Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia sebagai negara berkembang dengan tingkat pertumbuhan penduduk

yang tinggi, masih menghadapi masalah tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan

Angka Kematian Bayi (AKB). Menurut hasil Survey Demografi dan Kesehatan

Indonesia (SDKI) 2007, menunjukkan AKB sebesar 34 per 1000 kelahiran hidup

dan AKI sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup ( Depkes. RI, 2007 ).

Penyebab langsung kematian ibu terkait kehamilan dan persalinan terutama

adalah pendarahan (28%). Sebab lain, yaitu eklampsi (24%), infeksi (11%), partus

lama (5%), dan abortus (5%) ( Kompas, 2010 ). Sedangkan menurut Departemen

Kesehatan, pada tahun 2005 jumlah ibu meninggal karena perdarahan mencapai

38,24% (111,2 per 100.000 kelahiran hidup), gestosis 26,74% (76,97 per 100.000

kelahiran hidup), akibat penyakit bawaan 19,41 (56,44 per 100.000 kelahiran

hidup), dan infeksi 5,88% (17,09 per 100.000 kelahiran hidup) (Depkes. RI, 2008).

Diberbagai negara berkembang, masih banyak keluarga khususnya yang

tinggal dipedesaan beranggapan bahwa lebih baik memiliki keluarga besar

daripada keluarga kecil. Hal ini mengakibatkan banyak wanita yang terpaksa
menikah serta melahirkan pada usia muda dan tidak berhenti melahirkan sampai

40 tahun (Wibowo, 1994).

Padahal salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya perdarahan

postpartum adalah paritas. Paritas yang tinggi atau multipara akan menjadi salah

satu faktor pencetus atonia uteri ( Prawiroharjo, 2002 ), yang apabila tidak

ditangani dengan baik akan mengakibatkan perdarahan postpartum. Menurut

Rukmini dan LK Wiludjeng (2005) dari 12 kematian maternal dirumah sakit yang

diteliti banyak kelompok umur 20-30 tahun sebesar 66,7% dan jumlah paritas

lebih dari tiga orang sebesar 50%, kematian ibu karena perdarahan antepartum

8,3%, postpartum 33,3% yang terbanyak adalah jumlah paritas lebih dari tiga.

Jamban  adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan tinja

manusia. Jamban terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher

angsa atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit

penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya, (Abdullah, 2010).

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No.852 Tahun 2008 tentang

Strategi  Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat, jamban sehat adalah suatu

fasilitas pembuangan tinja yang efektif untuk memutuskan mata rantai penularan

penyakit.

  Sementara pengertian kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang

tidak di pakai lagi oleh tubuh dan yang harus dikeluarkan  dari dalam tubuh, zat-
zat yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh ini berbentuk tinja, air seni, dan CO2.

(Notoatmodjo, 2010).

Hipertensi adalah gangguan yang terjadi pada sistem peredaran darah

sehingga tekanan darah menjadi diatas normal. Karena itulah penyakit ini juga

dikenal dengan nama tekanan darah tinggi.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdes) Balitbangkes tahun 2007

menunjukkan penderita hipertensi Indonesia mencapai 31,7%. Dari semua

penderita hipertensi di Indonesia, hanya 25% saja yang terdiagnosis. Ini berarti 3

dari 4 orang yang mengidap tekanan darah tinggi, tidak tahu bahwa mereka

mempunyai kondisi tersebut. Lebih bahayanya lagi, kurang dari 1% pengidap

hipertensi mengonsumsi obat untuk menurunkan tekanan darahnya. Hal ini

membuat hipertensi sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Bukti-bukti ilmiah telah menunjukkan bahwa asap rokok mengakibatkan

timbulnya sejumlah penyakit cacat, cacat atau bahkan kematian. Ibu hamil dan

anak-anak umumnya lebih rentan terhadap bahaya asap rokok karena mereka

masih berada dalam masa perkembangan, menghirup udara lebih banyak daripada

orang dewasa, dan belum mampu mengontrol lingkungan mereka sendiri. Ibu

hamil dan anak-anak yang terpapar asap rokok dalam jumlah tinggi, misalnya

anggota keluarga mereka ada yang perokok, memiliki resiko lebih besar

mengalami gangguan kesehatan.


Berdasarkan data diatas maka penulis tertarik untuk memberikan asuhan

kebidanan keluarga yang sesuai dengan standar asuhan kebidanan komunitas yang

di tetapkan pada keluarga Tn. U dengan masalah kurangnya pengetahuan terhadap

resiko multiparitas dan belum tersedianya jamban sehat yang memadai, sehingga

dapat mengupayakan untuk menjaga kesehatan diri yang lebih optimal.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Setelah melaksanakan pembelajaran praktek komunitas diharapkan

mahasiswa Akademi Kebidanan mampu melaksanakan asuhan kebidanan

pada keluarga Tn. U .

2. Tujuan Khusus

Setelah melaksanakan pembelajaran praktek kebidanan komunitas

diharapkan mahasiswa mampu melaksankan asuhan kebidanan komunitas

pada keluarga, yaitu :

a) Mahasiswa mampu melakukan pengkajian terhadap keluarga Tn. U

b) Mahasiswa mampu menentukan masalah kesehatan yang terdapat pada

keluarga Tn. U

c) Mahasiswa mampu memprioritaskan masalah kesehatan yang ada pada

keluarga Tn. U
d) Mahasiswa mampu memberikan penatalaksanaan atau

implementasi/intervensi sesuai dengan permasalahan yang ada pada

keluarga Tn. U

e) Mahasiswa mampu mengevaluasi hasil dari penatalaksanaan yang

dilakukan pada keluarga Tn. U

C. Manfaat

1. Bagi keluarga binaan

Meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai resiko

multiparitas dan jamban sehat yang memadai.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Menjadi tolak ukur atau bahan masukan pengetahuan

Kesehatan Masyarakat Desa di Akademi Kebidanan Bangka

Belitung oleh mahasiswa, sehingga dapat menjadi lebih baik

lagi kedepannya, khususnya untuk pengembangan dalam

bersosialisasi dan berhubungan dengan masyarakat.

