Anda di halaman 1dari 28

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Pada masa anak-anak beberapa penyakit yang sering di alami,


contohnya seperti thypoid fever dan diare. Penyakit tifoid dikenal dengan
nama lain typhus abdominalis, typhoid fever atau enteric fever. Penyakit ini
banyak terjadi di masyarakat yang kumuh, lingkungan padat, penyediaan air
bersih yang tidak adekuat, dan sanitasi yang buruk, serta hygiene masing-
masing penduduknya kurang memadai dan tidak memenuhi syarat kesehatan.

Penelitian yang dilakukan oleh Khan, dkk (2013) menyatakan bahwa


demam tifoid endemic di India, Asia Tenggara, Afrika, Timur Tengah,
Amerika Selatan dan Amerika Tengah disebabkan oleh pasokan air bersih
yang tidak adekuat. Pakistan merupakan negara endemik demam tifoid dan
penyakit ini merupakan penyebab kematian nomer 4, sebnayak 573,2 per
100.000 penduduk terserang demam tifoid, yang sebagian besar menyarang
anak usia pra sekolah (1-5 tahun), sedangkan di India dilaporkan sebanyak
340,1 per 100.000 penduduk menderita demam tifoid. CDC melaporkan
kejadian demam tifoid pada warga Amerika Serikat terjadi karena warganya
mengunjungi negara India. Di Indonesia, kejadian demam tifoid mencapai
148,7 per 100.000 penduduk.

Diare saat ini masih merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi
pada masyarakat. Diare juga merupakan penyebab utama kesakitan dan
kematian pada anak di berbagai Negara (Widoyon, 2011). Diare dapat
menyerang semua kelompok usia terutama pada anak. Anak lebih rentan
mengalami diare, karena system pertahanan tubuh anak belum sempurna

1
3

(Soedjas, 2011). World Health Organization (WHO) (2012),


menyatakan bahwa diare merupakan 10 penyakit penyebab kematian. Tahun
2012 terjadi 1,5 juta kematian akibat diare. Sepanjang tahun 2012, terdapat
sekitar 5 juta bayi meninggal pada tahun pertama kematian. Kematian tersebut
disebabkan karena pneumonia (18%), komplikasi kelahiran praternum (14%)
dan diare (12%).

1.2 Tujuan dan Manfaat


Tujuan penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas Keperawatan Dasar, dan
beberapa manfaat makalah berikut:
1. Mengetahui pengertian thypoid fever.
2. Mengetahui etiologi thypoid fever.
3. Mengetahui patofisiologi thypoid fever.
4. Mengetahui pathway thypoid fever.
5. Mengetahui komplikasi thypoid fever.
6. Mengetahui manifestasi klinis pada thypoid fever.
7. Mengetahui pemeriksaan laboratorium pada thypoid fever.
8. Mengetahui penatalaksanaan pada thypoid fever.
9. Mengetahui pencegahan thypoid fever.
10. Mengetahui asuhan keperawatan pada thypoid fever.
11. Mengetahui pengertian diare.
12. Mengetahui etiologi diare.
13. Mengetahui patofisiologi diare.
14. Mengetahui pathway diare.
15. Mengetahui komplikasi pada diare.
16. Mengetahui manifetasi klinis pada diare.
17. Mengetahui pemeriksaan diagnostik pada diare.
18. Mengetahui penatalaksanaan pada diare.
19. Mengetahui asuhan keperawatan pada diare.
BAB II

Pembahasan

2.1. Thypoid Fever

2.1.1 Pengertian
Penyakit demam tifoid (typhus abdominalis) merupakan
penyakit infeksi akut pada usus halus yang disebabkan oleh
Salmonella typhosa dan hanya terdapat pada manusia.
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan
infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan
dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari
orang yang terinfeksi kuman salmonella. (Brunner and Sudhart,
1994)
2.1.8 Etiologi
Salmonella Typhosa yang juga dikenal dengan nama
Salmonella typhi merupakan mikroorganisme pathogen yang berada
dijaringan limfatik usus halus, hati, limpa dan aliran darah yang
terinfeksi. Basil ini berupa Gram negative yang akan nyaman hidup
pada suhu tubuh manusia. Kuman ini akan mati pada suhu 70⁰C
dengan pemberian antiseptic. Masa inkubasi penyakit ini antara 7-20
hari.
2.1.3 Patofisiologi
Kuman salmonella typhosa masuk ke saluran pencernaan,
khususnya usus halus bersama makanan, melalui pembuluh limfe.
Kuman ini masuk atau menginvasi karingan limfoid mesenterika.
Disini akan terjadi nekrosis dan peradangan. Kuman yang berada
pada jaringan limfoid tersebut masuk ke peredaran darah menuju

