Anda di halaman 1dari 27

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya sehingga
modul Praktikum Kimia Farmasi I untuk mahasiswa Program studi D-III farmasi STIKes
Muhammadiyah Ciamis ini dapat diselesaikan dengan baik.
Modul ini dibuat sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan Praktikum Kimia
Farmasi I yang merupakan mata kuliah keahlian di Prodi D-III farmasi STIKes
Muhammadiyah Ciamis. Modul ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam
mempersiapkan dan melaksanakan praktikum dengan lebih baik, terarah, dan terencana. Pada
setiap topik telah ditetapkan tujuan pelaksanaan praktikum dan semua kegiatan yang harus
dilakukan oleh mahasiswa serta teori singkat untuk memperdalam pemahaman mengenai
materi yang dibahas.
Penyusun menyakini bahwa dalam pembuatan Modul Praktikum Kimia Farmasi I ini
masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang
membangun guna penyempurnaan modul ini dimasa yang akan datang.
Akhir kata, penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung.

Ciamis, Maret 2020

Penyusun

1
TATA TERTIB PRAKTIKUM KIMIA FARMASI I

1. Praktikum Kimia Analisis dilaksanakan di laboratorium Kimia STIKes


Muhammadiyah Ciamis.
2. Waktu praktikum dilaksanakan sesuai dengan jadwal praktikum yang
telah ditentukan.
3. Praktikan harus berada di tempat praktikum selambat-lambatnya 5 menit
sebelum praktikum dimulai.
4. Praktikan yang datang terlambat lebih dari dari waktu yang telah
ditentukan, tidak diperkenankan melakukan percobaan.
5. Praktikan hanya boleh melakukan percobaan jika telah mengikuti pretest dan
dinyatakan lulus.
6. Sebelum masuk ke ruang laboratorium, praktikan harus memakai APD lengkap
7. Laporan sementara harus ditandatangi oleh dosen/asisten sebelum melaksanakan
praktikum
8. Laporan akhir praktikum ditulis tangan dengan rapi dan dikumpulkan selambat-
lambatnya sebelum praktikum minggu berikutnya dilaksanakan.

2
Contoh cover laporan praktikum:

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI I

PERCOBAAN IV

IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN ASAM KARBOKSILAT

Nama: Rani Sulasrtri

Nim: 04327710876

Tingkat: II B

PROGRAM STUDI D-III FARMASI

STIKes MUHAMMADIYAH CIAMIS

2020

3
PENGANTAR PRAKTIKUM KIMIA FARMASI I

A. Tujuan praktiukm:
Mahasiswa mampu memahami:
1. Peranan analisis kimia farmasi
2. Ruang lingkup kimia farmasi
3. Penggolongan obat berdasarkan sifat fisika kimia

B. Teori
1. Peranan Analisis kimia Farmasi
Kimia Farmasi adalah ilmu kimia yang mempelajari bahan-bahan yang
digunakan sebagai obat mencakup struktur, modifikasi struktur, sifat kimia
fisika obat yang dapat digunakan untuk memahami dan menjelaskan
mekanisme kerja obat. Selain itu ilmu kimia farmasi juga menetapkan
hubungan struktur kimia dan aktivitas biologis, menghubungkan perilaku
biodinamik melalui sifat fisika dan reaktivitas kimia senyawa obat,
serta mempelajari identifikasi dan analisis obat-obatan baik secara kualitatif
maupun kuantitatif.
Nama lain dari kimia farmasi adalah kimia medisinal (Medicinal
Chemistry), farmakokimia (Pharmacochemistry), dan kimia terapi
(Therapeutique Chemistry). Studi kimiawi suatu senyawa obat
memberikan efek menguntungkan dalam sistem kehidupan yang
melibatkan studi hubungan struktur kimia senyawa dengan aktivitas
biologis serta mekanisme cara kerja senyawa pada sistem biologis
dalam usaha mendapatkan efek pengobatan yang maksimal dan
memperkecil efek samping yang tidak menguntungkan.

Kimia farmasi merupakan suatu disiplin ilmu gabungan kimia dan farmasi
yang terlibat dalam desain, isolasi sintesis, analisis , identifikasi,
pengembangan bahan-bahan alam dan sintetis yang digunakan sebagai
obat-obat farmasetika, yang dapat digunakan untuk terapi. Bidang ini juga
melakukan kajian terhadap obat yang sudah ada, berupa sifat kimiafisika,
struktur, serta hubungan struktur dan aktivitas (HSA).

