Anda di halaman 1dari 14

c c 



c  

Caudectomy atau docking, berarti suatu tindakan bedah yang yang


dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan ekor hewan. Tindakan ini dapat
dilakukan pada semua hewan, khususnya yang memiliki ekor, dapat dilakukan
untuk berapa jenis kasus pada ekor antara lain ialah terapi kasus neoplasia, luka
terbuka,   , paralisis ekor, dan sebagainya.

Selain untuk menangani kasus penyakit, 


   dapat pula dilakukan
untuk tujuan estetika. Beberapa pendapat menyatakan ketidak setujuanya terhadap
tindakan caudectomy ini hanya dengan tujuan estetika apalagi bila akibat dari
caudectomi ini dapat membahayakan hewan tersebut. Oleh sebab itu, dengan
semakin berkembangnya kepedulian manusia terhadap kesehatan dan
kesejahteraan hewan, terutama di negara maju, 
   yang hanya bertujuan
demi estetika atau mengikuti trend saja sudah dilarang. Caudectomy kini lebih
diarahkan untuk terapi penyakit sekaligus estetika. Dalam dunia kedokteran
hewan, istilah caudectomy yaitu, pada docking tidak dilakukan penjahitan (hanya
di tekan menggunakan kapas steril yang dibasahi dengan yodium tincture),
sedangkan pada caudectomy perlu dilakukan penjahitan pada kulit.


   pada anak anjing (docking) pada umumnya dilakukan
sebelum mata anak hewan terbuka (± 24 jam pascapartus), sehingga ekor dapat
diangkat dengan mudah. Jika tindak operasi ini tidak dapat dilakukan sebelum
mata terbuka, sebaiknya ditunggu hingga hewan berusia ± 3 bulan agar dapat
melakukan operasi yang lebih radikal (Mc. Cumin dkk, 2002).

  
Tujuan dari Caudectomi adalah:
1. Sebagai terapi pada ekor hewan yang mengalami kelainan seperti
neoplasia, luka terbuka,   , paralisis ekor, dan sebagainya.
2. Menjadi bedah estetika untuk memperbaiki bentuk dari ekor bila terdapat
kelainan bentuk ekor
c c 
  

 c    
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain, Desinfektan
(alcohol 70% dan iodium tinktur 3%), bahan pre anastesi (atropine sulfas dengan
dosis 0.04 mg/ Kg BB), bahan sedative (Xylazine HCl dengan dosis 1-2 mg/Kg
BB dan dicampur dengan ketamine), bahan anastetik (ketamin HCl 10% dengan
dosis 10 mg/Kg BB), cairan infuse (larutan isotonis dengan dosis 60 ml/ Kg BB),
antibiotik (penicillin dan oxytetracyclin dengan dosis 1x 10 -14 mg/ Kg BB).

c    
‘lat-alat yang digunakan apa operasi caudectomi yaitu antara lain 4 towl
klaim, 2 pinset anatomis dan syrorgis, 1 gagang skapel dan blade, 3 gunting, 4
tang arteri lurus anatomis, 2 tang arteri bengkok anatomis, 2 tang arteri lurus
syrorgis, dan 1 needle holder, gunting tumpul bengkok, gunting tumpul lurus, lap,
tampon, kapas, gurita, stetoskop, termometer, perban, duk, plester, sarung tangan,
meja operasi, lampu operasi, timbangan, jarum, catgut double, silk, pisau cukur,
dan spoit.


     
  
      ! 
ºuangan operasi dibersihkan dari kotoran (disapu dan dibersihkan dari debu),
kemudian ruangan dapat disterelisasi dengan radiasi atau dengan desinfektan
(campuran kalium permanganate 5% dengan formalin 10%). Perbandingan
campuran adalah 1:2 didiamkan selama 15 menit atau dapat juga menggunakan
formalin tablet yang diletakkan diruangan.
     