3
4

hati dan limpa. Disini biasanya pasien merasakan nyeri. Kuman


tersebut akan keluar dari hati dan limpa. Kemudian, kembali ke usus
halus dan kuman mengeluarkan endotoksin yang dapat
menyebabkan reinfeksi usus halus. Kuman akan berkembang biak
disini. Kuman salmonella typhosa dan endotoksin merangsang
sintesis dan pelepasan pirogen yang akhirnya beredar di darah dan
mempengaruhi pusat termoregulator dihipotalamus yang
menimbulkan gejala demam. Kuman menyebar keseluruh tubuh
melalui sistem peredaran darah serta dapat menyebabkan terjadinya
tukak mukosa yang mengakibatkan perdarahan dan perforasi.

2.1.4 Pathway

Salmonella
Typhosa

Masuk kedalam

saluran pencernaan

Nekrosis
Menginvasi
jaringan limfoid Peradangan

Masuk peredaran darah


5

Hati Limpa Pasien merasa nyeri


keluar

Kembali ke usus halus Pelepasan


(berkembang biak) reinfeksi endotoksin

usus

Kuman dan endotoksin

Merangsang Pelepasan
Sintesis pirogen

Beredar Mempengaruhi
dalam pusat Demam
darah termoregulator

Perdarahan
Menyebar Tukak
keseluruh tubuh mukosa
Perforasi
6

2.1.5 Komplikasi
Penanganan yang tidak adekuat atau terlambat akan
menyebabkan komplikasi di usus halus, diantaranya:
a. Perdarahan usus:
Apabila pendarahan sedikit, perdarahan tersebut hanya dapat
ditemukan jika dilakukan pemeriksaan feses dengan benzidin,
jika perdarahan banyak maka dapat terjadi melena yang bias
disertai nyeri perut dengan tanda-tanda renjatan. Perforasi usus
biasanya timbul pada minggu ketiga atau setelahnya.
b. Perforasi:
Perforasi atau robek terjadi ketika dinding saluran pencernaan
terluka hingga membuat lubang.
c. Peritonitis:
Biasanya disertai perforasi, ini mengakibatkan isi dari saluran
pencernaan masuk ke rongga perut (peritoneum), namun
peritoneum tidak memiliki mekanisme pertahanan untuk
melawan infeksi, dan ketika bakteri penyebab tifus menyebar
hingga peritoneum. Ditandai dengan nyeri perut yang hebat,
dinding abdomen tegang dan nyeri tekan.
d. Komplikasi diluar usus:
Terjadi lokalisasi peradangan akibat sepsis (bacteremia), yaitu
meningitis, kolesistisis, ensefelopati dll. Komplikasi diluar usus
terjadi karena infeksi sekunder, yaitu bronkopneumonia.

2.1.6 Gambaran klinis


Tanda khas penyakit ini yaitu demam tinggi kurang lebih satu
minggu disertai nyeri kepala hebat dan gangguan saluran
pencernaan, bahkan ada yang sampai mengalami gangguan
kesadaran. Demam tinggi biasanya dimulai sore hari sampai dengan
7

malam hari, kemudian menurun pada pagi hari. Demam ini terjadi
kurang lebih selama 7 hari. Pada anak yang mengalami demam
tinggi dapat terjadi kejang. Gangguan pencernaan yang terjadi pada
pasien demam tifoid yaitu mual, muntah, nyeri ulu hati, perut
kembung, anoreksia lidah tifoid (kotor, bagian belakang tampak
putih pucat dan tebal, serta bagian ujung dan tepi kemerahan). Selain
itu, juga dapat menyebabkan diare dan konstipasi. Gangguan
kesadaran juga dapat terjadi pada pasien demam tifoid yaitu apatis
dan somnolen. Pada minggu kedua, dapat terjadi hepatomegaly,
splenomegaly dan roseola. Roseola merupakan bintik kecil
kemerahan, dapat terjadi di daerah perut, dada dan terkadang pada
bokong.

