Anda di halaman 1dari 7

Agus Setiawan (1804277005)

Resume

ANTIVIRUS

A. Definisi Virus
Virus merupakan suatu organisme yang terdiri dari suatu inti asam nukleat
yang dikelilingi oleh lapisan protein.
Siklus hidup virus:
1. Menempel pada permukaan sel untuk penetrasi
2. Melepaskan asam nukleat atau materi genetik dalam sel inang
3. Transkripsi mRNA virus (Translasi awal)
4. Sintesa protein dengan menekan sintesa molekul sel inang
5. Sintesa enzim yang diperlukan untuk replikasi virus
6. Replikasi as. Nukleat virus
7. Sintesis protein virus (Translasi akhir)
8. Perakitan virus baru
9. Pelepasan virus baru keluar dari sel inang untuk menginfeksi yang lain.

B. Antivirus
Obat antivirus adalah golongan obat yang digunakan untuk mengani
penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus. Obat anti virus bekerja
dengan cara mematikan serangan virus, menghambat, serta membatasi
reproduksi virus didalam tubuh. Penggunaan antivirus hanya diberikan
berdasarkan saran dari dokter.
Untuk penggolongan obat antivirus terbagi menjadi :
1. Penghambat Reverse Transkriptase.
a. Golongan nukleosida reverse transkriptase inhhibitor (NRTI)
 Contoh obat : sidofovir, didanosin, lamivudin, gansiklovir,
asiklovir, stavudin, zalsitabin dan zidovudin.
 Mekanisme secara umum: dapat menghambat replikasi virus
sehingga mengurangi infeksi
 Interaksi secara umum: kombinasi NRTI, NNRTI dan PI dapat
menjadi terapi HIV
b. Golongan non nukleosida reverse transkiptase inhibitor (NNRTI)
 Mekanisme : mengikat enzim RT sehingga memblok sintesa
DNA virus dari RNA virus.
 Contoh : delavirdin dan nevirapin
2. Protease Inhibitor (PI)
 Mekanisme : menghambat sintesa protein virus
 Contoh : Amfrenavir, indinavir, ritonavir, nelfinavir, saquinavir,
atazanavir
3. Neuramidase Inhibitor
 Mekanisme secara umum : menghambat neuramidase sehingga
terjadi agregasi virus sehingga mengurangi penyebaran melalui
pernapasan.
 Contoh : amantadin, rimantadin, zanamivir, dan osetalmivir
4. Interferon (IFN)
 Interaksi : Interfereon dan ribavirin untuk terapi hepatitis C
 Farmakologi secara umum : Interferon merupakan sitokin yang
potensial sebagai antivirus, immunomodulator dan antiproliferatif,
ia disintesa oleh sel mamalia bila tubuhnya terpapar virus, double
stranded RNA, eksotoksin bakteri dan polianion.
 Jenis interferon manusia : alfa IFN (dihasilkan oleh leukosit), beta
IFN (dihasilkan oleh fibroblas dan sel epitel), gama IFN
(dihasilkan oleh limfosit T).
a. Alfa IFN/ alfa interferon (dihasilkan oleh leukosit)
 Interferon Alfa-2a: Mengatasi Leukemia jenis sel berambut
dan myeloid kronis, sarkoma Kaposi terkait AIDS, hepatitis
C kronis, hepatitis B kronis, kanker ginjal, melanoma, serta
limfoma jenis sel-T kutaneus dan folikular.
 Interferon Alfa-2b: Mengatasi condyloma acuminata (kutil
kelamin), Leukemia sel berambut, Leukemia myeloid
kronis, Hepatitis C kronis, Hepatitis B kronis aktif,
melanoma, sarkoma Kaposi terkait AIDS, tumor karsinoid,
limfoma folikular, dan multiple myeloma.
b. Beta IFN/ Beta interferon (dihasilkan oleh fibroblast dan sel
epitel)
 Interferon Beta-1a : Digunakan untuk mengatasi multiple
sclerosis.
 Interferon Beta-1b : Digunakan untuk mengatasi multiple
sclerosis kambuhan.
FAVIPIRAVIR