3. Bagi Mahasiswa

Meningkatkan pengetahuan mahasiswa dalam hal mengkaji

menganalisa.
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar

A. Konsep Dasar Paritas

1. Pengertian Paritas

Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh yang mampu

hidseorang wanita (BKKBN, 2006).

Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin up diluar rahim

(28 minggu) (JHPIEGO, 2008).

Paritas adalah wanita yang pernah melahirkan bayi aterm (Manuaba, 2008).

2. Klasifikasi Paritas

Menurut Prawirohardjo (2009), paritas dapat dibedakan menjadi primipara,

multipara, dan grande multipara.

a) Primipara

Primipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang

anak yang cukup besar untuk hidup didunia luar (Varney,

2006).
b) Multipara

Multipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang

anak lebih dari 1 kali (Prawirohardjo, 2009)

adalah wanita yang pernah melahirkan bayi viabel (hidup)

beberapa kali (Manuaba, 2008)

Multigravida adalah wanita yang sudah hamil, dua kali atau

lebih (Varney, 2006)

c) Grande Multipara

Grande multipara adalah wanita yang telah melahirkan 5

orang anak atau lebih dan biasanya mengalami penyulit

dalam kehamilan dan persalinan (Manuaba, 2008)

Grande Multipara adalah wanita yang pernah melahirkan

bayi 6 kali atau lebih hidup atau mati (Rustam, 2005)

Grande Multipara adalah wanita yang telah melahirkan 5

orang anak atau lebih (Varney, 2006)

3. Faktor yang mempengaruhi paritas

1. Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang

terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita

tertentu. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka


makin mudah dalam memperoleh menerima informasi,

sehingga kemampuan ibu dalam berpikir lebih rasional. Ibu

yang mempunyai pendidikan tinggi akan lebih berpikir

rasional bahwa jumlah anak yang ideal adalah 2 orang.

2. Pekerjaan

Pekerjaan adalah simbol status seseorang dimasyarakat.

Pekerjaan jembatan untuk memperoleh uang dalam rangka

memenuhi kebutuhan hidup dan untuk mendapatkan tempat

pelayanan kesehatan yang diinginkan. Banyak anggapan

bahwa status pekerjaan seseorang yang tinggi, maka boleh

mempunyai anak banyak karena mampu dalam memenuhi

kebutuhan hidup sehari-hari.

3. Keadaan Ekonomi

Kondisi ekonomi dimana keluarga yang tinggi mendorong

ibu untuk mempunyai anak lebih karena keluarga merasa

mampu dalam memenuhi kebutuhan hidup.


4. Latar Belakang Budaya

Latar belakang budaya yang mempengaruhi paritas antara

lain adanya anggapan bahwa semakin banyak jumlah anak,

maka semakin banyak rejeki.

5. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan domain dari perilaku. Semakin

tinggi tingkat pengetahuan seseorang, maka perilaku akan

lebih bersifat langgeng. Dengan kata lain ibu yang tahu dan

paham tentang jumlah anak yang ideal, maka ibu akan

berperilaku sesuai dengan apa yang ia ketahui (Friedman,

2005).

4. Resiko yang ditimbulkan multiparitas

Kehamilan resiko tinggi lebih banyak terjadi pada multipara dan

grande multipara, keadaan endometrium pada daerah korpus uteri

sudah mengalami kemunduran dan berkurangnya vaskularisasi, hal

ini terjadi karena degenerasi dan nekrosis pada bekas luka

implantasi plasenta pada kehamilan sebelumnya di dinding

endometrium. Adanya kemunduran fungsi dan berkurangnya

vaskularisasi pada daerah tersebut menjadi tidak subur dan tidak

siap menerima hasil konsepsi, sehingga pemberian nutrisi dan


oksigenasi kepada hasil konsepsi kurang maksimal dan

mengganggu sirkulasi darah kejanin.

5. Pencegahan dari resiko yang ditimbulkan multiparitas

1) Dengan memeriksakan kehamilan sedini mungkin dan

teratur ke posyandu, Puskesmas, Rumah Sakit, paling

sedikit 4 kali selama masa kehamilan

2) Dengan mendapatkan imunisasi TT 2X

3) Bila ditemukan kelainan resiko tinggi pemeriksaan harus

lebih sering dan intensif

4) Makan-makanan yang bergizi yaitu memenuhi gizi

seimbang

5) Cepat dan tanggap mengenal tanda-tanda kehamilan resiko

tinggi

6) Segera ke Posyandu, Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat

bila ditemukan tanda-tanda kehamilan resiko tinggi.

B. Konsep Dasar Jamban

1. Pengertian Jamban

Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran

manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa

atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan

kotoran air untuk membersihkannya (Abdullah, 2010).


2. Ada beberapa macam jamban yang sesuai dengan konstruksi dan cara

pembuatannya (ada 4 macam) jamban : (Entjang, 2000).

a. Jamban cemplung

Bentuk kakus yang sederhana, dimana pada saat BAB kotoran

langsung masuk dan jatuh ke dalam tempat penampungan

kotoran, dimana dari tempat jongkok ke lubang galian tidak

terdapat alat apapun sebagai penyalur maupun penghalang.

b. Jamban tangki septik/leher angsa

Kakus ini dibawa tempat jongkoknya ditempatkan atau

dipasangkan suatu alat yang berbentuk seperti leher angsa yang

disebut bowl. Bowl ini berfungsi mencegah timbulnya bau,

karena terhalang oleh air yang selalu terdapat dalam bagian

yang melengkung.

c. Jamban Plengsengan

Plengsengan artinya miring. Dimana dipasangnya saluran dari

tempet jongkok ke lubang penampungan kotoran.