2.1.7 Pemeriksaan Penunjang (aci)


Pemeriksaan Laboratorium akan menunjukan peningkatan
leukosit atau leukositosis (20.000-25.000 mm³). Laju endap darah
meningkat dan terdapat gambaran leukosit normokromik normositik.
Selain itu juga dapat di temukan leukopenia dengan limfositosis
relatif. Untuk memastikan diagnosis demam tifoid perlu dilakukan
pemeriksaan bakteriologis dan pemeriksaan serologis.
Pemeriksaan bakteriologis dilakukan melalui biakan darah,
feses urine, sumsum tulang ataupun duodenum. Pada pasien demam
tifoid biasanya di lakukan biakan darah pada minggu pertama,
sedangkan biakan feses dilakukan pada minggu kedua, dan biakan
urine dilakukan pada minggu ketiga. Pada pemeriksaan serologis,
yang di gunakan yaitu tes Widal dengan dasar reaksi aglutinasi
antara antigen Salmonella Thyposa dan atibodi pada serum pasien.
Tes Widal dilakukan beberapa kali, karena jika hanya
dilakukan satu kali saja maka pemeriksaan tersebut belum bisa
8

dijadikan standar untuk melakukan diagnosis demam tifoid. Belum


ada standar baku untuk melakukan diagnosis demam tifoid, setiap
Rumah Sakit mempunyai standar nilai Widal sendiri.
2.1.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan demam tifoid dilakukan dengan terapi
suportif, simptomatis,dan pemberian antibiotik jika sudah di
tegaskan diagnoisi.pasein dengan demam tifoid harus segera dirawat
di rumah sakit karena pasien memerlukan istirahat 5-7 hari.selain itu
pengawasan ketat perlu dilakukan agar tidak terjadi komplekasi yang
berbahaya. Pasien boleh bergerak (mobilitas) sewajarnya, misalnya
ke kamar mandi,duduk di teras mandi sendiridan makan sendiri,
yang prinsipnya adalah tidak melakukan aktivitas pekerjaan berat
yang membutuhkan banyak energi.
Pengaturan pola makan sangat penting pada penyakit ini
mengingat organ yang terganggu nya yaitu sistem pernafasan
khususnya usus halus. Jika pasien tidak sadar,maka pemberian
makanan cair dengan menggunakan sonde lambung.jika pasien
sadar, maka pemberian makanan bisa di mulai dari bubur saring. jika
kondisi sudah membaik,maka ditingatkan lagi makanannya menjadi
bubur keras (tidak lembek). Dan jika sudah normal, maka diapat
diberikan nasi biasa.susu di berikan 2 gelas sehari.pemberian
makanan padat secara dini lebih menguntungkan karena dapat
mengurangi resiko penrunan berat badan yang berlebih (berat badan
stabil), masa perawatan lebih pendek karena pasien lebih cepat
sembuh, menekan penurunan albumin dan dapat mencegah
terjadinya infeksi lain.
Obat di berikan simptomatis, pada pasien dengan demam dapat
diberikan antiseptik , dan boleh ditambahkan vitamin untuk
meningkatkan stamina tubuh pasien. Antibiotik dapat diberikan jika
diagnosis sudah di tegakkan.antibiotik yang sudah dapat mengatasi
penyakit demam tifoid yang sering kali di gunakan yaitu
kloramfenikol,kontrimokasazol,ampisilin, amoksilin dan seftriakson.
Untuk mencegah tderjadinya demam tifoid, perlu diberikan
kombinasi vaksin. Vaksin yang sering di berikan yaitu vaksin
polisakarida. Vaksin lain yang dapat digunka sebagai kombinasi
yaitu vaksin salmonella typhosa yang di matikan dan vaksin dari
strain salmonella yang dilemahkan .pemberian faksin
9

Kontraindikasi pemberian vaksin tersebut yaitu anak yang


hipersensitif, wanita hamil,ibu yang menyusui anaknya, kondisi anak
sedang demam,dan anak berusia di bawah 2 tahun. Anak berusia di
atas 2 tahun dinggap sudah mempunyai antibodi untuk menerima
vaksin sanmonella tersebut sudah terpapar demgan bakter
sanmonella dari makanan jajanan.
Untuk mengontral epidemi, dapat dilakukan dengan
penyediaan air bersih yang adekuat,sentias lingkungan,dan personal
hygine yang memadai.pemberian penyuluhan tentang perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS) dapat meningkatkan kesadaran masyarakat
untuk berprilaku bersih dan sehat.tindakan tersebut dapat diharapkan
dapat mengurangi atau menghilangkan kejadian penyakit demam
tifoid.

