Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penyakit gastritis atau yang dikenal oleh masyarakat secara umum
dengan sebutan penyakit maag merupakan penyakit saluran pencernaan yang
paling sering terjadi. Penyakit ini dapat menyerang seluruh lapisan
masyarakat mulai dari berbagai tingkat usia, jenis kelamin dan sering terjadi
pada usia produktif. Hal ini dapat terjadi pada usia produktif karena gaya
hidup yang kurang sehat, kurang memperhatikan kesehatan, stress dan dapat
juga disebabkan oleh pengaruh faktor lingkungan (Indayani, 2018).
Secara internasional kasus gastritis meningkat setiap tahunnya.
Persentase angka kejadian di dunia yaitu diantaranya Inggris (22%), China
(31%), Jepang (14,5%), Kanada (35%), Perancis (29,5%), dan 40,8% di
Indonesia (Gusti, 2011). Bahkan dilaporkan kematian akibat gastritis di dunia
pada tahun 2010 sebesar 43.817 kasus dan meningkat menjadi 47.269 kasus
pada tahun 2015 (WHO, 2015).
Angka kejadian gastritis di Indonesia menurut WHO tahun 2014 yaitu
45,9%. Sedangkan berdasarkan profil Kesehatan Indonesia tahun 2013
penyakit gastritis merupakan salah satu penyakit dari sepuluh besar penyakit
terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia. Jumlah
penderita penyakit gastritis yang dilaporkan sebanyak 45,154 kasus (5,6%)
(Kemenkes RI, 2014). Berdasarkan data yang didapat angka penderita
gastritis banyak di alami masyarakat indonesia.
Tingginya kasus gastritis yang dialami masyarakat Indonesia dapat
disebabkan oleh berbagai macam penyebab dan faktor risiko. Faktor risiko
penyebab gastritis diantaranya adalah penggunaan obat aspirin atau anti
radang non steroid, konsumsi alkohol yang tinggi, aktif merokok, stress, pola
makan tidak teratur, sering mengkonsumsi makanan pedas serta disebabkan
oleh infeksi kuman Helicobacter Pylory.
Penyakit gastritis sering dijumpai timbul secara mendadak dan berulang.
Keluhan yang sering disampaikan oleh pasien gastritis antara lain rasa mual
dan muntah, nyeri pada ulu hati, ketidaknyamanan abdomen, lemah, nafsu
makan menurun, anoreksia dan sakit kepala (Smeltzer & Bare, 2013).
Penyakit gastritis yang tidak ditangani dengan baik maka akan
menimbulkan berbagai macam komplikasi. Adapun komplikasi dari gastritis
dapat terjadi dalam kondisi gastritis akut atau pun gastritis kronis. Komplikasi
yang ditimbulkan pada gastritis akut yaitu adanya perdahan saluran cerna
bagian atas (PSCA) ditandai dengan hematemesis dan melena. Bahkan PSCA
tersebut dapat berakhir dengan shok hemoragik.
Pada gastritis kronis komplikasi yang biasanya terjadi selain perdarahan
pada saluran cerna bagian atas adalah ulkus, perporasi, dan anemia karena
ganggguan absorbsi vitamin B12 (Hardi & Huda Amin, 2015). Sehingga baik
gastritis akut maupun kronis dapat mengancam keselamatan pasien.
Gastritis akut dan gastritis kronis perlu mendapatkan penatalaksanaan
yang tepat. Penatalaksanaan gastritis dapat diberikan secara farmakologi
yaitu dengan pemberian antiemetik, antagonis H2 seperti simetidin yang
bertujuan untuk menurunkan sekresi asam lambung. Jika terjadi perdarahan
dapat diberikan antikoagulan. Pada gastritis yang parah juga diperlukan
pemberian antasid. Jika disebabkan oleh Helicobactery Pylory dapat
diberikan antibiotik, dan untuk melindungi mukosa lambung diberikan
sucralfate.
Penanganan secara nonfarmakologi yang biasanya dilakukan adalah
memodifikasi diet pasien dengan makanan yang lunak diberikan sedikit tapi
sering, menganjurkan pasien untuk mengurangi stress, kompres hangat pada
abdomen, dan untuk mengurangi nyeri pada pasien dapat diajarkan nafas
dalam (Dermawan, 2010). Intervensi keperawatan lainnya yang dapat
diberikan kepada pasien dengan menganjurkan pasien untuk mengurangi
makanan yang dapat merangsang nyeri seperti makanan pedas dan asam, serta
mengatur posisi yang nyaman bagi pasien.
Masalah keperawatan utama yang sering dihadapi oleh pasien gastritis
adalah nyeri. Nyeri adalah pengalaman sensorik atau emosional yang
berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset
mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hinga berat yang berlangsung
kurang dari 3 bulan (SDKI, 2016).
Secara garis besar nyeri dibagi menjadi 2 yaitu nyeri akut dan nyeri
kronis. Nyeri akut biasanya awitannya tiba-tiba dan umumnya berkaitan
dengan cedera spefisik. Waktunya kurang dari enam bulan. Nyeri kronik
adalah nyeri yang konstan atau intermiten yang menetap sepanjang suatu
periode waktu. Nyeri kronis berlangsung selama enam bulan atau lebih
(Potter dan Perry, 2006).
Ketidaknyamanan atau nyeri harus diatasi, karena kenyamanan
merupakan kebutuhan dasar manusia. Seseorang yang mengalami nyeri akan
berdampak pada aktifitas sehari-hari dan istirahatnya.
Seiring dengan peningkatan kebutuhan keperawatan pasien maka
diperlukan suatu inovasi untuk mengurangi nyeri pada gastritis. Beberapa
penelitian menyebutkan inovasi yang dapat diberikan yaitu jus papaya. Salah
satu kandungan buah pepaya yang berperan dalam memperbaiki masalah
lambung adalah enzim papain (sejenis enzim proteolitik) dan mineral basa
lemah. Enzim papain mampu mempercepat perombakan protein yang akan
mempercepat regenerasi kerusakan sel-sel lambung. Sedangkan mineral basa
lemah berupa magnesium, kalium dan kalsium mampu menetralkan asam
lambung yang meningkat (Khakim, 2011).
Menurut beberapa penelitian terkait tentang manfaat pemberian jus buah
papaya dalam mengurangi nyeri pada lambung antara lain menurut Idiyani
dkk, dengan metode penelitian kuantitatif dan responden sebanyak 54 di
kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa tengah mengunakan rancangan quasy
eksperiment hasil yang didapatkan terdapat pengaruh pemberian jus pepaya
terhadap tingkat nyeri kronis pada penderita gastritis (Idiyani dkk, 2018).
Berdasarkan data dan uraian pada latar belakang diatas maka peneliti
tertarik untuk melakukan studi kasus tentang Penerapan Pemberian Jus
Pepaya (Carica Papaya) Sebagai Terapi Pendamping Nyeri Gastritis di
ruangan Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2020.

B. Batasan Masalah
Agar karya tulis ilmiah lebih terarah dan terfokus pada tujuan penelitian,
maka penulis memberikan batasan masalah studi kasus ini yaitu Penerapan
Pemberian Jus Pepaya (Carica Papaya) Sebagai Terapi Pendamping Nyeri
Gastritis di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini yaitu, agar penulis mampu
mendeskripsikan Penerapan Pemberian Jus Pepaya (Carica Papaya)
Sebagai Terapi Pendamping Nyeri Gastritis di RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu Tahun 2020.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini yaitu, agar penulis mampu :
a. Mendeskripsikan karakteristik pasien nyeri gastritis di RSUD Dr. M.
Yunus Bengkulu.
b. Mendeskripsikan fase pra interaksi Pemberian Jus Pepaya (Carica
Papaya) Sebagai Terapi Pendamping Nyeri Gastritis sesuai prioritas di
di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
c. Mendeskripsikan fase orientasi Pemberian Jus Pepaya (Carica Papaya)
Sebagai Terapi Pendamping Nyeri Gastritis secara komprehensif.
d. Mendeskripsikan fase interaksi Pemberian Jus Pepaya (Carica Papaya)
Sebagai Terapi Pendamping Nyeri pada pasien Gastritis secara tepat.
e. Mendeskripsikan fase terminasi Pemberian Jus Pepaya (Carica
Papaya) Sebagai Terapi Pendamping Nyeri pada pasien Gastritis.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi pelayanan kesehatan
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi tambahan
mengenai Terapi Pendamping Nyeri Gastritis dengan Pemberian Jus
Pepaya agar dapat dilakukanya dengan baik dan benar.
2. Bagi instansi pendidikan
Merupakan bentuk sumbangsih kepada mahasiswa keperawatan
sebagai referensi untuk menambah wawasan dan bahan masukan dalam
Terapi Pendamping Nyeri Gastritis dengan Pemberian Jus Pepaya.
3. Bagi peneliti lain
Di harapkan hasil penelitian ini dapat di jadikan sumber data dan
informasi bagi pengembangan penelitian selanjutnya tentang Terapi
Pendamping Nyeri Gastritis dengan Pemberian Jus Pepaya.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Anatomi Fisiologi Gaster