4
Kimia farmasi bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat kimia dan fisika dari
bahan obat maupun obat jadi. Khusus untuk bahan obat/obat jadi yang
berasal dari alam dipelajari dalam ilmu farmakognosi dan fitokimia,
sehingga dalam ilmu kimia farmasi umumnya dipelajari bahan obat/obat yang
berasal dari bahan sintetik. Teknik analisis obat adalah suatu kegiatan yang
diperlukan untuk melakukan pengujian kualitas bahan obat maupun obat jadi.
2. Ruang lingkup Kimia Farmasi
Lingkup pengembangan kimia farmasi mencakup segala masalah meliputi :
1. Senyawa aktif : Isolasi dan identifikasi senyawa aktif dalam
tanaman yang secara empiris telah digunakan untuk pengobatan.
2. Struktur :
a.sintesis struktur analog dari bentuk dasar senyawa yang
mempunyai aktifitas pengobatan potensial.
b. Mencari stuktur induk baru dengan cara sintesis senyawa
organik, dengan ataupun tanpa berhubungan dengan zat aktif
alamiah.
c. Menghubungkan struktur kimia obat dengan cara kerjanya
3. Mengembangkan rancangan obat.
4. Mengembangkan hubungan struktur kimia dan aktivitas biologis
melalui sifat kimia fisika dengan bantuan fisik.
5. Analisis obat dan uji biologis.

Kimia Farmasi merupakan ilmu yang berkaitan dengan beberapa


bidang ilmu lain, diantaranya:
1. Kimia Organik mempelajari tentang sifat, struktur, mekanisme dan
reaksi senyawa
organik. Salah satu bagian dari kimia organik yang sangat penting yaitu
bahasan mengenai gugus fungsi senyawa karbon. Gugus fungsi adalah atom
atau gugus atom yang merupakan ciri khas penentu sifat dari suatu golongan.
Contoh sediaan farmasi dari senyawa organik yang memiliki gugus fungsi
antara lain asam karboksilat (asam asetil salisilat, asam salisilat), gugus
fenol (paracetamol, antalgin), alkaloid xanthin (coffein, aminophyllin) dll.

5
2. Biokimia
Biokimia adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari struktur kimia,
zat-zat kimia, reaksi kimia dan interaksi zat-zat yang terdapat di dalam
makhluk hidup. Misalnya; denaturasi protein, reaksi enzimatik.
3. Ilmu farmakologi mempelajari pengetahuan seluruh aspek mengenai
obat seperti sifat
kimiawi dan fisikanya, farmakokinetik (absorpsi, distribusi, metabolisme,
dan ekskresi obat), serta farmakodinamik terutama cara dan mekanisme kerja
obat.
3. Penggolongan Obat berdasarkan Sifat Fisika Kimia
Obat adalah zat baik kimiawi, hewani, maupun nabati, yang dalam dosis
layak dapat meringankan, mencegah, dan menyembuhkan, penyakit atau
gejala-gejalanya.
Sifat fisika dan kimia suatu obat dapat mempengaruhi aktivitas biologi.
Kedua sifat ini ditentukan oleh struktur kimianya, dengan demikian aktivitas
obat dapat dipengaruhi oleh kekhususan/kespesifikan struktur suatu obat.
Kekhususan/kespesifikan struktur suatu obat terbagi menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Obat yang berstruktur tidak spesifik adalah obat yang bekerja secara
langsung dan tidak tergantung struktur kimianya, kecuali bahwa struktur
kimia mempengaruhi sifat fisikokimianya. Obat yang berstruktur
tidak spesifik mempunyai struktur kimia bervariasi dan tidak
berinteraksi dengan struktur kimia spesifik. Aktivitas biologi obat dengan
struktur tidak spesifik banyak disebabkan oleh sifat fisika molekul obat
seperti kelarutan, derajat ionisasi, aktivitas permukaan dan
termodinamika. Contoh obat berstruktur tidak spesifik adalah obat-obat
anastetik sistemik seperti eter, kloroform, nitrogen oksida, dan obat-obat
yang mengandung senyawa bakterisidal seperti fenol, 0-kresol,
resorsinol, dll.
2. Obat yang berstruktur spesifik adalah obat-obat yang aktivitas biologinya
disebabkan oleh sifat kimianya dan kerja obat ditentukan oleh
interaksi langsung antara obat dengan reseptor atau akseptor spesifik.
Aktivitas biologi dihasilkan dari struktur kimia yang beradaptasi dengan