2.1.9 Pencegahan
1. Pemberian vaksin:
Vaksin polisakarida (vaksin strain Salmonella yang dilemahkan),
vaksin ini efektif selama tiga tahun, sehingga perlu diulang setiap
3 tahun. Anak dianjurkan diberikan vaksin tifoid jika sudah
berumur lebih dari 2 tahun, di mana antibodi anak sudah siap
menerima vaksin yang disuntikkan dan sudah mulai terpapar
oleh bakteri Salmonella dari makanan (jajanan) yang tercemar.
2. Perbaikan hygiene
Penyediaan air minum yang bersih, merebus air yang digunakan
untuk minum untuk menghindari air minum yang jelek (keruh,
berwarna, berasa, berbusa, dan berbau) dan cuci tangan dengan
bersih. Penlitian membuktikan perilaku hygienis ibu
menggunakan dua variabel yaitu cuci tangan dan BAB. Perilaku
cuci tangan ibu benar bila cuci tangan menggunakan sabun, dan
perilaku BAB ibu benar bila BAB di jamban. Terlihat bahwa
prevalensi tifoid kecil pada ibu balita yang mencuci tangan
10

dengan sabun, baik di wilayah perkotaan dan perdesaan. Begitu


pula halnya dengan perilaku BAB ibu yang benar menunjukkan
prevalensi tifoid balita lebih kecil dibanding perilaku BAB yang
tidak benar, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.
3. Sanitasi lingkungan
Membersihkan lingkungan sekitar.

2.1.10 Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Kaji keluhan pasien: apakah klien mengeluh lemas, tidak nafsu
makan, tidak bergairah untuk beraktivitas
b. Kaji riwayat demam: apakah klien mengalami demam pada sore
dan malam hari, suhu tubuh pasien turun pada pagi hari selama
kurang lebih 3 minggu, bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor
dan berwarna putih ditengah serta kemerahan di tepid an ujung
lidah (lidah tifoid)
c. Kaji riwayat penyakit sekarang: sejak kapan mulai demam, mulai
merasakan tidak selera makan, mual, muntah, lemas, apakah
terdapat pembesaran hati dan limpa, apakah terdapat gangguan
kesadaran, apakah terdapat komplikasi (perdarahan, perforasi,
peritonitis).
d. Kaji riwayat penyakit dahulu: apakah sebelumnya pernah
menderita penyakit yang sam dan apakah anggota keluarga juga
pernah mengalami penyakit yang sama.
e. Pemeriksaan fisik:
1). Mulut: Terdapat nafas yang berbau tidak sedap, bibir kering
dan pecah-pecah. Lidah tertutup selaput putih kotor (coated
tongue), sementara ujung dan tepinya berwarna kemerahan.
11

2). Abdomen: Dapat ditemukan keadaan perut kembung


(meterorismus), bias terjadi konstipasi, diare atau normal.
3). Hati dan limfe: Membesar disertai dengan nyeri pada
perabaan
2. Diagnosa Keperawatan
a. Risiko kurang volume cairan b.d kurangnya asupan cairan dan
peningkatan suhu tubuh
b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d asupan yang kurang
c. Hipertemia b.d proses infeksi
d. Risiko terjadi komplikasi b.d kemampuan bakteri dalam merusak
sistem dan daya tahan tubuh yang rendah

3. Intervesi

No Diagnosa Intervensi Rasional


Keperawatan
1. Risiko kurang a.Observasi tanda-tanda bibir a.Untuk mendeteksi
volume cairan b.d kurang cairan (pecah-pecah, tanda awal bahaya
kurangnya asupan produksi urine turun, turgor pada pasien
cairan dan tidak elastis)
peningkatan suhu
tubuh

b. Observasi tanda-tanda Peningkatan denyut


vital setiap 4 jam nadi, penurunan
tekanan darah dapat
mengindikasikan
hypovolemia pada
Kriteria hasil: perfusi jaringan.
12