A. Definisi
Favipiravir, atau yang dikenal dengan nama Avigan dan favilavir adalah obat
antivirus yang dikembangkan oleh Toyama Chemical, Jepang. Favipiravir
adalah obat antivirus yang digunakan untuk mengatasi beberapa jenis virus
influenza, seperti influenza A, yang menyebabkan flu burung dan flu babi,
inluenza B, dan influenza C. Saat ini, favipiravir juga sedang diteliti lebih
lanjut untuk menangani infeksi virus Corona atau COVID-19.
 Indikasi : Mengatasi infeksi virus influenza
 Dosis : menurut penelitian yang sedang dilakukan, favipiravir diberikan
dalam dosis 1.600 mg sebanyak 2 kali sehari pada hari pertama,
dilanjutkan dengan 600 mg sebanyak 2 kali sehari pada hari ke-2 hingga
hari ke-5.
 Total waktu pemberian obat Avigan (favipiravir) adalah 5 hari.
 Penggunaan favipiravir dalam penanganan infeksi virus Corona akan
dipertimbangkan oleh dokter sesuai keparahan penyakit dan kondisi
penderita secara umum.
 Mekanisme Kerja
Mekanisme aksi favipiravir adalah dengan penghambatan selektif
RNA polimerase virus sehingga menghambat sintesis RNA virus (Shiraki
dan Daikaku, 2020). Penelitian lain menunjukkan bahwa favipiravir
menginduksi mutasi transversi RNA yang mematikan, menghasilkan
fenotipe virus yang tidak dapat hidup.
Favipiravir merupakan prodrug yang dimetabolisme Human
hypoxanthine guanine phosphoribosyltransferase (HGPRT) menjadi
bentuk aktifnya, yaitu favipiravir-ribofuranosyl-5′-trifosfat (favipiravir-
RTP). Obat ini tersedia dalam formulasi oral dan intravena. Favipiravir
tidak menghambat sintesis RNA atau DNA dalam sel mamalia dan tidak
toksik bagi mereka.
 Interaksi Obat
Bila digunakan bersama dengan obat tertentu, favipiravin dapat
menimbulkan beberapa interaksi, antara lain:
 Penurunan efektivitas  amiodarone, atorvastatin,
lovastatin, carbamazepine, chloroquine, cisapride, diclofenac,
diltiazem, enzalutamide, erlotinib, ethinylestradiol, dan ifosfamide
 Penurunan efektivitas ketamine, ketorolac, ibuprofen,
piroxicam, lansoprazole, omeprazole, methadone, nicardipine,
naproxen, repaglinide, sorafenib, teofilin, tretinoin, verapamil, dan
warfarin.
 Peningkatan risiko terjadinya efek samping acyclovir,
benzylpenicillin, cefalor, bisoprolol, captopril, cefazolin, cefdinir,
citrulline, dexamethasone, digoxin, estradiol, everolimus,
famotidine, allopurinol, dan fexofenadine
 Peningkatan risiko terjadinya efek samping
grazoprevir, hydrocortisone, indacaterol, lenvatinib, morfin,
nintedanib, oseltamivir, paliperidone, quinidine, ranitidine,
simvastatin, tetracycline, vincristine, dan zidovudine.
 Efek Samping
Obat ini telah diuji oleh Pharmaceuticals and Medical Devices Agency
(PMDA) di Jepang, termasuk bagaimana efek sampingnya terhadap
binatang.
Hasil uji tersebut menyatakan adanya beberapa potensi efek samping,
seperti:
 penurunan produksi sel darah merah
 peningkatan kadar alkali fosfat dan transaminase aspartat (sering
kali dikaitkan dengan gangguan hati)
 gangguan pada testis
Belum diketahui efek samping yang bisa disebabkan oleh favipiravir
pada manusia. Namun, obat ini dapat menimbulkan beberapa gejala
atau keluhan jika digunakan dalam dosis yang berlebihan (overdosis),
di antaranya:
 Muntah
 Berat badan menurun
 Penurunan kemampuan pergerakan tubuh
 Peringatan Sebelum Menggunakan Favipiravir
 jangan menggunakan favipiravir jika Anda memiliki riwayat alergi
terhadap obat ini.
 Beri tahu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau
merencanakan kehamilan.
 Beri tahu dokter jika Anda memiliki riwayat menderita penyakit
asam urat, gangguan sistem imun, gangguan mental, syok, infeksi
jamur atau bakteri, hepatitis, TBC, asma, gagal napas, dan tumor.
 Beri tahu dokter jika Anda sedang menjalani cuci darah atau pernah
menerima transplantasi organ.
 Beri tahu dokter jika Anda memiliki riwayat kecanduan minuman
beralkohol atau obat-obatan terlarang.
 Beri tahu dokter jika Anda sedang menggunakan obat-obatan lain,
termasuk obat herbal dan suplemen.
 Jika terjadi reaksi alergi obat atau overdosis setelah menggunakan
favipiravir, segera temui dokter.
Apakah obat ini aman dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui?
 Avigan atau favipiravir kemungkinan memiliki sifat teratogenik.
Artinya, obat ini berpotensi menimbulkan efek samping apabila
dikonsumsi oleh ibu hamil.
 Selain itu, belum ada penelitian lebih lanjut apakah obat ini
terserap ke dalam air susu ibu (ASI) dan terminum oleh bayi yang
menyusui.
 Harus konsultasikan terlebih dahulu ke dokter kandungan
mengenai konsumsi obat ini selama masa kehamilan atau
menyusui.

