Anda di halaman 1dari 8

Pengertian

Dekubitus merupakan masalah akut yanng terus-menerus dari situasi perawatan pemulihan .
Dekubitus adalah nekrosis jaringan lokal yang cenderung terjadi ketika jaringan lunak tertekan di
antara tonjolan tulang dengan permukaan eksternal dalam jangka waktu lama (potter & perry, 2005).
Gangguan ini terjadi pada individu yang mengalami tirah baring lama serta mengalami gangguan
tingkat kesadaran. Ketika dekubitus terjadi maka lama perawatan dan biaya perawatan rumah sakit
akan meningkat.
Etiologi
Dekubitus berisiko terjadinya pada orang yang menderita suatu penyakit hingga menyebabkan gerak
tubuhnya tebatas. Penderita tersebut akan berbaring di tempat tidur dalam waktu yang lama, sehingga
ada bagian-bagian tubuh yang ters menerus mengalami penekanann dan muncul luka. Untuk
mencegah munculnya luka dekubitus, seseorang yang tidak dapat beranjak dari tempat tidur
disarankan untuk menggunakan kasur antidekubitus. Dekubitus dapat terjadi pada individu yang
mengalami penurunan kesadaran. Dekubitus meningkatkan lama perawatan dan biaya perawatan
rumah sakit (Potter & Perry, 2005). Tingkat ketergantungan mobilitas pasien merupakan faktor yang
langsung memengaruhi risiko terjadinya luka (Ignatavicius & Linda, 2002). Pasien yang dirawat inap
di instalasi rawat inap mempunyai tingkat ketergantungan yang berbeda. Menurut teori Orem dalam
Taylor dan Renpenning (2011), klasifikasi tingkat ketergantungan pasien dibagi menjadi tiga, yaitu:
minimal care/self care, partial care dan total care. Pengkajian awal terhadap integritas kulit perlu
dilakukan oleh perawat, karena dengan perawatan yang tepat dan pencegahanrisiko terjadinya
dekubitus erat kaitannya. Sehingga, peneliti tertarik untuk meneliti di ruang perawatan penyakit
neurologi, dengan melihat risiko terjadinya dekubitus berdasarkan tingkat ketergantungan pasien.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi gambaran risiko terjadinya dekubitus berdasarkan
tingkat ketergantungan pasien.
Manifestasi klinis
Dekubitus adalah nekrosis jaringan lokal yang cenderung terjadi ketika jaringan lunak tertekan di
antara tonjolan tulang dengan permukaan eksternal dalam jangka waktu lama Gangguan ini terjadi
pada individu yang mengalami tirah baring lama serta mengalami gangguan tingkat kesadaran. Gaya
mekanis mendukung terjadinya luka dekubitus terutama bagi pasien dengan penurunan mobilisasi dan
penurunan kesadaran, melalui terjadinya gerakan ‘merosot’ di tempat tidur atau ketika pasien
dipindahkan atau diposisikan secara tidak tepat (misalnya, menarik pasien ke atas ke arah bagian
kepala tempat tidur). Otot yang spastik dan paralisis meningkatkan kerentanan pasien terhadap luka
dekubitus yang berhubungan dengan friksi dan gaya tarikan.