Volume cairan Peningkatan


terpenuhi yang frekuensi
ditandai dengan pernapasan
anak tidak berkompensasi
kehausan, turgor pada hipoksia
kulit elastis, jaringan
ubun-ubun tidak
cekung, produksi
urine normal dan
bibir lembab
c.Pantau asupan dan Untuk mengetahui
pengeluaran keseimbangan
cairan pada pasien
d. Berikan minum yang Mencegah tanda-
banyak pada anak tanda dehidrasi
e. Berikan cairan parental Untuk menambah
sesuai petunjuk cairan secara
signifikan
f. Jelaskan manfaat minum dan Agar keluarga dapat
pemberian cairan bagi berperan dalam
kesehatan tubuh pemberian cairan
pada anak
2. Nutrisi kurang a. Kaji keluhan mual atau nyeri Informasi ini
dari kebutuhan pada anak menentukan data
tubuh b.d asupan dasar kondisi pasien
yang kurang dan memandu
intervensi
keperawatan
Kriteria hasil: b. Izinkan anak Agar anak suka
Nutrisi pasien mengonsumsi makanan yang dengan
13

terpenuhi ditandai sesuai ditoleransi anak makanannya,


dengan nafsu sehingga nafsu
makan baik, makan bertambah
makan habis
sesuai porsi yang
disediakan, tidak
muntah dan berat
badan stabil atau
meningkat.
c.Berikan makanan padat Dapat memenuhi
secara dini apabila anak kebutuhan gizi
sadar
d. Jika anak tidak sadar Untuk memenuhi
berikan makanan cair kebtuhan nutrisi
e.Berikan susu 2 gelas sehari Dapat mencegah
kerusakan protein
tubuh dan
memberikan kalori
energy
f. Pertahankan kebersihan Agar menambah
mulut anak nafsu makan anak
g. Anjurkan orangtua Makanan dalam
untuk memberikan makanan jumlah sedikit
sedikit tapi sering dalam waktu sering
akan memerlukan
pengeluaran energy
yang sedikit. Anak
akan menghabiskan
makanan dalam
jumlah banyak
14

setiap kali makan.


3. Hipertemia b.d a.Kompres dengan air dengan Kompres air biasa
proses infeksi suhu sesuai ruangan akan mendinginkan
permukaan tubuh
dengan cara
konduksi
Kriteria Hasil: b. Berikan cairan yang Untuk menghindari
Suhu tubuh adekuat, bila perlu kehilangan cairan
normal 36-37⁰C, tambahkan cairan melalui natrium klorida dan
dengan tubuh intravena kalium yang
tidak teraba panas berlebihan
dan haus
berkurang.
c.Kenakan anak pakaian tipis Meningkatkan
dan menyerap keringat kenyamanan dan
menurunkan suhu
tubuh
d. Berikan antiperetik Ex: asetaminofen,
jika perlu efektif dalam
menurunkan
demam
4. Risiko terjadi a. Kaji keluhan pasien Untuk menentukan
komplikasi b.d data dasar kondisi
kemampuan pasien dan
bakteri dalam memandu
merusak sistem intervensi
dan daya tahan keperawatan
tubuh yang
rendah
15

Kriteria Hasil: b. Observasi tanda-tanda Untuk mendeteksi


Tidak terjadi komplikasi tanda awal bahaya
komplikasi, pada pasien
misalnya
perdarahan dan
perforasi, ekspresi
wajah pasien
tenang, nyaman
dan tidak
mengeluh nyeri.
c. Berikan istirahat yang Istirahat dapat
cukup pada pasien menyimpan energy
yang diperlukan
untuk melawan
infeksi.
d. Libatkan keluarga Untuk
dalam perawatan pasien meningkatkan
kesembuhan pada
anak
e. Berikan antibiotik sesuai Antibiotik
indikasi disarankan untuk
melawan infeksi

2.2 Diare
2.2.1 Pengertian
Nursalam (2008), mengatakan diare pada dasarnya adalah
frekuensi buang air besar yang lebih sering dari biasanya dengan
konsistensi yang lebih encer. Diare merupakan gangguan buang air
16

besar atau BAB ditandai dengan BAB lebih dari 3 kali sehari
dengan konsistensi tinja cair, dapat disertai dengan darah atau
lendir (Riskesdas, 2013).
Diare yaitu penyakit yang terjadi ketika terdapat perubahan
konsistensi fese. Seseorang dikatakan menderita bila feses berair
dari biasanya, dan bila buang air besar lebih dari tiga kali, atau
buang air besar yang berair tetapi tidak berdarah dalam waktu 24
jam (Dinkes, 2016).
WHO (2009), mengatakan diare adalah suatu keadaan buang
air besar (BAB) dengan konsistensi lembek hingga cair dan
frekuensi lebih dari tiga kali sehari. Diare akut berlangsung selama
3-7 hari, sedangkan diare persisten terjadi selama kuran lebih 14
hari.