CHLOROQUINE
1. Indikasi: Chloroquine adalah obat yang digunakan untuk mencegah dan
mengobati malaria, atau mengobati penyakit menular yang disebabkan
oleh nyamuk yang terinfeksi parasit, chloroquine juga digunakan untuk
mengobati infeksi parasit tipe amoeba dan beberapa penyakit autoimun
lainnya, seperti lupus.
2. Kontraindikasi: Alergi, diketahui atau dicurigai resisten terhadap
infeksi Plasmodium falciparum, porfiria, kerusakan retina
3. Perhatian Khusus
a. Beritahukan dan konsultasikan dengan dokter mengenai riwayat
penyakit, terutama bila memiliki riwayat atau kondisi berikut:
b. Psoriasis (peradangan kulit)
c. Kelainan darah atau sistem saraf pusat
d. Miastenia gravis (melemahnya otot tubuh akibat gangguan pada
saraf dan otot )
e. Gangguan fungsi hati dan fungsi ginjal
f. Defisiensi G6PD glucose 6 phospat dehydrogenase
g. (kekurangan enzim G6PD yang membantu sel darah merah tetap
berfungsi normal)
h. Epilepsi
4. Efek Samping
a. Gangguan penglihatan (retinopati), telinga berdenging (tinnitus),
rambut rontok, sensitif terhadap cahaya, nyeri otot.
b. Efek samping yang jarang meliputi kejang, leukopenia, anemia
aplastik, hepatitis, gangguan saluran cerna, sakit kepala, dan
urtikaria.
c. Chloroquine juga dapat menyebabkan efek samping yang
berpotensi fatal, seperti henti napas dan henti jantung, kejang,
sampai koma
5. Dosis Diminum peroral
 Malaria Akut
Dosis awal 600 mg, kemudian 300 mg, 3-4 kali pada hari pertama.
Dilanjutkan 300 mg/hari pada hari kedua dan ketiga.
 Pencegahan Malaria
300 mg sekali seminggu, pada hari yang sama setiap minggunya.
Dimulai 1 minggu sebelum paparan, selama paparan, sampai 4
minggu setelah paparan.
 Lupus, Rheumatoid Arthritis
Dosis awal 150 mg perhari
 Amoebiasis hepatic
600 mg/hari selama 2 hari, kemudian 300mg/hari selama 2-3 minggu.
Untuk anak-anak, dosis disesuaikan dengan berat badan.
Konsultasikan dengan dokter mengenai penggunaan chloroquine
untuk anak-anak.