3. Tujuan Jamban Sehat

a. Menjaga lingkungan bersih, sehat dan tidak berbau.

b. Tidak mencemari sumber air yang ada di sektarnya.

c. Tidak mengundang datangnya lalat atau serangga yang dapat

menjadi penular penyakit diare, kolera disentri, typhus,


kecacingan, penyakit saluran pencernaan, penyakit kulit dan

keracunan.

4. Syarat jamban sehat yaitu :

Persyaratan jamban sehat (Depkes RI, 2004 ) :

a) Tidak mencemari sumber air minum, letak lubang penampung

berjarak 10-15 meter dari sumber air bersih.

b) Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga

maupun tikus.

c) Cukup luas dan landai/miring kearah lubang jongkok sehingga

tidak mencemari tanah sekitarnya.

d) Mudah dibersihkan dan aman penggunaannya.

e) Dilengkapi dinding dan atap pelindung dinding kedap air dan

berwarna.

f) Cukup penerangan.

g) Lantai kedap air.

h) Ventilasi cukup baik.

i) Tersedia air dan alat pembersih.


C. Konsep Dasar Hipertensi

1. Pengertian Hipertensi

Hipertensi adalah gangguan yang terjadi pada sistem peredaran darah

sehingga tekanan darah menjadi diatas normal. Karena itulah penyakit ini

juga dikenal dengan nama tekanan darah tinggi.

Hipertensi adalah suatu kondisi medis yang kronis dimana tekanan

darah meningkat diatas tekanan darah yang disepakati normal (Kabo, 2010).

2. Hipertensi dibagi menjadi dua jenis yaitu :

a. Hipertensi essensial (primer)

Hipertensi primer adalah yang terjadi pada sebagian besar

kasus hipertensi (sekitar 95%) dan penyebab dari jenis ini belum bisa

diketahui dengan jelas.

b. Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder adalah tipe yang jarang terjadi (sekitar

5%), dan penyebab dari tipe ini adalah kondisi medis lain seperti

ginjal , arteri, jantung, obesitas, dan obat-obatan tertentu.

3. Resiko Mengidap Hipertensi

1. Berusia diatas 65 tahun


2. Makan banyak garam

3. Kelebihan berat badan

4. Memiliki keluarga dengan tekanan darah tinggi

5. Kurang makan buah dan sayuran

6. kurang berolahraga

7. Minum terlalu banyak kopi (atau minuman lain yang mengandung

kafein)

8. Terlalu banyak mengonsumsi minuman keras

4. Pencegahan dari Resiko ditimbulkan Hipertensi

1. Mengonsumsi makanan sehat

2. Mengurangi konsumsi garam dan kafein

3. Berhenti merokok (apabila merokok)

4. Berolahraga secara teratur

5. Mengurangi berat badan, jika diperlukan

6. Mengurangi konsumsi minuman keras


D. Konsep Dasar Bahaya Rokok Pada Kehamilan

1. Bahaya Rokok Pada Kehamilan

a. Keguguran dan bayi meninggal waktu dilahirkan

b. Melahirkan bayi dengan berat badan sangat rendah

c. Melahirkan bayi yang nantinya mengalami gangguan fungsi pernapasan

d. Mempunyai anak-anak dengan resiko Sindrom Kematian Mendadak (SIDS)

lebih tinggi

2. Resiko yang Ditimbulkan dari Bahaya Rokok

a. Saat lahir lebih sering mengalami batuk, flu, mengi, dan infeksi telinga

bagian tengah

b. Asma pada anak-anak yang sebelumnya tidak menunjukkan gejala apapun

terhadap penyakit ini

c. Apabila terpapar terus-menerus akan mengalami resiko infeksi saluran

pernapasan seperti pneumonia dan bronkitis

d. Meningkatnya resiko Sindrom Kematian Mendadak (SIDS) pada bayi


3. Penanganan dari bahaya rokok pada kehamilan

a. Menghindari ! sebisa mungkin untuk berusaha menjauh jika melihat

orang yang sedang merokok

b. Jika sedang berada diarea umum dan sudah jelas ada larangan

merokok, tak perlu ragu dan sungkan untuk menegur orang yang

tengah merokok

c. Jika perlu gunakan masker untuk mengurangi jumlah asap rokok

yang terhirup

d. Tingkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan yang

bergizi

e. Selama kehamilan, pantau terus perkembangan janin, misal apakah

berat badan nya sesuai dengan umur kehamilan. Sehingga gangguan

yang terjadi dapat dideteksi dan ditangani sejak dini

f. Jika perlu bentengi diri dengan asupan vitamin anti oksidan seperti

Vit. C dan E yang banyak dalam sayuran dan buah

B. Konsep Dasar Keluarga

1. Pengertian Keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang kepala keluarga dan

beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat, di bawah

satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.(Depkes RI, 2003).


2. Tipe Keluarga

a. Keluarga inti (nuclear family)

Adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.

b. Keluarga besar (extended family)

Adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya :

nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan lain-lain.

c. Keluarga berantai (serial family)

Adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih

dari satu kali dan merupakan keluarga inti.

d. Keluarga duda/janda (single family)

Adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.

e. Keluarga berkomposisi (composite)

Adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara

bersama.

f. Keluarga kabitas (cahabitation)


Adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk

suatu keluarga.

3. Tipe Keluarga

a. Fungsi biologis

1) Untuk menurunkan keturunan

2) Memelihara dan membesarkan anak

3) Memenuhi kebutuhan gizi keluarga

4) Memelihara dan merawat anggota keluarga

b. Fungsi psikologis

1) Memberi kasih sayang dan rasa aman

2) Memberi perhatian di antara anggota keluarga

3) Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga

4) Memberikan identitas keluarga

c. Fungsi sosialisasi

1) Membina sosialisasi pada anak

2) Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat

perkembangan anak

3) Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga

d. Fungsi ekonomi

1) Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan

keluarga.
2) Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi

kebutuhan keluarga.

3) Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga di

masa yang akan datang misalnya pendidikan anak-anak dan

jaminan hari tua

e. Fungsi pendidikan

1) Menyekolahkan anak untuk memberi pengetahuan, ketrampilan

dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang

dimilikinya.

2) Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang

dalam memenuhi perannya sebagai orang dewasa.

3) Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.

Dari berbagai fungsi di atas ada 3 fungsi pokok keluarga terhadap

anggota keluarganya adalah :

a. Asih adalah memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman,

kehangatan kepada anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka

tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.

b. Asuh adalah menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar

kesehatannya selalu terpelihara sehingga diharapkan menjadikan

mereka anak-anak yang sehat baik fisik, mental, sosial dan spiritual.
c. Asah adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap

menjadi manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa

depannya.

4. Ciri Keluarga

a. Diikat dalam suatu perkawinan

b. Ada hubungan darah

c. Ada ikatan batin

d. Ada tanggung jawab masing-masing anggotanya

e. Ada pengambil keputusan

f. Kerjasama diantara anggota keluarga

g. Komunikasi interaksi antar anggota keluarga

h. Tinggal dalam suatu rumah

5. Struktur Keluarga dan Pemegang Kekuasaan Dalam Keluarga

Struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya adalah :

a. Patrilineal

Keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam

beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis

ayah.

b. Matrilineal
Keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah

dalam beberapa generasi dimana hubungan ini disusun melalui jalur

garis ibu.

c. Matrilokal

Sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.

d. Patrilokal

Sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.

e. Keluarga kawinan

Hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga

dan beberapa sanak keluarga yang menjadi bagian keluarga karena

adanya hubungan dengan suami atau istri.

6. Pemegang kekuasaan dalam keluarga :

a. Patriakal, yang dominan dan memegang kekekuasaan dalam keluarga

adalah di pihak ayah.

b. Matriakal, yang dominan dan memegang kekekuasaan dalam keluarga

adalah di pihak ibu.

c. Equalitarian yang memegang kekuasaan dalam keluarga adalah ayah

dan ibu.
7. Tugas-tugas Keluarga

Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut:

a. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya

b. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga

c. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan

kedudukannya masing-masing antar anggota keluarga

d. Pengaturan jumlah anggota keluarga

e. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga

f. anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas

g. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggota keluarga

(Nasrul Effendi)

C. Konsep Dasar Manajemen Kebidanan Komunitas

Kebidanan berasal dari kata “Bidan” menurut IDM, IFGO, & WHO

mengatakan bahwa bidan (midwife) adalah seorang yang telah mengikuti pendidikan

kebidanan yang diakui oleh pemerintah setempat dan telah menyelesaikan pendidikan

tersebut dan lulus serta terdaftar atau mendapat izin melakukan praktek kebidanan.

Menurut Kepmenkes No.90/Menkes/SK/VII/2002 bidan adalah seorang wanita yang

telah mengikuti program pendidikan bidan dan lulus ujian bidan sesuai dengan

persyaratan yang berlaku. Kebidanan (midwifery) mencakup pengetahuan dan


keterampilan yang dimiliki bidan dan kegiatan pelayanan yang dilakukannya untuk

menyelamatkan ibu dan bayi yang dilahirkan.

Komunitas adalah kelompok orang yang berada disuatu lokasi tertentu yang

saling berinteraksi. Bidan komunitas adalah bidan yang bekerja, melayani keluarga

dan masyarakat diwilayah tertentu. Kebidanan komunitas adalah bagian dari

kebidanan yang berupa serangkaian ilmu dan keterampilan untuk memberikan

pelayanan kebidanan pada ibu dan anak yang berada dalam masyarakat diwilayah

tertentu.

D. Managemen Kebidanan Komunitas

1. Identifikasi Masalah

Bidan yang berada didesa memberikan palayanan KIA dan KB

dimasyarakat melalui identifikasi, ini untuk mengatasi keadaan dan

masalah kesehatan didesanya terutama yang ditujukan pada kesehatan

ibu dan anak.

2. Analisa Dan Perumusan Masalah

Setelah data dikumpulkan dan dicatat maka dilakukan analisis. Hasil

analisis tersebut dirumuskan sebagai syarat dapat ditetapkan masalah

kesehatan ibu dan anak dikomunitas.

3. Diagnosa Potensial

Diagnosa yang mungkin terjadi


4. Antisipasi Penanganan Segera

Penanganan segera masalah yang timbul

5. Rencana (Intervensi)

Rencana untuk pemecahan masalah dibagi menjadi tujuan, rencana

pelaksanaan dan evaluasi.

6. Tindakan (Implementasi)

Kegiatan yang dilakukan bidan komunitas mencakup rencana

pelaksanaan yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.

7. Evaluasi

Untuk mengetahui ketepatan atau kesempurnaan antara hasil yang

dicapai dengan tujuan yang ditetapkan.