Daftar jurnal penelitian

N Judul jurnal Tujuan metode Populasi Hasil penelitian


o. dan jumlah
sample
penelitian
1 Risiko Terjadinya Untuk Metode pada Daripenelitia Karekteristik
Dekobitus mengidntifikas penelitian ini n yang telah responden pada
Berdasarkan i gambaran dilakukan dilakukan, penelitian ini
Tingkat resiko didapatkan
dengan berdasarkan
Ketergantungan terjadinya untuk hasil
diagnosa, jenis
Pasien di Ruang dekubitus menggunakan karekteristik
Perawatan berdasarkan metode penelitian responden, kelamin
Neurologi tingkat dengan
deskriptif. pada
ketergantungan diagnosa
pasien Populasi dalam pasien rawat inap
tertinggi
penelitian ini, yaitu lantai 5 Neurologi
ialah strok
seluruh pasien yang
sebesar 50% gedung
dirawat di ruang
atau
rawat inap gedung
setengahnya,
Kemuning lantai 5
dengan Kemuning RSHS
neurologi RSHS
jumlah 44 Bandung periode
Bandung. Teknik responden. 17 Juni
pengambilan Hasil ini
sampel dalam sama dengan Tabel 1:
penelitian ini Distribusi
hasil studi Persentase
menggunakan total
pendahuluan Karekteristik
sampling,sampel
sebelumnya Responden
penelitian rata-rata
pada tanggal Berdasarkan
seluruh pasien
18 Maret Diagnosa, dan
dalam waktu satu 2013, yakni JenisKelamin dan
bulan berjumlah 88 diagnosa Usia pada Pasien
pasien. Tempat strok ada Rawat Inap
penelitian di padaperingk Lantai 5
RSUPDr. Hasan at pertama, Neurologi
Sadikin Bandung, dengan Gedung
jalan Pasteur no. 38 jumlah 13 Kemuning di
Bandung40161. responden
Waktu penelitian dari total 35 RSHS periode 17
pada tanggal 17 responden. Juni 2013 sampai
Juni dengan 7 Juli
penelitian 2013 Dari tabel 1
2013 hingga 11 Juli yang telah menunjukkan
2013. dilaksanakan bahwa diagnosa
jumlah
Penelitian dengan responden terbanyak ialah
menggunakan antara pria strok, dengan
lembar observasi dan wanita jumlah 44
berdasarkan Teori berbeda,
Orem responden atau
yakni untuk
dalamArikunto setengahnya.
pria
(2010) self care dan Jumlah jenis
berjumlah 49
Skala Braden, responden kelaminseimbang,
penilaian terhadap atau yakni
tingkatketergantung sebagian 22responden pria
an besar dan
untuk wanita dan 22 responden
pasien berdasarkan berjumlah 39 wanita.Dari tabel
teori Orem dalam responden 2 terlihat dari
Taylor dan atau hampir rentang usia
Renpenning (2011). dewasa madya
setengahnya. sekitar 40–60
Beberapa tahun merupakan
kebiasaan yang terbanyak
dan perilaku yakni, 26
tertentu responden, untuk
sering rentang usia
dilakukan dewasa lanjut
pria, yang
sebanyak 13
dapat
responden, dan
membuat
dewasa awal
kesehatan
sebanyak lima
mereka
responden.
berisiko
Diagnosa
seperti
merokok, tertinggike-2,
pola makan yakni Meningitis
buruk dan Serosa dengan
mengabaika
n gejala jumlah13
awal. responden atau
sebagian kecil.
Hasil
penelitian Jumlah jenis
berdasarkan kelamin pria
rentang usia, sebanyak enam
yakni usia responden
dewasa
madya untuk wanita
dengan sebanyak tujuh
rentang usia
responden. Untuk
antara 40–60
rentang usia
tahun sebanyak
berjumlah 49 terbanyak pada
responden dewasa awal
merupakan sebanyak tujuh
yang responden dan
terbanyak. dewasa madya
Pada usia sebanyak enam
(40–60 responden.
tahun) ini
Tabel 2:
terjadi
Distribusi
proses
Persentase
penurunan Karekteristik
kemampuan Responden
fisik dan Berdasarkan
psikologis Diagnosa, dan
(Joyce Usia padaPasien
& Rawat Inap lantai
Hawks, 5 Neurologi
2004). Gedung
Kemudian Kemuning di
disusul oleh RSHS periode 17
dewasa awal Juni 2013
dengan sampai dengan 7
jumlah 19 Juli 2013 ,
responden, Diagnosa space
dewasa ocuppying lesion
lanjut (SOL)
sebanyak 16
memiliki lima
responden
responden atau
dan remaja
sebagian kecil.
sebanyak
empat Jenis kelamin pria
sebanyak dua
responden.
responden
Faktor-
dan untuk wanita
faktor yang
sebanyak tiga
teridentifikas
responden.
i sebagai
penunjang Pada rentang usia,
terhadap remaja sebanyak
terjadinya satu responden,
dekubitus dewasa awal satu
mencakup responden,
imobilisasi,
dewasa madya
kerusakan sebanyak dua
persepsi responden dan
sensori dan
atau kognisi, dewasa lanjut
penurunan sebanyak satu
perfusi responden.
jaringan, Diagnosa vertigo
penurunan memiliki empat
status responden
nutrisi, friksi
atau sebagian
dan daya kecil dengan jenis
tarikan, kelamin pria
peningkatan
kelembapan dan wanita
dan seimbang yakni
perubahan dua reponden.
kulit yang
Rentang usia
berhubungan
dewasa madya
dengan usia
sebanyak tiga
(Smeltzer
responden dan
& Bare,
dewasa lanjut
2008).
sebanyak satu
Adapun
faktor risiko responden.
lain yang Diagnosa status
dapat epileptikus
menyebabka memiliki tiga
n terjadinya
responden atau
luka tekan,
sebagian kecil
yaitu seperti
dengan jenis
indeks massa
kelamin
tubuh, usia,
seluruhnya pria
diagnosa
dan untuk rentang
medis, suhu
tubuh, usia remaja
tekanan sebanyak satu
darah dan responden dan
riwayat
merokok dewasa awal
(Kale, 2009). sebanyak satu
responden. Untuk
diagnosa gullain
barre-syndrome
(GBS) memiliki
dua responden
atau sebagian
kecil dengan jenis
kelamin yang
sama, yakni pria
dan pada rentang
usia remaja.
Selanjutnya,
diagnosa
encephalitis
dengan satu
responden
atau sebagian
kecil dengan jenis
kelamin.
Tabel 3: risiko
terjadinya
dekubitus
berdasarkan
tingkat
ketergantungan
pasien bervariasi,
diantaranya
dengan tingkat
ketergantungan
pasien minimal
care sebesar
19,3%atau
sebagian kecil,
dengan responden
sebanyak17
responden, yang
terdiri dari 15
responden atau
sebagian kecil
tidak berisiko
untuk terjadinya
dekubitus dan dua
responden atau
sebagian kecil
berisiko untuk
terjadinya
dekubitus.
Tingkat
ketergantungan
pasien partial
care sebesar
42,0% atau
hampir
setengahnya
dengan jumlah 37
responden
memiliki
risiko dekubitus
yang bervariasi,
dari 37
responden
tersebut terdapat
11responden
atau sebagian
kecil yang tidak
berisikountuk
terjadinya
dekubitus,
kemudian 17
responden
atau sebagian
kecil memiliki
risiko untuk
terjadinya
dekubitus,
delapan
responden atau
sebagian kecil
memiliki risiko
sedang untuk
terjadinya
dekubitus, dan
satu responden
atau sebagian
kecil memiliki
risiko tinggi
untuk terjadinya
dekubitus.