a. Sterilisasi peralatan operasi
Sterilisasi pada alat-alat bedah bertujuan untuk menghilangkan seluruh
mikroba yang terdapat pada alat-alat bedah, agar jaringan yang steril atau
pembuluh darah pada pasien yang akan dibedah tidak terkontaminasi oleh
mikroba pathogen. 4 towl klaim, 2 pinset anatomis dan syrorgis, 1 gagang
skapel dan blade, 3 gunting, 4 tang arteri lurus anatomis, 2 tang arteri
bengkok anatomis, 2 tang arteri lurus syrorgis, dan 1 needle holder

b. Pembungkusan alat-alat bedah

1. Kain pembungkus dibuka di atas meja, kemudian wadah peralatan


diposisikan di bagian tengah
2. Sisi kain yang dekat dengan tubuh dilipat hingga menutupi peralatan dan
ujung lainnya dilipat mendekati tubuh
3. Sisi bagian kanan dilipat, kemudian bagian kiri
4. Disiapkan kain wadah yang telah dibungkus dengan kain pembungkus
pertama diposisikan kembali di bagian tengah pada sisi diagonal
5. Sisi bagian kanan dilipat, kemudian bagian kiri
6. Ujung lainnya dilipat mendekati tubuh dan diselipkan untuk memudahkan
pada saat membuka
7. Sterilisasi dengan oven dengan suhu 100°C selama 60 menit.

c. Penanganan dan penyimpanan alat bedah


1. Peralatan dikeluarkan
2. Peralatan didinginkan dan dikeringkan dalam rak
3. Peralatan ditempatkan dibagian tengah
4. Setelah kering, disimpan dalam tempat yang tidak berair dan berdebu serta
terlindung dari kontaminasi
5. Disimpan dalam ventilasi yang mempunyai sirkulasi udara yang baik dan
terkena cahaya
d. Persiapan obat-obatan
Obat-obatan yang harus dipersiapkan adalah sebagai berikut:

- Desinfektan: ‘lkohol 70%, iodine tinctur


- Preanestesi : ‘tropin sulfa ( dosis 0,025 mg/kg BB )
- Sedatif : Xylazine ( dosis 2 mg/kg BB )
- ‘nestetik : Ketamin ( dosis 10-15 mg/kg BB )
- Cairan infuse : NaCl Fisiologis, ºinger laktat (dosis 10 mg/Kg BB
- ‘ntibiotik : Streptisilin dengan dosis X  BB, ‘moxicillin
(dosis 20 mg/kg BB PO selama 5 hari post operasi ), penicillin.

G    " 
Persiapan yang dilakukan pada hewan meliputi signalement,
anamnesa, status present, serta pemeriksaan lain yang dianggap perlu. Data
fisiologis yang harus diambil sebelum operasi yaitu, suhu tubuh, frekuensi
jantung, frekuensi nafas, limfonodus, dan selaput lendir. Data normal untuk
kucing, suhu tubuh : 38.5-390c, frekuensi jantung :110-130 kali/menit,
frekuensi nafas : 20-30 kali/menit.

   " 
Setelah hewan ditimbang dan dosis dihitung, dilakukannya
penyuntikan secara intramuscular (IM) pada M.semimembranosus.
Penyuntikan dilakukan secara aseptis dengan mengusapkan kapas yang diberi
alcohol pada kulit/daerah M.semimembranosus. Hewan dihandle dengan baik,
kemudian dioleskan kapas beralkohol dan syringe diarahkan tegak lurus
dengan posisi hewan tersebut. Setelah terbius dilakukanlah pencukuran rambut
di daerah ekor dan pangkal ekor, yaitu pencukuran berlawanan arah dengan
arah tumbuh rambut. Hal ini dilakukan untuk mempermudah melihat wilayah
orientasi yang akan dioperasi. ºambut yang akan dicukur luasnya kira-kira 5-
10 cm dari arah yang akan disayat. Selanjutnya dikeringkan dengan handuk.
Daerah orientasi diolesi desinfektan yaitu alcohol 70% kemudian diolesi
iodium tinktur 3%. Hewan siap dibawa diatas meja operasi. Posisi hewan
disesuaikan dengan keadaaan dan kaki diikat dengan simpul tomfool. Setelah
diikat hewan ditutup dengan duk dan operasi siap dilakukan. Keadaan hewan
menghadap dorsal recumbency.