Gambar 1.1 Anatomi gaster (sabotta, 2013)

1. Anatomi Gaster
Lambung adalah satu organ dalam sistem pencernaan pada
manusia yang berfungsi untuk mencerna makanan dan menyerap sari-sari
makanan. Lambung terletak diantara esofagus dan usus halus menyilang
dari kiri ke kanan. Jika dalam keadaan kosong, lambung akan menyerupai
bentuk huruf J dan apabila penuh akan menyerupai buah pir (Sobotta,
2013).
Kapasitas normal pada lambung sekitar 1-2 liter. Lambung
melakukan beberapa fungsi, fungsi terpenting adalah menyimpan makanan
yang masuk sampai disalurkan ke usus halus dengan kecepatan yang
sesuai untuk pencernaan yang penyerapan yang optimal. Makanan yang
dikonsumsi memerlukan waktu berapa jam untuk dicerna dan diserap
(Sobotta, 2013). Secara anatomis lambung terdiri dari :
1. Esophagus
Adalah untuk mengangkut makanan, cairan dan air dari mulut ke
lambung, lapisan otot esopagus yang terjepit bersama-sama di bagian
atas dan bawah esofagus. Bagian-bagian dari esopagus dikenal sebagai
spingter. Ketika seseorang yang menelan, spingter ini secara otomatis
relaksasi dan memungkinkan makanan dan cairan untuk melewati
esopagus. Spingter kemudian menutup dengan cepat untuk mencegah
isi lambung tidak bocor ke kerongkongan.
2. Fundus gastricum
Merupakan bagian kranial yang melebar dan berbatasan pada kubah
diaphragma kiri. Pada bagian ini makanan akan tersimpan selama
kurang lebih 1 jam didalam fundus dan biasanya penuh berisi gas.
3. Korpus gastricum
Merupakan bagian utama yang terletak antara fundus dan antrum
pyloricum pars pylorica yang menjadi tempat keluar dari gaster
menyerupai corong dan bagian lebar yakni antrum pyloricum.
4. Antrum
Bagian yang berfungsi untuk menampung bubur makanan yang
sudah menjadi kimus.
5. Pilorus
Merupakan daerah sfingter yang menebal di sebelah distal.
sphincter pyloricus yang berfungsi mengatur pengosongan isi gaster
melalui ostium pyloricum ke dalam duodenum bagian lambung
berbentuk tabung mempunyai otot yang tebal membentuk spinter
pylorus (Sobotta, 2013).
Berdasarkan histologi lambung, lambung terdiri atas empat bagian
yaitu :
1. Tunika serosa atau lapisan luar merupakan bagian dari peritonium
viseralis. Dua lapisan peritonium viseralis menyatu pada kurvatura
minor lambung dan duodenum dan terus memanjang kearah hati,
membentuk omentum minus. Lipatan peritonium yang keluar dari
satu organ menuju ke organ lain disebut sebagai ligamentum.
Omentum minor terdiri atas ligamentum hepatogastrikum dan
hepatoduodenalis, menyokong lambung sepanjang kurvatura minor
sampai ke hati. Pada kurvatura mayor, peritonium terus ke bawah
membentuk omentum mayus, yang menutupi usus halus dari depan
seperti apron besar. Sakus omentum minus adalah tempat yang
sering terjadi penimbunan cairan (pseudokista pankreatikum) akibat
komplikasi pankreatitis akut.
2. Lapisan berotot (Muskularis) tersusun dari tiga lapis otot polos yaitu:
1) Lapisan longitudinal
Yang paling luar terbentang dari esofagus ke bawah dan
terutama melewati kurvatura minor dan mayor.
2) Lapisan otot sirkuler
Yang ditengah merupakan lapisan yang paling tebal dan
terletak di pilorus serta membentuk otot sfingter dan berada
dibawah lapisan pertama.
3) Lapisan oblik
Lapisan yang paling dalam merupakan lanjutan lapisan otot
sirkuler esofagus dan paling tebal pada daerah fundus dan
terbentang sampai pilorus.
3. Lapisan submukosa Terdiri dari jaringan areolar jarang yang
menghubungkan lapisan mukosa dan lapisan muskularis. Jaringan ini
memungkinkan mukosa bergerak bersama gerakan peristaltik.
Lapisan ini mengandung pleksus saraf dan saluran limfe.
4. Lapisan mukosa Lapisan dalam lambung tersusun dari lipatan-
lipatan longitudinal yang disebut rugae. Ada beberapa tipe kelenjar
pada lapisan ini yaitu :
1) Kelenjar kardia, berada dekat orifisium kardia. Kelenjar ini
mensekresikan mukus.
2) Kelenjar fundus atau gastrik, terletak di fundus dan pada hampir
seluruh korpus lambung. Kelenjar gastrik memiliki tiga tipe
utama sel yaitu :
a) Sel-sel zimogenik atau chief cell, mensekresikan pepsinogen
diubah menjadi pepsin dalam suasana asam.
b) Sel-sel parietal, mensekresikan asam hidroklorida dan faktor
instrinsik. Faktor instrinsik diperlukan untuk absorbsi vitamin
B12 di dalam usus halus. Kekurangan faktor instrinsik akan
mengakibatkan anemia pernisiosa.
c) Sel-sel mukus (leher), di temukan di leher fundus atau
kelenjar-kelenjar gastrik. Sel-sel ini mensekresikan mukus.
Hormon gastrin diproduksi oleh sel G yang terletak pada
daerah pilorus lambung. Gastrin merangsang kelenjar gastrik
untuk menghasilkan asam hidroklorida dan pepsinogen.
Substansi lain yang di sekresikan oleh lambung enzim dan
berbagai elektrolit, terutama ion-ion natrium, kalium, dan
klorida (Mescher, 2014).

2. Fisiologi
Secara fisiologi, lambung memiliki fungsi motorik dan fungsi
sekresi. Fungsi motorik lambung ada tiga, yaitu:
1) penyimpanan makanan sampai dapat diproses di dalam lambung;
2) pencampuran makanan dengan sekresi dari lambung sehingga
membentuk kimus dan
3) pengosongan kimus dengan lambat dari lambung pada kecepatan
sesuai untuk pencernaah dan absorpsi usus halus (Guyton, 2014).
Adapun fungsi pencernaan dan sekresi, yaitu :
1) mencerna protein oleh pepsin dan HCl
2) sintesis dan pelepasan gastrin yang di pengaruhi oleh protein yang
dikonsumsi
3) pembentukan selubung dan perlindungan lambung oleh sekresi
mukus serta sebagai pelumas sehingga makanan yang lebih
mudah diangkut
4) sekresi bikarbonat bersama dengan sekresi gel mukus yang
berperan sebagai barier dari asam lumen dan pepsin (Price, 2005).

Makanan masuk ke dalam lambung membentuk lingkaran


konsentris di bagian orad lambung. Makanan akan ditampung di dalam
lambung sampai batas berelaksasi sempurna yaitu 0,8-1,5 L. Bila
makanan meregangkan lambung, maka refleks vasovagal dari lambung
ke batang otak akan mengurangi tonus di dalam otot dinding lambung
untuk menampung makanan (Guyton, 2014).
Saat makanan berkontak dengan permukaan mukosa lambung
maka akan terjadi sekresi dari kelenjar gastrik. Setelah bercampur
dengan hasil sekresi lambung maka makanan akan berubah menjadi
bubur yang disebut kimus. Derajat keenceran kimus bergantung pada
jumlah relatif makanan, air dan sekresi lambung serta pada derajat
pencernaan yang telah terjadi.Ciri-ciri kimus adalah cairan keruh
setengah cair atau seperti pasta.
Kemudian pengosongan lambung akan ditimbulkan oleh
kontraksi peristaltik yang kuat di dalam antrum lambung. Kecepatan
pengosongan lambung diatur oleh sinyal dari lambung dan duodenum
(Guyton, 2014).
Lambung memiliki beberapa enzim antara lain:
a) Enzim pepsin, mengubah protein menjadi pepton
b) Enzim renin, mengubah protein menjadi kasein (protein susu) dan
mengendapkan kasein susu
c) Enzim lipase gastrik, mengubah lemak menjadi asam lemak
d) Asam klorida, membunuh bakteri atau kuman yang masuk melalui
makanan dan mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin.