6. Interaksi
a. Konsumsi bersamaan dengan fenilbutazone akan meningkatkan risiko
radang pada kulit. Chloroquine dapat mengurangi konsentrasi
ampisilin dalam darah. Obat lambung cimetidine menghambat
metabolisme chloroquine sehingga kadarnya lebih tinggi dalam darah.
Beri jarak setidaknya 4 jam jika sebelumnya mengonsumsi antasida.
b. Konsumsinya bersamaan dengan obat antiaritmia akan meningkatkan
risiko kelainan irama jantung yang berpotensi fatal.
c. Merokok atau mengonsumsi alkohol dengan obat-obatan tertentu juga
dapat menyebabkan interaksi terjadi. 
7. Kategori kehamilan dan menyusui
a. Penelitian pada binatang percobaan menunjukkan efek samping
terhadap janin dan tidak ada penelitian terkontrol pada wanita; atau
belum ada penelitian pada wanita hamil atau binatang percobaan. Obat
hanya dapat diberikan jika manfaat yang diperoleh melebihi besarnya
risiko yang mungkin timbul pada janin.
b. Keamanan penggunaan chloroquine selama menyusui belum diketahui.
Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum
menggunakannya.

Chloroquine memiliki volume distribusi yang sangat tinggi, karena


berdifusi ke dalam jaringan adiposa tubuh. Chloroquine dan quinine terkait
telah dikaitkan dengan kasus toksisitas retina, terutama bila diberikan pada
dosis yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Akumulasi obat
dapat menyebabkan endapan yang dapat menyebabkan penglihatan kabur
dan kebutaan. Dengan dosis jangka panjang, kunjungan rutin ke dokter
mata dianjurkan.
Chloroquin bekerja dengan mengikat cincin feriprotoporfirin IX
suatu hematin yang merupakan hasil metabolism hemoglobin didalam
parasite. Ikatan feriprotoporfirin IX dari CQ ini bersifat melisiskan
membrane parasite sehingga mati.
Chlorokuin awalnya adalah obat yang digunakan untuk mengatasi
penyakit malaria sebagai antiplasmodium. Namun, dengan makin
berkurangnya penyakit malaria dan munculnya resistensi plasmodium
terhadap klorokuin, maka klorokuin tidak terlalu banyak lagi digunakan
sebagai obat antimalarial
Obat ini juga disebut sebagai kandidat potensial untuk SARS-CoV-
2. Di Tiongkok, pada pandemik ini, klorokuin telah digunakan dengan
dosis 500 mg untuk dewasa, 2 kali sehari, lama terapi sekitar 10 hari. 
Bapak presiden Jokowi menegaskan, klorokuin bukanlah obat first
line atau obat utama untuk menyembuhkan pasien corona. Namun, obat ini
banyak digunakan negara lain yang telah menangani virus corona. Obat ini
juga pernah digunakan ketika merebak virus SARS beberap tahun silam.
Namun masyarakat dihimbau agar tidak menggunakan Klorokuin
sembarangan. Mengingat, obat ini merupakan obat keras yang
penggunaannya mesti menggunakan resep dokter.
Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia [PDPI] Agus Dwi
Susanto menambahkan, Klorokuin hanya cocok untuk penanganan pasien
COVID-19 berat disertai komplikasi. Menurut beliau, penggunaan
Chlorokuin tidak bisa diterapkan pada kasus ringan. Bahkan, jika tidak
hati-hati, akan mengganggu ginjal dan liver pengguna.