ü       ! ! #   


Perlengkapan yang dibutuhkan operator dan asisten 1, yaitu tutup
kepala, masker, sikat tangan (2 buah per orang), handuk kecil, baju operasi,
dan sarung tangan. Perlengkapan-perlengkapan tersebut disterilisasi dengan
urutan tertentu. Baju operasi dilipat sedemikian hingga bagian yang
bersinggungan dengan pasien berada di dalam. Duk dilipat sedemikian hingga
bagian yang bersinggungan langsung dengan permukaan duk dilipat ke dalam.
Baju operasi, duk serta perlengkapan yang lain kemudian dibungkus dengan
dua lapis kain seperti membungkus peralatan dengan urutan dari bawah, yaitu
sarung tangan yang sudah dibungkus dengan kertas/plastik/alumunium foil,
baju operasi yang telah dilipat, handuk yang telah dilipat, dua sikat yang
bersih, masker, dan yang teratas penutup kepala. Kemudian perlengkapan yang
sudah dibungkus dimasukkan ke dalam autoklaf pada suhu 60ºC selama 15-30
menit.

Pemakaian perlengkapan diawali dengan pembukaan bungkusan.


Perlengkapan yang telah disterilisasi dibuka bungkusnya sebagaimana
pembukaan bungkusan peralatan. Pertama operator dan asisten 1 mengenakan
penutup kepala (untuk operator dan asisten 1 berambut panjang, rambut diikat
dan dimasukkan). Kemudian operator dan asisten 1 mengenakan masker.
Operator dan asisten 1 mencuci tangan dengan prosedur yang tepat. Pertama
tangan kanan dan kiri dibasahi. Kemudian disikat dengan sikat yang sudah
steril dan sudah diberi sabun dari ujung jari dan sela-sela jari hingga siku.
Kemudian dibilas 10-15 kali, pembilasan juga dimulai dari ujung jari hingga
siku. Setelah mencuci tangan kanan dan kiri keran ditutup menggunaka siku.
Tangan operator dan asisten 1 dikeringkan dengan handuk. Masing-masing sisi
handuk untuk satu tangan. Operator dan asisten 1 memakai baju operasi,
tangan operator dan asisten 1 dimasukkan ke dalam baju yang masih terlipat.
Kemudian dengan dibantu asisten yang steril baju operasi dikancingkan.
Operator dan asisten 1 memakai sarung tangan. Tangan kanan dimasukkan ke
dalam sarung tangan, hala yang harus diperhatikan adalah hindari tangan
menyentuh bagian sarung tangan yang akan bersinggungan dengan pasien.
Dilanjutkan mengenakan sarung tangan di tangan kiri. Operator dan asisten 1
siap melakukan operasi.

Bila asisiten 1 telah siap dengan perlengkapanya maka selanjutnya


ialah penyususnan perlengkapan untuk operasi, Peralatan disusun sesuai
dengan urutan diatas pada meja peralatan. Peralatan ini digunakan operatir
sesuai dengan fungsinya.

·  
Tekhnik Operasi
Operasi yang akan dilakukan kali ini adalah Caudectomy pada anjing.
Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Hewan yang telah teranasthesi dan siap dioperasi diletakkan di atas meja
dengan posisi dorsal recumbency dan keempat kakinya diikat
menggunakan simpul tomfool pada besi pengait di bawah meja operasi.
b. Kain penutup/duk dipasang pada hewan sehingga daerah orientasi terlihat
dan difiksasi dengan kulit menggunakan towel clamp.
c. Setelah hewan ditutupi dengan duk, pangkal ekor diikat menggunakan
karet gelang.
d. Kemudian, tandai batas antara os coccygea II dengan os coccygea III
menggunakan syringe.
e. Pada persendiannya, kulit disayat berbentuk lurus mengelilingi ekor,
sayatan sebaiknya dibuat di tengah dorsal os coccygea III.
f. Kemudian, otot-otot dipreparir dan dicari pembuluh darah yang
memvaskularisasi ekor, yaitu arteri dan vena coccygealis lateral atau
ventral. Pembuluh darah tersebut diikat menggunakan cat gut.
g. Selanjutnya, persendian antara os coccygea II dan III disayat dan
dipisahkan seluruhnya dengan bantuan      (untuk ekor yang
kecil).
h. Penjahitan dilakukan terhadap otot dan kulit menggunakan metode
sederhana dengan benang Cut gut 3/0.
i. Kemudian, dioleskan yodium tinctuure 3% dan dibalut dengan verband.
j. Terakhir, disuntikkan secara intramuscular (IM) antibiotic Streptisilin
dengan dosis X  BB.
ÿ!  
Selama postoperasi dilakukan pemantauan kondisi hewan seperti
temperatur, frekuensi denyut jantung, frekuensi nafas serta kondisi luka. Hasil
pemeriksaan dicatat pada tabel yang terdapat pada lampiran. ‘ntibiotik
amoxicillin diberikan selama sehari 2 kali dengan dosis 20 mg/ kg BB.