B. Konsep Dasar Penyakit Gastritis


1. Pengertian Gastritis
Gastritis atau dikenal dengan sakit maag merupakan peradangan
(pembengkakan) dari mukosa lambung yang disebabkan oleh faktor iritasi
dan infeksi. Bahaya penyakit gastritis jika dibiarkan terus menerus akan
merusak fungsi lambung dan dapat meningkatkan risiko untuk terkena
kanker lambung hingga menyebabkan kematian (Saydam, 2011).
Gastritis merupakan peradangan yang mengenai mukosa lambung.
Peradangan ini dapat menyebabkan pembengkakan lambung sampai
terlepasnya epitel mukosa suferpisial yang menjadi penyebab terpenting
dalam gangguan saluran pencernaan. Pelepasan epitel dapat merangsang
timbulnya inflamasi pada lambung (Sukarmin, 2011).

2. Klasifikasi
Klasifikasi Gastritis menurut Muttaqin (2011) yaitu :
a. Gastritis Akut
Gastritis akut adalah inflamasi akut mukosa lambung pada sebagian
besar merupakan penyakit yang ringan dan sembuh sempurna. Salah
satu bentuk gastritis akut yang manifestasi klinisnya adalah:
1) Gastritis akut erosif disebut erosif apabila kerusakan yang terjadi
tidak lebih dalam dari pada mukosa muscolaris (otot-otot pelapis
lambung).
2) Gastritis akut hemoragik disebut hemoragik karena pada penyakit ini
akan di jumpai perdarahan mukosa lambung dalam berbagai derajat
dan terjadi erosi yang berarti hilangnya kontunuitas mukosa lambung
pada beberapa tempat, menyertai inflamasi pada mukosa lambung
tersebut.
b. Gastritis Kronis
Gastritis kronis adalah suatu peradangan permukaan mukosa
lambung yang bersifat menahun. Gastritis kronik diklasifikasikan
dengan tiga perbedaan sebagai berikut :
1) Gastritis superfisial, dengan manifestasi kemerahan, edema, serta
perdarahan dan erosi mukosa.
2) Gastritis atrofik, dimana peradangan terjadi di seluruh lapisan
mukosa pada perkembanganya dihubungkan dengan ulkus dan
kanker lambung, serta anemia pernisiosa.
3) Gastritis hipertrofik, suatu kondisi dengan terbentuknya nodul-nodul
pada mukosa lambung yang bersifat iregular, tipis, dan hemoragik.

3. Etiologi
Menurut Muttaqin dan Sari (2011), etiologi gastritis adalah sebagai
berikut:
a. Obat-obatan seperti OAINS (indometasin, ibuprofen, asam salisilat,
sulfonamide, dan di gitalis bersifat mengiritasi mukosa lambung).
b. Infeksi bakteri Helicobacteri pylori
c. Stress fisik yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma,
pembedahan, gagal nafas, gagal ginjal, kerusakan sususan saraf pusat,
dan refluks usus-lambung.
d. Stress Psikis dapat menstimulus system saraf pusat dan meningkatkan
aktivitas lambung dan sekresi hormon adrenaline yang memicu
produksi asam lambung.
e. Makanan dan minuman yang bersifat iritan. Makanan berbumbu dan
minuman dengan kandungan kafein dan alkohol merupakan agen-agen
iritasi mukosa lambung.
f. Garam empedu, terjadi pada kondisi refleks garam empedu (komponen
penting alkali untuk aktivitasi enzim-enzim gastrointestinal) dari usus
kecil ke mukosa lambung sehingga menimbulkan respon peradangan
mukosa.
g. Iskemia hal ini berhubungan dengan akibat penurunan aliran darah ke
lambung.
h. Trauma langsung lambung berhubungan dengan keseimbangan antara
agresi dan mekanisme pertahanan untuk menjaga integritas mukosa,
yang dapat menimbulkan respons peradangan pada mukosa lambung.

4. Patofisologi
Obat-obatan, alkohol, garam empedu, zat iritan lainnya dapat
merusak dinding mukosa lambung (gastritis erosif). Mukosa lambung
berperan penting dalam melindungi lambung dari autodigesti oleh HCl dan
pepsin. Bila mukosa lambung rusak maka terjadi difusi HCl ke mukosa
dan HCl akan merusak mukosa.
Kehadiran HCl di mukosa lambung menstimulasi perubahan
pepsinogen menjadi pepsin. Pepsin merangsang pelepasan histamin dari
sel mast. Histamin akan menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler
sehingga terjadi perpindahan cairan dari intrasel ke ekstrasel dan
menyebabkan edema dan kerusakan kapiler sehingga timbul pendarahan
pada lambung. Biasanya lambung melakukan regenerasi mukosa oleh
karena itu gangguan tersebut menghilang dengan sendirinya.
Gastritis akut merupakan respon mukosa lambung terhadap
berbagai iritan lokal yang biasanya bersifat jinak dan swasirna. Endotoksin
bakteri (setelah menelan makanan terkontaminasi), kafein, alkohol, dan
aspirin merupakan agen pencetus yang lazim. Obat lain juga terlibat,
misalnya anti inflamasi nonsteroid (NSAID: misalnya indomestasin,
ibuprofen, naproksen), sulfonamida, dan digitalis. Asam empedu, enzim
pankreas, dan etanol juga diketahui mengganggu sawar mukosa lambung.
Infeksi H. pylori lebih sering dianggap sebagai penyebab gastritis kronis,
organisme tersebut melekat pada epitel lambung dan menghancurkan
lapisan mukosa pelindung, meninggalkan daerah epitel yang gundul (Price
& Wilson, 2006).
5. WOC (Web Of Cauution)
Helicobacter pylori Nikotin dan alkohol Stress fisik Strees psikis Gaya hidup yang buruk (pola
Obat-obatan (NSAID, aspirin,
makan yang tidak teratur,
Sufanominasteroid, digitalis)
makanan pedas dan asam)
Menggangu pembentukan Melekat pada
epitel Menurunka produksi
sawar mukosa
bikarbonat Menurunkas Meningkatkan sekresi
produksi mukus asam lambung

Menghancurkan lapisan mukosa lambung

Fungsi barier terganggu

Inflamasi mukosa lambung Erosi mukosa lambung


MK : Gangguan
Nyeri epigastrium Pola Tidur

Mukosa lambung kehilangan Men tonus dan peristaltic


integritas jaringan lambung
MK : Nyeri Akut Menurunnya sensori untuk
makan
perdarahan Refluk isi duodenum ke
MK : ANSIETAS
lambung

anoreksia
MK : Kekurangan Volume
cairan Mual Muntah ( dorongan
Kelemahan fisik
ekspulsi isi lambung)

MK : Intoleransi MK : Nausea
2.1 Bagan WOC MK : Defisit
Aktivitas
(Price & Wilson, 2006) Nutrisi
6. Manifestasi Klinis
Manifestasi Klinik gastritis dibedakan bersadasarkan klasifikasinya
menurut (Sukarmin, 2012) yaitu:
1. Gastritis akut
Mual, muntah, kembung, nyeri timbul pada ulu hati, perdarahan
saluran cerna, hematemesis dan melena yang dapat berlangsung sangat
hebat sampai terjadi renjatan karena kehilangan darah. Pada
pemeriksaan fisik biasanya tidak ditemukan kelainan kecuali mereka
yang mengalami perdarahan yang hebat sehingga tanda dan gejala
gangguan hemodinamika yang nyata seperti hipotensi, pucat, keringat
dingin, sampai gangguan kesadaran.
2. Gastritis kronik
Anoreksi, perasaan cepat penuh di akibatkan sekresi yang
berlebihan, nafsu makan berkurang, cepat kenyang, dan muntah
berlebihan.