6
struktur reseptor membentuk kompleks. Sedikit modifikasi pada struktur
fundamental akan menyebabkan perubahan aktivitas biologi yang
signifikan sehingga suatu seri senyawa dapat menunjukkan rentang
aktivitas mulai dari anatgonis hingga serupa dengan aktivitas senyawa
induk. Sebagian besar molekul obat masuk dalam kelompok ini. Contoh
obat-obat diuretik.
Struktur kimia suatu obat umumnya terdiri dari struktur inti dan rantai
samping. Struktur inti dapat berbentuk cincin siklik, heterosiklik, atau
polisiklik. Rantai samping (R) berupa alifatik, siklik, atau heterosiklik.
Rantai samping (R) bertindak sebagai gugus minor atau radikal bebas,
menentukan aktivitas biologi dan sifat kimia fisika obat.

Contoh senyawa dengan struktur inti sama dan rantai samping berbeda:

a
b c d e
fenol (a), o-kresol (b), m-kresol (c), p-kresol (d), eugenol (e)

7
PERCOBAAN I
UJI PENDAHULUAN SENYAWA OBAT

A. Tujuan Praktikum
Mahasiswa mampu memahami dan melaksanakan:
1. Uji pendahuluan yang meliputi uji organoleptik
2. Uji sifat fisika obat yang meliputi Tes kelarutan,
3. Uji keasaman senyawa obat

B. Teori
Dalam bidang farmasi, analisis kualitatif/identifikasi bahan baku
yang digunakan sebagai bahan obat atau bahan baku pembantu/bahan
tambahan, diperlukan untuk memastikan jenis bahan obat atau bahan tambahan
tersebut.
Dalam melakukan identifikasi obat secara konvensional, kita
mempergunakan sifat- sifat bahan baik sifat fisik maupun sifat kimianya.
Misalnya ada suatu sampel cairan dalam gelas kimia. Bila kita ingin tahu nama
dan jenis sampel cair tersebut, maka kita harus melakukan analisis kualitatif
terhadap sampel cairan itu. Langkah pertama adalah menentukan sifat fisik
sampel tersebut, seperti warna, bau, indeks bias, titik didih, massa jenis, dan
kelarutannya. Begitu pula jika sampel yang kita jumpai berbentuk padatan, kita
tentukan sifat fisiknya meliputi warna, bau, warna nyala, titik leleh, bentuk
kristal, dan kelarutannya. Harus disadari bahwa untuk melalukan analisis
kualitatif yang cepat dan tepat diperlukan pengetahuan yang cukup mengenai
sifat fisik bahan-bahan yang dianalisa. Pengetahuan ini sangat diperlukan dalam
menarik kesimpulan yang tepat. Data tentang sifat- sifat fisik ini dapat
ditemukan dalam Farmakope Indonesia, Merck Indeks, dan beberapa literatur
lainnya.
Metode identifikasi obat secara konvensional dapat dilakukan melalui tiga tahap
yaitu:

8
I. Uji Pendahuluan, meliputi :
a. Penyandraan/penginderaan (organoleptik) yaitu mengidentifikasi sifat
fisik obat menggunakan indera untuk menentukan bentuk, warna, bau,
dan rasa obat
b. Penentuan sifat-sifat fisika, seperti kelarutan, penentuan titik lebur,
dan titik didih,
c. Pengujian derajat keasaman obat menggunakan tes keasaman
Larutan obat/zat secara sederhana dilakukan menggunakan kertas lakmus
merah atau biru dan kertas universal. Larutan yang bersifat asam akan
mengubah warna kertas lakmus biru menjadi merah dan larutan yang
bersifat basa akan mengubah warna kertas lakmus merah menjadi biru.
Untuk mengetahui pH dari suatu senyawa lakukan pemeriksaan dengan
menggunakan kertas universal.
d. Penentuan unsur-unsur obat
II. Penentuan gugusan fungsional yang khas (uji golongan)
III. Penentuan jenis zat berdasarkan reaksi-reaksinya dengan pereaksi
tertentu dan pengamatan bentuk kristal menggunakan mikroskop.