Pembahasan
Pencegahan dari dekubitus adalah prioritas utama dalam merawat pasien dan tidak terbatas pada
pasien yang mengalami pembatasan mobilitas. Pencegahan luka dekubitus banyak tinjauan literatur
mengindikasikan bahwa luka tekan dapat dicegah. Meskipun kewaspadaan perawat dalam
memberikan perawatan tidak dapat sepenuhnya mencegah terjadinya luka tekan dan perburukannya
pada beberapa individu yang sangat berisiko tinggi. Dalam kasus seperti ini, tindakan intensif yang
dilakukan harus ditujukan untuk mengurangi faktor risiko, melaksanakan langkah-langkah
pencegahan dan mengatasi luka tekan, pencegahan untuk mencegah terjadinya dekubitus, yaitu
pengkajian resiko dengan menggunakan skala braden, perawatan kulit, pemberian nutrisi, pemberian
edukasi, dan pemberian bantalan dan pengaturan posisi / alih baring. Sedangkan dari hasil penelitian
di atas, hampir sebagian besar pasien mengalami penurunan persepsi sensori, penurunan kesadaran,
dan imobilisasi. Seperti pasien GBS yang mengalami kelumpuhan semua ekstremitas (quadriplegia)
yang memerlukan bantuan untuk mobilisasi penuh, pasien meningitisyang mengalami penurunan
kesadaran,pasien strok yang mengalami lumpuh separuh tubuh (hemiplegia), dan tak sedikit juga
pasien yang mengalami kelumpuhan dari bagian pinggang ke bagian ekstremitas bawah sehingga sulit
untuk melakukan pergerakan. Gaya mekanis mendukung terjadinya luka dekubitus terutama bagi
pasien dengan penurunan mobilisasi dan penurunan kesadaran, melalui terjadinya gerakan ‘merosot’
di tempat tidur atau ketika pasien dipindahkan atau diposisikan secara tidak tepat misalnya, menarik
pasien ke atas ke arah bagian kepala tempat tidur.

Kesimpulan
Perlu diwaspadai terjadinya dekubitus jika ditemui tanda- tanda seperti kulit tampak memerah yang
tidak hilanng setelah tekanan ditiadakan , kulit kemerahan disertai ada pengelupasan kulit sedikit.
Luka tekan yang tidak ditanngani dengan baik dapat mengakibatkan masa perawatan pasien menjadi
panjang dan meingkatkan biaya rumah sakit. Oleh karena itu perawat perlu memahami secara
komprohensif tentang luka dekubitus agar dapat membeikan pencegahan dan intervensi keperawatan
yang tepat untuk klien yang beresiko terkena luka tekan di ruang Neurologi, semakin tinggi tingkat
ketergantunga pasien maka tingkat pencegahan harus lebih tingi juga.

Kelebihan
Penelitian nya detail, sehingga kita dapat mengatisipasi terjadinya dekobitus :D
Kekurangan
Kekurangan dalam penelitian jurnal ini justru perawat yang harus lebih ambil pean dalam pencgahan
padahal jika terjadi dekubitus itu dapat membuat kerugian pada pasien dan keluarga, pasien sebaiknya
di ajarkan untuk mandiri jika sudah dapat bergerak dan jika belum perawat dapat memberikan edukasi
terhadap keluarga pasien.