7. Komplikasi
Komplikasi pada gastritis menurut Muttaqin & Sari (2013) yaitu:
1. Gastritis Akut
Komplikasi yang timbul pada gastritis akut adalah perdarahan
saluran cerna bagian atas (PSCA) ditandai dengan hematemesis dam
malena, terjadi ulkus dan terjadi gangguan cairan dan elektrolit pada
kondisi muntah hebat.
2. Gastritis Kronis
Komplikasi yang timbul pada gastritis kronis adalah gangguan
penyerapan Vitamin B12 . Akibat kurangnya penyerapan Vitamin B12,
menyebabkan timbulnya anemia pernesiosa, ulkus peptikum dan
keganasan lambung.
8. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada pasien gastritis
Menurut Nuari (2015) yaitu:
1. Pemeriksaan darah
Tes ini digunakan untuk memeriksa adanya antibodi H. Pylori
dalam darah.
2. Pemeriksaan feces
Tes ini memeriksa apakah terdapat H. Pylori dalam feces atau
tidak. Hasil yang positif dapat mengindikasikan terjadinya infeksi.
Pemeriksaan juga dilakukan terhadap adanya darah dalam feces. Hal ini
menunjukkan adanya pendarahan pada lambung.
3. Endoskopi saluran cerna bagian atas
Dengan tes ini dapat terlihat adanya ketidak normalan pada slauran
cerna bagian atas yang mungkin tidak terlihat dari sinar-X.

9. Penatalaksanaan
Menurut (Dermawan, 2010) pada pasien dengan gastritis dapat
dilakukannya penataksanaan sebagai berikut:
1. Penatalaksanaan non-farmakologi
Penatalaksanaan gastritis secara umum adalah menghilangkan
faktor utama yaitu etiologinya, diet lambung dengan porsi kecil dan
sering, serta obat-obatan. Namun secara spesifik dapat dibedakan
sebagai berikut :
a. Hindari meminum alkohol sampai gejala hilang
b. Jika gastritis terjadi akibat menelan basa kuat, gunakan sari buah
untuk menetralisirkan jeruk dan melon yang encer atau cuka encer.
c. Jika korosif parah, hindari emetik dan bilas lambung karena bahaya
perforasi.
d. Dapat diatasi dengan memodifikasi diet pasien, diet makan lunak
diberikan sedikit tapi sering.
e. Mengurangi stress.
f. Kompres hangat pada bagian abdomen.
g. Ajarkan pasien nafas dalam untuk menghilangkan nyeri.
2. Penalakasanaan farmakologi
a. Pemberian antiemetik dan pasang infus untuk mempertahankan
cairan tubuh pasien .
b. Antagonis H² (seperti rantin atau ranitidin, simetidin) mampu
menurunkan sekresi asam lambung.
c. Antikoagulan (bila terjadi perdarahan pada lambung).
d. Antasida (pada gastritis yang parah, cairan dan elektrolit diberikan
melalui intravena untuk mempertahankan keseimbangan cairan
sampai gejala mereda).
e. Histonin (ranitidin dapat diberikan untuk menghambat pembentukan
asam lambung kemudian menurunkan iritasi lambung).
f. Helicobacter Pylori diatasi dengan antibiotik (amoxicilin,
metrodinazole, clarithromycin, tetracyclin).
g. Sucralfate (diberikan untuk melindungi mukosa lambung dengan
cara menyeliputinya untuk mencegah difusi kembali asam lambung
pepsin yang menyebabkan iritasi).
h. Pembedahan (untuk mengangkat gangrene dan perforasi
Gastrojejunuskopi/reseksi lambung untuk mengatasi obstruksi
pylorus).
3. Penatalaksanaan keperawatan
Perawatan pada penyakit gastritis menurut Puspadewi dan Endang
( 2015) yaitu :
a. Istirahat yang cukup. Pada malam hari, usahakan untuk dapat tidur
selama 8 jam dan pada siang hari beristirahat dengan duduk rileks
atau berbaring selama 1 jam.
b. Mengurangi stress, usahakanlah untuk menghilangkan ketegangan
atau kecemasan.
c. Atur diet yang sesuai, jangan minum minuman yang beralkohol, dan
hentikan kebiasaan merokok.
d. Pemberian obat sangat mempengaruhi, khususnya tukang lambung
dan usus dapat digolongkan yaitu, antasida untuk mengurangi nyeri,
pengahambat sekresi asam, zat pelindung mukosa berguna menutupi
tukak lambung, antibiotic untuk membunuh kuman Helicobacter
pylori.

C. Konsep Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman


1. Definisi Nyeri
Rasa nyaman berupa terbebas dari rasa yang tidak menyenangkan
adalah suatu kebutuhan individu. Nyeri merupakan perasaan yang tidak
menyenangkan yang terkadang dialami individu. Kebutuhan terbebas dari
rasa nyeri itu merupakan salah satu kebutuhan dasar yang merupakan
tujuan diberikannya asuhan keperawatan pada seorang pasien di rumah
sakit (Perry & Potter, 2009).
Nyeri diartikan berbeda-beda antar individu, bergantung pada
persepsinya. Walaupun demikian, ada satu kesamaan mengenai persepsi
nyeri. Secara sederhana, nyeri dapat diartikan sebagai suatu sensasi yang
tidak menyenangkan baik secara sensori maupun emosional yang
berhubungan dengan adanya suatu kerusakan jaringan atau faktor lain,
sehingga individu merasa tersiksa, menderita yang akhirnya akan
mengganggu aktivitas sehari-hari, psikis, dan lain-lain (Perry & Potter,
2009).

2. Klasifikasi Nyeri
Klasifikasi nyeri berdasarkan sifatnya menurut Kozier Erb (2011),
yaitu :
1. Nyeri akut
Nyeri yang berlangsung selama periode pemulihan yang telah
diperkirakan dan memiliki awitan mendadak atau lambat tanpa
memperhatikan intensitasnya.
2. Nyeri kronik
Nyeri yang berlangsung lama, biasanya bersifat kambuhan atau
menetap selama 6 bulan atau lebih dan menggangu fungsi tubuh.

Klasifikasi nyeri berdasarkan asalnya menurut Kozier Erb (2011),


yaitu :
1. Nyeri kutaneus
Berasal dari kulit atau jaringan subkutan. Teriris kertas yang
menyebabkan nyeri tajam dengan sedikit rasa terbakar
2. Nyeri somatik profunda
Berasal dari ligamen, tendon, tulang, pembuluh darah, dan saraf.
Nyeri somatik profunda menyebar dan cenderung berlangsung lebih
lama dibandingkan nyeri kutaneus. Contoh nyeri somatik profunda
adalah keseleo pergelangan kaki.
3. Nyeri virasel
Berasal dari stimulasi reseptor nyeri di rongga abdomen, cranium
dan toraks. Nyeri viseral cenderung menyebar dan sering kali terasa
seperti nyeri somatik profunda, yaitu rasa terbakar, rasa tumpul, atau
merasa tertekan. Nyeri viseral sering kali disebabkan oleh peregangan
jaringan, iskemia, atau spasme otot. Misalnya, obtruksi usus akan
menyebabkan nyeri viseral.
4. Nyeri menjalar
Dirasakan di sumber nyeri dan meluas ke jaringan-jaringan di
sekitarnya. Misalnya, nyeri jantung tidak hanya dapat dirasakan di
dada tetapi juga dirasakan di sepanjang bahu kiri dan turun ke lengan.
5. Nyeri alih
Nyeri yang dirasakan di satu bagian tubuh yang cukup jauh dari
jaringan yang menyebabkan nyeri. Misalnya, nyeri yang berasal dari
sebuah bagian visera abdomen dapat dirasakan di suatu area kulit yang
jauh dari organ yang menyebabkan rasa nyeri.
6. Nyeri tak tertahankan
Nyeri yang sangat sulit untuk diredakan. Salah satu contohnya
adalah nyeri akibat keganasan stadium lanjut. Saat merawat seorang
klien yang mengalami nyeri yang tak tertahankan, perawat dituntut
untuk menggunakan sejumlah metoda, baik farmakologi maupun
nonfarmakologi, untuk meredakan nyeri klien.
7. Nyeri neuropatik
Nyeri akibat kerusakan sistem saraf tepi atau sistem saraf pusat di
masa kini atau masa lalu dan mungkin tidak mempunyai sebuah
stimulus, seperti kerusakan jaringan atau saraf, untuk rasa nyeri.
Nyeri neuropatik berlangsung lama, tidak menyenangkan, dan dapat
digambarkan sebagai rasa terbakar, nyeri tumpul yang berke-
panjangan episode nyeri tajam seperti tertembak.
8. Nyeri bayangan
Rasa nyeri yang dirasakan pada bagian tubuh yang telah hilang
(mis, kaki yang telah diamputasi) atau yang lumpuh akibat cedera
tulang belakang, adalah contoh neuropatik. Ini dapat dibedakan dari
sensasi bayangan, yaitu perasaan bahwa bagian tubuh yang telah
hilang masih ada. Insidensi nyeri bayangan dapat dikurngi jika
analgesik diberikan melalui kateter epidural sebelum amputasi.