C. Prosedur Kerja
1. Uji pendahuluan yang meliputi uji organoleptik.
Penginderaan/penyandraan (organoleptik) adalah uji identifikasi sifat fisik
obat meliputi bentuk, warna, bau, dan rasa obat menggunakan indera.
Lakukan uji pendahuluan pada senyawa obat berikut:
- Parasetamol
- Amoxicillin
- CTM
- Kafein
- Efedrin
- Tetrasiklin

2. Uji sifat kelarutan obat

9
- Uji kelarutan dilakukan dengan memasukan sedikit zat ke dalam tabung
reaksi kemudian di dalamnya ditambahkan pelarut (air, alkohol, atau
pelarut lainnya). kemudian digoyang-goyang dan diamati apakah zat
tersebut dapat larut.
Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu menunjukkan bahwa
satu bagian bobot zat larut dalam volume tertentu pelarut. Kelarutannya
dapat ditunjukkan dengan istilah kelarutan berikut :

Tabel 1… Istilah kelarutan pada uji pendahuluan identifikasi obat


secara konvensional

Jumlah bagian pelarut yang dibutuhkan


Istilah Kelarutan
untuk melarutkan satu bagian zat yang
Sangat mudah larut dilarutkan
Kurang dari 1
Mudah larut 1 sampai 10
Larut 10 sampai 30
Agak sukar larut 30 sampai 100
Sukar larut 100 sampai 1000
Sangat sukar larut 1000 sampai 10.000
Praktis tidak larut Lebih dari 10.000
- Lakukan uji kelarutan pada senyawa-senyawa berikut: parasetamol,
amoxicillin, kloramfenikol, tetrasiklin, zink oksida.
- Gunakan masing-masing pelarut alkohol, aquades dan kloroform, larutkan
dan catat volume yang dibutuhkan untuk melarutkan senyawa obat
tersebut sampai tepat larut.
- Maksimal panambahan pelarut sampai 100 ml
- Golongkan istilah kelarutan obat pada masing-masing pelarut

3. Uji keasaman
Uji keasaman
- Larutkan bahan obat: asam benzoat, asam sitrat, asam askorbat, asam
asetat, larutan efedrin, dengan aquades dan kafein dengan aquades panas.
- Lakukan uji keasaman pada senyawa-senyawa tersebut dengan
menggunakan kertas lakmus, catat perubahan warna yang terjadi

10
- Lakukan uji pH pada senyawa obat di atas dengan menggunakan kertas
universal, kemudian tentukan pH dengan melihat perubahan warna pada
kertas universal.
D. Data Hasil Pengamatan

Sampel Prosedur Hasil Keterangan

Mengetahui

11
(Dosen/ Asisten laboratorium)

PERCOBAAN II
ANALISIS KUALITATIF OBAT GOLONGAN ANTIBIOTIK

A. Tujuan Praktikum

1. Uji penggolongan obat berdasarkan gugus fungsi aromatik


2. Pemeriksaan senyawa nitro aromatik pada kloramfenikol,
3. Pemeriksaan senyawa amin aromatik pada antibiotik sulfametoksazol
4. Identifikasi amoxicillin dengan uji KLT

B. Teori
Struktur molekul Kloramfenikol

Struktur molekul Sulfametoksazol

senyawa yang memiliki gugus amin aromatik adalah senyawa-


senyawa sulfonamide, contoh: sulfametoksazol

Amoxicillin

12
Amoxicillin memiliki rumus kimia C16H19N3O5S sebagai bentuk anhidrat.
merupakan antibiotic yang memiliki aktivitas antibakteri spectrum luas dengan
berat molekul 365.4 g/mol.
Amoksisilin berikatan dengaan menginaktivasi penisilin-Binding Protein
(PBP) yang terletak di membran dalam dinding sel bakteri. Inaktivasi PBP
mengganggu hubungan silang rantai peptidoglikan yang diperlukan untuk
kekuatan dan kekakuan dinding sel bakteri. Hal ini dapat mengganggu sintesis
dinding sel bakteri dan mengakibatkan melemahnya dinding sel bakteri dan
menyebabkan lisis sel.
Amoksisilin adalah antibiotik spektrum sedang yang aktif melawan berbagai
macam Gram-positif, dan sejumlah kecil organisme Gram-negatif.
Dibandingkan dengan rekan-rekannya dalam kelas antibiotik beta-laktam,
amoksisilin sering dipilih untuk digunakan karena penyerapannya yang lebih
baik setelah pemberian oral. Amoksisilin mudah mengalami degradasi oleh
bakteri penghasil β-laktamase, dan karenanya dapat diberikan dengan asam
klavulanat

C. Prosedur kerja

Pemeriksaan senyawa nitro aromatik pada kloramfenikol,

- Ambil sedikit zat, masukkan ke dalam tabung reaksi.