2.2.5 Etiologi
Kebanyakan mikroorganisme pathogen penyebab diare
disebarluaskan lewat jalur fekal-oral melalui makanan atau air
yang terkontaminasi atau ditularkan antar-manusia dengan kontak
yang erat, seperti pada tempat penitipan anak. Kurangnya air
bersih, tinggal berdesakan, hygiene yang buruk, kurang gizi, dan
sanitasi yang jelek merupakan faktor risiko utama, khusunya
untuk terjangkit infeksi bakteri atau parasite yang pathogen.
Peningkatan insidensi dan beratnya penyakit diare pada bayi juga
berhubungan dengan perubahan yang spesifik menurut usia pada
kerentanan terhadap mikroorganisme pathogen. Sistem kekebalan
bayi belum pernah terpajan dengan banyak mikroorganisme
pathogen sehingga tidak memiliki antibodi pelindung yang
didapat.
17

Rotavirus merupakan agens paling penting yang menyebabkan


penyakit diare disertai dehidrasi pada anak-anak kecil diseluruh
dunia. Gejalanya dapat berkisar mulai dari gambaran klinik tanpa
manifestasi gejala hingga kematian akibat dehidrasi. Infeksi
rotavirus menyebabkan sebagian besar perawatan rumah sakit
karena diare berat pada anak-anak kecil dan merupakan infeksi
nosocomial (infeksi yang di dapat dalam rumah sakit) yang
signifikan oleh mikroorganisme pathogen.
Salmonella Shigella dan Campylobacter merupakan bakteri
pathogen yang paling sering diisolasi. Mikroorganisme Giardia
lamblia dan Cryptosporidium merupakan parasite yang paling
sering menimbulkan diare infeksius akut.

2.2.3 Patofisiologi
Invasi mikroorganisme pathogen pada traktus GI menyebabkan
diare lewat :
1. Produksi enterotoksin yang menstimulasi sekresi air serta
elektrolit
2. Invasi serta destruksi langsung sel-sel epitel usus
3. Inflamasi local serta invasi sistemik oleh mikroorganisme.

Gangguan fisiologis paling serius dan sering terjadi terkait


penyakit diare berat, adalah :

1. Dehidrasi
2. Gangguan keseimbangan asam-basa dengan asidosis
3. Syok yang terjadi ketika keadaan dehidrasi berlanjut hingga
titik terjadinya gangguan yang serius pada status sirkulasi.
2.2.4 Pathway
18

2.2.5 Komplikasi
a. Dehidrasi
Menurunnya pemasukan atau hilangnya cairan akibat muntah,
diare, demam, hiperventilasi. Dehidrasi terjadi karena
kehilangan air (output) lebih banyak dari pemasukan (input),
merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare.
b. Hipokalemia
Kekurangan kalium dalam darah
c. Hipokalsemia
d. Kerurangan kalsium dalam darah
19

e. Cardiac dysrhythmias akibat hipokalemi dan hipokalsemi


f. Hiponatremia
Kekurangan natrium dalam darah
g. Syok hipovolemik
Ketidakseimbangan cairan elektrolit dalam tubuh
h. Asidosis
Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja.
Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda kotor
tertimbun dalam tubuh, terjadinya penimbunan asam laktat
karena adanya anorexia jaringan. Produk metabolisme yang
bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh
ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan terjadinya pemindahan ion
Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler.

2.2.6 Manifestasi Klinis


a. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau
encer
b. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi: turgor kulit jelek
(elastisitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung,
membrane mukosa kering
c. Keram abdominal
d. Demam
e. Mual dan muntah
f. Anorexia
g. Lemah
h. Pucat
i. Perubahan tanda-tanda vital; nadi dan pernafasan cepat
j. Menurun atau tidak ada pengeluaran urine
20

2.2.7 Pemeriksaan Diagnostik

a. Riwayat alergi pada obat-obatan atau makanan


b. Kultur tinja
c. Pemeriksaan elektrolit, BUN, creatinine, dan glukosa
d. Pemeriksaan tinja: pH, leukosit, glukosa, dan adanya darah

2.2.8 Penatalaksanaan Terapeutik


1. Pemakaian oralit
Cara ini dipandang lebih efektif, lebih aman, tidak
memberikan rasa nyeri. Larutan oralit meningkatkan dan
mempermudah reabsorpsi natrium serta air dan sejumlah
penelitian menunjukan bahwa larutan ini mengurangi gejala
muntah, kehilangan cairan akibat diare serta lamanya sakit.
Larutan ini memberikan hasil yang baik dalam pengobatan
sejumlah besar bayi dengan dehidrasi isotonic, hipotonik,
atau hipertonik. Bayi yang disusui oleh ibunya harus terus
mendapat ASI dan pemberian oralit diberikan hanya untuk
menggantikan cairan yang hilang pada bayi.

