Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

Distribusi Jaringan Tegangan Rendah dan Sistem Radial


Skor Nilai:

DISUSUN OLEH:

1. Ratika Sari Saragih (5183131013)

2. Maya Gustina (5181131004)

3. Wahyuni Hsb (5182131005)

DOSEN PENGAMPU : Drs. JONGGA MANULLANG, M.Pd.


MATA KULIAH : SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2020
Kata Pengantar
Puji dan syukur saya panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-
Nya sehingga tugas Mini Riset ini dapat terselesaikan. Tidak lupa pula saya ucapkan terima
kasih kepada dosen pengampu mata kuliah SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK yang
telah memberikan kesempatan mengasah kemampuan dan meneliti pelajaran dengan tugas
Makalah ini.
Dengan adanya tugas ini, saya berharap saya semakin mampu menguasai materi
pembelajaran dan tepat membudayakan membaca pada diri sendiri, sehingga dengan mudah
melakukan penelitian sederhana ,serta semakin kritis dalam menanggapi materi-materi dalam
buku ataupun dalam sumber bacaan lainnya, begitu juga dengan para pembaca semoga tugas ini
bermanfaat dalam referensi Makalah.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, saya yakin masih banyak
kekurangan dalam Makalah ini. Oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan Makalah ini.

Medan, Maret 2020

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

System distribusi jaringan tegangan rendah adalah bagian dari system tenaga listrik yang
berada di antara sumber daya listrik dan pemakai tenaga listrik(konsumen). Dengan pertambahan
jumlah penduduk memaksakan jaringan tegangan rendah yang semakin handal guna
menyediakan sumber listrik yang optimal. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi angka
losses daya pada distribusi jaringan tegangan rendah.
Dengan semakin berkembangnya ilmu dan teknologi, maka masyarakat sebagai pemakai
energi listrik saat ini, mulai berfikir secara kritis, sehingga suatu saat dapat menuntut masalah
keandalan dalam penyediaan tenaga listrik ini, maka hal ini perlu diperhatikan. Dalam sistem
tenaga listrik, tentu tidak terhindar dari suatu masalah mutu atau kualitas tegangan maupun
kontinuitas pelayanan. Hal ini terbukti dengan adanya keluhan terhadap gangguan listrik
darimasyarakat konsumen listrik, berupa tegangan turun, kedip tegangan, maupun sering
terjadinya padam.

Pembahasa pada makalah ini adalah tentang system distribusi tegangan rendah, dengan
menjelaskan tentang system secara umum, standard atau persyaratan yang harus dipenuhi,
pengenalan material serta menampilkan gambar standard konstruksi yang diperoleh dari standard
konstruksi PLN.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana mendeskripsikan macam-macam bentuk JTR?


2. Bagaimana teori-teori bentuk JTR Sistem Distribusi Radial?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Mampu mendeskripsikan macam-macam bentuk JTR


2. Mampu menggali dan mengkaji teori-teori bentuk JTR Sistem Distribusi Radial?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Jaringan Tegangan Rendah
Jaringan Tegangan Rendah ialah jaringan tenaga listrik dengan tegangan rendah yang
mencakup seluruh bagian jaringan tcrsebut beserta perlengkapannya. dari sumber penyaluran
tegangan rendah tidak termasuk SLTR. Sedangkan Sambungun tenaga listrik tegangan rendah
(SLTR) ialah penghantar di bawah atau di atas tanah termasuk peralatannnya mulai dari titik
penyambungan pada JTR sampai dengan alat pembatas dan pengukur (App).(SPLN No.56 tahun
1984).
Jaringan tegangan rendah merupakan jaringan yang berhubungan langsung dengan
konsumen tenaga listrik. Pada JTR sistem tegangan distribusi primer 20/11 kV diturunkan
menjadi tegangan rendah 380/220V. Sistem penyaluran daya listrik pada JTM maupun JTR
dapat dibedakan menjadi dua yaitu sebagai berikut:
1. Saluran Udara Tegangan Rendah (SUTR) Jenis penghantar yang dipakai adalah kabel
telanjang (tanpa isolasi) seperti kabel AAAC, kabel ACSR.
2. Saluran Kabel Udara Tegangan Rendah (SKUTR) Jenis penghantar yang dipakai adalah kabel
berisolasi seperti kabel LVTC (Low Voltage Twisted Cable).ukuran kabel LVTC adalah : 2 x
10mm2 , 2 x 16mm2 , 4 x 25mm2 , 3 x 35mm2 , 3 x 50mm2 , 3 x 70mm2 .
Penyambungan JTR menurut SPLN No.74 tahun 1987 yaitu “sambungan JTR adalah
sambungan rumah (SR) penghantar di bawah tanah atau di atas tanah termasuk peralatannya
mulai dari titik penyambungan tiang JTR sampai alat pembatas dan pengukur (APP)”.
Spesifikasi umum sambungan rumah yaitu sebagai berikut :
1. Rugi Tegangan
Jatuh tegangan maksimum yang diperkenankan sepanjang penghantar SR ialah 2%. Dengan
catatan dalam hal ini SR diperhitungkan dari titik penyambung pada STR. Khusus untuk
penyambungan langsung dari papan bagi TR di gardu transformator jatuh tegangan
diperkenankan maksimum 5%.
2. Ukuran Penghantar Minimum
Ukuran penghantar minimum saluran rumah (SLP dan SMP) ialah untuk SLP, baik di
atas ataupun di bawah tanah minimal 10mm2 . Sedangkan untuk SMP penghantar aluminium
minimal 10mm2 atau tembaga minimum 4mm2 . Sambungan rumah digunakan kabel pilin berinti
tembaga atau aluminium, dengan ukuran inti tembaga adalah 4 mm 2 , 6 mm2 , l0 mm2 16 mm2 ,
25 mm2 . Ukuran inti aluminium adalah l0 mm2 ; 16 mm2 , 25 mm2 , 35 mm2 .
3. Jumlah Langganan/Sambungan Seri
Dengan memperhitungkan jatuh tegangan maksimum yang diizinkan, cos 0,85 = ߠ
impedansi saluran dan "demand factor" = 0,5, maka didapatkan jumlah sambungan seri menurut
ukuran dari jenis kabel SR, jarak SR dan besar beban tersambung rata-rata terlihat pada Tabel 1
berikut ini.
Tabel 1. SR yang disadapkan dari JTR dengan rugi tegangan SR = 2%
Beban tersambung Luas penampang kabel pilin (mm2 ) Jml sambungan
rata-rata per Cu AAAC/L VTC maksimum
konsumen (VA)
S ≤ 450 4 - 5
S ≤ 450 6 10 5
450 < S ≤ 800 10 16 7
800 < S ≤ 1250 16 25 7