BAB III

TINJAUAN KASUS

I. PENGKAJIAN

A. Data Umum

1. Kepala keluarga : Tn. U

2. Alamat : Dusun Lubuk Lesung RT 009

Desa Gunung Pelawan Kecamatan Belinyu

Kabupaten Bangka

3. Pekerjaan KK : Buruh Harian

4. Pendidikan KK : Tamat SD/ Sederajat

5. Komposisi keluarga :

N Nama Jenis Hub. Umur Pendidikan

o Sex Kel KK

Status Imunisasi
BCG POLIO DPT Hepatitis Campak

1 Tn. U LK Kepala 35 Tamat SD - - - - - - - - - - -

. Keluarg Tahun

a
2 Ny. T PR Isteri 32 Tamat SD + + + + + + + + + + +

. Tahun

3 Tn. E LK Mertua Tamat SD - - - - - - - - - - -

4 Ny. H PR Mertua Tamat SD - - - - - - - - - - -

5 An. T LK Anak 13 Tidak + + + + + + + + + + +

Tahun menyelesaik

an SD
6 An. B LK Anak 9 SD + + + + + + + + + + +

Tahun

7 An. F LK Anak 5 - + + + + + + + + + + +

Tahun
Genogram :

Ny. T
Tn. U

: Perempuan : Garis pernikahan

: Laki-laki : Garis keturunan

: Tinggal Serumah

6. Tipe keluarga : Keluarga Tn. U termasuk dalam keluarga besar yang

terdiri dari mertua, 1 istri, dan 3 orang anak

.
7. Suku/ bangsa : Sunda/Indonesia

8. Agama : Islam

9. Status sosial ekonomi keluarga :

Menurut Ny. T sumber penghasilan keluarga berasal dari Tn. U,

dimana Tn. U bekerja sebagai buruh harian, penghasilan berkisar

antara ± Rp. 50.000,00 per hari. Dan penghasilan tersebut digunakan

untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

10. Aktifitas rekreasi keluarga

Ny. T mengatakan tidak pernah berekreasi dan keluarga jarang pergi

ke tempat hiburan atau ke tempat rekreasi, keluarga biasanya kumpul

bersama keluarga dirumah sambil menonton TV.

B. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga

1. Tahap perkembangan keluarga saat ini

Keluarga Tn. U mempunyai 3 orang anak, anak pertama berumur 13

tahun, anak kedua berumur 12 tahun, anak ketiga berumur 5 tahun

maka keluarga Tn. U berada pada tahap perkembangan keluarga

dimana Ny. T sedang hamil anak keempat hingga menunggu

kelahirannya.
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi

Perkembangan keluarga belum terpenuhi Tn. U belum dapat

memenuhi penghasilan keluarga untuk menyambut kelahiran anaknya.

3. Riwayat kesehatan kesehatan inti

Ny. T mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit seperti kencing

manis, TBC, jantung, hepatitis, hipertensi. Apabila anggota keluarga

sakit, keluarga biasanya berobat ke bidan desa atau puskesmas.

4. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya

Ny. T mengatakan, keluarga Tn. U tidak mempunyai riwayat penyakit

yang berbahaya seperti kencing manis, TBC, jantung, hipertensi dan

hepatitis. Tetapi, pada keluarga Ny. T, mempunyai riwayat penyakit

hipertensi dari ibu Ny. T.

C. Data Lingkungan

1. Karakteristik rumah

Tipe rumah : Non permanen dengan jumlah 3 kamar tidur, 1 dapur, 1

ruang keluarga, dan 1 ruang tamu,. Dimana ventilasi dari tiap ruangan

dimanfaatkan setiap hari, sehingga cahaya dapat masuk ke ruangan

pada siang hari. Penerangan rumah dengan menggunakan lampu

listrik, lantai teras dan ruang tamu dengan keramik, dan lantai ruang

rumah lainnya dengan plester. Kondisi rumah secara keseruhan cukup

bersih, status rumah milik sendiri, mempunyai kamar mandi, tetapi


tidak memiliki jamban. Ny. T mengatakan sumber air yang digunakan

adalah sumur gali.

Denah rumah :

KM

DAPUR KAMAR TIDUR

RUANG MAKAN KAMAR


TIDUR

RUANG TAMU KAMAR TIDUR

TERAS

2. Karakteristik tetangga dan komunitasnya.

Ny. T mengatakan bahwa hubungan seluruh anggota keluarga dengan

masyarakat lainnya cukup baik, jarak rumah dengan tetangga cukup

dekat.

3. Mobilitas geografis keluarga:


Ny. T mengatakan bahwa sudah memiliki rumah tetap dan tidak

berpindah-pindah.

4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat.

Ny. T mengatakan Tn. U pergi bekerja terkadang pulang 1 minggu

sekali untuk memenuhi pendapatan keluarga, Ny. T selalu berkumpul

bersama anak-anak dan ibunya. Keluarga klien juga berinteraksi baik

dengan masyarakat.

5. Sistem pendukung

Ny. T mengatakan seluruh anggota keluarga dalam keadaan sehat.

Dimana antar keluarga saling menyayangi satu sama lain. Fasilitas

kesehatan yang ada di wilayah tempat tinggalnya berupa Poskesdes

dan motor sebagai sarana transportasi.

D. Struktur Keluarga

1. Struktur peran

Tn. U mempunyai peran dalam rumah tangga sebagai pencari nafkah

dan menjadi anggota masyarakat.

Ny T sebagai ibu rumah tangga dan sebagai anggota masyarakat.

Sedangkan An. T, An. B, dan An. F sebagai anak.

2. Nilai atau norma keluarga

Ny. T mengatakan kehidupan mereka rukun dan saling menghargai

satu sama lain.


3. Pola komunikasi keluarga

Ny. T mengatakan bahwa anggota keluarga menggunakan bahasa

daerah dengan anggota keluarga, dan campuran antara bahasa daerah

dan indonesia dengan masyarakat sekitar.

4. Struktur kekuatan keluarga

Ny. T mengatakan apabila ada masalah maka akan dirundingkan

dengan suami.

E. Fungsi Keluarga

1. Fungsi ekonomi

Ny. T mengatakan dari penghasilan setiap hari cukup untuk memenuhi

kebutuhan sehari-hari seperti kebutuhan sandang, pangan dan papan.

Keluarga Tn. U menyisikan pendapatannya untuk keperluan yang tak

terduga, keluarga juga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang

ada seperti posyandu dan poskesdes.