c cG $
 c  $ 
$  

Nama : Jeasy

Umur : > 3 bulan

Jenis Hewan : Lokal

Jenis Kelamin : Betina

Warna ºambut: Putih

Berat Badan : 5,6 kg

Kesehatan :

Frekuensi nafas : 56

Frekuensi Jantung : 142

Suhu tubuh : 38,90C

ºeflek tubuh :+

ºeflek pupil :+

CºT :<1

Warna Mukos : merah

Menghitung Dosis
š 
š 
 : = 0,56 cc

š 

š 
 
r  % :
 
= 0,56 cc
š   
  :  
= 0,56 cc

!&' : 125 mg/ 5 cc

Dosis : 10 20 mg/kg
š   
: x 5 cc

š 

: 2,24 cc

$    : 1 gr/ampul (1000 mg/ampul) + 4 cc aquades = 250 mg/cc

Dosis : 10 20 mg/kg BB
š   
Jumlah stretisilin diberi :
š  
x 1 cc

: 0,22 cc

  : 30 juta/ampul

: 30 juta + aqua 15 cc = 200.000 IU/cc

Dosis : 10.000 20.000 IU/kg BB


š   
Jumlah penisilin diberi :
 
x 1cc

: 0,28 cc

Tabel 1. Data Operasi

10 Menit 20 Menit 30 Menit 40 Menit


Frekuensi Nafas (x /menit ) 28 24 20 28
Frekuensi Jantung (x /menit ) 160 168 132 132
Suhu Tubuh ( 0C ) 38,7 38,5 37,6 37,7
ºeflek Tubuh - - - -
ºeflek pupil + + + -
CºT ( cm ) <1 <1 1 1
Warna Mukosa Pink pucat Pucat Pucat

 1.
 p s Ope s unu F e. Nps, F e Jnung, n Suhu ubuh.


 
29
28 28 28
27
26
25
24 24
23
22 Nps
21
20 20
19
10 20 30 40

^  


 
180
170 168
160 160
150
146
140 F e. Jnung
130 132

120
10 20 30 40

^  


38.8
38.7
38.6
38.5
38.4
38.2
38
37.8
37.7 Suhu
37.6 37.6
37.4
37.2
37
10 20 30 40
Jbel 2. D Pos ope s

Hari pertama Hari kedua Hari ketiga Hari keempat


Frekuensi Nafas (x /menit ) 20 24 28 27
Frekuensi Jantung (x /menit ) 168 170 172 168
Suhu Tubuh ( 0C ) 38,9 38,5 38,5 38,5
ºeflek Tubuh + + + +
ºeflek pupil + + + +
CºT <1 <1 <1 <1
Warna Mukosa Pink Pink Pink Pink


 2.
 Pos ope s unu F e. Nps, F e Jnung, n Suhu ubuh.


 
30
28
27
25
24
20 20 F e. Nps

15
H  1 H  2 H  3 H  4


  
174 172
172
170
170
168 168
F e. Jnung
168
166
H  1 H  2 H  3 H  4


39
38.8
38.6
Suhu
38.4
38.2
H  1 h  2 H  3 h  4
c  $ 

Pratikum kali ini adalah pratikum caudectomy pada anjing betina yang
berumur > 3 bulan, dengan bobot badan 5,6 kg. ‘jing betina ini bernama Jessy.
Sebelum dilakukan operasi anjing dipuasakan terlebih dahulu selama >12 jam
agar ketika diberikan obat anastesi tidak memberi efek yang berlebihan. Selain itu
dilakukan pemeriksaan fisik atau kesehatan hewan (PE) untuk memungkinkan
hewan siap dioperasi atau tidak. Dari data pemeriksaan kesehatan Jessy aman
untuk dioperasi.