2. Diet
Diare tidak boleh dianjurkan untuk pemberian cairan
jernih lewat mulut seperti jus buah, minuman ringan, bersoda
dan gelatin. Makanan cair ini biasanya memiliki kandungan
hidrat arang yang tinggi, kadar elektrolit yang sangat rendah
dan osmolalitas yang tinggi. Minuman soda yang
mengandung kafein harus dihindari karena kafein merupakan
diuretik ringan dan dapat meningkatkan kehilangan cairan
serta natrium. Kaldu ayam atau sapi tidak diberikan karna
makanan cair ini mengandung natrium dengan kadar yang
21

tinggi sedangkan kandungan hidrat arangnya tidak memadai.


Diet (BRAT) pisang, nasi apel dan roti kering atau teh,
merupakan kontraindikasi bagi anak, khususnya bagi yang
menderita diare, karena diet ini memiliki gizi yang rendah,
kandungan hidrat arang yang tinggi dan elektrolit yang
rendah. Diet yang baik yaitu makanan yang mudah dicerna
seperti sereal dan sayuran matang.
3. Pemberian infus cairan
Pada kasus dehidrasi berat dan syok, pemberian infus
cairan dapat dimulai ketika anak tidak dapat mengonsumsi
cairan dan elektrolit dengan jumlah yang cukup untuk,
memenuhi kehilangan fisiologis, menggantikan deficit
sebelumnya dan menggantikan kehilangan abnormal yang
tengah berlangsung. Biasanya pasien yang mendapatkan
infus adalah pasien dehidrasi berat, pasien muntah, pasien
yang tidak bisa minum dengan sebab apapun (ex: kelelahan
berat dan koma) dan pasien dengan distensi lambung yang
berat. Biasanya larutan berupa larutan salin yang
mengandung destroksa 5% dalam air. Natrium karbonat
dapat ditambahkan karena biasanya asidosis akan menyertai
keadaan dehidrasi berat.

2.2.9 Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Pengkajian fisik meliputi semua parameter yang
dijelaskan untuk pengkajian dehidrasi sepeti berkurangnya
haluaran urine, menurunnya berat badam, membrane mukosa
yang kering, turgor kuliat jelek, ubun-ubun yang cekung dan
22

kulit yang pucat, dingin serta kering. Pada dehidrasi yang


lebih berat gejala meningkatnya frekuensi nadi dan respirasi,
menurunnya tekanan darah dan waktu pengisian ulang
kapiler yang memanjang (>2 detik) dapat menunjukan syok
yang mengancam.
Riwayat penyakit untuk mengetahui penyebabnya
seperti pengenalan makanan yang baru, kontak dengan agen
yang menular, dan kontak dengan makanan yang mungkin
terkontaminasi.
Riwayat alergi, penggunaan obat dan makanan dapat
menunjukan alergi terhadap makanan, dan konsumsi
makanan yang banyak mengandung sorbitol dan fruktosa.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan
kehilangan cairan yang berlebihan dari traktus GI kedalam
feses atau muntahan.
b. Kebutuhan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang
berhungan dengan kehilangan cairan akibat diare dan asupan
cairan yang tidak adekuat.
c. Risiko menularkan infeksi yang berhungan dengan
mikroorganisme yang menginvasi traktus GI
d. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan iritasi
karenan defekasi yang sering dan feses yang cair
e. Ansietas yang berhungan dengan keterpisahan anak dari
orang tuanya, lingkungan yang tidak biasa dan prosedur yang
menimbulkan distres.
23