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengalaman Nyeri


Berbagai faktor dapat mempengaruhi persepsi dan reaksi seseorang
terhadap nyeri. Menurut Kozier Erb (2011) faktor tersebut adalah :
1. Nilai etnik dan budaya
Latar belakang etnik dan warisan budaya telah lama dikenal
sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi seseorang terhadap
nyeri dan ekspresi nyeri tersebut. Perilaku yang berhubungan dengan
nyeri adalah sebuah bagian dari proses sosialisasi. Misalnya, individu
dalam suatu budaya mungkin belajar untuk ekspresif terhadap nyeri,
sementara individu dari budaya lain mungkin belajar untuk
menyimpan perasaan nyerinya tersebut dan tidak menggangu orang
lain.
2. Tahap perkembangan
Usia dan tahap perkembangan seseorang merupakan variable
penting yang akan memengaruhi reaksi dan ekspresi terhadap nyeri.
Dalam hal ini, anak –anak cenderung kurang mampu mengugkapkan
nyeri yang mereka rasakan dibandingkan orang dewasa, dan kondisi
ini dapat menghambat penanganan nyeri untuk mereka. Di sisi lain,
prevalensi nyeri pada individu lansia lebih tinggi karena penyakit akut
atau kronis dan degenerative yang diderita. Walaupun ambang batas
nyeri tidak berubah karena penuaan, efek analgesik yang diberikan
menurun karena perubahan fisiologis yang terjadi.
3. Lingkungan dan orang pendukung
Lingkungan yang asing, tingkat kebisingan yang tinggi,
pencahayaan dan aktivitas yang tinggi di lingkungan tersebut dapat
memerberat nyeri. Selain itu, dukungan dari keluarga dan orang
terdekat menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi persepsi
nyeri individu. Sebagai contoh, individu yang sendiriaan, tanpa
keluarga atau teman – teman yang mendukungnya, cenderung
merasakan nyeri yang lebih berat dibandingkan mereka yang
mendapat dukungan dari keluarga dan orang – orang terdekat.
4. Pengalaman nyeri di masa lalu
Pengalaman nyeri di masa lalu dapat mengubah sensi-tivitas klien
terhadap nyeri. Individu yang mengalami nyeri secara pribadi atau
yang melihat penderitaan orang terdekat sering kali lebih terancam
oleh kemungkinan nyeri dibandingkan individu yang tidak memiliki
pengalaman nyeri. Selain itu, berhasil atau tidak berhasilnya upaya
pereda nyeri memengaruhi harapan seseorang mengenai pereda nyeri.
Misalnya, seseorang yang telah mencoba beberapa tindakan pereda
nyeri namun tidak berhasil mungkin memiliki sedikit harapan
mengenai manfaat intervensi keperawatan.
5. Makna nyeri
Beberapa klien dapat lebih mudah menerima nyeri dibandingkan
klien lain, bergantung pada keadaan dan interpretasi klien mengenai
makna nyeri tersebut. Seorang klien yang menghubungkan rasa nyeri
dengan hasil akhir yang positif dapat menahan nyeri dengan sangat
baik. Misalnya, seorang wanita yang melahirkan anak atau seorang
atlet yang menjalani bedah lutut untuk memperpanjang karirnya dapat
menoleransi rasa nyeri dengan lebih baik karena manfaat yang
dikaitkan dengan rasa nyeri tersebut. Klien ini dapat memandang nyeri
sebagai sebuah ketidaknyamanan sementara dan bukan ancaman atau
gangguan terhadap kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, klien yang
nyeri kroniknya tidak mereda dapat merasa lebih menderita. Mereka
dapat berespons dengan putus asa, ansietas, dan depresi karena
mereka tidak dapat menghubungkan makna positif atau tujuan nyeri.
Dalam situasi ini, nyeri mungkin dilihat sebagai sebuah ancaman bagi
citra tubuh atau gaya hidup dan sebagai sebuah tanda kemungkinan
menjelang kematian.
6. Anisietas dan stress
Ansietas sering kali menyertai nyeri. Ancaman dari sesuatu yang
tidak diketahui dan ketidakmampuan mengontrol nyeri atau peristiwa
yang menyertai nyeri seringkali memperburuk persepsi nyeri.
Keletihan juga mengurangi kemampuan koping seseorang, sehingga
meningkatkan persepsi nyeri. Apabila nyeri mengganggu tidur,
keletihan dan ketegangan otot sering kali terjadi dan meningkatkan
nyeri sehingga terbentuk siklus nyeri- letih-nyeri. Individu yang
mengalami nyeri yang percaya bahwa mereka dapat mengontrol nyeri
akan mengalami penurunan rasa takut dan ansietas, yang akan
menurunkan persepsi nyeri mereka. Persepsi berupa tidak mengontrol
nyeri atau merasa tidak berdaya cenderung meningkatkan persepsi
nyeri. Klien yang mampu mengekspresikan nyeri kepada seorang
pendengar yang perhatian dan berpartisipasi dalam membuat
keputusan penatalaksanaan nyeri dapat meningkatkan sensasi kontrol
dan menurunkan persepsi nyeri.

4. Pengkajian Nyeri
Pengkajian pada masalah nyeri (gangguan rasa nyaman) yang dapat
dilakukan adalah adanya riwayat nyeri; keluhan nyeri seperti lokasi nyeri,
intensitas nyeri, kualitas dan waktu serangan. Pengkajian dapat dilakukan
dengan cara PQRST :
a. P (pemacu) : Nyeri akibat inflamasi lambung
b. Q (quality) : Nyeri digambarkan seperti tajam,dangkal, rasa
terbakar, dan perih.
c. R (region) : Nyeri diepigastrium
d. S (skala) : Skala nyeri 6-7
e. T (time) : ± 10-15 menit, nyeri bertambah hebat jika pasien
terlambat makan.
Pengukuran nyeri dapat menggunakan skala numerik, yang
digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Pada alat ukur ini,
diurutkan dari tidak ada nyeri sampai nyeri paling hebat. Perawat meminta
pada klien menunjukkan intensitas nyeri yang ia rasakan dengan
menunjukkan skala tersebut. Dalam pengukuran ini, diberikan skala 0-10
untuk menggambarkan keparahan nyeri. Angka 0 berati klien tidak
merasakan nyeri, sedangkan angka 10 mengindikasikan nyeri paling hebat.
Skala ini efektif digunakan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi
terapeutik (Prasetyo, 2010).