- Larutkan dengan etanol (untuk mereduksi gugus nitro aromatik menjadi
gugus amin).
- kemudian diasamkan5 tetes dengan HCl encer dan ditambah serbuk Zn.
- Campuran dipanaskan di atas penangas air selama 10 menit kemudian
disaring.
- Filtrat diuji sebagai gugus amin aromatik primer menggunakan pereaksi
Diazo
- Adanya senyawa dengan gugus amin ditandai dengan terbentuknya warna
merah jingga atau endapan.
Pemeriksaan senyawa amin aromatik pada antibiotik sulfametoksazol
- Ambil sedikit zat uji masukkan ke dalam tabung reaksi.

13
- tambahkan 5 ml HCl encer, kemudian diambahkan dengan pereaksi
Diazo.
- Adanya senyawa dengan gugus amin aromatis primer ditandai dengan
terbentuknya warna merah jingga atau endapan.

Identifikasi dengan Uji KLT pada Amoxicillin

- Timbang 25 mg zat uji, larutkan dalam 10 ml natrium bikarbonat


- Timbang 25 mg amoxicillin trihidrat sebagai baku pembanding, larutkan
dalam 10 ml natrium bikarbonat
- Siapkan fase gerak terdiri dari campuran aseton dan larutan amonium
asetat 15,4% (10:90). Atur pH hingga 5,0 dengan menggunakan asam
asetat glasial
- Totolkan secara terpisah masing masing 1,0 µl larutan uji dan larutan baku
pembanding pada lempeng KLT.
- lakukan eluasi pada jarak 15 cm. Biarkan lempeng kering dan paparkan
dengan uap iodium hingga bercak tampak, lihat di bawah sinar UV
- Amati warna bercak dan hitung nilai Rf
- Bercak utama diperoleh dari larutan uji yang mempunyai harga Rf dan
warna yang sama dengan bercak yang ditunjukkan pada larutan baku
pembanding.

14
D. Hasil Pengamatan

Sampel Prosedur Hasil Keterangan

Mengetahui

(Dosen/ Asisten laboratorium)

15
PERCOBAAN III
IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN KARBOHIDRAT

A. Tujuan Praktikum

1. Uji pendahuluan karbohidrat


2. Identifikasi karbohidrat dengan pereaksi

B. Teori
Karbohidrat merupakan senyawa organik dengan moleku besar terdiri dari
atom carbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O), dengan rumus umum
Cm( H2O)n. Karbohidrat merupakan nutrisi penting dalam makanan. Selama
fotosintesis karbohidrat terbentuk dari karbondioksida dan air dengan adanya
klorofil dan sinar matahari. Dalam tubuh manusia karbohidrat terbentuk melalui
reaksi yang terjadi dari beberapa asam amino dan gliserol.
Karbohidrat digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu:
1. Monosakarida atau gula sederhana, yaitu karbohidrat paling sederhana
sehingga tidak dapat dihidrolisis menjadi karbohidrat jenis lain. Yang
termasuk monosakarida: Glukosa, fruktosa, galaktosa
2. Oligosakarida, yaitu karbohidrat yang terbentuk dari 2-10 monosakarida
saling berikatan. Contoh
- Oligosakarida dengan 2 monosakarida: sukrosa, maltoa, laktosa
- Oligosakarida dengan 3 monosakarida: rafinosa, maltotriosa
3. Polisakarida, yaitu karbohidrat yang terbentuk lebih dari 10 monosakarida.
Contoh polisakarida: amilum, amilosa, glikogen.