3. Intervensi

No Diagnosa Intervensi Rasional


Keperawatan
1. Kekurangan volume a.Berikan larutan Berikan oralit sedikit
cairan yang oralit untuk tapi sering khususnya
berhubungan dengan rehidrasi maupun jika anak muntah.
kehilangan cairan penggantian cairan
yang berlebihan dari yang hilang
traktus GI kedalam
feses atau muntahan.
Kriteria hasil: b. Berikan Untuk mengatasi
Pasien dan pantau dehidrasi dan vomitus
memperlihatkan pemberian cairan yang hebat
tanda rehidrasi dan infus
mempertahankan
hidrasi yang adekuat
c.Berikan oralit Susu formula yang di
secara bergantian berikan harus bebas
dengan cairan laktosa, jika bayi tidak
rendah natrium dapat menoleransi susu
seperti air, ASI dan formula biasa.
susu formula
d.Setelah rehidrasi Pengembalian
tercapai, berikan makanan yang biasa
makanan seperti dikonsumsi dapat
biasa, selama membawa manfaat
makanan tersebut dengan mengurangi
dapat frekuensi defekasi dan
24

ditoleransinya. meminimalkan
penurunan berat badan.
e.Pertahankan Untuk mengevaluasi
catatan asupan dan keefektifan intervensi
haluaran cairan
2. Kebutuhan Nutrisi a.Hindari diet Karena memiliki
kurang dari BRAT (banana, kandungan energy dan
kebutuhan tubuh rice, apple, tea) protein yang rendah,
yang berhungan kandungan hidrat arang
dengan kehilangan yang tinggi dan kadar
cairan akibat diare elektrolit yang rendah.
dan asupan cairan
yang tidak adekuat
Kriteria Hasil: b.Beri tahu keluarga Untuk menghasilkan
Pasien mengonsumsi agar dapat kepatuhan terhadap
nutrient dalam jumlah menerapkan diet progam terapeutik
yang adekuat untuk yang tepat
mempertahankan
berat badan yang
tepat menurut
usianya.
3. Risiko menularkan a.Pertahankan Untuk mengurangi
infeksi yang kebiasaan mencuci risiko penyebaran
berhungan dengan tangan pada anak infeksi
mikroorganisme yang dan bayi, agar
menginvasi traktus tidak meletakan
GI tangannya pada
daerah yang
Kriteria Hasil: terkontaminasi
Infeksi tidak
25

menyebar ke orang
lain
b.Pasang popok Untuk mengurangi
dengan rapat kemungkinan
menyebarnya feses
4. Kerusakan integritas a.Ganti popok Untuk menjaga agar
kulit yang dengan sering kulit selalu bersih dan
berhubungan dengan kering
iritasi karena defekasi
yang sering dan feses
yang cair

Kriteria Hasil: b.Amati bagian Sehingga tindakan


Anak tidak bokong dan yang tepat dapat
memperlihatkan perineum untuk dimulai, oleskan
gejala rupture kulit. mendeteksi tanda preparat antifungus
infeksi seperti yang tepat untuk
candida mengobati infeksi
jamur pada kulit
5. Ansietas yang a.Lakukan Untuk memberikan
berhungan dengan perawatan mulut rasa nyaman
keterpisahan anak dan berikan dot
dari orang tuanya, pada bayi
lingkungan yang
tidak biasa dan
prosedur yang
menimbulkan distres.

Kriteria Hasil: b.Anjurkan Untuk mencegah stress


26

Anak kunjungan dan pada anak karena


memperlihatkan partisipasi berpisah dari
tanda distres fisik keluarga dalam keluarganya
atau emosional yang perawatan anak
minimal sesuai kemampuan
keluarga
BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Thypoid fever dan diare merupakan masalah kesehatan
yang sering dijumpai pada anak-anak. Typhoid adalah penyakit
infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi.
Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah
terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi
kuman salmonella. (Brunner and Sudhart, 1994).
Diare yaitu penyakit yang terjadi ketika terdapat
perubahan konsistensi fese. Seseorang dikatakan menderita bila
feses berair dari biasanya, dan bila buang air besar lebih dari tiga
kali, atau buang air besar yang berair tetapi tidak berdarah dalam
waktu 24 jam (Dinkes, 2016).
Implementasi yang dapat dilakukan pada kedua penyakit
tersebut yaitu melalui pemberian cairan intravena. Pencegahan
yang dapat dilakukan, salah satunya dengan menjaga kebersihan
pada anak dan keluarga.

27
28

DAFTAR PUSTAKA

Wong, L. Donna Dkk. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta:


Penerbit Buku Kedokteran EGC
Marni. 2016. Asuhan Keperawatan Anak pada Penyakit Tropis. Jakarta:
Erlangga