Gambar 1.2 Numeric Rating Scale


5. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis, kimiawi,
ataupun fisik.
Nyeri akut merupakan pengalaman sensorik atau emosional yang
berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan
onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang
berlangsung kurang dari 3 bulan (SDKI, 2016). Gejala dan tanda mayor
pada nyeri akut didapat dari data objektif yaitu klien tampak meringis,
bersikap protektif (misalnya waspada, posisi menghindari nyeri),
gelisah, frekuensi nadi meningkat. Dan pada data subjektif klien
mengatakan sulit tidur.
Sedangkan pada gejala dan tanda minor didapat data objektif yaitu
tekanan darah meningkat, pola napas berubah, nafsu makan berubah,
proses berpikir terganggu, menarik diri, berfokus pada diri sendiri dan
diaforesis. Pada data subjektif klien mengatakan nafsu makan
berkurang.
2. Nyeri kronis berhubungan dengan riwayat penyalahgunaan obat/zat,
tekanan emosional, dan riwayat penganiayaan.
Nyeri kronis merupakan pengalaman sensorik atau emosional yang
berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan
onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat dan
konstan yang berlangsung lebih dari 3 bulan (SDKI, 2016). Gejala dan
tanda mayor pada nyeri kronis didapat dari data objektif yaitu klien
tampak meringis, gelisah, tidak mampu menuntaskan aktivitas. Dan
pada data subjektif klien mengeluh nyeri pada ulu hati dan merasa
depresi.
Sedangkan pada gejala dan tanda minor didapat data objektif yaitu
klien bersikap protektif (misalnya posisi menghindari nyeri), waspada,
pola tidur berubah, anoreksia, fokus menyempit, dan berfokus pada diri
sendiri. Dan pada data subjektif klien merasa takut mengalami cedar
berulang.
6. Nyeri Gastritis
Nyeri gastritis diakibatkan oleh peningkatan asam lambung yang
berlebihan, dapat juga diperparah dengan waktu makan tidak teratur, gizi
atau kualitas makanan yang kurang baik, jumlah makanan terlalu banyak
atau bahkan terlalu sedikit, jenis makanan yang kurang cocok atau sulit
dicerna, kurang istirahat dan porsi pekerjaan yang melebihi kemampuan
fisik/psikis yang dapat menimbulkan stress (Mutamah, 2014).
Nyeri yang diakibatkan gastritis berupa nyeri pada ulu hati yang
disertai dengan rasa panas, gejala ini ditimbulkan oleh adanya peningkatan
asam lambung. Kualitas nyeri pada gastritis dapat berupa rasa tajam,
tumpul dan beruapa sayatan (Noviani, 2016).
Saat terjadi awitan maka denyut jantung, tekanan darah dan
frekuensi nafas akan mengalami peningkatan. Selain itu pasien yang
mengalami nyeri menunjukkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang
khas dan berespon secara vocal serta mengalami kerusakan dalam interaksi
sosial. Pasien akan sering meringis, mengernyitkan dahi, menggigit bibir,
gelisah, imobilisasi, mengalami ketegangan otot, melakukan gerakan
melindungi bagian tubuh sampai dengan menghindari percakapan,
menghindari kontak social, dan hanya fokus pada aktivitas menghilangkan
nyeri yang akan menurunkan rentang perhatian. Serta pasien akan kurang
mampu berpartisipasi dalam aktivitas rutin, seperti mengalami kesulitan
dalam melakukan tindakan kebersihan normal serta dapat mengganggu
aktivitas sosial dan hubungan sosial (Perry & Potter, 2009)

7. Jus Buah Papaya Pada Pasien Gastritis


Gastritis terjadi akibat tingginya kadar asam lambung yang
menyebabkan iritasi pada dinding lambung. Gejala yang sering
ditimbulkan dalam masalah gastritis adalah nyeri pada ulu hati yang
disertai dengan rasa panas. Salah satu upaya untuk mengatasi nyeri pada
penderita gastritis yaitu dengan mengkonsumsi jus buah pepaya.
Pemberian buah pepaya dapat digunakan untuk menetralisir asam
lambung, sehingga nyeri yang dirasakan oleh penderita dapat berkurang.
Tanaman pepaya dikenal sebagai tanaman multiguna, karena hampir
seluruh bagian tanaman dapat digunakan. Buah pepaya mengandung
sejumlah mineral basa lemah seperti kalium, kalsium dan magnesium yang
dapat digunakan untuk menetralisir asam lambung. Pepaya juga
mempunyai kandungan enzim papain yang mampu mempercepat
pemecahan protein didalam lambung karena pada saat terjadi gastritis
enzim pepsin yang berperan dalam pemecahan protein mengalami
penurunan fungsi sehingga mempercepat regenerasi kerusakan sel-sel
lambung. Sehingga hal ini dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri gastritis
yang disebabkan oleh adanya peningkatan asam lambung (Jihan,2011).
8. Intervensi Keperawatan
Perencanaan keperawatan
Perencanaan keperawatan adalah suatu proses di dalam pemecahan masalah yang merupakan keputusan awal tentang
sesuatu apa yang akan dilakukan, bagaimana dilakukan, kapan dilakukan, siapa yang melakukan dari semua tindakan
keperawatan (Dermawan, 2012). Dalam teori perencanaan keperawatan dituliskan sesuai dengan rencana dan kriteria hasil
berdasarkan NOC & NIC (Bulechech & Moorhead, 2016).

Tabel 2.1
NO
DIAGNOSA TUJUAN & KRITERIA INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL
1. Nyeri berhubungan dengan Setelah dilakukan asuhan NIC : Manajemen nyeri
iritasi mukosa Gaster keperawatan selama…x24 jam Aktivitas keperawatan :
Data Objektif diharapkan 1. Kaji dan catat keluha nyeri, 1. Nyeri merupakan pengalaman
1. Tampak meringis NOC : Kontrol nyeri termasuk, lokasi, lamanya, dan subjektif dan harus dijelaskan oleh
2. Bersikap protektif (contoh  Dipertahankan pada… intensitasnya (dengan skala nyeri pasien. Identifikasi karakteristik
Waspada, posisi  Ditingkatkan pada…. 0-10) nyeri dan faktor yang berhubungan
menghindari nyeri)  1. Tidak pernah merupakan suatu hal yang amat
3. Gelisah  2. Kadang-kadang penting untuk memilih intervensi
4. Frekuensi nadi meningkat  3. Sewaktu-waktu yang cocok dan untuk mengevaluasi
5. Tekanan darah meningkat keefektifan dari terapi yang diberikan
 4. Sering
6. nafsu makan berubah  5. Selalu 2. Monitor vital sign 2. Peningkatan tekanan darah, respirasi
7. berfokus pada diri sendiri Dengan kriteria hasil : rate, dan denyut nadi umumnya
Data Subjekti 1. Mengendalikan awitan menandakan adanya peningkatan nyeri
1. Sulit tidur 2. Menggunakan tindakan yang di rasakan
pencegahan
3. Melaporkan nyeri dapat 3. Jelaskan pada pasien untuk 3. Makanan yang mengiritasi lambung
dikendalikan menghindari makanan yang dapat dapat merangsang nyeri datang
NOC : tingkatan nyeri merangsang nyeri (makanan pedas
 Dipertahankan pada… dan asam)

 Ditingkatkan pada….
 1. Nyeri berat 4. Atur posisi yang nyaman bagi 4. Posisi yang nyaman akan membantu

 2. Nyeri sedang pasien memberikan kesempatan pada otot


untuk relaksasi seoptimal mungkin
 3. Nyeri ringan
 4. Tidak nyeri
5. Berikan jus buah papaya kepada 5. Enzim papain dan mineral basa lemah
pasien yang dimiliki papaya dapat
Dengan Kriteria Hasil
mengurangi nyeri gastritis dengan
1. Ekspresi nyeri pada wajah
meregenerasi mukosa lambung dan
2. Gelisah dan ketegangan
menetralkan asam lambung
otot
3. Merintih dan menangis
6. Ajarkan dan anjurkan pasien untuk 6. Relaksasi dan distraksi dapat
4. Gelisah
melakukan tehnik relaksasi dan mengalihkan perhatian pasien sehingga
distraksi, seperti menarik nafas dapat menurunkan nyeri
dalam, mendengarkan music,
menonton TV, dan membaca

7. Mengajurkan pada pasien dan 7. Kompres hangat dapat meningkatkan


keluarga untuk melakukan kompres relaksasi otot
hangat pada bagian epigastrium
pasien yang nyeri

8. Observasi reaksi non-verbal dari 8. Mengetahui respons pasien terhadap


ketidaknyamanan terhadap nyeri nyeri dan untuk mendapakan skala
seperti adanya tanda-tanda gelisah, nyeri pada pasien
ekspresi wajah yang meringis

9. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri 9. Indikator keberhasilan tindakan


penangan nyeri serta untuk
menentukan rencana selanjutnya

10. Kolaborasi dengan dokter dalam 10. Antibiotik berfungsi untuk


pemberian analgetik menghentikan perkembangan bakteri
yang ada didalam tubuh dan membantu
mengurangi rasa nyeri
D. Pengaruh Jus Pepaya Terhadap Nyeri Epigastrium

Gambar 1.3 Buah pepaya


1. Kalsifikasi buah papaya
Dalam sistematika tumbuhan, tanaman pepaya (carica papaya)
diklasifikasikan sebagai berikut:
Kigdom : Planae (tumbuh-tumbuhan)
Division : Spermatophyta( tumbuhan berbiji)
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Brassicales
Familia : Caricaceae
Genus : Carica
Spesies : Carica Papaya