C. Bahan dan Alat


- Glukosa, sukrosa, laktosa, amilum
- Pereaksi molish

- Pereaksi fehling A dan B


- Pereaksi benedict’s

- Pereaksi Tollen’s

16
- Larutan Iodin

- Spatel
- Tabung reaksi

- Beakerglass

D. Prosedur kerja
Uji pendahuluan karbohidrat
- Dalam pemeriksaan golongan karbohidrat ini, lakukan uji pendahuluan pada
glukosa, laktosa, sukrosa dan amilum, dengan melakukan uji organoleptik
meliputi warna, bau dan rasa.
- Lakukan uji kelarutan glukosa, laktosa, sukrosa dan amilum, yaitu dengan
memasukkan 1 gram karbohidrat ke dalam tabung reaksi lalu ditambahkan 5 ml
aquades dingin dan panas kemudian kocok perlahan. Amati kelarutannya

Identifikasi karbohidrat dengan pereaksi molish


- Ambil sedikit zat uji karbohidrat ( glukosa, laktosa, sukrosa dan amilum)
asing-masing masukkan ke dalam tabung reaksi A,B,C dan D.
- Tambahkan masing-masing 5 ml aquades kocok sampai larut.
- Masukkan masing-masing 5 tetes pereaksi benedict’s ke dalam tabung
reaksi A,B,C dan D
- Panaskan di dalam waterbath mendidih
- Tabung reaksi A dan B akanmereduksi ion tembaga dari pereaksi
benedict’s terjadi perubahan warna menjadi merah bata .

Identifikasi karbohidrat dengan pereaksi Fehling


- Ambil sedikit zat uji, masukkan ke dalam tabung reaksi tambahka 5 tetes
pereaksi fehling A dan 5 tetes pereaksi fehling B
- Panaskan di atas waterbath
- Glukosa dan laktosa akan berwarna merah, sedangkan sukrosa dan amilum
berwarna biru

Identifikasi karbohidrat dengan pereaksi Benedict’s

17
- Ambil sedikit zat uji karbohidrat ( glukosa, laktosa, sukrosa dan amilum)
asing-masing masukkan ke dalam tabung reaksi A,B,C dan D.
- Tambahkan masing-masing 5 ml aquades kocok sampai larut.
- Masukkan masing-masing 5 tetes pereaksi benedict’s ke dalam tabung
reaksi A,B,C dan D
- Panaskan di dalam waterbath mendidih
- Tabung reaksi A dan B akanmereduksi ion tembaga dari pereaksi
benedict’s terjadi perubahan warna menjadi merah bata .

Identifikasi karbohidrat dengan pereaksi Tollen’s


- Ambil sedikit zat uji karbohidrat ( glukosa, laktosa, sukrosa dan amilum)
asing-masing masukkan ke dalam tabung reaksi A,B,C dan D.
- Tambahkan masing-masing 5 ml aquades kocok sampai larut.
- Masukkan masing-masing 5 tetes pereaksi Tollen’s ke dalam tabung reaksi
A,B,C dan D
- Panaskan di dalam waterbath mendidih
- Tabung reaksi A dan B akan mereduksi ion perak dari pereaksi tollen’s
dan terjadi perubahan warna menjadi silver, .

Identifikasi karbohidrat dengan pereaksi Iodin


- Ambil sedikit zat uji karbohidrat ( glukosa, laktosa, sukrosa dan amilum)
asing-masing masukkan ke dalam tabung reaksi A,B,C dan D.
- Tambahkan masing-masing 5 ml aquades kocok sampai larut.
- Masukkan masing-masing 5 tetes larutan iodin dalam tabung reaksi A,B,C
dan D
- Panaskan di dalam waterbath mendidih
- Iodin akan mereduksi amilum menjadi senyawa kompleks Iodin-amilum
dan berubah warna menjadi biru.

18
D.Hasil Pengamatan

Sampel Prosedur Hasil Keterangan

Mengetahui

(Dosen/ Asisten laboratorium)