Perencanaan sistem distribusi ini harus dilakukan secara sistematik dengan pendekatan
yang didasarkan pada peramalan beban untuk memperoleh suatu pola pelayanan yang optimal.
Pengembangan sistem yang terlambat memberikan resiko terjadinya pemadaman dalam
penyediaan tenaga listrik bagi pelanggan sebagai akibat terjadinya pertambahan beban.
Sebaliknya pengembangan sistem yang terlalu cepat merupakan pemborosan energi [3].
Tujuan perencanaan sistem distribusi adalah untuk mendapatkan suatu fleksibilitas
pelayanan optimum yang mampu dengan cara cepat mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan
energi listrik yang terkait dengan makin tingginya konsumsi energi dan kerapatan beban yang
harus dilayani. Perencanaan yang baik akan memberikan kontribusi besar terhadap kualitas dan
keandalan sistem distribusi. Kondisi ini disebabkan oleh kenyataan bahwa sistem distribusi
merupakan pelayanan energi listrik yang langsung berhubungan dengan konsumen sehingga
adanya gangguan pada sistem distribusi akan berakibat langsung pada konsumen.
Ada beberapa faktor yang berpengaruh dan perlu diperhatikan dalam perencanaan sistem
distribusi agar didapatkan hasil yang optimal yaitu :
1. Faktor teknis.
2. Faktor ekonomis.
3. Faktor sosial.

2.2. Sistem Distribusi Radial

Bentuk jaringan ini merupakan bentuk dasar, sederhana dan paling banyak digunakan.
Jaringan distribusi radila banyak digunakan karena bentuknya yang sederhana dan biaya
investasinya relatif murah. Dinamakan radial karena saluran ini ditarik secara radial dari suatu
titik yang merupakan sumber dari jaringan itu, dan dicabangcabangkan ke titik-titik beban yang
dilayani. Konfigurasi jaringan distribusi radial diperlihatkan pada gambar 2.2

Suplai daya yang berasal dari satu titik sumber dan adanya percabangan-percabangan
tersebut, mengakibtkan arus beban yang mengalir sepanjang saluran menjadi tidak sama besar.
Kerapatan arus beban pada setiap titik sepanjang saluran tidak sama besar berakibat pada luas
penampang konduktor pada jaringan bentuk radial ini ukurannya tidak harus sama. Oleh karena
itu, saluran yang dekat dengan sumber akan menanggung arus beban besar sehingga ukuran
penampangnya relatif besar, sedangkan saluran cabang-cabangnya makin ke ujung menanggung
arus beban yang lebih kecil, sehingga ukurannya lebih kecil dari saluran yang dekat dengan
sumber.
Kekurangan dari bentuk jaringan distribusi radial adalah kualitas pelayanan daya yang
kurang baik dan kontinuitas pelayanan daya tidak terjamin. Kualitas pelayanan daya yang kurang
baik disebabkan karena besarnya nilai impedansi dan arus sehingga jatuh tegangan dan rugi daya
yang terjadi pada saluran relatif besar. Dalam hal kontinuitas pelayanan daya juga kurang
terjamin karena antara titik sumber dan titik beban hanya ada satu alternatif saluran tidak ada
alternatif lain sehingga bila saluran tersebut mengalami gangguan, maka beban sesudah titik
gangguan akan mengalami pemadaman secara total sampai gangguan teratasi.
Untuk melokalisir gangguan, pada bentuk radial ini biasanya dilengkapi dengan
peralatan pengaman berupa fuse, sectionaliser, recloser, atau alat pemutus beban lainnya, tetapi
fungsinya hanya membatasi daerah yang mengalami pemadaman total, yaitu daerah saluran
sesudah atau dibelakang titik gangguan, selama gangguan belum teratasi. Jaringan distribusi
radial ini memiliki beberapa bentuk modifikasi, antara lain:
1. Radial Tipe Pohon
2. Radial Dengan Tie dan Switch Pemisah
3. Radial Dengan Pusat Beban
4. Radial Dengan Pembagian Phase Area