2. Fungsi mendapatkan status sosial

Ny. T mengatakan interaksi antara keluarga terjalin dengan baik, dan

menghormati antar masyarakat.

3. Fungsi pendidikan

Ny. T mengatakan hanya mendapatkan pendidikan hingga bangku

sekolah dasar dan begitu juga Tn. U, untuk anak pertama tidak
menyelesaikan bangku sekolah dasar, anak kedua masih kelas 3 SD,

dan yang ketiga belum sekolah.

4. Fungsi sosialisasi

Ny. T mengatakan selalu berinteraksi baik dengan anggota keluarga

dan keluarga juga berinteraksi baik dengan masyarakat.

5. Fungsi pemenuhan (perawat / pemeliharaan) kesehatan :

a. Mengenal masalah kesehatan

Keluarga mengetahui mengenai masalah kesehatan, tetapi

pengetahuan mengenai penyebab masalah tersebut kurang.

b. Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan

Keluarga mengatakan setiap masalah kesehatan muncul, dulu

sebelum menetap dibangka, waktu dijawa masih menggunakan

tenaga dukun, karena pelayanan kesehatan yang jauh. Tapi,

sekarang jika ada masalah kesehatan keluarga segera mengunjungi

pelayanan kesehatan terdekat.

c. Kemampuan merawat anggota keluarga yang sakit

Keluarga mengatakan merawat anggota keluarga yang baik dengan

baik, walaupun dengan perasaan cemas, dan segera membawa ke

pelayanan kesehatan terdekat.

d. Kemampuan keluarga memelihara / memodifikasi lingkungan

rumah yang sehat.


Keluarga mengatakan anggota keluarga memelihara lingkungan

rumah seperti biasa.

e. Kemampuan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan

Keluarga mengatakan jika salah satu dari anggota keluarga yang

sakit selalu dibawa ke fasilitas kesehatan, yang dapat dijangkau

oleh keluarga seperti bidan desa atau puskesmas.

6. Fungsi religius

Ny. T mengatakan jarang shalat berjamaah, karena suami jarang

pulang.

7. Fungsi rekreasi

Ny. T mengatakan mengisi waktu ruang dengan berkumpul bersama

keluarga.

8. Fungsi reproduksi

Jumlah anak yang dimiliki Tn. U ada 3 orang, keluarga merencanakan

menyambut anak keempat, karena Ny. T sekarang sedang

mengandung anak keempat.

9. Fungsi afektif

Setiap anggota keluarga selalu membina kehangatan dalam rumah

tangganya dan saling memberikan perhatian kasih sayang.

F. Stres dan koping keluarga


1. Stressor jangka panjang dan jangka pendek

a. Stressor Jangka Pendek

Ny. P mengatakan bahwa keluarganya menanggapi dengan tenang

dan mencari jalan keluar setiap permasalahan.

a. Stressor Jangka Panjang

Saat ini keluarga Tn. U sedang memikirkan atas kelahiran anak

keempatnya nanti.

2. Kemampuan Keluarga berespon Terhadap Stressor

Ny. T mengatakan bila ada masalah dalam keluarga, maka segera

dibicarakan dengan anggota keluarga untuk mencari pemecahan

masalah.

3. Strategi koping yang digunakan

Ny. T mengatakan bahwa mencari jalan keluar setiap permasalahan

yang dihadapi dengan cara berkumpul dengan keluarga dan

membicarakan dengan cara musyawarah.

4. Strategi adaptasi disfungsional

Ny. T mengatakan anggota keluarganya tidak ada yang menggunakan

kekerasan dalam menghadapi permasalahan yang ada.