19
PERCOBAAN IV
IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN ASAM KARBOKSILAT

A. Tujuan praktikum

1. Uji pendahuluan yang meliputi uji kelarutan dan uji keasaman


2. Identifikasi senyawa asam karboksilat melalui pembentukan senyawa ester

B. Teori
Senyawa asam karboksilat merupakan senyawa hodrokarbon yang memiliki
rumus kimia RCOOH.
Adanya senyawa asam karboksilat dapat diidentifikasi melalui reaksi esterfikasi
yaitu reaksi antara asam karboksilat dengan alkohol (ROH) dengan adanya H 2SO4
pekat sebagai katalisator menghasilkan senyawa ester dengan rumus kimia
RCOOR. Reaksi esterifikasi berlangsung dengan lambat, sehingga perlu adanya
katalisator untuk mempercepat reaksi. Contoh persamaan reaksi antara asam asetat
( CH3COOH) denga Etanol (C2H5OH) pada pembentukan etil asetat:
CH3COOH + CH3CH2OH CH3COOHCH2CH3 + H2O
C. Alat dan Bahan
- Etanol
- Asam asetat glasial
- Asam sulfat pekat
- Aquades
- Tabung reaksi
- Waterbath ( 50 ml aquades dalam beaker glass di atas penangas)
D. Prosedur Kerja
Uji pendahuluan yang meliputi uji kelarutan dan uji keasaman
- Lakukan uji organoleptik pada senyawa asam asetat, asam benzoat, asam salisilat,
asetosal dan asam askorbat
- Lakukan uji pH pada senyawa asam asetat, asam benzoat, asam salisilat, asetosal dan
asam askorbat. Dengan menggunakan pH indikator

20
Identifikasi senyawa asam karboksilat melalui reaksi esterifikasi
- Ambil 1 ml etanol ke dalam tabung reaksi. Tambahlan 1 ml asam asetat glasial
dan 5 tetes asam sulfat pekat.
- Panaskan di atas waterbath pada suhu 100oC selama 15 menit.
- Masukkan campuran ke dalam beakerglass, lalu tambahkan aquades sebanyak 20
ml. Adanya senyawa ester ditunjukkan dengan aroma wangi.

D.Hasil Pengamatan

Sampel Prosedur Hasil Keterangan

Mengetahui

(Dosen/ Asisten laboratorium)

21
PERCOBAAN V
IDENTIFIKASI SENYAWA OBAT GOLONGAN FENOL

A. Tujuan praktikum
1. Uji pendahuluan yang meliputi uji nyala
2. Identifikasi senyawa fenol dengan ptalat anhidrida
3. Identifikasi senyawa fenol melaui reaksi liebermann’s

B. Teori
Fenol merupakan senyawa hidrokarbon berbentu kristal putih, yang terdiri
dari enam atom karbon, lima atom hidrogen dan satu gugus OH. Senyawa-senya
golongan fenol diantaranya o-cresol, m-cresol dan p-cresol.

C. Alat dan Bahan


- Senyawa organik golongan fenol (parasetamol, asam p-aminosalisilat,
asam salisilat dan salisilamida)
- Larutan FeCl3
- Ptalat anhidrida
- Asam sulfat pekat
- Larutan NaOH
- Natrium nitrit
- Aquades
- Tabung reaksi
- Spatula
- Pipet tetes
- Waterbath

D. Prosedur

Uji pendahuluan yang meliputi uji nyala

22
- Lakukan uji nyala yaitu dengan mengambil sedikit fenol dan parasetamol
masing-masing dengan spatula.
- dipanaskan keduanya di atas api bunsen.
- fenol dan parasetamol akan terbakar dan mengeluarkan asap, hal ini
menunjukkan adanya senyawa aromatik.

Identifikasi senyawa fenol dengan FeCl3

- Ambil sedikit fenol dengan spatula , masukkan ke dalam tabung reaksi.


- Tambahkan larutan FeCl3, maka akan terbentuk larutan kompleks berwarna
violet.
6C6H5OH + FeCl3 Fe[(OC6H5)6]3- + 3HCl + 3H+

Identifikasi senyawa fenol dengan ptalat anhidrida

- Ambil sedikit fenol dengan spatula, masukkan ke dalam tabung reaksi.


Tambahkan sedikit ptalat anhidrida
- Ambil sedikit fenol dengan spatula, masukkan ke dalam tabung reaksi,
tambahkan sedikit ptalat anhidrida dengan spatula
- Tambahkan satu tetes asam sulfat pekat dengan hati-hati ke dalam campuran
dalam tabung reaksi.
- Panaskan campuran di atas ke dalam waterbath (waterbath dibuat dengan
mendidihkan aquades dalam beaker glass).
- Dinginkan campuran sampai suhu ruangan (dapat didinginkan dengan
mencelupkan tabung reaksi ke dalam air).
- Masukkan campuran fenol ke dalam larutan NaOH dalam beaker glass.hasilnya
berupa larutan fenoftalein berwarna pink.