Sebelum dilakukan anastesi Jessy disuntikan atropine sebanyak 0,56 cc


(hasil perhitungan) melalui subcutan sebagai premedikasi. Hal ini berguna untuk
menurunkan keasaman cairan gastrium, menghambat bradikardia oleh stimulasi
vagal, menurunkan motilitas intestinal, dan mengurangi sekresei kelenjar saliva
terutama bila dipakai obat anestetik yang dapat menimbulkan hipersalivasi. Selain
itu juga karena dapat menghambat bradikardia maka obat ini dapat menekan
aktivitas peningkatan denyut jantung oleh obat anestesi yang diberikan. ‘tropin
Sulfat merupakan obat premedikasi golongan antikolinergik yang paling sering
digunakan. Kemudian Ditunggu sekitar 10 menit lalu dilakukan penyuntikan
anastesi yaitu kombinasi xilazine 0,56 cc dan ketamin 0,56 cc. Setelah Jessy
pingsan kemudian dilakukan penyukuran rambut didaerah pangkal ekor dan
pemberian atiseptik. Jessy siap untuk dilakukan operasi. Preparat anestetikum
yang diguanakn ialah Ketamin yang ditambahkan dengan Xylazine, Ketamin
merupakan obat anestetik yang dapat menimbulkan efek anestesi yang cukup kuat,
namun ketamin menyebabkan adanya ketegangan otot yang menyebabkan operasi
menjadi lebih sulit, sehingga perlu diberikan adanya preparat xilaze yang
berfungsi sebagai sedatifa dan memiliki efek mucle relaxant yang menghilangkan
kekauan otot (otot relaksasi) selain itu sedative juga menyebabkan efek dari
anestesi menjadi lebih lama. Lama efek dari anestesi juga dapat dipengaruhi oleh
kemampuan tubuh hewan untuk melakukan metabolism, semakin cepat dan
semakin baik metabolism hewan maka semakin cepat pula hewan efek anestesi
tersebut hilang, hal ini terjadi karena preparat ketamin dan xylazine yang
diberikan dapat dimetabolisme didalam hati. untuk melakukan maintenance yaitu
untuk menjaga agar hewan tetap dapat keadan teranestesi maka perlu ditambahkan
ketamine setengah dosis bila hewan sudah menunjukkan tanda-tanda akan sadar
kembali.
Jessy diletakkan diatas meja yang dilapisi koran, lalu pangkal ekor ditutup
dengan duk. Ujung ekor yang akan dipotong dibungkus terlebih dahulu dengan
plester hal ini merupakan proses antiseptic yaitu menghindari kontaminasi
mikroba atau benda asing dari bagian ekor ke bagian terbuka yang dipotong.
Pangkal ekor diikat dengan menggunakan karet gelang untuk mencegah
pendarahan ketika ketidak sengajaan dalam pemotongan otot bersamaan dengan
arteri atau vena. Kemudian, ditandai batas antara os coccygea II dengan os
coccygea III menggunakan syringe. Pada persendiannya, kulit disayat berbentuk
lurus mengelilingi ekor, sayatan sebaiknya dibuat di tengah dorsal os coccygea III.
Dimulai dari sayatan kulit, lalu otot secara melingkar. Kemudian, otot-otot
dipreparir dan dicari pembuluh darah yang memvaskularisasi ekor, yaitu arteri dan
vena coccygealis lateral atau ventral. Pembuluh darah tersebut diikat dengan
menggunakan cat gut atau dijahit bersamaan dengan otat dengan menggunakan
jahitan metode sederhana.

