adalah pada protozoa yang dicampurkan dengan larutan indikator TBFS dapat
dilihat perbedaan antara protozoa hidup dan mati. Morfologi dari protozoa hidup
adalah tidak berwarna pada bagian isinya sedangkan protozoa mati dicirikan
dengan terbentuknya warna biru secara keseluruhan pada tubuh protozoa.
Morfologi dari protozoa yang dicampurkan dengan larutan MFS adalah berwarna
hijau tua secara keseluruhan (Puspitaning 2012).
Hasil perhitungan yang jauh berbeda dari beberapa perlakuan pengenceran
dapat disebabkan karena faktor pengencerannya, semakin banyak pengenceran
menyebabkan populasi protozoa pada preparat yang digunakan semakin sedikit,
selain itu kurang homogennya larutan yang dapat menyebabkan protozoa rumen
dan larutan MFS/TBFS tidak merata keberadaannya. Kesalahan lainnya dapat
disebabkan karena terlalu lama menyimpan preparat dalam tabung reaksi sehingga
protozoa mengendap pada bagian dasar tabung dan praktikan hanya mengambil
preparat pada bagian permukaan tabung. Kesalahan perhitungan juga dapat menjadi
penyebab perbedaan protozoa yang dihitung. Double counting dapat terjadi dalam
proses perhitungan apabila perhitungan dilakukan kurang teliti. Protozoa secara
aktif bersaing bersama bakteri rumen dalam penggunaan gula-gula terlarut dan pati.
Protozoa dapat menggunakan bakteri sebagai sumber protein untuk menunjang
kebutuhan nutrien hidupnya sehingga populasi bakteri dalam rumen dapat
berkurang. Protozoa rumen juga dapat berperan sebagai pengontrol populasi bakteri
rumen dalam kondisi pakan yang banyak mengandung karbohidrat siap pakai yang
tinggi (Hikall et al. 2014).

SIMPULAN

Populasi protozoa dalam rumen dapat dihitung menggunakan teknik


counting protozoa. Teknik perhitungan protozoa dibantu oleh larutan MFS
(Methylgreen Formalin Salin) dan TBFS (Trypan Blue Formalin Salin)
menggunakan alat mikroskop, pada penggunaan larutan TBFS dapat diketahui
jumlah populasi protozoa hidup dan protozoa. Jumlah populasi protozoa dalam
rumen berkisar sebanyak 105 per ml pada makanan berserat kasar tinggi dan dapat
meningkat menjadi 106 per ml pada adaptasi terhadap gula-gula terlarut.

DAFTAR PUSTAKA

Amygdala RRA, Suprayoga D, Oktovidhar GC, Hidayat RNI, Febrianawati DU.


2014. Biokimia ternak acara II. Yogyakarta (ID): Universitas Gajah Mada
Press.
Arifah F. 2017. Performa dan profil mikroba rumen kambing peranakan etawah
lepas sapih yang diberi ransum mengandung tepung jangkrik [skripsi]. Bogor
(ID): Institut Pertanian Bogor Perss.
Hikal FA, Hidayat R, Dhalika T. 2014. Pengaruh penggunaan kacang cenos dalam
ransum domba terhadap jumlah total bakteri dan protozoa (in vitro). Jurnal
Peternakan Universitas Padjajaran.
Puspitaning IR. 2012. Populasi protozoa dan karakteristik fermentasi rumen dengan
pemberian daun kersen (Muntingia calabura) secara in vitro [skripsi]. Bogor
(ID): Institut Pertanian Bogor Perss.
LAMPIRAN