Identifikasi senyawa fenol melaui reaksi liebermann’s

- Ambil sedikit natrium nitrit dengan spatula ke dalam tabung reaksi


- Tambahkan sediti senyawa uji ( fenol dan parasetamol) ke dalam tabung reaksi
berisi natrium nitrit
- Panaskan di atas api bunsen dengan menggunakan penjepit kayu. Diamkan
sampai dingin

23
- Tambahkan 5 tetes asam sufat pekat ke dalam campuran , goyangkan hingga
terbentuk campuran warna biru.
- Tambahkan beberapa tetes aquades ke dalam campuran dalam tabung eaksi
hingga terbentuk campuran warna merah kecoklatan ( terbentuk indofenol)
- Tambahkan bebrapa tetes larutan NaOH hingga campuran berubah menjadi
biru ( terbentuk anion indofenol)

E. Hasil Pengamatan

Sampel Prosedur/pereaksi Hasil Keterangan

Mengetahui

(Dosen/ Asisten laboratorium)

24
PERCOBAAN VI
IDENTIFIKASI OBAT GOLONGAN ALKALOID

A. Tujuan Praktikum
Agar mahasiswa mapu memahami dan melakukan:
1. Uji pendahuluan obat golongan alkaloid ( kafein, kuinin, kodein, efedrin, teofilin)
2. Identifikasi obat senyawa alkaloid dengan pereaksi dragendorff’s
3. Identifikasi obat senyawa alkaloid dengan pereaksi mayer

B. Teori
Alkaloid merupakan senyawa organik yang terdapat pada tanaman, hewan dan
juga mikroorganisme yang mengandung basa nitrogen dan biasanya memilik
sistem heterosiklik. Alkaloid mengandung atom karbon, hidrogen nitrogen dan
oksigen (C,H,O,N). Senyawa alkaloid tidak memiliki nama sistematik sehingga
dinyatakan dalam nama trivial, misalnya: Kodein, morfin, heroin kinin, kafein,
nikotin. Dalam bidang farmasi alkaloid memiliki efek farmakologi seperti morfin
sebagai analagetik, reserfin sebagai penenang, atrofin sebagai antispasmodik,
kokain sebagai anestesi lokal, kafein sebagai stimulan, efedrin sebagai
dekongestan, kinin sebagai antimalaria.

C. Bahan dan alat


- Pereaksi dragendorff’s
- Pereaksi mayer

- Pereaksi wagner
- Sampel uji: kafein, kuinina, kodein, efedrin, teofilin

- Spatel
- Tabung reaksi
- Beakerglass
- Aquades

25
- Pipet tetes

D. Prosedur Kerja
Uji pendahuluan
- Lakukan uji pendahuluan pada sampel meliputi uji organoleptik, uji kelarutan dan uji
pH.

Identifikasi alkaloid dengan pereaksi dragendorff’s, pereaksi mayer dan pereaksi


wagner
- Ambil sedikit sampel, Masukkan ke dalam tabung reaksi
- Tambahkan 1 ml pereaksi Dragendorff’s, kemudian kocok dan amati perubahan yang
terjadi.
- Lakukan cara kerja yang sama untuk pereaksi mayer dan pereaksi wagner.

E. Hasil Pengamatan

Sampel Prosedur Hasil Keterangan

Mengetahui

26
(Dosen/ Asisten laboratorium)

DAFTAR PUSTAKA

Beale, JM. Block,JH. (2011). Wilson and Gisvold’s Textbook Of Organik Medicinal
and Pharmaceutical Industry. USA: Lippincott Williams and Wilkins
Dirjen POM. (1979). Farmakope Indonesia edisi III. Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
Dirjen POM. (1995). Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
Gandjar, dan Rohman (2007), Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Harmita, Harahap Y, Hayun (2007), Kimia Medicinal, Departemen Farmasi FMIPA,
UI, Cipta
Kreasi Bersama, Jakarta.
Patrick, Graham. (1995). An Introduction To Medicinal Chemistry. New York: Oxford
University Press.
Sardjoko (1993), Rancangan Obat, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Siswandono. Soekarjo,B. (2015) Kimia Medisinal Edisi 2. Surabaya : Airlangga
University Press
Sudjadi, dan Rohman (2012), Analisis Farmasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Sunaryo, (2002). Kimia Farmasi, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC
Tan, HT. Rahardja,K. (2007). Obat-obat Penting, Edisi 5. Jakarta: PT.Elex Media

27