2.2.1. Jaringan Radial Tipe Pohon


Bentuk ini merupakan bentuk yang paling dasar. Satu saluran utama dibentang
menurut kebutuhannya dan dicabangkan dengan saluran cabang (lateral penyulang) dan
lateral penyulang ini dicabang-cabang lagi dengan sublateral penyulang (anak cabang).
Sesuai dengan kerapatan arus yang ditanggung masing-masing saluran, ukuran penyulang
utama adalah yang terbesar, ukuran lateral adalah lebih kecil dari penyulang utama, dan
ukuran sublateral adalah yang terkecil. Bentuk jaringan distribusi radial tipe pohon dapat
dilihat pada gambar 2.3

Gambar 2.3 Jaringan Radial Tipe Pohon


2.2.2. Jaringan Radial Dengan Tie dan Switch Pemisah

Bentuk ini merupakan modifikasi bentuk dasar dengan menambahkan tie dan
switch pemisah, yang diperlukan untuk mempercepat pemulihan pelayanan bagi
konsumen, dengan cara menghubungkan area-area yang tidak terganggu pada penyulang
yang bersangkutan, dengan penyulang di sekitarnya. Dengan demikian bagian penyulang
yang terganggu dilokalisir, dan bagian penyulang lainnya yang tidak mengalami
gangguan segera dapat dioperasikan kembali, dengan cara melepas switch yang
terhubung ke titik gangguan, dan menghubungkan bagian penyulang yang tidak
mengalami gangguan ke penyulang di sekitarnya. Bentuk jaringan distribusi radial
dengan tie dan switch pemisah dapat dilihat pada gambar 2.4

Gambar 2.4 Jaringan Radial Dengan Tie dan Switch Pemisah


2.2.3. Jaringan Radial Tipe Pusat Beban

Bentuk ini mensuplai daya dengan menggunakan penyulang utama (main feeder)
langsung ke pusat beban, dan dari titik pusat beban ini dicabangkan lagi secara radial.
Bentuk jaringan distribusi radial tipe pusat beban dapat dilihat pada gambar 2.5
2.2.4. Jaringan Radial Dengan Fasa Area

Pada bentuk ini masing-masing fasa dari jaringan bertugas melayani daerah
beban yang berlainan. Bentuk ini akan dapat menimbulkan akibat kondisi sistem 3 fasa
yang tidak seimbang, bila digunakan pada daerah beban yang baru dan belum baik
pembagian bebannya. Karenanya jaringan radial dengan fasa area hanya cocok untuk
daerah beban yang stabil dan penambahan maupun pembagian bebannya dapat diatur
merata dan simetris pada setiap fasanya. Bentuk jaringan distribusi radial dengan fasa
area dapat dilihat pada gambar 2.6.
Gambar 2.6 Jaringan Radial Dengan Fasa Area

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam suatu sistem jaringan distribusi tegangan rendah, pada umumnya mengikuti alur
jalanan yang telah ada, sehingga tidak dapat dihindari sepenuhnya tentang adanya konstruksi
untuk jalanan lurus, tikungan dan ujung-ujung atau percabangan jaringan
Penentuan jenis konstruksi yang dipilih untuk setiap tiang, sangat dipengaruhi oleh
besarnya sudut yang terbentuk dari jaringan, dimana dibutuhkan metode untuk memikul beban
mekanik yang timbul serta mempertahankan posisi tiang selalu tegak lurus sehingga lendutan
yang terjadi memenuhi standard
DAFTAR PUSTAKA
Suartika, Made. 2010. REKONFIGURASI JARINGAN TEGANGAN RENDAH (JTR) UNTUK
MEMPERBAIKI DROP TEGANGAN DI DAERAH BANJAR TULANGNYUH KLUNGKUNG.
Vol. 9 No.2
http://repository.its.ac.id/41357/1/2213106016-Undergraduate-Theses.pdf