Selanjutnya, os coccygea II disayat dan dipisahkan seluruhnya dengan


bantuan     (untuk ekor yang kecil). Sebelum dilakukan penjahitan atau
penutupan luka otot atau bekas operasi, maka luka bagian dalam diberi penixilin
0,28 cc sebagai antibiotic mengeurangi rasa perih dan sakit pada luka dalam
operasi. Setelah itu penjahitan dilakukan pada otot hingga keujung tulang yang
disayat begitu juga dengan penjahitan kulit. Hal ini untuk menghindari adanya
ruang kosong yang akan menjadi tempat terakumulasinya darah sesuai gaya
gravitasi, akumulasi darah ini akan mempermudah nekrosis dari jaringan sekitar
otot tersebut. Namun sebelum kulit dijahit, kulit dibentuk terlebih dahulu yaitu
membentuk huruf ³V´ atau setengah lingkaran, agar memliki nilai estetika yang
baik dan indah. Penjahitan dilakukan dengan menggunakan metode sederhana
dengan mengunakan benang cat gut 3/0, penggunaan cat gut dilakukan untuk
menghindari adanya pembukaan benang pada daerah yang dijahit karena pada
daerah yang dijahit merupakan lapisan yang akan mudah terbuka bila dilakukan
pembukaan benang. Kemudian itu luka bekas jahitan dioleskan yodium tinctuure
3% dan dibalut dengan verband. Pada proses operasi selesai anjing disuntikan
kembali antibiotic berupa streptoxilin sebanyak 0,22 cc melalui otot untuk
mengurangi rada sakit dari dalam tubuh.

Setelah operasi sekitar 4 jam post operasi Jessy langsung sadar dan
melakukan urinasi. Namun frekuensi nafas sangat lambat dan dalam hal ini
disebabkan karena masih adanya efek dari obat anastesi. Pada frekuensi jantung,
suhu tubuh, reflek tubuh, pupil, CºT, dan warna mukosa dalam kondisi normal.
Pada hari pertama anjing lasung lahap makan dan mimum, hal ini disebabkan
karena proses operasi tidak ada hubungannnya dengan saluran pencernaan,
jikalaupun anjing masih lemah kemungkinan karena masih adanya efek dari obat
dan rasa sakti dari luka operasi. ‘njing diberi antibiotic yaitu amoxicillin
sebanyak 2,24 cc 2 x sehari selesai makan. Pemberian amoxilin ini bertujuan
untuk mengurangi rasa sakit atau peri pada bekas luka operasi.

Hari kedua anjing sudah kembali aktif, makan, minum, urinasi dan
defeksikasi sudah kembali seperti biasanya. Urinasi dan defeksikasi dilakukan
diluar rumah atau kandang. Namun pada hari ketiga, Jessy (anjing) menjilat-jilat
bekas luka operasi hingga perban tertelan olehnya. Hal ini disebabkan oleh
beberapa factor, yaitu kebiasaan anjing yang gemas pada sesuatu benda asing
yang mengaggu tubuhnya, rasa lapar, atau mengalami hipokalsemia. Namun
setelah beberapa jam kemudian Jessy memuntahkan verband tersebut.

Setelah verband terbuka, Jessy selalu berusaha sebisa mungkin menjilat-


jilat luka bekas operasi. Namun sangat disayangkan kondisi luka bekas operasi
membekang, dan ada sedikit otot yang keluar yaitu berwarna merah. Hal ini
disebabkan kerena ketidak sempurnaan dalam menjahit sehingga ada ruang
kosong untuk berkumpulnya darah atau kemungkinan penjahitan mengenai saraf,
dan kemungkinan juga bisa terjadi karena aktifnya anjing bergerak sementara
luka belum sembuh sempurna yang mengakibatkan luka terantuk dengan benda-
benada disekitarnya atau mengelus-eluskan ekor ke dinding atau kandang karena
rasa gatal dan kurang nyaman pada anjing. Sehingga hal inilah yang
mengakibatkan bekas luka operasi membengkak serta dapat membentuk pus atau
nanah, jika dibiarkan kemungkinan akan berbahaya. Oleh sebab itu
penangannanya adalah dengan pemberian bettadine dan bioplasenton agar luka
cepat kering. Kendalanya adalah anjing selalu ingin mengigit dan menjilat-jilat
luka, kemungkinan karena bekas luka gatal, atau perih. Maka harus dilakukan
penutupan luka kembali dengan verband namun perlu perhatian khusus agar
verband tidak dimakan oleh anjing.

c (  
  
Caudectomi merupakan salah satu tindakan pembedahan dapat dilakukan
untuk melakukan terapi pada bagian ekor selain itu caudectomi juga dapat
dijadikan bedah estetika untuk memperbaiki bentuk dari ekor bila terdapat
kelainan bentuk ekor.


$ 
 Operasi caudectomy sebaiknya dilakukan pada anjing yang masih berumur
muda hal ini untuk lebih memudahkan proses operasi.

 )  $