2. Deskripsi buah papaya


Pepaya merupakan salah satu buah tropis yang mudah dan banyak
didapatkan di seluruh pelosok nusantara. Buah papaya berasal dari
Amerika Tengah dan Hindia Barat bahkan kawasan sekitar Mexico dan
Costa Rica. Tanaman pepaya dikenal sebagi tanaman multiguna, karena
hampir seluruh bagian tanaman mulai akar hingga daun bermanfaat bagi
manusia maupun hewan. Buah pepaya efektif untuk mengatasi segala
penyakit yang berkaitan dengan masalah pencernaan, selain itu pepaya
juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang lainnya, Pemberian
buah pepaya dapat digunakan untuk menetralisir asam lambung, sehingga
nyeri yang dirasakan oleh penderita dapat berkurang (khakim, 2011).
3. Manfaat buah papaya
Tanaman pepaya dikenal sebagai tanaman multiguna, karena
hampir seluruh bagian tanaman mulai dari akar hingga daun bermanfaat
bagi manusia maupun hewan. Tanaman pepaya dapat dimanfaatkan
sebagai makanan, minuman, obat, bahan kecantikan maupun sebagai
pakan ternak. Adapun penggunaan pepaya sebagai obat, untuk pemakaian
luar, caranya pepaya direbus lalu airnya digunakan untuk mencuci bagian
yang sakit, atau getah dioleskan pada bagian yang sakit. Sedangkan untuk
pemakaian dalam, digunakan 200 gram bahan segar buah pepaya untuk
dihaluskan menjadi jus. Buah pepaya tidak hanya untuk mengobati
sembelit. Buah pepaya kaya akan karoten, vitamin C, dan flavonoid,
sehingga dapat berfungsi sebagai zat antikanker. Buah ini mengandung
sejumlah mineral seperti kalium dan magnesium yang sangat dibutuhkan
tubuh terutama untuk menetralisir asam lambung.

4. Kandungan buah papaya


Buah pepaya mengandung vitamin A, vitamin C, dan vitamin E,
enzim papain. Selain itu, juga terkandung mineral- mineral seperti natrium,
magnesium, zinc, kalium, dan besi. Pepaya juga memiliki kandungan
senyawa karotenoid seperti beta karoten dan lycopene (Maharaj, 2001
dalam suketi dkk, 2010).
5. Peneliti Terkait
Tabel 2.2
NO JUDUL, PENULIS JENIS SAMPLE/TEMPAT INTERVENSI/ HASIL
& TAHUN PENELITIAN/ PENGAMBILAN DATA
METODE
1. Pengaruh pemberian Artikel penelitian/ 54 responden klien Penelitian ini menggunakan dua Terdapat pengaruh pemberian
Pemberian Jus Buah Kuantitatif. Dengan gastritis di kecamatan kelompok responden dimana ada jus buah papaya (carica papaya)
Pepaya (Carica Papaya) rancangan quasy Mungkid, Magelang, kelompok intervensi dan kelompok terhadap tingkat nyeri kronis
Terhadap Tingkat Nyeri eksperiment Jawa Tengah kontrol. Kelompok intervensi diukur pada penderita gastritis.
Kronis pada Penderita skala nyeri sebelum dilakukan
Gastritis di Wilayah pemberian jus buah pepaya (pre-test).
Puskesmas Mungkid. Kemudian dilakukan tindakan
pemberian jus buah pepaya oleh
Indayani, Sigit & Enik, peneliti. Setelah itu diukur kembali
2018. (post-test) skala nyeri pasien tersebut.
Kemudian dibandingkan antara nyeri
pre-test dengan post-test.
2. Antiulcer activity of Artikel 30 ekor tikus putih Ulkus ligasi yang diinduksi pilorus Pengobatan dengan 500 mg / kg
hydroalcoholic extract penelitian/Kuantitatif diberikan kepada hewan sebagai ekstrak hydroalkohol dari
of unripe fruit of carica . pengobata oral dilakukan 1 dan 0,5 Carica papaya berkhasiat
papaya in experimental Dengan metode jam sebelum ikatan ligatur. Setelah 18 dalam mengurangi indeks ulkus
rats . skrining fitokimia jam puasa, Tikus-tikus itu dengan dalam ligasi yang diinduksi
kualitatif cepat dibius kemudian perut dipotong Model tukak lambung pilorus.
Ramandeep & Kaylan, terbuka melalui sayatan garis tengah. ekstrak hydroalcoholic Carica
2017 Pilorus diamankan dan diikat dengan pepaya menunjukkan penurunan
jahitan sutra, setelah itu luka ditutup dosis ulkus yang tergantung dan
dan hewan dibiarkan pulih dari mengurangi indeks ulkus yang
anestesi. didukung oleh studi morfologi
dan histologi
3. Evaluation Of Antiulcer Artikel 30 ekor tikus putih Tiga puluh tikus dibagi menjadi lima Studi ini menunjukkan bahwa
Activity Of Carica penelitian/Kuantitatif dengan berat antara 180 (5) kelompok, setiap kelompok terdiri ekstrak benih carica papaya
Papaya Seeds In . dan 250g secara acak dari enam hewan. Kelompok I dapat memiliki efek
Experimental Gastric dibagi menjadi 5 menerima air suling (kontrol negatif), perlindungan gastro terhadap
Ulcers In Rats kelompok kelompok II menjabat sebagai kontrol ulkus lambung yang diinduksi
positif, kelompok III tikus diberi 200 etanol pada tikus
Krishna, dkk, 2014 mg / kg C. menjabat sebagai kontrol
positif, kelompok III tikus diberi 200
mg / kg C. pepaya ekstrak biji,
kelompok IV tikus diberi 400 mg / kg
C. pepaya ekstrak pepaya ekstrak biji,
kelompok IV tikus diberi 400 mg / kg
C. pepaya ekstrak pepaya ekstrak biji,
kelompok IV tikus diberi 400 mg / kg
C. pepaya ekstrak pepaya ekstrak biji,
kelompok IV tikus diberi 400 mg / kg
C. pepaya ekstrak biji dan kelompok V
menerima 40 mg / kg Omeprozole.
Perlakuan di semua kelompok itu dosis
tunggal selama empat belas hari
berturut-turut melalui gavages.
4. Supplementation of Artikel 60 responden yang Pemberian zat placebo dan verum Studi ini menunjukkan bahwa
Caricol®-Gastro penelitian/Kuantitatif didagnosis dengan sebanyak 2 porsi, 1 porsi mengandung beban rasa sakit yang terkait
reduces chronic . gastritis kronis ringan 20g. setiap makan siang dan malam dengan gastritis kronis dapat
gastritis disease Berdasarkan pasien mengkonsumsi kedua zat dikurangi dengan asupan rutin
associated pain. randomized placebo tersebut. Caricol®-Gastro dalam waktu 1
bulan.
Friedrich, dkk, 2018
5. (Khakim, 2011) Artikel 20 ekor mencit jantan Pemberian aspirin dilakukan selama 3 Pemberian jus buah pepaya
penelitian/Kuantitatif dengan berat badan 20g hari berturut-turut dan kemudian (Carica papaya) dapat
. dan berumur ± 8 minggu dihentikan. Sedangkan pemberian jus mengurangi dan memperbaiki
Berdasarkan buah pepaya diberikan dari hari kerusakan histologis mencit
incidental sampling pertama hingga hari ke-7 yang diinduksi aspirin dan
peningkatan dosis pemberian
jus buah pepaya tidak
menimbulkan perbedaan efek
nyata.
6. Pengaruh jus pepaya Artikel 30 responden di SMA Memasukkan ketiga sampel manisan Kulit pepaya berkhasiat
(carica papaya) penelitian/Kuantitatif Santa Angela ke dalam wadah tertutup kemudian mengurangi iritasi lambung, dan
terhadap kerusakan . diberi label A, B, dan C. Label A manisan yang paling disukai
histologis lambung Berdasarkan blind untuk manisan dengan konsentrasi responden adalah manisan
mencit yang diinduksi test gula 20%, label B untuk manisan dengan konsentrasi gula 20%
aspirin dengan konsentrasi gula 40%, dan
label C untuk manisan dengan
Joanne, dkk, 2016 konsentrasi gula 60%.
6. Prosedur tindakan
a. Fase Prainteraksi
1) Perawat melakukan persiapan terlebih dahulu sebelum bertemu
pasien seperti membaca status pasien.
2) Mempersiapkan jus pepaya sebanyak 200 gram dipotong berbentuk
dadu kemudian dihaluskan menggunakan blender.
3) Mengkaji jadwal makan pasien dan pola makan pasien.
b. Fase orientasi
1) Salam terapeutik
Mengidentifikasi pasien, mengucapkan salam dan memperkenalkan
diri
2) Evaluasi dan validasi
Menanyakan kabar pasien dan nyeri yang dirasakan
3) Informed consent
a) Menjelaskan tindakan pemberian jus pepaya, tujuan, manfaat,
waktu dan persetujuan pasien
b) Memberikan kesempatan untuk bertanya
c) Meminta persetujuan klien
c. Fase interaksi
1) Persiapan alat
a) Jus pepaya
b) Tisu jika dibutuhkan
c) Sedotan atau sendok
2) Persiapan pasien
a) Mengatur posisi pasien senyaman mungkin bagi pasien
b) Meletakkan tisu di atas dada pasien
3) Persiapan lingkungan
Mengatur lingkungan cukup cahaya, suhu dan terjaga privacy
4) Persiapan perawat
Perawat cuci tangan dan jika diperlukan menggunakan handscoon
5) Prosedur tindakan
a) Berikan jus pepaya kepada pasien, bantu pasien untuk meminum
jus jika pasien membutuhkan bantuan.
b) Menganjurkan pasien untuk menghabiskan jus secara perlahan
c) Memotivasi pasien untuk menghabiskan jus pepaya
d. Fase terminasi
a) Evaluasi subjektif dan objektif
menanyakan bagaimana perasaan pasien setelah meminum jus
pepaya
b) Rencana tindakan lanjut
Akan diberikan jus pepaya pada hari selanjutnya
c) Kontrak yang akan dating
Mengkontrak waktu kapan akan diberikan jus papaya.
BAB III
METODOLOGI PENULISAN