G. Pemeriksaan Kesehatan Tiap Individu Anggota Keluarga


1. Tn. U ( Kepala Keluarga )

TD: 120/80 mmHg, R: 20x/menit, N: 80x/menit, S: 36,5°C

a. Kepala

1) Rambut dan kulit kepala : Rambut hitam dan kulit

kepala bersih

2) Mata : Simetris, konjungtiva

tidak anemis, sclera tidak ikterik

3) Hidung : Simetris, tidak ada secret,

tidak ada pembesaran polip

4) Mulut : Tidak ada stomatitis,

tidak ada caries gigi

5) Telinga : Simetris, tidak ada

kotoran

b. Leher

Tidak ada vena jugularis dan tidak ada kelenjar tiroid

c. Dada

Normal, tidak ada masalah

d. Abdomen

Normal, tidak ada masalah


e. Ekstremitas

Bersih, lengkap dan tidak ada kelainan

2. Ny. T ( Istri )

TD: 120/80 mmHg, R: 20x/menit, N: 80x/menit, S: 36,5°C

a. Kepala

1) Rambut dan kulit kepala : Rambut hitam dan kulit

kepala bersih

2) Mata : Simetris, konjungtiva

tidak anemis, sclera tidak ikterik

3) Hidung : Simetris, tidak ada secret,

tidak ada pembesaran polip

4) Mulut : Tidak ada stomatitis,

tidak ada caries gigi

5) Telinga : Simetris, tidak ada

kotoran

b. Leher

Tidak ada vena jugularis dan tidak ada kelenjar tiroid

c. Dada

Normal, tidak ada masalah


d. Abdomen

Normal, tidak ada masalah

e. Ekstremitas

Bersih, lengkap dan tidak ada kelainan

3. Tn. E

TD: 120/80 mmHg, R: 20x/menit, N: 80x/menit, S: 36,5°C

a. Kepala

1) Rambut dan kulit kepala : Rambut hitam dan kulit

kepala bersih

2) Mata : Simetris, konjungtiva

tidak anemis, sclera tidak ikterik

3) Hidung : Simetris, tidak ada secret,

tidak ada pembesaran polip

4) Mulut : Tidak ada stomatitis,

tidak ada caries gigi

5) Telinga : Simetris, tidak ada

kotoran

b. Leher

Tidak ada vena jugularis dan tidak ada kelenjar tiroid


c. Dada

Normal, tidak ada masalah

d. Abdomen

Normal, tidak ada masalah

e. Ekstremitas

Bersih, lengkap dan tidak ada kelainan

4. Ny. H

TD: 150/90 mmHg, R: 20x/menit, N: 80x/menit, S: 36,5°C

a. Kepala

1) Rambut dan kulit kepala : Rambut hitam dan kulit

kepala bersih

2) Mata : Simetris, konjungtiva

tidak anemis, sclera tidak ikterik

3) Hidung : Simetris, tidak ada secret,

tidak ada pembesaran polip

4) Mulut : Tidak ada stomatitis,

tidak ada caries gigi

5) Telinga : Simetris, tidak ada

kotoran
b. Leher

Tidak ada vena jugularis dan tidak ada kelenjar tiroid

c. Dada

Normal, tidak ada masalah

d. Abdomen

Normal, tidak ada masalah

e. Ekstremitas

Bersih, lengkap dan tidak ada kelainan

5. An. T

a. Kepala

1) Rambut dan kulit kepala : Rambut hitam dan kulit

kepala bersih

2) Mata : Simetris, konjungtiva

tidak anemis, sclera tidak ikterik

3) Hidung : Simetris, tidak ada secret,

tidak ada pembesaran polip

4) Mulut : Tidak ada stomatitis,

tidak ada caries gigi


5) Telinga : Simetris, tidak ada

kotoran

b. Leher

Tidak ada vena jugularis dan tidak ada kelenjar tiroid

c. Dada

Normal, tidak ada masalah

d. Abdomen

Normal, tidak ada masalah

e. Ekstremitas

Bersih, lengkap dan tidak ada kelainan

6. An. B

a. Kepala

1) Rambut dan kulit kepala : Rambut hitam dan kulit

kepala bersih

2) Mata : Simetris, konjungtiva

tidak anemis, sclera tidak ikterik

3) Hidung : Simetris, tidak ada secret,

tidak ada pembesaran polip


4) Mulut : Tidak ada stomatitis,

tidak ada caries gigi

5) Telinga : Simetris, tidak ada

kotoran

b. Leher

Tidak ada vena jugularis dan tidak ada kelenjar tiroid

c. Dada

Normal, tidak ada masalah

d. Abdomen

Normal, tidak ada masalah

e. Ekstremitas

Bersih, lengkap dan tidak ada kelainan

7. An. F

a. Kepala

6) Rambut dan kulit kepala : Rambut hitam dan kulit

kepala bersih

7) Mata : Simetris, konjungtiva

tidak anemis, sclera tidak ikterik


8) Hidung : Simetris, tidak ada secret,

tidak ada pembesaran polip

9) Mulut : Tidak ada stomatitis,

tidak ada caries gigi

10) Telinga : Simetris, tidak ada

kotoran

b. Leher

Tidak ada vena jugularis dan tidak ada kelenjar tiroid

c. Dada

Normal, tidak ada masalah

d. Abdomen

Normal, tidak ada masalah

e. Ekstremitas

Bersih, lengkap dan tidak ada kelainan

4. An. B

a. Kepala

6) Rambut dan kulit kepala : Rambut hitam dan kulit

kepala bersih
7) Mata : Simetris, konjungtiva

tidak anemis, sclera tidak ikterik

8) Hidung : Simetris, tidak ada secret,

tidak ada pembesaran polip

9) Mulut : Tidak ada stomatitis,

tidak ada caries gigi

10) Telinga : Simetris, tidak ada

kotoran

b. Leher

Tidak ada vena jugularis dan tidak ada kelenjar tiroid

c. Dada

Normal, tidak ada masalah

d. Abdomen

Normal, tidak ada masalah

e. Ekstremitas

Bersih, lengkap dan tidak ada kelainan

H. Pengkajian individu yang dibina / beresiko (kasus KIA & Gynekologi)


1. Ny. T

Data Subjektif

Nama klien : Ny. T

Umur : 32th

Agama : Islam

Suku Bangsa : Sunda / Indonesia

Pendidikan : SD

Pekerjaan : IRT

Alamat : RT. 009 Lubuk Lesung

Data Objektif

Kesadaran : Compos Mentis

Keadaan Umum : Baik

Status Emosional : Stabil

TTV : TD: 120/80 mmHg, N: 80x/menit, R:

20x/menit, S: 36,5°C

Pemeriksaan Fisik : Normal, tidak ada kelainan

HPHT : 10-03-2015

HPL : 17-12-2015

G. Harapan Keluarga

Keluarga mengatakan senang bila ada petugas kesehatan yang melakukan

kunjungan rumah, keluarga sangat berharap masalah yang berhubungan


dengan kesehatan yang dialami keluarga dapat teratasi dengan

diberikannya informasi yang dibutuhkan.

II. INTERPRETASI DATA

1. Analisa Masalah

No DATA DIAGNOSA MASALAH DIAGNOSA MASALAH

. POTENSIA POTENSIAL

L
1. S : Ny. T G4 P3 A0 Kurangnya

Mengatakan UK..........., pemahaman

ini kehamilan Normal ibu tentang - -

keempat Janin........... resiko

O : KU px multiparitas

Baik

2. S : Ny . T Kurangnya

Mengatakan pengetahuan

belum ibu mengenai - -

terpenuhinya pentingnya
-
untuk jamban

memiliki

jamban yang
memadai.