A. Rancangan Studi Kasus


Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif. Studi kasus
yang dimaksudkan adalah untuk mendeskripsikan secara sistematis dan
akurat suatu situasi atau area populasi tertentu yang bersifat faktual. (Danim,
2003).
Studi kasus deskriptif yang akan dilakukan pada ini menggambarkan
tentang penerapan Pemberian Jus Pepaya (Carica Papaya) Sebagai Terapi
Pendamping Nyeri Gastritis. Pendekatan yang akan dilakukan yaitu dengan
tahapan komunikasi terapeutik fase pra interaksi, fase orientasi, fase interaksi
dan fase terminasi.

B. Subyek Studi Kasus


Subyek studi kasus ini yaitu pasien gastritis dengan nyeri yang menjalani
perawatan di RSUD Dr. M Yunus Bengkulu. Jumlah subyek penelitian yang
direncanakan yaitu 2 orang pasien dengan minimal perawatan selama 3 hari.
Kriteria inklusi dan ekslusi yang ditetapkan pada subjek penelitian yaitu :
1. Kriteria inklusi
a. Penderita gastritis yang rawat inap di ruangan Melati RSUD M. Yunus
Bengkulu
b. Penderita gastritis yang mengalami nyeri dengan dirawat minimal tiga
hari
c. Penderita bersedia menjadi responden
d. Penderita gastritis yang tidak alergi terhadap buah pepaya
2. Kriteria eksklusi
a. Penderita yang mengalami komplikasi berat seperti Diabetes Melitus
b. Penderita yang mengalami komplikasi perdarahan pada lambung
(PSCA)
C. Fokus Studi
Fokus studi kasus ini yaitu upaya perawat dalam pemenuhan kebutuhan
rasa aman dan nyaman pasien gastritis dengan inovasi penerapan prosedur
Pemberian Jus Pepaya (Carica Papaya) Sebagai Terapi Pendamping Nyeri
Gastritis.

D. Definisi Operasional
Jus pepaya dalam studi kasus ini didefinisikan sebagai tindakan
pemberian buah pepaya yang dijadikan jus dengan dosis 200 gram yang
dihaluskan menggunakan blender dan akan diberikan sebelum makan pada
rentang waktu pukul 12:00 sampai dengan 20:00 sebanyak 1x pemberian
pada pasien yang mengalami nyeri gastritis. Pemberian jus pepaya dilakukan
selama 1x/hari selama tiga hari berturut-turut.
Nyeri epigastrium dalam studi kasus ini didefinisikan sebagai suatu
kondisi perasaan yang tidak menyenangkan yang di rasakan pasien pada perut
bagian atas (ulu hati) akibat gastritis yang di alaminya. Nyeri epigastrium
akan dikaji setiap hari sebelum dan sesudah diberikan jus papaya
Gastritis adalah suatu penyakit peradangan pada lambung yang
didiagnosis oleh dokter berdasarkan tanda dan gejala seperti nyeri pada ulu
hati, mual, muntah, dan kembung yang didapatkan dari hasil anamnesa
pemeriksan fisik, dan pemeriksaan diagnostik di RSUD dr. M. Yunus .

E. Tempat dan Waktu


Studi kasus ini akan dilakukan di Ruang Melati RSUD dr. M Yunus
Bengkulu. Studi kasus ini direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Januari
2020.

F. Pengumpulan Data
Studi kasus ini mengunakan sumber data primer dan sumber data
skunder. Sumber data primer didapat langsung dari pasien dan keluarga
sedangkan data skunder diperoleh dari rekam medis pasien untuk melihat
diagnosis dengan riwayat perjalanan penyakit pasien. Metode yang di
gunakan pada studi kasus ini adalah:
a. Wawancara
Wawancara digunakan untuk mendapatkan data identitas pasien,
keluhan utama, riwayat penyakit, skala nyeri pasien, penyebab pasien
masuk RS dan mengkaji nyeri pasien dengan Numeric Rating Scale
(NRS). Data ini di peroleh dengan menggunakan lembar pertayaan atau
kuesioner.
b. Obsevasi dan pemeriksaan fisik
Obeservasi ini digunakan untuk memperoleh data kemampuan pasien
dalam meminum jus pepaya, mengobservasi respon pasien terhadap nyeri,
mengobservasi kondisi fisik, dan status nyeri pasien setelah meminum jus
pepaya

G. Penyajian Data
Pada studi kasus data akan disajikan secara narasi dan tekstular mulai
dari gambaran karakteristik pasien dan prosedur tindakan dari fase
prainteraksi, orientasi, interaksi, dan fase terminasi pemberian jus pepaya
pada pasien nyeri gastritis.

H. Etika Studi Kasus


Peneliti akan mempertimbangkan etik dan legal penelitian untuk
melindungi responden agar terhindar dari segala bahaya serta
ketidaknyamanan fisik dan psikologis. Ethical clearance mempertimbangkan
hal-hal dibawah ini:
1. Self determinan
Pada studi kasus ini, responden diberi kebebasan untuk berpartisipasi
atau tidak dalam penelitian ini tanpa ada paksaan.
2. Tanpa nama (anonimity)
Peneliti menjaga kerahasiaan responden dengan cara tidak
mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data, peneliti
hanya akan memberi inisial sebagai pengganti identitas responden.
3. Kerahasiaan (confidentialy)
Semua informasi yang didapat dari responden tidak akan
disebarluaskan ke orang lain dan hanya peneliti yang mengetahuinya.
Dan 3 bulan setelah hasil penelitian di presentasikan, data yang diolah
akan dimusnahkan demi kerashasiaan responden.
4. Keadilan (justice)
Penelitian akan memperlakukan semua responden secara adil selama
pengumpulan data tanpa adanya diskriminasi, baik yang bersedia
mengikuti penelitian maupun yang menolak untuk menjadi responden
penelitian.
5. Asas kemanfaatan (beneficiency)
Asas kemanfaatan harus memiliki tiga prinsip yaitu bebas
penderitaan, bebas eksploitasi dan bebas risiko. Bebas penderitaan yaitu
peneliti menjamin responden tidak akan mengalami cidera, mengurangi
rasa sakit, dan tidak akan memberikan penderitaan pada responden. Bebas
eksploitasi dimana pemberian informasi dari responden akan digunakan
sebaik mungkin dan tidak akan digunakan secara sewenang-wenang demi
keutungan peneliti. Bebas risiko yaitu responden terhindar dari risiko
bahaya kedepannya.Tujuan dari penelitian adalah untuk menambah
pengetahuan, menerapkan pengkajian nyeri pada pasien gastritis serta
berperan dalam mengurangi hari lama rawat.
6. Maleficience
Peneliti menjamin tidak akan menyakiti, membahayakan, atau
memberikan ketidaknyamanan baik secara fisik maupun psikologis.