O : KU px

Baik

3. S: Ny. T Kurangnya

mengatakan pengetahuan

bahwa ibu mengenai - -


-
Ny. T hipertensi

menderita

penyakit

hipertensi Kurangnya

pengetahuan

4. S: Ny. T bahaya nya

mengatakan rokok pada

bahwa Tn. U - kehamilan - -

seorang

perokok

2. Skoring (penilaian)

a. pentingnya pemahaman mengenai resiko multiparitas


No. KRITERIA Skor PEMBENARAN
1. a. Sifat Masalah 2/3 x 1 = Ya, jika ibu tetap meneruskan

Skala: 2/3 program hamil setelah

Ancaman kesehatan melahirkan anak keempatnya.

2 b. Kemungkinan masalah ½ x 2 = Ya, jika ibu memikirkan dan

untuk diubah mengutamakan kesehatannya.

Skala: 1

Hanya sebagian

3. c. Potensi masalah untuk 2/3 x 1 = Ya, jika ibu mengikuti

diubah program KB.

Skala: 2/3

Cukup

4. d. Menonjolnya masalah 2/2 x 1 =

Skala: 1 Ya, jika ibu terus hamil,

Masalah berat harus ditangani kemungkinan resiko

kehamilan akan muncul

disertai dengan umur ibu yang

3 tahun lagi akan melewati

usia produktif.
Total skor : 1
3
3

b. Pentingnya mengenai jamban sehat

No. KRITERIA SKOR PEMBENARAN


1. a. Sifat Masalah 2/3x1 = 2/3 a. Ya, jika BAB
sembarangan dapat
Skala: mengancam kesehatan
lingkungan maupun
Ancaman kesehatan diri sendiri

2 b. Kemungkinan masalah b. Ya, hanya sebagian


karena terkendala di
untuk diubah faktor ekonomi yang
1/2x2 = 1 pas-pasan.
Skala:

Hanya sebagian

3. c. Potensi masalah untuk c. Ya, jika membuat


jamban yang
diubah sederhana, tidak perlu
3/3x1=1 permanen, asalkan ada
Skala: seftic tank

Tinggi

4. d. Menonjolnya masalah d. Ya, jika tidak segera


ditangani maka akan
Skala: membahayakan
2/2x1 =1 kesehatan akan
Masalah berat harus ditangani penyakitnya
Total skor : 2
3
3

c. Kurangnya pengetahuan mengenai hipertensi

No. KRITERIA SKOR PEMBENARAN


1. a. Sifat Masalah 2/3x1 = 2/3 Ya, jika tidak segera

Skala: ditangani

Ancaman kesehatan

2 b. Kemungkinan masalah Ya, dengan memberikan

untuk diubah penyuluhan pencegahan


1/2x2 = 1
Skala:

Hanya sebagian

Ya, karena ini merupakan

3. c. Potensi masalah untuk penyakit yang sangat serius.

diubah
3/3x1=1
Skala:

Tinggi

d. Menonjolnya masalah Ya, dengan konsultasi

4. Skala: kedokter

Masalah berat harus ditangani


2/2x1 =1
Total skor : 2
3
3
4. Kurangnya pengetahuan mengenai bahaya rokok pada kehamilan
3. Prioritas Masalah

1. Kurangnya pemahaman ibu mengenai resiko multiparitas

2. Kurangnya pemahaman ibu mengenai jamban sehat

3. Kurangnya pengetahuan mengenai hipertensi

4. Kurangnya pengetahuan bahaya rokok pada kehamilan

III. RENCANA ASUHAN


Diagnosa : Ny. T dengan multiparitas dan belum tersedianya jamban yang
memadai

Tujuan Kriteria Hasil Standar Perencanaan


1. Memberikan Ibu 1. Ny. T 1. Melakukan
informasi mengerti penyuluhan
tentang resiko mengenai tentang resiko
paritas resiko multiparitas
multiparitas

2. Memberikan 2. Ny. T
informasi Mengetahui 2. Melakukan
tentang pentingnya penyuluhan
pentingnya penggunaan tentang
jamban sehat jamban jemban sehat.
sehat.
3. Memberikan 3. Ibu Ny. T 3. Melakukan
informasi tentang mengetahui penyuluhan tentang
hipertensi tentang hipertensi
hipertensi
4. Memberikan 4. Ny. T 4. Melakukan
informasi mengenai mengetahui penyuluhan
bahaya rokok pada bahaya rokok mengenai bahaya
kehamilan pada kehamilan rokok pada kehamilan

IV. IMPLEMENTASI

Tanggal / Waktu Diagnose / masalah Implementasi


1. 2 Agustus 1. Ny. T dengan Melakukan penyuluhan
2015 pukul multiparitas sederhana tentang tentang
14.00 WIB resiko multiparitas
2. 2 Agustus 2. Ny. T dengan Belum Melakukan penyuluhan
2015 pukul Tersedianya jamban tentang pentingnya
14.00 WIB sehat yang memadai jamban sehat di rumah

3. 2 Agustus 3. Ibu Ny T dengan Melakukan penyuluhan


2015 pukul hipertensi mengenai hipertensi
14.00 WIB

4. 2 Agustus 4. Tn. U dengan seorang Melakukan penyuluhan


2015 pukul perokok mengenai bahaya rokok
14.00 WIB pada kehamilan
VII . EVALUASI

Tanggal / Waktu Diagnosa / masalah Evaluasi


1. 2 Agustus 2015 1. Ny. T dengan Ny. T mengerti mengenai
pukul 14.00 Multiparitas resiko multiparitas
WIB
2. 2 Agustus 2015 2. Ny. T dengan Belum Ny. T mengerti tentang
pukul 14.00 Tersedianya jamban pentingnya jamban sehat
WIB sehat yang memadai

3. 2 Agustus 2015 3. Ibu Ny. T dengan Ibu Ny. T mengerti


pukul 14.00 hipertensi mengenai hipertensi
WIB

4. 2 Agustus 2015 4. Tn. U dengan Tn. U mengerti mengenai


pukul 14.00 seorang perokok bahaya rokok pada
WIB kehamilan